Beranda blog Halaman 96

5 Kilo Sabu di Balik Daun Teh: Warisan Gemilang AKBP Ariek di Subang!

AKBP Ariek Subang sabu 5 kilogram

Subang — Siapa sangka, di balik bungkusan teh yang biasanya kita nikmati sambil ngemil pisang goreng, terselip 5,14 kilogram sabu-sabu? Ya, Anda tidak salah dengar! Bungkusan teh jadi bungkus dosa dalam pengungkapan terbesar sepanjang sejarah Polres Subang, tepatnya saat dipimpin oleh sang komandan yang tenang tapi tajam seperti jarum akupuntur: AKBP Ariek Indra Sentanu, S.H., S.I.K., M.H.

Kejadian heboh itu terjadi pada hari Selasa yang bukan biasa — 14 Januari 2025. Dua pria yang bukan duet penyanyi dangdut, melainkan UP (38) dan YS (42), terciduk di pinggir jalan masuk Desa Sukakerti, Kecamatan Cisalak. Mereka bukan jualan teh, tapi malah bawa “teh palsu” berisi sabu seberat lebih dari lima kilogram. Gaya penyelundupan ini mirip jaringan internasional yang kerap menukar cita rasa dengan bencana.

Nah, siapa dalang di balik keberhasilan ini? Tentu saja sang kapten kapal anti-narkoba, AKBP Ariek Indra Sentanu. Beliau bukan cuma pemimpin di balik layar, tapi juga penjaga garda depan. Dengan nada tegas tapi adem seperti teh tarik hangat, beliau menegaskan:

“Kami akan terus berupaya melindungi masyarakat dari bahaya narkotika dan obat-obatan terlarang dengan langkah tegas dan berkelanjutan,” tegasnya.

Tak cukup hanya menegaskan tekad, AKBP Ariek juga menjawab panggilan negara.

“Pemberantasan narkotika adalah program prioritas Bapak Presiden RI Prabowo Subianto. Maka dari itu, kami akan tekan maksimal mungkin, dibantu stakeholder terkait,” tambahnya dengan wajah sekeras granit.

Tapi tunggu dulu, itu baru satu babak dari serial drama penumpas narkoba. Dalam dua tahun masa tugasnya — dari Juli 2023 sampai Juni 2025 — AKBP Ariek dan timnya tak kenal kata rehat. Seolah setiap gram narkoba yang disita adalah satu detik masa depan anak bangsa yang berhasil diselamatkan.

Berikut hasil kerja keras yang bisa bikin keringat polisi se-Subang jadi air zamzam:

  • 198 kasus narkoba berhasil dibekuk
  • 235 orang tersangka digiring ke hotel prodeo
  • Barang bukti yang bikin dahi mengernyit:
    • Sabu: 6.138,39 gram
    • Ganja: 1.397,92 gram
    • Psikotropika: 395 butir
    • Obat Keras Terbatas: 95.973 butir
    • Tembakau Sintetis: 850,01 gram

Angka-angka ini bukan sekadar statistik buat nambah lembar presentasi, tapi saksi bisu dari perang panjang melawan racun generasi.

AKP Udiyanto, Kasat Narkoba Polres Subang, tak bisa menyembunyikan rasa hormatnya.

“Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas pengabdian, ketegasan, serta kepemimpinan AKBP Ariek Indra Sentanu selama menjabat di Polres Subang,” ungkapnya dengan suara yang nyaris berkabut haru.

Kini, sang jenderal dari Subang ini telah diangkat menjadi Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya. Promosi ini bukan karena hoki atau hasil main tebak-tebakan, tapi buah dari dedikasi dan keteladanan yang nyata — bukan sekadar pencitraan.

Meski beliau kini meniti jalan baru di ibu kota, aroma kepemimpinan AKBP Ariek masih akan tercium kuat di koridor Polres Subang. Warisan beliau bukan cuma dalam bentuk angka dan penghargaan, tapi dalam bentuk semangat, integritas, dan bukti bahwa polisi bisa — dan harus — jadi garda terdepan penjaga masa depan.

Jelajah Negeri, Bongkar Korupsi: KPK Geruduk 8 Wilayah Jawa Barat!

Roadshow KPK 2025

Subang – Sahabat antikorupsi, siap-siap! Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menyingsingkan lengan baju dan siap tancap gas. Bukan untuk nangkap tikus berdasi di ibu kota, tapi untuk blusukan ke 8 kabupaten/kota di Jawa Barat. Nama turnya? “Roadshow KPK 2025: Jelajah Negeri, Bangun Antikorupsi.” Panjang? Memang. Tapi maknanya mantap!

Kalau biasanya roadshow itu penuh selebritas dan sorak-sorai, yang satu ini bawa rompi biru, niat mulia, dan semangat memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya. “Tentunya harapannya adalah, kita ingin menyadarkan masyarakat, bahwa kalau masyarakat kadang-kadang menunjuk begini, ‘yang korupsi itu tuh di sana Pak Wawan, tuh di Jakarta, tuh para pejabat yang korupsi itu’,” kata Wawan Wardiana, Deputi Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK.

Tapi, eh, jangan dulu merasa paling suci! Wawan mengingatkan dengan gaya menohok tapi santai, “Mereka lupa, yang tiganya (jari mereka) itu menunjuk ke diri sendiri…” Waduh! Bisa jadi, pas kita nyinyir soal korupsi pejabat, ternyata kita sendiri lagi colongan parkir liar atau nyelip antrean sembako.

Roadshow ini bukan sekadar tamasya ala KPK. Wakil Ketua KPK, Ibnu Basuki Widodo, menegaskan, “Karena petty corruption adalah induk dari grand corruption.” Nah lho! Jadi, jangan remehkan amplop-amplop kecil itu, bisa tumbuh jadi monster kalau dibiarkan.

Catat tanggal-tanggalnya, siapa tahu rombongan antikorupsi ini mampir ke kota kamu:

  • Bekasi, 6–7 Juli
  • Purwakarta, 13–14 Juli
  • Subang, 19–20 Juli
  • Cirebon (Kota), 27 Juli
  • Cirebon (Kabupaten), 28 Juli
  • Kuningan, 29 Juli
  • Majalengka, 30 Juli

Siapa yang bakal tampil di panggung edukasi? Bukan band indie atau stand-up comic, tapi tim Penyuluh Antikorupsi Seluruh Indonesia alias Paksi. Mereka siap menyulap pemahaman antikorupsi jadi gaya hidup sehari-hari. Dan jangan salah, kegiatan ini resmi, loh, disokong pasal 1 butir 4 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019. Jadi, bukan sekadar obrolan warung kopi.

Acara peluncuran roadshow ini pun meriah dengan simbolis pemakaian rompi biru pada para Paksi dan pelepasan mobil dari Gedung ACLC KPK. Dipimpin langsung oleh Ketua KPK, Setyo Budiyanto, para Paksi dilepas seperti pahlawan masa kini, tapi dengan logistik, bukan senjata.

Didukung penuh oleh PT KAI, Bank Mandiri, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah 9 Jawa Barat, hingga Kelompok Angklung Perempuan Indonesia, roadshow ini seperti konser budaya… tapi melawan korupsi!

Frasa Kunci Utama: Roadshow KPK 2025, Jelajah Negeri, Antikorupsi Jawa Barat
Deskripsi Meta: KPK siap menggelar Roadshow 2025 bertajuk “Jelajah Negeri, Bangun Antikorupsi” di 8 daerah Jawa Barat. Simak tujuan dan makna mendalamnya di sini!

Tag: KPK, roadshow antikorupsi, Jawa Barat, pendidikan antikorupsi, peran masyarakat

“Nyaah ka Indung”: Jurus Manis Dinas Pertanian Subang untuk Lansia Perempuan

Subang – Di tengah riuhnya rutinitas birokrasi yang kadang membosankan, ada kabar manis bak kolak pisang di musim hujan dari Kabupaten Subang. Ya, Dinas Pertanian Subang sedang tidak bercocok tanam, tapi malah panen pujian lewat program “Nyaah ka Indung” yang bikin hati hangat.

Kamis (26/6) lalu di Kecamatan Binong, program ini diluncurkan dengan penuh cinta. Bukan sekadar seremoni, tapi benar-benar menyentuh hati—khususnya bagi para lansia perempuan yang selama ini lebih sering tersisih dari sorotan.

“Melalui program ini, Dinas Pertanian ingin memberi penghormatan, penghargaan, perlindungan, serta pemenuhan hak dasar para lansia, terutama perempuan, secara proporsional dan berkelanjutan,” ungkap Dani, Kasi Sumberdaya Dinas Pertanian, yang mewakili sang Kepala Dinas.

Eits, jangan bayangkan ini cuma program tempelan. Ada skema unik bernama “Ibu Asuh” di dalamnya. ASN, pejabat struktural dan fungsional, hingga pegawai BUMD diberi “tugas mulia”: menyantuni minimal satu lansia. Satu saja, tapi dengan cinta seluas hamparan sawah di musim tanam!

Bantuan yang dikirim pun bukan sembarangan. Lengkap, dari ujung kepala sampai ujung hati. Ada pangan, sandang, obat-obatan, akses layanan kesehatan, dan bahkan pendampingan sosial. Pokoknya, lengkap kayak isi parcel Lebaran.

“Bantuan yang diberikan seperti kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, obat-obatan, akses ke layanan kesehatan dan pendampingan sosial,” katanya, menutup dengan senyum yang barangkali tak kalah hangat dari sinar pagi di ladang.

Program “Nyaah ka Indung” ini jadi pengingat, bahwa perhatian tak harus selalu dalam bentuk proyek raksasa. Kadang, cukup satu aksi kecil—asal dari hati, bisa menumbuhkan kebahagiaan yang tak terkira.

Frasa Kunci Utama:

Deskripsi Meta:

Tag:

PHRI Subang Ngobrol Serius di Prikitiew Land, Tapi Gaya Santainya Tetap Nomor Satu!

PHRI Subang

SUBANG – Rabu cerah (25/6/2025) di Pagaden Barat mendadak jadi ajang tukar ide cerdas dan gelitik! Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) BPC Kabupaten Subang menggelar pertemuan rutin bulanan mereka, dan lokasi kali ini bukan tempat biasa—tapi di Prikitiew Land, destinasi wisata yang namanya saja sudah bikin senyum-senyum sendiri.

Tapi jangan salah, meski suasananya santai dan penuh canda, isi diskusinya serius banget. Bertajuk “Hentikan Polusi Plastik,” PHRI Subang menggelar Focus Group Discussion (FGD) bareng Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Subang. Lokasinya di Panggung Ngobras—iya, nama panggungnya aja udah ngajak ngobrol!

Ketua PHRI Subang, Hj. Ratna Setiawan, tampil dengan penuh semangat menyampaikan komitmen mereka dalam mendukung pariwisata yang bukan cuma asyik, tapi juga ramah lingkungan.

“Hal ini sebagai komitmen kami dalam upaya mendorong pariwisata ramah lingkungan dan menjaga kelestarian lingkungan,” ungkapnya tegas tapi tetap bersahabat.

Dari DLH Subang, ada Agus Gunawan yang mengungkap fakta bikin geleng-geleng kepala: tumpukan sampah di Kabupaten Subang udah mencapai 900 ton per hari! Waduh, itu sih kalau dijadikan bola salju, bisa bikin musim dingin dadakan.

“Karenanya saya sangat mengapresiasi kegiatan seperti ini. Karena salah satu aspek penting dalam pengelolaan sampah adalah pelibatan masyarakat,” ujar Agus dengan nada optimis.

Ia pun membuka peluang kolaborasi bareng PHRI Subang untuk membuat pilot project pengelolaan sampah. Wah, ini sih bukan cuma buang sampah pada tempatnya, tapi buang masalah sampah bareng-bareng!

Kabid Destinasi Wisata, Agus Muslim, juga ikut menyoroti pentingnya solusi mandiri untuk urusan sampah. Katanya, sampah dari hotel atau destinasi wisata sebaiknya diselesaikan langsung di tempatnya.

“Kita akan himbau tempat wisata untuk menyelesaikan sampah di tempatnya masing-masing,” ujarnya sambil melempar harapan besar kepada para pengelola wisata.

Di balik layar, terselip ucapan terima kasih manis dari Hj. Ratna kepada pengelola Prikitiew Land dan dr. Setiawan Widjaya—sosok di balik Tridjaya Group—yang jadi tuan rumah pertemuan kece ini.

Sang owner, dr. Setiawan Widjaya, juga tak ketinggalan memberi semangat agar pertemuan rutin seperti ini terus berjalan dan makin menggandeng banyak pihak, mulai dari sesama pengusaha sampai instansi pemerintah.

Dengan suasana yang penuh semangat, diskusi yang berbobot, dan lokasi yang instagramable, pertemuan PHRI kali ini membuktikan: kolaborasi bisa kok dimulai dari ngobrol santai di tengah udara segar. Siapa bilang urusan sampah nggak bisa dibahas dengan gaya yang prikitiew?

Frasa kunci utama: , Prikitiew Land, Hentikan Polusi Plastik, pengelolaan sampah Subang, pariwisata ramah lingkungan

Deskripsi meta: PHRI Subang menggelar diskusi serius bertema “Hentikan Polusi Plastik” di destinasi wisata Prikitiew Land. Kolaborasi apik ini bahas solusi pengelolaan sampah Subang dengan gaya yang santai tapi berbobot.

Tag: PHRI Subang, Prikitiew Land, pengelolaan sampah, pariwisata Subang, lingkungan hidup

Aspal Baru di Jalur Pamanukan: Jalan Rusak Disulap, Warga Sumringah!

perbaikan jalan Subang Pamanukan

Subang – Kalau Anda sempat lewat jalur Subang–Pamanukan belakangan ini dan merasa seperti lagi off-road tanpa niat, selamat! Anda tidak sendirian. Jalan provinsi yang satu ini sempat berubah fungsi menjadi kolam pancing dadakan gara-gara hujan deras plus saluran air yang tersumbat. Duh, kombo maut!

Akibatnya? Jalan rusak di mana-mana! Lobang menganga macam jebakan Batman, bikin para pengendara deg-degan tiap menit. Masyarakat pun ramai-ramai resah—dan bukannya resah biasa, tapi resah yang sudah level “tolong kami, wahai PUPR!”

Tapi jangan khawatir, karena pahlawan datang bukan dari langit, tapi dari grup WhatsApp! Yap, Aliansi Masyarakat Pantura Subang (AMPUS) kirim voice note kece ke Dinas PUPR Jawa Barat. Gaya komunikasinya kekinian, hasilnya pun tak kalah ngebut!

“Alhamdulillah, Dinas PUPR Provinsi Jawa Barat langsung merespons cepat dengan melakukan pengaspalan dan penutupan lubang di beberapa titik jalan yang rusak,” tutur Sukadi alias Joker, tokoh masyarakat Pamanukan yang jadi langganan orasi demi rakyat.

Joker—eh, Sukadi maksudnya—bilang kalau gerak cepat ini patut diacungi jempol. Harapannya, tentu, bukan sekadar tambal sulam, tapi tambal mantap. “Semoga penanganan jalan arah Subang – Pamanukan – Pondok Bali ini terus berlanjut demi keselamatan dan kenyamanan pengendara. Jalur ini sangat padat dan strategis,” imbuhnya.

Tak hanya tokoh masyarakat yang bersuara, Heri—tukang ojek legendaris Pamanukan—ikut angkat bicara. Dengan helm setia dan motor yang tak kenal lelah, ia tahu betul kondisi jalan macam apa yang bikin shockbreaker menjerit.

“Ini jalur utama, jantung Pamanukan. Hampir tiap jam dilewati kendaraan besar, termasuk truk pengangkut material untuk Pelabuhan Patimban. Sudah lama kami harapkan perbaikannya, dan sekarang sudah mulai dikerjakan. Terima kasih PUPR Jabar,” katanya penuh haru dan gaspol semangat.

Memang, jalan Subang–Pamanukan bukan sekadar jalan. Ia nadi pergerakan logistik, penghubung antarwilayah, dan tempat bertemunya jutaan roda dengan harapan. Maka dari itu, langkah sigap Dinas PUPR Jawa Barat jadi penyegar kabar di tengah kepenatan aspal retak. Semoga ke depan, jalan ini tak lagi menjadi zona uji adrenalin, tapi jalur nyaman menuju tujuan.

Frasa Kunci Utama:

Deskripsi Meta:
Jalan Subang–Pamanukan yang rusak kini mulai diperbaiki oleh Dinas PUPR Jawa Barat. Warga bersyukur, pengendara lega, dan aspal baru jadi harapan baru.

Tag:
jalan rusak Subang, perbaikan jalan Pamanukan, Dinas PUPR Jabar, AMPUS Subang, logistik Patimban

Diskon Pajak Kendaraan Mau Habis, Warga Subang Diminta Gaskeun Sebelum Menyesal!

Program pemutihan pajak kendaraan Subang 2025
Foto: www.pikiran-rakyat.com

SUBANG — Warga Subang, gaskeun sebelum kehabisan! Program pemutihan pajak kendaraan 2025 bakal masuk angin alias tamat riwayatnya tanggal 30 Juni 2025. Nah, Lovita Adriana Rosa, Kepala Samsat Subang, udah sounding keras-keras nih biar warga nggak cuma jadi penonton pas kesempatan emas ini lewat begitu aja. Soalnya, belum tentu tahun depan ada promo secuan ini lagi, lho!

Program yang udah melaju sejak 20 Maret 2025 ini bukan cuma sekadar diskon biasa, tapi full package penghapusan tunggakan dan denda pajak kendaraan. Alias, utang pajak mau setua hubungan mantan juga cukup bayar setahun aja! “Berapa tahun pun tunggakannya, cuma bayar setahun. Pembebasan tunggakan pajak yang diinisiasi Bapak Gubernur Jabar ini disambut antusiasme masyarakat Subang,” kata Lovita, Rabu 25 Juni 2025. Ciee, rakyat bahagia, negara sejahtera!

Selama program ini ngebut, sebanyak 76.750 objek pajak udah memanfaatkan pemutihan ini. Uang yang masuk? Nggak kaleng-kaleng: Rp 21,7 miliar! Sementara dari Januari sampai 25 Juni 2025, pendapatan pajak kendaraan Samsat Subang udah nembus Rp 54,1 miliar — alias udah dapet 51,20% dari target setahun. Jumlah kendaraan yang setor? 162.800 unit roda dua dan roda empat. Seru ya, kayak kompetisi MotoGP tapi versi pajak.

Biar nggak penasaran, total kendaraan terdaftar di Kabupaten Subang tuh ada 459.000 unit. Tapi yang aktif bayar pajak sekitar 320.000 unit aja. Masih banyak yang ngumpet dari tanggung jawab nih. “Program ini bisa menurunkan jumlah kendaraan tidak mendaftar ulang (KTMDU). Mengingat, pajak kendaraan yang dibayar masyarakat kembali untuk masyarakat dalam bentuk pembangunan jalan,” ujar Lovita sambil mengingatkan bahwa setiap lembar STNK yang hidup itu bikin aspal jalan juga ikutan happy.

Nah, buat kamu yang udah nunda-nunda kayak nonton drama korea episode terakhir, Juli nanti akan ada bulan taat pajak. Tim Pembina Samsat Provinsi Jawa Barat bakal nyalain sirine dan turun ke jalan buat operasi kepatuhan, terutama di daerah-daerah dengan tunggakan tinggi. “Operasi kepatuhan di jalan tentunya ini banyak manfaatnya. Selain soal kepatuhan, juga tentang keselamatan selama berkendara, dan sosialisasi taat pajak,” beber Lovita, dengan gaya yang mungkin sambil tunjuk papan pajak.

Terakhir, Lovita ngasih pesan mendalam tapi nggak pakai backsound sedih. Ia menegaskan bahwa pajak adalah bentuk cinta kita ke negara, yang nantinya balik lagi ke kita dalam wujud pembangunan. “Kepada masyarakat Subang yang sudah patuh membayar pajak, dan juga memanfaatkan program pemutihan ini, kami ucapkan terima kasih,” tutupnya.

Ayo warga Subang, sebelum tanggal 30 berubah jadi kenangan, buruan ke Samsat dan hidupkan STNK-mu. Karena kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Deskripsi meta:

Tag:

Generasi Tangguh Jabar ‘Dikarantina’ di Barak! 50 Pelajar Dikirim ke Lanud, Bukan untuk Liburan!

pendidikan karakter pelajar Subang di barak militer
Foto: jawapos.com

SUBANG – Kalau biasanya anak SMP dan MTs dikirimi ke pesantren atau outbound, yang ini beda level, Sob! Sebanyak 50 pelajar di Subang justru “naik kasta” dengan dikirim ke barak militer! Yap, bukan buat syuting film laga, tapi buat ikut program pendidikan karakter, disiplin, dan bela negara. Lokasinya? Pangkalan Udara (Lanud) TNI AU Suryadarma. Serius, ini bukan prank!

Kabar resmi ini mendarat di meja redaksi pada Rabu (25/6), dan menyebutkan bahwa pelatihan super disiplin ini dimulai sejak Senin (23/6). Acara dibuka dengan penuh wibawa oleh Kadispotdirga Lanud TNI AU Suryadarma, Kolonel Pom Tomi Wahyu. Beliau membacakan sambutan dari Komandan Lanud—dan jangan salah, ini bukan sekadar formalitas.

Menurut Kolonel Tomi, program ini adalah gebrakan keren dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat di bawah kepemimpinan Dedi Mulyadi. Bukan cuma gebrakan, ini lompatan gaya Spiderman menuju masa depan cerah generasi muda. Tujuannya? Bikin anak-anak muda kita jadi pribadi yang bukan kaleng-kaleng: disiplin, patriotik, dan punya rasa cinta tanah air setebal lem tembak!

“Melalui pendidikan ini, diharapkan para pelajar menjadi pribadi yang hormat, santun, disiplin, serta bertanggung jawab,” kata Kolonel Tomi. Nah, catet tuh, empat karakter utama yang dicetak: hormat, santun, disiplin, dan bertanggung jawab. Lengkap seperti paket komplit mi instan dengan telur dan kerupuk.

Program ini digelar selama 10 hari, dari 23 Juni sampai 2 Juli 2025. Sepuluh hari bukan untuk santai-santai, tapi buat ngasah jiwa nasionalis! Dari materi kedisiplinan, wawasan kebangsaan, sampai semangat bela negara—semuanya disampaikan langsung oleh para instruktur militer yang udah terbukti kredibilitasnya. Gak main-main, mereka dari Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) dan Lanud TNI AU Suryadarma!

Dan sebelum para pelajar ini berangkat ke barak, ada momen epik di halaman Kantor Bupati Subang. Gubernur Dedi Mulyadi sendiri yang melepas keberangkatan mereka. Mungkin sambil bisik-bisik, “Ayo, Nak… Jangan pulang kalau belum jadi orang hebat!”

Ini bukan sekadar program. Ini investasi jangka panjang buat membentuk pahlawan masa depan—tanpa perlu jubah, cukup dengan semangat dan disiplin baja!

Deskripsi Meta:

Antara Teh, Warung, dan Wewenang: Riuh Penertiban Jalur Ciater-Jalancagak

Penertiban bangunan Ciater Jalancagak

SUBANG – Di balik aroma sejuk daun teh yang membentang dari Jalancagak sampai Ciater, kini terselip kisah panas yang bikin dahi berkerut dan pedagang meringis. Penertiban bangunan di jalur perkebunan teh itu kembali jadi sorotan, dan kali ini panggung utamanya berada di Kantor Kecamatan Ciater, Selasa (24/6). Pemerintah Kecamatan dan PTPN I Regional 2 pun duduk bareng, bukan untuk minum teh, tapi membahas nasib warung-warung yang sudah lebih dulu “ngeteh” di lokasi itu.

Sehari sebelumnya, Senin (23/6), Gedung DPRD Jawa Barat di Bandung sempat terasa lebih semarak. Bukan karena konser atau lomba pantun, melainkan audiensi antara DPRD Jabar, para pedagang, dan pihak PTPN I. Para pedagang yang bangunannya terancam bubar jalan menyuarakan keluh kesah. Mereka menolak pembongkaran yang menurut mereka dadakan kayak mantan ngajak balikan. Sementara itu, pihak PTPN berdalih mereka cuma mengeksekusi perintah dari atasan—yakni Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Nah, semua drama ini sejatinya bermuara pada satu tokoh: Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Beliau ingin kawasan hijau di jalur perkebunan dikembalikan fungsinya. Tak cuma di Ciater, operasi sapu bangunan liar ini juga menyambangi Dawuan dan perkebunan karet Jalupang. Wah, sepertinya tidak ada tempat aman bagi bangunan-bangunan tak bertuan resmi.

Wakil Ketua DPRD Jabar, Ono Surono, ikut menabuh genderang koordinasi. Ia menegaskan, pembersihan semacam ini butuh sinergi yang mantap, bukan kerja individu ala solo karier. “Gubernur tidak bisa menyelesaikan semua pekerjaan sendiri. Harus ada pendelegasian yang tepat kepada Wakil Gubernur dan juga Sekda agar roda pemerintahan berjalan optimal,” ujarnya. Mantap, Pak Ono—pendelegasian yang bukan asal lempar bola!

Dari pihak PTPN, sang Kabag Hukum Ferdian Adi Nugroho turun tangan menjelaskan duduk perkaranya. Ia bilang, tanah itu milik PTPN, tapi mereka tetap patuh sama aturan provinsi. Apalagi jika tanahnya berada di ruang milik jalan (rumija), maka Pemerintah Provinsi punya hak juga untuk menertibkan. “Lahan yang dimaksud adalah milik PTPN… Ketika areal PTPN berada di wilayah rumija, juga menjadi kewenangan Pemprov Jabar untuk menertibkannya,” tegas Ferdian.

Kalau bangunan kedapatan melanggar aturan tata ruang atau nyelonong dari garis aturan, PTPN I siap pasrah sekaligus patuh. “Nah, kami PTPN I adalah pemilik lahan yang bersangkutan, maka kami akan mendukung jika hal itu tidak diizinkan,” lanjutnya. Kurang lebih seperti tamu di rumah sendiri yang tetap sopan karena ikut aturan tuan rumah.

Kini, DPRD Jabar mencoba menyeimbangkan dua sisi koin: satu sisi tentang perlindungan pedagang kecil, dan sisi lain soal menjaga kelestarian lingkungan. Sepertinya solusi win-win masih diseduh, sambil menanti dingin dan bisa diminum tanpa terbakar lidah.

Tag:

Penertiban ini merupakan tindak lanjut dari Arah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang ingin mengembalikan fungsi dan kelestarian kawasan perkebunan di sepanjang jalur tersebut. Tidak hanya di Ciater, penertiban juga sudah dilakukan di wilayah Dawuan Subang, termasuk pada bangunan liar di kawasan perkebunan karet Jalupang milik PTPN I.

Wakil Ketua DPRD Jabar, Ono Surono, menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah daerah dan BUMN dalam proses penertiban ini. Ia menyaring siapa pihak yang memiliki wewenang utama untuk melakukan penertiban di lapangan.

“Gubernur tidak bisa menyelesaikan semua pekerjaan sendiri. Harus ada pendelegasian yang tepat kepada Wakil Gubernur dan juga Sekda agar roda pemerintahan berjalan optimal,” ujar Ono.

Kabag Hukum PTPN I, Ferdian Adi Nugroho, menjelaskan bahwa penertiban ini melibatkan banyak instansi dan dasar hukum, termasuk peraturan daerah dan kepemilikan aset.

“Lahan yang dimaksud adalah milik PTPN. Tentunya, PTPN sebagai salah satu BUMN, juga ikut tunduk pada peraturan di Jawa Barat. Ketika areal PTPN berada di wilayah rumija (ruang milik jalan), juga menjadi kewenangan Pemprov Jabar untuk menertibkannya,” ucapnya.

Ferdian menambahkan, jika di suatu kawasan perkebunan terdapat bangunan yang melanggar aturan tata ruang atau peraturan gubernur, maka PTPN siap mengikuti kebijakan yang berlaku.

“Nah, kami PTPN I adalah pemilik lahan yang bersangkutan, maka kami akan mendukung jika hal itu tidak diizinkan,” katanya.

Saat ini, DPRD Jabar terus mendorong hadirnya solusi yang memperhatikan kepentingan pedagang kecil sekaligus menjaga kelestarian kawasan. Penataan lahan harus dilakukan dengan melibatkan semua pihak agar hasilnya tidak merugikan masyarakat dan tetap sesuai dengan aturan.

Kang Rey Ajak Anak Muda “Ngegas” Lagi di Sawah: Petani Zaman Now Wajib Keren!

Program YESS Subang

SUBANG – Di tengah gempuran pabrik dan polusi, ada satu suara yang berseru lantang dari Aula BP4D Subang. Suara itu datang dari Kang Rey—sapaan akrab Bupati Subang, Reynaldy Putra Andita—yang tengah semangat menyuarakan satu hal: anak muda harus balik ke sawah!

Dalam forum District Multi-Stakeholders Forum (DMSF) Program YESS yang digelar Selasa (24/6/2025), Kang Rey dengan nada khasnya yang blak-blakan namun membumi mengatakan, “Kita sedang mengalami degradasi untuk para petani kita di mana sudah sangat jarang rasa-rasanya anak-anak muda kita yang ingin berkecimpung di dunia pertanian.”

Bayangkan, sawah makin luas tapi minatnya makin menciut. Ini seperti punya nasi padang tapi tak ada yang mau makan. Padahal, Program YESS—singkatan dari Youth Entrepreneurship and Employment Support Services—ini bukan sembarang program. Ini kerja sama antara Kementerian Pertanian dan IFAD (International Fund for Agricultural Development) untuk memompa semangat dan kemampuan anak muda agar mau bertani dengan gaya.

“Bagaimana produktivitas pertanian kita menurun? Selain faktor lahan, cuaca, salah satunya menurut saya juga yaitu para petani yang sudah tidak lagi seperti dulu,” lanjut Kang Rey dengan nada prihatin namun penuh harap.

Masih dalam forum yang dihadiri berbagai pihak itu, Kang Rey kembali mengingatkan bahwa Subang itu bukan kota biasa. Ini tanah lumbung padi nasional, penjaga perut rakyat! “Kita ingin mulai menunjukan lagi jati diri Kabupaten Subang maupun Provinsi Jawa Barat selaku penjaga pertahanan pangan yang ada di Indonesia,” tuturnya.

Harapannya jelas: Program YESS bisa menjadi semacam “kompor gas” bagi anak muda. Bukan hanya untuk turun ke sawah, tapi juga bikin inovasi yang kece. Dari traktor pintar sampai pupuk ala startup, semuanya mungkin kalau generasi muda mau turun tangan.

Kang Rey pun menyinggung betapa selama ini pertanian masih belum dianggap cuanable alias menguntungkan. “Bagaimana meningkatkan, betul-betul meningkatkan minat anak-anak muda kita untuk bisa berkebun dan bertani,” ujarnya.

Tak berhenti di situ, ia juga yakin bahwa generasi petani baru akan membawa segudang inovasi-renovasi yang bukan hanya sekadar gimmick, tapi punya nilai ekonomi nyata. “Inovasi-renovasi dan bisa memberikan nilai ekonomi juga untuk masyarakat sekitarnya,” tegasnya.

Sebagai penutup, Kang Rey menekankan pentingnya pendidikan dan pelatihan bagi anak muda usia produktif. “Bagaimana kita hari ini sudah mulai fokus memberikan pendidikan yang khususnya kepada anak kita yang usia produktif dan belum bekerja,” pungkasnya.

Jadi, siap-siap ya anak muda Subang! Karena jadi petani zaman sekarang bukan cuma soal cangkul dan lumpur, tapi juga soal inovasi, ekonomi, dan… gaya hidup berdaulat pangan!

Emak Turseni Dapat Rumah Baru, Polres Subang Tembus Hati Rakyat Lewat Bedah Rutilahu

Polres Subang bedah rumah Emak Turseni

SUBANG — Kalau Anda lewat Desa Gempol kemarin siang, jangan kaget kalau ada senyum lebar yang menular ke mana-mana. Bukan, bukan karena diskon sembako atau konser dangdut dadakan. Tapi karena Polres Subang lagi-lagi bikin kejutan manis!

Dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-79, Polres Subang menggelar aksi sosial penuh makna: peresmian dan penyerahan kunci rumah hasil bedah Rutilahu alias Rumah Tidak Layak Huni. Sasarannya? Emak Turseni (70), seorang ibu rumah tangga di Dusun Gempol 1 yang selama ini tinggal di rumah seadanya.

Acara digelar pada Selasa (24/6/2025) dan dipimpin langsung oleh Kapolres Subang, AKBP Ariek Indra Sentanu, S.H., S.I.K., M.H. Beliau datang tak cuma membawa senyum, tapi juga… kunci rumah baru! Diserahkan langsung ke tangan Emak Turseni—yang jelas saja hari itu jadi tokoh utama paling bahagia di Gempol Raya.

Bukan cuma Kapolres yang hadir. Rombongan tamu juga tak kalah lengkap. Ada Ketua Bhayangkari Cabang Subang, Wakapolres, para pejabat dan perwira Polres Subang, Kapolsek, Danramil, hingga para kepala desa se-Kecamatan Pusakanagara. Pokoknya kalau daftar hadir dicetak, bisa jadi spanduk!

Acara dimulai pukul 11.00 WIB dengan rangkaian penuh kehangatan: sambutan dari Kepala Desa, lalu sambutan Kapolres yang bikin merinding, peresmian rumah, penyerahan kunci, doa, dan ditutup dengan sesi foto bareng—yang katanya, jumlah fotonya bisa bikin memori HP penuh.

AKBP Ariek Indra Sentanu dalam sambutannya menegaskan, “Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan dan kedekatan antara Polri dengan masyarakat, serta menumbuhkan semangat gotong royong dan kepedulian sosial di lingkungan masyarakat.”

Ia juga menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar simbolik, melainkan bukti cinta nyata Polri kepada rakyat. Terutama di momen spesial Hari Bhayangkara ke-79, di mana pengabdian tak cukup dengan kata, tapi harus bisa dirasa.

Dan Emak Turseni? Beliau sekarang tidur lebih nyenyak, tidak khawatir bocor saat hujan, dan senyumnya… secerah cat baru di dinding rumahnya.

Recent Posts