Beranda blog Halaman 95

Penyuluh Bersuara, Petani Terpukau! Pelatihan Public Speaking ala Warung Kopi 22.3 Subang

pelatihan public speaking penyuluh pertanian Subang

SUBANG — Pernah bayangin penyuluh pertanian tampil seperti MC kondang di acara pernikahan? Nah, itu bukan mimpi lagi! DPD PERHIPTANI Kabupaten Subang resmi menggelar Pelatihan Public Speaking pada Kamis, 26 Juni 2025. Lokasinya? Bukan aula kaku ber-AC dingin. Tapi, sebuah tempat nongkrong hits: 22.3 Coffee, Pagaden. Santai tapi berisi!

Acara ini menyedot perhatian 27 peserta pilihan dari 30 kecamatan se-Kabupaten Subang. Bukan asal tunjuk—mereka dipilih berdasarkan self-assessment dan rekomendasi para koordinator kecamatan. Ketua pelaksana, Deny Kurnia, SP, bilang, “Kegiatan dilaksanakan di 22.3 Coffee Pagaden dengan suasana santai dan nonformal, sehingga diharapkan peserta dapat menyerap materi dengan baik, tidak seperti rapat-rapat yang biasa dilaksanakan secara formal dan kaku.”

Pembukaan acara terasa istimewa dengan kehadiran Kepala Bidang Penyuluhan dan Sumber Daya Dinas Pertanian Kabupaten Subang, Cecep Setiawan, SP., MM. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya komunikasi mumpuni bagi penyuluh. “Penyuluh pertanian adalah garda terdepan dalam mendampingi petani. Untuk itu, kemampuan berbicara di depan umum, menyampaikan pesan yang jelas dan inspiratif, harus senantiasa diasah agar pelayanan kepada petani semakin optimal,” ucap Cecep. Mantap, Pak Cecep!

Ketua DPD PERHIPTANI Subang, Dadan Nugraha, SP., MP., juga tak ketinggalan unjuk dukungan. Beliau menyampaikan apresiasi atas semangat peserta. Katanya, pelatihan ini adalah bagian penting dari program kerja DPD PERHIPTANI untuk mendongkrak kompetensi dan profesionalisme para penyuluh. Jelas, ini bukan sekadar ajang kumpul-kumpul ngopi.

Dan tentu saja, bintang panggung hari itu: Ivan Igo! Bernama lengkap Ivan Rahmat Maulana, SP., M.P., beliau bukan hanya MC kondang dan influencer, tapi juga ASN Pranata Humas di Setda Kabupaten Subang. Dengan gaya khasnya yang segar dan komunikatif, Ivan membagikan tips jitu public speaking: dari mengusir grogi, membangun percaya diri, hingga menyampaikan pesan yang bikin petani manggut-manggut kagum. Suasananya? Interaktif, penuh tawa, dan pastinya—berisi!

Harapannya, usai pelatihan ini, para penyuluh bukan hanya ahli di ladang, tapi juga jago di panggung. DPD PERHIPTANI Subang ingin penyuluh tampil percaya diri saat mendampingi petani, mengisi forum kelompok tani, hingga menjadi penggerak utama dalam pembangunan pertanian daerah.

Siapa bilang penyuluh nggak bisa jadi bintang? Di Subang, mereka siap tampil, berbicara, dan menginspirasi—dari kebun sampai mimbar!

Langit Blanakan Penuh Warna: Festival Layangan Sawangan Bikin Libur Panjang Makin Ceria!

Festival Layangan Sawangan Subang

Subang — Siapa bilang akhir pekan cuma buat rebahan? Di Blanakan, Subang, warga justru kompak melawan gravitasi… pakai layangan!

Libur panjang Tahun Baru Hijriah yang bertemu dengan akhir pekan dimanfaatkan warga Pantura Subang untuk menggelar Festival Layangan alias Sawangan, Jumat (27/6/2025). Bukan sekadar main layangan biasa, ini adalah pertarungan kreatif antara manusia, angin, dan seni yang terbang di langit!

Langit Desa Blanakan pun berubah jadi galeri berjalan — eh, terbang — yang penuh warna dan bentuk unik. Dari kepala naga yang melotot galak, sampai kapal nelayan yang seolah siap berlayar ke langit ke tujuh. Dan tentu saja, sang primadona: layangan Peteng, khas Pantura, yang tak pernah absen dari panggung langit.

Ada yang bilang main layangan itu gampang? Coba dulu angkat layangan naga seukuran mobil mini, baru komentar. Para peserta harus bahu-membahu, mirip tim futsal tapi dengan misi membuat naga mengangkasa. Tapi sayangnya, angin Blanakan kadang kayak mantan — susah ditebak. Banyak layangan cuma numpang lewat di langit, lalu jatuh dengan elegan. Tapi justru di situlah letak serunya.

“Layangannya saya berbentuk kapal nelayan, dan butuh beberapa orang untuk naikannya. Memang susah terbang stabil kalau angin lemah, tapi inilah serunya. Kita harus kompeten dan kreatif,” kata Rahmat, salah satu peserta, sambil tersenyum puas meski bajunya kena tali layangan.

Festival ini diikuti puluhan peserta dari berbagai wilayah. Kriteria penilaiannya nggak main-main: bentuk harus kreatif, model wajib unik, dan durasi terbang… yah, semoga lama dan nggak langsung nyungsep.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Karang Taruna Desa Blanakan sebagai bentuk cinta pada tradisi lokal, sekaligus merayakan ulang tahun desa ke-84. Sawangan atau Petengan adalah warisan budaya warga pesisir yang masih hidup dan — syukurlah — belum kalah sama TikTok.

“Festival ini sudah tiga tahun berturut-turut kita gelar. Tujuannya agar tradisi Sawangan tidak punah dan generasi muda ikut melanjutkan. Ke depannya, kita akan jadikan ini agenda tahunan desa,” ungkap Bambang Fauzi, Ketua Panitia, sambil menjaga layangan agar nggak nyangkut di pohon.

Lebih dari sekadar hiburan, festival ini adalah panggung budaya. Ajang unjuk gigi, atau lebih tepatnya, unjuk benang dan bambu. Antusiasme warga membuktikan bahwa tradisi lokal tak pernah benar-benar usang — selama masih ada langit, masih ada Sawangan yang akan terbang tinggi!

Langit Blanakan Penuh Warna: Festival Layangan Sawangan Bikin Libur Panjang Makin Ceria!

Subang — Siapa bilang akhir pekan cuma buat rebahan? Di Blanakan, Subang, warga justru kompak melawan gravitasi… pakai layangan!

Libur panjang Tahun Baru Hijriah yang bertemu dengan akhir pekan dimanfaatkan warga Pantura Subang untuk menggelar Festival Layangan alias Sawangan, Jumat (27/6/2025). Bukan sekadar main layangan biasa, ini adalah pertarungan kreatif antara manusia, angin, dan seni yang terbang di langit!

Langit Desa Blanakan pun berubah jadi galeri berjalan — eh, terbang — yang penuh warna dan bentuk unik. Dari kepala naga yang melotot galak, sampai kapal nelayan yang seolah siap berlayar ke langit ke tujuh. Dan tentu saja, sang primadona: layangan Peteng, khas Pantura, yang tak pernah absen dari panggung langit.

Ada yang bilang main layangan itu gampang? Coba dulu angkat layangan naga seukuran mobil mini, baru komentar. Para peserta harus bahu-membahu, mirip tim futsal tapi dengan misi membuat naga mengangkasa. Tapi sayangnya, angin Blanakan kadang kayak mantan — susah ditebak. Banyak layangan cuma numpang lewat di langit, lalu jatuh dengan elegan. Tapi justru di situlah letak serunya.

“Layangannya saya berbentuk kapal nelayan, dan butuh beberapa orang untuk naikannya. Memang susah terbang stabil kalau angin lemah, tapi inilah serunya. Kita harus kompeten dan kreatif,” kata Rahmat, salah satu peserta, sambil tersenyum puas meski bajunya kena tali layangan.

Festival ini diikuti puluhan peserta dari berbagai wilayah. Kriteria penilaiannya nggak main-main: bentuk harus kreatif, model wajib unik, dan durasi terbang… yah, semoga lama dan nggak langsung nyungsep.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Karang Taruna Desa Blanakan sebagai bentuk cinta pada tradisi lokal, sekaligus merayakan ulang tahun desa ke-84. Sawangan atau Petengan adalah warisan budaya warga pesisir yang masih hidup dan — syukurlah — belum kalah sama TikTok.

“Festival ini sudah tiga tahun berturut-turut kita gelar. Tujuannya agar tradisi Sawangan tidak punah dan generasi muda ikut melanjutkan. Ke depannya, kita akan jadikan ini agenda tahunan desa,” ungkap Bambang Fauzi, Ketua Panitia, sambil menjaga layangan agar nggak nyangkut di pohon.

Lebih dari sekadar hiburan, festival ini adalah panggung budaya. Ajang unjuk gigi, atau lebih tepatnya, unjuk benang dan bambu. Antusiasme warga membuktikan bahwa tradisi lokal tak pernah benar-benar usang — selama masih ada langit, masih ada Sawangan yang akan terbang tinggi!

Tragis tapi Nyata: Lele yang Dicari, Ular yang Ditemui

Pemancing lele dipatuk ular Subang

Deskripsi Meta:

Subang – Warga Cibogo, Subang, tiba-tiba heboh bukan karena konser dadakan atau flash sale sembako, tapi karena kabar duka yang mengguncang jantung Kampung Handiwung, Desa Gembor. Seorang pria paruh baya, Damin (74), ditemukan tak bernyawa di pinggir empang pada Jumat sore, 27 Juni 2025, tepatnya pukul 17.00 WIB. Bukan karena tenggelam atau terpeleset, tapi karena… ular. Iya, Anda tidak salah dengar—ular!

Pak Damin, yang dikenal sebagai “pahlawan lele” lokal, memang punya keahlian langka: mencari ikan lele dengan tangan kosong. Gaya klasik yang lebih mendebarkan daripada casting pancing di game simulator. Tapi sayangnya, di balik lubang-lubang penuh harapan itu, ada sesuatu yang lebih licin dan lebih berbisa dari lele: seekor ular yang ternyata tidak begitu suka diganggu saat rebahan.

AKP Asep Rustandi, Kanit Reserse Polsek Pagaden, turun langsung menanggapi peristiwa ini. “Korban sudah dievakuasi ke Puskesmas Pagaden dan selanjutnya diserahkan kepada pihak keluarga,” ungkap AKP Asep. Sebuah kalimat singkat tapi sarat makna duka.

Yang lebih mencengangkan, ternyata ini bukan pertama kalinya Damin berurusan dengan ular saat berburu lele. “Iya, almarhum sudah tiga kali dengan yang sekarang dipatuk ular di dalam lubang. Niatnya mencari ikan, malah ular yang dipegang sehingga mematuknya,” lanjut AKP Asep. Kali ini, sayangnya, sang ular membawa senjata rahasia: bisa mematikan.

Meski penyelidikan masih berjalan, dugaan awal menyebutkan bahwa gigitan ular tersebut menjadi penyebab wafatnya Pak Damin. Sebuah tragedi yang menyayat, sekaligus pengingat keras bahwa di balik keheningan empang, alam bisa menyimpan kejutan berbahaya.

Bagi para pencinta alam dan penggemar petualangan cari ikan, semoga ini jadi alarm keras: jangan pernah meremehkan apa yang bersembunyi di balik lubang yang tampak damai. Karena bisa jadi, bukan lele yang menyambut, tapi… ular yang sedang PMS.

Subang Geger! Lapak Nanas Dibongkar, Gantinya Dapat “Uang Duduk” Rp10 Juta dan Sembako

Uang kompensasi pedagang nanas Subang

SUBANG – Ada yang seru di Subang Selatan! Bukan sinetron, bukan juga konser dangdut, tapi drama pembongkaran lapak nanas yang berakhir dengan happy ending—uang kerohiman cair, sodara-sodara!

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi—yang akrab dipanggil KDM dan selalu tampil dengan logat Sunda khasnya—bersama Bupati Subang yang nggak kalah hits, Kang Reynaldy Putra Andita alias Kang Rey, membuktikan janjinya kepada para pedagang nanas yang beberapa waktu lalu lapaknya dibongkar. Bukan cuma janji manis kayak permen loli, tapi benar-benar direalisasikan lewat uang tunai segar.

Acara bagi-bagi “uang duduk” ini berlangsung Jumat siang, 27 Juni 2025 di Aula Oman Syahroni, Kantor Bupati Subang. Bukan bazar, tapi tetap ramai dan penuh senyum lega. Pasalnya, sebanyak 416 pelapak dari Desa Bunihayu, Curugrendeng, Tambakan, dan Jalancagak mendapat Rp5 juta per orang. Totalnya? Tembus Rp2,08 miliar! Dananya dikucurkan oleh Bank BJB Peduli—bukan dari langit.

“Ke wilayah eta kebon ganas jadi kebon ganas deui. Revitalisasi perkebunan ganas jeung perkebunan teh meh jadi wisata favorit deui,” kata KDM dengan penuh semangat. Alias: kawasan nanas dan teh ini bakal disulap jadi destinasi wisata unggulan!

Tapi sabar dulu, ini baru season one. Masih ada kelanjutannya. Kamis minggu depan, tiap pelapak bakal dapat tambahan Rp5 juta lagi. Gak cuma itu, ada juga bingkisan sembako manis-manis dari Baznas Provinsi Jawa Barat. Berasa Lebaran, ya!

“Jadi sekarang kita tahap pertama di tabungan dikirim 5 juta. Ke minggu harep asup deui 5 juta ti Bank BJB Peduli jeung aya sembako dari Baznas Provinsi Jawa Barat,” ujar KDM yang makin sering tampil layaknya stand-up comedian tapi dengan program serius.

Tapi tunggu, bukan cuma soal uang. Mantan Bupati Purwakarta ini juga menegaskan, setiap pembongkaran itu ada gantinya. “Jongko digulingkeun kaduna dibayar, ganasna dibayar, dibere bantuan, dibere sembako, dijieunkeun tempat deui,” katanya. Bener-bener full package!

Tak hanya itu, KDM juga mengusulkan agar tanah garapan milik PTPN di Subang Selatan bisa dibagikan ke warga kecil. Biar gak cuma ngiler liat kebun, tapi juga bisa berkebun sendiri.

Di sisi lain, Kang Rey ikut menegaskan: ini bukan janji palsu, bukan PHP, tapi realisasi nyata. “Hari ini saya dan Gubernur membagikan uang ganti rugi tahap pertama, ada 416 pelapak di Kecamatan Jalancagak. Ini tahap pertama yang kita bongkar hari ini Rp5 juta,” ujarnya, lugas dan jelas.

“Iya sudah kita pastikan dan kita buktikan kita tidak ‘omon-omon’,” tutupnya. Bahasa gaul Kang Rey? No omon-omon allowed!

Jadi, buat warga Subang Selatan—khususnya pedagang nanas—bernapaslah lega. Meski jongko dibongkar, harapan malah dibangun. Siapa tahu, ke depannya bukan cuma jadi pedagang, tapi pemilik kios kekinian di kawasan wisata. Kita tunggu episode selanjutnya!

Petani Muda Langka? Bupati Subang Bersuara: “Ayo, Anak Muda, Pegang Cangkul Lagi!”

minat petani muda Subang

SUBANG – Coba bayangkan: sawah membentang, padi menguning, tapi yang menggenggam cangkul malah kakek-kakek. Anak muda? Entah ke mana. Inilah kegelisahan hati Bupati Subang Reynaldy Putra Andita yang merasa generasi muda saat ini seperti alergi sama tanah—padahal bukan karena gatal, tapi karena enggan terjun ke pertanian.

“Sudah sangat jarang rasanya anak-anak muda kita yang ingin berkecimpung di dunia pertanian,” ucap sang Bupati, Jumat lalu, dengan nada prihatin. Tak heran, beliau menilai kondisi ini sebagai ‘degradasi’ dalam dunia pertanian.

Menurutnya, problem ini bukan semata karena cuaca yang galau atau lahan yang makin sempit. Tapi juga karena semangat bertani generasi muda perlahan seperti nasi basi: tidak menarik lagi. “Bagaimana produktivitas pertanian kita menurun? Salah satunya yaitu para petani yang sudah tidak lagi seperti dulu,” tambahnya lugas.

Padahal, katanya, bertani itu bukan cuma soal menanam padi, tapi juga peluang bisnis yang menggiurkan! Tapi, alih-alih mencangkul, anak muda sekarang lebih pilih scrolling. Sektor pertanian pun sepi pelamar muda, padahal Subang dikenal sebagai lumbung padi nasional.

Bupati pun berharap muncul program yang bukan hanya bikin produktivitas pertanian naik daun, tapi juga bikin anak muda penasaran: “Apa sih serunya jadi petani?” Ya, semacam jurus rahasia buat mengajak generasi muda turun ke sawah, bukan hanya turun ke coffee shop.

Untungnya, secercah harapan datang dari program kece bernama Youth Entrepreneurship and Employment Support Services, hasil kerja sama Kementerian Pertanian dan IFAD. Program ini bertujuan bikin anak muda tertarik untuk tidak sekadar jadi penonton, tapi juga pelaku utama dalam sektor pertanian. Yes, jadi petani tapi tetap keren!

Sementara itu, Kepala Bappeda Subang, Iwan Syahrul Anwar, menyampaikan bahwa Subang sekarang dihuni hampir dua juta jiwa dengan pertumbuhan penduduk 1,02 persen. Di sisi lain, ekonomi Subang di tahun 2024 naik tipis-tipis manja: 4,81 persen.

Melihat potensi ini, Pemkab Subang berkomitmen penuh untuk menjaga martabat Subang sebagai ‘padi-preneur’ sejati—eh maksud kami, sebagai lumbung padi nasional. Targetnya? Ketahanan pangan tetap aman, dan petani muda tumbuh subur seperti benih unggul.

Malam Hangat Bersama Kang Rey: Nasi Padang, Ayam Goreng, dan Bonus Uang Tunai!

makan malam bupati subang

SUBANG – Malam Jumat di Lanud R. Suryadi Suryadharma, Kalijati, bukan cuma angin sepoi dan langit gelap berbintang. Jumat malam (27/6/2025) itu, suasana mendadak seperti reuni keluarga besar—hangat, akrab, dan penuh tawa. Semua gara-gara satu janji manis yang ditepati: makan malam bareng Bupati Subang, Kang Rey alias Reynaldy Putra Andita, bersama Wakil Bupati Subang, H. Agus Masykur Rosyadi, dan peserta program pendidikan karakter.

Cerita bermula siang harinya saat Kang Rey—yang gayanya kadang lebih cocok jadi stand-up comedian—berjanji akan mentraktir para peserta didik. Tapi bukan traktiran kaleng-kaleng. Kang Rey menawarkan menu sesuai request: dari nasi Padang yang legendaris sampai ayam goreng yang nikmatnya membuat cacing perut menjadi kalem.

Dan janji bukan sekadar janji. Malam itu, semua piring penuh, perut kenyang, dan hati senang.

Tapi tunggu dulu, pesta belum selesai. Kang Rey masih punya satu kejutan di laci jasnya: bonus uang tunai buat para pelatih dari Lanud R. Suryadi Suryadharma. Sebagai bentuk penghargaan, katanya, atas kerja keras mereka mendidik dan mengawal karakter anak-anak Subang. Bukan cuma “thank you” doang, tapi ada bentuk nyata. Keren gak, tuh?

Dalam suasana yang cair dan sarat kehangatan, Kang Rey melontarkan perasaan harunya melihat kondisi anak-anak yang sehat, semangat, dan jelas-jelas gak stres. Ia memuji perhatian total dari pihak Lanud. “Semuanya bahagia. Hari ini saya sengaja hadir karena ini hari Jumat, hari kakak asuh, dan saya ingin menjadi kakak asuh anak-anak ini. Bahkan kalau ada yang sakit langsung dibawa ke klinik. Artinya mereka benar-benar diperhatikan. Terima kasih kepada pelatih di Lanud Suryadarma,” ucapnya, dengan nada bangga dan tulus.

Baru lima hari pelatihan, tapi menurut Kang Rey, hasilnya udah kelihatan. Bukan cuma baris-berbaris rapi, tapi juga karakter mulai terbentuk. Ini bukan sekadar optimis, tapi super optimis.

“Insya Allah karakternya sudah mulai terbentuk, padahal baru lima hari. Saya sangat optimis,” ujarnya sambil tersenyum lebar.

Sebelum lampu dipadamkan dan sendok-garpu dibereskan, Kang Rey menitip harapan besar—semoga anak-anak ini pulang dengan jiwa baru. Bukan sekadar lebih disiplin, tapi juga jadi kebanggaan orang tua masing-masing.

“Mudah-mudahan sepulang dari sini, mereka kembali ke orang tuanya sebagai pribadi yang lebih baik,” pungkasnya.

Acara penuh rasa ini juga dihadiri oleh Sekda Kabupaten Subang, Kadisdikbud, jajaran Lanud R. Suryadi Suryadharma, dan tentu saja para peserta yang wajahnya bersinar terang—mungkin efek nasi Padang plus motivasi hebat dari sang kakak asuh.

Koding & AI Masuk Sekolah! Anak SD Zaman Now Siap Jadi Programmer Cilik

Koding dan AI di sekolah

Subang – Mulai tahun ajaran 2025/2026, ada angin segar di dunia pendidikan! Bukan angin semilir dari kipas angin di kelas, tapi kabar dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, yang bikin kepala kita mengangguk sambil berkata, “Wah, keren juga nih!”

Dalam acara Tular Nalar Summit 2025 di Auditorium MMTC Yogyakarta, Kamis (26/6), Pak Mu’ti mengumumkan bahwa mata pelajaran Koding dan Artificial Intelligence (AI) bakal mulai diajarkan dari kelas 5 SD sampai SMA. Tapi jangan panik dulu, ini bukan mata pelajaran wajib kok, melainkan pilihan. Jadi, yang merasa jodoh sama teknologi bisa langsung angkat tangan dan daftar!

“Mulai semester ganjil tahun 2025/2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah akan mengajarkan koding dan kecerdasan artificial sebagai mata pelajaran pilihan yang diajarkan mulai kelas 5 Sekolah Dasar sampai tingkat SMP dan SLTA,” kata Mu’ti.

Teknologi Plus Akhlak? Yes, Please!

Tujuan dari pelajaran ini bukan hanya biar anak-anak bisa bikin aplikasi yang bisa ngingetin kita minum air putih setiap 10 menit. Tapi lebih dari itu, mereka diajak kenalan dengan teknologi sekaligus diajarin akhlak digital. Canggih, tapi tetap santun. Modern, tapi tetap sopan.

“Ini merupakan satu jawaban kami terhadap bagaimana anak-anak kita memiliki kemampuan digital dan juga memiliki kesadaran akan pentingnya teknologi digital, sekaligus memberikan kepada mereka nilai-nilai utama dan kesadaran untuk menggunakan teknologi itu dengan penuh keadaban,” jelasnya.

Bukan Sekadar Pintar, Tapi Juga Bijak Digital

Era digital memang seperti semangkuk mi instan: praktis, cepat, tapi kalau salah masak bisa bikin perut mules. Begitu juga teknologi—bisa menguntungkan, tapi juga bisa bikin keributan kalau disalahgunakan.

“Sebagian masyarakat menyalahgunakan teknologi itu justru untuk menyampaikan disinformasi, bahkan informasi-informasi yang menyesatkan. Dan informasi yang kadang-kadang memicu berbagai macam kegaduhan di masyarakat,” kata Mu’ti.

Digital Smart, Digital Sholeh

Pak Menteri juga menekankan pentingnya kesalehan digital—sebuah istilah yang terdengar seperti gabungan dari santri dan sains. Tapi serius, ini bukan lelucon. Masyarakat perlu punya kemampuan untuk membedakan mana info yang benar dan mana yang cuma hoaks berbungkus clickbait.

“Pertama, kompetensi yang diperlukan untuk menjadi pengguna teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari. Yang kedua, mereka memiliki literasi digital yang memungkinkan mereka untuk mampu melakukan telaah, memilah, dan memilih mana informasi yang bermakna dan mana informasi yang keliru,” terangnya.

Dan terakhir, kata beliau, masyarakat juga harus bisa menyampaikan konten yang baik dan bergizi, bukan yang bikin darah tinggi karena isinya cuma debat kusir dan sindiran pedas tak berfaedah.

“Program-program seperti ini tentu sangat sejalan dengan upaya kami di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang berusaha untuk bagaimana generasi bangsa, khususnya generasi muda yang masih belajar di bangku sekolah, dapat memiliki kemampuan digital, kesadaran digital, dan juga kesalehan digital,” pungkas Mu’ti.

Subang Ngabret Nyaah Ka Indung: Aksi Manis Dinkes Subang untuk Para Lansia

Subang Ngabret Nyaah Ka Indung

SUBANG – Di tengah hiruk-pikuk dunia yang kadang lupa pada yang renta, Dinas Kesehatan Kabupaten Subang meluncurkan aksi penuh cinta! Pada Kamis (26/6/2025), sepuluh lansia manis dari Kecamatan Pagaden mendapatkan kado istimewa: uang tunai dan sembako yang langsung jatuh dari langit… eh, maksud kami dari hati para pejabat Dinkes Subang.

Dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan, dr. Maxi, aksi ini bukan sekadar bagi-bagi bantuan. Ini adalah bagian dari program Subang Ngabret Nyaah Ka Indung. Program yang namanya saja sudah bikin hangat di dada, karena isinya pun benar-benar menghormati dan memuliakan para lansia—alias ‘indung-indung’ yang selama ini jadi pilar kehidupan, meski rambut mereka telah memutih dan langkah mulai pelan.

“Program ini merupakan penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan kebutuhan dasar lansia, serta menguatkan nilai-nilai budaya Sunda dalam bentuk kasih sayang dan perhatian terhadap kaum lansia,” ujar dr. Maxi dengan mantap, seperti sedang mengumumkan pemenang lomba ibu teladan.

Menariknya, setiap pejabat Dinkes Subang memegang satu ‘indung asuh’. Serius! Sepuluh desa, sepuluh pejabat, sepuluh indung. Bahkan distribusinya pun adil, seperti membagi gorengan saat rapat: kadis satu, sekdis satu, empat kabid masing-masing satu, kepala UPTD Farmasi, kepala Labkesda, dan dua kepala seksi ikut ambil bagian.

Tapi tunggu, ini bukan bantuan biasa. Ini bantuan bergaya ‘gotong royong plus hati nurani’. Uangnya berasal dari kantong pribadi para pejabat, disetor ke Baznas, lalu disulap jadi amplop berisi tunai dan paket sembako yang bikin hati adem.

“Tak hanya itu, selama program Subang Ngabret Nyaah Ka Indung, yang dibantu dan membantu harus saling kenal, serta setiap orang yang membantu untuk memperhatikan kondisi kesehatan indung asuhnya,” tandas dr. Maxi lagi, penuh makna. Karena membantu bukan hanya memberi, tapi juga menyayangi.

Dalam dunia yang kadang dingin dan sibuk ini, Dinkes Subang menyulut kehangatan kecil yang menyala terang. Sebuah program yang mungkin sederhana, tapi penuh makna dan cinta.

Libur 1 Muharam, Tol Cipali Padat! Warga Serbu Ciater, Bandung, dan Kampung Halaman

Arus lalu lintas Subang 1 Muharam

Subang – Libur Tahun Baru Islam 1 Muharam 1445 Hijriah rupanya jadi momen “mudik mini” ala masyarakat Indonesia. Banyak yang memanfaatkan hari libur ini untuk menyambangi kampung halaman, memboyong keluarga, atau sekadar berendam ria di pemandian air panas. Yah, siapa bilang akhir pekan panjang cuma soal rebahan?

Pantauan di pusat kota Subang dan Tol Cipali menunjukkan situasi yang cukup meriah. Bukan demo atau konser, tapi lalu lintas yang ramai lancar. Tentu bukan ramai seperti jalanan saat ngabuburit, tapi tetap padat meriah dibandingkan hari biasa.

Tol Cipali arah Cirebon jadi salah satu jalur favorit. Jalanan dipenuhi kendaraan pribadi, semacam parade mobil keluarga yang ingin liburan ceria. Dari arah sebaliknya, pintu keluar Tol Cilameri pun tak kalah ramai. Banyak kendaraan menuju Subang Selatan dan Bandung lewat jalur ini.

Salah satu pemudik ceria adalah Aldiansyah. Ia terlihat bahagia—meski terjebak lampu merah—karena akan mengajak keluarga liburan. “Insya Allah liburan akhir pekan ini mau ke Ciater pengen berendam sekalian manjain anak-anak yang sudah libur sekolah,” katanya sambil menanti lampu hijau di pintu keluar Tol Cilameri, Jumat (27/6/2025).

Perjalanan dari Bekasi ke Subang? Katanya sih seru, tanpa drama. “Ramai lancar lalu lintas sepanjang perjalanan. Mudah-mudahan ke arah Ciater juga lancar, cuaca bagus biar asyik wisatanya bareng keluarga,” tambah Aldiansyah, penuh harap seperti bocah yang menanti es krim.

Hingga berita ini ditulis, arus lalu lintas dari pusat kota Subang hingga ke kawasan wisata Ciater masih cukup ramai. Tapi tenang, belum sampai level “maju dua meter, berhenti tiga menit.” Hanya beberapa titik di perempatan kota yang agak tersendat. Tapi setelah melewati alun-alun Subang, semua kembali mengalir seperti air kolam rendam.

Menariknya, truk-truk besar tampak absen dari panggung jalanan Subang. Dari Jalancagak ke Subang kota, kendaraan berat seperti hilang ditelan libur. Tapi kalau Anda lewat Pagaden ke Pamanukan, bersiaplah bertemu mereka. Beberapa truk masih rajin wara-wiri, mungkin belum baca jadwal pembatasan operasional.

Sebagai pengingat, sesuai aturan, kendaraan berat memang tak boleh lewat jalur provinsi dari pukul 05.00 hingga 21.00 WIB selama hari libur nasional dan akhir pekan. Jadi, kalau Anda ketemu truk nyelonong, boleh tuh kirim reminder… atau doa agar sopirnya nggak salah jadwal.

Frasa kunci utama:
Deskripsi meta: Libur Tahun Baru Islam 1 Muharam 1445 H dimanfaatkan warga untuk liburan. Tol Cipali hingga jalur wisata Ciater Subang ramai lancar, tanpa kemacetan berarti.

Tag: libur tahun baru islam, arus lalu lintas subang, tol cipali padat, wisata ciater, liburan keluarga

Recent Posts