Beranda blog Halaman 815

Datang di Ujung Waktu Pendaftaran, Nasib Partai Ummat Kota Banjar Masih Menggantung

Nasib-Partai-Ummat-Kota-Banjar.jpg

harapanrakyat.com,- Nasib Partai Ummat Kota Banjar, Jawa Barat untuk mengikuti kontestasi Pemilu 2024 mendatang rupanya masih menggantung. Hal itu karena permasalahan teknis saat pendaftaran Bacaleg.

Ketua Partai Ummat beserta sejumlah jajaran kepengurusan sendiri tiba di Kantor KPU Kota Banjar untuk mendaftarkan Bacalegnya mendekati penghujung batas waktu pendaftaran tepatnya sekitar pukul 23.39 WIB, Minggu (14/5/2023).

Namun, saat proses pendaftaran terdapat kendala teknis tidak bisa masuk aplikasi SILON partai. Partai besutan Amin Rais tersebut pun masih diberikan waktu sampai 2×24 jam untuk menyelesaikan kendala teknis tersebut.

Ketua DPD Partai Ummat Kota Banjar, Elan Ramlan, mengatakan, sebetulnya dari Partai Ummat telah menyiapkan pengajuan bakal calon (Bacaleg) sebanyak 22 orang.

Rinciannya, dari Dapil 1 sebanyak 10 orang, Dapil 2 sebanyak 9 orang dan Dapil 3 sebanyak 3 orang.

Baca Juga: Detik-detik Menegangkan Partai Ummat Kota Banjar Daftar Bacaleg, Datang ke KPU Tengah Malam

Akan tetapi, saat pihaknya berusaha mengajukan Bacaleg tersebut ke KPU terdapat kendala teknis dari internal partai. 

Kendala teknik tersebut, lanjutnya, dari DPP Partai Ummat belum mengembalikan berkas yang diunggah melalui SILON. Hal inilah yang membuat pengajuan Bacaleg menjadi terkendala.

“Setelah kami berusaha mengajukan Bacaleg ke KPU ternyata pihak DPP Partai Ummat masih belum mengembalikan berkas. Ini kendala internal partai kami,” kata Elan kepada wartawan saat konferensi pers, Senin (15/5/2023).

KPU masih memberikan waktu untuk menyelesaikan kendala teknis permasalahan internal partai tersebut. Hal itu sesuai berita acara pemeriksaan KPU.

Apabila selama dalam waktu 2×24 jam tersebut belum mampu menyelesaikan kendala tersebut Partai Ummat didiskualifikasi menjadi partai yang tidak memenuhi syarat dan tidak bisa mengikuti kontestasi Pemilu 2024.

“Sampai saat ini kami masih tetap melakukan koordinasi dengan DPP untuk menyelesaikan masalah internal tersebut seperti apa sebetulnya,” katanya.

Kata KPU terkait Nasib Partai Ummat Kota Banjar

Sementara itu, Ketua KPU Kota Banjar, Dani Daial Mukhlis, mengatakan, partai Ummat telah melakukan pengajuan bakal calon pada pukul 23.39 Wib. Saat itu juga KPU melakukan proses penerimaan termasuk pemeriksaan dokumen.

Menurutnya, secara ketentuan waktu dan prosedur partai Ummat sudah memenuhi sebagaimana ketentuan PKPU nomor 10 tahun 2023. Namun, dalam prosesnya aplikasi SILON terlougut dan akhirnya tidak dapat digunakan.

“Secara ketentuan waktu dan prosedur sudah memenuhi. Hanya dalam perjalanannya SILON terlougut dan akhirnya tidak dapat digunakan,” katanya.

Lanjut menjelaskan, sesuai pasal 36 PKPU nomor 10 tahun 2023 apabila proses pemeriksaan melewati batas waktu maka proses pemeriksaan dilanjutkan sampai dengan selesai.

Atas dasar itu maka KPU melakukan pemeriksaan dan lanjutan dari proses pengajuan. KPU memberikan waktu 2×24 jam kepada partai Ummat untuk melengkapi dan menyelesaikan proses yang tersisa sampai dengan tanggal 16 Mei pukul 23.59 WIB.

“Apabila dalam batas waktu 2×24 jam partai Ummat tidak dapat menyelesaikan sebagaimana ketentuan PKPU maka selanjutnya KPU tidak akan melakukan verifikasi administrasi dan selanjutnya berkas dikembalikan,” tandasnya. (Muhlisin/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Alasan Meninggal Dunia dan Mengundurkan Diri, 6 Desa di Ciamis Dipimpin Pjs Kades

DPMD-Ciamis-Sebut-Regulasi-Dana-Desa-Berubah-BLT-DD-Maksimal-25-Persen.jpeg

harapanrakyat.com,– Sebanyak 6 Desa di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, saat ini dipimpin oleh Penjabat Sementara (Pjs) Kepala Desa (Kades).

Kepala Bidang Pemerintahan Desa, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Ciamis, Andi Sopyandi membenarkan hal itu Senin (15/5/2023).

Ia menyebut, keenam Desa yang tidak memiliki Kades definitif atau sementara ini dijabat Pjs, antara lain Desa Sindangbarang Kecamatan Panumbangan, Desa Pamokolan Kecamatan Cihaurbeuti, Desa Bayasari Kecamatan Jatinagara, Desa Bahara Kecamatan Panjalu, Desa Sindangasih Kecamatan Banjarsari dan Desa Kertaharja Kecamatan Cijeungjing.

“Kekosongan kades definitif ini lantaran Kades sebelumnya meninggal dunia atau mengundurkan diri,” ungkap Andi.

Adapun Desa yang Kadesnya meninggal dunia, yakni Desa Pamokolan dan Desa Bahara. Sementara Desa yang Kadesnya mengundurkan diri yakni Desa Bayasari, dan Kertaharja.

Untuk Desa Sindangbarang, lanjut Andi, memang sebelumnya tidak memiliki Kades definitif, karena hasil Pilkades 2022 dibatalkan. Sehingga terpaksa harus mengikuti Pilkades serentak berikutnya.

“Sementara untuk kekosongan Kades Sindangasih, diakibatkan karena Kades terpilih tersandung kasus hukum,” ujarnya.

Untuk mengisi kekosongan jabatan Kades itu, maka saat ini diisi oleh Pjs Kepala Desa dari unsur ASN.

“5 Desa sudah terisi Pjs, hanya Desa Kertaharja yang belum. Sekarang baru proses pengajuan Pjs nya,” jelasnya.

Kekosongan posisi Kepala Desa tersebut tambah Andi, akan segera terisi oleh Kades definitif lewat PAW (penggantian antar waktu).

Saat ini, sejumlah Desa yang mengalami kekosongan jabatan Kades sudah membentuk panitia pemilihan PAW Kades masing-masing.

“Mudah-mudahan proses pemilihan atau musyawarah PAW Kepala Desa nanti berjalan lancar,” pungkasnya.

Detik-detik Menegangkan Partai Ummat Kota Banjar Daftar Bacaleg, Datang ke KPU Tengah Malam

Partai-Ummat-Kota-Banjar.jpg

harapanrakyat.com,- DPD Partai Ummat Kota Banjar, Jawa Barat, mengajukan daftar bakal calon legislatif (Bacaleg) pada detik-detik terakhir menjelang penutupan.

Dalam pengajuan itu terlihat menegangkan, lantaran 2 orang pengurus dari Ketua DPD dan Sekertaris datang dan mengisi daftar hadir sekitar pukul 23.39 WIB, Minggu (14/5/2023).

Ketua DPD Partai Ummat Elan Ramlan mengatakan, dalam pengajuan bakal calon anggota legislatif untuk Pemilu 2024, pihaknya mengalami berbagai kendala.

“Mohon maaf kami datang ke sini terakhir dengan waktu yang mepet. Karena ada kendala di internal partai yang tidak bisa saya sampaikan,” kata Elan Ramlan, Senin (15/5/2023) dini hari.

Menurutnya, sebelum mengajukan daftar Bacaleg pihaknya sudah melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan KPU terkait Silon.

Baca Juga: Dua Parpol di Kota Banjar Gagal Ikut Pemilu 2024, Kenapa?

Ia menjelaskan, kuota bakal calon legislatif sendiri tidak terpenuhi 100 persen, hanya 22 orang. Yakni Dapil 1 sebanyak 10 orang, Dapil 2 sebanyak 9 orang, dan Dapil 3 sebanyak 3 orang.

“Kita mengajukan sebanyak 22 orang bakal calon legislatif. Target kita tidak muluk-muluk dapat 3 kursi juga alhamdulillah,” jelasnya.

KPU Kota Banjar: Pendaftaran Bacaleg Partai Ummat Sudah Diterima

Sementara itu, Ketua KPU Kota Banjar Dani Danial Muhklis mengatakan, secara aturan DPD Partai Ummat sudah resmi dan diterima oleh KPU dalam pengajuan bakal calon legislatif.

“Secara waktu dan prosedur sudah memenuhi ketentuan sebagaimana yang tertuang dalam PKPU nomor 10 tahun 2023,” katanya.

Menurut Danial, Partai Ummat terkendala oleh Sistem Informasi Pencalonan (Silon) sudah terkunci dan tidak dapat digunakan.

“Jadi tadi karena terkendala Silon. Tapi yang penting diisyaratkan dalam pasal 36 PKPU tahun 2023 dikatakan apabila proses pemeriksaan melewati batas waktu sebagaimana diatur pasal 30 maka proses pemeriksaan dilanjut sampai selesai,” paparnya.

Lanjut Danial, dalam hal ini KPU Kota Banjar menggunakan keputusan 476 dan memberikan waktu 2×24 jam kepada Partai Ummat untuk melengkapi dan menyelesaikan proses yang tersisa.

“Berarti terhitung sampai tanggal 16 Mei 2023 pukul 23.59 WIB. Tapi jika tidak melaksanakan itu maka untuk selanjutnya kami tidak melakukan verifikasi administrasi dan kemudian berkas dikembalikan,” pungkasnya. (Sandi/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Dua Parpol di Kota Banjar Gagal Ikut Pemilu 2024, Kenapa?

KPU-Kota-Banjar.jpg

harapanrakyat.com,- Hingga batas akhir masa pendaftaran bakal calon anggota legislatif (Bacaleg) dua partai politik (parpol) di Kota Banjar, Jawa Barat, gagal menjadi peserta Pemilu 2024.

Dua parpol yang gagal mengikuti Pemilu 2024 tersebut yaitu Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) dan Partai Garda Perubahan Indonesia atau Garuda.

Dua partai tersebut gagal menjadi peserta pemilu 2024 setelah batas akhir pendaftaran pada Minggu (14/5/23) pukul 23.59 WIB dinyatakan ditutup oleh KPU Kota Banjar tidak memberikan konfirmasi. Selain itu juga kedua partai tersebut

tidak mendaftarkan Bacalegnya ke kantor KPU Kota Banjar.

Ketua KPU Kota Banjar, Dani Danial Mukhlis, mengatakan, hingga batas akhir masa pendaftaran pengajuan bakal caleg pukul 23.59 WIB terdapat dua partai politik yang tidak mengajukan Bacalegnya.

Baca Juga: DPC PPP Kota Banjar Ajukan Bacaleg, Ada Pengusaha Hingga Mantan Camat

Dua parpol yang tidak mengajukan bakal calon legislatif (Bacaleg) hingga batas akhir masa pendaftaran dinyatakan ditutup tersebut yaitu Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) dan Partai Garuda.

Karena sampai batas akhir pendaftaran ketiga parpol tersebut ternyata belum melakukan pengajuan Bacaleg, lanjutnya, maka berkasnya sudah tidak diterima. Konsekuensinya partai politik tersebut tidak bisa ikut berkontestasi pada Pemilu 2024 mendatang.

“Ketika sudah melebihi batas waktu artinya berkasnya tidak bisa diterima. Konsekuensinya partai politik tersebut tidak bisa ikut berkontestasi pada Pemilu 2024,” kata Danial Mukhlis kepada wartawan, Senin (15/5/2023).

14 Parpol Sudah Daftar Bacaleg, Dua Parpol di Kota Banjar Gagal

Lanjutnya menyebutkan, dengan berakhirnya masa pendaftaran tersebut jumlah keseluruhan partai politik yang telah mengajukan bakal calon (Bacaleg) yaitu sebanyak 14 partai politik.

Dari 14 partai politik yang telah melakukan pengajuan bakal calon hanya Partai Bulan Bintang yang Bacalegnya tidak 100 persen. Bacalegnya di bawah 30 orang.

Meski begitu, kata Danial, parpol yang Bacalegnya tidak terpenuhi 100 persen tidak menjadi masalah. Alasannya karena berdasarkan ketentuan, maksimal sesuai dengan alokasi kursi di setiap masing-masing Dapil terpenuhi.

“Parpol yang Bacalegnya tidak 100 persen itu tidak masalah karena berdasarkan ketentuan maksimal sesuai alokasi masing-masing Dapil terpenuhi,” katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan, tahapan berikutnya berdasarkan pasal 41 PKPU 10 tahun 2023 KPU akan menyusun rekapitulasi hasil pengajuan bakal calon yang dilakukan oleh parpol. Hasilnya kemudian akan dituangkan dalam berita acara untuk selanjutnya disampaikan ke parpol dan Bawaslu.

Kemudian akan dilanjut lagi dengan tahapan verifikasi administrasi yang akan dimulai pada tanggal 15 Mei-23 Juni. Verifikasi administrasi tersebut nantinya akan meneliti dua hal yakni terkait kebenaran dokumen administrasi syarat bakal calon dan meneliti kegandaan. 

“Nanti kalau misalnya ada kegandaan pencalonan yang dilakukan oleh parpol. Itu akan menjadi bagian dari lokus verifikasi administrasi yang kita lakukan sejak tanggal 15 Mei-23 Juni mendatang,” katanya. (Muhlisin/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

DPC PPP Kota Banjar Ajukan Bacaleg, Ada Pengusaha Hingga Mantan Camat

DPC-PPP-Kota-Banjar.jpg

harapanrakyat.com,- DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kota Banjar, Jawa Barat, ajukan bakal calon legislatif ke kantor KPU Kota Banjar, Minggu (14/5/2023).

Bacaleg yang akan maju pada Pemilu 2024 itu mulai dari mantan Camat, mantan komisioner KPU, mantan wartawan, hingga pengusaha.

Ketua DPC PPP Kota Banjar Mujamil mengatakan, saat ini pihaknya sudah mengajukan daftar bakal calon legislatif ke KPU, dan dinyatakan lengkap dan diterima.

“Alhamdulillah hari ini kita bersama pengurus, kader, mendatangi kantor KPU untuk mengajukan daftar Bacaleg. Sudah dinyatakan lengkap dan diterima,” kata Mujamil, Minggu (14/5/2023).

Baca Juga: Bikin Galau Parpol di Kota Banjar, Sistem Pemilu 2024 Terbuka atau Tertutup?

Adapun Bacaleg itu berasal dari mantan Camat, mantan komisioner KPU, mantan wartawan, dan juga pengusaha untuk mewakili masyarakat.

“Semua kalangan ada, dari kalangan milenial ada, mantan Camat ada, mantan komisioner KPU, pengusaha, bahkan mantan wartawan juga ada,” terangnya.

Menurutnya, dalam Pemilu 2024 mendatang pihaknya menargetkan sebanyak 6 kursi dan pimpinan untuk di DPRD Kota Banjar.

“Sehingga PPP di Kota Banjar yang tadinya satu minimal per Dapil ada syukur-syukur bisa masuk pimpinan di DPRD Kota Banjar,” terangnya.

Partai Gerindra Kota Banjar Targetkan 7 Kursi, Bidik Kursi Walikota 

Sementara itu, Partai Gerindra Kota Banjar, menargetkan suara maksimal pada gelaran pesta demokrasi 2024 mendatang. Pihaknya pun membidik kursi Walikota Banjar.

Target tersebut disampaikan Ketua Partai Gerindra Kota Banjar Sutarno, saat konferensi pers pengajuan daftar Bacaleg di halaman Kantor KPU Kota Banjar.

Sutarno mengatakan, ada sebanyak 30 orang bakal calon anggota legislatif untuk pemilu 2024. Kuota keterwakilan perempuan juga terpenuhi.

Adapun target penambahan 7 kursi tersebut, untuk Dapil 1 sebanyak 3 kursi, Dapil 2 dua kursi dan Dapil 3 dua kursi.

“Kami akan solid memenangkan pemilu 2024. Target kami 7 kursi minimal 6 kursi dapat tercapai dan bisa mengusung Wali Kota dan Wakil Wali Kota sendiri,” katanya.

Lanjut Sutarno, sosok yang akan diusung untuk menjadi calon Walikota tersebut, Partai Gerindra akan mendorong kader terbaiknya.

“Untuk calon Walikota siapapun itu dari internal. Bisa ketua, unsur pimpinan, atau sekretaris. Nanti ada proses penjaringan dari DPP untuk pencalonan itu” pungkasnya. (Sandi/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Ritual Thudong, 32 Biksu Berjalan Kaki dari Thailand Menuju Candi Borobudur

Ritual-Thudong-32-Biksu-Berjalan-Kaki-dari-Thailand-Menuju-Candi-Borobudur.jpg

harapanrakyat.com,- Belum lama ini viral video yang menunjukan puluhan Biksu atau Bhante berjalan kaki ribuan kilometer dari Thailand menuju Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah untuk memperingati waisak pada Minggu (4/6/2023) nanti.

Biksu yang berjumlah 32 orang berasal dari beberapa negara tetangga melakukan perjalanan dengan berjalan kaki dari Nakhon Si Thammarat, Thailand pada 23 Maret 2023.

Melansir dari berbagai sumber, targetnya mereka akan sampai ke Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah pada 2 Juni mendatang sebelum perayaan waisak tiba.

Para Biksu tersebut melakukan perjalanan dari Thailand melalui jalur Malaysia, lalu menyebrangi Singapura hingga masuk Indonesia melalui Banten pada 8 Mei 2023 lalu.

Sesampainya di Jakarta, para biksu dilepaskan oleh Bimas Buddha di Kantor Kementerian Agama. 32 biksu tersebut menuju Candi Borobudur melalui jalur Bekasi, Cirebon, Semarang hingga sampai Magelang.

Baca Juga : Tempat Wisata di Magelang yang Ngehits

Dalam situasi apapun, baik panas atau hujan para biksu tetap berjalan menuju tujuan mereka. Seperti terlihat dalam sebuah video yang memperlihatkan para biksu tetap berjalan walau cuaca sedang hujan.

Berita mengenai puluhan biksu yang berjalan kaki dari Thailand menuju Candi Borobudur, sudah tersebar luas di kalangan masyarakat Indonesia. 

Di setiap tempat istirahat yang mereka singgahi, para biksu mendapat sambutan hangat dari umat Buddha.

Bahkan, dalam perjalanan itu banyak masyarakat yang berbaris menyambut dengan memberikan makanan, minuman serta beberapa kebutuhan untuk perjalanan.

Sementara itu, melansir dari situs Kementerian Agama RI, Tradisi Thudong merupakan ritual para Biksu dengan cara berjalan kaki ribuan kilometer.

Ritual keagamaan ini merupakan tradisi Buddhisme Theravada untuk melakukan perjalanan ke tempat-tempat suci. Biksu yang melakukan ritual tersebut biasanya telah mengambil sumpah untuk hidup sebagai biksu pengembara.

Selain itu, Candi Borobudur sendiri adalah peninggalan Agama Buddha di Indonesia. Bahkan, Candi Borobudur yang akan menjadi tujuan pada biksu dari Thailand ini merupakan kuil dan monumen Buddha terbesar di dunia. (Fatmawati/R12/HR-Online/Editor-Rizki)

Angka Prevalensi Stunting Jawa Barat Capai 20,2 Persen pada 2022

870-Balita-di-Pangandaran-Alami-Stunting.jpg

harapanrakyat.com – Angka prevalensi tengkes (stunting) di Jawa Barat mencapai 20,2 persen pada 2022. Angka tersebut menurun sebesar 4,3 persen dari tahun sebelumnya pada angka 24,5 persen.

Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum mengatakan, penurunan angka prevalensi stunting di Jawa Barat itu tentunya signifikan. Pasalnya, Jawa Barat termasuk wilayah dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia.

“Angka prevalensi stunting di Jawa Barat semakin menurun cukup signifikan dari tahun ke tahun. Tentunya, pencegahan stunting tidak cukup melalui penyuluhan atau kampanye saja,” ungkap Uu di Kota Bandung.

Baca Juga : Stunting pada Anak, Gejala, Penyebab, dan Cara Pencegahannya

Uu menegaskan, Pemprov Jabar pada 2024 akan terus berupaya menurunkan angka prevalensi stunting hingga 14 persen. Untuk itu, pihaknya mengajak semua kalangan masyarakat bersama-sama meningkatkan kesadaran akan bahaya stunting.

“Stunting ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan semua pihak. Saya mengajak semua kalangan masyarakat bersama-sama berupaya menurunkan angka stunting dengan cara meningkatkan kesadaran akan bahaya stunting,” katanya.

Sebagai informasi, beberapa waktu lalu Pemprov Jabar meraih penghargaan dari pemerintah pusat dalam hal penanganan stunting ini.

Bahkan, Pemprov Jabar berhasil mendapat penghargaan dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terkait penurunan signifikan angka prevalensi stunting dari tahun 2021 hingga 2022.

“Saya mengapresiasi bagi daerah yang signifikan menurunkan angka stunting terus ke arah yang lebih baik. Terima kasih kepada bupati dan wali kota di Jawa Barat yang sudah bekerja keras menurunkan prevalensi stunting ini,” tuturnya.

Cegah Angka Prevalensi Stunting di Jawa Barat Naik

Uu mengingatkan pula pentingnya asupan gizi dan berbagai informasi terkait stunting di lapisan masyarakat. Hal itu supaya masyarakat khususnya para orang tua atau calon orang tua, memahami betul terkait isu stunting ini.

Baca Juga : Ciamis Raih Penghargaan Daerah Paling Inovatif dalam Penurunan Stunting di Jabar

Dalam hal penanganan stunting di Jawa Barat, lanjut Uu, Pemprov Jabar terus melakukan monitoring melalui Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik.

Komitmen ini, kata Uu, berdasarkan penandatanganan bersama yang dihadiri Sekda Provinsi Jawa Barat, sekda 27 kabupaten/kota, serta para kepala perangkat daerah baik provinsi dan kabupaten/kota di Jawa Barat.

“Pada intinya kami bersyukur angka prevalensi stunting di Jawa Barat terus menurun. Ini (penanganan stunting) menjadi tanggung jawab kita bersama, bukan hanya pemerintah,” ucapnya. (Ecep/R13/HR Online)

Kasus Pembunuhan Ibu dan Anak di Subang, Kapan Ada Kejelasan?

Kasus Pembunuhan Ibu dan Anak di Subang, Kapan Ada Kejelasan?

suarasubang.com – Saat melewati rumah yang jadi saksi bisu kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang belum lama ini, saya langsung teringat peristiwa yang terjadi di Jalancagak tersebut. Kejadiannya sudah hampir 2 tahun lalu dan viral menjadi berita nasional dan berita viral Subang hari ini.

Kasus ini cukup lama dan menyita perhatian serta energi dari berbagai kepentingan. Media, instansi terkait masyarakat bahkan hingga sampai Jokowi angkat bicara.

Saat viral, kepolisian tentu saja langsung bergerak cepat, mulai dari tingkat daerah hingga pusat. Aksi ini mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat dengan harapan kasus tersebut bisa segera terungkap.

Hampir 2 Tahun Mandek, Pihak Terkait Ngapain Aja?

Jika kita kembali menggunakan mesin waktu, kasus pembunuhan ibu dan anak ini terjadi di Kampung Ciseuti, Desa Jalancagak, Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang.

Terhitung hampir dua tahun lamanya kasus pembunuhan Tuti Suhartini (55) serta Amalia Mustika Ratu (23) ini terjadi. Namun, peristiwa 18 Agustus 2021 ini masih menjadi misteri.

Pelaku pembunuhan hingga kini belum terungkap. Memang tak semudah membalikkan telapak tangan buat pihak kepolisian dalam mengungkap kasus ini.

Di sisi lain, misteri yang tak kunjung usai ini akhirnya menimbulkan polemik di masyarakat. ‘Kok ga selesai-selesai sih?’, pertanyaan yang dilontarkan Iwan (45 tahun) dalam obrolan warung kopi di kawasan Tegal Kelapa ini pun akhirnya menjadi wajar.

‘Sudah 2 tahun mandek nih, ngapain aja sih?’ tanya Yayan (42 tahun) warga Pasir Kareumbi yang bekerja di Jakartai kepada saya saat kebetulan tengah berkunjung ke Subang.

Banyak pertanyaan serupa yang sering saya dengar dari masyarakat Subang ketika membahas soal kasus ini. Pasalnya, ada banyak kasus besar nasional lain yang begitu cepat terungkap, bahkan tak butuh waktu tahunan.

Bahkan seperti dikutip dari detikJabar beberapa waktu lalu, pihak keluarga sendiri bertanya-tanya akan perkembangan kasusnya. Salah satunya dirasakan tentunya oleh suami sekaligus ayah dari korban tidak lain Yosef Hidayah.

Kuasa hukum Yosef, Rohman Hidayat mengungkapkan, pihaknya mendesak pihak kepolisian untuk mengungkap dan menangkap pelaku pembunuhan. Antara lain dengan menyurati Mabes Polri.

TKP Tak Dijaga Dengan Baik

Ia juga menyoroti rusaknya TKP yang tak dijaga baik oleh pihak kepolisian dimana Kompolnas pun sempat menanggapi kasus ini terkait kondisi tersebut.

“Kenapa kami akan menyurati Divisi Propam Mabes Polri? Soalnya Kompolnas pernah menanggapi kasus tersebut karena rusaknya TKP yang diduga tidak dijaga baik oleh pihak kepolisian,” ungkap Rohman kepada detikJabar, Sabtu (21/1/2023).

Buntunya perkembangan kasus ini menjadi concern Rohman. Karena sejatinya, sudah hampir 2 tahun namun kasus dinilai mengambang dan tak ada perkembangan apapun.

Pihak Polres Subang maupun Polda Jabar sendiri sepertinya masih membutuhkan waktu untuk dapat mengungkap kasus pembunuhan ini.

Dari keterangan seluruh saksi dan hasil penyelidikan, belum ada informasi yang mengarah kepada pelaku pembunuh Tuti dan Amel.

Kicauan Dokter Hastry

Tapi di antara berbagai polemik yang simpang siur dari berbagai pihak, mendadak ahil forensik Polri, Kombes Pol dr Sumy Hastry Purwanti buka suara terkait kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang ini.

Dalam kasus ini, Dokter Hastry adalah salah satu yang ikut melakukan otopsi kedua jenazah Tuti dan Amel. Ia menjelaskan hasil otopsinya dan memaparkan serta memberikan petunjuk kepada penyidik.

Sayangnya, sampai sekarang penyidik Polda Jabar tak kunjung merilis tersangka. Hal inilah yang membuatnya kena sentil. Ia mengaku diserang netizen yang mempertanyakan kasus ini.

“Kalau di pekerjaan saya untuk menyajikan data, alat bukti sudah selesai. Tapi saya gemes,” ujarnya dikutip dari tayangan di channel youtube Deddy Corbuzier, Jumat (12/5/2023).

Menurutnya, kasus ini sebenarnya bisa terungkap yaitu dengan identifikasi DNA. Ia menambahkan, pemeriksaan DNA sudah dilakukan namun tidak ada yang cocok.

Karena tidak ada yang cocok, pihaknya lalu mencari DNA saksi-saksi, dan ternyata dari saksi juga tidak ada yang cocok.

Menurutnya langkah selanjutnya adalah dari garis keturunan ibu, siapa tahu ada yang cocok. Namun, hal ini belum dikerjakan Polda Jabar.

Dokter Hastry ini pun sudah mengantongi jam kematian Tuti lantaran sudah otopsi dan olah TKP. “Ia dibunuh sekitar pukul 2 hingga 4 dini hari. Sementara Amel dibunuh pukul 4 sampai 6 pagi.”

“Saya bermain dong di jam itu, handphone siapa yang online. Ambillah DNA nya,” jelasnya.

Diakui, di TKP, sudah ada 2 DNA yang diduga pelaku yang asing. Hal itu bisa dicocokkan di sana.

Selanjutnya, Dokter Hastry mengaku rela kehilangan jabatannya dengan mengungkap kasus subang ini. Karena dia sudah tersiksa didatangi oleh para korbannya dalam mimpinya.

Ia bahkan mengaku trauma kalau kasus ini tidak sampai bisa menangkap pelakunya. Dokter Hastry merasa kasihan dengan korbannya.

Dengan polemik yang masih terus berkecamuk di masyarakat terkait lamanya pengungkapan kasus, anggapan bahwa pihak kepolisan terlalu lamban bergerak memang bisa dimaklumi.

Tapi di sisi lain kita harus memaklumi, bahwa dalam mengambil tindakan, instansi terkait memang harus bertindak terukur dan hati-hati.

Sambil menunggu dan menyeruput kopi di teras rumah, saya pun berharap jika kasus ini bisa segera selesai secepatnya.

Mudah-mudahan pihak kepolisan serta Polres Subang khususnya bisa membuktikan kinerja terbaiknya. Tetap semangat!

Hari Pitrajaya

Subang Hari Ini dan Esok

Sampah Subang Hari ini dan Esok
Credit foto: tintahijau.com

suarasubang.com – Menatap perkembangan Subang hari ini, entah kenapa saya tak menemukan sedikit pun hal yang membuat saya ‘excited’, kagum atau bergairah.

Saya enggan menyinggung slogan tentang Subang yang digembar-gemborkan beberapa tahun belakangan. Tak perlu, karena sebagai rakyat, yang saya butuhkan adalah sesuatu yang ‘nyata’ bukan ‘citra’.

Sayangnya, di tataran citra sekalipun, tak ada yang membekas ‘indah’ di benak saya. Apalagi jika bicara soal kenyataan. Bukan hendak nyinyir, tapi keadaan tak bisa berbohong.

Sebagai rakyat, ada beberapa hal yang sampai saat ini membuat saya gelisah saat menatap Subang hari ini.

Bukan, bukan variabel-variabel seperti pemerintahan, birokrasi hingga carut marut politik yang jadi biang keladi kegelisahan saya. Tapi hal-hal sederhana. Salah satu contohnya, sampah.

Ya, hingga saat ini permasalahan sampah buat saya sebagai rakyat adalah sebuah isu krusial. Sangat mendasar tapi dampaknya besar.

Hingga sekarang saya tak habis pikir, betapa minimnya Tempat Pembuangan Sampah (TPS) atau tempat menimbun sampah di kota Subang.

Anehnya, secara bertahap beberapa TPS di area-area penting malah dipangkas. Bahkan, kini kian sulit menemukan TPS, malah nyaris tak ada.

Dulu masih amat sangat mudah menemukan TPS di beberapa titik. Beberapa tahun ke belakang, tanpa harus menunggu ‘pasukan kuning’ memungut sampah, saya masih bisa berinisiatif membuang sendiri.

Tapi lama kelamaan, sedikit demi sedikit, satu per satu, TPS ini berguguran. Bahkan untuk sekedar membuang sampah, saya harus berkeliling Subang, mencari TPS yang masih tersisa.

Sampai akhirnya, saya tak menemukan satu pun lokasi pembuangan sampah. Alhasil, setahun terakhir, sampah di rumah saya kerap tidak terkelola dengan baik, menumpuk. Bingung, harus kemana membuangnya.

Padahal tanpa ketersediaan tempat pembuangan yang layak, sampah ini mencemari lingkungan. Mengganggu dan merusak ekosistem, dan akan menimbulkan bau yang tidak sedap.

Berharap ‘pasukan kuning’ datang menjemput tepat waktu sebelum sampah menumpuk kadang hanya membuat dongkol. Bahkan kerap sampah di rumah tak diangkut lebih dari seminggu.

Akhirnya, di setiap pinggir jalan, saya kerap menemukan tempat pembakaran (pembuangan) sampah sembarangan yang dapat mencemari lingkungan.

Mirisnya, solusi paling cepat yang dilakukan sebagian masyarakat adalah membuangnya ke sungai. Tak heran, jika di musim hujan saya kerap melihat penumpukan sampah yang menyumbat aliran sungai.

Mungkin untuk persoalan atau hal ini, hanya saya saja yang mengalami dan mengeluhkan. Atau justru saya tak sendirian, ternyata banyak kepala keluarga merasakan kegelisahan serupa. Entah.

Pada akhirnya, tak perlu saya berpanjang lebar menceritakan kegelisahan tentang Subang hari ini. Karena lewat hal sederhana seperti ‘sampah’ ini pun, saya terpaksa mengambil kesimpulan praktis.

Jika untuk hal-hal sederhana dan mendasar saja kita tak sanggup menemukan solusi, apalagi untuk hal-hal besar. Subang hari ini saja masih seperti ini, apalagi esok.

Mungkin, akan ada sosok yang bisa membawa perubahan di Subang esok? Saya jelas-jelas sangat menantikan.

Hari Pitrajaya

Bubur Ayam Deri yang Viral di Ciamis, Hanya 2 Jam Ludes Terjual

Bubur-Ayam-Deri-yang-Viral-di-Ciamis-Hanya-2-Jam-Ludes-Terjual.jpg

harapanrakyat.com,- Bubur ayam Deri yang memiliki julukan bubur sejuta umat viral di Ciamis. Selain rasanya enak dan porsinya yang banyak, harganya juga terjangkau hanya Rp 9 ribu per porsi.

Setiap hari, bubur ayam Deri berjualan hanya sampai 2 jam dan langsung habis. Bahkan, untuk mendapatkan bubur tersebut para pelanggan seringkali harus mengantri karena banyaknya pembeli.

Dedi penjual bubur ayam mengatakan, setiap kali berjualan Ia membawa bubur sekitar 5 kilogram atau se dandang ukuran 15. Ia berjualan 2 kali di dua tempat berbeda, pagi hari di samping pasar subuh Ciamis dan sore di pintu masuk Terminal Ciamis.

“Alhamdulilah, rata-rata 2 jam sudah habis baik sedang dagang di pagi hari maupun sore hari. Saya jualan sehari itu dua kali, tidak ada libur, kecuali kalau ada keperluan,” katanya, Minggu (14/5/2023).

Baca Juga : Ternyata Polres Pangandaran Sudah Turun Selidiki Dugaan Pungli yang Dilaporkan Husein Ali

Dari sisi komposisi, bubur Ayam ini tidak jauh berbeda dengan bubur ayam pada umumnya. Bahkan topingnya juga sama, bubur dengan suwiran ayam, kacang goreng, bawang goreng dan kecap serta telur ayam.

“Mungkin yang membedakan bubur ayam Deri ini kalau kita diamkan selama satu hari itu tidak berair, jadi masih kental atau sundanya itu ‘Peungkeur’, tidak mudah berair,” ungkapnya.

Selain itu, harga satu porsi bubur ayam ini pun terbilang murah, hanya Rp 9 ribu per porsi. Jika memakai toping telur ayam rebus tambah Rp 3 ribu dan untuk harga setengah porsi hanya Rp 6 ribu saja.

“Saya tidak menghitung jumlah porsi berapa dalam sehari, jadi tidak tahu habis berapa porsi. Tapi kalau omset sekali dagang itu bisa sampai sekitar Rp 600 ribu,” tuturnya.

Dedi, 23 Tahun Jualan Bubur Ayam Deri

Dedi sendiri berasal dari Majalengka dan sudah menjalankan usaha makanan bubur ayam di Ciamis selama 23 tahun. Ia memberi nama Bubur Ayam Deri mengambil dari nama anaknya.

“Deri itu nama anak saya, kalau saya namanya Dedi. Awalnya itu saya jualan keliling ke kampung-kampung,” jelasnya.

“Lalu, saya mangkal di depan terminal Ciamis, kemudian pindah lagi ke belakang terminal dan saat ini di samping Pasar Subuh. Kalau sore ya di sini depan ruko Pasar Ciamis,” lanjutnya.

Meski bubur ayamnya memiliki julukan bubur sejuta umat, Dedi mengaku tidak tahu. Menurutnya, itu muncul dari pelanggan yang sering mengantri saat membeli.

“Mungkin itu dari pembeli yang menilai bahwa ketika beli bubur ayam Deri ini harus ngantri, karena banyak yang beli,” ujarnya.

Baca Juga : Cara Memulai Usaha Katering, Pilih Prasmanan atau Nasi Kotak?

Sementara itu, Yaya, salah satu pembeli mengaku sering makan bubur ayam Deri ini. Alasannya, selain karena rasa yang enak dan porsinya banyak harganya juga sangat murah, hanya Rp 9 ribu sudah kenyang. 

“Lumayan, kadang pagi kadang juga sore makan bubur, rasanya enak dan murah. Porsinya juga brutal banyak banget,” katanya.

Namun, menurut Yaya, ketika ingin makan bubur ayam Deri ini harus sabar, karena banyak pembelinya. Bahkan, Mang Dedi (Pedagang) tidak berhenti melayani pembeli, selalu sibuk terus. Tapi semuanya terlayani meskipun hanya satu orang saja yang dagangnya. 

“Harus sabar antri saja, tapi ketika sudah makan bubur ayam Deri itu semua pengorbanan menunggu atau antri itu lunas terbayar.” Pungkasnya. (Ferri/R12/HR-Online/Editor-Rizki)

Recent Posts