Beranda blog Halaman 36

Pagaden: Di Antara Sawah, Sungai, dan Cerita yang Tak Pernah Habis

Pagaden Kecamatan di Kabupaten Subang

Pagaden, salah satu kecamatan di Kabupaten Subang, bukan sekadar nama yang sering kita dengar di rute perjalanan menuju kota—ia adalah denyut yang lembut dari jantung Subang bagian tengah.

Bayangkan peta kecil di mana Pagaden berdiri tegak di tengah persawahan, bersentuhan dengan Binong di utara, berpelukan dengan Subang dan Cibogo di selatan, menyapa Cipunagara di timur, dan bersalaman hangat dengan Pagaden Barat di sisi barat.
Ramah tetangga? Sudah tentu. Bahkan batas wilayahnya saja terasa seperti sapaan antar-sahabat lama.

Wilayah Pagaden terbentang seluas 49,35 kilometer persegi—tak seluas Kalijati memang, tapi cukup luas untuk menampung ribuan cerita, dari langkah petani di pagi hari hingga suara anak-anak yang berlarian selepas sekolah.

Pagaden punya 10 desa, 85 RW, dan 274 RT.
Bayangkan saja, 274 RT! Kalau semua ketua RT berkumpul untuk musyawarah, bisa jadi butuh lapangan bola sebagai ruang rapatnya.

Dan di antara sepuluh desa itu, Gembor berdiri sebagai yang terluas, membentang sejauh 9,67 km²—tempat di mana hamparan hijau seolah tak pernah habis.
Menyusul Jabong dengan 6,87 km², lalu Sukamulya, Sumbersari, Gambarsari, Neglasari, Gunungsari, Gunungsembung, dan Pagaden sendiri yang menjadi jantung administratif kecamatan.
Sementara Kamarung menjadi si kecil yang gesit, hanya 1,95 km², tapi penuh kehidupan—ibarat halaman kecil yang selalu ramai oleh canda warga.

Berdasarkan data BPS, Pagaden dihuni oleh 59.831 jiwa dengan kepadatan sekitar 1.346 jiwa per kilometer persegi.
Penduduknya padat, tapi suasananya tetap akrab—barangkali karena hampir setiap orang di Pagaden masih hafal nama tetangganya sendiri.

Namun Pagaden bukan hanya angka dan tabel statistik. Ia adalah kisah tentang keseimbangan:
antara luas dan padat, antara sawah dan jalan raya, antara tradisi dan perubahan.
Di sini, kehidupan berjalan dengan irama yang wajar—tak tergesa, tapi pasti.

Mungkin itulah yang membuat Pagaden selalu menarik: bukan karena besarnya wilayah, tapi karena hangatnya manusia yang menempatinya.

Kasus Guru Tampar Siswa di Subang Berakhir Damai, Orang Tua dan Sekolah Saling Memaafkan

Kasus guru tampar siswa Subang

Subang – Kisah panas antara orang tua remaja berinisial RZ (16) dan guru mata pelajaran IPS di SMPN 2 Jalancagak, Kabupaten Subang, akhirnya mendingin. Kedua pihak sepakat berdamai setelah sempat berselisih dan ramai diperbincangkan publik.

Ayah RZ, Deni Rukmana, mengakui dirinya sudah meminta maaf kepada pihak sekolah atas sikap emosional yang sempat terjadi, termasuk kenakalan sang anak yang melanggar aturan dengan membolos. Namun, ia berharap kejadian ini menjadi pelajaran bersama.

“Masalah ini sebenarnya sudah selesai. Saya sudah minta maaf ke sekolah dan ke gurunya juga. Tapi saya kecewa kenapa cara mendidik anak harus dengan kekerasan. Karena itu saya sempat unggah ke media sosial,” ujar Deni saat ditemui di rumahnya, Rabu (5/11/2025).

Meski sudah berakhir damai, peristiwa penamparan itu ternyata menyisakan luka psikologis bagi RZ. Sang ayah menuturkan bahwa anaknya kini trauma, lebih banyak berdiam diri di kamar, dan belum berani kembali ke sekolah.

“Semalam saya langsung bawa anak saya ke puskesmas untuk diperiksa. Telinganya masih berdengung sampai sekarang,” katanya.

Dari informasi yang diperoleh, insiden bermula pada Senin (3/11) ketika RZ dan tujuh temannya ketahuan melompati pagar sekolah untuk membolos pada Rabu (29/10) sebelumnya. Sebagai bentuk sanksi, mereka diminta berdiri sebagai efek jera. Namun, guru berinisial RS diduga menegur dengan nada keras hingga menampar beberapa siswa.

Pihak sekolah kemudian menyatakan penyesalan dan meminta maaf atas tindakan yang dinilai melampaui batas kewajaran dalam mendisiplinkan siswa.

Kasus ini sempat menyebar luas setelah unggahan Deni beredar di media sosial, memancing beragam komentar masyarakat. Kini, keduanya sepakat menutup lembaran dengan damai, berharap tak ada lagi kekerasan dalam dunia pendidikan.

Ketua DPRD Subang Dukung Penuh Perbup Pembatasan Jam Operasional Truk

Perbup 21 Tahun 2025 pembatasan truk Subang

Subang – Ketua DPRD Kabupaten Subang, Victor Wirabuana Abdurachman, S.H., menyatakan dukungan penuhnya terhadap penerapan Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 21 Tahun 2025 tentang Pembatasan Jam Operasional Truk. Hal tersebut ia sampaikan saat mendampingi Bupati Subang, Reynaldy Putra Andita Budi Raemi (Kang Rey), menerima audiensi dari Serikat Pekerja Aqua Grup (SPAG) di Ruang Rapat Bupati II, Rabu (05/11/2025).

Audiensi ini digelar menanggapi kekhawatiran SPAG terkait potensi dampak pembatasan truk terhadap operasional perusahaan dan nasib para pekerja.

Victor menegaskan bahwa kekayaan alam Subang harus memberi manfaat luas bagi masyarakat, pekerja, dan dunia usaha. Ia yakin keberadaan Perbup Nomor 21 Tahun 2025 akan memberikan dampak positif bagi seluruh pihak.

“Dengan adanya pemberlakuan Perbup itu, saya sepakat, mereka (masyarakat) merasa nyaman,” paparnya.

Ketua DPRD juga mengingatkan seluruh perusahaan ekspedisi untuk mematuhi aturan yang berlaku di daerah. Ia memastikan dukungannya kepada para pekerja agar tetap mendapatkan perlindungan yang layak.

“Saya meyakinkan bahwa dirinya akan bersama para pekerja untuk memperjuangkan kebaikan bersama,” tegas Victor.

Ia pun mengajak serikat pekerja Aqua Grup untuk bersikap kooperatif dalam mendukung penyesuaian operasional perusahaan.

“Tolong dari serikat pun bantu kami dari Pemda untuk menekan ke PT Aqua untuk segera merealisasikan [penyesuaian kendaraan],” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Subang, Kang Rey, memastikan bahwa tidak ada pekerja yang akan dirugikan atau terkena PHK akibat kebijakan tersebut.

Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi Pemda Subang dalam memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil berpihak pada pembangunan daerah tanpa mengorbankan kesejahteraan buruh.

Bupati Subang Pastikan Pekerja Ekspedisi Aqua Aman dari Ancaman PHK

Bupati Subang lindungi pekerja ekspedisi Aqua

Subang – Bupati Subang, H. Ruhimat (Kang Rey), menegaskan komitmennya untuk melindungi para pekerja ekspedisi di wilayahnya. Ia meminta seluruh perusahaan ekspedisi agar mematuhi peraturan yang berlaku dan memastikan bahwa pemerintah daerah akan selalu berpihak pada kebaikan bersama.

Ia juga menyoroti pentingnya penerapan Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 21 Tahun 2025, yang menurutnya akan membawa dampak positif bagi masyarakat, pekerja, dan perusahaan di Kabupaten Subang.

“Dengan adanya pemberlakuan Perbup itu, saya sepakat, mereka (masyarakat) merasa nyaman,” paparnya.

Dalam kesempatan yang sama, Asisten Daerah II Setda Subang, Viktor, mengajak serikat pekerja Aqua Grup untuk turut bersikap kooperatif.

“Tolong dari serikat pun bantu kami dari Pemda untuk menekan ke PT Aqua untuk segera merealisasikan,” jelasnya.

Menutup pertemuan, Kang Rey meyakinkan para pekerja bahwa tidak akan ada pihak yang dirugikan, meskipun nantinya terjadi pergantian perusahaan ekspedisi.

“Saya jamin bapak dan ibu yang bekerja di situ, maka akan tetap kerja,” tegasnya.

Ia juga menepis anggapan bahwa menurunnya tren PT Tirta Investama (Aqua) disebabkan oleh regulasi baru.

“Tren Aqua menurun, bukan karena regulasi, pihak Aqua pun mengakui, karena persaingannya semakin banyak,” tutupnya.

Pernyataan tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Umum PP SPAG, Zulkarnaen, yang menilai komitmen Bupati sebagai wujud kepedulian terhadap nasib buruh.

“Terimakasih pak Bupati, kami ingin memastikan, kami tidak terdampak dan kena dari PHK,” ungkapnya.

Agenda tersebut juga dihadiri oleh Wakil Ketua III DPRD Kabupaten Subang, Kepala Dinas Perhubungan, Kasatpol PP dan Damkar, Kepala DPMPTSP, serta perwakilan dari Bapenda Kabupaten Subang.

Atap Bocor dan Dinding Rapuh, Siswa SDN Linggarmanah Belajar di Teras Kelas

SDN Linggarmanah Subang rusak

Hujan deras kini tak hanya menguji payung, tapi juga keteguhan atap sekolah. Di SDN Linggarmanah, Kabupaten Subang, sejumlah siswa terpaksa belajar di teras kelas karena ruang belajar mereka sudah tak lagi layak digunakan.

Atap bocor, plafon rapuh, dan tembok yang nyaris runtuh membuat proses belajar harus pindah ke luar ruangan. Kepala SDN Linggarmanah, Resniati, mengatakan keputusan itu diambil demi keselamatan siswa.

“Atapnya sudah pada bocor, Pak. Kita kan nggak tahu kondisi plafonnya seperti apa, jadi kami memilih aman. KBM kami alihkan di luar kelas,” ujarnya kepada RRI Subang, Selasa (4/10/2025).

Sekolah yang berdiri sejak lama itu, kata Resniati, belum pernah mendapat perbaikan besar dari pemerintah. Satu-satunya perbaikan kecil terjadi empat tahun lalu, pada 2021, saat hanya bagian bocor yang ditambal seadanya.

“Alhamdulillah setiap kejadian ambruk itu selalu pas anak-anak sudah pulang. Termasuk yang jatuh di depan ruang kepala sekolah,” katanya lega.

Menurut Resniati, ruang kelas yang rusak berat meliputi kelas 1, 2, 3, serta ruang kepala sekolah. Tak hanya itu, toilet sekolah pun ikut rusak dan tak bisa digunakan dengan nyaman.

“Kasihan anak-anak harus belajar di luar, apalagi sekarang musim hujan. Mudah-mudahan ada perhatian dari pemda,” harapnya.

Sementara itu, Pengawas SD Kecamatan Subang, Zaenal Mulyadi, mengonfirmasi bahwa kondisi SDN Linggarmanah memang memprihatinkan, meski bukan satu-satunya.

“Ada sekolah lain yang kondisinya malah lebih parah, seperti SDN Panji. Itu jadi skala prioritas dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang. Mudah-mudahan tahun depan bisa segera direhab,” ujarnya.

Dukungan juga datang dari Camat Subang, Sunardi, yang turut meninjau langsung kondisi sekolah.

“Saya mendapat laporan dari Bu Sekel Dangdeur tentang kondisi ruang kelas di SDN Linggarmanah yang rusak berat. Setelah saya lihat langsung, memang benar para siswa belajar di teras depan,” tuturnya.

Sunardi menaksir kerusakan bangunan sudah mencapai lebih dari 60 persen.

“Kalau melihat kondisinya seperti ini, semoga bisa dipercepat dan menjadi prioritas,” tegasnya.

Kini, di bawah langit mendung Subang, anak-anak SDN Linggarmanah tetap bersemangat menulis dan membaca meski tanpa atap yang layak. Mereka belajar di teras, diiringi angin dan doa—semoga sekolah mereka segera kembali berdiri kokoh.

Sanatsu, Sabun Nanas Ajaib dari Siswa MTsN Subang yang Siap Harumkan Jawa Barat

Sanatsu sabun nanas MTsN 1 Subang

Satu lagi kabar harum—secara harfiah—datang dari Kabupaten Subang. Dari tangan kreatif tiga siswi MTsN 1 Subang, lahirlah Sanatsu, sabun ramah lingkungan berbahan dasar kulit nanas yang kini menembus tiga besar Kompetisi Inovasi Jawa Barat (KIJB) 2025.

Selasa (4/11/2025), aula MTsN 1 Subang terasa seperti laboratorium ide. Di sana digelar verifikasi dan validasi KIJB 2025, dihadiri langsung oleh Sekda Subang H. Asep Nuroni, S.Sos., M.Si., Kepala BP4D Iwan Syahrul Anwar, S.STP., Kepala Kemenag Subang Dr. H. Badruzaman, S.Ag., M.Pd., serta tim juri dari Pemprov Jawa Barat.

Dalam sambutannya, Dr. H. Badruzaman tak menyembunyikan rasa bangganya.

“Kami bersyukur bisa menjadi bagian dari KIJB 2025. Sanatsu adalah bukti bahwa siswa madrasah bisa berinovasi dengan memanfaatkan potensi lokal. Ini karya yang lahir dari Subang untuk Jawa Barat,” ujarnya.

Dari Kulit Nanas Jadi Sabun Manis

Tiga siswi hebat — Queeni Alimah Goni Zalzalali Wal Ikrom, Windi Rahma Ayu, dan Ajeng Naura Istiqomah — di bawah bimbingan Yeyet Rosmiati, melihat peluang dari tumpukan kulit nanas di pasar. Limbah yang biasa terbuang itu mereka sulap menjadi sabun cuci tangan alami tanpa alkohol.

Kulit nanas direbus, disaring, lalu diolah jadi sabun cair dan sabun kertas. Hasilnya? Produk yang lembut di kulit, wangi alami, dan bebas bahan kimia berbahaya.

“Kami ingin mengubah limbah jadi berkah. Subang dikenal sebagai kota nanas, jadi kami olah kulit nanasnya agar bisa berguna. Sanatsu sudah banyak dipakai di sekolah dan dipasarkan di koperasi dengan harga Rp2.000 hingga Rp16.000,” tutur Queeni sambil tersenyum bangga.

Sudah Punya HAKI, Siap Go Nasional

Menurut Iwan Syahrul Anwar dari BP4D Subang, Sanatsu bukan inovasi sembarangan.

“Dari enam inovasi yang kami ajukan ke KIJB, dua masuk tiga besar, dan Sanatsu salah satunya. Produk ini bahkan sudah didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) di Kemenkumham,” jelasnya.

Sanatsu juga mendapat pendampingan dari BRIN dan Politeknik Negeri Subang agar punya standar ilmiah yang kuat.

“Sanatsu bukan hanya sekadar sabun sekolah. Ini produk inovatif yang punya peluang dikembangkan ke pasar yang lebih luas,” tambah Iwan.

Pemda dan Pemprov Kompak Dukung

Dukungan juga datang dari Sekda Subang, H. Asep Nuroni, yang menegaskan pentingnya sinergi inovasi di lingkungan pendidikan.

“Inovasi seperti Sanatsu ini penting. Bahannya lokal, prosesnya edukatif, manfaatnya besar. Kami ingin karya anak Subang bisa terus berkembang dan dikenal luas,” tegasnya.

Sementara itu, Iin Raseptina dari Pemprov Jawa Barat tak kalah antusias.

“Untuk pertama kalinya, kategori sekolah hadir di KIJB, dan MTsN 1 Subang langsung menembus tiga besar. Ini luar biasa,” ujarnya kagum.

Dari Madrasah, Harum untuk Jawa Barat

Kepala MTsN 1 Subang, H. Jijib Mujiburohman, S.Ag., M.Pd., menyebut prestasi ini sebagai tonggak penting.

“Sanatsu adalah wujud nyata bahwa siswa madrasah juga bisa berinovasi dan berkontribusi bagi lingkungan. Kami berharap karya ini bisa menjadi inspirasi bagi sekolah lain,” ungkapnya.

Penutupan acara dilakukan dengan peninjauan langsung proses produksi Sanatsu oleh tim juri. Harapannya, sabun nanas ini tak hanya harum di Subang, tapi juga mewangi hingga ke seluruh Jawa Barat—dan siapa tahu, ke seluruh Indonesia.

Forum Arus Bawah Desak DPRD Subang Usut Setoran Aqua ke PDAM TRS

investigasi setoran Aqua PDAM TRS Subang

Subang – Forum Arus Bawah menggelar audiensi dengan Komisi II DPRD Kabupaten Subang pada Senin (3/11/2025). Pertemuan tersebut dihadiri perwakilan Perumda Tirta Rangga Subang (TRS), perusahaan air mineral Aqua, dan PJT II Cabang Subang.

Koordinator Forum Arus Bawah, Andi Lukman Hakim, menyampaikan beberapa tuntutan dalam pertemuan itu. Salah satunya meminta Bupati Subang sebagai pemegang saham BUMD Perumda TRS untuk segera mengambil langkah konkret menyikapi opini publik terkait kerja sama pengusahaan air mineral antara Perumda TRS dan Aqua yang telah berjalan sejak 1997.

“Selanjutnya, DPRD yang dalam hal ini Komisi 2 agar segera mengundang pihak perusahaan Aqua untuk klarifikasi atas pernyataan yang telah membuat kegaduhan sehingga perumda TRS menjadi bahan sorotan publik dan bahkan kami pun merasa aneh dalam manajemen kerjasama yang selama ini dilakukan. Ini kan harus diklirkan pernyataan dari pihak Aqua yang mengatakan ‘kami melakukan eksplorasi sumber mata air di lahan milik kami sendiri, bukan di areal milik aset Perumda TRS’, sedangkan pihak Aqua memberikan kompensasi kepada pihak perumda setiap bulannya, nah ini yang menjadi polemik publik dan ini harus segera diluruskan,” ujar Andi.

Forum Arus Bawah juga mendesak Komisi II DPRD Subang untuk melakukan investigasi terhadap kerja sama tersebut.

“Dan kami meminta komisi II melakukan investigasi ke lokasi pengusahaan air mineral Aqua untuk memastikan kegiatan operasionalnya di lapangan apakah sudah memenuhi standar peraturan pemerintah yang di perjanjian dengan pihak perumda TRS selama ini,” tegasnya.

Ega Anjani Ajak PKK Kecamatan “Naik Kelas” Lewat Pembinaan Administrasi

Pembinaan Administrasi PKK Subang

Subang – Aula TP PKK Kabupaten Subang mendadak ramai oleh semangat dan senyum para penggerak PKK kecamatan. Senin (3/11/2025), Ketua TP PKK Kabupaten Subang, Ega Anjani Reynaldi, S.IP., membuka kegiatan pembinaan dan evaluasi administrasi PKK dengan gaya khasnya yang hangat dan inspiratif.

Acara ini bukan cuma sekadar kumpul-kumpul—tapi tiga hari penuh belajar bersama, dari tanggal 3 hingga 5 November 2025. Setiap harinya, 10 kecamatan akan mendapat kesempatan khusus untuk mengasah kemampuan administrasi mereka.

Dalam sambutannya, Ega menegaskan bahwa kegiatan ini bukan ajang mencari salah, melainkan kesempatan untuk saling belajar dan berbenah.

“Melalui kegiatan ini, kita akan saling berbagi ilmu dan pengalaman dari berbagai kecamatan,” ungkapnya dengan penuh semangat.

Ia juga mengingatkan agar setiap kekurangan jangan dianggap beban, melainkan bahan bakar untuk tumbuh bersama.

“Tujuannya adalah agar kita semua dapat berkembang bersama,” tegas Ega.

Sebelum menutup arahannya, Ega menyampaikan apresiasi tulus untuk seluruh pengurus PKK kecamatan yang hadir dengan penuh dedikasi.

“Terima kasih banyak, terutama yang telah datang dari jauh untuk mengikuti kegiatan ini,” tutupnya sambil tersenyum.

Di sela kegiatan, Resty Agus Hermawan, Ketua TP PKK Kecamatan Pusakanagara, ikut berbagi pandangannya tentang manfaat acara ini.

“Kegiatan penting dalam PKK ini bertujuan untuk merapikan administrasi dan juga menjalin silaturahmi. Kami jadi tahu administrasi mana yang belum lengkap dan apa saja yang harus dipelajari,” ujarnya.

Suasana kegiatan terasa seperti “kelas besar ibu-ibu hebat”—serius tapi hangat, tertib tapi penuh tawa. Dan satu hal pasti: setelah pembinaan ini, administrasi PKK di Subang tak hanya rapi di atas kertas, tapi juga kuat di hati dan kolaborasi.

Kalijati: Si Kecamatan yang Punya Segalanya, dari Jalupang yang Luas sampai Kalijati Timur yang Imut

Kecamatan Kalijati Subang

Kalijati, salah satu kecamatan di Kabupaten Subang, bukan sekadar nama yang sering lewat di peta—ia punya cerita sendiri di setiap jengkal tanahnya.

Bayangkan, di utara ia bersentuhan dengan Kecamatan Purwadadi, di selatan berpelukan dengan Serangpanjang, di timur menyapa Dawuan, dan di barat bersalaman dengan Cipeundeuy. Kalijati ini benar-benar ramah tetangga!

Wilayahnya terbentang seluas 90,11 kilometer persegi—cukup luas kalau mau dijelajahi sambil naik sepeda listrik, asal baterainya kuat.

Kecamatan ini punya 10 desa, 269 RT, dan 77 RW. Ya, 269 RT! Bisa dibilang, kalau diadakan lomba antar-RT, panitianya pasti butuh spreadsheet ukuran jumbo.

Nah, yang paling luas di antara semua desa adalah Desa Jalupang, dengan lahan mencapai 20,41 km². Kalau kamu ingin merasakan sensasi “jalan tak habis-habis,” datang saja ke Jalupang.

Di posisi kedua ada Desa Marengmang dengan 17,30 km²—cukup luas untuk bikin festival layangan skala nasional.

Tapi jangan remehkan yang kecil. Kalijati Timur justru jadi primadona mungil dengan luas hanya 3,24 km². Ibarat cangkir kecil berisi kopi kental—kecil tapi berisi!

Berikut daftar luas wilayah desa di Kecamatan Kalijati, lengkap seperti catatan rapi bendahara desa:
Jalupang (20,41 km²), Marengmang (17,3 km²), Banggalamulya (9,05 km²), Tanggulun Barat (8,42 km²), Kaliangsana (7,5 km²), Kalijati Barat (7,00 km²), Caracas (6,69 km²), Tanggulun Timur (5,63 km²), Ciruluk (4,87 km²), dan Kalijati Timur (3,24 km²).

Kalijati juga dihuni oleh 68.041 jiwa, dengan pembagian nyaris imbang: 33.642 laki-laki dan 34.399 perempuan. Populasinya cukup padat, tapi tetap terasa hangat—mungkin karena warganya gemar menyapa lebih dulu.

Kalijati bukan cuma soal angka dan batas wilayah. Ia adalah kisah tentang keseimbangan: antara yang luas dan kecil, antara angka dan wajah, antara peta dan kehidupan.

Kapolres Subang Ajak Da’i Kamtibmas Jaga Harmoni dan Kedamaian Lewat Dakwah yang Menyejukkan

Kapolres Subang

Subang – Suasana hangat memenuhi Aula Patriatama Polres Subang, Senin (3/11/2025) pagi.
Di sana, Kapolres Subang AKBP Dony Eko Wicaksono, S.H., S.I.K., M.H., Ph.D. memimpin kegiatan Silaturahmi Kapolres Subang dengan Da’i Kamtibmas Tingkat Polres Subang.

Acara ini dihadiri sekitar 40 orang — mulai dari Pejabat Utama (PJU), perwira, hingga para pengurus Da’i Kamtibmas.
Tampak hadir di antaranya Ketua Da’i Kamtibmas Iwan Siswanto, S.Pd., Sekretaris Sajidin Noor, M.Pd., Bendahara Hj. Imas Aisyah, S.Pd., serta para penasehat seperti KH. Dr. Eep Nurudin, KH. Agus Sarifuddin, dan KH. Dr. Musfiq Amrullah, Lc.

Dalam sambutannya, AKBP Dony menyampaikan apresiasi atas peran besar para Da’i Kamtibmas dalam menjaga situasi keamanan dan ketertiban di Kabupaten Subang.
“Selama empat bulan saya menjabat Kapolres Subang, situasi kamtibmas dapat terjaga dengan baik berkat dukungan semua pihak, termasuk para Da’i Kamtibmas yang menjadi mitra strategis Polri di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa ulama dan tokoh agama memiliki peran penting dalam meredam potensi konflik sosial serta memberikan pencerahan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak mudah terprovokasi oleh isu negatif di media sosial.
“Kami berkomitmen mendukung penuh ruang dakwah yang menyejukkan dan menjaga keharmonisan masyarakat. Mari kita terus bersinergi dalam memberikan pemahaman positif kepada remaja dan masyarakat agar terhindar dari hal-hal yang merugikan diri sendiri maupun lingkungan,” tambahnya.

Sementara itu, penasehat Da’i Kamtibmas KH. Dr. Musfiq Amrullah, Lc. menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian dan dukungan Kapolres kepada para dai.
“Kami merasa terhormat atas sambutan dan dukungan dari Kapolres Subang. Kami siap berkolaborasi dengan Polres Subang untuk terus menjaga situasi kamtibmas agar tetap aman, kondusif, dan harmonis,” ujarnya dengan nada penuh semangat.

Kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan plakat kepada Ketua Da’i Kamtibmas, sesi tanya jawab, foto bersama, dan ramah tamah.
Acara berlangsung tertib, lancar, dan penuh keakraban hingga siang hari.

Melalui silaturahmi ini, Polres Subang dan Da’i Kamtibmas meneguhkan komitmen bersama untuk menjaga kedamaian dan keamanan masyarakat.
Karena, seperti pesan Kapolres, keamanan bukan hanya tugas polisi, tapi juga tanggung jawab moral seluruh umat.

Recent Posts