Subang – Menjelang puncak perayaan Natal dan Tahun Baru, Kapolres Subang turun langsung ke lapangan pada Sabtu (20/12/2025). Ia melakukan inspeksi menyeluruh untuk memastikan kesiapan Operasi Lilin Lodaya 2025 di wilayah hukumnya.
Fokus pengecekan menyasar kesiapan Pos Pelayanan (Pos Yan) dan Pos Pengamanan (Pos Pam) yang tersebar di titik-titik strategis. Langkah ini diambil guna menjamin seluruh sarana dan personel dalam kondisi siaga penuh melayani masyarakat.
Dalam keterangannya, Kapolres menekankan bahwa keberadaan pos-pos ini bukan sekadar formalitas, melainkan bukti nyata kehadiran negara.
“Dengan adanya Pos Yan dan Pos Pam ini, wujud kehadiran kami di tengah-tengah masyarakat, untuk memberikan rasa aman dan nyaman, di saat perayaan natal dan pergantian tahun baru nanti,” tandas Kapolres Subang.
Kesiapan ini diharapkan mampu menciptakan suasana kondusif bagi warga yang merayakan Natal maupun menikmati libur akhir tahun. Melalui pengamanan ketat namun humanis, potensi gangguan keamanan selama masa operasi dapat diredam semaksimal mungkin.
Subang – Tawa ceria masa kecil seolah meredup dari wajah Rani (10), siswi kelas IV SD asal Kampung Rawabadak, Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Subang. Di usianya yang masih belia, ia harus bergelut dengan penyakit Thalasemia yang menggerogoti tubuhnya. Penderitaan Rani kian berat lantaran orang tuanya terhimpit masalah ekonomi pelik.
Ibunda Rani, Mirna, menuturkan bahwa putrinya baru saja menjalani prosedur medis intensif. Kondisi fisik Rani perlahan membaik meski wajah pucat masih belum sepenuhnya hilang.
“Alhamdulillah setelah dilakukan transfusi darah sebanyak 4 kantong, kadar hemoglobinnya naik jadi 10,2 g/dL. Rani kembali terlihat sehat walaupun sampai hari ini masih terlihat sedikit pucat,” ujar Mirna.
Namun, beban di pundak Mirna dan suaminya terasa sangat berat. Sebagai buruh serabutan tanpa penghasilan tetap, biaya hidup sehari-hari saja sering kali tak terpenuhi, apalagi untuk biaya pengobatan jangka panjang.
“Jangan kan buat bikin BPJS, buat makan dan bayar kontrakan saja kita masih sulit, kadang uang seribu pun tidak punya,” ungkap Mirna dengan nada getir.
Ia menambahkan, ketidakpastian pendapatan membuat posisi mereka serba sulit.
“Saya dan suami tak punya pekerjaan tetap, hanya buruh serabutan, sehingga kadang tak punya uang seribu perakpun,” imbuhnya.
Harapan sempat muncul lewat bantuan relawan yang mengurus BPJS Kesehatan kategori Penerima Bantuan Iuran (PBI). Sayangnya, prosedur birokrasi mengharuskan mereka menunggu masa aktif yang cukup lama, sementara penyakit Rani bisa kambuh sewaktu-waktu.
“Namun prosesnya harus menunggu 6 bulan dari Dinas Sosial. Sehingga bila Rani kambuh dan kekurangan darah lagi, saya sangat panik harus gimana. Apalagi saya nggak punya uang,” keluh Mirna.
Kondisi memprihatinkan ini mendapat perhatian dari Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Subang sekaligus perwakilan pemerintah, dr. Maxi. Ia menyempatkan diri meninjau langsung kondisi Rani pasca-perawatan.
“Kami perwakilan pemerintah meninjau langsung kondisi Rani, tadi terlihat badannya masih sedikit pucat. Karena baru keluar dari rumah sakit usai menjalani perawatan dan transfusi darah. HB-nya juga sudah meningkat,” jelas dr. Maxi.
Dokter Maxi mengakui bahwa penanganan Thalasemia Mayor membutuhkan biaya fantastis yang mustahil ditanggung keluarga prasejahtera tanpa bantuan. Estimasi biaya pengobatan bisa mencapai Rp 400 juta per tahun.
“Biayanya sangat mahal, untuk transfusi darah rutin,” tegasnya.
Menutup kunjungannya, dr. Maxi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bahu-membahu meringankan beban keluarga Rani. Dukungan moral dan materiil sangat dibutuhkan agar bocah tersebut bisa terus bertahan.
“Saya berharap dan mengajak semua pihak untuk ikut peduli dan memberikan bantuan untuk Rani dan keluarganya agar semakin semangat terus berobat sehingga Rani cepat sembuh,” pungkas dr. Maxi.
SUBANG, JAWA BARAT — Unit Penjinak Bom (Jibom) Detasemen Gegana Satbrimob Polda Jawa Barat mengevakuasi dan mengamankan sebuah mortir militer yang ditemukan di wilayah hukum Polres Subang, Jumat (19/12/2025). Temuan berbahaya itu berhasil ditangani tanpa insiden.
Penanganan dimulai pukul 07.00 WIB dengan apel pemberangkatan di Mako Detasemen Gegana. Apel ini menjadi tanda kesiapan unit dalam menghadapi tugas berisiko tinggi.
Sekitar pukul 09.40 WIB, tim Jibom tiba di lokasi dan langsung berkoordinasi dengan Kapolsek Jalan Cagak Polres Subang, Kompol Dede Suherman, A.Md.
Tidak lama kemudian, pada pukul 09.45 WIB, personel mulai proses pengamanan dan evakuasi mortir tersebut. Semua tindakan dilakukan sesuai prosedur sehingga tidak membahayakan warga sekitar.
Pukul 10.00 WIB tim bergerak menuju lokasi disposal di area kebun teh wilayah Polsek Jalan Cagak. Proses penghancuran selesai pada pukul 10.40 WIB dalam kondisi aman dan terkendali.
Setelah mortir dimusnahkan, Unit Jibom menyerahkan Berita Acara Polisi (BAP) kepada Kapolsek setempat sebelum situasi dinyatakan aman terkendali. Seluruh rangkaian tugas selesai pukul 14.00 WIB.
Personel kembali ke Mako Detasemen Gegana dan tiba pukul 16.00 WIB. Di sana mereka menggelar apel konsolidasi serta analisis evaluasi untuk memastikan keseluruhan operasi sudah sesuai SOP.
Dansat Brimob Polda Jabar, Kombes Pol. Donyar Kusumadji, menilai proses penanganan berjalan profesional. “Saya mengapresiasi kesiapsiagaan dan profesionalisme personel Unit Jibom Detasemen Gegana Satbrimob Polda Jabar dalam menangani ancaman bom militer jenis mortir di wilayah Subang.”
Menurut Donyar, tugas berisiko tinggi seperti ini harus dilaksanakan dengan disiplin dan prosedur untuk menjaga keselamatan masyarakat. “Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen Brimob Polri dalam memberikan perlindungan maksimal kepada masyarakat.”
Subang – PT Dahana kembali menorehkan prestasi di penghujung tahun dengan meraih Subang CSR Award 2025. Penghargaan ini diberikan atas dedikasi perusahaan pelat merah tersebut dalam memberdayakan sektor pendidikan, kesehatan, dan UMKM lokal.
Wakil Bupati Subang, Agus Masykur Rosyadi, menyerahkan apresiasi tersebut secara langsung di Aula Oman Syahroni Pemkab Subang, Kamis, 18 Desember 2025. Manajer TJSL Dahana, Ismail Kurbani, hadir mewakili perusahaan untuk menerima penghargaan bergengsi itu.
GM Sekretaris Perusahaan Dahana, Erwin Cipta Mulyana, menyebut penghargaan ini sebagai bukti komitmen perusahaan tumbuh bersama lingkungan sekitar. Baginya, kemajuan bisnis tak boleh meninggalkan kesejahteraan warga.
“Kami merasa sangat terhormat menerima CSR Award ini. Penghargaan ini menjadi motivasi tambahan bagi seluruh insan Dahana untuk terus memberikan kontribusi terbaik. Kami percaya bahwa kemajuan perusahaan harus berjalan beriringan dengan kesejahteraan masyarakat dan kemajuan daerah di mana kami beroperasi,” ungkap Erwin.
Sepanjang 2025, jejak kontribusi Dahana terlihat nyata melalui berbagai aksi sosial yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Intervensi dilakukan secara menyeluruh, mulai dari bantuan sarana pendidikan hingga program krusial pencegahan stunting.
Tak hanya itu, perusahaan juga aktif melakukan penanaman pohon serta mendampingi mitra binaan UMKM agar naik kelas. Produk-produk lokal didorong menembus pasar yang lebih luas lewat berbagai pameran nasional maupun internasional.
Kepala B4PD Kabupaten Subang, Iwan Syahrul Anwar, turut mengapresiasi peran aktif sektor swasta ini. Ia berharap kolaborasi strategis tersebut terus berlanjut demi mendukung percepatan program Subang Jawara.
Menatap masa depan, Dahana memastikan tidak akan sekadar memberi bantuan sesaat. Fokus utama program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) akan digeser ke inisiatif berkelanjutan yang menciptakan nilai tambah jangka panjang.
“Visi kami ke depan adalah memastikan setiap rupiah yang dialokasikan dalam program TJSL dapat memberikan manfaat yang terukur dan berkelanjutan. Dahana berkomitmen untuk tetap menjadi mitra strategis Pemerintah Kabupaten Subang dalam menghadirkan perubahan positif dan solusi atas tantangan sosial-ekonomi yang dihadapi masyarakat,” pungkas Ismail.
Produsen mobil listrik asal Vietnam, VinFast, memastikan fasilitas produksinya di Subang, Jawa Barat, telah memasuki fase operasional penuh. Langkah ini menegaskan keseriusan mereka menjadikan Indonesia sebagai basis manufaktur utama di Asia Tenggara, bukan sekadar pasar persinggahan.
CEO VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto, menyebut kehadiran pabrik ini membawa pesan tegas di tengah berakhirnya insentif impor kendaraan listrik secara bertahap. Dengan total rencana investasi menembus USD 1 miliar, VinFast menempatkan Indonesia sebagai elemen vital dalam rantai pasok global.
Menurut Kariyanto, fasilitas ini memiliki makna lebih dari sekadar tempat perakitan fisik. Ia menggambarkan pabrik tersebut sebagai simbol komitmen jangka panjang perusahaan.
“Pabrik ini merupakan jangkar strategis yang mencerminkan kepercayaan besar VinFast terhadap Indonesia sebagai ‘rumah kedua’ sekaligus calon episentrum transformasi mobilitas listrik di Asia Tenggara.”
Meski operasional awal sudah berjalan, aktivitas produksi massal dijadwalkan mulai bergulir pada Januari 2026. Saat ini, fokus perusahaan tertuju pada penyempurnaan lini produksi serta validasi sistem kendali mutu.
Nantinya, pabrik ini akan memproduksi kendaraan setir kanan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar domestik. Deretan model yang siap diproduksi meliputi VF 3, VF 5, VF 6, hingga VF 7.
Dari sisi dampak sosial, VinFast memprioritaskan penyerapan tenaga kerja dari wilayah Subang dan sekitarnya. Pada kapasitas penuh, pabrik ini diproyeksikan mampu membuka antara 5.000 hingga 15.000 lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat.
Perusahaan juga tengah mengevaluasi kemitraan dengan pemasok lokal untuk memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Komponen yang dibidik meliputi baterai tegangan tinggi, sasis, plastik, hingga sistem kelistrikan guna membangun ekosistem industri yang mandiri.
Beroperasinya pabrik Subang menjadi bukti bahwa strategi VinFast berorientasi jangka panjang, melampaui insentif fiskal sesaat. Fokus kini beralih pada eksekusi produksi dan perluasan jaringan ritel nasional demi memenangkan persaingan pasar kendaraan listrik tahun depan.
Subang — Bupati Subang Reynaldy Putra Andita menghadiri SubangFest Vol. 9 di Amphitheater Alun-alun Kabupaten Subang, Jumat malam (19/12/2025). Kehadiran Kang Rey menandai penutupan rangkaian SubangFest edisi 2025.
SubangFest Vol. 9 terselenggara melalui kolaborasi Pemerintah Daerah Kabupaten Subang, Subang Creative Hub, dan HIPMI Kabupaten Subang. Tema yang diusung adalah “Subang Fest Vol. 9xHIPMI: Melodi di Penghujung Tahun”.
Panggung hiburan menghadirkan talenta lokal, seperti Just Kidding, Hello Mellow, Jeje Acoustic and Friend, Sanggar Seni Tari Kapiraray, serta Sanggar Seni Way Talatah. Acara ini menjadi ruang apresiasi bagi kreativitas seni daerah.
Antusiasme pengunjung semakin terasa lewat penampilan bintang tamu Pia eks Utopia dan Rumah Sakit Band. Penampilan keduanya memukau warga Subang yang memadati area alun-alun.
Di sela acara, Kang Rey menyapa masyarakat dari berbagai wilayah Kabupaten Subang. Warga yang hadir berasal dari Subang selatan, tengah, hingga utara.
Kang Rey menyampaikan apresiasi atas kelancaran SubangFest hingga memasuki Volume 9. Ia menyebut konsistensi acara ini patut dijaga.
Ia juga memastikan SubangFest tetap berlanjut pada 2026 dengan konsep baru. Penyelenggaraan direncanakan lebih merata di wilayah Kabupaten Subang.
“Tahun depan masih mau ada lagi? Subang Fest tiap 3 bulan sekali akan saya selenggarakan di beberapa wilayah Kabupaten Subang.”jelasnya
Rangkaian acara ditutup dengan penyerahan donasi dari HIPMI Kabupaten Subang. Donasi diserahkan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Subang untuk korban bencana alam.
Penyerahan dilakukan Ketua HIPMI Kabupaten Subang didampingi Ketua HIPMI Jawa Barat kepada Kang Rey. Nilai donasi yang diberikan sebesar Rp20 juta. (Reza/DOKPIM)
Bupati Subang, Reynaldy Putra Andita, resmi mendekatkan akses birokrasi bagi warga melalui Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan (PATEN). Program layanan administrasi kependudukan (adminduk) ini serentak diluncurkan di 30 kecamatan se-Kabupaten Subang, Jumat, 19 Desember 2025.
Langkah strategis ini diambil demi memangkas jarak dan waktu tempuh masyarakat. Warga kini tidak perlu lagi jauh-jauh datang ke pusat kota hanya untuk mengurus dokumen dasar.
Pria yang akrab disapa Kang Rey ini menjamin kemudahan proses birokrasi di tingkat wilayah. Menurutnya, desentralisasi layanan adalah kunci pelayanan publik yang prima.
“Cukup di kecamatan layanan dapat diakses dengan lebih efisien, transparan, dan akuntabel,” ujarnya.
Demi menjaga kualitas pelayanan tetap terjaga, Kang Rey menyiapkan skema pengawasan ketat. Ia berencana memanfaatkan teknologi untuk memantau kinerja petugas secara langsung.
Rencana ini akan direalisasikan penuh pada tahun mendatang. “Nanti 2026 akan saya pasang CCTV yang konek ke ruangan saya,” tegasnya.
Di sela peluncuran layanan, Kang Rey turut merespons santai berbagai label yang diberikan publik kepadanya. Salah satunya adalah julukan “Bupati Beton” yang belakangan ramai terdengar.
Ia menilai sebutan tersebut sebagai respons organik dan wajar dari warga. Baginya, label apa pun tidak masalah selama dampak pembangunan benar-benar dirasakan.
“Mau disebut bupati beton, bupati cor, yang penting kerjaan saya betul-betul ingin melayani masyarakat. Seperti yang sudah diketahui, 92 kilometer jalan tuntas di akhir bulan ini,” pungkasnya.
Pemerintah Daerah Kabupaten Subang kini terus menyeimbangkan percepatan infrastruktur fisik dengan reformasi layanan publik. Fokus utama tetap pada kerja nyata yang berdampak langsung bagi kebutuhan masyarakat.
Subang, Jawa Barat — Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang melaksanakan penanaman hijauan penahan air, pakan ternak, dan jagung di Ranggawulung, Kecamatan Paseh, Kabupaten Subang. Kegiatan ini berada di bawah koordinasi Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI.
Langkah tersebut menjadi dukungan konkret terhadap Asta Cita Presiden Republik Indonesia. Fokusnya pada penguatan ketahanan pangan nasional serta mendukung Program Makan Bergizi Gratis dari sektor hulu peternakan.
Penanaman dilakukan bersama Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Harry Suhada dan Direktur Pakan Tri Melasari. Kegiatan juga melibatkan Kodim, Satpol PP, serta pemerintah daerah setempat.
Tanaman hijau penahan air ditujukan menjaga keseimbangan lingkungan dan kawasan resapan. Sementara hijauan pakan ternak dan jagung disiapkan untuk menjamin ketersediaan pakan berkualitas secara berkelanjutan.
Direktur Pakan Ditjen PKH Tri Melasari menegaskan pentingnya penataan lahan yang terencana. Penghijauan dilakukan agar kawasan dapat dikelola optimal dan tetap produktif.
“Penanaman dilakukan secara terencana, mulai dari pohon penahan air, hijauan pakan ternak, hingga jagung, dengan penataan kawasan yang jelas. Hal ini penting agar lahan dapat terkelola dengan baik, produktif, dan berkelanjutan,” ujar Tri Melasari.
Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Harry Suhada menyebut kawasan Ranggawulung memiliki nilai strategis. Lokasi ini disiapkan sebagai bagian pengembangan perbibitan ternak nasional.
“Kawasan Ranggawulung dipersiapkan untuk mendukung pembangunan peternakan, khususnya sebagai penghasil bibit ternak. Manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh Kabupaten Subang, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan bibit ternak secara nasional,” ungkap Harry Suhada.
Harry menambahkan, pengembangan kawasan tetap memperhatikan ketentuan lingkungan. Populasi ternak dibatasi sekitar 150 ekor dengan target memberi dampak ekonomi bagi warga sekitar.
Arahan Menteri Pertanian juga menjadi landasan kegiatan ini. Seluruh aset Kementerian Pertanian diarahkan agar tidak dibiarkan menganggur.
“Tidak boleh ada lagi lahan milik Kementerian Pertanian yang dibiarkan tidak produktif atau idle. Seluruh aset harus dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung ketahanan pangan, kesejahteraan masyarakat, dan pembangunan pertanian berkelanjutan,” tegas Harry Suhada.
Kepala BIB Lembang Gun Gun Gunara memaparkan rencana pemanfaatan lahan di Paseh Ranggawulung. Total lahan milik Kementerian Pertanian di kawasan ini mencapai 103 hektare.
Sekitar 80 hektare akan dikelola oleh BIB Lembang secara bertahap. Dari luasan itu, sekitar 5 hektare digunakan untuk pembangunan sarana dan prasarana.
“Dari total lahan seluas 103 hektare milik Kementerian Pertanian di Paseh Ranggawulung, sekitar 80 hektare akan dikelola dan dimanfaatkan oleh BIB Lembang. Dari luasan tersebut, sekitar 5 hektare akan digunakan untuk pembangunan sarana dan prasarana, meliputi kantor, kandang, sarana produksi semen beku, rumah dinas, dan rumah jaga,” jelas Gun Gun Gunara.
Sisa lahan akan difokuskan untuk penanaman hijauan pakan ternak. Fungsi ekologis kawasan tetap menjadi perhatian utama.
“Pengelolaan kawasan ini tidak hanya untuk mendukung operasional BIB Lembang dan penyediaan pakan ternak, tetapi juga untuk menjaga sumber-sumber air yang ada, sehingga tetap dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Aspek lingkungan dan kebutuhan masyarakat menjadi perhatian utama kami,” tegasnya.
Melalui kegiatan ini, Ditjen PKH dan BIB Lembang menegaskan komitmen mendukung ketahanan pangan nasional. Optimalisasi aset negara diarahkan menjadi lahan produktif yang berwawasan lingkungan.
Semangat pemberdayaan memenuhi Aula Pemkab Subang pada Rabu (17/12/2025). Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Subang menggelar puncak peringatan hari jadinya yang ke-26.
Momentum ini bukan sekadar perayaan seremonial belaka. DWP Subang membawa misi besar menjadikan keluarga sebagai sekolah pertama bagi anak. Tujuannya jelas, yakni mencetak generasi unggul untuk masa depan bangsa.
Ketua DWP Kabupaten Subang, Siti Nuraeni Nuroni, menyampaikan pesan penting dalam sambutannya. Ia menekankan filosofi #DWPMengajar yang menempatkan ibu sebagai inspirator utama.
”Indonesia Emas 2045 bukanlah produk instan. Fondasinya sedang kita bangun hari ini melalui kesabaran, kerja keras, dan ketulusan para ibu dalam mendidik karakter anak di rumah,” ujar Siti Nuraeni.
Penasihat DWP Kabupaten Subang, Ega Anjani Reynaldy, turut memberikan pandangannya. Ia mengingatkan bahwa tantangan masa depan menuntut lebih dari sekadar kecerdasan intelektual. Generasi penerus wajib memiliki integritas moral dan nilai kebangsaan yang kokoh.
Fitria Indri Tandia selaku Ketua Penyelenggara mengawali acara dengan laporan kegiatannya. Rangkaian acara sukses terlaksana berkat partisipasi aktif seluruh elemen DWP se-Kabupaten Subang.
Peringatan ini menjadi pengingat bagi seluruh anggota DWP. Peran perempuan sangat vital dalam menyiapkan fondasi bangsa yang kuat, dimulai dari lingkup keluarga.
Subang – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Subang bukan sekadar urusan perbaikan gizi anak sekolah. Program strategis ini ternyata membawa dampak ekonomi yang luar biasa besar bagi daerah.
Wakil Bupati Subang, Agus Masykur Rosyadi atau akrab disapa Kang Akur, mengungkapkan fakta mengejutkan. Ia menyebut perputaran uang dari program MBG di Subang diproyeksikan mencapai angka fantastis, yakni Rp 1,6 triliun per tahun.
Angka tersebut muncul dari ekosistem ekonomi yang terbentuk di sekitar program ini. Kebutuhan bahan baku pangan dalam jumlah besar setiap harinya menjadi pemicu utama pergerakan roda ekonomi lokal.
Para petani, peternak, dan pelaku UMKM di Subang menjadi pihak yang paling diuntungkan. Mereka berperan sebagai pemasok utama kebutuhan beras, sayur-mayur, telur, daging, hingga susu untuk ribuan paket makanan siswa.
Konsep pemberdayaan lokal ini memastikan anggaran besar tersebut tidak lari ke luar daerah. Uang yang digelontorkan pemerintah berputar kembali ke kantong masyarakat Subang, menciptakan efek domino ekonomi yang positif.
Kang Akur menegaskan bahwa program ini adalah bukti nyata sinergi antara pembangunan kesehatan dan ekonomi. Di satu sisi, generasi masa depan mendapatkan asupan gizi terbaik untuk mencegah stunting dan meningkatkan kecerdasan.
Di sisi lain, kesejahteraan masyarakat ikut terangkat melalui kepastian pasar bagi produk pertanian dan peternakan mereka. Stabilitas harga pangan di tingkat lokal pun diharapkan dapat lebih terjaga dengan adanya permintaan rutin ini.
Pemerintah Kabupaten Subang berkomitmen penuh untuk mengawal pelaksanaan program ini agar tetap tepat sasaran. Pengawasan ketat dilakukan untuk memastikan standar gizi terpenuhi sekaligus menjaga transparansi pengelolaan anggaran yang besar tersebut.
Sinergi antara pemerintah daerah, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan. Dengan kolaborasi yang baik, target menciptakan generasi emas sekaligus ekonomi emas di Subang bukan lagi sekadar impian.