Beranda blog Halaman 11

Jaga Kamtibmas, Patroli Malam Polsek Sagalaherang Sisir Wilayah Rawan

patroli malam Polsek Sagalaherang

Jajaran kepolisian kembali menggencarkan patroli malam Polsek Sagalaherang demi menjaga keamanan dan ketertiban warga. Langkah proaktif ini merupakan bagian dari Kegiatan Rutin Yang Ditingkatkan (KRYD) di wilayah hukum Polres Subang.

Kapolsek Sagalaherang, AKP H. Irpan Taufik Firmansyah, memimpin langsung jalannya operasi keamanan tersebut. Sejumlah personel kepolisian turut mendampingi pimpinan mereka saat menyisir berbagai area publik.

Kegiatan penjagaan ini mulai dilaksanakan pada Sabtu malam (21/2/2026). Setelah itu, petugas terus bersiaga memantau kondisi lapangan hingga Minggu dini hari (22/2/2026).

Sesuai Arahan Kapolres Subang

Pelaksanaan KRYD ini sejalan dengan instruksi langsung dari Kapolres Subang, AKBP Dony Eko Wicaksono. Tujuannya sangat jelas, yakni memastikan wilayah Kabupaten Subang senantiasa aman, nyaman, dan kondusif bagi seluruh warga.

Hasilnya, operasi pengamanan tersebut berjalan lancar tanpa hambatan. Melalui rilis resminya, Kapolsek menyampaikan rasa syukur karena situasi dilaporkan aman terkendali selama kegiatan berlangsung.

Petugas sama sekali tidak menemukan adanya potensi gangguan keamanan yang menonjol. Selain itu, aksi kriminalitas di lapangan juga terpantau nihil.

Imbauan Partisipasi Warga

Lebih lanjut, pihak kepolisian terus mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk ikut ambil bagian. Warga diharapkan bisa berperan aktif menjaga ketertiban serta keamanan di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Sinergi yang kuat antara polisi dan masyarakat sangat dibutuhkan saat ini. Oleh karena itu, kolaborasi ini diyakini mampu menciptakan kehidupan bermasyarakat yang damai serta tenteram ke depannya.

Pererat Sinergi Warga, Jumat Curhat Polsek Sagalaherang Digelar di Dayeuhkolot

Jumat Curhat Polsek Sagalaherang

Polsek Sagalaherang menggelar program Jumat Curhat Polsek Sagalaherang untuk mempererat sinergi dengan masyarakat. Kegiatan dialog interaktif ini berlangsung di Masjid Jami Nauroh Al Hison, Desa Dayeuhkolot, Kabupaten Subang, pada Jumat (20/02/2026).

Langkah strategis tersebut bertujuan menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di tingkat desa. Antusiasme warga terlihat sangat positif menyambut kehadiran aparat kepolisian di lingkungan mereka.

Kapolsek Sagalaherang, AKP H. Irpan Taufik Firmansyah, memimpin langsung jalannya acara. Unsur Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Sagalaherang turut hadir mendampingi pihak kepolisian dalam pertemuan penting ini.

Menurut AKP Irpan, inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari arahan Kapolres Subang, AKBP Dony Eko Wicaksono. Aparat berupaya hadir lebih dekat untuk mendengarkan langsung keluh kesah masyarakat.

“Program ini bertujuan untuk mempererat sinergi antara Polri dan masyarakat. Di samping itu, ini adalah kesempatan kami untuk mendengarkan serta menyerap langsung aspirasi dari warga,” ungkap AKP Irpan.

Selain menampung aspirasi, petugas juga memanfaatkan momen tersebut untuk memberikan imbauan kamtibmas. Polisi mengajak seluruh elemen masyarakat agar terus berperan aktif menjaga keamanan lingkungan masing-masing.

Sebagai penutup, Kapolsek menyampaikan apresiasi tinggi kepada warga yang telah membantu tugas kepolisian. Ia berharap kondisi lingkungan yang aman, nyaman, dan kondusif dapat terus dipertahankan demi kepentingan bersama.

Pererat Sinergi Warga, Jumat Curhat Polsek Sagalaherang Digelar di Dayeuhkolot

Jumat Curhat Polsek Sagalaherang

Polsek Sagalaherang menggelar program Jumat Curhat Polsek Sagalaherang untuk mempererat sinergi dengan masyarakat. Kegiatan dialog interaktif ini berlangsung di Masjid Jami Nauroh Al Hison, Desa Dayeuhkolot, Kabupaten Subang, pada Jumat (20/02/2026).

Langkah strategis tersebut bertujuan menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di tingkat desa. Antusiasme warga terlihat sangat positif menyambut kehadiran aparat kepolisian di lingkungan mereka.

Kapolsek Sagalaherang, AKP H. Irpan Taufik Firmansyah, memimpin langsung jalannya acara. Unsur Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Sagalaherang turut hadir mendampingi pihak kepolisian dalam pertemuan penting ini.

Menurut AKP Irpan, inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari arahan Kapolres Subang, AKBP Dony Eko Wicaksono. Aparat berupaya hadir lebih dekat untuk mendengarkan langsung keluh kesah masyarakat.

“Program ini bertujuan untuk mempererat sinergi antara Polri dan masyarakat. Di samping itu, ini adalah kesempatan kami untuk mendengarkan serta menyerap langsung aspirasi dari warga,” ungkap AKP Irpan.

Selain menampung aspirasi, petugas juga memanfaatkan momen tersebut untuk memberikan imbauan kamtibmas. Polisi mengajak seluruh elemen masyarakat agar terus berperan aktif menjaga keamanan lingkungan masing-masing.

Sebagai penutup, Kapolsek menyampaikan apresiasi tinggi kepada warga yang telah membantu tugas kepolisian. Ia berharap kondisi lingkungan yang aman, nyaman, dan kondusif dapat terus dipertahankan demi kepentingan bersama.

4 Fakta Tragis Ibu Kandung Bekap Anak hingga Tewas di Subang Akibat Emosi Sesaat

Ibu bunuh anak Subang

Warga Kelurahan Sukamelang, Kabupaten Subang, digegerkan oleh peristiwa tragis yang mengiris hati pada Jumat (13/2/2026). Seorang ibu rumah tangga berinisial KN (29) tega mengakhiri nyawa anak kandungnya sendiri, MA (6), di rumah kontrakan mereka di Jalan Pelabuhan.

Ironisnya, tindakan fatal ini tidak direncanakan, melainkan puncak dari emosi sesaat yang dilampiaskan kepada sang anak. Merangkum dari berbagai keterangan pihak kepolisian (Polres Subang), berikut adalah 4 fakta di balik kasus memilukan ini:

1. Dipicu Cekcok Panas dengan Suami

Kejadian nahas ini bermula dari pertengkaran via telepon antara KN dan suaminya yang sedang bekerja di Cirebon. Pihak kepolisian mengungkapkan bahwa pasangan suami istri ini memang kerap terlibat konflik. Rasa kesal dan amarah yang memuncak usai bertengkar membuat sang ibu kehilangan akal sehat.

2. Dibekap Bantal karena Rewel

Saat emosi KN sedang tidak stabil akibat pertengkaran tersebut, korban MA terus menangis dan rewel. Merasa terganggu dan kalut, pelaku berniat mendiamkan anaknya dengan cara membekap mulut korban menggunakan bantal. Bekapan yang terlalu kuat dan lama itu tanpa disadari membuat sang anak kehabisan napas hingga meninggal dunia. Setelah tak bernyawa, pelaku malah membaringkan jasad anaknya di kasur sambil memeluk guling, seolah-olah sedang tertidur pulas.

3. Korban Memiliki Kebutuhan Khusus

Fakta yang tak kalah memilukan adalah kondisi korban. Berdasarkan keterangan penyidik Unit PPA Polres Subang, anak berusia 6 tahun tersebut merupakan penyandang disabilitas. MA diketahui mengalami keterbelakangan mental (autisme) sejak ia berusia 2 tahun, yang membuatnya membutuhkan perhatian dan kesabaran ekstra dari orang tuanya.

4. Menyerahkan Diri dan Terancam 15 Tahun Bui

Setelah menyadari perbuatannya berujung maut, KN dilanda penyesalan. Ia kemudian pergi ke Polsek Subang untuk melaporkan insiden tersebut dan menyerahkan diri. Akibat perbuatannya, KN kini ditahan dan dijerat dengan Pasal 458 KUHP tentang pembunuhan juncto Pasal 44 ayat (3) UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT. Ia terancam hukuman pidana penjara maksimal 15 tahun atau denda hingga Rp45 juta.

Geruduk Rumah Dedi Mulyadi di Subang, Massa Soroti Jalan Rusak dan Monopoli Proyek

demo rumah Dedi Mulyadi Subang

Puluhan mahasiswa dan massa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) menggelar demonstrasi di kediaman pribadi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Aksi unjuk rasa ini berlangsung di Lembur Pakuan, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Subang, pada Kamis (19/2/2026) pagi.

Hari pertama bulan puasa tersebut diwarnai ketegangan di tengah rintik hujan. Warga sekitar bahkan turun tangan langsung membantu aparat menghadang massa demi menjaga kondusivitas lingkungan tempat tinggal mereka.

Beberapa demonstran sempat nekat merangkak melewati celah gerbang yang dijaga ketat. Ketegangan tak terhindarkan saat kelompok massa tersebut berusaha merangsek masuk ke area rumah pimpinan yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) itu.

Aksi protes ini dipicu oleh kekecewaan terhadap kinerja dua pejabat Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Kepala Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (DBMPR) Jabar, Agung Wahyudi, serta Kepala Dinas Pendidikan Jabar, Dr. Purwanto, dinilai antikritik dan lamban merespons keluhan warga.

Ketua Bidang Hukum LSM Pemuda, Andri, membeberkan alasan pemilihan lokasi aksi kali ini. Massa sengaja mendatangi Lembur Pakuan karena unjuk rasa sebelumnya di kantor dinas maupun kantor gubernur tidak pernah digubris secara serius.

Para demonstran menyuarakan dua tuntutan utama dalam orasinya secara bergantian. Tuntutan pertama secara khusus menyoroti buruknya kualitas infrastruktur jalan provinsi. Banyak proyek jalan yang baru saja selesai dibangun namun sudah kembali rusak karena diduga tidak sesuai spesifikasi teknis.

Tuntutan kedua membidik dugaan praktik monopoli proyek di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Oknum berinisial DK, H.U, dan HD dituding mengatur jatah proyek dengan berani mencatut nama Gubernur KDM demi memuluskan aksinya.

Insiden unjuk rasa ini menjadi pengingat bahwa pengawasan publik terhadap birokrasi dan pembangunan daerah masih terus bergejolak. Situasi di sekitar kediaman KDM kini menjadi sorotan hangat di tengah dinamika masyarakat Subang.

Tolak Solusi Tambal Sulam, DPRD Subang dan Warga Sepakati Pembuatan Parkir Air

solusi banjir Pantura Subang

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Subang menggelar audiensi strategis dengan delegasi Gerakan Akselerasi Antisipasi (GA’KAN) Banjir. Pertemuan krusial ini berlangsung di Ruang Rapat DPRD Subang pada Kamis (19/2/2026).

Agenda utama berfokus pada penanganan musibah banjir yang kerap merendam wilayah Pantura Subang. Kecamatan Pamanukan menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak oleh bencana musiman tersebut.

Ketua DPRD Subang, Viktor Wirabuana Abdurachman, memimpin langsung jalannya audiensi. Ia turut didampingi oleh anggota legislatif Teguh Pujianto, Kepala Dinas PUPR Subang Ahmad Amin, serta Kepala BP4D Subang.

Sejumlah Kepala Desa se-Kecamatan Pamanukan dan tokoh masyarakat hadir membawa aspirasi tegas. Perwakilan GA’KAN Banjir menyatakan bahwa warga sudah sangat lelah dengan penanganan genangan yang hanya bersifat sementara atau tambal sulam.

Oleh karena itu, masyarakat mendesak pemerintah untuk segera menghadirkan solusi yang permanen dan terencana. Merespons tuntutan tersebut, forum akhirnya menyepakati dua tahapan penanganan bencana secara terukur.

Pada tahap jangka pendek, Dinas PUPR berkomitmen melakukan aksi cepat berupa normalisasi sungai. Langkah perbaikan ini mencakup pengerukan sedimentasi guna mengembalikan kapasitas aliran air yang selama ini terhambat.

Sementara itu, solusi jangka panjang difokuskan pada perancangan skema pembuatan area “parkir air”. Fasilitas penampungan seperti embung atau kolam retensi ini nantinya bertugas menampung debit air berlebih saat puncak musim penghujan.

Keberadaan area parkir air diyakini mampu mencegah luapan air sungai masuk ke kawasan permukiman warga. Koordinasi lintas sektor antara legislatif, eksekutif, dan elemen masyarakat akan terus dikawal demi mewujudkan wilayah Pantura Subang yang bebas dari ancaman banjir.

Mengenal Kalijati: Titik Nol Perubahan Takdir Nusantara di Jantung Subang

suarasubang.com – Bagi banyak pelintas Tol Cipali, Kalijati mungkin hanyalah sebuah nama gerbang tol di Kilometer 98. Sebuah titik keluar bagi mereka yang hendak menuju pusat kota Subang atau berwisata ke arah Ciater.

Namun, jika Anda menepikan kendaraan dan meluangkan waktu untuk menyelami kecamatan ini, Anda akan menemukan bahwa Kalijati bukan sekadar wilayah transit.

Kalijati adalah tanah yang menyimpan “memori bangsa”. Di sinilah takdir Nusantara pernah berubah arah secara drastis, dan di sinilah sayap-sayap garuda pelindung langit ibu pertiwi pertama kali dilatih untuk terbang.

Berikut adalah narasi tentang fakta unik dan sejarah besar yang menjadikan Kalijati permata tersembunyi di Kabupaten Subang.

Saksi Bisu Runtuhnya 350 Tahun Kolonialisme

Fakta paling monumental dari Kalijati adalah peranannya sebagai “Titik Nol” perubahan kekuasaan di Indonesia. Di sebuah rumah tua bergaya kolonial yang kini dikenal sebagai Rumah Sejarah Kalijati, sebuah peristiwa besar terjadi pada 8 Maret 1942.

Di ruangan itulah, Letnan Jenderal Ter Poorten (Panglima Angkatan Perang Hindia Belanda) menyerah tanpa syarat kepada Jenderal Hitoshi Imamura (Jepang).

Peristiwa yang dikenal sebagai “Perjanjian Kalijati” ini menandai berakhirnya 350 tahun kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia dan dimulainya masa pendudukan Jepang.

Mengunjungi Kalijati tanpa menengok rumah ini ibarat pergi ke Mekkah tanpa melihat Ka’bah. Aura masa lalu masih terasa kental, seolah meja dan kursi di sana masih berbisik tentang ketegangan diplomasi militer puluhan tahun silam yang mengubah nasib jutaan rakyat Indonesia.

Rahim Kelahiran TNI Angkatan Udara

Jika Anda sering mendengar suara gemuruh helikopter membelah langit Subang, itu adalah “napas” Kalijati. Kecamatan ini adalah rumah bagi Pangkalan Udara (Lanud) Suryadarma.

Ini bukan pangkalan biasa. Lanud Kalijati (nama lamanya) adalah pangkalan udara tertua di Indonesia. Di sinilah sekolah penerbang pertama didirikan oleh pemerintah kolonial, dan kemudian diambil alih oleh putra-putra bangsa untuk membangun kekuatan udara Indonesia pasca-kemerdekaan.

Bisa dibilang, Kalijati adalah “kawah candradimuka” bagi para penerbang helikopter TNI AU. Keberadaan Wing Udara 7 menjadikan kecamatan ini memiliki atmosfer militer yang kental, disiplin, namun tetap membaur hangat dengan masyarakat sipil.

Transformasi Menjadi Kota Industri Strategis

Lepas dari bayang-bayang sejarah, Kalijati hari ini sedang bersolek menjadi raksasa ekonomi baru. Keberadaan Gerbang Tol Kalijati (Cipali) telah mengubah wajah kecamatan ini dari agraris menjadi industrialis.

Akses logistik yang terbuka lebar membuat banyak investor menanamkan modalnya. Pabrik-pabrik garmen dan manufaktur bermunculan, menyerap ribuan tenaga kerja lokal.

Kalijati kini menjadi penyeimbang ekonomi Subang; jika wilayah selatan (Jalancagak/Ciater) adalah pusat wisata, maka wilayah tengah seperti Kalijati adalah mesin penggerak ekonominya.

Harmoni Alam yang Unik

Secara geografis, Kalijati memiliki topografi yang menarik. Ia tidak sedingin Ciater, tapi tidak sepanas Pamanukan di pesisir utara. Udaranya pas

Konturnya yang relatif datar namun dikelilingi perkebunan tebu dan karet milik PTPN memberikan pemandangan hijau yang menyejukkan mata di sela-sela kesibukan industri.

Kecamatan dengan Karakter Kuat

Kalijati adalah bukti bahwa sebuah kecamatan bisa memiliki identitas yang berlapis. Ia adalah penjaga ingatan lewat museum sejarahnya, ia adalah ksatria langit lewat pangkalan udaranya, dan ia adalah penggerak masa depan lewat kawasan industrinya.

Jadi, jika kelak Anda melintasi Subang, ingatlah bahwa di balik nama “Kalijati”, tersimpan kisah tentang keberanian, perubahan zaman, dan deru baling-baling yang tak pernah lelah menjaga angkasa Nusantara.

Warga Jalancagak Dibuat Pusing, Aliran Air PDAM Subang “Mogok” Hingga Tengah Malam

suarasubang.com – Kenyamanan warga di wilayah Jalancagak, Perumahan Gardenview, hingga Tambakan kembali terusik pada Selasa (17/2/2026) petang ini.

Di jam-jam krusial saat aktivitas rumah tangga sedang tinggi-tingginya—waktunya mandi sore, mencuci, dan memasak untuk makan malam—aliran air bersih dari Perumda Air Minum Tirta Rangga Kabupaten Subang justru dikabarkan bermasalah.

Kabar kurang menyenangkan ini datang dari pemberitahuan resmi mengenai “Lanjutan Perbaikan Pompa” di Reservoir Cileuleuy.

Frasa “lanjutan” ini seolah menjadi sinyal bahwa masalah teknis pada pompa berkapasitas 30 KW tersebut belum tuntas sepenuhnya, memaksa warga untuk bersabar dengan layanan yang tidak prima.

Estimasi Larut Malam yang Menguji Kesabaran

Yang paling disayangkan oleh pelanggan adalah durasi perbaikannya. Pihak PDAM mengestimasi pengerjaan baru akan rampung pada pukul 23.00 WIB. Artinya, warga harus melewati sepanjang malam ini dengan kondisi keran yang kering ata debit air yang sekarat.

Bagi warga Perumahan Gardenview dan sekitarnya, menunggu hingga tengah malam hanya untuk mendapatkan kepastian air mengalir tentu bukan hal yang ideal.

Aktivitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus) menjadi terhambat total. Warga dipaksa untuk berhemat air atau berebut menampung sisa-sisa tetesan air sebelum benar-benar mati total, menambah beban pikiran di tengah waktu istirahat mereka.

Janji Normalisasi Bertahap

Meski pihak Perumda Tirta Rangga telah menyampaikan permohonan maaf dan memastikan petugas sedang “berusaha semaksimal mungkin”, kalimat standar tersebut seringkali tidak cukup menenangkan kekecewaan pelanggan yang terdampak langsung.

Terlebih lagi, ada catatan tambahan bahwa setelah perbaikan selesai nanti malam, aliran air tidak akan langsung lancar, melainkan melalui proses “normalisasi secara bertahap”.

Dengan kata lain, meski pukul 23.00 WIB perbaikan dinyatakan selesai, warga di beberapa titik—terutama dataran tinggi atau ujung pipa—mungkin baru bisa menikmati air dengan tekanan normal jauh lewat tengah malam atau bahkan esok paginya.

Malam ini, ember-ember penampungan menjadi pemandangan wajib di kamar mandi warga Jalancagak, menjadi saksi bisu keandalan layanan air bersih daerah yang sedang dipertanyakan.

Mahkota Emas di Kaki Tangkuban Parahu: Hikayat Nanas Jalancagak

“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Di mana tanah menyubur, di situ ‘emas’ bertabur.”

suarasubang.com – Jika Anda melintasi jalur tengah Jawa Barat, tepat di sebuah persimpangan sibuk yang membelah arah antara Bandung, Sumedang, dan Purwakarta, pandangan Anda pasti akan tersedot oleh sebuah monumen unik.

Di sana, bukan patung pahlawan menghunus pedang yang berdiri gagah, melainkan sebuah buah raksasa berwarna kuning keemasan dengan mahkota hijau yang menjulang.

Itulah Tugu Nanas Jalancagak. Namun, tugu itu bukan sekadar pemanis jalan raya. Ia adalah “titik nol” dari sebuah cerita panjang tentang tanah vulkanik, perjuangan petani, dan manisnya anugerah alam.

Jejak Kolonial di Tanah Legenda

Alkisah, jauh sebelum tugu itu berdiri, tanah di wilayah Subang Selatan—khususnya Jalancagak, Ciater, dan sekitarnya—sudah dikenal memiliki “magis” tersendiri.

Debu vulkanik dari letusan purba Gunung Tangkuban Parahu telah menyelimuti kawasan ini selama berabad-abad, menciptakan lapisan tanah subur yang siap menumbuhkan apa saja.

Konon, nanas bukanlah tanaman asli nusantara. Buah ini dibawa berkelana melintasi samudra oleh bangsa Spanyol dan Portugis dari Amerika Selatan, hingga akhirnya bibitnya sampai ke tangan pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Di era 1900-an, ketika perkebunan teh dan kina mulai dibuka di dataran tinggi Subang, nanas mulai ditanam sebagai tanaman sela atau tanaman pagar di kebun-kebun warga.

Siapa sangka, “tanaman pagar” itu justru jatuh cinta pada tanah Jalancagak. Udara sejuk dan tanah gembur membuat nanas tumbuh dengan kualitas yang tak biasa.

Kelahiran Sang Primadona: Si Madu

Nanas yang tumbuh di Jalancagak bukanlah nanas sembarangan. Jika nanas di tempat lain identik dengan rasa asam dan efek gatal di lidah, nanas di tanah ini berevolusi menjadi sesuatu yang istimewa.

Para petani terkejut menemukan varian buah yang dagingnya empuk, airnya melimpah, dan rasanya manis legit tanpa jejak rasa gatal sedikit pun. Varian inilah yang kemudian melegenda dengan nama Nanas Simadu.

Kabar tentang “emas kuning” dari Subang ini menyebar cepat. Jalancagak, yang posisinya strategis sebagai jalur lintasan utama, perlahan berubah wajah. Dari sekadar wilayah pertanian, ia menjelma menjadi pasar raksasa.

Kios-kios bambu berjejer di pinggir jalan, menggantungkan buah-buah nanas sebagai display yang menggoda para pelancong.

Mengapa Jalancagak?

Mengapa harus Jalancagak yang menjadi ikonnya? Karena di sinilah “panggung” utamanya. Jalancagak adalah etalase sekaligus pintu gerbang. Seluruh hasil panen dari bukit-bukit di sekitarnya—seperti Kumpay, Tambakmekar, hingga Bunihayu—bermuara di persimpangan ini.

Ekonomi warga berdenyut kencang berkat nanas. Anak-anak bisa bersekolah, rumah-rumah bisa dibangun, dan dapur-dapur tetap mengepul, semuanya berkat “si mahkota duri” ini.

Sebagai bentuk penghormatan dan penegasan identitas, dibangunlah Tugu Nanas raksasa tepat di tengah persimpangan (pertigaan) Jalancagak. Tugu itu adalah proklamasi bisu kepada dunia: “Inilah kami, tanah di mana nanas terasa semanis madu.”

Warisan yang Terus Manis

Hari ini, Tugu Nanas di Jalancagak bukan lagi sekadar penunjuk arah bagi mereka yang tersesat. Ia adalah monumen rasa syukur.

Setiap kali Anda menepikan kendaraan untuk membeli sekilo dua kilo nanas di pinggir jalan Jalancagak, ingatlah bahwa Anda sedang tidak sekadar membeli buah. Anda sedang mencicipi sepotong sejarah manis yang lahir dari perkimpoian antara tanah vulkanik Tangkuban Parahu dan ketelatenan tangan petani Subang.

Nanas telah memberi Jalancagak sebuah nama, dan Jalancagak telah memberi nanas sebuah rumah yang abadi

Sasar Ibu Rumah Tangga, Kredit Pintar Gelar Edukasi Keuangan di Subang

literasi keuangan Kredit Pintar

Platform pinjaman digital (fintech lending) Kredit Pintar kembali menggelar program edukasi bertajuk “Kelas Pintar Bersama”. Kegiatan literasi keuangan ini dilaksanakan di Kabupaten Subang, Jawa Barat, pada Sabtu (14/2/2026).

Program tersebut secara khusus menyasar para ibu rumah tangga. Kelompok ini dinilai memiliki peran krusial sebagai manajer keuangan utama dalam keluarga.

Pemahaman finansial yang mumpuni sangat diperlukan di tengah kemudahan akses layanan digital saat ini. Tujuannya agar masyarakat dapat mengambil keputusan finansial yang bijak dan terkendali.

Dorong Inklusi Keuangan Bertanggung Jawab

Head of Brand & Communications Kredit Pintar, Puji Sukaryadi, menegaskan komitmen perusahaan dalam acara ini. Pihaknya tidak hanya ingin memberikan akses pembiayaan, tetapi juga mendorong inklusi keuangan yang bertanggung jawab.

“Kegiatan ini telah menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong inklusi keuangan yang aman. Melalui sesi edukatif, peserta diajak memahami pentingnya membuat perencanaan keuangan,” ujar Puji dalam keterangannya, Senin (16/2/2026).

Peserta mendapatkan materi tentang cara membedakan kebutuhan dan keinginan. Selain itu, mereka juga diajarkan memilih produk pinjaman yang sesuai dengan kemampuan finansial masing-masing.

Cegah Penipuan dan Jeratan Utang

Literasi keuangan merupakan fondasi penting untuk menjaga stabilitas ekonomi keluarga, terlebih di era digital yang serba cepat. Masyarakat diharapkan mampu mengenali berbagai jenis produk pinjaman serta memahami risiko pembiayaan.

Pengetahuan ini menjadi tameng agar warga tidak mudah tertipu oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Edukasi yang tepat juga dapat menghindarkan keluarga dari beban finansial berlebihan akibat salah pengelolaan utang.

Capaian Positif Program dan Bisnis

Inisiatif “Kelas Pintar Bersama” telah berjalan secara konsisten sejak tahun 2022. Hingga awal tahun 2026, program ini tercatat telah menjangkau lebih dari 3.270 peserta di 44 kota seluruh Indonesia.

Kinerja bisnis Kredit Pintar juga mencatatkan pertumbuhan positif seiring dengan masifnya edukasi. Perusahaan berhasil menyalurkan pinjaman lebih dari Rp 9,5 triliun sepanjang tahun 2025.

Jika diakumulasikan sejak berdiri pada tahun 2017, total penyaluran pinjaman telah mencapai angka fantastis. Kredit Pintar mencatat total penyaluran lebih dari Rp 61,4 triliun hingga saat ini.

Recent Posts