Fluktuasi harga sembako mulai melanda wilayah Kabupaten Subang akibat musim kemarau panjang tahun 2026. Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) Subang, Mochammad Irwan, mengonfirmasi fenomena tersebut.
Selanjutnya, informasi ini disampaikan secara langsung kepada media RRI di Subang. Adapun wawancara tersebut berlangsung pada hari Selasa (22/9/2026). Perubahan harga ini menyasar sejumlah komoditas kebutuhan pokok masyarakat (kepokmas). Beberapa di antaranya meliputi produk sayur-mayur, telur ayam, daging ayam, hingga beras.
Penurunan Daya Beli dan Risiko Inflasi
Kenaikan harga barang kebutuhan pokok ini berdampak langsung pada perekonomian warga. Akibatnya, daya beli masyarakat setempat mengalami tren penurunan. Lebih lanjut, kondisi fluktuatif ini memunculkan potensi risiko ekonomi yang lebih besar. Pemerintah daerah mengkhawatirkan situasi ini dapat memicu terjadinya inflasi daerah.
Mochammad Irwan menyoroti efek ganda dari kenaikan harga komoditas tersebut. “Selain membuat harga naik, juga membuat daya beli masyarakat menurun, akibat naiknya harga kepokmas, yang tentunya mengakibatkan inflasi daerah,” ujar Irwan.
Gagal Panen Picu Lonjakan Harga Sayur
Secara umum, kenaikan harga bahan pokok biasanya terjadi bertepatan dengan perayaan hari raya keagamaan. Namun, situasi saat ini berbeda karena dipicu oleh musim kemarau ekstrem. Khususnya pada sektor sayur-mayur, harga mengalami lonjakan tajam akibat bencana gagal panen yang menimpa petani lokal.
Ketersediaan pasokan sayuran segar menjadi sangat terbatas di pasaran. Di sisi lain, tingkat permintaan konsumen tetap tinggi. Ketidakseimbangan suplai dan permintaan ini menjadi penyebab utama lonjakan harga komoditas pertanian. “Akibat ketersediaan terbatas, sementara permintaan pasar tinggi, harga sayur-mayur melonjak naik,” ungkap Irwan.
Rincian Perubahan Harga Komoditas Pokok
Pihak dinas telah melakukan pantauan lapangan di beberapa titik lokasi perdagangan. Pemeriksaan ini mencakup area pasar tradisional maupun pasar modern di Kabupaten Subang. Berdasarkan hasil pantauan tersebut, beberapa komoditas menunjukkan pergerakan harga yang bervariasi.
Stabilitas Telur dan Daging Ayam
Pada periode sebelumnya, harga telur dan daging ayam sempat mengalami fase penurunan. Meskipun demikian, tren saat ini menunjukkan angka yang kembali stabil di pasaran. “Harga telur dan daging ayam sempat turun, namun belakangan ini sudah kembali stabil,” terang Irwan.
Secara teknis, Harga Eceran Tertinggi (HET) daging ayam berada di angka Rp40.000 per kilogram. Namun, harga komoditas ini kini mengalami kenaikan menjadi Rp42.000 per kilogram.
Kenaikan Harga Beras dan Kedelai
Tren peningkatan harga juga terjadi pada komoditas pangan utama lainnya. Beras kemasan ukuran lima kilogram sebelumnya dijual pada harga Rp74.000. Saat ini, harga beras tersebut tercatat naik menjadi Rp80.000 per lima kilogram.
Sementara itu, harga kacang kedelai masih bertahan pada angka yang tinggi. Komoditas impor ini rentan terhadap fluktuasi nilai tukar mata uang. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi faktor penyebab. Selanjutnya, pelemahan mata uang ini dipicu oleh ketegangan geopolitik akibat perang antara Iran-Israel dan Amerika Serikat.
FAQ (Frequently Asked Questions)
- Apa penyebab utama fluktuasi harga sembako di Subang pada tahun 2026?Fluktuasi harga sembako disebabkan oleh musim kemarau panjang yang memicu gagal panen, serta faktor geopolitik global yang memengaruhi komoditas impor.
- Berapa harga beras ukuran 5 kg saat ini di Subang?Harga beras ukuran 5 kilogram mengalami kenaikan dari Rp74.000 menjadi Rp80.000.
- Mengapa harga kacang kedelai terus mengalami kenaikan?Kacang kedelai adalah komoditas impor, sehingga harganya ikut naik akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang dipicu konflik geopolitik.








