Beranda blog Halaman 92

Warung Pinus Subang: Liburan Santai di Tengah Hutan, Nongkrong Rasa Staycation

Warung Pinus Subang

SUBANG – Kalau kamu lagi jenuh sama rutinitas, bosan sama polusi, atau mendadak pengen jadi versi “anak alam” yang kalem, Warung Pinus Villa & Glamping adalah tempat yang harus kamu sambangi. Lokasinya di Panaruban, Jalan Raya Cicadas, Kecamatan Sagalaherang, Subang – alias kaki Gunung Tangkuban Perahu yang udaranya bisa bikin overthinking kamu ikut menguap pelan-pelan.

Tenang, ini bukan warung biasa yang cuma jual gorengan dan teh manis. Warung Pinus levelnya beda! Tempat ini siap manjain kamu dengan kombinasi maut: villa estetik + glamping keren + kopi lokal + suasana hutan pinus yang Instagramable banget. Belum datang aja udah kebayang sejuknya, kan?

Villa, Glamping, dan Kopi di Tengah Hutan? Yes Please!

Warung Pinus punya segalanya buat kamu yang pengen rehat total tapi tetap gaya. Mulai dari villa buat keluarga, glamping buat pasangan yang mau sensasi camping anti-derita, sampai coffee shop kece dengan kopi khas Subang yang aromanya bisa bikin kamu lupa mantan.

Menu makanannya? Dari kuliner tradisional sampai modern, lengkap tersedia. Jadi, mau ngemil pisang goreng sambil lihat kabut atau makan pasta sambil dengerin suara burung, semua bisa!

Fasilitas yang Bikin Betah Pulang Lama

Selain udara segar dan view yang cantik, fasilitas di Warung Pinus juga niat banget:

  • Area indoor dan outdoor yang cozy
  • Spot foto estetik buat feed Instagram
  • Area bermain anak biar bocil nggak cranky
  • Wi-Fi gratis (karena healing tetap butuh sinyal)
  • Parkiran luas, mobil keluarga besar juga bisa

Dekat Tapi Berasa Jauh dari Dunia

Cuma sekitar 1 jam dari Kota Subang atau 1,5 jam dari Bandung, Warung Pinus jadi tempat pelarian ideal buat warga Jabodetabek yang mau ngilang sebentar dari riuhnya deadline dan klakson.

Jam Operasional? Jangan Salah Waktu Datang!

  • Hari biasa: 11.00 – 20.00 WIB
  • Weekend & Hari libur: 08.00 – 20.00 WIB

Pro tip: Datang pagi-pagi biar bisa menikmati kabut dan kopi bersamaan. Sensasinya kayak lagi syuting film indie bertema romansa alam.

Tempat Healing Paling Syahdu di Subang

Dikelilingi pinus yang menjulang dan hawa adem yang menenangkan, Warung Pinus bukan cuma tempat liburan, tapi juga tempat buat ‘healing’ mental yang mulai kusut. Buat anak-anak, tempat ini juga oke banget buat wisata edukasi ringan yang jauh dari layar gadget.

Belakangan, nama Warung Pinus makin eksis di Google Maps dan Instagram. Bahkan, jumlah unit villa dan tenda glamping-nya ditambah karena makin banyak yang kepincut buat datang. Tapi ingat, buat kamu yang mau stay, disarankan booking minimal seminggu sebelumnya—apalagi kalau mau datang di akhir pekan atau musim liburan. Jangan sampai healing kamu malah gagal gara-gara kehabisan tempat, ya!

Upacara, Semangat, dan Seruan Bela Negara: MPLS di SMAN 1 Purwadadi Serasa Aksi Heroik!

MPLS SMAN 1 Purwadadi

Subang – Senin pagi (14/07/2025), suasana di lapangan SMAN 1 Purwadadi mendadak terasa seperti momen klimaks dalam film perjuangan. Bukan karena ada adegan kejar-kejaran atau efek slow motion, tapi karena sosok gagah Kapten Inf Herry Arfiantono, sang Komandan Koramil 0508/Purwadadi, memimpin langsung upacara bendera sekaligus membuka secara resmi kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Para siswa baru tahun ajaran 2025/2026 pun berdiri gagah, meski beberapa masih kikuk karena seragam barunya belum terlalu akrab dengan tubuh mereka. Di bawah sinar mentari yang menyengat namun tetap nasionalis, upacara ini menjadi titik tolak mereka memasuki dunia SMA yang katanya sih penuh tugas, tapi juga penuh kenangan.

Dalam amanatnya yang penuh wibawa tapi tetap membumi, Kapten Herry menegaskan pentingnya membangun karakter disiplin, tanggung jawab, dan semangat kebangsaan sejak dini. Tak ada yang bisa membantah—karena siapa juga yang berani debat sama Danramil di pagi-pagi buta?

Lebih dari itu, beliau mengajak para siswa agar memanfaatkan masa pengenalan ini bukan hanya untuk cari teman nebeng PR, tapi juga untuk menumbuhkan semangat belajar. “Masa pengenalan ini bukan hanya sekadar formalitas, tetapi merupakan kesempatan emas untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran, kerja sama, serta rasa cinta tanah air. Jadilah generasi yang tangguh, mandiri, dan siap menghadapi tantangan di masa depan,” ujarnya, membuat para siswa sejenak melupakan rasa kantuk mereka.

Namun, bukan Kapten Herry namanya kalau tidak menyinggung hal serius dengan cara yang tetap menggugah. Ia mengingatkan bahwa bangsa ini sedang menghadapi tantangan berat, termasuk di wilayah Jawa Barat dan Kabupaten Subang. Tantangan yang tak kasat mata, tapi terasa nyata: degradasi moral, lunturnya nasionalisme, hingga meningkatnya kasus kriminal dan masalah sosial. Semua ini, katanya, ikut terdorong oleh arus teknologi yang deras dan sulit ditahan seperti air galon tumpah di tanjakan.

Ia pun menekankan bahwa kehadiran TNI, khususnya melalui Kodim 0605/Subang dan Koramil 0508/Purwadadi, bukan hanya formalitas upacara semata. “Kami sangat mengapresiasi dengan adanya dukungan dan partisipasi dari pihak Kodim 0605/Subang melalui Koramil 0508/Purwadadi, dengan harapan mampu memberikan dampak positif dalam pembentukan karakter, menambah Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara bagi peserta didik baru,” tegasnya.

Tak tanggung-tanggung, semangat bela negara disampaikan dengan penuh penghayatan. Menurutnya, generasi muda harus punya mental siap tempur—bukan untuk adu argumen di kolom komentar medsos, tapi siap mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan harta benda demi tanah air tercinta.

Acara MPLS ini juga dihadiri oleh para guru, staf sekolah, Babinsa AD, dan Binmas Polri. Kehadiran mereka seolah memberi pesan tersirat: “Anak-anak, kalian tak sendiri. Negara bersama kalian, bahkan sejak kalian masih nyari-nyari kelas baru.”

Dari pantauan bewara.co.id, sinergi antara TNI dan dunia pendidikan hari itu terasa begitu hangat dan penuh harapan. Semoga, dari halaman sekolah ini, lahir generasi muda yang tak hanya cerdas secara akademik, tapi juga tangguh secara mental dan cinta tanah air—karena sejatinya, bangsa besar tak hanya butuh juara olimpiade, tapi juga penjaga nilai-nilai luhur yang tidak luntur meski kena hujan zaman.

Truk-Truk Ngambek! Sopir Subang Demo Lagi, Joget di Jalan Jadi Penutup Aksi

unjuk rasa sopir truk Subang

SUBANG – Hari Senin yang biasanya padat merayap karena macet, kali ini tambah ‘spesial’ di Kabupaten Subang. Bukan karena diskon besar-besaran atau artis datang ke kota, melainkan karena… truk-truk mogok berjamaah! Sekitar 500 truk diparkir manis di pinggir jalan, membuat lalu lintas tersendat seperti tahu goreng tanpa kuah.

Aksi ini adalah babak ketiga dari serial unjuk rasa para sopir truk yang menolak keras aturan Over Dimension Over Loading alias ODOL. Bukan karena mereka anti aturan, tapi karena merasa aturan itu berat—bahkan lebih berat dari muatan mereka.

Sopir truk menuntut pemerintah mengkaji ulang Rancangan Undang-Undang (RUU) ODOL dan menyiapkan solusi sebelum menerapkan kebijakan tersebut, karena mereka merasa kebijakan tersebut memberatkan,” ujar Ketua Umum Rumah Berdaya Pengemudi Indonesia (RBPI), Ika Rosdianti, sambil berdiri gagah di antara truk-truk yang seolah juga ingin ikut orasi.

Aksi damai tapi tetap bikin heboh ini berlangsung di jalan Subang-Pagaden, depan rumah Bupati, sampai ke akses Gerbang Tol Cilameri. Walau tidak sampai menutup total jalan, aksi ini tetap sukses membuat pengendara lain mengelus dada—dan klakson.

Salah satu sopir, Kang Deri, melontarkan keluh kesah yang relatable banget. “Kita contohnya membawa muatan 10 ton dengan ongkos tiga juta rupiah. Kalau misalkan aturan ODOL diterapkan, kita jadi 8-5 ton (muatan yang dibawa). Bisa tidak pemerintah menyesuaikan harga jasa angkut barangnya?” katanya, dengan nada seperti tukang bakso yang ditawar lima ribu.

Sopir-sopir ini tak hanya bicara soal tonase. Mereka juga menyuarakan unek-unek lain yang kerap tersimpan dalam kenalpot—eh, maksudnya dalam hati. Tuntutannya beragam: mulai dari perlindungan hukum, kemudahan administrasi untuk bus wisata, sampai permintaan khusus: berantas pungli, plis!

Pungutan liar yang bikin dompet tipis itu jadi musuh bersama. Mereka curhat langsung ke petugas dari Satlantas Polres Subang dan Dishub. Hasilnya? Ada janji manis.

Tadi kami sudah dapat kepastian dari Kepala Satlantas Polres Subang dan juga Dishub Subang, mereka tidak akan melakukan penindakan, baik itu tilang maupun pemberhentian di jalan, dan juga akan menindak tegas jika ada anggotanya yang lakukan pungli terhadap sopir truk ODOL,” kata Ika Rosdianti.

Kepala Satlantas Polres Subang, Ajun Komisaris Asep Saepudin, tampil sebagai juru damai. Ia menekankan bahwa langkah hukum terhadap ODOL belum dilakukan. Masih tahap edukasi dan sosialisasi. Polisi belum turun tangan penuh—alias belum masuk mode galak.

Saat ini kami belum masuk ke tahap penindakan. Kami masih fokus pada edukasi dan sosialisasi kepada pengemudi serta pengusaha angkutan. Tujuan kami adalah membangun kesadaran bersama, bukan menimbulkan ketakutan,” ujar Asep dengan gaya ala guru BK yang sabar.

Meski begitu, Asep tampaknya memilih skip saat ditanya tentang dugaan pungli oleh petugas. Mungkin jawabannya masih di jalan tol.

Aksi damai ini hampir selesai tanpa drama. Tapi ya, namanya juga massa, pasti ada yang ingin tampil beda. Seorang sopir truk mendadak jadi bintang panggung dengan berjoget di tengah jalan! Sayangnya, gaya bebasnya ini tidak mendapat sambutan hangat. Petugas keamanan langsung mengamankan sang dancer dadakan karena dianggap mengganggu ketertiban. Tarian itu pun jadi ending aksi yang… dramatis.

Subang pun kembali seperti semula—walau mungkin jalanan masih menyimpan aroma diesel dan jejak perjuangan para sopir yang hanya ingin didengar, bukan dibebani.

Gelar Operasi Patuh Lodaya 2025, Polisi Subang Turun Gunung Demi Lalu Lintas yang Lebih Santun!

Operasi Patuh Lodaya 2025 Subang

SUBANG – Suasana Lapangan Apel Tatag Trawang Tungga pagi itu bukan sembarang apel. Bukan juga apel malang atau apel fuji yang sedang hits di minimarket. Tapi ini… apel gelar pasukan! Yup, Polres Subang resmi menyalakan mesin Operasi Patuh Lodaya 2025, yang bakal berlangsung dari 14 hingga 27 Juli 2025.

Dengan tema yang sungguh nasionalis dan futuristik, “Tertib Berlalu Lintas Demi Terwujudnya Indonesia Emas”, operasi ini bukan cuma soal tilang-tilangan. Tapi lebih kepada ajakan cinta damai di jalan raya—biar Indonesia enggak cuma emas di cita-cita, tapi juga mulia di marka jalan.

Dipimpin langsung oleh Wakapolres Subang KOMPOL Endar Supriyatna, S.Kom., S.I.K., apel ini digelar atas arahan dari sang Kapolres Subang, AKBP Dony Eko Wicaksono, S.H., S.I.K., M.H., Ph.D. Lengkap betul gelar beliau, sampai-sampai SIM A rasanya jadi terlihat kurang keren.

“Tujuan utama Operasi Patuh ini adalah untuk menurunkan angka kecelakaan serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya keselamatan di jalan,” ujar Wakapolres, dengan nada suara yang tak hanya serius, tapi juga sarat cinta terhadap jalanan yang lebih damai.

Dan tentu saja, pesan klise yang selalu relevan kembali digaungkan: patuhi aturan lalu lintas, lengkapi dokumen kendaraan, dan jangan lupa utamakan keselamatan. Kalau helm bisa jadi gaya hidup, kenapa harus ditaruh di siku, bukan di kepala?

Operasi ini pun bukan datang tiba-tiba seperti hujan pas musim kemarau. Ia bagian dari cipta kondisi usai peringatan Hari Bhayangkara 2025. Jadi, semacam oleh-oleh Bhayangkara untuk para pengendara: tertib itu keren, bro.

Fokusnya? Segala bentuk Potensi Gangguan (PG), Ambang Gangguan (AG), dan Gangguan Nyata (GN). Singkatnya, semua yang bisa bikin jalanan Subang jadi ajang balapan liar atau panggung sinetron konflik lampu merah.

Yang bikin adem, pendekatan humanis bakal dikedepankan. Artinya, teguran disampaikan dengan sopan, senyum tetap manis, dan tilang elektronik (ETLE) berjaga diam-diam. Jadi, jangan tertipu! Kamera bisa lebih jujur dari mantan.

Subang Tancap Gas: Jam Belajar Baru Resmi Meluncur, Anak Sekolah Siap Bangun Pagi!

Jam belajar baru SubangJam belajar baru Subang

Subang – Ada yang baru dan segar dari dunia pendidikan di Kabupaten Subang! Pemerintah setempat resmi menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 9 Tahun 2025 tentang Jam Belajar Efektif. Jangan kaget, ya. Bukan sekadar perubahan jadwal biasa, tapi ini semacam “alarm” besar untuk semua siswa PAUD, SD, hingga SMP agar bisa ngopi alias ngopi ilmu lebih awal, lebih fokus, dan tentu saja… lebih semangat!

Eits, jangan ngeluh dulu! Perubahan jam belajar ini bukan asal geser-geser waktu, tapi memang dirancang untuk mengoptimalkan daya serap otak mungil para pelajar. Pagi hari dipilih karena katanya, saat itu otak manusia masih fresh from the oven, belum tercampur sinetron semalam atau drama rebutan charger.

SE ini bukan tiba-tiba turun dari langit, lho. Ia lahir dari hasil kawin silang antara Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 23 Tahun 2017 dan SE Gubernur Jawa Barat per Mei 2025. Nah, di level lokal, Bupati Subang pun menyempurnakannya dengan SE Nomor 400.3.1/01/Disdikbud tentang 9 Langkah Pembangunan Pendidikan dan… yang agak bikin deg-degan: Penerapan Jam Malam untuk Pelajar!

Nah, ini dia jadwal belajar barunya:

🧒 PAUD
Senin–Kamis: Mulai pukul 07.30 WIB, minimal 195 menit
Jumat: Mulai pukul 07.30 WIB, minimal 120 menit
(Nyantai, tapi jangan kebanyakan ngemil, ya!)

📘 SD Kelas I & II
Senin–Kamis: 06.30 WIB, minimal 7 jam pelajaran
Jumat: 06.30 WIB, minimal 4–6 jam pelajaran
(1 jam pelajaran = 35 menit. Kira-kira cukup buat belajar, main, dan rebutan tempat duduk.)

📗 SD Kelas III–VI
Senin–Kamis: 06.30 WIB, minimal 8 jam pelajaran
Jumat: 06.30 WIB, minimal 6 jam pelajaran
(Lebih padat, karena kelas atas kan makin kritis.)

📚 SMP
Senin–Kamis: 06.30 WIB, minimal 9 jam pelajaran
Jumat: 06.30 WIB, minimal 6 jam pelajaran
(Siap-siap bawa bekal lebih banyak, karena belajarnya juga lebih panjang!)

Bagaimana dengan malam dan akhir pekan?
Jangan dikira bisa leha-leha tanpa batas. Dari pukul 18.00–21.00 WIB, anak-anak dianjurkan untuk ngadem di rumah: ikut kegiatan keagamaan, belajar, atau aktivitas positif lainnya. Sabtu dan Minggu? Bebas, tapi tetap produktif. Bisa isi waktu dengan aktivitas keluarga atau ekstrakurikuler, tentunya atas izin orangtua. Bukan waktu buat maraton nonton film zombie, ya!

Bupati Subang, H. Reynady Putra Andita Budi Raemi, menyampaikan pesan yang tak kalah penting. Katanya,

“Kami harap edaran ini menjadi perhatian dan pedoman bagi seluruh satuan pendidikan dan masyarakat demi mewujudkan pendidikan Subang yang lebih maju dan berkarakter.”

Lho, ini bukan sekadar ngatur-ngatur waktu doang, tapi juga misi besar mencetak generasi unggul yang siap tempur dengan karakter luhur! Gimana? Siap jadi pejuang pagi?

Sigap dan Tangguh! KM Sinozi Terbalik, Lanal Cirebon Langsung Tancap Gas

SUBANG – Di tengah laut tenang Pelabuhan Patimban, tiba-tiba suasana jadi heboh. KM. Sinozi, kapal mungil yang biasanya cuma wara-wiri antar logistik, mendadak bikin ulah: miring, jungkir balik, lalu… byur! tenggelam ke dasar dermaga Jety Miring, Sabtu (12/7). Tapi tenang, karena TNI AL lewat Pangkalan TNI AL (Lanal) Cirebon langsung pasang badan!

Kapal kecil berkapasitas GT 8 itu sejatinya cuma bertugas nganter logistik ke MV. Cassiopeia V, kapal dreging yang sedang rajin mengeruk lumpur buat proyek Paket 6 PT. Penta. Tapi, entah karena salah posisi atau lapar mata muat barang, KM. Sinozi kelebihan beban hingga akhirnya tumbang kayak anak magang kehabisan kopi.

Untungnya, aksi cepat Tim SAR gabungan tak kalah gesit. Dengan semangat “asal bukan tenggelam cinta”, personel Lanal Cirebon, Polres Subang, PT. Penta, KSOP Kelas II Patimban, plus petugas keamanan pelabuhan, langsung kompak menyelamatkan awak kapal dan barang bawaan yang ikut nyemplung.

Total enam awak KM. Sinozi sukses dievakuasi. Barang logistik pun ikut diselamatkan—walau mungkin sempat basah-basah dikit. Sementara kapalnya? Diselamatkan pakai mobil crane andalan milik KSOP. Naik darat dulu, ya, Bang Kapal!

Komandan Lanal Cirebon, Letkol Laut (P) Faisal Yanova Tanjung, menjelaskan bahwa keterlibatan personelnya dalam evakuasi ini bukan sekadar hura-hura di pinggir pelabuhan, tapi sudah bagian dari tugas pokok TNI AL.

“Ini sesuai dengan penekanan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal), Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali,” ujar Letkol Faisal. “Bahwa prajurit TNI AL punya peran penting dalam membina keamanan dan menjamin keselamatan di wilayah perairan nasional.”

Satu hal yang pasti: laut kita aman, karena para penjaganya on standby, kapan pun dibutuhkan. Salut, Lanal Cirebon!

Subang Siap Bagi-Bagi Beras: 15 Ribu Warga Dapat “Cinta” dari Bulog!

Bantuan pangan Bulog Subang 2025

SUBANG – Ada kabar yang bikin dapur makin semangat ngebul! Sebanyak 15 ribu keluarga di Subang akan segera menerima bantuan pangan dari Perum Bulog. Bantuan ini dijadwalkan turun mulai pertengahan Juli 2025. Bukan sekadar bantuan biasa, tapi ini semacam pelukan hangat dalam bentuk beras untuk dua bulan penuh — Juni dan Juli 2025.

Djoko Purnomo, sang nahkoda dari Kantor Cabang Bulog Subang, mengibarkan bendera ajakan kolaborasi lintas sektor. Ia tidak sedang main tebak-tebakan, tapi serius ingin semua pihak nyemplung bareng agar penyaluran bantuan ini tepat waktu dan sasaran.

“Kami mohon bantuan dan keterlibatan lintas sektoral demi lancarnya penyaluran bantuan pangan untuk masyarakat Subang, agar bisa berjalan tepat waktu dan tepat sasaran,” ujar Djoko, Jumat kemarin.

Nah, Bulog Subang pun bukan main-main. Mereka sudah siapkan segala amunisi: stok CBP melimpah di gudang, armada logistik siaga seperti pasukan Avengers, dan sistem distribusi yang terpantau real-time — bukan sekadar “Feeling Based Operation”.

“Sebagai bagian dari strategi nasional penguatan ketahanan pangan dan perlindungan sosial, Bulog terus memperkuat koordinasi lintas sektor di lingkungan Pemkab Subang,” katanya dengan semangat yang bisa bikin nasi jadi pulen.

Distribusi kali ini tidak sekadar lempar-beras-saja-lalu-selesai. Dirancang rapi dan cermat, tujuannya satu: jumlah pas, tempat pas, waktunya juga jangan molor. Pokoknya no drama, no miskom.

“Bulog berkomitmen menjalankan tugas ini dengan penuh tanggung jawab dan sinergi. Kami akan terus mendukung pemerintah dalam memperkuat perlindungan sosial serta menjaga akses pangan masyarakat,” lanjutnya.

Menariknya, pembagian beras ini pakai sistem one shoot delivery alias dikirim sekaligus untuk dua bulan. Jadi, setiap KPM akan langsung menerima 20 kg beras — cukup buat banyak nasi goreng, lontong sayur, bahkan tumpeng kecil kalau mau.

“Sesuai arahan Bapanas, distribusi bantuan pangan dilakukan secara one shoot atau satu kali pengiriman untuk alokasi dua bulan sekaligus, yakni bulan Juni dan Juli 2025. Setiap PBP akan menerima 10 kg beras per bulan, dengan total 20 kg per penerima,” imbuh Djoko mantap.

Jadi, siap-siap ya warga Subang, karena pertengahan Juli ini dapur-dapur akan dipenuhi aroma kebaikan dan nasi putih hangat dari tangan Bulog. Jangan lupa disambut dengan senyum dan piring bersih!

Dari Wartawan Jadi Juragan Kolam: Cerita Lucu dan Inspiratif Alanin Swimming Pool di Subang

kolam renang anak Subang

SUBANG – Siapa sangka, di balik kamera dan kertas berita, ternyata ada seorang wartawan yang justru nyemplung ke dunia kolam renang—secara harfiah!

Namanya Warlan Putra, warga Subang yang biasanya sibuk liputan dan ngetik berita, kini punya kesibukan baru: jadi ‘bos’ kolam renang anak bernama Alanin Swimming Pool. Lokasinya? Bukan di tengah kota, bukan pula di pegunungan wisata. Tapi justru di Kampung Sukarandeg, Desa Gunungsari, Kecamatan Pagaden, Kabupaten Subang.

Awalnya, tanah itu diniatkan buat rumah pensiun. Iya, rumah pensiun—bayangan adem-adem ngopi sore sambil denger suara jangkrik. Tapi karena masa pensiun Warlan masih kayak jodoh: “belum datang-datang juga,” ide itu pun putar balik.

“Awalnya memang niatnya bikin rumah pensiun di pinggir kampung. Tapi karena pensiunnya masih lama, ketika berdiskusi sama istri tiba-tiba terpikir kenapa enggak dimanfaatkan dulu saja buat yang bisa dinikmati orang banyak,” ujar Warlan Putra.

Maka lahirlah kolam renang mungil nan ramah anak ini. Gaya desainnya mirip rumah pribadi yang cozy, tapi fungsinya buat bocah-bocah kampung yang ingin main air tanpa harus ke kota.

Kedalamannya? Aman banget! Ada dua versi: 50 cm dan 80 cm. Cukup buat anak-anak ciblon ria tanpa bikin orang tua panik.

“Harapannya, kolam ini bisa jadi tempat anak-anak berlibur bersama orang tuanya tanpa harus jauh-jauh ke kota. Cukup di kampung sendiri sudah bisa senang,” tambahnya.

Tapi tunggu dulu, ini bukan sekadar kolam air bening plus pelampung bebek. Bagi Warlan, kolam ini adalah semacam kapsul harapan ekonomi lokal. Ia membayangkan tetangganya bisa buka warung cilok, sewa ban pelampung, bahkan ngatur parkiran. Ekonomi mikro pun bisa berenang bareng!

“Semoga ini bisa jadi awal kecil yang berdampak besar. Kolam renang ini bukan hanya mimpi pribadi, tapi juga bagian dari cita-cita saya untuk memajukan kampung sendiri,” pungkasnya.

Dan yang paling bikin senyum? Tiket masuknya cuma Rp 5 ribu! Yup, lima ribu doang—enggak perlu nunggu THR atau promo akhir tahun. Langsung bisa nyemplung.

“Iya, harga tiket masuknya cuma Rp 5 ribu,” pungkasnya lagi, seolah menutup kisah ini seperti penutup berita yang manis dan segar.

Warlan membuktikan bahwa mimpi besar kadang bisa dimulai dari ide iseng dan diskusi ringan bareng istri. Dan siapa tahu, Alanin Swimming Pool jadi awal kisah yang bakal viral, bukan karena drama, tapi karena air… dan cinta pada kampung halaman.

Festival Muharram di Subang: Bahagia Dunia Akhirat, Anak Yatim Dapat “Tanda Cinta”

Festival Muharram Subang

Subang – Subang kembali menghangat—bukan karena cuaca, tapi karena hati yang terpanggil untuk berbagi! Hari Minggu, 13 Juli 2025, Graha Sofia STIESA Subang berubah menjadi lautan cinta dalam gelaran Muharram Festival ke-4 bertema “Bahagia di Dunia, Mulia di Surga.”

Acara yang tidak hanya bikin hati adem tapi juga bikin mata berkaca-kaca ini diinisiasi oleh komunitas-komunitas sosial keren seantero Subang. Mulai dari Sahabat Kebaikan Kalijati, ODOJ Subang, PPA Subang, Shohibul Qur’an, Sahabat Berbagi, sampai Gerakan Cinta Yatim—semuanya kompak mewujudkan momen penuh makna bagi anak-anak yatim.

Wakil Bupati Subang, Kang Akur—yang nama lengkapnya adalah H. Agus Masykur Rosyadi, S.Si., M.M.—ikut hadir, lengkap dengan pendamping kece, Wakil Ketua TP PKK Subang, Ega Agustine Rosyadi. Duo ini tampak sumringah menyambut suasana penuh cinta dan tawa anak-anak yatim yang jadi bintang utama hari itu.

“Kita memberikan apresiasi kepada panitia atas kegiatan Festival Muharram ke-4 ini. Bahwa di Subang masih banyak orang-orang baik yang bisa berbagi,” ujar Kang Akur dengan nada bangga, sambil mungkin dalam hati nyanyi, “masih banyak orang baik…”

Ia menambahkan, acara seperti ini adalah contoh konkret bahwa kalau pemerintah punya keterbatasan, rakyat punya kelebihan: kebaikan hati dan tangan-tangan yang mau turun langsung. “Karena kita sadar, pemerintah memiliki keterbatasan. Maka perlu peran serta masyarakat untuk saling membantu,” tegasnya dengan gaya khas yang bikin pendengar manggut-manggut penuh semangat.

Tak cukup dengan apresiasi, Kang Akur mengajak semua yang punya waktu luang dan dompet longgar (atau minimal hatinya luas) untuk ikut dalam gerakan berbagi. “Kalau kita punya keluangan materi, keluangan waktu, ayo kita berbagi. Karena insya Allah, pahala yang berlipat akan kita terima. Di dunia bahagia, di akhirat mulia.”

Sementara itu, Bu Ega tampil dengan gaya anggun namun menggelegar secara spiritual. Singkat, padat, dan ngena. “Insya Allah, nggak akan kekurangan kalau kita menyumbangkan apa yang kita punya,” katanya. Ya, begitulah—filosofi hidup level emak-emak, tapi cocok dijadikan caption Instagram.

Acara makin meriah dengan iringan marawis, dongeng inspiratif, dan tentu saja, momen haru saat anak-anak yatim menerima tanda cinta. Eh, jangan salah, bukan sekadar bingkisan, tapi simbol dari kasih sayang tak bersyarat. Hadir pula tamu spesial, Bunda Fuzna Marzuqoh—broadcaster senior sekaligus motivator nasional—yang sukses bikin suasana makin cair dan hati makin lembut kayak tisu premium.

Muharram Festival ini bukan sekadar ajang seremonial. Ia adalah “Idul Yatama”, lebarannya anak-anak yatim. Di balik tawa dan pelukan, tersimpan pesan luhur: mari berkolaborasi, saling berbagi, dan menjadikan bulan Muharram sebagai momentum mengalirkan cinta ke penjuru Subang dan sekitarnya.

Bel Sekolah Subang Berbunyi Lebih Pagi! Bupati Reynaldi Ketuk Jam Masuk PAUD hingga SMP

Penyesuaian jam belajar Subang 2025

Subang – Selamat pagi, siang, atau malam—tergantung kapan Anda membaca kabar fresh from the oven dari Kabupaten Subang ini. Jadi begini ceritanya: Bupati Subang, Reynaldi Putra Andita Budi Raemi, baru saja menandatangani surat sakti alias Surat Edaran Nomor 9 Tahun 2025. Isinya? Penyesuaian jam belajar untuk para bocil PAUD hingga siswa SMP se-Kabupaten Subang. Dan ya, isinya cukup bikin alarm Anda berpikir ulang: “Saya sudah cukup pagi belum, ya?”

Surat edaran ini nggak asal cuap-cuap lho. Ini adalah bentuk tindak lanjut dari Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah, ditambah lagi Surat Edaran Gubernur Jawa Barat Nomor 58/PK.03/DISDIK yang nongol tanggal 28 Mei 2025 kemarin. Jadi jelas, ini bukan soal bangun pagi doang, tapi bagian dari misi besar: “Gapura Panca Walagri Jawa Barat Istimewa.” Wah, namanya aja sudah bikin kita berdiri tegak, ya!

Yang menarik, edaran ini juga ngepas banget sama program prioritas Kabupaten Subang: “9 Langkah Pembangunan Pendidikan.” Dan, ada sentuhan lembut tapi tegas dari Bupati soal Jam Malam untuk Peserta Didik. Artinya, malam hari bukan waktunya rebahan sambil scrolling TikTok semata. Ada pembinaan karakter, kegiatan keagamaan, dan hal-hal positif yang sebaiknya dilakukan dari pukul 18.00 sampai 21.00 WIB. Jadi, malam bukan waktunya ngelamun, tapi waktu bertumbuh!

Lalu bagaimana detail jam belajar baru ini? Catat, ya:

PAUD:
Senin sampai Jumat, mulai pukul 07.30 WIB, minimal 120 menit. Tidak ada kompromi. Anak-anak balita pun diajak tertib waktu sejak dini—karena, siapa cepat dia dapat!

SD Kelas I & II:
Senin–Kamis: Masuk pukul 06.30 WIB, belajar minimal 7 jam pelajaran.
Jumat: Tetap 06.30 WIB, tapi Kelas I cukup 4 JP, Kelas II 6 JP.

SD Kelas III–VI:
Senin–Kamis: Masuk 06.30 WIB, 8 JP.
Jumat: 06.30 WIB juga, 6 JP. Jadi, Jumat tetap barakah, tapi tetap ada belajar serius.

SMP:
Senin–Kamis: Mulai 06.30 WIB, 9 JP (dengan catatan: 1 JP = 40 menit, ya).
Jumat? Tenang, tetap 06.30 WIB, cukup 6 JP.

Menurut Bupati, kebijakan ini bertujuan agar pembelajaran lebih optimal dan sesuai potensi siswa. “Tertib waktu” jadi kunci, bukan hanya karena kita takut terlambat, tapi karena kita menghargai proses. As simple as that!

Dan tentu saja, ada harapan besar di balik perubahan jadwal ini: generasi muda Subang bisa jadi pribadi unggul, produktif, dan berkarakter kuat. Karena masa depan bangsa, ya dimulai dari bel berbunyi lebih pagi.


Frasa kunci utama:

Deskripsi meta:
Bupati Subang resmi atur jam masuk sekolah lebih pagi untuk PAUD, SD, dan SMP mulai 2025. Simak rincian jadwal dan tujuan kebijakannya!

Tag:
pendidikan Subang, jam belajar 2025, kebijakan sekolah Subang, Reynaldi Putra Andita, siswa PAUD SD SMP

Recent Posts