Beranda blog Halaman 91

MPLS SMKN 1 Subang 2025: Sarapan Bareng, Belajar Karakter, dan Siap Jadi Generasi Gemilang!

MPLS SMKN 1 Subang 2025

Subang — Aroma tahun ajaran baru tercium semerbak di Jalan Arief Rahman Hakim No. 35, tempat SMK Negeri 1 Subang menyambut 2025/2026 dengan semangat yang tumpah ruah! Bukan cuma absen pagi dan makan bareng, tapi juga gebrakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selama lima hari penuh makna: 14–18 Juli 2025.

Dengan tema “Kenali Lingkungan, Membentuk Generasi Berkarakter, Menuju Masa Depan Gemilang”, MPLS ini bukan sekadar ajang keliling sekolah atau kenalan nama kakak kelas. Ini training camp untuk jadi manusia tangguh masa depan!

Hari pertama, para siswa baru langsung disuguhi materi gizi pendidikan: visi-misi sekolah, Wawasan Wiyata Mandala, program kerja, sampai nilai-nilai Pancawaluya—semacam vitamin karakter khas SMKN 1 Subang. Semua dikemas dengan tur sekolah dan sesi “deep learning” dari tim kurikulum. Bukan deep talk ya, tapi deep learning!

Hari-hari selanjutnya makin seru. Hadir para narasumber dari TNI (Bela Negara), POLRI (tertib lalu lintas, bro!), BKKBN (bahaya narkoba), guru PPKn (anti korupsi), dan pembekalan literasi digital. Singkatnya, siswa nggak cuma kenal sekolah, tapi juga kenal hidup.

Dan tentu, MPLS nggak afdol kalau tanpa hura-hura cerdas! Ada pentas seni, drama, dance, musikalisasi puisi, hingga fashion show. Mau yang gerak badan? Ada senam pagi dan games edukatif. Mau jadi organisatoris? Ada pengenalan OSIS, MPK, IRMA, dan Pramuka. Sambil jalan-jalan keliling nilai, siswa juga bisa pilih ekskul yang cocok.

Puncaknya? Jumat, 18 Juli 2025. Ada sesi penegakan disiplin, asesmen akhir Pancawaluya, dan upacara pelantikan resmi sebagai siswa SMKN 1 Subang. Jadi, bukan hanya masuk, tapi juga dimantapkan jadi bagian dari keluarga besar sekolah.

Kepala SMKN 1 Subang, Bapak Deden Suryanto, S.Pd., M.MPd., menegaskan bahwa MPLS bukan acara seremonial, tapi fondasi karakter masa depan.
“Kami ingin siswa baru memiliki semangat belajar tinggi, mengenal budaya sekolah, dan yang terpenting, tertanam nilai-nilai karakter seperti disiplin, tanggung jawab, dan kerja sama,” ujar beliau dengan penuh harapan.

Dengan sinergi guru, siswa, dan stakeholder, SMKN 1 Subang optimis bisa mencetak generasi berkeahlian tinggi sekaligus berkarakter kuat. Karena di era persaingan global, punya skill itu penting, tapi punya sikap tangguh itu wajib.

Beras Oplosan Bikin Resah! Harga Naik, Kualitas Turun, Warga Pantura Subang Mengeluh

Subang — Beras, si putih yang jadi makanan pokok, kini bikin was-was. Di wilayah Pantura, Subang, Jawa Barat, beras bukan cuma soal harga, tapi juga soal “asli atau palsu”. Maraknya peredaran beras oplosan tak hanya meresahkan warga, tapi juga memukul daya beli dan mengacaukan harga pasar.

Seperti yang dirasakan Wani’ah, ibu rumah tangga asal Pamanukan, yang kini harus lebih jeli dari detektif saat belanja beras di pasar.
“Saya sering membeli beras di pasar, saat ini tidak dapat membedakan antara beras oplosan dan bukan, sehingga takut jika yang dikonsumsi beras hasil oplosan,” keluhnya, Selasa (15/7).

Keresahan Wani’ah bukan tanpa alasan. Selain menurunkan kualitas pangan, beras oplosan dikhawatirkan berdampak pada kesehatan keluarga. Lebih runyam lagi, harga beras ikut naik, padahal kantong rakyat tak ikut membengkak.

Gugum Gumelar, pedagang beras di Pasar Pamanukan, ikut angkat suara. Menurutnya, isu beras oplosan membuat pembeli ragu dan penjualan menurun.
“Penjualan menurun, akibat daya beli masyarakat berkurang. Harga beras juga naik karena pasokan berkurang,” ujar Gugum.

Fakta di lapangan memang tak menggembirakan. Harga beras premium yang sebelumnya Rp13.500 per kg, kini naik menjadi Rp14.000. Sedangkan beras medium melesat dari Rp12.000 ke Rp13.500 per kg. Semua ini terjadi dalam waktu yang singkat—cepat naik, tapi lambat turunnya.

Baik pembeli maupun pedagang di Pasar Pamanukan sepakat: pemerintah harus bertindak cepat. Mereka mendesak agar pelaku pengoplos beras ditindak tegas, dan seluruh beras oplosan yang sudah beredar segera ditarik dari pasaran. Jangan sampai masyarakat terus dirugikan.

Karena kalau nasi sudah jadi bubur, yang dirugikan bukan hanya konsumen, tapi seluruh rantai ekonomi rakyat kecil. Jadi, mari pastikan, beras yang kita makan benar-benar beras, bukan hasil sulapan tangan-tangan nakal.

Operasi Senyap Polres Subang Bongkar Sabu & Ganja dari Instagram: Tersangka Terancam Seumur Hidup

Pengungkapan narkoba Polres Subang

Subang — Malam Senin yang biasanya sunyi di Purwadadi Barat, berubah menjadi momen mencekam. Satuan Reserse Narkoba Polres Subang menggelar operasi senyap yang sukses membongkar jaringan pengedar narkotika, dengan satu pelaku berinisial RR (29) diringkus di rumahnya, Dusun Jambeanom, pukul 23.40 WIB, Senin (14/7/2025).

Bukan sekadar penangkapan biasa, karena dari penggeledahan yang dilakukan, polisi menemukan “paket kejutan” yang bikin geleng-geleng kepala: lima paket sabu seberat total 45,7 gram, dua linting ganja seberat 1,07 gram, timbangan digital, satu ponsel pintar, dan sebuah sepeda motor yang diduga kuat digunakan dalam transaksi haram.

Kapolres Subang, AKBP Dony Eko Wicaksono, membenarkan bahwa tersangka mendapat barang haram tersebut lewat jalur yang kini makin marak: media sosial.
“Tersangka memperoleh narkotika tersebut melalui akun Instagram bernama roseberry legacy, yang diduga sebagai jalur distribusi daring jaringan pengedar,” ungkap AKBP Dony, Selasa (15/7/2025).

Mirisnya, Instagram yang biasanya jadi tempat jualan skincare, justru jadi tempat jualan sabu dan ganja. Welcome to the dark side of social media, Subang edition.

Kini, tersangka RR beserta barang bukti telah diamankan di Mapolres Subang. Kasusnya terus dikembangkan untuk membongkar siapa saja dalang di balik layar akun “roseberry legacy” dan seberapa jauh jaringannya merambah Subang.

Tersangka dijerat dengan pasal berlapis:

  • Pasal 114 ayat (2),
  • Pasal 112 ayat (2), dan
  • Pasal 111 ayat (1)
    Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman hukumannya? Seumur hidup. Bukan sekadar jeruji besi, tapi masa depan yang terkunci selamanya.

Kapolres Subang juga menegaskan bahwa ini adalah peringatan keras bagi para pelaku kejahatan narkotika: tidak akan ada ruang aman di Subang.
“Upaya pengembangan masih terus dilakukan untuk mengungkap jaringan pemasok yang lebih luas,” tutupnya.

Subang punya harapan untuk bebas dari racun narkoba, dan malam itu jadi langkah tegas menuju masa depan yang lebih bersih.

Bupati Subang Lepas 604 Mahasiswa KKNM Unsub: “Bukan Cuma Kuliah, Ini Misi Perubahan!”

KKNM Universitas Subang 2025

Subang — Suasana kampus Universitas Subang (Unsub), Selasa (15/7/2025), mendadak berubah menjadi lautan semangat. Sebanyak 604 mahasiswa siap dilepas ke 27 desa di 13 kecamatan dalam program Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa (KKNM) – Kampus Berdampak. Tapi tunggu dulu, ini bukan sekadar “jalan-jalan sambil skripsian”. Ini adalah pelepasan pasukan agen perubahan!

Pelepasan resmi dilakukan langsung oleh Bupati Subang, Kang Rey—nama panggung dari Bupati Reynaldy Putra Andita BR., S.IP.—dengan gaya khasnya yang hangat dan visioner.
“Ini bukan sekadar pelepasan mahasiswa. Ini adalah pelepasan energi perubahan. Mahasiswa Unsub saya harapkan hadir sebagai agen transformasi di desa,” ujar Kang Rey, membuat seluruh lapangan terasa seperti panggung superhero.

Ketua Pelaksana KKNM, Dr. Hj. Silvy Sondari Gadzali, menjelaskan bahwa pengabdian ini akan berlangsung dari 15 Juli sampai 31 Agustus 2025. Mahasiswa akan membawa lima tema utama, mulai dari inovasi potensi desa, pemberdayaan UMKM, hingga digitalisasi ekowisata dan smart village. Semua dibimbing oleh 14 dosen pembimbing lapangan.

Ketua LLPM, Dr. Ujang Charda S., menyebut KKNM ini selaras dengan transformasi pendidikan tinggi. Sementara Ketua Yayasan Kutawaringin, Ahmad Sobari, menegaskan bahwa Unsub lahir dari semangat daerah untuk mencetak SDM lokal yang unggul.

Tak ketinggalan, anggota DPR RI Edi Askari juga memberikan pandangan tajam. Ia mengingatkan bahwa Subang akan menjadi magnet industri seluas 30.000 hektare. Namun, jangan sampai jadi penonton di tanah sendiri.
“Kalau kita tidak siap, peluang akan diambil orang luar. Maka Unsub harus jadi pencetak SDM andalan,” tegasnya.

Rektor Unsub, Dr. H. Komir Bastaman, ikut menegaskan peran kampus sebagai milik publik Subang. “Kami menyumbang sekitar 1.000 lulusan setiap tahun. Ini kontribusi nyata kami untuk peningkatan IPM Subang,” ujarnya.

Dalam pidato puncaknya, Kang Rey menyampaikan keprihatinan terhadap daya saing tenaga kerja lokal. Menurutnya, pembangunan tak boleh hanya fokus pada beton dan aspal, tapi juga pada isi kepala dan semangat warga.
“Mahasiswa Unsub harus jadi game changer, jadi pengisi posisi strategis,” kata Kang Rey penuh tekad.

Ia juga mengkritik keberadaan vila-vila mewah di tengah geliat industri yang tak jarang malah menyingkirkan masyarakat lokal. “Jangan sampai kita jadi penonton di rumah sendiri. Orang Subang tidak kalah,” tambahnya. Bahkan ia banggakan bahwa Gubernur Jawa Barat hari ini—yup, Kang Dedi—adalah asli Subang.

Yang menarik, Kang Rey berkomitmen menjadikan laporan mahasiswa KKNM sebagai rujukan pembangunan.
“Seluruh laporan KKNM ini harus menjadi bagian dari kerja pemerintah. Karena kerangka kerja kami hari ini berbasis pada aspirasi dan aduan masyarakat,” ungkapnya.

Kepada para mahasiswa, ia berpesan agar pengabdian ini bukan hanya soal akademik, tapi juga ruang tumbuh dalam empati dan kepemimpinan sosial.
“Kalian bukan hanya membawa nama kampus, tapi juga harapan Subang ke depan,” pungkasnya.

Acara yang penuh inspirasi ini juga dihadiri oleh para wakil rektor, dekan, camat dari lokasi KKNM, dosen pembimbing, perwakilan desa, hingga mitra kampus. Selamat berjuang, pasukan KKNM—Subang menunggu gebrakan kalian!

Kapolres Subang Pimpin Pengecekan Senpi: “Tak Boleh Ada yang Hilang, Apalagi Nyasar!”

Pengecekan senjata api Polres Subang

Subang — Di bawah terik pagi yang menyengat, Lapangan Apel Tatag Trawang Tungga Polres Subang jadi saksi keseriusan aparat penegak hukum dalam urusan… senjata api. Bukan sekadar gaya, tapi pengecekan kelayakan senpi yang dipimpin langsung oleh Kapolres Subang, AKBP Dony Eko Wicaksono, S.H., S.I.K., M.H., Ph.D. pada Selasa, 15 Juli 2025.

Tepat pukul 09.00 WIB, kegiatan dimulai. Hadir lengkap Wakapolres, para Pejabat Utama (PJU), perwira, hingga personel pemegang senjata api dinas. Semua berkumpul bukan untuk lomba tembak, tapi untuk memastikan bahwa senpi milik negara ini tidak hanya lengkap secara fisik, tapi juga sehat secara administratif dan prosedural.

Dalam arahannya, AKBP Dony menyampaikan lima hal penting. Gaya bicaranya tenang, tapi isinya ngena ke hati—dan semoga ke kepala juga:

  1. Jangan sampai ada senjata yang hilang atau disalahgunakan.
  2. Rawat senpi dengan cinta, eh, maksudnya… dengan penuh tanggung jawab.
  3. Pakai senjata sesuai SOP, bukan sesuai emosi.
  4. Saat pengamanan demo, senpi dilarang keras ikut turun ke jalan.
  5. Ikuti prosedur, jangan asal tarik pelatuk!

Setelah personel dicek satu per satu, giliran gudang senjata milik Bagian Logistik dan Satuan Samapta diperiksa. Ibarat audit rumah, semua pintu dibuka, rak dibongkar, dan data dicocokkan—biar tidak ada senjata yang ‘nyelip’ di tempat misterius.

Kegiatan berjalan aman, tertib, dan—syukurlah—tanpa bunyi letusan apa pun. Ini jadi bukti nyata komitmen Polres Subang dalam menjaga profesionalitas, akuntabilitas, dan tentu saja: keselamatan semua pihak, baik aparat maupun masyarakat.

Di tengah dunia yang semakin cepat, satu hal tetap: senjata bukan mainan. Dan Polres Subang, lewat pengecekan ini, memastikan setiap peluru punya tanggung jawab.

Bupati Subang Bongkar Ribuan Bangunan Liar, Gubernur & Menteri BUMN Dukung Penataan Subang Selatan

Penataan Subang Selatan dan pengembalian fungsi hutan

Suarasubang.com — Ada yang serius tapi penuh harapan di Gedung Pakuan, Bandung, Senin pagi (14/7/2025). Di sana, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Menteri BUMN Erick Thohir, dan para kepala daerah, termasuk Bupati Subang Reynaldy Putra Andita, duduk semeja membahas satu hal penting: bagaimana caranya tanah-tanah milik BUMN bisa jadi lebih berfaedah buat masyarakat.

Menteri Erick Thohir dengan semangat khasnya menegaskan bahwa aset negara seperti lahan Perhutani dan PTPN tidak boleh hanya jadi “tanah nganggur”. Ia bilang,
“Kami berkoordinasi dan berkolaborasi untuk mengoptimalkan aset-aset BUMN seperti Perhutani dan PTPN di Jawa Barat, untuk memastikan program pemerintah dapat melindungi rakyat, membuka lapangan pekerjaan, dan mengurangi angka kemiskinan,” ujar Erick.

Gubernur Dedi Mulyadi pun tak mau kalah menyampaikan visi jangka panjangnya. Menurutnya, lahan hutan negara bukan hanya soal kehutanan, tapi juga masa depan lingkungan dan keseimbangan wilayah.
“Pak Presiden ingin agar lahan hutan dikembalikan, tapi dengan jenis pohon yang sesuai karakteristik wilayah, agar bisa menjadi sumber karbon yang penting di masa depan,” tegas Kang Dedi.

Lalu, spotlight pun beralih ke Bupati Subang, Kang Rey—panggilan akrab Reynaldy Putra Andita—yang membawa kabar mengejutkan: hampir seribu bangunan liar di kawasan Subang Selatan telah dibongkar! Tapi jangan khawatir, masyarakat terdampak juga diberi kompensasi. Gercep dan manusiawi!

“Kami sedang berproses menata kembali kawasan Subang Selatan. Alhamdulillah, dengan dukungan Pak Gubernur, hampir seribu bangunan liar berhasil kami bongkar dan diberikan kompensasi,” ujar Kang Rey.

Rupanya, langkah ini bukan ujug-ujug. Pemkab Subang tengah menjalin koordinasi dengan PTPN untuk menyiapkan lahan relokasi bagi pedagang dari Subang hingga ke area wisata Ciater dan Tangkuban Parahu.

Tapi, belum selesai sampai di situ. Bupati Subang juga menyoroti kawasan Ciater yang, alih-alih rimbun dengan pepohonan, malah tumbuh vila liar seperti jamur di musim hujan. Jumlahnya? 300 lebih!
“Jika dibiarkan, bisa mengancam kelestarian air panas Sari Ater. Ini perlu langkah serius,” katanya, dengan nada tegas penuh rasa cinta lingkungan.

Semua langkah ini katanya sejalan dengan penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang baru di Kabupaten Subang—agar kawasan wisata, hutan, dan ruang hidup masyarakat bisa tertata, lestari, dan tak sembarangan dibangun.

Jadi, dari lahan kosong hingga vila liar, dari hutan hingga kawasan wisata—semuanya sedang ditata ulang. Harapannya? Subang bukan cuma indah di peta, tapi juga lestari di dunia nyata.

Disnakertrans Subang Stop Job Fair, Wajibkan Perusahaan Laporkan Lowongan Kerja!

Disnakertrans Subang wajibkan laporan lowongan kerja

Subang — Job fair? Udahan dulu ya! Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Subang resmi menyetop kegiatan job fair. Tapi jangan panik dulu—bukan berarti peluang kerja ikutan lenyap. Justru, pendekatan baru tengah disiapkan agar dunia kerja di Subang makin on point.

Hal ini ditegaskan langsung oleh Kepala Disnakertrans Subang, Rona Mairansyah, saat duduk bareng dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan sejumlah Lembaga Pelatihan Kerja (LPK), Selasa (15/7/2025).

Dalam pertemuan itu, Rona bicara blak-blakan. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor—antara pemerintah, dunia usaha, dan LPK—adalah kunci emas untuk menurunkan angka pengangguran di Subang.

“LPK harus mampu menyalurkan tenaga kerja yang kompeten sesuai dengan kebutuhan dunia industri. Kolaborasi ini penting untuk menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang lebih sehat,” ujar Rona, dengan nada mantap seperti HRD lagi wawancara calon karyawan.

Rona menegaskan bahwa seluruh perusahaan di wilayah Subang sekarang wajib melaporkan setiap informasi lowongan kerja ke Disnakertrans. Gak boleh lagi main diam-diam atau rekrut lewat jalur ‘rahasia dapur’. Transparansi jadi harga mati!

Dan soal job fair? “Job fair kita evaluasi dan hentikan sementara. Fokus kita sekarang pada pendekatan yang lebih nyata, langsung, dan berkelanjutan melalui LPK dan kerja sama lintas sektor,” jelasnya.

Bukan hanya mengasah keterampilan, LPK juga dituntut jadi mak comblang antara lulusan pelatihan dan dunia kerja. Artinya, lulus pelatihan enggak cuma bawa sertifikat, tapi juga bawa peluang kerja nyata.

Dalam dialog hangat dengan salah satu yayasan LPK, Rona juga menekankan: pelatihan harus nyambung dengan kebutuhan industri. Jangan sampai anak-anak Subang jago di pelatihan tapi malah nganggur karena skill-nya nggak nyetel sama dunia kerja.

Di akhir pertemuan, Rona dan DLH sepakat: mengatasi pengangguran bukan kerjaan satu pihak. Perlu gotong royong semua elemen—dari perusahaan, pelatihan, sampai komunitas.

“Pengurangan angka pengangguran tidak bisa hanya dilakukan pemerintah. Kita perlu keterlibatan aktif perusahaan, LPK, dan komunitas. Dengan bersama-sama, insyaAllah kita bisa menciptakan Subang yang lebih sejahtera,” tutup Rona sambil memantik semangat kolaborasi.

MATSAMA MTsN 1 Subang Resmi Dibuka: Serius Islami tapi Tetap Asyik dan Ramah Anak!

Pembukaan MATSAMA MTsN 1 Subang
{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":["local"],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{"addons":1,"transform":1},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":true,"containsFTESticker":false}

Subang — Senin pagi (14/07/2025), halaman MTsN 1 Subang tampak lebih semarak dari biasanya. Bukan karena ada bazar gorengan atau kunjungan artis TikTok, tapi karena dibukanya Masa Ta’aruf Siswa Madrasah alias MATSAMA Tahun Ajaran 2025/2026!

Yang membuka? Bukan sembarang orang—langsung Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Subang, Dr. H. Badruzaman, M.Pd, yang datang dengan gaya kalem tapi penuh wibawa. Acaranya pun penuh khidmat, tapi jangan salah, tetap dibalut dengan semangat yang menyenangkan.

Pembukaan ini dihadiri oleh seluruh warga madrasah: kepala sekolah, para guru, staf TU, siswa kelas 8 dan 9, serta tentunya para peserta didik baru. Jumlahnya? Persis 288 anak yang dibagi menjadi 9 gugus. Jangan dibayangkan seperti gugus tugas Covid ya—ini gugus semangat dan silaturahmi!

Dalam sambutannya, Dr. Badruzaman menekankan pentingnya MATSAMA sebagai lebih dari sekadar acara sambutan ala-ala.
“MATSAMA bukan sekadar kegiatan orientasi biasa, tetapi momentum awal untuk menanamkan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan integritas sejak dini,” ujar beliau.
Wah, mantap betul! Ini bukan cuma kenalan, tapi awal dari proses menjadi pelajar berkelas dunia—dengan akhlak Islami!

MATSAMA ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, dari tanggal 14 sampai 16 Juli. Temanya? Bukan yang bikin keringat dingin, justru “Menyenangkan, Membahagiakan, dan Tidak Menegangkan”. Wah, cocok buat generasi yang deg-degan kalau ditanya “Kamu duduknya di mana, ya?”

Kegiatan diisi dengan berbagai agenda kece—seminar motivasi, pengenalan organisasi siswa, lomba kreativitas, sampai pemaparan program unggulan madrasah. Semua dibungkus dengan nuansa edukatif dan tentu saja: fun.

Dengan resmi dibukanya MATSAMA ini, harapannya siswa baru bisa adaptasi tanpa panik, senyum tanpa beban, dan belajar dengan hati yang gembira. Semoga langkah pertama di MTsN 1 Subang ini jadi awal dari perjalanan yang penuh prestasi dan berkah!

MPLS Dibuka dengan Semangat Merah Putih: SMAN 1 Subang Sambut Siswa Baru dengan Gaya Nasionalis!

Pembukaan MPLS SMAN 1 Subang

Subang — Senin pagi yang biasanya hanya ditemani deru motor dan semilir angin, kali ini berubah menjadi panggung semangat kebangsaan. Ya, SMA Negeri 1 Subang membuka tahun ajaran baru 2025/2026 dengan gaya yang tak biasa. Bukan cuma sekadar upacara bendera, tapi juga pembukaan resmi kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang bikin halaman sekolah bergetar oleh semangat baru.

Tepat di Kelurahan Dangdeur, Kecamatan Subang, para siswa baru—dengan seragam masih kaku dan wajah antara semangat dan gugup—berbaris rapi di bawah langit pagi. Mereka disambut oleh segenap jajaran guru, staf, dan tentu saja tamu kehormatan: pasukan TNI dari Koramil 0501/Subang dan Kodim 0605/Subang. Iya, MPLS di sini enggak main-main, Sob!

Danramil 0501/Subang, Kapten Czi. Supardi, datang bersama anggotanya. Tapi bukan buat latihan militer lho—melainkan buat menyuntik semangat kepada para siswa baru yang siap menjalani MPLS selama beberapa hari ke depan. Gaya beliau? Tegas tapi adem. Tegasnya militer, ademnya seperti guru BK yang lagi mood baik.

Dalam sambutannya, Kapten Supardi berkata, “Kegiatan MPLS ini bukan sekadar pengenalan lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi awal pembentukan karakter siswa agar kelak menjadi generasi penerus bangsa yang berintegritas.”
Nah lho, langsung bergetar dompet—eh, jiwa nasionalisme maksudnya!

Beliau juga menegaskan pentingnya tiga hal: disiplin, hormat kepada guru, dan semangat kebangsaan. Kalau ini bisa dipraktikkan sejak hari pertama, bukan cuma jadi siswa keren, bisa-bisa jadi calon pemimpin masa depan yang berwibawa!

Upacaranya sendiri berlangsung khidmat. Mulai dari penghormatan kepada bendera Merah Putih, sambutan dari pihak sekolah dan TNI, hingga simbolisasi pembukaan MPLS—semua berjalan tertib, rapi, dan penuh makna. Kayak acara pernikahan, tapi bedanya enggak ada lempar bunga. Yang dilempar? Semangat dan harapan!

Harapannya, lewat MPLS ini, siswa baru bisa cepat akrab dengan lingkungan barunya, enggak salah masuk toilet lagi, dan tentu saja—semangat belajarnya meledak-ledak demi prestasi yang gemilang.

Begitu ceritanya dari halaman SMAN 1 Subang, tempat di mana merah putih dikibarkan tinggi, dan semangat baru dikibarkan lebih tinggi lagi.

SDN Sukamanah Hanya Dapat 7 Murid Baru: Sekolah atau Kelas Privat?

SDN Sukamanah hanya terima 7 murid baru

SUBANG – Ada kabar hangat dari belantara pendidikan di Pantura Subang! SDN Sukamanah, yang berlokasi di Desa Muara, Kecamatan Blanakan, tahun ini tampil beda—bukan karena mural baru atau ruang kelas canggih, tapi karena… hanya kebagian 7 siswa baru saja di Tahun Ajaran 2025–2026.

Angka ini tentu bikin dahi mengernyit dan kepala bergeleng. Pasalnya, tahun lalu masih ada 13 siswa yang masuk. Sekarang? Nyaris tinggal separuh. Seolah-olah sekolah ini sedang bersiap mengubah status jadi bimbel eksklusif.

Menurut Kepala SDN Sukamanah, Bapak Hendrawan Sukmara—yang tampaknya tetap tegar meski jumlah murid seperti hitungan jari tangan—fenomena ini bukan tanpa sebab. Beliau menjelaskan dengan nada yang tetap tenang, “Turunnya jumlah siswa baru salah satu faktornya minimnya jumlah penduduk di Dusun Sukamanah Baru, juga minim fasilitas sekolah sehingga warga memilih menyekolahkan anaknya ke luar kampung,” ujar Hendrawan pada Senin (14/7/2025).

Nah, ini bukan sekadar soal sekolah yang tak laku. Ini potret nyata bagaimana daerah dengan kepadatan penduduk rendah dan fasilitas terbatas mesti berjuang menjaga nyala lilin pendidikan agar tak padam tertiup angin zaman.

Masalah klasik seperti jumlah anak usia sekolah yang menyusut—entah karena migrasi atau memang angka kelahirannya menurun—bertemu dengan persoalan prasarana yang belum ‘menggoda’. Jadilah SDN Sukamanah sedikit demi sedikit ditinggalkan. Bukan karena tak sayang, tapi karena cari alternatif yang dianggap lebih nyaman.

Kondisi ini seolah menyisakan PR besar bagi dunia pendidikan lokal. Apakah perlu inovasi besar-besaran? Atau cukup panggil tim kreatif untuk bikin SDN Sukamanah viral di TikTok? Siapa tahu.

Yang pasti, meski hanya ada tujuh murid baru, semangat para guru di sana (semoga) tetap membara. Karena kadang, mendidik segelintir anak juga berarti menjaga nyala harapan bagi masa depan desa.

Recent Posts