Beranda blog Halaman 87

Lawan Rentenir, Bupati Subang Gandeng PNM dan BP Tapera Luncurkan Pembiayaan Mikro Perumahan

Pembiayaan mikro perumahan Subang

SUBANG – Rentenir? No thanks! Kabupaten Subang kini punya jurus baru untuk memberdayakan rakyat kecil dan melawan praktik pinjaman mencekik. Selasa, 22 Juli 2025, Bupati Subang Reynaldy Putra Andita Budi Raemi dengan antusias menyambut peluncuran Program Kolaborasi Pembiayaan Mikro Perumahan Melawan Rentenir di kawasan Lembur Pakuan.

Program ini bukan sekadar gebrakan finansial biasa. Ia digagas sebagai solusi konkret demi memperkuat kemandirian ekonomi warga pedesaan, tanpa harus jatuh ke pelukan Bank Emok dan saudara-saudaranya.

Sejumlah tokoh nasional hadir memeriahkan peluncuran ini, seperti Direktur Operasional PNM Sunar Basuki, Komisioner BP Tapera Heru Sugiono, Wakil Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari, Menteri Maruarar Sirait alias Bang Ara, dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

PNM: Modal Bukan Sekadar Uang

Sunar Basuki dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menekankan, ini bukan sekadar program pinjaman. “PNM tidak hanya memberikan pinjaman modal, tapi juga pelatihan dan pendampingan,” jelasnya. Fokus utama dari kolaborasi ini justru renovasi tempat usaha ibu-ibu agar lebih menarik dan higienis.

“Kalau tempat usahanya lebih baik, kapasitas naik, omzet pun ikut naik. Itu baru namanya pemberdayaan,” ujarnya.

BP Tapera: Rumah Layak, Harga Bersahabat

Dari sisi hunian, BP Tapera lewat Heru Sugiono menyatakan bahwa lembaganya siap menjembatani rakyat kecil untuk mendapatkan rumah layak dengan pembiayaan yang inklusif. “Kami berkomitmen menyediakan pembiayaan rumah layak huni dan terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah,” tandas Heru.

Istana Turun Gunung: Tiga Juta Rumah Setahun

Muhammad Qodari, Wakil Kepala Staf Kepresidenan RI, menegaskan bahwa program ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto: membangun tiga juta rumah per tahun untuk rakyat kecil, terutama di desa-desa. “Rakyat harus punya tempat tinggal yang layak, itu PR besar bangsa ini,” ucapnya.

Bang Ara: Negara Harus Turun Tangan!

Menteri Maruarar Sirait tampil berapi-api, menyuarakan perlunya negara hadir menolong rakyat dari cengkeraman rentenir. “Bunganya bisa 30 persen sebulan. Negara harus hadir dan berpihak pada rakyat!” katanya lantang.

Ia menjelaskan bahwa dengan skema ini, warga bisa membangun rumah di atas tanah keluarga tanpa perlu beli lahan—cicilan pun jadi ringan. “Biaya lebih kecil, masyarakat tetap bisa tinggal di desanya sendiri,” tambah Bang Ara.

Gubernur Jabar: Pinjam 1 Juta, Diterima 900 Ribu

Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, tak kalah pedas. Ia mengupas tuntas praktik Bank Emok yang menyedot darah rakyat kecil. “Pinjam Rp1 juta, terima Rp900 ribu. Besoknya langsung nyicil dengan bunga tinggi,” ungkapnya.

Kalau sudah kepepet? Warga lari ke Bank Keliling, lalu ke MBK. Utang lapis demi lapis pun menjerat tanpa ampun.

Pemkab Subang Siap Gaspol!

Bupati Subang, Kang Rey, menegaskan komitmennya untuk terus mendukung program ini sebagai bentuk perlindungan sosial dan pemberdayaan ekonomi yang nyata. “Kolaborasi lintas sektor seperti ini sangat dibutuhkan untuk menciptakan solusi konkret,” katanya.

Didampingi Wakil Bupati Agus Masykur Rosyadi dan Sekda H. Asep Nuroni, Kang Rey siap bergerak bersama rakyat untuk mengubah wajah ekonomi desa.

Dari Lembur Pakuan, suara perlawanan terhadap rentenir kini menggema. Bukan dengan demo, tapi dengan program yang membebaskan.

Anak Muda Jangan Cuma Jadi Penonton! Lesbumi Subang Dorong Keterlibatan Generasi Z dalam Perda Kebudayaan

Anak muda dalam Perda Kebudayaan Subang

SUBANG – Di balik kemeriahan Hari Anak Nasional, Gedung PCNU Subang tiba-tiba jadi medan diskusi yang serius tapi santai. Rabu, 23 Juli 2025, Lesbumi PCNU Subang menggelar Diskusi Publik Budaya—dan yang jadi sorotan? Anak muda, dong!

Ketua Lesbumi, Gus Eko—nama lengkapnya Agus Eko Muchamad Solihin—melempar gagasan yang cukup “mengguncang”: anak muda jangan cuma jadi objek Perda Kebudayaan, tapi kudu jadi subjeknya juga! “Kami sengaja mengundang anak-anak dan OKP agar mereka tidak hanya jadi objek Perda yang nanti dibentuk pemerintah, tetapi menjadi subjek,” tegasnya.

Menurut Gus Eko, budaya Subang masih banyak yang tersembunyi seperti harta karun belum digali. Maka dari itu, acara ini bukan hanya ajang ngomongin masa lalu, tapi juga merancang masa depan. “Ngaguar, ngariksa, ngajaga warisan budaya Subang,” ujarnya, menyuarakan pentingnya merawat budaya dari tangan-tangan usil dan klaim sepihak.

Diskusi ini terasa makin hangat dengan kehadiran Kaka Suminta, narasumber yang membedah budaya dari sisi psikoanalisis. “Budaya itu bukan cuma simbol dan tradisi, tapi menyimpan lapisan bawah sadar dan memori kolektif masyarakat,” jelasnya. Wah, jadi bukan sekadar pakai iket dan main angklung, ya!

Dari sisi parlemen, Wakil Ketua DPRD Subang, Udaya Rumantir, menyambut forum ini dengan antusias. Ia menegaskan bahwa diskusi seperti ini sangat strategis untuk penyusunan Raperda Kebudayaan. “Diskusi tentang budaya sangat penting dilakukan, agar kita selalu ingat akan jati diri kita,” katanya.

Udaya juga mengangkat isu pelestarian situs sejarah, seperti monumen perjuangan di Kalijati, agar tak digerus oleh modernisasi. Ia bahkan menyentil pentingnya menggunakan bahasa ibu di rumah. “Itu bagian dari pelestarian budaya,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Komisi 4 DPRD, Zaenal Mufid, mengungkap bahwa Perda Kebudayaan kini telah menjadi hak inisiatif DPRD. Hal ini menyusul keprihatinan dari Lesbumi mengenai situs-situs sejarah yang terancam oleh gempuran industrialisasi.

“Perda kita buat, Bidang Kebudayaan membuat produk, dan Bidang Pariwisata yang menjualnya,” ujar Zaenal, menjabarkan sinergi antara pelestarian budaya dan potensi ekonomi kreatif.

Zaenal menambahkan, diskusi ini memberi masukan konkret: mulai dari apa yang dibutuhkan anak muda, para seniman, budayawan, sampai ulama. Ia tak ingin Perda ini cuma jadi pajangan. “Perda harus bisa dilaksanakan dan menyejahterakan masyarakat Subang,” pungkasnya.

Diskusi ini jadi bukti bahwa budaya bukan hanya urusan masa lalu, tapi juga investasi masa depan. Dan anak muda? Sudah saatnya duduk di kursi pengambil keputusan, bukan cuma di bangku penonton!

Bupati Subang Janji Pangkas Birokrasi, Tanjungsiang Gebyar Budaya di Milangkala ke-38!

Bupati Subang pangkas birokrasi

Subang – Di tengah semilir angin selatan Subang, Kecamatan Tanjungsiang menyambut Hari Jadi ke-38 dengan gegap gempita dan aroma kebudayaan yang kental. Rabu, 23 Juli 2025, halaman Kantor Kecamatan Tanjungsiang mendadak jadi panggung rakyat—meriah, semarak, dan penuh semangat lokalitas.

Namun bukan hanya seni tradisional dan produk UMKM yang mencuri perhatian. Sosok Bupati Subang, Reynaldy Putra Andita Budi Raemi, S.IP.—yang akrab disapa Kang Rey—menjadi magnet utama hari itu. Ditemani senyum khas dan sambutan hangat warga, Kang Rey tak datang dengan tangan kosong. Ia membawa komitmen besar: pangkas alur birokrasi pelayanan publik!

Dalam pidatonya yang lugas namun penuh kehangatan, Kang Rey menegaskan pentingnya mempermudah akses masyarakat terhadap layanan pemerintahan. “Birokrasi jangan bikin pusing! Warga butuh layanan cepat, tepat, dan tidak ribet,” tegasnya dengan nada santai tapi serius.

Dengan tema milangkala yang cukup panjang tapi sarat makna—“Ngajaga, Ngariksa Potensi Nu Aya, Lembur Diurus, Kota Ditata, Sangkan Rakyat Sejahtera. Tanjungsiang Rindang, Ngadukung Subang Ngabret Keur Jawa Barat Istimewa”—acara ini jadi semacam pengingat massal: potensi lokal bukan sekadar warisan, tapi tanggung jawab bersama.

Pagelaran seni, pameran produk UMKM, hingga ekspresi budaya yang tampil di acara ini menunjukkan bahwa Tanjungsiang tak main-main dalam menjaga akar tradisinya. Tapi lebih dari itu, semangat “ngabret” alias percepatan pembangunan juga terasa kencang di udara.

Milangkala ini bukan sekadar perayaan ulang tahun kecamatan. Ia berubah menjadi simbol kebangkitan desa, momen refleksi kolektif, dan panggung aksi nyata menuju pelayanan publik yang lebih bersih dan berdaya guna.

Kalau desa makin tertata dan rakyat makin sejahtera, berarti Subang memang benar-benar sedang “ngabret” menuju Jawa Barat Istimewa!

Subang Ngabret! JICA dan Kemenlu RI Sambangi Subang, Bupati Suguhkan Tiga Sektor Strategis

Kerja sama investasi Subang-Jepang

SUBANG – Bukan Subang kalau nggak bikin kejutan! Kali ini, giliran Bupati Subang, Kang Rey—alias Reynaldy Putra Andita Budi Raemi—yang jadi tuan rumah spesial dalam audiensi bersama Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Japan International Cooperation Agency (JICA), dan Kedutaan Besar Jepang di Indonesia.

Pertemuan bergengsi ini berlangsung di Rumah Dinas Bupati Subang, Rabu 23 Juli 2025, dalam rangkaian program Investment Insights. Tujuannya? Meninjau langsung potensi Subang yang sedang panas-panasnya di radar investasi, terutama di sektor kesehatan, pendidikan, dan pertanian.

Dengan senyum ramah dan penuh semangat khas pemimpin muda, Kang Rey membuka sambutannya penuh optimisme. “Hari ini merupakan kehormatan besar bagi kami karena dapat menyambut kehadiran delegasi Jepang dan jajaran Kementerian Luar Negeri RI di Kabupaten Subang,” ujarnya.

Ia menyebut kunjungan ini sebagai peluang emas untuk memperkuat hubungan bilateral dan menjajaki kolaborasi strategis ke depan. Bahkan, Kang Rey sempat melontarkan pepatah Jepang yang cukup nyastra, “Tomoni susumi, tomoni sakaeru”—melangkah bersama, tumbuh dan makmur bersama.

Tak hanya berhenti di kata-kata manis, Kang Rey menegaskan bahwa Subang sedang “ngabret”, alias melesat cepat dalam pembangunan. Ia percaya kerja sama dengan Jepang akan menjadi turbo dalam percepatan kemajuan lintas sektor.

Tiga Sektor yang Jadi Primadona

Apa aja yang jadi incaran kolaborasi ini? Nih, tiga sektor unggulan yang bikin delegasi Jepang terpikat:
Pertama, kesehatan internasional. Subang sedang bersiap membangun rumah sakit modern yang bukan cuma buat warga lokal, tapi juga siap bersaing di kancah global.
Kedua, pendidikan dan SDM. Ada rencana pertukaran pelajar, pelatihan teknis, dan pendidikan vokasi antara Subang dan institusi pendidikan di Jepang. Politeknik Negeri Subang dan Universitas Subang siap tampil di panggung dunia!
Ketiga, pertanian masa kini. Bukan cuma sawah dan cangkul, tapi kerja sama sistem pergudangan, digitalisasi distribusi, dan teknologi pascapanen untuk memperkuat ketahanan pangan.

“Kepercayaan adalah fondasi dari kerja sama,” kata Kang Rey, meminjam pepatah Jepang Shinrai wa kyōryoku no ishizue. Ia juga menyatakan komitmen Pemkab Subang untuk menghadirkan iklim investasi yang kondusif dan layanan maksimal bagi semua mitra.

JICA Lirik Subang, Serius Nih!

Mewakili Kemenlu RI, Saud Usman Nasution menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan kelanjutan dari pertemuan sebelumnya bersama Kang Rey. Ia menekankan pentingnya pembangunan rumah sakit bertaraf internasional dan pendidikan vokasi di Subang.

“Alhamdulillah hari ini kami bisa membawa Ibu Takeda Sachiko, Kepala Perwakilan JICA Indonesia, dan Ibu Kamigaki Reiko dari Kedubes Jepang yang menangani kerja sama ekonomi,” ungkap Saud.

Ibu Takeda, dengan gaya tenang tapi mantap, menyampaikan ketertarikannya untuk melihat langsung lokasi pembangunan rumah sakit di kawasan strategis Metropolitan Rebana. “Saya percaya Subang adalah salah satu mitra daerah yang sangat potensial,” katanya.

Sementara itu, Kamigaki Reiko dari Kedubes Jepang menegaskan bahwa kunjungan ini merupakan sinyal nyata komitmen Jepang dalam memperkuat kerja sama ekonomi lintas wilayah di Indonesia.

Turut hadir dalam pertemuan ini para pejabat penting Subang seperti Sekda H. Asep Nuroni, Asisten Perekonomian dan Pembangunan H. Hidayat, hingga Direktur RSUD Subang dan Kepala Dinas terkait lainnya.

Dengan diplomasi yang diramu dengan pepatah dan tekad membara, Subang kini resmi masuk radar strategis Jepang. Dari lumbung padi, kini siap jadi lumbung inovasi.

Frasa Kunci Utama:

Deskripsi Meta:
Audiensi JICA dan Kemenlu RI di Subang bahas peluang investasi strategis di sektor kesehatan, pendidikan, dan pertanian. Bupati Subang tegaskan komitmen siap berlari bersama Jepang.

Tag:
investasi strategis, Subang Jepang, kerja sama internasional, pembangunan daerah, sektor kesehatan

Subang Ngebut! Forum Otomotif Resmi Dibuka, BYD & Vinfast Jadi Bumbu Pedasnya

Transformasi industri Subang

SUBANG – Jangan remehkan Subang, ya. Kabupaten yang dulu dikenal sebagai lumbung padi kini mulai menjelma jadi “lumbung investasi otomotif”! Rabu, 23 Juli 2025, Wakil Bupati Subang, Kang Akur—nama panggung dari H. Agus Masykur Rosyadi—meresmikan Forum Industri Otomotif yang digelar di Hotel Laska Subang.

Acara bertajuk “Ekosistem Industri Subang dan Sekitarnya” ini bukan cuma sekadar ngumpul-ngumpul biasa, lho. Forum ini jadi ajang silaturahmi strategis antara para pelaku industri otomotif, baik kelas kakap maupun UKM, demi mengatur langkah bersama dalam menghadapi derasnya arus investasi.

Kepala Balai Besar Logam dan Mesin (BBLM) Kemenperin RI, Dr. Gunawan, S.Si., M.Eng., langsung turun tangan. Beliau menyampaikan, “Industri otomotif di Subang tengah bergerak cepat. Besarnya minat investor harus dibarengi kolaborasi antar pelaku industri, baik skala besar, menengah, maupun kecil, termasuk peran pemerintah dalam memperkuat rantai pasok.”

Dan tentu, bukan Subang namanya kalau tidak peduli sama warganya. Gunawan juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas tenaga kerja lokal. “Forum ini menjadi langkah awal kemitraan strategis antara pelaku industri utama dan pendukung, sekaligus meningkatkan kapasitas SDM lokal agar siap bersaing,” tambahnya.

Kang Akur pun tak tinggal diam. Beliau mengapresiasi Kemenperin yang mendukung percepatan industri Subang secara inklusif dan berkelanjutan. “Sinergi seperti ini menjadi pondasi penting dalam membangun Subang sebagai kawasan industri yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga menyejahterakan,” katanya dengan penuh semangat.

Kini, Subang sedang gaspol ke arah percepatan kemajuan, terutama setelah dua Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) resmi hadir. Namun tenang saja, Kang Akur menegaskan bahwa Subang tetap menjaga jati dirinya sebagai lumbung padi nasional ketiga. “KEK ini tidak hanya mempercepat industrialisasi, tetapi juga tetap mempertahankan peran Subang sebagai lumbung padi nasional ketiga,” tegasnya.

Nah, di sinilah peran warga lokal jadi kunci. Jangan sampai jadi penonton di kampung sendiri! “Kehadiran industri besar harus dibarengi pemberdayaan masyarakat lokal. Mereka harus dilibatkan agar benar-benar mendapat manfaat dari geliat pembangunan industri,” kata Kang Akur, menyentil dengan gaya khasnya.

Dengan infrastruktur seperti Tol Cipali dan Pelabuhan Patimban, posisi Subang makin menggoda investor. “Kami berharap pembangunan jalur penghubung dari KM 115 Cipali menuju Patimban bisa segera diselesaikan agar arus logistik makin lancar,” ungkapnya.

Tak ketinggalan, Sri Hastuti Nawaningsih, S.E., M.Si., Sekretaris Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kemenperin RI, menegaskan bahwa pemerintah pusat sudah pasang badan untuk mendukung pelaku industri. “Kementerian Perindustrian siap memberikan layanan konsultasi, bimbingan teknis, hingga sertifikasi. Silakan manfaatkan balai-balai kami,” ujarnya.

Sri Hastuti juga bilang bahwa Forum Industri Otomotif ini punya nilai strategis tinggi dalam membangun ekosistem industri yang sehat. Apalagi dengan masuknya BYD dan Vinfast, ini ibarat cabe rawit di antara sayur lodeh—menyengat dan menggairahkan! “Masuknya BYD dan Vinfast menjadi daya tarik tersendiri. Ini momentum yang tak boleh disia-siakan oleh Subang,” katanya mantap.

Forum ini pun ditutup manis dengan penandatanganan kerja sama antara BBLM dan Pemkab Subang untuk mendukung pengembangan industri kecil dan menengah (IKM). Sesi diskusi kelompok yang dipandu Asisten Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan menjadi panggung bertukar ide. Hadir pula para petinggi dari DPRD Subang, PT Surya Cipta Swadaya, PT BYD Auto Indonesia, hingga kepala dinas dan pelaku industri lainnya.

Subang, siap-siap jadi panggung utama industri otomotif nasional. Dan kita? Jangan cuma nonton—ikut main, dong!

SMA PGRI 1 Subang Meriahkan Hari Anak Nasional: Dari Senam Ceria hingga Kue OSIS!

Hari Anak Nasional SMA PGRI 1 Subang

Subang — Hari Anak Nasional yang jatuh setiap 23 Juli disambut semarak di SMA PGRI 1 Subang! Pada Selasa (23/7), halaman sekolah berubah jadi arena keceriaan dan semangat kebersamaan. Tak sekadar selebrasi, kegiatan ini jadi momen penting untuk memupuk karakter dan kebahagiaan siswa.

Peringatan dimulai dengan upacara yang diikuti seluruh warga sekolah. Upacara berlangsung khidmat, namun langsung disambung dengan suasana happy-happy saat para guru dan siswa larut dalam senam pagi bersama. Gerakan luwes, tawa lepas, dan semangat kompak menyulap halaman sekolah jadi panggung sehat dan bahagia.

Yang tak kalah menghangatkan hati, sekolah memberikan kejutan manis berupa kue ulang tahun dan penghargaan kepada pengurus OSIS dan MPK. Kue dan tepuk tangan jadi tanda apresiasi atas kerja keras mereka membangun kehidupan kesiswaan yang aktif dan positif. Siapa bilang jadi pemimpin muda itu nggak butuh selebrasi?

Keseruan makin pecah dengan digelarnya fun game antar kelas. Permainan edukatif yang dirancang untuk menantang kekompakan tim ini membuat siswa bersorak, berstrategi, dan pastinya… tertawa bersama. Kompetisi tanpa tekanan, justru memperkuat rasa solidaritas di tengah atmosfer sekolah yang penuh warna.

Kepala SMA PGRI 1 Subang, Asep Kahlan, menekankan bahwa Hari Anak Nasional bukan sekadar seremoni. “Hari Anak Nasional adalah pengingat bagi kita semua bahwa anak-anak adalah aset bangsa yang harus dilindungi dan diberi ruang untuk tumbuh dengan bahagia,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa kegiatan ini adalah wadah untuk menanamkan nilai kebersamaan, apresiasi, dan semangat positif.

Lebih dari itu, Asep menyampaikan harapan jangka panjang dari kegiatan ini. “Kami berharap siswa-siswi SMA PGRI 1 Subang dapat tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, semangat gotong royong, dan kepribadian yang kuat,” ungkapnya penuh harap.

Tak hanya menjadi ajang meriah, peringatan Hari Anak Nasional ini sekaligus memperkuat komitmen sekolah dalam membangun lingkungan belajar yang ramah anak, menyenangkan, dan penuh makna.

Lawan Rentenir dengan “Pembiayaan Home”! Subang Dapat Karpet Merah Perumahan dari Menteri PKP & Kang Dedi

Subang — Awas, rentenir minggir! Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait bersama Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi, kini hadir membawa angin segar ke Kabupaten Subang. Lewat program Pembiayaan Home, warga Subang diajak move on dari jeratan “bank emok” menuju pembiayaan rumah yang aman, cepat, dan terjangkau.

“Saya mengucapkan terima kasih atas dukungan Gubernur Jawa Barat atas kolaborasi pembiayaan mikro perumahan untuk masyarakat Jabar. Daripada mereka meminjam dana dari rentenir, lebih baik memanfaatkan fasilitas Pembiayaan Home untuk merenovasi rumah ataupun meningkatkan usaha kecil,” ujar Menteri Maruarar dalam acara hangat di Lembur Pakuan, kediaman resmi Kang Dedi.

Acara ini tak main-main. Sejumlah tokoh penting ikut hadir: Wakil Kepala Staf Kepresidenan M Qodari, Staf Ahli Kementerian Desa Sugito, Sekda Jabar Herman Suryatman, Kadis Perkim, Komisioner BP Tapera, serta Dirut PT Sarana Multigriya Finansial (SMF)—semuanya berkumpul demi satu tujuan: memberi akses pembiayaan rumah mikro yang manusiawi.

Inisiasi program ini hasil kerja tim solid: Kementerian PKP, Pemprov Jabar, PT SMF, BP Tapera, Permodalan Nasional Madani (PNM), dan Bank bjb. Misinya sederhana tapi berdampak besar: masyarakat bisa dapat dana untuk rumah dengan syarat ringan, bunga bersahabat, dan pencairan yang… hanya tiga hari. Cepatnya ngalahin pengiriman paket kilat!

Maruarar menegaskan bahwa kehadiran rentenir dan tengkulak adalah persoalan serius, bukan cuma masalah dompet tapi juga mental dan martabat. Dengan Pembiayaan Home, masyarakat bisa menghindari tekanan tak manusiawi dari pinjaman ilegal. “Lewat program ini, masyarakat tidak perlu lagi marah-marah menghadapi rentenir,” katanya sambil menekankan bahwa ini bukan sekadar janji manis.

Yang paling menyentuh, Menteri PKP berdialog langsung dengan para ibu rumah tangga penerima manfaat. Rata-rata mereka menerima pinjaman sebesar Rp 1 juta, bunga ringan, cair dalam hitungan hari, dan tidak perlu jual panci atau tabung gas buat modal usaha.

Sebagai simbol nyata, Maruarar juga menyerahkan langsung kunci rumah subsidi kepada 20 warga penerima KPR FLPP dari Bank bjb. Seremoni itu pun disambut penuh haru dan rasa syukur dari warga Subang.

Tak ketinggalan, Maruarar mengingatkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan program perumahan harus diberi “karpet merah”. “Ini kami realisasikan melalui program BPHTB dan PBG gratis. Di Jabar saja, ada jutaan rumah tidak layak huni (RTLH) yang harus segera dibenahi,” tegasnya.

Gubernur Kang Dedi Mulyadi ikut menambahkan bumbu semangat. Ia mengatakan meski Jabar menghadapi keterbatasan lahan dan lonjakan kebutuhan rumah, program Pembiayaan Home menjadi solusi praktis bagi warga yang sudah punya tanah atau RTLH. Rumah bisa direnovasi dengan cicilan ringan dan tanpa drama.

Dirut PT SMF, Ananta Wiyogo, juga menyoroti perubahan besar dalam sistem pembiayaan yang kini jauh lebih simpel. “Kita harus melawan rentenir. Sekarang masyarakat bisa dapat dana dalam tiga hari saja. Ini solusi nyata bagi mereka,” ujarnya.

Sementara itu, Sunar Basuki dari PNM menekankan bahwa Pembiayaan Home bukan sekadar pinjaman. “PNM bukan hanya tentang modal, tapi juga modal intelektual dan sosial,” katanya. Program ini dirancang untuk ibu-ibu pejuang ekonomi mikro—bukan hanya diberi dana, tapi juga pelatihan, pendampingan, dan bantuan legalitas usaha.

Per Juni 2025, PNM dan SMF telah menyalurkan dana senilai Rp 1,7 triliun secara nasional. Dan menariknya, Subang jadi salah satu daerah paling aktif dengan 141.000 nasabah pembiayaan mikro perumahan.

Satu hal pasti: dari Lembur Pakuan, semangat perumahan tanpa rentenir kini menyebar ke penjuru Jawa Barat. Dan Subang? Siap melaju di jalur cepat karpet merah pembangunan!

JSubang–Palembang Kolaborasi Ngadi-ngadi: Sinergi Beras Premium, Lawan Inflasi!

kerja sama pangan Subang Palembang

Subang — Ada yang “matang” di luar dandang! Pemerintah Kota Palembang dan Pemerintah Kabupaten Subang resmi meneken deal manis antar daerah: Kesepakatan Bersama dan Perjanjian Kerja Sama soal distribusi pangan, khususnya beras premium—bukan sembarang beras, tapi yang kalau dimasak bisa bikin nasi goreng auto naik kelas!

Penandatanganan yang berlangsung Rabu sore (23/7) di Kantor Bupati Subang ini bukanlah cinta lokasi yang tiba-tiba. Ini adalah kelanjutan dari pendekatan resmi sebelumnya yang sudah dimulai sejak 16 Mei 2025. Jadi bukan karena perjodohan instan.

Dokumen penting itu ditandatangani langsung oleh dua “pemain utama”: Wakil Wali Kota Palembang, Prima Salam, dan Wakil Bupati Subang, Agus Masykur Rosyadi. Aura serius tapi hangat terasa di ruangan, apalagi saat aroma ketahanan pangan dan anti-inflasi mulai menyeruak.

Tak hanya duo pemimpin daerah, acara juga dihadiri para pejabat penting dan perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan. Kepala perwakilan BI Sumsel pun menyatakan dukungan penuh. “Bank Indonesia siap terus mendukung upaya pengendalian inflasi dan penguatan ketahanan pangan di daerah,” ujarnya dengan nada seperti membumbui nasi dengan rempah kebijakan ekonomi.

Ia juga menegaskan bahwa inflasi di Palembang masih aman, stabil, dan on track—tidak seperti harga cabai yang suka meledak mendadak.

Prima Salam, Wakil Wali Kota Palembang, tak ingin kerja sama ini hanya sebatas penandatanganan simbolis. “Saya ingin kerja sama ini benar-benar menjadi langkah konkret. Sepulang dari sini, saya ingin melihat hasil nyata dari MoU ini dalam mendukung pengendalian inflasi di Kota Palembang,” katanya, serius tapi tetap diplomatis.

Lebih lanjut, beliau berharap kerja sama ini bukan cuma urusan beras, tapi juga menjadi pintu gerbang kerja sama lintas sektor, termasuk pengembangan SDM. Pokoknya, dari ladang padi ke ruang pelatihan!

Sementara itu, Wakil Bupati Subang, Agus Masykur Rosyadi, menyambut baik kepercayaan yang diberikan oleh Kota Palembang. “Kami siap membuka pembicaraan kerja sama lanjutan di berbagai sektor. Ini adalah titik awal hubungan baik antara Kabupaten Subang dan Kota Palembang,” ujarnya dengan senyum khas Subang: adem dan tulus.

Tak hanya MoU, acara juga diisi dengan High Level Meeting Pengendalian Inflasi Daerah dan sesi Capacity Building—semacam ngobrol serius soal teknis pengolahan dan distribusi beras di Kabupaten Subang.

Kolaborasi ini bukan sekadar basa-basi beras. Ini adalah strategi konkret yang bertujuan memperkuat ketahanan pangan, menjaga harga tetap waras, dan menggenjot pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan tahan banting.

Compreng Rayakan Ulang Tahun ke-38, Wabup Subang: Saatnya “Ngabret” Menuju UTAMA!

Milangkala ke-38 Compreng

Subang — Alun-alun Kecamatan Compreng berubah jadi panggung kemeriahan pada Rabu (22/7/2025), saat warga tumpah ruah merayakan Milangkala ke-38. Tapi ini bukan ulang tahun biasa. Ini pesta rakyat yang dibalut semangat gotong-royong, kekeluargaan, dan tentu saja… semangat Ngabret ala Subang!

Camat Compreng, Cecep Rahmat, membuka acara dengan penuh semangat. Ia menyampaikan rasa terima kasih setulus ulekan sambal, kepada Wakil Bupati Subang, Agus Masykur Rosyadi, yang menyempatkan hadir di tengah-tengah warga. “Semangat gotong-royong, kekeluargaan, dan kekompakan warga Compreng yang disertai dengan do’a, adalah modal penting untuk terus ‘Ngabret’ bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Subang,” ujarnya dengan nada penuh harap.

Tak hanya itu, Cecep juga menyuarakan tekad Kecamatan Compreng untuk terus bergerak maju. “Dengan Milangkala ke-38 ini, Kecamatan Compreng diharapkan, terus bergerak menuju wilayah yang Unggul, Tangguh, dan Makmur (UTAMA),” ujarnya, menyebut slogan andalan pembangunan wilayahnya.

Wakil Bupati pun tak tinggal diam. Dalam sambutannya yang penuh energi seperti kopi robusta dua sendok, beliau mengucapkan selamat ulang tahun bagi Kecamatan Compreng. “Selamat ulang tahun ke-38 untuk Kecamatan Compreng. Usia ke-38 merupakan usia yang matang penuh energi. Semoga makin maju dengan semangat Ngabret, bekerja dengan lebih cepat lagi,” tuturnya penuh optimisme.

Namun perayaan tak hanya soal tepuk tangan dan tumpeng. Wabup juga merespons aspirasi warga soal jalanan yang berlubang bagai permukaan bulan. Ia menegaskan bahwa Pemkab Subang tak tutup mata. “Perlu diketahui, jalan-jalan akan diperbaiki di Kabupaten Subang, terutama Compreng juga,” jelasnya, seperti menabur harapan di atas aspal.

Sambil meminta maaf atas ketidaknyamanan yang mungkin dirasakan warga, ia juga menjelaskan bahwa perbaikan infrastruktur bukan seperti masak mie instan—perlu perencanaan dan proses yang matang. “Pemkab Subang terus berkomitmen memperbaiki sarana prasarana umum, dan infrastruktur di seluruh wilayah, termasuk Compreng,” tegasnya.

Dan sebagai penutup yang manis seperti dodol Garut, Wabup kembali menyuarakan harapan besar untuk Kecamatan Compreng. “Selamat milangkala, In Syaa Allah, Compreng UTAMA (Unggul, Tangguh, Makmur) menuju Subang religius, adil, makmur dengan semangat pembangunan Ngabret,” pungkasnya.

Judul:Drama Gas Melayang: Dua Pria, Ribuan Tabung Kosong, dan Aksi “Kirim-Tapi-Hilang”

penggelapan tabung gas elpiji Subang

Subang — Ada yang hilang di langit-langit dapur warga, dan bukan… bukan wajan bolong atau sendok yang nyangkut di rak atas. Kali ini, hilangnya ribuan tabung gas elpiji 3 kilogram kosong bikin heboh! Lokasinya? Sebuah perusahaan bernama PT Samudra Sinergi Industri (SSI) di Kecamatan Pabuaran, Subang, Jawa Barat.

Kapolres Subang, AKBP Dony Eko Wicaksono, membenarkan bahwa insiden ini bukan sekadar drama harian emak-emak kehabisan gas saat masak mi instan. “Akibat penggelapan itu, PT SSI mengalami kerugian hingga mencapai Rp100 juta,” ujar beliau saat konferensi pers penuh kejutan di Mapolres Subang, Rabu lalu.

Dua pria dengan inisial AP (42) asal Bekasi dan AF (39) asal Brebes jadi bintang utama dalam kasus ini—tentu bukan karena aktingnya, tapi karena aksinya. Mereka diciduk di Kecamatan Wanasari, Brebes, saat diduga hendak melanjutkan “tour de penggelapan”.

Lebih lucunya, saat ditangkap, mereka sedang asyik mengangkut perabotan rumah tangga dari Daan Mogot, Jakarta Barat. Barang-barang ini juga diduga akan diboyong ke Surabaya dengan modus yang sama. Entah tabung gas, entah lemari bumbu, siapa yang tahu?

Dari tangan keduanya, polisi mengamankan beragam souvenir digital: surat jalan, CCTV, bukti transfer, chat WhatsApp yang (mungkin) lebih panjang dari status galau, flashdisk, buku tabungan, dan sejumlah dokumen lain. Lengkap, tinggal kurang playlist Spotify.

Ternyata, ini bukan kerja sendirian. Ada tiga orang lain yang sedang dalam pengejaran: satu bertugas menjual barang hasil kejahatan, satu penyedia armada, dan satu lagi pendamping sopir. Wah, tim ini komplit—cuma kurang manajer logistik.

Kronologi bermula akhir April 2025, saat kedua tersangka mempromosikan jasa angkutan barang lewat media sosial. Mereka berhasil menggaet orderan mengangkut tabung kosong dari Subang ke Cirebon. Tapi alih-alih sampai tujuan, tabung-tabung itu malah “terdampar” entah ke mana.

Kini, keduanya mendekam di rumah tahanan Mapolres Subang. Mereka dikenakan Pasal 372 dan 374 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun. Harapannya, tentu bukan cuma gas yang kembali, tapi juga kepercayaan.

Recent Posts