Beranda blog Halaman 86

Kang Rey Hadir di Milangkala Cikadu: Budaya, Tumpeng, dan Semangat yang Tak Luntur

Milangkala Desa Cikadu ke-46
Foto: subang.pikiran-rakyat.com

Subang – Ada yang beda di Desa Cikadu, Kecamatan Cijambe, akhir pekan kemarin. Suasana desa yang biasanya tenang berubah menjadi meriah luar biasa. Tak lain karena perayaan Milangkala ke-46 Desa Cikadu yang penuh warna dan rasa—dan eh, ada aroma tumpeng yang menggoda juga!

Di tengah semarak itu, hadir sosok yang sudah tak asing lagi: Bupati Subang, Reynaldy Putra Andita B.R., atau yang akrab disapa Kang Rey. Dengan senyum khasnya, beliau menyampaikan apresiasi tinggi kepada warga Cikadu atas semangat luar biasa dalam membangun desa yang tak hanya maju, tapi juga sarat nilai budaya.

“Kang Rey datang bukan cuma buat duduk manis,” begitu kira-kira celetukan warga. Dan benar saja, beliau ikut nimbrung menyapa warga, menyantap hidangan khas desa (yang katanya pedasnya ngangenin), dan menyaksikan pawai alegoris yang jadi primadona acara. Tak sendiri, Kang Rey didampingi oleh Kepala DPMD H. Heri Sopandi, Kabag Tapem, dan Camat Cijambe. Serius tapi santai, formal tapi tetap membumi.

Kemeriahan Milangkala ke-46 tak main-main. Dari upacara sakral hingga pertunjukan seni, semua digelar penuh semangat gotong royong. Ada juga lomba dongdang dan lomba tumpeng yang bikin warga adu kreatif dan adu rasa. Lengkap sudah: budaya dilestarikan, perut dimanjakan.

Milangkala ini bukan sekadar ulang tahun. Di usia 46 tahun, Desa Cikadu tak hanya menengok ke belakang, tapi juga memandang ke depan: menjadi desa yang mandiri, berdaya saing, dan tetap mencintai akar budaya sendiri.

Kalau kata pepatah, “Jangan lupakan akar meski tumbuh tinggi.” Dan Cikadu membuktikan, mereka bukan hanya ingat akar, tapi juga rajin menyiramnya dengan semangat kebersamaan.

VESCO 2025: Parade Mahasiswa Jago Ngomong Inggris dari Subang yang Bikin Kagum!

VESCO 2025 Universitas Subang

Subang — Kalau biasanya hari Sabtu identik dengan rebahan, lain cerita dengan mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Subang. Pada Sabtu, 28 Juni 2025 kemarin, mereka justru tampil bak pembicara internasional dalam ajang keren bernama Virtual English Education Students Conference alias VESCO 2025. Bukan di aula, tapi di Zoom Meeting — karena ya, zaman sudah digital, bukan?

VESCO bukan cuma ajang pamer lidah Inggris-Enggrisan, tapi juga wujud nyata dari kurikulum kekinian bernama Outcome-Based Education (OBE). Bayangkan, mata kuliah Speaking for Academic Purposes II bukan lagi sekadar hafalan teori dan tugas PPT, tapi langsung disulap jadi konferensi ilmiah! Mahasiswa dituntut bukan cuma bisa ngomong, tapi ngomongin yang ilmiah — dalam Bahasa Inggris pula!

Dekan FKIP Universitas Subang, Nita Delima, pun menyambut hangat acara ini. Dengan senyum bangga, ia mengatakan, “VESCO adalah bentuk nyata dari pembelajaran berbasis luaran. Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tapi juga mempraktikkan kemampuan akademik mereka dalam forum ilmiah.” Wah, sudah kayak konferensi dosen-dosen internasional, nih!

Dan jangan kira pesertanya cuma dari satu kampus. VESCO 2025 diikuti oleh 80 peserta! Mahasiswa semester empat Universitas Subang tampil bareng pemakalah dari Universitas Al Masoem dan para guru Bahasa Inggris se-Kabupaten Subang. Bisa dibayangkan, Zoom Meeting hari itu ramai dengan suara beraksen lokal sampai internasional!

Sebagai bintang tamu, hadir Dr. Kiky Soraya, S.Pd., M.Pd., dosen Sastra Inggris dari Universitas Bina Nusantara (Binus). Beliau membawakan materi yang bikin dahi mengernyit tapi hati tercerahkan: pentingnya komunikasi akademik dalam Bahasa Inggris di era global. Intinya, kalau mau sukses di dunia internasional, lidah harus luwes dan isi kepala harus padat!

Dalam sesi paralel, mahasiswa tampil layaknya ilmuwan muda: presentasi, argumentasi, dan debat — semua dalam Bahasa Inggris. Selain mengasah kemampuan berbicara, ajang ini jelas jadi pelatihan kepercayaan diri tanpa harus naik panggung beneran. Cukup di depan kamera, asal sinyal lancar!

VESCO kini jadi acara tahunan yang bukan hanya ditunggu-tunggu, tapi juga jadi simbol bahwa FKIP Universitas Subang memang serius mencetak lulusan yang fluent secara akademik, dan pede secara global.

ASN Indisipliner Jadi Polisi Truk? Kebijakan Bupati Subang Tuai Pro-Kontra Pedas!

ASN indisipliner Subang

SUBANG — Bayangkan begini: pegawai negeri yang biasanya telat absen dan susah diajak rapat, kini malah bertugas mengawasi kendaraan berat di jalanan. Sounds like a plot twist? Bukan drama Korea, ini kebijakan nyata dari Bupati Subang, Reynaldy Putra Andita!

Sesuai Peraturan Bupati Subang Nomor 21 Tahun 2025, ASN yang ketahuan bandel diberi tugas baru: menjaga operasional kendaraan berat agar tak melanggar jam terbang—eh, jam operasional maksudnya. Tujuannya mulia, supaya jalanan tak cepat rusak dan angka kecelakaan bisa ditekan.

Namun, niat baik tak selalu berbuah manis. Tokoh masyarakat Rakean Galuh Pakuan Niskala Mulya Rahadian Fathir (panjang banget ya, kayak nama tokoh pewayangan bertitel bangsawan) melayangkan kritik pedas. “Kebijakan ini keliru,” ujar Fathir lugas, Jumat (4/7/2025), dari kediamannya yang pasti tidak dekat dengan pos pengawasan truk.

Menurutnya, menempatkan ASN indisipliner di lapangan yang minim pengawasan justru membuka potensi kekacauan baru. “Ketika bekerja di kantor saja mereka tidak disiplin, apalagi di lapangan yang minim pengawasan. Mereka bisa bertindak sesuka hati,” katanya. Waduh, jadi bukannya menertibkan, malah bisa jadi nambah masalah?

Tak cuma soal ketidakefektifan, Fathir juga menyorot potensi bahaya bagi masyarakat. Pengawasan kendaraan berat, katanya, bukan urusan sepele. “Ini menyangkut urusan nyawa, bukan main-main,” tegasnya. Coba bayangkan, ASN yang salah baca rambu malah ngatur lalu lintas truk kontainer—ciye, potensi viral di TikTok?

Dan bukan cuma logika lapangan yang digugat. Secara aturan pun, kata Fathir, kebijakan ini bisa bikin dahi para pakar kebijakan berkerut. Dalam UU ASN Nomor 5 Tahun 2014, penempatan ASN harus berdasarkan kompetensi. Belum lagi PP Nomor 94 Tahun 2021 yang menyebut hukuman disiplin harus bersifat mendidik dan proporsional. Lha, ini malah dilempar ke lapangan, tanpa pelatihan pula!

“Penempatan ASN indisipliner di lapangan tanpa pelatihan, atau latar belakang yang memadai, dikhawatirkan bertentangan dengan semangat reformasi birokrasi,” tambah Fathir. Ironisnya, semangat reformasi itu sendiri merupakan jargon favorit Pak Bupati. Duh, jadi kayak menembak kaki sendiri ya?

Apakah ini akan jadi kisah sukses ala underdog story ASN yang akhirnya berubah jadi pahlawan lalu lintas? Ataukah malah jadi bahan evaluasi kebijakan viral edisi berikutnya? Hanya waktu (dan laporan pengawasan) yang bisa menjawab.

“Ngabret di Hulu Cipunagara: DLH Subang Tanam 150 Bibit, Bikin Alam Tersenyum Lebar!”

DLH Subang tanam pohon
Reformasibangsa.co.id

Subang – Kalau kamu pikir Jumat itu waktunya rebahan dan ngopi santai, maka Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Subang punya definisi lain: Jumat tanam pohon!

Yup, Jumat (4/7/2025) kemarin, Plt Kepala Dinas LH Subang, Iwan Rudianto, dengan semangat ala superhero lokal, turun langsung ke Desa Cibeusi, Kecamatan Ciater. Tapi tenang, beliau tidak datang membawa jubah, melainkan 150 bibit pohon siap tanam. Lokasi sasarannya? Hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Cipunagara. Keren nggak tuh?

Dan jangan bayangkan beliau kerja sendiri seperti petani solo. Bareng-bareng dong! Pemerintah Kecamatan Ciater, Pemdes Cibeusi, dan warga sekitar juga ikut nimbrung tanam-menanam. Pohon-pohon yang ditanam pun bukan sembarang tumbuhan. Ada huru hiris, lemo, dan puspa—nama-nama yang terdengar seperti calon personil boyband alam.

Gerakan ini bukan cuma soal tanam-tanam lalu tinggal, tapi jadi bukti nyata kalau DLH Subang sedang Ngabret alias gaspol dalam menjaga bumi. Sebelumnya, mereka juga sukses bikin geger positif dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025. Acara itu digelar di Aula Pemda dan Halaman Kantor Bupati Subang. Meriah? Jangan ditanya!

Talkshow seru? Ada. Bazar UMKM? Meriah. Kolaborasi dengan stakeholder dan perusahaan lokal? Mantap. Semua terselenggara tanpa drama, tapi penuh semangat menjaga bumi tetap lestari dan cantik paripurna.

Langkah ini tentu sejalan dengan mimpi besar Bupati Subang Reynaldy Putra Andita dan Wakilnya, Agus Masykur Rosyadi, lewat program “Ngawangun Bareng Rakyat” alias “Ngabret.” Jadi kalau kamu denger kata “Ngabret,” jangan bayangkan motor ngebut, tapi bayangkan masa depan hijau yang lagi dikejar rame-rame!

Saba Desa di Purwadadi: Kang Rey, Jogging Track, dan Gong Milangkala yang Menggema

Saba Desa Purwadadi
Foto: kotasubang.com

Subang — Jumat cerah di Purwadadi mendadak jadi lebih riuh, bukan karena pasar kaget, tapi karena rombongan penting datang dengan semangat pembangunan. Yap, Pemerintah Kabupaten Subang kembali menggulirkan program andalannya: Saba Desa! Kali ini, giliran Kecamatan Purwadadi yang kebagian sentuhan Kang Rey—sapaan akrab Bupati Subang, Reynaldy Putra Andita B.R., S.IP.—yang datang lengkap bersama Wakil Bupati H. Agus Masykur Rosyadi, S.Si., M.M.

Warga menyambut meriah, seperti menyambut mantu datang bawa tumpeng. Dengan senyum khasnya, Kang Rey blusukan meninjau proyek pembangunan infrastruktur yang jadi andalan. Salah satunya adalah pembangunan jalan Curuluk-Wanakerta sepanjang 400 meter di Dusun Babakan, hasil kerja sama apik bareng PT Intijaya lewat program CSR. Belum cukup? Tentu tidak. Jalan penghubung Purwadadi Barat–Panyingkiran di Dusun Kadalangan pun ikut dikulik.

Kang Rey tak hanya menengok jalan, tapi juga mampir ke kantor desa—dari Wanakerta, Blendung, sampai Koranji. Dan ada satu momen manis yang bikin netizen pecinta lari ikut senyum-senyum: peresmian jogging track di Desa Panyingkiran! Peresmiannya pun elegan, dengan penandatanganan prasasti. Biar larinya makin sah dan berfaedah.

Nah, ini dia bagian yang bikin hati adem. Saba Desa juga menyalurkan kepedulian sosial. Sebanyak 26 anak mengikuti khitanan massal. Tangis kecil itu, adalah tapak awal jadi pejuang sejati! Tak lupa, panyecep dan santunan untuk anak-anak yatim pun dibagikan secara simbolis. Pemerintah hadir, bukan hanya saat kampanye, tapi juga saat masyarakat butuh pelukan kebijakan.

Lapangan hijau pun tak luput dari euforia. Kang Rey membuka resmi Piala Soeratin U13 & U15 Elita Budiati Cup 2025. Bola diserahkan ke wasit, dan kick-off jadi simbol semangat sportivitas dan pembinaan bakat muda Subang.

Dalam acara ini, para pahlawan dari sektor swasta pun tak dilupakan. Piagam penghargaan diserahkan ke perusahaan-perusahaan yang konsisten membantu pembangunan daerah. Ada PT Seba Indah, PT Indonesia Nippon Anugerah, dan PT Evoluzione Tyres Subang. Bukti nyata bahwa gotong royong bukan cuma urusan tetangga saat ngangkat tenda kawinan.

Satu lagi yang tak kalah spesial: Milangkala ke-57 Kecamatan Purwadadi dibuka resmi! Kang Rey, didampingi Wakil Bupati, Sekda, dan Camat Purwadadi, memukul gong. “Gong!”—suaranya menggema sampai ke hati warga. Ditutup dengan pertandingan sepak bola persahabatan antara tim Subang Ngabret dan Purwadadi Maslahat. Bukan sekadar laga, tapi simbol kebersamaan yang menggelindingkan harapan.

Turut hadir dalam kemeriahan ini Ketua DPRD Kabupaten Subang, Sekretaris Daerah, para kepala OPD, unsur Forkopimcam, perwakilan Apdesi, hingga Karang Taruna se-Kecamatan Purwadadi. Semuanya bersatu dalam semangat: membangun Subang dari desa, bukan dari meja kerja saja.

DAHANA Tembus Rp3,7 Triliun! RUPS 2024 Dibuka dengan Dentuman Prestasi

RUPS PT DAHANA 2024

suarasubang.com – Suasana Hotel Shangri-La, Jakarta, mendadak terasa seperti panggung pesta prestasi pada Senin, 30 Juni 2025. Bukan karena ada konser, tapi karena PT DAHANA, jagoan bahan peledak dari Holding Defend ID, sedang menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahun Buku 2024. Kalau ini bukan momen meledak-ledak (dalam arti positif, tentu saja), apa lagi namanya?

Direktur Utama PT DAHANA, Hary Irmawan, tampak percaya diri seperti kapten kapal yang baru saja menembus badai. Di tengah ketatnya kompetisi industri bahan peledak, DAHANA sukses membukukan pendapatan usaha sebesar Rp3,7 triliun. Boom! Angka yang cukup buat beli… ya, banyak banget kembang api lebaran.

“Situasi industri yang penuh tantangan tidak menyurutkan langkah kami untuk terus tumbuh dan berinovasi. Pencapaian ini membuktikan bahwa DAHANA tetap menjadi pemain utama dalam industri bahan peledak di Indonesia. Secara khusus kami ucapkan terima kasih kepada induk holding, dewan komisaris, dewan direksi, seluruh karyawan, serta konsumen yang telah mempercayakan DAHANA,” ujar Hary Irmawan, dengan nada penuh semangat bak pelatih sepak bola usai menang dramatis di injury time.

Tak cukup sampai di situ, Hary juga menyebut DAHANA berhasil mencapai 88,09% dari target KPI perusahaan. Dan ini bukan angka hasil kira-kira. Audit dari Kantor Akuntan Publik Gani Sigiro & Handayani “Grant Thornton” jadi saksi sahihnya. Artinya, DAHANA bukan hanya gesit, tapi juga tertib—ibarat pemain akrobat yang tetap pakai sabuk pengaman.

Dan ini dia bonus levelnya: peringkat kredit dari Pefindo masih aman di idA-/Stable. Singkatnya, keuangan DAHANA bukan cuma stabil, tapi juga tahan guncangan—kayak mobil off-road yang tetap elegan meski lewat jalan rusak.

“Peringkat ini menjadi bukti kepercayaan pasar terhadap fundamental keuangan dan prospek usaha DAHANA. Kami akan terus menjaga tata kelola perusahaan dan kinerja yang berkelanjutan, kami memohon doa dari seluruh peserta RUPS, semoga ke depan DAHANA dapat terus tumbuh dan berkembang,” imbuh Hary, seolah menyemai harapan dengan semangat 45.

Selain merayakan pencapaian, RUPS kali ini juga merumuskan langkah strategis untuk masa depan. DAHANA siap pasang kuda-kuda: memperkuat teknologi, menghemat operasional, dan mengekspansi pasar lokal maupun global. Intinya, mereka ingin jadi lebih dari sekadar “raja petasan”—tapi menjadi pemimpin teknologi peledak yang meletup ke pentas dunia.

Dengan modal semangat, strategi tajam, dan dukungan stakeholder, DAHANA tampaknya siap menyulut gelombang pertumbuhan berikutnya. Tunggu dentumannya, kawan!

FORMAL Subang “Ngumpul Bareng” di Hotel Laska: Mantan Tapi Masih Berdaya!

FORMAL Subang

SUBANG – Ada yang seru di Hotel Laska Subang, Rabu, 2 Juli 2025. Bukan reuni SMA, bukan juga lomba karaoke antar mantan. Tapi, Sarasehan Mantan Anggota DPRD Subang dan Rapat Kerja FORMAL (Forum Mantan Anggota Legislatif) Kabupaten Subang! Acara ini bukan cuma ajang nostalgia, tapi jadi ajang rembug nasional versi lokal demi Subang tercinta.

Dengan tema yang cukup bikin dada berdesir: “FORMAL Bersatu dalam Kebersamaan, Berkarya untuk Masa Depan Subang,” acara ini mengajak para mantan anggota legislatif untuk kembali naik panggung—bukan buat kampanye, tapi buat kolaborasi membangun daerah.

Ketua Pelaksana acara, Drs. Asep Setia Permana, bilang bahwa tujuan acara ini adalah mempererat silaturahmi dan menggali peran strategis FORMAL dalam pembangunan. Katanya, “biar mantan-mantan ini tetap produktif, bukan hanya aktif di grup WhatsApp alumni.”

Ketua FORMAL Subang, Rohmani, S.H., juga menambahkan dengan tegas, “FORMAL harus hadir dan bermanfaat, bukan hanya sebagai organisasi, tetapi menjadi bagian dari solusi.”
Maksudnya, jangan sampai FORMAL jadi kayak mantan yang cuma datang pas butuh doang.

Nah, momen paling simbolis dalam acara ini adalah ketika FORMAL menyerahkan dokumen sikap organisasi ke Wakil Bupati Subang, H. Agus Masykur Rosyadi alias Kang Akur. Ini bukan surat cinta, tapi komitmen nyata untuk ikut ambil bagian dalam masa depan Subang.

Wakil Ketua II DPRD Subang, H. Kosim, juga tak mau ketinggalan. Ia kasih tepuk tangan dan dukungan penuh buat kegiatan ini. Katanya, “Sebagai mantan anggota legislatif sekaligus warga negara, kita tetap punya tanggung jawab membangun Subang.”
Wah, mantan yang bertanggung jawab, idaman banget, ya?

Kang Akur sendiri tampil seperti biasanya—kharismatik dengan sedikit bumbu semangat gotong royong. Ia menegaskan bahwa ide dan gagasan dari para mantan ini tetap sangat penting dalam pembangunan. “Kita mengedepankan gotong royong, kolaborasi pentahelix, dan partisipasi aktif masyarakat dalam membangun Subang yang unggul, maju, dan kompetitif,” ujarnya.
Subang, siap melesat bareng mantan!

Acara ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, mulai dari Dewan Penasihat dan Pembina FORMAL, Danlanud Suryadi Suryadarma, Kajari Subang, Ketua Kadin, hingga para kepala OPD dan jajaran Forkopimda. Lengkap, kayak nasi tumpeng waktu syukuran rumah baru.

Singkatnya, walau statusnya mantan, mereka bukan berarti selesai. Justru, FORMAL ingin jadi bagian dari cerita sukses Subang ke depan. Mantan yang gak move on? Bukan. Ini mantan yang still got it!

30 ASN Ikuti Sertifikasi Barjas di Subang, Tapi yang Lulus Cuma Segelintir?

pelatihan barjas subang

SUBANG – Ada yang menarik dari aula BKPSDM Kabupaten Subang, Rabu pagi (2/7/2025). Bukan pengajian atau rapat dadakan, tapi… pelatihan serius dan agak bikin deg-degan: Sertifikasi Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Level 1 alias Barjas.

Sebanyak 30 peserta dari sekitar 20 OPD dan beberapa kecamatan datang dengan wajah penuh harap (dan mungkin sedikit gugup). Mereka tidak sedang antre sembako, tapi bersiap ikut pelatihan tiga hari penuh—dari Selasa sampai Rabu.

Kepala Bidang Pembinaan Aparatur BKPSDM Subang, Desi Agustiani, yang tampak tenang namun tegas, menjelaskan bahwa para peserta ini akan disiapkan menjadi Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).

“Pelatihannya selama 3 hari, dari Selasa sampai Rabu, pesertanya 30 orang dari sekitar 20 OPD pemkab dan staf beberapa kecamatan,” ujar Desi kepada Subang RBO.

Tapi jangan salah sangka, pelatihan ini bukan sekadar datang, duduk, ngopi, lalu dapat sertifikat. Ini Barjas, Bung! Dan untuk jadi PPK, seseorang harus lulus tiga level diklat dan sertifikasi. Yang ini baru level 1, dan sudah bikin keringat dingin.

Desi pun angkat bicara soal tingkat kelulusan, yang ternyata lebih langka daripada kuota umroh gratis.

“Paling yang lulus pelatihan dan sertifikasi barjas ini hanya 5 atau 6 orang,” ucapnya polos tapi jujur.

Kenyataan ini memang bikin ciut nyali. Tapi Desi tetap berharap banyak. Ia ingin makin banyak peserta yang lulus, supaya kebutuhan SDM PPK bisa terpenuhi.

“Jumlah PPK di kita masih minim, idealnya tiap dinas atau OPD itu PPK-nya 5 orang,” tambahnya, sambil mengisyaratkan bahwa barisan PPK saat ini masih lebih tipis dari kerupuk mentah.

Jadi, siapa bilang jadi PPK itu gampang? Selain harus kuat mental, juga harus tahan uji. Tapi kalau lulus, siapa tahu bisa jadi pahlawan pengadaan dinas!

Frasa kunci utama:
Deskripsi meta: Sebanyak 30 peserta mengikuti Pelatihan dan Sertifikasi Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (Barjas) Level 1 di Subang. Tapi hanya sedikit yang diprediksi lulus.

Tag: pelatihan ASN, sertifikasi barjas, PPK Subang, pengadaan barang dan jasa, BKPSDM Subang

Subang Darurat Dua Penyakit Serius, Tapi Satu Masih Aman: Ini Kata Kadinkes!

HIV/AIDS dan TBC di Subang

SUBANG – Ada kabar yang agak bikin kening berkerut dari Kabupaten Subang. Dinas Kesehatan setempat tengah waspada tinggi terhadap tiga penyakit yang bikin WHO pun angkat alis: HIV/AIDS, TBC, dan malaria. Tapi tenang, nggak semuanya bikin dag-dig-dug. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, dr. Maxi, mengonfirmasi bahwa dua dari tiga penyakit ini cukup menggeliat angkanya di Subang: HIV/AIDS dan TBC.

“Untuk penyakit HIV/AIDS dan TBC, tak hanya menjadi fokus global, tetapi juga untuk skala Kabupaten Subang, sudah menjadi perhatian utama kita,” ujar dr. Maxi kepada RRI di Subang, Kamis (3/7/2025).

Nah, kalau soal malaria? Tenang dulu, Subang masih adem ayem. Menurut Kadinkes, penyakit yang satu ini belum pernah muncul batang nyamuknya di wilayah mereka. Kecuali kalau kita nyasar ke hutan Kalimantan atau Papua—barulah malaria bisa ajak kenalan.

“Alhamdulillah, untuk di Subang, selama ini malaria tidak pernah kita ketemukan,” terangnya dengan nada sedikit lega.

Tapi jangan dulu tarik napas panjang. Data 2025 menyebutkan, kasus HIV/AIDS di Subang sudah menyentuh angka wah: 10.362 kasus! Sementara itu, penderita TBC juga tak kalah menyedihkan, dengan angka 6.276 kasus. Ini bukan jumlah undangan resepsi, ini jumlah orang yang sedang bertarung dengan penyakit.

“Kasus HIV/AIDS di Subang sampai 2025 ini, tercatat 10.362 kasus, sedangkan TBC mencapai 6.276 kasus,” ungkap dr. Maxi dengan nada serius.

Meski begitu, dr. Maxi dan timnya tidak tinggal diam. Mereka terus berjibaku—bukan dengan jurus silat, tapi dengan strategi pengobatan dan pencegahan. Tujuannya satu: jangan sampai muncul kasus baru yang bikin repot semua lini.

“Kami saat ini, terus berupaya melakukan pencegahan, guna mengantisipasi munculnya kasus baru di Kabupaten Subang,” pungkasnya mantap.

Motoran Rukun, Subang Pun Aman: Aksi Damai dari Jalanan ke Aula!

sinergi polisi dan komunitas motor Subang

SUBANG — Siapa bilang dunia motor cuma soal knalpot berisik dan gaya ugal-ugalan di jalan? Di Kabupaten Subang, justru para pendekar jalanan ini menunjukkan taji yang berbeda. Bukan lewat suara mesin, tapi lewat suara komitmen!

Bertempat di Aula Patriatama Polres Subang, para jagoan jalanan dari Moonraker, Brigez, XTC, dan RPM datang berbondong-bondong. Bukan untuk adu gas, tapi untuk duduk manis dalam acara Silaturahmi dan Penandatanganan Deklarasi Bersama. Dipandu langsung oleh Wakapolres Subang, Kompol Endar Supriyatna, S.Kom., S.I.K., kegiatan ini sukses bikin suasana adem meski diisi para riders garang. Total ada 40 peserta—lumayan, cukup buat bikin rombongan iring-iringan kalau lagi touring!

Dalam sambutannya, Kompol Endar tak segan menyampaikan rasa salutnya. Ia bilang, “Kabupaten Subang memiliki wilayah yang sangat luas, oleh karena itu Polres Subang sangat membutuhkan dukungan dan partisipasi aktif dari rekan-rekan kelompok motor agar tercipta situasi yang aman dan kondusif.”

Wakapolres juga dengan gamblang menyoroti stigma yang kerap menempel di komunitas motor. Yup, image negatif kadang nempel gara-gara ulah satu-dua oknum. Kompol Endar mengajak semua organisasi motor untuk rutin melakukan pembinaan, menghindari sikap anarkis, dan rajin ikut kegiatan edukatif kayak safety riding dan penyuluhan hukum.

Nah, momen yang paling menyentuh datang saat semua perwakilan kelompok motor berdiri bareng, membacakan, dan menandatangani Deklarasi Pernyataan Sikap. Gaya motor boleh beda, tapi niat menjaga Subang tetap satu suara—aman dan kondusif!

Setelah deklarasi, giliran Kasat Reskrim Polres Subang ambil alih panggung. Beliau memaparkan materi hukum yang nggak main-main. Mulai dari bahaya pengeroyokan, penganiayaan, hingga ujaran kebencian dan kenakalan remaja, semuanya dibahas tuntas. Gak ada lagi tuh yang bisa bilang “nggak tahu aturan”.

Acara ditutup manis pukul 15.00 WIB. Suasana penuh canda, hangat kayak keluarga yang lama nggak ketemu. Tak ada bunyi klakson, hanya suara komitmen yang menggema: motoran boleh, tapi jangan lupa aturan!

Recent Posts