Beranda blog Halaman 84

80 Persen Ruang Kelas SD di Subang Rusak, Butuh Anggaran Ratusan Miliar

ruang kelas SD rusak Subang

Subang – Kondisi infrastruktur pendidikan dasar di Kabupaten Subang memprihatinkan. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Subang, Nunung Suryani, mengungkapkan bahwa sekitar 80 persen ruang kelas Sekolah Dasar (SD) di wilayahnya mengalami kerusakan berat dan tidak layak digunakan untuk proses belajar mengajar.

“Bahwa dari total 5.824 ruang kelas SD, yang masih baik layak kondisinya hanya 1.203 atau sekitar 20,7 persen yang masih dalam kondisi baik,” ujar Nunung dalam pernyataan yang diunggah melalui akun media sosial @kangdedimulyadichannel, Jumat, 25 Juli 2025.

Artinya, sebanyak 4.621 ruang kelas SD perlu segera diperbaiki. “Angka ini setara dengan 79,3 persen, atau hampir 80 persen dari total ruang kelas SD di Subang,” lanjutnya.

Untuk menanggulangi persoalan tersebut, Pemkab Subang telah mengalokasikan anggaran perbaikan sebesar Rp314 miliar dalam APBD 2026. Estimasi itu dihitung dengan asumsi kebutuhan dana sebesar Rp128 juta per ruang kelas.

Namun, ketika dipaparkan di hadapan Gubernur Jawa Barat dan Bupati Subang Reynaldy Putra Andita, angka tersebut dianggap jauh dari kebutuhan ideal. Gubernur yang akrab disapa KDM memperkirakan bahwa kebutuhan riil bisa mencapai lebih dari Rp1,4 triliun. Asumsinya, biaya pengadaan satu ruang kelas mencapai Rp350 juta.

“Sudah kita hitung untuk (perbaikan ruang kelas) SD itu Rp314 miliar,” jelas Nunung menegaskan.

Sementara itu, kondisi ruang kelas tingkat SMP dinilai lebih baik. Dari total 3.854 ruang kelas SMP, sebanyak 2.028 ruang tercatat masih dalam kondisi baik.

“Untuk ruang kelasnya ada 3.854. Yang (dalam kondisi) baik 2.028. Jadi sudah lebih bagus kalau SMP. Dari total 1.826 ruang kelas SMP yang tidak layak pakai, 777 di antaranya mengalami kerusakan berat dan sedang,” tandasnya.

Kasus DBD di Subang Meningkat, 6 Meninggal Dunia

Kasus DBD Subang 2025
Foto: www.westjavatoday.com

Subang – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Subang, Jawa Barat, terus mengalami lonjakan. Hingga akhir Juli 2025, tercatat 601 kasus, dengan enam korban jiwa.

Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Subang mengungkapkan bahwa sebagian besar pasien meninggal karena terlambat mendapatkan penanganan medis. Saat dilarikan ke rumah sakit, kondisi trombosit mereka sudah sangat rendah.

Korban meninggal akibat DBD berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari remaja hingga lansia. Wilayah Kecamatan Subang mencatat jumlah kasus tertinggi, yakni 81 kasus sejak awal tahun.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, Maxi, mengingatkan pentingnya kewaspadaan dan peran aktif masyarakat dalam pencegahan. Warga diminta untuk rutin menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, mendaur ulang barang bekas, serta menjaga kebersihan lingkungan agar bebas genangan.

“Kasus DBD yang tercatat dari seluruh puskesmas total ada 601 kasus, kasus tertinggi mulai Januari jatuh pada Mei dan Juni ada 157 kasus per bulan. Namun pada akhir Juli menurun dengan 40 kasus, dan angka kematian hingga Juli ini ada enam orang kematian di enam kecamatan, Ciasem, Kalijati, Rawa Lele, Cikaum, dan Kecamatan Subang,” ujarnya.

Penerapan langkah-langkah pencegahan sederhana tetap menjadi kunci untuk menekan penyebaran DBD di Subang dan mencegah jatuhnya korban jiwa.

Dishub Subang Perbaiki Lampu Jalan di Puri Subang Asri, Warga Sambut Baik

perbaikan PJU Subang

Subang – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Subang melakukan perbaikan lima titik Penerangan Jalan Umum (PJU) di kawasan Perumahan Puri Subang Asri, Kelurahan Sukamelang, Kecamatan Subang, Rabu, 30 Juli 2025.

Langkah ini diambil setelah pengurus RW setempat melaporkan kondisi lampu jalan yang tidak berfungsi selama beberapa waktu. Padamnya lampu membuat akses jalan menjadi gelap dan rawan bagi keselamatan pengguna jalan.

Merespons laporan tersebut, tim dari bidang Pemeliharaan PJU Dishub Subang langsung terjun ke lapangan. Dengan bantuan satu unit mobil skylift, personel teknis berhasil memperbaiki lima titik lampu yang sebelumnya padam.

“Alhamdulillah, lima titik PJU yang padam sudah diperbaiki dan kini kembali menyala,” ujar Kusmana, Ketua RT setempat.

Ia menyampaikan apresiasi atas respons cepat dari Dishub Subang. Menurut Kusmana, keberadaan lampu jalan sangat penting untuk menjamin keamanan dan kenyamanan warga, khususnya di malam hari.

Kelima titik PJU tersebut berada di jalur strategis yang menghubungkan Kelurahan Sukamelang dengan Jalan Veteran Palabuan. Jalur ini merupakan akses utama yang setiap hari dilintasi ratusan kendaraan roda dua dan empat.

Dengan perbaikan ini, Kusmana berharap kawasan menjadi lebih aman dan nyaman bagi warga serta pengguna jalan, sekaligus meminimalkan risiko kecelakaan maupun tindak kriminalitas.

Sekda Subang: Program KB Jadi Indikator Kunci Wujudkan Kabupaten Kota Sehat

Kabupaten Kota Sehat Subang

Keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) menjadi salah satu indikator utama dalam mewujudkan Kabupaten/Kota Sehat. Hal ini ditegaskan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Subang, H. Asep Nuroni, S.Sos., M.Si., saat membuka kegiatan Pembinaan Terpadu dan Tematik Tim Kabupaten/Kota Sehat, Selasa, 29 Juli 2025, di Ruang Rapat Bupati 2.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh perwakilan dari Kabupaten Karawang, Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Kabupaten Indramayu, dan Kabupaten Purwakarta. Sejumlah kecamatan lainnya turut bergabung secara virtual.

Dalam sambutannya, Kang Asep Nuroni—sapaan akrabnya—yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Pembina Kabupaten/Kota Sehat Kabupaten Subang, menyampaikan potensi lengkap yang dimiliki Subang untuk mendukung cita-cita menjadi kabupaten sehat.

“Selamat datang di Kabupaten Subang yang memiliki potensi lengkap mulai dari pantai di Subang bagian utara, wilayah tengah dengan potensi pertanian yang luar biasa, dan bagian selatan yang hijau dengan potensi wisata,” ungkapnya.

Ia berharap momen pembinaan ini mampu memperkuat sinergi antar wilayah, memperbaiki berbagai kekurangan, serta membawa Kabupaten Subang kembali meraih penghargaan Swasti Saba Wistara untuk keempat kalinya.

“Momen memperkuat sinergitas, memperbaiki kekurangan. Ini bukan pertama kali, alhamdulillah 2023 Kabupaten Subang berhasil meraih Swasti Saba Wistara untuk ketiga kalinya,” tuturnya.

Lebih dari sekadar raihan prestasi, Kang Asep menegaskan bahwa tujuan utama dari program Kabupaten/Kota Sehat adalah meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Tidak hanya prestasi tapi maknanya bisa bermanfaat bagi masyarakat yaitu kesehatan yang inklusif bagi masyarakat,” jelasnya.

Sebagai contoh, ia menyoroti potensi Desa Cisaat yang telah ditetapkan sebagai desa Kabupaten/Kota Sehat (KKS). Menurutnya, desa tersebut harus mampu menjadi model desa sehat ideal yang akan mendorong terwujudnya kecamatan dan kabupaten sehat secara menyeluruh.

“Desa Cisaat memiliki potensi besar menjadi desa sehat yang merupakan langkah awal Kecamatan sehat dan nantinya berkontribusi bagi Kabupaten Kota Sehat,” ucapnya.

Kang Asep juga menyambut positif program Gawe Rancage yang digagas Gubernur Jawa Barat. Program tersebut dinilai sejalan dengan lima indikator utama KKS di Kabupaten Subang, yakni:

  1. Desa/kelurahan tanpa kematian ibu-anak dan zero new stunting;
  2. Bebas kemiskinan ekstrem dan mendukung sekolah rakyat;
  3. Lingkungan bersih, bebas sampah, dan lestari;
  4. Ekonomi kuat melalui koperasi merah putih tanpa bank emok;
  5. Keberhasilan program KB berkelanjutan.

Sementara itu, Muktia Yulismi Sp.S.I., M.I.Kom., selaku Sekretaris Tim Pembina KKS Provinsi Jawa Barat, menyampaikan bahwa program Kabupaten/Kota Sehat merupakan salah satu dari tujuh program prioritas strategis Provinsi Jawa Barat.

“Ini perdana di TPKKS seluruh Indonesia dan masuk ke dalam 7 program strategis Jawa Barat,” ungkapnya.

Muktia juga menekankan pentingnya fokus pada penyehatan lingkungan sebagai pondasi untuk mencapai indikator lainnya. Ia mengutip moto “Lembur diurus, kota ditata” sebagai semangat utama program ini.

“Semangatnya adalah penyehatan lingkungan. Kalau lingkungan kita tidak disehatkan akan kesulitan mencapai target yang lain. Bagaimanapun lembur diurus, kota ditata dengan Gawe Rancage,” tandasnya.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi interaktif dan pemaparan materi seputar program KKS, dimoderatori oleh perwakilan dari OPD Provinsi Jawa Barat. Hadir pula Tim Pembina KKS Jawa Barat, Forum Jawa Barat Sehat, Tim KKS Kabupaten Subang, serta tamu undangan lainnya.

Frasa kunci utama:
Kabupaten Kota Sehat Subang, program KB, Swasti Saba Wistara, Gawe Rancage, penyehatan lingkungan

Deskripsi meta:
Sekda Subang Asep Nuroni menegaskan keberhasilan program KB sebagai indikator utama dalam mewujudkan Kabupaten/Kota Sehat, seraya mendorong sinergi dan penyehatan lingkungan melalui program Gawe Rancage.

Tag:
Kabupaten Subang, Keluarga Berencana, Kabupaten Kota Sehat, Swasti Saba Wistara, Gawe Rancage

Fraksi PKS Dorong Optimalisasi Pendapatan dan Serapan Anggaran dalam Perubahan APBD Subang 2025

Perubahan APBD Subang 2025

Subang – Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Kabupaten Subang menyoroti berbagai aspek penting dalam Rancangan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Subang Tahun Anggaran 2025. Pandangan umum fraksi tersebut disampaikan dalam rapat paripurna pada Rabu, 30 Juli 2025, oleh anggota Fraksi PKS, Lidya Fitriani.

Dalam pandangannya, PKS mendorong pemerintah daerah untuk memanfaatkan sisa waktu lima bulan ke depan guna memastikan target pendapatan tercapai, terutama dari sektor Pendapatan Asli Daerah (PAD). Selain itu, fraksi ini menekankan pentingnya optimalisasi serapan anggaran di setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

“Harapannya pada akhir tahun serapan anggaran bisa tercapai 100 persen. Ini kita lakukan demi pembangunan Kabupaten Subang yang kita cintai, untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pelayanan publik yang lebih baik,” ujar Lidya.

Fraksi PKS juga mencermati peningkatan proyeksi pendapatan dalam perubahan APBD 2025 yang naik sebesar Rp223 miliar, dari Rp2,905 triliun menjadi Rp3,128 triliun. Peningkatan ini dinilai sebagai peluang besar untuk memperbaiki kualitas layanan publik dan mempercepat pembangunan daerah.

Namun, PKS menegaskan perlunya kajian mendalam terhadap sumber-sumber pendapatan agar potensi yang ada dapat digali secara maksimal. Lidya juga mengingatkan bahwa pengelolaan keuangan harus dilakukan secara cermat dan bertanggung jawab.

“Dengan peningkatan APBD, pengelolaan keuangan juga harus dilakukan lebih cermat,” tegasnya.

Di sisi lain, fraksi ini mempertanyakan kebijakan belanja daerah, khususnya penurunan pada pos belanja tidak terduga. Mereka khawatir penurunan ini dapat mengurangi kemampuan pemerintah dalam merespons kondisi darurat seperti bencana alam maupun wabah.

“Penurunan ini juga berpotensi mengurangi fleksibilitas pemerintah dalam penanganan masalah mendesak lainnya. Kami meminta penjelasan terkait hal tersebut,” ujar Lidya.

Sebagai penutup, PKS menyatakan bahwa pembahasan rinci akan dilanjutkan dalam forum bersama Badan Anggaran DPRD Kabupaten Subang guna memastikan setiap keputusan anggaran berpihak pada kepentingan masyarakat.

DAHANA Dukung Usaha Difabel dengan Bantuan Alat Sablon

bantuan usaha difabel

Subang – PT DAHANA kembali menunjukkan komitmennya dalam pemberdayaan masyarakat. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), perusahaan bahan peledak milik negara ini menyerahkan seperangkat alat sablon kepada Jahidin, seorang penyandang disabilitas yang menjalankan usaha sablon rumahan di Desa Pusakaratu, Kecamatan Pusakanagara, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Penyerahan bantuan yang dilakukan pada Rabu, 30 Juli 2025 ini bertujuan untuk memperkuat usaha Jahidin sekaligus membuka akses kesetaraan ekonomi bagi kelompok rentan.

Manajer TJSL PT DAHANA, Neni Sumarni, menegaskan bahwa dukungan ini merupakan bagian dari fokus program perusahaan dalam meningkatkan kapasitas masyarakat.

“Salah satu fokus program TJSL kami adalah peningkatan kapasitas masyarakat. Bantuan ini diharapkan dapat memperkuat usaha rumahan yang dijalankan oleh Pak Jahidin, sekaligus mendorong produktivitas dan keberlanjutan usaha para penyandang difabel di sekitar perusahaan,” ujar Neni.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa program ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.

“Kami percaya bahwa pertumbuhan ekonomi harus dirasakan secara merata, termasuk oleh saudara-saudara kita penyandang difabel,” tuturnya. “Semoga bantuan ini dapat meningkatkan kesejahteraan Jahidin dan keluarganya. Kami juga mohon doa agar DAHANA semakin maju sehingga dapat terus memberikan manfaat bagi lebih banyak masyarakat.”

Jahidin menyambut baik bantuan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa alat sablon yang diterimanya akan sangat membantu dalam meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi usahanya.

“Bantuan ini sangat berarti bagi kami. Dengan alat sablon baru, saya bisa meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas hasil sablon. Terima kasih kepada PT DAHANA atas perhatiannya kepada kami para penyandang disabilitas. Semoga DAHANA semakin sukses dan terus membawa manfaat bagi masyarakat,” ujar Jahidin.

Inisiatif ini merupakan bagian dari rangkaian program TJSL PT DAHANA yang fokus pada pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, serta pembangunan berkelanjutan di sekitar wilayah operasional perusahaan.

FKIP Universitas Subang Gandeng PNJ: Kolaborasi Cerdas Ciptakan Wirausaha Muda Berdaya Saing

kerja sama FKIP Universitas Subang dan PNJ

Subang — Ada kabar segar dari dunia kampus! Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Subang kembali menunjukkan langkah inovatifnya. Kali ini, FKIP resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) dalam rangka memperkuat riset dan pengabdian kepada masyarakat. Penandatanganan kesepakatan dilakukan pada 12 Juli 2025 di Gedung FKIP Universitas Subang—momen yang tak hanya formal tapi juga sarat harapan besar.

Kolaborasi ini bukan hanya urusan tanda tangan dan foto bareng, tapi wujud nyata dari kesepahaman dua institusi untuk saling bertukar keahlian lintas disiplin. Dekan FKIP Universitas Subang dan Ketua Jurusan Administrasi Niaga PNJ menjadi penggagas utama, dengan visi yang sama: menjadikan riset sebagai alat pemberdayaan masyarakat.

“Kami ingin menghadirkan riset yang tidak hanya berhenti di ruang akademik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kompetensi kewirausahaan pemuda di Kabupaten Subang,” ujar Dekan FKIP penuh semangat.

Salah satu hasil kolaborasi yang langsung meluncur ke publik ilmiah adalah artikel berjudul “Implementasi Collaborative Knowledge Creation Pentahelix untuk Meningkatkan Kompetensi Kewirausahaan Pemuda Indonesia.” Artikel ini telah disubmit ke jurnal internasional bereputasi dan diharapkan dapat menjadi rujukan strategis dalam pengembangan program kewirausahaan berbasis kolaborasi.

Dua pendekatan andalan dibawa ke meja kolaborasi. Dari pihak FKIP, ada model inovasi sosial bernama Learning, Simulating, and Mentoring (LSM), sebuah pendekatan pembelajaran yang dirancang dengan format langsung praktik, simulasi lapangan, hingga pendampingan berkelanjutan. Sementara dari PNJ, hadir konsep Collaborative Knowledge Creation (CKC), yang fokus pada penciptaan pengetahuan bersama dengan melibatkan banyak pihak.

Yang membuat kolaborasi ini makin gurih adalah integrasi unsur pentahelix—yakni kolaborasi antara universitas, pemerintah, industri, masyarakat, dan media. Kombinasi model LSM dan prinsip CKC ini diyakini mampu menghasilkan program riset yang bukan hanya canggih, tapi juga membumi dan bisa langsung dirasakan manfaatnya.

“Kami berharap kolaborasi ini tidak berhenti pada riset semata. Ke depan, akan ada program-program pengabdian masyarakat yang dapat diimplementasikan bersama untuk mencetak generasi muda yang mandiri, kreatif, dan siap berkontribusi bagi pembangunan daerah,” imbuh sang Dekan dengan nada optimis.

Kerja sama ini menjadi bukti bahwa sinergi antarperguruan tinggi tak hanya soal akademik, tetapi juga bisa melahirkan solusi nyata untuk menjawab tantangan zaman—khususnya dalam mencetak wirausaha muda yang tahan banting, berdaya saing, dan punya hati untuk daerahnya.

Gotong Royong Merdeka! Warga RW 17 Puri Subang Kerahkan Excavator Sambut HUT RI ke-80

Subang — Menjelang Hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia, suasana semangat gotong royong membuncah di Perumahan Puri Subang. Minggu pagi, 28 Juli 2025, warga RW 17 kompak turun ke lapangan untuk menggelar kerja bakti besar-besaran. Tapi tunggu dulu, ini bukan kerja bakti biasa—mereka bawa excavator!

Aksi bersih-bersih ini terpusat di sisi barat kawasan perumahan, berbatasan langsung dengan Gedung KPU Kabupaten Subang. Empat RT bersatu padu: ada yang nyapu, ada yang angkat ranting, ada juga yang sibuk mondar-mandir bawain teh manis dan gorengan. Kombinasi antara semangat kemerdekaan dan logistik ringan khas warga—siapa yang bisa menolak?

Uniknya, satu unit excavator dari BPBD Subang turut diturunkan ke lokasi. Bukan untuk demo alat berat, tapi beneran bantu kerja bakti. Excavator ini dipakai untuk mengeruk tanah yang tinggi, meratakan lahan, dan memangkas pohon besar yang selama ini bikin warga cuma bisa mengelus dada.

Ridwan Abdullah, warga yang jadi komando lapangan dadakan, menyebut kegiatan ini bukan cuma urusan estetika. “Hari ini kita tata dulu, bersihkan sampah, keruk tanah, dan pangkas pohon. Ke depan kita akan lanjutkan agar kawasan ini menjadi lebih sedap dipandang mata dan nyaman untuk kita semua,” ujarnya.

Bagi Ridwan, merapikan lingkungan adalah bentuk kemerdekaan versi warga. “Kita sambut kemerdekaan dengan merdeka dari kekumuhan. Ini bukan hanya kerja bakti biasa, tapi juga bentuk rasa memiliki terhadap lingkungan tempat tinggal kita,” tambahnya mantap.

Kebersamaan jadi bumbu utama dalam kegiatan ini. Meski peluh bercucuran dan tangan pegal angkat-angkat, tawa ringan terus terdengar. “Meski capek, suasananya tetap ramai dan seru karena kita sambil bercanda,” ungkap RT Entis, sambil menambahkan bahwa semua warga terlihat kompak, dari yang nyapu sampai yang bawa termos air.

Kepala BPBD Subang pun tak luput dari apresiasi. Dukungan berupa alat berat dinilai sangat membantu, apalagi mayoritas warga Puri Subang adalah ASN yang tentu ingin lingkungannya tampil seindah gaji yang cair setiap bulan.

Hasilnya? Area yang tadinya kumuh kini berubah drastis: lebih rapi, lapang, dan sedap dipandang. Gotong royong ala RW 17 ini menunjukkan bahwa dengan semangat persatuan dan sedikit bantuan alat berat, lingkungan bisa “merdeka” dari semrawut.

Dan siapa sangka, kemerdekaan itu bisa dimulai dari sapu lidi, teh hangat, dan suara mesin excavator yang menderu gagah!

Lowongan Kerja Misterius! Hanya 12 dari 130 Perusahaan di Subang yang Mau Buka-Bukaan

lowongan kerja Subang

Subang — Pernah merasa lamar kerja kayak tebak-tebakan? Tenang, bukan kamu aja. Bahkan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Subang pun pusing tujuh keliling! Kepala Disnakertrans, Rona Mairiansyah, mengungkapkan bahwa kendala utama dalam menyalurkan tenaga kerja di Subang bukan cuma soal pelatihan, tapi… informasi lowongan yang irit bicara dari perusahaan.

Bayangkan, dari sekitar 130 perusahaan yang beroperasi di Subang, cuma 12 yang aktif ngobrol dengan Disnaker soal kebutuhan tenaga kerja. Sisanya? Seperti mantan yang sudah move on—diam seribu kata.

“Masalahnya pabrik-pabrik ini tertutup dalam memberikan informasi lowongan kerja,” ujar Rona, Senin (29/7/2025), sambil menambahkan bahwa pihaknya sudah mengirimkan surat edaran untuk mengingatkan perusahaan agar melaporkan kebutuhan tenaga kerjanya.

Padahal, ada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 57 Tahun 2023 yang mewajibkan perusahaan melaporkan lowongan kerja. Sayangnya, aturan ini masih seperti nasi tanpa garam—ada, tapi hambar. Kenapa? Karena belum ada sanksi yang bikin perusahaan ciut kalau melanggar.

“Perpres ini perlu direvisi lagi agar memiliki sanksi yang jelas, sehingga perusahaan lebih patuh melaporkan lapangan kerja yang tersedia,” kata Rona.

Lalu, bagaimana dengan pelatihan kerja? Rona menyebut pelatihan tetap jalan, durasinya minimal satu bulan, dan komunikasi dengan para peserta dijaga biar tidak putus hubungan layaknya chat tak dibalas.

Tapi ya itu tadi, pelatihan saja tak cukup. Setelah lulus, peserta pelatihan butuh pintu masuk ke dunia kerja. Dan ketika pintunya ditutup rapat oleh perusahaan, ya sulit juga mau melangkah.

“Yang sudah pelatihan tetap kita lakukan komunikasi. Hanya saja ada kalanya kita kesulitan, salah satunya karena keterbatasan informasi lowongan dari perusahaan,” jelas Rona, dengan nada diplomatis namun jelas menggigit.

Meski tantangannya tak kecil, Disnakertrans Subang tidak tinggal diam. Mereka tetap berkomitmen untuk menjalin komunikasi dengan industri serta mencari cara agar tenaga kerja yang sudah dilatih bisa terserap lebih optimal. Sebab buat apa belajar mati-matian kalau akhirnya cuma jadi alumni pelatihan tanpa arah?

Semoga ke depan, lowongan kerja tak lagi jadi misteri seperti password Wi-Fi tetangga. Terbuka, jelas, dan bisa diakses siapa saja—asal punya skill!

Gudang KPU Subang Dibobol! Ketua KPU: “Murni Pencurian, Bukan Ulah Orang Dalam”

gudang KPU Subang dibobol

Subang — Drama kriminal merambah ke ranah demokrasi. Kali ini bukan tentang kecurangan pemilu, tapi… gudang KPU yang dibobol maling! Yap, kamu nggak salah baca. Gudang KPU Subang yang berada di Gedung SKB Dinas Pendidikan Kabupaten Subang jadi sasaran aksi tak terpuji, yang baru ketahuan Senin siang, 21 Juli 2025 lalu.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Subang, Abdul Muhyi, membenarkan kejadian ini sambil menekankan keras bahwa insiden tersebut bukan konspirasi dari dalam. “Ini murni pencurian, tidak—saya tekankan sekali lagi—tidak ada keterlibatan dari orang dalam KPU Subang,” tegasnya mantap saat diwawancarai RRI pada Selasa, 29 Juli 2025.

Jadi, kalau kamu sempat berasumsi soal teori konspirasi internal, bisa disimpan dulu di laci paling bawah. Ketua KPU-nya sendiri sudah turun langsung mengumpulkan jajaran internalnya untuk memastikan bahwa tidak ada main belakang di tubuh KPU.

Meski sempat bikin alis mengernyit, ternyata pengamanan gudang selama ini tak sembarangan. Sesuai SOP, gudang KPU Subang dijaga dengan sistem patroli gabungan—ada dari pihak security KPU dan juga dari aparat kepolisian. Komisioner KPU sendiri pun aktif melakukan monitoring.

“Pengamanan dilakukan sudah sesuai SOP, tak hanya dilakukan monitoring oleh seluruh Komisioner dan Staf KPU, juga patroli oleh aparat Kepolisian,” terang Abdul Muhyi.

Namun begitu, tetap saja maling bisa melenggang masuk. Maka dari itu, pihak KPU berjanji akan meningkatkan lagi keamanan di seluruh gudang, biar tak ada episode lanjutan dari “Surat Suara Hilang, Siapa Dalangnya?”.

“Tentunya kami akan memperketat pengamanan tersebut, agar kejadian pencurian tidak terulang kembali,” kata sang ketua.

Soal berapa banyak surat suara bekas Pemilu 2024 yang raib? Eits, sabar dulu. Muhyi belum bisa menyebutkan angka pasti. Alasannya sederhana: tim KPU masih sibuk menghitung kerugiannya. Dan penghitungan ini, katanya, baru akan jelas saat proses lelang surat suara dilakukan nanti.

“Kami belum bisa memastikan jumlahnya berapa, yang pasti kami masih dalam proses menghitung kerugiannya,” papar Abdul Muhyi.

Yang patut diapresiasi, tentu saja kinerja Polres Subang. Nggak pakai lama, pelaku pembobolan berhasil ditangkap dan saat ini sedang dalam proses penyidikan. Ketua KPU pun menyampaikan rasa terima kasihnya dengan gaya yang khas pejabat bijak.

“Terima kasih kepada Polres Subang yang sudah gerak cepat menangkap dan memproses pelaku,” tandasnya, menutup dengan nada lega.

Demokrasi memang kadang dibumbui insiden tak terduga, tapi semoga surat suara bekas ini tak menguap begitu saja ke pasar loak. Dan kita semua berharap, pengamanan gudang KPU ke depan bukan cuma ketat… tapi super ketat—kayak lemari besi isi warisan keluarga!

Recent Posts