SUBANG – Lupakan walk-in ke kantor kelurahan sambil bawa map tebal berisi keluhan tetangga yang buang sampah sembarangan! Kini, warga Subang cukup buka Instagram atau TikTok, ketik unek-unekmu, dan… voilá! Sambungan langsung ke Bupati!
Yap, Pemerintah Kabupaten Subang baru saja meluncurkan sebuah program kece bernama #LaporKangRey. Program ini bukan sekadar tagar keren, tapi jadi jembatan digital antara warga dan Bupati Subang, H. Reynaldi Putra, buat ngobrolin segala hal — dari pelayanan publik yang kurang sip, ide cemerlang buat desa, sampai pertanyaan eksistensial soal kenapa jalanan masih berlubang padahal musim kemarau.
Melalui akun resmi @reynaldyputraofficial di Instagram dan TikTok, warga tinggal kirim pesan lewat DM atau kolom komentar. Tapi jangan asal nyablak ya, tetap santun dan jelas. Berikut langkah-langkahnya — mudah kayak bikin status galau:
Tulis aduanmu dengan bahasa yang sopan dan jelas
Cantumkan alamat lengkap plus nomor telepon aktif (biar bisa ditindaklanjuti, bukan ditinggalin kayak mantan)
Kirim lewat DM atau komentar
Tambahkan tagar #LaporKangRey supaya masuk radar cepat
Yang bikin makin mantap, 31 OPD dan 30 kecamatan di Subang udah disiapkan untuk siap siaga ngebut balas laporan. Jadi ini bukan cuma janji manis doang lho.
Kata Kang Rey sendiri, “Pemerintah hadir dan siap mendengar. Media sosial bukan hanya tempat hiburan, tapi juga bisa jadi saluran perubahan.”
Ciee, keren kan? Jadi kalau kamu warga Subang yang selama ini cuma ngedumel di grup WA keluarga, ini saatnya upgrade ke level influencer pembangunan daerah. Kirim laporan, bangun perubahan!
Karena di era digital, ngeluh aja udah bisa trending — apalagi kalau bisa bikin Subang makin cemerlang.
SUBANG — Di Kampung Maja Lewo, Desa Margahayu, Kecamatan Pagaden Barat, Kabupaten Subang, sebuah proyek saluran air sedang dikerjakan. Tapi tunggu dulu… ada yang janggal. Proyeknya ada, pekerjanya juga ada, tapi papan informasinya? Nihil. Hilang entah ke mana. Seperti cinta bertepuk sebelah tangan, pekerjaan ini seolah hadir diam-diam, tanpa memperkenalkan diri.
Ketika awak media mencoba mengorek keterangan dari para pekerja, jawabannya justru bikin dahi mengernyit. “Kami cuma disuruh kerja, Pak,” ujar mereka, tanpa tahu-menahu siapa dalang di balik proyek ini. Mirip sinetron misteri, bukan?
Setelah dilakukan penelusuran, konon proyek ini berasal dari Dinas PUPR Kabupaten Subang. Namun, karena tak ada papan proyek, sumber dana dan besar anggaran pun lenyap bak ditelan kabut pagi. Padahal, aturan mainnya jelas kok: proyek pemerintah itu wajib transparan. Tak boleh main petak umpet, apalagi sama rakyat sendiri.
Dan di sinilah hukum berperan sebagai superhero. Berdasarkan Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) No. 14 Tahun 2008 serta Perpres No. 54 Tahun 2010 dan No. 70 Tahun 2012, setiap proyek yang dibiayai negara harus memasang papan nama proyek. Lengkap dengan nama kegiatan, lokasi, nomor kontrak, nilai anggaran, dan jangka waktu pelaksanaan. Jadi kalau papan nama proyek ini diumpetin, itu sudah menciderai hak publik untuk tahu.
Warga pun angkat suara, walau dengan nama disamarkan demi keamanan (maklum, jaman sekarang kadang nyinyir bisa bahaya). “Proyek tanpa papan nama itu indikasinya untuk membohongi masyarakat supaya anggaran nggak ketahuan,” ujar salah satu warga, Rabu (9/7), dengan nada tak kalah tegas dari jaksa di ruang sidang.
Lalu, masalah tak berhenti di papan nama saja. Saat wartawan mengintip langsung ke lokasi, mereka mendapati para pekerja asyik bekerja… tanpa perlengkapan keselamatan kerja. Tak ada helm, rompi, atau sepatu safety. Duh, ini kerja bangun saluran air atau syuting film aksi?
Keterangan resmi dari pihak pemborong dan Dinas PUPR Kabupaten Subang pun masih belum terdengar. Seperti sinyal Wi-Fi di kampung, kadang muncul, kadang hilang.
Beruntung, Kepala Desa Margahayu, H. Ma’in Permana, saat ditemui di kantornya Selasa (8/7), tak sungkan memberikan klarifikasi. “Proyek dari Dinas PUPR, Kang. Desa hanya menerima manfaatnya saja,” jelasnya.
Begitulah kisah proyek ‘gaib’ yang bikin warga dan wartawan geleng-geleng kepala. Semoga ke depannya, pembangunan tidak hanya membangun fisik, tapi juga membangun kepercayaan dan keterbukaan.
SUBANG – Ada yang beda di SDN Kalapa Kembar, Selasa pagi itu. Bukan karena kantin buka lebih pagi, tapi karena ada tamu istimewa: Bupati Subang, Kang Rey — lengkap dengan setelan resmi dan senyum bangga. Bukan datang untuk sidak atau bagi-bagi PR, tapi buat ngasih selamat kepada barisan kecil berseragam besar: Polisi Cilik Tunas Bhayangkara dari Polda Jawa Barat.
Anak-anak ini bukan sekadar lucu-lucu doang. Mereka tampil kece badai di depan Presiden RI dan Kapolri saat Puncak Hari Bhayangkara ke-79 di Monas, 1 Juli lalu. Bukan main! Dari Monas ke Cigadung, dari nasional ke lokal, tepuk tangan buat mereka belum juga reda.
“Saya ucapkan terima kasih kepada adik-adik Polisi Cilik yang telah menampilkan yang terbaik dan membanggakan Subang di hadapan Presiden RI dan Kapolri,” ujar Kang Rey, yang kalau jadi cheerleader pasti udah juara juga.
Kang Rey, yang namanya makin harum di kalangan warga berkat kedekatannya dengan anak muda, juga menegaskan bahwa Pemkab Subang akan terus nge-backup Polisi Cilik. Ya, jangan sampai prestasi cuma jadi kenangan, tapi harus jadi awal kemenangan.
“Insyaallah ke depannya akan ada pembinaan yang lebih lanjut,” ucapnya mantap sambil memandang barisan cilik dengan mata berkaca… atau mungkin itu efek cahaya matahari?
Ternyata, yang bikin suasana makin haru adalah kehadiran Kakorlantas Polri, Irjen Pol Agus Suryo Nugroho. Beliau bukan cuma datang numpang selfie, tapi menyerahkan langsung piagam penghargaan kepada para jagoan kecil kita. Turut hadir pula pejabat-pejabat penting, termasuk para kepala sekolah—mungkin sedang berpikir, “Gimana ya bikin anak-anak sekolah saya sekeren itu?”
“Anak-anak ini sudah bisa menampilkan yang terbaik di depan Presiden Republik Indonesia,” kata Irjen Agus, dengan nada yang bikin bangga se-RT.
Dan bukan cuma itu. Ternyata Pak Presiden sempat berkaca-kaca waktu nonton aksi mereka. Iya, beneran. Bukan karena kena debu Monas, tapi karena tersentuh banget lihat semangat kebangsaan dari anak-anak yang bahkan belum bisa nyetir motor.
“Saya melihat Pak Presiden berkaca-kaca. Ini menunjukkan bahwa generasi muda kita sangat potensial,” tegas Irjen Agus, yang pastinya ikut merasa bangga seperti kita semua.
Jadi, siapa bilang anak kecil cuma bisa main lato-lato? Di Subang, mereka bisa bikin satu negara terharu. Salut, Polisi Cilik!
SUBANG — Kalau politik adalah panggung sandiwara, maka kali ini Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi alias KDM, sedang disorot lampu sorot dengan nada tinggi dari arah panggung Subang. Bukan dari lawan politik atau influencer TikTok biasa, tapi dari Gerakan Pemuda Islam (GPI) Kabupaten Subang, yang baru-baru ini tampil lantang bak orator dalam konser perubahan.
Lewat unggahan video di akun TikTok mereka, @gpi.subang, Ketua Umum GPI Subang, Diny Khoerudin—yang akrab dipanggil Pidi, tidak segan menyentil sang gubernur dengan kritik tajam yang terasa seperti perasan jeruk nipis di atas luka anggaran. “Kami anggap Gubernur Jawa Barat tidak memahami skala prioritas. Buktinya, justru banyak mengadakan acara ‘nganjang ka warga’ yang memakan anggaran besar dan tidak efisien. Bahkan dalam kegiatan tersebut, warga miskin dipertontonkan di atas panggung,” ujar Pidi, Senin (7/7/2025).
Bayangkan, bukannya mengundang investor atau menambah lapangan kerja, menurut Pidi, yang terjadi justru semacam pertunjukan sedih: rakyat kecil jadi tontonan, bukan jadi perhatian utama.
Tak berhenti sampai di situ, GPI Subang juga menyoroti “tren rebranding” fasilitas publik ala KDM. Seperti RSUD Al-Ihsan yang mendadak jadi RS Welas Asih, dan gedung negara di Cirebon yang berubah nama jadi Bale Jaya Dewata. Sekilas memang terdengar syahdu, tapi ternyata menyisakan tumpukan pertanyaan administratif yang tidak kalah menyesakkan.
“Perubahan nama itu berdampak pada urusan administratif seperti kop surat, resep dokter, dan dokumen lainnya. Ini bukan hanya tidak efisien, tapi juga menghilangkan sisi historis. Jangan berlindung di balik alasan kearifan lokal jika justru mengabaikan efisiensi dan skala prioritas,” sindir Pidi, dengan nada yang bisa membuat printer kantor ikut berkedip panik.
GPI Subang pun memberi pesan khusus, bukan untuk KDM saja, tapi juga ditujukan kepada Bupati Subang agar tidak latah ikut-ikutan kebijakan yang, kata mereka, lebih mirip festival gimmick daripada solusi konkrit.
“Banyak kegiatan yang tidak penting justru diprioritaskan. Sementara berbagai persoalan mendasar malah disepelekan. Kami berharap Bupati Subang dapat mengambil sikap berbeda, fokus pada hal-hal yang benar-benar dibutuhkan rakyat,” ujar Pidi tegas, seolah memberi alarm sebelum Subang juga ikut-ikutan ‘ganti nama tapi lupa esensi.’
Menurut GPI, ini bukan asal cuap atau gaya-gayaan protes, tapi bentuk cinta terhadap keberjalanan pemerintahan yang sehat, akuntabel, dan berpihak pada yang kecil, bukan hanya yang viral.
SUBANG – Di era digital yang ramai bukan main, ternyata masih banyak OPD yang “berkarya dalam senyap”, alias kerja keras tapi tak ada jejaknya di dunia maya. Kepala BP4D Kabupaten Subang, Iwan Syahrul Anwar, akhirnya angkat bicara. Dalam rapat bersama para penanggung jawab media sosial se-Kabupaten Subang, Senin (7/7/2025), Iwan menegaskan: “Seringkali kita sudah bekerja keras, menyusun program, mengeksekusi kegiatan, dan menyelesaikan pertanggungjawaban internal. Namun, karena tidak ditampilkan di media sosial, masyarakat menganggap kita tidak bekerja.”
Aduh, Pak! Jadi jangan salahkan warganet kalau mikir OPD-nya ngilang. Padahal, semua gerak-gerik Pemkab Subang, dari bupati hingga desa, sudah manggung di media sosial masing-masing. Tapi, ya itu tadi, kalau tampilannya seadanya, netizen tetap nyinyir. Maka, medsos bukan cuma tempat pajang laporan, tapi panggung utama buat tampil keren, transparan, dan dekat sama rakyat.
Iwan pun menyuarakan misi medsos OPD sebagai jembatan komunikasi yang hidup dan hangat. Nggak cukup kirim laporan ke pusat dan BPK lewat LKBE dan LPJ saja. Medsos harus jadi ajang “tunjukkan kerja nyata, jangan cuma laporan data”. Dan jangan lupa, kolom komentar bukan tempat horor, tapi ladang interaksi. “Dibutuhkan sinergi dan kesiapan para PIC media sosial perangkat daerah untuk menjawab dengan cepat dan tepat,” kata Iwan.
Nah, agar tidak hanya jadi festival unggahan satu arah, perlu juga sentuhan manusiawi. Yang namanya komunikasi, harus bisa menjangkau semua orang, bahkan yang sinyalnya suka sembunyi atau yang buka Instagram pakai paket tengah malam.
Sejalan dengan itu, Verlyana (Veve) Hitipeuw, CEO & Chief Consultant Kiroyan Partners, turut mengamini pentingnya komunikasi inklusif. Dalam tulisannya di majalah PR INDONESIA Edisi 114, ia menegaskan bahwa komunikasi publik hari ini tak boleh lagi eksklusif dan sok tahu sendiri. “Komunikasi inklusif menjadi sebuah keniscayaan strategis untuk menyampaikan informasi secara tepat waktu, terbuka, mudah diakses, dan akurat,” tulis Veve, mantap.
Jadi, para admin medsos OPD, yuk kita upgrade diri. Jangan cuma jago posting banner ucapan. Mari jadi pemandu komunikasi yang gesit, asyik, dan kredibel. Karena di era digital ini, medsos adalah ruang tamu publik — kalau kosong dan kusam, siapa juga yang mau mampir?
SUBANG – Selasa pagi yang biasanya tenang, mendadak penuh ketegangan di ruang rapat DPRD Subang. Bukan karena ada duel antar fraksi, tapi karena hadirnya Wakil Bupati Subang, H. Agus Masykur Rosyadi, S.Si., M.M., yang membawa kabar penting: uang rakyat mau disesuaikan lagi!
Rapat paripurna kali ini bukan sembarang rapat. Dipimpin langsung oleh Ketua DPRD Subang dan diapit Wakil Ketua I, II, dan III, ditambah barisan lengkap 36 anggota dewan yang hadir dengan wajah serius nan penuh harap—semuanya menyimak satu topik krusial: perubahan KUA-PPAS. Bahasa gampangnya, gimana cara ngatur ulang duit daerah supaya nggak boncos tapi tetap berfaedah.
Acara dibuka dengan parade pandangan umum dari fraksi-fraksi. Masing-masing berpendapat, tentu dengan gaya khasnya: ada yang lantang, ada yang santun, ada juga yang diplomatis tapi nyentil.
Di tengah-tengah hiruk-pikuk pasal dan peraturan, sang Wakil Bupati menyampaikan sesuatu yang relatable banget: jalan rusak. Dengan nada yang setengah serius setengah miris, beliau bilang, “Kita rasakan ini masih banyak yang rusak maksudnya beberapa kegiatan-kegiatan yang di SKPD ini kita alihkan kita alihkan untuk menyelesaikan infrastruktur yang ada.”
Nah lho, siapa sih yang nggak pernah ‘berolahraga’ zig-zag di jalanan rusak Subang? Maka wajar jika kemudian perbaikan infrastruktur jadi prioritas utama dalam revisi KUA-PPAS. Harapannya, dengan penyesuaian anggaran yang cermat, program-program strategis bisa tancap gas dan manfaatnya benar-benar terasa oleh warga, bukan cuma berhenti di papan proyek.
Agenda yang penuh semangat ini juga dihadiri oleh Asisten Daerah III Setda Subang, para Kepala OPD, para camat, insan pers yang siap mengetik cepat, serta tamu undangan yang pastinya gak mau ketinggalan update.
Kalau anggaran sudah tepat sasaran dan jalanan mulus, siapa tahu nanti Subang bukan cuma terkenal karena nanasnya, tapi juga karena aspalnya yang kinclong dan bikin nyaman!
SUBANG — Warga Subang, bersiaplah! Kota tercinta kedatangan jagoan kuliner baru yang siap bikin lidah bergoyang dan perut bahagia: Almaz Fried Chicken! Dengan tagline “The Taste of Middle East”, ayam goreng ini bukan sekadar ayam biasa—ini ayam yang pergi naik unta, pulang-pulang jadi nasi kebuli!
Gerai ke-122 Almaz resmi membuka sayapnya pada Selasa, 8 Juli 2025, di Jalan Otto Iskandardinata No.2, Subang. Acara grand opening-nya pun tak main-main, dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Subang, H. Agus Masykur Rosyadi. Wah, ini bukan ayam goreng sembarangan, ini ayam goreng yang sudah disahkan oleh pemerintah!
Salah satu mitra Almaz di Subang, H. Willy, datang tak sekadar membawa ayam, tapi juga harapan. Ia bilang, “Hadirnya Almaz di Subang bisa menambah warna dan pilihan kuliner bagi masyarakat Subang.” Tapi tunggu dulu, ini belum klimaksnya—H. Willy juga menambahkan bahwa sebagian penghasilan dari penjualan ayam ini akan disumbangkan kepada warga sekitar dan juga kepada saudara-saudara kita di Palestina. Nah, makan ayam sekaligus beramal? Siapa yang bisa menolak?
Menu andalannya? Siap-siap ketagihan. Ayam goreng dengan balutan bumbu khas Timur Tengah disajikan dengan nasi kebuli yang wangi menggoda. Kalau kamu tim burger, tenang, mereka punya burger series juga. Mulai dari beef burger sampai chicken burger dengan dua pilihan: original dan keju. Rasanya? Dijamin bikin lupa mantan!
Jangan lupakan minumannya! Ada deretan minuman khas yang siap menyejukkan tenggorokanmu setelah pesta rasa di mulutmu. Pokoknya, ini bukan tempat makan biasa. Ini tempat makan yang penuh cerita, rasa, dan makna.
Subang – Selamat datang di Desa Cibuluh, tempat di mana nasi tumpeng bukan sekadar santapan, tapi simbol cinta pada budaya dan keramahan. Pada tanggal 28–29 Juni 2025 lalu, suasana Kantor Desa Cibuluh, Kecamatan Tanjung Pagi, Kabupaten Subang, berubah jadi panggung pelatihan penuh rasa, cerita, dan harapan. Program Studi Magister Pariwisata Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat serta Gabungan Industri Pariwisata Indonesia Provinsi Jawa Barat menggelar pelatihan peningkatan kapasitas SDM untuk mewujudkan Desa Cibuluh sebagai destinasi wisata berkelanjutan.
Acara ini dibuka oleh Kepala Desa Cibuluh, Edi Junaidy M.Sn, dengan semangat seperti tuan rumah yang bangga menyuguhkan menu spesial andalannya. Ia menegaskan bahwa desa yang telah diganjar gelar Desa Budaya ini selalu siap tampil prima dalam panggung pariwisata. “Kami sudah lama bekerja sama dengan UPI, dan selalu siap meningkatkan eksistensi kami,” ujarnya, seperti chef yang menyiapkan sajian terbaik untuk tamu kehormatan.
Sepiring dukungan disajikan pula oleh Drs. Agus Muslimin, Kepala Bidang Destinasi Kabupaten Subang. Beliau menyebut bahwa potensi budaya Desa Cibuluh sungguh menggiurkan sebagai daya tarik wisata. Hanya saja, masih perlu bumbu rahasia: peningkatan kapasitas masyarakat agar bisa makin sejahtera dari aktivitas budaya yang digeluti.
Nah, masuklah tokoh berikutnya, Dr. Ahmad Galih Kusumah, Ketua Program Studi Magister Pariwisata sekaligus Dewan Pakar Gabungan Industri Pariwisata Jabar. Dengan gaya seperti pelatih tim sepak bola desa yang siap bawa timnya ke liga profesional, beliau menyampaikan bahwa dosen-dosen UPI siap memberikan ilmunya untuk mengelola desa wisata yang lebih kece di masa depan. Apalagi, wisata gastronomi—yang nggak hanya memanjakan lidah tapi juga menceritakan kisah—perlu ekosistem yang rapi dan masyarakat yang terlibat aktif.
Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia Jawa Barat, Herman Muchtar, pun menambahkan bahwa desa wisata sejatinya harus mampu mengonversi budaya menjadi peluang ekonomi. Alias, bagaimana caranya tradisi bisa punya harga—tanpa kehilangan kehormatannya. Kolaborasi lintas sektor sangat diperlukan, seperti nasi goreng yang butuh bumbu lengkap agar rasanya nendang.
Iendra Sofyan dari Dinas Pariwisata Jawa Barat tak ketinggalan menaburkan penyedap dalam diskusi. Ia menyatakan bahwa program ini sejalan dengan langkah pemerintah provinsi dalam membangun wisata gastronomi. Dan ingat, Desa Cibuluh ini bukan pemain baru. Sejak 2019, ia sudah menyandang predikat Destinasi Ramah Anak, dan sejak 2024, resmi menjadi Desa Budaya. Jadi, tak heran kalau desa ini punya menu wisata lengkap: dari Ruwat Bumi hingga Festival Tujuh Sungai, dari permainan tradisional Komunitas Hong hingga agrowisata dan atraksi tari-tarian. Serasa sedang mencicipi menu lengkap dari pembuka sampai penutup!
Agar tidak hanya teori yang dicerna, para peserta juga mengikuti pelatihan konkret. Dr. Ahmad Galih menyampaikan materi soal penguatan kapasitas Kelompok Sadar Wisata dan pelaku UMKM kuliner. Disusul oleh sesi pemetaan potensi kuliner dari tim dosen: Heri Setiyorini, PhD, Dr. Dewi Turgarini, dan Caria Ningsih, PhD. Workshop ini ibarat dapur ide yang sedang menumis visi misi jadi sajian nyata.
Kegiatan makin gurih saat dilakukan simulasi wisata bertajuk “Jelajah Desa Cibuluh sebagai Paket Wisata Gastronomi Berkelanjutan”. Bayangkan, ada rombongan kecil yang terdiri dari anak-anak hingga dewasa, menjelajahi sawah, bermain di sungai, menanam padi, hingga mengenal leuit—tempat penyimpanan beras yang kental aroma tradisi.
Puncaknya adalah kelas memasak yang menggoda lidah. Di Kampung Bolang, Ibu Yuyum Sukaesih dan tim chef-nya menyuguhkan Tumpeng Sunda, Ayam Kampung Bakakak, Bubuy Ikan Mas Daun Honje, dan berbagai kudapan lain yang siap menciptakan nostalgia sekaligus mendongkrak kunjungan wisata. Semua sajian dibingkai dalam anyaman bambu rinjing—sentuhan lokal yang bikin siapa pun ingin berswafoto sebelum mencicipi.
Dengan sentuhan budaya, cerita, dan kuliner yang bersatu padu, Desa Cibuluh tak hanya memanjakan lidah, tapi juga menghangatkan hati. Dan jika semua elemen ini dijaga dan dikembangkan, bukan tidak mungkin Cibuluh akan jadi salah satu destinasi rasa terbaik di Indonesia.
Subang – Siapa sangka, lampu bohlam bisa jadi ‘brankas mini’ untuk sabu? Polisi Subang dibuat geleng-geleng kepala setelah menemukan sabu 10,81 gram yang disembunyikan rapi dalam bohlam di dalam tas jinjing hijau. Bukan sulap, bukan sihir—ternyata pemiliknya adalah seorang oknum PNS, berinisial IAA (40), yang bekerja di lingkungan Pemkab Subang.
Penangkapan ini bukan karena polisi iseng-iseng berhadiah. Kasat Narkoba Polres Subang, AKP Udiyanto, menyebut bahwa penangkapan IAA merupakan hasil pengembangan informasi dan penyelidikan yang serius. Jadi, ini bukan sekadar isapan jempol—tapi hasil kerja keras!
Penggerebekan dilakukan di sebuah rumah kontrakan yang sunyi senyap di wilayah Sindangsari, Kecamatan Kasomalang, Kabupaten Subang, pada Sabtu (5/7/2025). Saat digeledah, barulah terbongkar triknya: sabu dalam bohlam di atas tas hijau! Inovatif? Mungkin. Legal? Tentu saja tidak.
“Saat penggeledahan, petugas menemukan sabu seberat 10,81 gram yang disembunyikan secara unik dalam sebuah lampu bohlam, di dalam tas jinjing warna hijau,” jelas AKP Udiyanto dalam keterangannya, Senin (7/7/2025).
IAA pun mengaku sabu tersebut didapat lewat sebuah akun Instagram bernama @KYOUNG25. Hmm, ternyata narkoba kini juga sudah merambah dunia maya—tinggal klik, kirim, lalu sembunyi. Tapi sayangnya, persembunyian itu tak bertahan lama.
“Tersangka menyimpan sabu di kontrakannya untuk kemudian diedarkan. Tentunya pengakuan ini menjadi petunjuk penting bagi pihak kepolisian untuk mengembangkan kasus ini lebih lanjut dan mengungkap jaringan peredaran narkoba yang lebih luas,” sambung Udiyanto.
IAA kini harus berhadapan dengan Pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 112 ayat (2) UU RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman hukumannya tidak main-main: seumur hidup atau bahkan hukuman mati. Bohlamnya padam, masa depannya pun bisa ikut gelap.
Di akhir pernyataannya, AKP Udiyanto menyatakan tekad Polres Subang untuk terus menyusuri jejak jaringan narkoba ini.
“Kasus ini akan terus dikembangkan guna mengungkap jaringan peredaran sabu yang lebih luas di wilayah Kabupaten Subang,” tegasnya.
Karena kalau sabu sudah masuk ke bohlam, siapa yang tahu bakal masuk ke mana lagi?
Subang — Siapa bilang urusan birokrasi harus pakai drama dan jungkir balik dokumen? Di Kabupaten Subang, Kang Rey—sapaan akrab Bupati Subang Reynaldy Putra Andita BR—menyulap wajah pelayanan publik jadi lebih segar, cepat, dan bebas pingpong!
Senin pagi (07/07/2025), lapangan penandatanganan kesepakatan pun digelar. Bupati Subang didampingi sang tandem Wakil Bupati H. Agus Masykur Rosyadi, S.Si., M.M, resmi membubuhkan tanda tangan kerjasama dengan lima instansi vertikal demi menghadirkan pelayanan publik terpadu lewat Mal Pelayanan Publik (MPP). Tak sekadar seremoni, ini aksi nyata—alias “NGABRET”, kata Kang Rey.
Sambil berdiri di tengah sorotan lampu dan tatapan penuh harap, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Dikdik Solihin, mengumumkan bahwa MPP Subang yang baru berumur jagung—diresmikan Desember 2024—sudah siap tempur!
“Tadi kita sudah melaksanakan PKS dengan 15 unit instansi vertikal, kami laporkan juga bahwa MPP yang ada di Kabupaten Subang baru diresmikan pada Desember 2024. Walaupun baru beberapa bulan, tetapi kami siap untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat Kabupaten Subang,” tutur Dikdik dengan gaya percaya diri level 100.
Kang Rey tak mau kalah semangat. Dalam sambutannya yang penuh semangat dan sedikit bumbu sindiran manis, beliau menegaskan bahwa komitmen jangan cuma jadi dekorasi kertas.
“Ini adalah bukti bahwa komitmen kita tidak berhenti di atas kertas, tetapi langsung diturunkan menjadi aksi nyata NGABRET dengan memberi kemudahan untuk masyarakat,” tegasnya, dengan gaya khas yang mungkin bisa bikin brosur pelayanan pun semangat kerja.
Harapan beliau juga sangat relatable bagi rakyat Subang yang mungkin pernah merasa ‘dilempar sana-sini’ saat ngurus berkas.
“Tidak ada lagi rakyat Subang yang ‘di-pingpong’, tidak ada lagi yang bingung harus ke mana, dan tidak ada lagi yang menghabiskan waktu dan biaya hanya untuk mengurus hak-haknya,” ucapnya penuh harap.
Target utamanya? Semua selesai di satu titik. Tanpa perlu safari dari kantor ke kantor, tanpa drama kejar-kejaran cap dan tanda tangan.
“Semua harus selesai di satu tempat. Dengan cepat, transparan, dan penuh kepastian,” kata Kang Rey, seolah menyulap MPP jadi ‘drive-thru’ pelayanan impian.
Beliau pun menutup sambutan dengan penghormatan khusus kepada seluruh pimpinan instansi yang telah menyatakan cinta (secara birokratis) lewat penandatanganan hari itu.
“Saya sampaikan juga terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh pimpinan instansi yang berkomitmen hari ini. Mari kita kawal bersama implementasinya,” ujar Kang Rey, sambil menatap masa depan pelayanan publik Subang yang lebih “sat-set wat-wet”.
Nah, siapa saja sih lima instansi yang ikut “jebret tanda tangan” bareng Pemkab Subang?
Ketua Pengadilan Negeri Subang
Kepala BPJS Ketenagakerjaan Purwakarta
Pemimpin Cabang PT. Bank BJB Subang
Branch Manager PT. Taspen (Persero) KC Bandung
Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Rangga Subang
Sementara itu, penandatanganan Perjanjian Kerja Sama juga datang dari 15 instansi vertikal lainnya—mulai dari Polres, Kejaksaan, Kementerian Agama, PLN, BPJS, hingga PT. Pos Indonesia dan Bank Subang Gemi Nastiti. Lengkap sudah ‘pemain inti’ untuk menyambut era pelayanan publik ala Subang: sat-set, ngibrit, dan tanpa drama.