Beranda blog Halaman 45

Subang Raih Penghargaan PB MKJP, Bukti KB Bukan Sekadar “Kartu Biru”

Penghargaan PB MKJP Subang

SUBANG – Kabar bahagia berhembus dari Kota Nanas! Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Subang resmi menggondol predikat Terbaik Kedua untuk kategori PB (Peserta Baru) MKJP target 1501–3500 akseptor.

Jangan buru-buru bingung, PB MKJP KB ini bukan singkatan nama band baru ya! PB berarti Peserta Baru, dan MKJP adalah Metode Kontrasepsi Jangka Panjang — bukan “Manajemen Keuangan Jangka Pendek”.

Program KB sendiri merupakan jurus andalan pemerintah di bawah komando BKKBN untuk mengatur jumlah, jarak, dan usia ideal melahirkan anak. Tujuannya sederhana tapi mulia: keluarga lebih terencana, lebih sehat, dan tentu saja lebih bahagia.

Nah, MKJP ini adalah bintang utama di dunia kontrasepsi — efektif, tahan lama, dan nggak perlu diingat setiap hari seperti minum vitamin. Sekali pasang, bisa “aman” bertahun-tahun!

Contohnya? Ada IUD alias AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim), implan atau susuk KB, hingga metode “operasi mantap” seperti MOW untuk wanita dan MOP untuk pria. Istilahnya, kontrasepsi jangka panjang ini benar-benar long lasting relationship.

PB MKJP KB berarti program peningkatan peserta baru yang memilih MKJP. Artinya, semakin banyak pasangan usia subur (PUS) yang berani melangkah ke arah keluarga berencana jangka panjang.

Kepala DP2KBP3A Subang, Dr. Drs. H. Yayat Sudrajat, MM., M.Si., menjelaskan bahwa program PB MKJP KB bertujuan mendorong pasangan suami istri untuk memilih alat kontrasepsi jangka panjang karena metode ini paling efektif untuk mengendalikan angka kelahiran, menjarangkan kehamilan, dan menciptakan keluarga yang lebih sejahtera.

“Alhamdulillah kita bersyukur, kita ucapkan terimakasih kepada rekan-rekan yang telah membantu menyukseskan kegiatan ini, terimakasih kepada seluruh bidang yang selalu support di setiap kegiatan dan tak lupa terimakasih juga kepada tim lapangan yang selalu aktif dan semangat di setiap kegiatannya,” ujarnya.

Jadi, kalau ada yang bilang program KB itu soal menunda-nunda rezeki, coba pikir ulang. Karena bagi Subang, ini bukan sekadar soal “berapa anak yang cukup”, tapi tentang bagaimana setiap keluarga bisa tumbuh sehat, bahagia, dan tentu saja… penuh rencana!

Dedi Mulyadi Bongkar Kejanggalan: Aqua Bayar Rp600 Juta ke PDAM Subang Tiap Bulan, Tapi Airnya Sudah Tak Dipakai!

Aqua PDAM Subang Rp600 juta

Subang – Ada aroma aneh yang tercium dari balik keran air Subang.
Bukan karena kualitas airnya, tapi karena uang kompensasi yang terus mengalir — meski sumber airnya sudah berhenti mengalir ke Aqua.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengungkapkan bahwa perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) Aqua masih membayar kompensasi sebesar Rp600 juta per bulan kepada PDAM Kabupaten Subang.
Padahal, Aqua sudah tidak lagi menggunakan sumber air milik PDAM Subang.

“Waktu awal itu perusahaan itu ngambil airnya bareng dengan PDAM dengan satu SIPA,” ujar Dedi saat ditemui di Gedung DPRD Jawa Barat, Kota Bandung, Jumat (31/10/2025).

Kisahnya berawal dari kerja sama antara Aqua dan PDAM Subang sejak tahun 1994.
Kala itu, mereka berbagi sumber air resmi dengan satu izin pengambilan air (SIPA).
Namun kini, meski kerja sama masih berjalan di atas kertas, praktiknya sudah tak sejalan dengan isi perjanjian.

Dedi Mulyadi pun mencium ada “bau kejanggalan” di balik aliran dana tersebut.
Menurutnya, pembayaran kompensasi tanpa dasar hukum yang jelas sama saja dengan menyiram uang ke tanah kering.

“PDAM seharusnya tidak hanya menjadi penerima kompensasi bulanan, tetapi juga harus terlibat dalam struktur usaha Aqua. Dengan begitu, PDAM bisa memperoleh manfaat jangka panjang dari kerja sama tersebut. Itu nggak pintar PDAM-nya, lebih memilih mendapatkan uang setiap bulan,” tegas Dedi.

Ia juga menegaskan, kompensasi itu sah hanya jika Aqua masih memanfaatkan aset air milik PDAM Subang.
Jika tidak, pembayaran sebesar Rp600 hingga Rp700 juta per bulan itu bisa dikategorikan ilegal.

“Saya nanti hari Senin saya nemuin BPK dan menyampaikan surat permohonan audit,” ujarnya dengan nada serius.

Langkah audit ini, kata Dedi, bukan sekadar mencari siapa salah siapa benar, tetapi juga menjadi momentum menata ulang pengelolaan sumber air di Jawa Barat.
Tujuannya jelas: agar rakyat tidak sampai mandi pakai air sawah lagi, seperti sindirannya yang sempat viral.

“Saya ingin identifikasi sumber air, baik yang digunakan oleh swasta maupun pemerintah. Karena orientasinya, negara wajib menyediakan air bersih bagi warga,” pungkasnya.

Air mungkin tak berwarna dan tak berbau — tapi di Subang, ternyata bisa juga beraroma misteri finansial.

Warga Sukarandeg Patungan Cor Jalan Rusak, Bukti Gotong Royong Masih Hidup!

Warga Sukarandeg perbaiki jalan rusak

Jalan rusak bukan hal baru, tapi di Dusun Sukarandeg, Desa Gunungsari, Kecamatan Pagaden, Kabupaten Subang, warga memilih tak menunggu keajaiban datang.
Mereka gotong royong — bukan sekadar tenaga, tapi juga dompet!

Ya, Rabu (30/10/2025) warga Sukarandeg turun tangan memperbaiki Jalan Kabupaten Gardu–Sukarandeg dengan uang hasil sumbangan mereka sendiri.
Aspal boleh berlubang, tapi semangat warganya mulus tanpa cela.

Salah seorang warga yang enggan disebut namanya mengaku, ide “open donasi” muncul dari rasa jengkel yang berubah jadi gerakan nyata.
“Kami membuka open donasi untuk perbaiki jalan rusak ini. Adanya open donasi itu warga Dusun Sukarandeg memberikan sumbangan sejumlah uangnya, ini menunjukkan antusiasme masyarakat yang peduli dengan jalan rusak tersebut,” ujarnya.

Dari hasil urunan itu, terkumpul sekitar Rp4 juta — bukan jumlah fantastis, tapi cukup membuat satu mobil cor beton datang menyelamatkan jalan berlubang.
Dan kabar baiknya, pak lurah pun ikut turun tangan dengan tambahan tiga kubik cor beton. Mantap, kan?

Menurut warga, sebenarnya sudah ada wacana dari pemerintah kabupaten untuk memperbaiki jalan itu.
Tapi, menunggu tanpa kepastian rasanya seperti nunggu hujan di musim kemarau. Maka, warga pun memilih aksi nyata.

“Karena warga Dusun Sukarandeg tidak sabar menunggu pemkab untuk perbaiki maka dari itu warga mendonasikan uang untuk perbaiki jalan rusak ini,” pungkasnya.

Begitulah, dari jalan rusak lahir kisah tentang solidaritas dan semangat gotong royong yang masih hidup di Sukarandeg.
Mereka tidak hanya menambal lubang di jalan, tapi juga menambal lubang kepercayaan — bahwa perubahan bisa dimulai dari rakyat sendiri.

Subang Fest Vol.6: Bajidoran Guncang Alun-Alun, Warga Subang Tumpah Ruah!

Subang Fest, bajidoran, Giler Kameumeut, hiburan rakyat, Subang Creative Hub

subang – Ribuan warga Subang malam itu seperti ditarik magnet hiburan.
Mereka datang berbondong-bondong, tumpah ruah memenuhi Amphitheater Tugu Benteng Pancasila di Alun-Alun Subang, Jumat (31/10/2025) malam.

Semua mata tertuju pada panggung megah tempat bajidoran bareng Giler Kameumeut mengguncang suasana.
Getar kendang dan sorak penonton berpadu menjadi orkestra malam rakyat yang luar biasa meriah.

Gelaran ini bukan sembarang hajatan.
Subang Fest Vol.6 adalah buah tangan Bupati Subang bersama Subang Creative Hub (SCH) dan Disparpora Subang, yang sukses menjelma jadi ikon hiburan bulanan paling ditunggu warga.

Gratis, meriah, dan penuh tawa — tiga kata yang cukup menggambarkan pesta rakyat Subang kali ini.

Tak hanya bajidoran, malam pertama juga diramaikan penampilan band lokal Candu Kustik yang membuat suasana makin hangat dan akrab.
Di sisi lain, puluhan stan UMKM dan corporate bazar menambah semarak, seolah seluruh kota berpesta dalam satu halaman besar.

Belum puas? Tenang, besok masih ada hari kedua!
Panitia sudah menyiapkan konsep fashion show ala tahun 80-an lengkap dengan guest star kejutan yang siap menggoyang nostalgia.

Putra (28), warga Subang yang hadir langsung, tak kuasa menyembunyikan kekagumannya.
“Adanya Subang Fest ini keren banget. Ada hiburan gratis setiap bulannya di pusat kota Subang. Mudah-mudahan acara ini terus berlanjut ya. Dan banyak lagi acara-acara super keren yang disuguhkan nantinya,” ungkap Putra.

Senada dengan itu, Nia (40) warga Cisalak pun mengaku terpukau.
“Pokoknya luar biasa. Keren banget Subang Fest setiap bulannya selalu ada kejutan. Acara ini jadi ditunggu-tunggu loh,” pungkasnya.

Malam itu, langit Subang bukan hanya diterangi lampu panggung — tapi juga semangat dan senyum warga yang larut dalam euforia.
Subang Fest Vol.6 pun bukan sekadar pesta, tapi bukti bahwa kreativitas dan kebersamaan bisa membuat satu kota berdansa.

Kadinkes Subang Pantau Sunatan Massal: 70 Anak Bahagia, Dokter Tersenyum, Tangisan Jadi Irama

sunatan massal Subang

Suasana ceria tapi tegang terasa di Aula Desa Bojong Tengah, Kecamatan Pusakajaya, Jumat (31/10/2025).
Bukan acara musik atau lomba mewarnai, tapi sunatan massal yang diikuti 70 anak se-Kecamatan Pusakajaya.

Di tengah hiruk-pikuk tangisan kecil yang kadang muncul bersamaan, hadir sosok tenang penuh senyum—dr. Dwinan Maschiawati, MARS, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, yang akrab disapa Mamih Dwinan.

Ia datang dalam rangkaian kegiatan Saba Desa, sekaligus memantau langsung jalannya sunatan massal yang digelar oleh tenaga kesehatan dari berbagai puskesmas di Subang.

Sunatan massal ini dilakukan oleh para nakes dari berbagai Puskesmas di Kabupaten Subang,” ujar Mamih Dwinan dengan nada bangga.

Tak hanya meninjau, Mamih juga menjadikan momen ini sebagai ajang silaturahmi dengan para Kepala UPTD Puskesmas se-Kabupaten Subang.

Alhamdulillah, beberapa Kepala Puskesmas hadir dan ikut serta membantu petugas untuk melaksanakan sunatan massal ini,” ungkapnya.

Pantauan bewara.co.id, panitia juga menyiapkan baju koko bagi peserta sunatan—hadiah simbolis yang membuat para bocah tampak gagah meski langkahnya masih sedikit kaku.

Sebelum menghadiri acara ini, Mamih Dwinan sempat melakukan sidak ke dua puskesmas, yakni UPTD Puskesmas Sembung dan UPTD Puskesmas Pagaden, memastikan layanan kesehatan masyarakat tetap prima meski cuaca Subang sedang tak menentu.

Kegiatan ini bukan sekadar seremoni, tapi wujud nyata pelayanan kesehatan yang hadir sampai ke desa. Karena di Subang, bahkan momen “tegang tapi bahagia” seperti sunatan pun jadi bagian dari cinta pemerintah untuk rakyatnya.

Dedi Mulyadi Minta BPK Audit PDAM Subang: “Airnya Nggak Dipakai, Uangnya Tetap Mengalir”

audit PDAM Subang

Ada yang ganjil di balik derasnya aliran air Subang—dan kali ini bukan soal banjir.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti adanya aliran dana Rp 600 juta per bulan yang diterima PDAM Kabupaten Subang dari perusahaan Aqua, padahal airnya sudah tak lagi digunakan.

Di audit, saya nanti hari Senin saya nemuin BPK dan serahkan surat permohonan audit,” ujar Dedi di Gedung DPRD Jawa Barat, Kota Bandung, Jumat (31/10/2025).

Menurutnya, pembayaran rutin itu tidak memiliki dasar hukum yang jelas, karena kerja sama awal PDAM dan Aqua semestinya berbasis pemanfaatan aset air milik PDAM Subang. Kini, Aqua sudah punya sumber air sendiri di lahan milik mereka, tapi perjanjian masih berjalan seperti dulu.

Kenapa? Karena tidak ada dasar hukum. Dasar hukumnya perjanjian. Di dasar hukum perjanjian itu penggunaan aset air. Aset dan airnya tidak digunakan, ini yang jadi orientasi kita,” jelas Dedi.

Mantan Bupati Purwakarta itu mengingatkan, sejak awal PDAM seharusnya tidak sekadar menjadi “penerima uang bulanan”, tapi ikut jadi bagian dari struktur bisnis perusahaan air tersebut.

Itu nggak pintar PDAM-nya. Gini, waktu awal perusahaan ngambilnya bareng dengan PDAM dengan satu SIFA. Seharusnya PDAM memutuskan diri untuk menjadi bagian dari perusahaan itu sehingga dia harus dihitung aset debit air sebagai investasi sehingga menjadi pemegang saham di perusahaan raksasa itu seharusnya. Kemudian ini tidak dilakukan, lebih memilih mendapatkan uang setiap bulan,” tutur Dedi dengan nada satir.

Namun, di balik polemik ini, Dedi melihat hikmah besar: momentum untuk menata ulang tata kelola sumber air di Jawa Barat.

Tetapi di balik itu, saya ada hikmahnya. Hikmahnya apa? Adalah saya ingin identifikasi sumber air baik yang ada digunakan swasta. Karena orientasinya negara wajib menyediakan air bersih bagi warga,” ujarnya.

Ia menegaskan, hasil identifikasi tersebut akan menjadi dasar bagi Pemprov Jabar untuk membangun infrastruktur air bersih yang lebih merata di seluruh kabupaten dan kota.

Sehingga nanti pemerintahan provinsi Jawa Barat berorientasi untuk membangun air bersih di seluruh wilayah provinsi Jawa Barat dan infrastrukturnya nanti akan jadi penyertaan modal ke PDAM kabupaten kota,” pungkasnya.

Air boleh jernih, tapi kalau alirannya keuangan tetap keruh, ya wajar saja Gubernur turun tangan.

Musim Hujan Tiba, Tagana Subang Ingatkan: Waspada, Jangan Sampai Langit Menjebak!

waspada bencana alam Subang

Langit Subang kembali bersuara.
Deras, deras sekali—seolah bumi sedang dicuci massal tanpa jeda iklan.

Memasuki musim penghujan dengan curah tinggi dan ekstrem, warga Subang diimbau untuk waspada. Karena kalau hujan sudah berkolaborasi dengan angin, bencana bisa ikut datang tanpa undangan.

Peringatan ini datang dari Ketua Tagana Dinsos Kabupaten Subang, Jajang Abdul Muhaemin, saat berbincang dengan RRI Subang, Jumat (31/10/2025).

Ia menyebut deretan ancaman yang siap “nongol” kapan saja: pohon tumbang, angin puting beliung, longsor, banjir bandang, banjir biasa, dan pergerakan tanah.

Semua bencana alam tersebut bisa saja terjadi, karena hujan yang turun belakangan ini selain deras juga disertai angin kencang, sehingga patut diwaspadai oleh seluruh masyarakat Kabupaten Subang,” tegas Jajang.

Menurutnya, kondisi ekstrem ini membagi risiko berdasarkan wilayah.
Untuk wilayah selatan, ancamannya lengkap: angin puting beliung, pohon tumbang, longsor, dan banjir bandang.

Di wilayah tengah, warga perlu siaga terhadap angin puting beliung, pohon tumbang, dan banjir.
Sementara di wilayah utara, tambahan ancamannya adalah ROB—banjir akibat pasang air laut yang sering datang tanpa aba-aba.

Tak cukup kewaspadaan, tetapi juga masyarakat harus siap siaga penuh, agar bencana tidak menimbulkan korban jiwa,” pungkas Jajang dengan nada tegas namun penuh kepedulian.

Musim hujan memang tak bisa dihindari, tapi bisa diantisipasi. Jadi, pastikan payung bukan cuma jadi hiasan di motor—karena di Subang, awan bisa berubah jadi ujian kapan saja.

Bupati Subang Tegaskan Aturan Jam Operasional Truk Hasil Kesepakatan dengan Gubernur Jabar

Kebijakan jam operasional truk Subang

Subang – Bupati Subang Reynaldy Putra Andita menegaskan bahwa kebijakan jam operasional kendaraan angkutan di wilayah Subang bukan keputusan sepihak. Kebijakan tersebut merupakan hasil kesepakatan bersama dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

“Saya membuat aturan jam operasional bukan keinginan saya sendiri, tetapi hasil keputusan bersama dengan Pak Gubernur juga,” ujar Kang Rey, sapaan akrabnya, saat memimpin Rapat Koordinasi Pembahasan Implementasi Kebijakan Penggunaan Pelat Nomor Kendaraan “T” Subang di Ruang Rapat Bupati I, Selasa (28/10/2025).

Menurut Kang Rey, sebagian besar laporan masyarakat yang masuk ke Pemerintah Kabupaten Subang berkaitan dengan pelanggaran jam operasional kendaraan angkutan berat.

“Hampir 80% laporan masyarakat yang saya terima itu kaitannya dengan truk yang melanggar jam operasional,” ungkapnya.

Ia menegaskan, kebijakan ini dibuat untuk menjaga keselamatan masyarakat serta menciptakan ketertiban dan kelancaran lalu lintas di Kabupaten Subang.

“Jangan sampai terjadi kebijakan yang lebih ekstrem dari ini. Karena keselamatan masyarakat kami nomor satu,” tegasnya.

Lebih lanjut, Kang Rey menyampaikan bahwa kebijakan ini tidak hanya berlaku bagi pelaku usaha air minum dalam kemasan (AMDK), tetapi juga bagi seluruh perusahaan ekspedisi dan pengangkutan yang beroperasi di wilayah Subang.

“Bukan hanya pengangkut air saja, tetapi galian juga saya terapkan. Saya tidak pandang bulu, semua ekspedisi pengangkutan yang melewati Subang harus mentaati aturan tersebut,” pungkasnya.

LABINOV Subang Raih Hak Cipta, Bukti Nyata Ekosistem Inovasi Daerah yang Hidup

Subang – Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (BP4D) Kabupaten Subang mencatat sejarah baru. Inovasi unggulan mereka, Laboratorium Inovasi Daerah Kabupaten Subang atau LABINOV Subang, resmi memperoleh pengakuan Hak Cipta pada 29 Oktober 2025.

Pengakuan tersebut tertuang dalam Surat Pencatatan Ciptaan Nomor EC002025166183 yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM RI.

Platform Pembelajaran Inovasi yang Berdampak

LABINOV Subang diluncurkan pada 29 Juni 2021 melalui kerja sama dengan Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI. Program ini menjadi wadah pembelajaran, pendampingan, dan fasilitasi pengembangan inovasi yang dikelola BP4D Kabupaten Subang.

Sasarannya meliputi seluruh perangkat daerah, unit kerja pemerintah, desa dan kelurahan, satuan pendidikan formal maupun nonformal, hingga masyarakat umum. Berbagai kegiatan seperti coaching clinic, workshop, pendampingan, fasilitasi, serta monitoring dan evaluasi rutin digelar. Puncaknya adalah kompetisi tahunan Subang Innovation Festival, yang telah berlangsung dua tahun berturut-turut.

Dari 221 Inovasi hingga Apresiasi Nasional

Sejak berdiri, LABINOV Subang telah melahirkan 221 inovasi yang ditetapkan melalui Keputusan Bupati. Beberapa inovasi bahkan berhasil menembus ajang Top Inovasi KIJB (Kompetisi Inovasi Jawa Barat) dan meraih penghargaan bergengsi.

Konsistensi Pemerintah Kabupaten Subang dalam menumbuhkan budaya inovasi juga mendapat apresiasi nasional. Pada tahun 2022, Pemda Subang menerima Penghargaan INAGARA (Inovasi Administrasi Negara) dari LAN RI.

Dorong Peningkatan Indeks Inovasi Daerah

Kepala BP4D Kabupaten Subang, Iwan Syahrul Anwar, S.STP, menegaskan bahwa pencapaian Hak Cipta ini menjadi bukti nyata kinerja BP4D dalam menumbuhkan ekosistem inovasi di daerah.

“Kami berharap, momentum ini menjadi pemicu untuk lebih meningkatkan capaian Indeks Inovasi Daerah Kabupaten Subang yang pada tahun 2024 berada pada skor 52,65 dengan predikat Inovatif, menuju predikat yang lebih tinggi, yaitu Sangat Inovatif,” ujar Iwan.

Ia juga menyampaikan bahwa BP4D akan segera bertransformasi menjadi BAPPERIDA (Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah).

“Tentunya riset dan inovasi akan menjadi arus utama, yang memberikan warna pada perencanaan pembangunan di Kabupaten Subang,” tegasnya.

Lindungi Inovator dengan Hak Kekayaan Intelektual

BP4D berkomitmen untuk terus melindungi hasil karya inovator daerah. Ke depan, instansi ini akan memfasilitasi pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) bagi inovasi yang lahir dari LABINOV Subang, termasuk karya dari kompetisi inovasi tahunan.

Langkah ini menjadi bentuk apresiasi terhadap para inovator lokal sekaligus dorongan agar inovasi di Kabupaten Subang terus tumbuh dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Pemuda Subang Bergerak, Indonesia Bersatu di Peringatan Sumpah Pemuda ke-97

Sumpah Pemuda Subang 2025

Bupati Subang, Reynaldy Putra Andita BR, S.IP., memimpin Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97 Tingkat Kabupaten Subang yang digelar di Halaman Kantor Bupati Subang, Selasa (28/10/2025). Upacara berlangsung khidmat dengan tema “Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu.”

Dalam upacara tersebut, Kurniawan, siswa SMAN 1 Purwadadi, membacakan Teks Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Sementara itu, mahasiswa Politeknik Maritim Eka Utama Subang membacakan Teks Keputusan Kongres Pemuda Indonesia 1928.

Peserta upacara terdiri dari berbagai unsur, seperti BPBD, Satpol PP, Pemadam Kebakaran, Tagana, PGRI Subang, pelajar, mahasiswa, dan 100 peserta Jambore Pemuda 2025 yang sebelumnya melakukan long march dari Gedung Cadika menuju Halaman Kantor Bupati Subang.

Bupati yang akrab disapa Kang Rey membacakan amanat Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Erick Thohir. Dalam amanat itu disebutkan bahwa momen Sumpah Pemuda adalah titik kesadaran nasional ketika pemuda dari berbagai daerah menyadari mereka memiliki tujuan yang sama.

“Sebuah momen bersejarah yang menandai lahirnya kesadaran nasional bahwa pemuda dari berbagai daerah, suku, dan bahasa memiliki tujuan yang sama, yaitu menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dan bersatu,” tegasnya.

Ia menambahkan, Sumpah Pemuda bukan sekadar deretan kata, tetapi semangat persatuan yang tetap relevan hingga kini.

“Ikrar yang diucapkan pada 28 Oktober 1928 bukan sekadar kata-kata, melainkan semangat yang mengikat seluruh anak bangsa dalam satu tekad, dan semangat itu masih relevan hingga hari ini, ketika kita menghadapi berbagai tantangan baru di era globalisasi dan kemajuan teknologi,” lanjutnya.

Tema “Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu” menegaskan bahwa kemajuan bangsa hanya dapat dicapai dengan kolaborasi generasi muda.

“Kemajuan bangsa tidak akan terjadi tanpa partisipasi aktif dari generasi muda. Pemuda dan pemudi Indonesia harus terus bergerak, berkarya, serta berinovasi demi mewujudkan Indonesia yang lebih maju,” sambungnya.

Menpora RI juga berpesan agar para pemuda terus menjaga persatuan untuk masa depan yang cerah, karena masa depan bangsa berada di tangan generasi muda.

Setelah upacara, dilakukan penyerahan berbagai penghargaan. Di antaranya, Genrengers Award dari Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga kepada Muhammad Sahlim, S.Pd., MH., Juara Lomba Pertukaran Pelajar Antarprovinsi kepada Eri Eryanto, serta Juara 1 Senam Waringkas pada Festival Senam Hari Olahraga Nasional 2025 tingkat Jawa Barat.

Kegiatan ditutup dengan refleksi Sumpah Pemuda oleh Bidang Kepemudaan Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Subang. Turut hadir Forkopimda Kabupaten Subang, para Asisten Daerah, Kepala OPD, Ketua dan Wakil Ketua TP PKK, serta tamu undangan lainnya.

Recent Posts