Beranda blog Halaman 44

Ega Anjani Ajak PKK Kecamatan “Naik Kelas” Lewat Pembinaan Administrasi

Pembinaan Administrasi PKK Subang

Subang – Aula TP PKK Kabupaten Subang mendadak ramai oleh semangat dan senyum para penggerak PKK kecamatan. Senin (3/11/2025), Ketua TP PKK Kabupaten Subang, Ega Anjani Reynaldi, S.IP., membuka kegiatan pembinaan dan evaluasi administrasi PKK dengan gaya khasnya yang hangat dan inspiratif.

Acara ini bukan cuma sekadar kumpul-kumpul—tapi tiga hari penuh belajar bersama, dari tanggal 3 hingga 5 November 2025. Setiap harinya, 10 kecamatan akan mendapat kesempatan khusus untuk mengasah kemampuan administrasi mereka.

Dalam sambutannya, Ega menegaskan bahwa kegiatan ini bukan ajang mencari salah, melainkan kesempatan untuk saling belajar dan berbenah.

“Melalui kegiatan ini, kita akan saling berbagi ilmu dan pengalaman dari berbagai kecamatan,” ungkapnya dengan penuh semangat.

Ia juga mengingatkan agar setiap kekurangan jangan dianggap beban, melainkan bahan bakar untuk tumbuh bersama.

“Tujuannya adalah agar kita semua dapat berkembang bersama,” tegas Ega.

Sebelum menutup arahannya, Ega menyampaikan apresiasi tulus untuk seluruh pengurus PKK kecamatan yang hadir dengan penuh dedikasi.

“Terima kasih banyak, terutama yang telah datang dari jauh untuk mengikuti kegiatan ini,” tutupnya sambil tersenyum.

Di sela kegiatan, Resty Agus Hermawan, Ketua TP PKK Kecamatan Pusakanagara, ikut berbagi pandangannya tentang manfaat acara ini.

“Kegiatan penting dalam PKK ini bertujuan untuk merapikan administrasi dan juga menjalin silaturahmi. Kami jadi tahu administrasi mana yang belum lengkap dan apa saja yang harus dipelajari,” ujarnya.

Suasana kegiatan terasa seperti “kelas besar ibu-ibu hebat”—serius tapi hangat, tertib tapi penuh tawa. Dan satu hal pasti: setelah pembinaan ini, administrasi PKK di Subang tak hanya rapi di atas kertas, tapi juga kuat di hati dan kolaborasi.

Kalijati: Si Kecamatan yang Punya Segalanya, dari Jalupang yang Luas sampai Kalijati Timur yang Imut

Kecamatan Kalijati Subang

Kalijati, salah satu kecamatan di Kabupaten Subang, bukan sekadar nama yang sering lewat di peta—ia punya cerita sendiri di setiap jengkal tanahnya.

Bayangkan, di utara ia bersentuhan dengan Kecamatan Purwadadi, di selatan berpelukan dengan Serangpanjang, di timur menyapa Dawuan, dan di barat bersalaman dengan Cipeundeuy. Kalijati ini benar-benar ramah tetangga!

Wilayahnya terbentang seluas 90,11 kilometer persegi—cukup luas kalau mau dijelajahi sambil naik sepeda listrik, asal baterainya kuat.

Kecamatan ini punya 10 desa, 269 RT, dan 77 RW. Ya, 269 RT! Bisa dibilang, kalau diadakan lomba antar-RT, panitianya pasti butuh spreadsheet ukuran jumbo.

Nah, yang paling luas di antara semua desa adalah Desa Jalupang, dengan lahan mencapai 20,41 km². Kalau kamu ingin merasakan sensasi “jalan tak habis-habis,” datang saja ke Jalupang.

Di posisi kedua ada Desa Marengmang dengan 17,30 km²—cukup luas untuk bikin festival layangan skala nasional.

Tapi jangan remehkan yang kecil. Kalijati Timur justru jadi primadona mungil dengan luas hanya 3,24 km². Ibarat cangkir kecil berisi kopi kental—kecil tapi berisi!

Berikut daftar luas wilayah desa di Kecamatan Kalijati, lengkap seperti catatan rapi bendahara desa:
Jalupang (20,41 km²), Marengmang (17,3 km²), Banggalamulya (9,05 km²), Tanggulun Barat (8,42 km²), Kaliangsana (7,5 km²), Kalijati Barat (7,00 km²), Caracas (6,69 km²), Tanggulun Timur (5,63 km²), Ciruluk (4,87 km²), dan Kalijati Timur (3,24 km²).

Kalijati juga dihuni oleh 68.041 jiwa, dengan pembagian nyaris imbang: 33.642 laki-laki dan 34.399 perempuan. Populasinya cukup padat, tapi tetap terasa hangat—mungkin karena warganya gemar menyapa lebih dulu.

Kalijati bukan cuma soal angka dan batas wilayah. Ia adalah kisah tentang keseimbangan: antara yang luas dan kecil, antara angka dan wajah, antara peta dan kehidupan.

Kapolres Subang Ajak Da’i Kamtibmas Jaga Harmoni dan Kedamaian Lewat Dakwah yang Menyejukkan

Kapolres Subang

Subang – Suasana hangat memenuhi Aula Patriatama Polres Subang, Senin (3/11/2025) pagi.
Di sana, Kapolres Subang AKBP Dony Eko Wicaksono, S.H., S.I.K., M.H., Ph.D. memimpin kegiatan Silaturahmi Kapolres Subang dengan Da’i Kamtibmas Tingkat Polres Subang.

Acara ini dihadiri sekitar 40 orang — mulai dari Pejabat Utama (PJU), perwira, hingga para pengurus Da’i Kamtibmas.
Tampak hadir di antaranya Ketua Da’i Kamtibmas Iwan Siswanto, S.Pd., Sekretaris Sajidin Noor, M.Pd., Bendahara Hj. Imas Aisyah, S.Pd., serta para penasehat seperti KH. Dr. Eep Nurudin, KH. Agus Sarifuddin, dan KH. Dr. Musfiq Amrullah, Lc.

Dalam sambutannya, AKBP Dony menyampaikan apresiasi atas peran besar para Da’i Kamtibmas dalam menjaga situasi keamanan dan ketertiban di Kabupaten Subang.
“Selama empat bulan saya menjabat Kapolres Subang, situasi kamtibmas dapat terjaga dengan baik berkat dukungan semua pihak, termasuk para Da’i Kamtibmas yang menjadi mitra strategis Polri di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa ulama dan tokoh agama memiliki peran penting dalam meredam potensi konflik sosial serta memberikan pencerahan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak mudah terprovokasi oleh isu negatif di media sosial.
“Kami berkomitmen mendukung penuh ruang dakwah yang menyejukkan dan menjaga keharmonisan masyarakat. Mari kita terus bersinergi dalam memberikan pemahaman positif kepada remaja dan masyarakat agar terhindar dari hal-hal yang merugikan diri sendiri maupun lingkungan,” tambahnya.

Sementara itu, penasehat Da’i Kamtibmas KH. Dr. Musfiq Amrullah, Lc. menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian dan dukungan Kapolres kepada para dai.
“Kami merasa terhormat atas sambutan dan dukungan dari Kapolres Subang. Kami siap berkolaborasi dengan Polres Subang untuk terus menjaga situasi kamtibmas agar tetap aman, kondusif, dan harmonis,” ujarnya dengan nada penuh semangat.

Kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan plakat kepada Ketua Da’i Kamtibmas, sesi tanya jawab, foto bersama, dan ramah tamah.
Acara berlangsung tertib, lancar, dan penuh keakraban hingga siang hari.

Melalui silaturahmi ini, Polres Subang dan Da’i Kamtibmas meneguhkan komitmen bersama untuk menjaga kedamaian dan keamanan masyarakat.
Karena, seperti pesan Kapolres, keamanan bukan hanya tugas polisi, tapi juga tanggung jawab moral seluruh umat.

Pemprov Jabar Genjot Perbaikan Jalan Subang–Bantaruwaru: Sudah Tembus 84 Persen!

Pemeliharaan jalan Subang Bantaruwaru

Subang – Pemerintah Provinsi Jawa Barat tampaknya tidak main-main dalam urusan jalan.
Buktinya, proyek pemeliharaan berkala ruas jalan Subang–Bantaruwaru/batas Indramayu kini sudah melaju kencang—bahkan per 26 Oktober 2025, progresnya sudah mencapai 84 persen!

Ruas yang dikerjakan sepanjang 1,3 kilometer ini memiliki nilai kontrak sebesar Rp2,9 miliar.
Angka yang cukup besar, tapi manfaatnya juga besar—karena jalan ini menjadi salah satu urat nadi penghubung antardaerah di Kabupaten Subang dan sekitarnya.

Pekerjaan di lapangan digarap oleh 15 tenaga pekerja jalan yang setiap harinya berjibaku dengan aspal, batu, dan cuaca.
Dengan semangat gotong royong, mereka memastikan proyek ini bukan hanya selesai tepat waktu, tapi juga kokoh untuk jangka panjang.

Menariknya, sebagian besar tenaga kerja berasal dari masyarakat lokal.
Artinya, selain memperbaiki jalan, proyek ini juga membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi warga sekitar.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun mengimbau pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut agar tetap waspada.
Aktivitas alat berat dan pekerja masih berlangsung, jadi keselamatan di jalan tetap jadi nomor satu.

Harapannya sederhana namun penting: begitu proyek rampung, kenyamanan dan keamanan pengguna jalan meningkat, dan konektivitas wilayah Subang makin lancar.
Karena di balik jalan yang mulus, ada kerja keras, peluh, dan semangat membangun Jawa Barat yang “Ngabret”!

Sule Bangun Museum di Subang: Dari Lawakan ke Kenangan yang Abadi

Sule museum Subang

Subang – Subang lagi-lagi jadi sorotan, kali ini bukan karena festival, tapi karena seorang legenda hidup bernama Sutisna—atau yang lebih akrab kita panggil, Sule.
Ya, komedian yang wajah dan tawanya pernah menghiasi hampir setiap layar kaca Indonesia itu kini melangkah ke babak baru: membangun museum pribadinya sendiri di kampung halaman, Subang, Jawa Barat.

Namun jangan bayangkan museum ini penuh lukisan serius atau patung gagah.
Di sini, yang terpajang adalah kenangan-kenangan hidup seorang pelawak sejati—mulai dari properti syuting, kostum nyentrik, sampai deretan penghargaan yang dulu hanya bisa kita lihat sekilas di TV.

“Sekarang saya simpan barang-barang yang dulu pernah dipakai. Kayak satu set wayang, satu set gamelan, foto-foto zaman dulu di TV waktu saya jadi apa. Semua saya print dan taruh di museum,” kata Sule, seperti dikutip dari podcast di kanal YouTube Nanda Persada.

Menariknya, museum ini bukan hanya untuk dirinya sendiri.
Sule membuka pintunya lebar-lebar bagi publik.
Tujuannya sederhana tapi dalam — agar para penggemar dan masyarakat bisa mengenal lebih dekat perjalanan panjangnya di dunia hiburan.

“Saya punya satu joglo, dan di dindingnya dilukis semua program TV yang pernah saya mainkan — seperti Awas Ada Sule, Opera Van Java, sampai Canda Empire. Itu untuk mengenang karya-karya saya, buat anak-anak saya dan juga penggemar,” ungkapnya penuh nostalgia.

Sule tak sedang memamerkan masa lalu, tapi sedang mengarsipkan hidupnya sendiri dengan rasa bangga.
Museum itu adalah ruang waktu—tempat di mana tawa, kerja keras, dan air mata dikurasi dengan cinta seorang seniman.

“Kalau seniman agak sedikit idealis lah,” katanya sambil tersenyum, seolah ingin mengingatkan bahwa popularitas mungkin pudar, tapi karya yang tulus akan tetap hidup.

Langkah Sule ini jadi pengingat, bahwa menghargai perjalanan diri bukan bentuk kesombongan, tapi tanda dewasa dalam berkarya.
Dari panggung tawa ke rumah kenangan, Sule membuktikan bahwa seniman sejati bukan hanya melucu, tapi juga meninggalkan warisan makna di balik setiap tawa.

Judul:Subang Fest Vol. 6: Malam Penuh Nostalgia, Dangdut Lawas, dan Janji Kolaborasi Spektakuler

Subang Fest 2025

Subang – Sabtu malam di Subang berubah jadi panggung nostalgia.
Subang Fest Vol. 6 mengguncang Alun-alun dengan tema yang bikin senyum-senyum sendiri: “80’s Outfit.”

Berlokasi di Amphiteater Tugu Benteng Pancasila, suasana terasa seperti mesin waktu yang membawa semua orang kembali ke masa kejayaan musik dangdut jadul Indonesia.
OM Lorenza tampil menggoda panggung, sementara suara khas Novia Rozma—penyanyi kebanggaan Subang—menjadi magnet yang membuat penonton enggan pulang.

Bupati Subang, Reynaldi Putra Andita, hadir bukan sekadar menonton, tapi juga menyalakan semangat di balik gelaran akbar ini.
“Tujuan utama kami mengadakan Subang Fest adalah, agar Kabupaten Subang semakin dikenal luas, dan masyarakat di luar daerah semakin mengetahui potensi yang dimiliki Subang,” ujarnya mantap.

Reynaldi menambahkan bahwa event semacam ini bukan hanya soal musik dan hiburan, tapi juga urusan ekonomi kreatif yang nyata dampaknya.
Dalam gelaran Subang Creative Week 2025 lalu, perputaran uang di area Alun-alun mencapai hampir Rp260 juta—itu baru di sekitar lokasi acara!

“Itu belum termasuk pelaku usaha di luar area Alun-alun. Artinya, kegiatan seperti ini, benar-benar memberi dampak nyata bagi ekonomi lokal,” tambahnya sambil tersenyum puas.

Suasana makin hangat saat sang bupati menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang turut menyukseskan acara ini—dari Subang Creative Hub, Subang Economy Creative, para sponsor, BUMN, BUMD, hingga masyarakat yang selalu hadir dengan energi positif.
“Terima kasih kepada seluruh stakeholder, dan panitia penyelenggara yang selalu menjaga semangat kolaborasi, sehingga Subang Fest bisa terus bergulir setiap bulannya,” tutur Reynaldi.

Namun, malam itu bukan hanya tentang nostalgia, tapi juga bocoran masa depan.
“Bulan November nanti, Subang Fest akan semakin gebyar, karena akan berkolaborasi dengan RANS Entertainment, dalam rangka ulang tahun RANS ke-10. Akan ada banyak bintang tamu spesial yang hadir di Subang,” katanya, disambut sorak gemuruh penonton.

Ribuan warga tumpah ruah, mengenakan busana ala 80-an, menari, bersorak, dan ikut bernyanyi dalam malam yang penuh warna.
Bupati Reynaldy dan Ketua TP PKK Kabupaten Subang, Ega Anjani, tampak larut menikmati pesta rakyat yang kini menjadi ikon kebanggaan warga Subang setiap bulannya.

Subang Fest Vol. 6 bukan sekadar konser, tapi cermin dari semangat Subang yang terus “Ngabret” menuju kabupaten kreatif, hidup, terbuka, dan kolaboratif.
Subang memang tahu cara bersenang-senang—dengan gaya, dengan makna, dan tentu saja dengan dangdut yang menggoda nostalgia.

VinFast VF3 Siap Meluncur dari Subang: Mobil Listrik Mungil yang Punya Nyali Besar

VinFast VF3

Subang – VinnFast tampaknya benar-benar jatuh cinta pada Indonesia.
Bagaimana tidak, pabrikan mobil listrik asal Vietnam ini resmi memastikan bahwa pabrik barunya di Subang, Jawa Barat, akan mulai berdetak penuh pada Maret 2026.

Namun sebelum mesin-mesin itu bekerja dengan ritme pabrik yang sesungguhnya, Desember 2025 nanti mereka akan melakukan “pemanasan” alias tahap uji coba produksi.
Ibarat konser besar, ini adalah sesi sound check sebelum pertunjukan dimulai.

CEO VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto, yang baru saja meresmikan diler baru di Bekasi, menegaskan langsung rencana tersebut.
“Perakitan mulai percobaan Desember, produksi massal Maret 2026, dan dimulai dari VF3 dulu,” ujarnya penuh semangat.

Ya, VinFast tampaknya tahu betul bahwa orang Indonesia suka hal-hal mungil yang gesit tapi punya tenaga besar.
Maka dipilihlah si kecil lincah VF3 sebagai pionir perakitan lokal.

Mobil mungil ini bukan sekadar imut-imut beroda empat.
Ia dirancang khusus untuk menghadapi jalanan perkotaan Indonesia yang padat, rumit, kadang sabar, kadang bikin naik darah.

Dengan sistem perakitan lokal alias CKD (Completely Knocked Down), VinFast berharap harga VF3 bisa lebih bersahabat dengan dompet masyarakat.
Dan siapa tahu, bisa menyaingi magnet motor matic yang selama ini jadi idola urban.

VF3 punya tubuh ringkas tapi penuh gaya: panjang 3.190 mm, lebar 1.679 mm, tinggi 1.652 mm, dan wheelbase 2.075 mm.
Pas untuk selap-selip di kemacetan tanpa harus mengeluh soal parkiran yang sempit.

Tenaganya disuplai dari baterai LFP berkapasitas 18,64 kWh.
Dalam sekali isi penuh, mobil ini diklaim mampu menempuh jarak hingga 215 kilometer — cukup jauh untuk pulang-pergi kantor selama seminggu tanpa panik cari colokan listrik.

Desainnya? Futuristik, tentu saja.
Wajah depannya menampilkan grill minimalis dan lampu LED tajam seperti mata robot yang baru bangun tidur.
Sementara bagian belakangnya memamerkan lekukan elegan yang aerodinamis, seolah sedang berbisik, “aku kecil, tapi modern.”

Masuk ke dalam, suasananya terasa simpel namun pintar.
Sebuah layar sentuh 10 inci di tengah dasbor menjadi pusat komando — tempat di mana teknologi dan gaya bertemu dalam satu sentuhan lembut.

Dengan langkah strategis ini, VinFast bukan hanya membangun pabrik.
Mereka sedang membangun kepercayaan diri, bahwa mobil listrik terjangkau bisa lahir dari tanah Indonesia dengan kualitas yang pantas dibanggakan.

Kalau semua berjalan sesuai rencana, Maret 2026 bisa jadi momen bersejarah — ketika VinFast VF3 melaju dari Subang, membawa mimpi hijau dengan baterai penuh dan semangat tanpa habis.

Jalan Compreng–Pusakajaya Akhirnya Leucir, Warga Subang Girang Bukan Kepalang!

Jalan Compreng Pusakajaya Subang

SUBANG – Setelah sekian lama menunggu, masyarakat di perbatasan Kecamatan Compreng dan Kecamatan Pusakajaya akhirnya bisa bernapas lega. Ruas jalan sepanjang 700 meter di Desa Rangdu, Kecamatan Pusakajaya, kini leucir alias mulus seperti baru disetrika!

Jalan yang selama ini menjadi “jalan perjuangan” itu diresmikan langsung oleh Bupati Subang, Reynaldy Putra Andita, pada Jumat (31/10/2025), bertepatan dengan rangkaian kegiatan Saba Desa Kecamatan Pusakajaya.

Pembangunan jalan senilai Rp1,8 miliar ini bukan hanya mempercantik wilayah, tapi juga mempermudah distribusi hasil pertanian dan menghubungkan dua kecamatan penting di Subang bagian timur. Lebih dari itu, jalur ini menjadi pintu batas alami antara Kabupaten Subang dan Kabupaten Indramayu.

Kepala Desa Rangdu, Dunengsih, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. “Alhamdulillah, jalan ini akhirnya leucir. Kami sangat bersyukur karena ruas ini sangat penting bagi masyarakat,” ujarnya dengan wajah sumringah.

Ia pun berharap agar perbaikan jalan kabupaten di wilayah perbatasan terus berlanjut supaya wajah Kabupaten Subang makin menawan di mata siapa pun yang melintas.

Sementara itu, Bupati Reynaldy Putra Andita dalam sambutannya menegaskan bahwa pembangunan ini merupakan bagian dari program besar Subang Leucir 2027, sebuah gerakan menjadikan seluruh infrastruktur Subang mulus, tertata, dan produktif.

“Mudah-mudahan jalan ieu tiasa jadi keberkahan masyarakat di Pusakajaya,” ucap Bupati penuh harap.

Tak berhenti di situ, Bupati juga menegaskan komitmen Pemda Subang yang tahun ini telah menyiapkan lebih dari Rp4,8 miliar khusus untuk peningkatan infrastruktur jalan di wilayah Kecamatan Pusakajaya.

“Sanes ieu hungkul, kapayuna dibeneran dugi ka Dulem. Diberesan tahun ieu tos disiapkeun Rp4,8 miliar kanggo Pusakajaya,” katanya, disambut tepuk tangan warga yang hadir.

Peresmian berlangsung meriah dengan kehadiran Forkopimcam Pusakajaya, Asisten Daerah, Kepala OPD, Kepala Desa Rangdu, serta ratusan masyarakat yang ikut menyaksikan momen bersejarah ini.

Kini, jalan yang dulunya penuh lubang dan genangan sudah menjelma jadi jalur penghubung yang mulus dan membanggakan. Satu lagi bukti bahwa Subang memang sedang bersolek menuju “Subang Leucir 2027” — dari pinggiran, untuk kemajuan bersama.

RS Agro Medika Nusantara Subang: Dari Klinik Perkebunan ke Rumah Sakit Modern Bersejarah

RS Agro Medika Nusantara Subang

SUBANG – Kalau bangunan bisa bicara, mungkin RS Agro Medika Nusantara (RS AMN) Subang akan jadi saksi hidup paling cerewet di Jawa Barat. Berdiri sejak 1914, rumah sakit ini dulunya cuma klinik kecil milik perusahaan perkebunan Belanda Pamanoekan and Tjiasem Landen (P&T Landen) — tempat para pekerja kebun berobat setelah bergulat dengan tebu dan karet.

Setelah nasionalisasi perusahaan Belanda pada 1956, pengelolaannya pindah ke Perusahaan Perkebunan Negara (PPN). Lalu pada 1965, namanya berubah menjadi RS PPN Dwikora IV, sebelum akhirnya bertransformasi bersama induk perusahaannya hingga berada di bawah bendera PT Perkebunan Nusantara VIII (PTPN VIII).

Kini, bangunan bersejarah di Jalan Otto Iskandardinata, jantung Kota Subang itu, kembali melangkah ke babak baru dengan nama RS Agro Medika Nusantara Subang, di bawah pengelolaan PTPN I, bagian dari Holding Perkebunan Nusantara, PTPN III (Persero).

Nama boleh berganti, tapi masyarakat Subang tetap setia menyebutnya “RS PTPN VIII”. Ya, nama lama memang susah move on — apalagi kalau sudah melekat di hati warga.

Transformasi ini bukan sekadar ganti papan nama. Ia menjadi simbol modernisasi layanan kesehatan sekaligus langkah strategis menuju visi besar: menjadi rumah sakit terbaik di Kabupaten Subang tahun 2027.

Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas, menyebut perubahan ini sebagai bagian dari strategi besar untuk mengoptimalkan aset perusahaan di luar komoditas utama.

“Saya apresiasi langkah Rumah Sakit Agro Medika Nusantara Subang yang sebelumnya bernama RS PTPN VIII dengan bertransformasi untuk menjadi profit centre baru. Ini selaras dan menjadi mandatori dari pemegang saham kepada PTPN I sebagai Supporting Co untuk mengelola aneka bisnis dengan memanfaatkan aset yang ada,” ujar Teddy di pekan kedua Oktober 2025 lalu.

Menurutnya, PTPN I kini menaungi sejumlah rumah sakit dan klinik besar yang melayani masyarakat umum. Ke depan, bisnis kesehatan akan menjadi lini strategis baru yang bukan hanya menguntungkan, tapi juga berkontribusi nyata bagi pelayanan publik.

“PTPN I memiliki aneka bisnis dengan potensi besar di masa depan. Rumah sakit menjadi salah satu sektor yang akan kami dorong sebagai sumber pertumbuhan baru, sekaligus bentuk kontribusi nyata BUMN dalam meningkatkan layanan kesehatan masyarakat,” ucap Teddy.

Sementara itu, Direktur RS AMN Subang, dr. Mugia Nugraha, memastikan transformasi ini bukan hanya soal tampilan, tapi juga peningkatan mutu layanan dan digitalisasi sistem.

“Kami memastikan seluruh SDM kami kompeten dan memiliki peralatan lengkap untuk melayani pasien. Kami juga melakukan adaptasi terhadap digitalisasi, seperti sistem pendaftaran online, layanan telemedicine, dan integrasi dengan aplikasi JKN Mobile,” jelasnya.

Kini, RS AMN Subang memiliki kapasitas memadai dan fasilitas lengkap, dari IGD 24 jam, Laboratorium, Farmasi, ICU, hingga layanan penunjang seperti Radiologi, Fisioterapi, Rehabilitasi Medik, Perawatan Luka, Hemodialisa, serta medical check-up on site dan konsultasi gizi.

Transformasi menuju layanan rumah sakit modern ini menjadi bukti nyata bahwa Holding Perkebunan Nusantara tak hanya piawai di ladang, tapi juga peduli pada kesehatan masyarakat.

Sinergi antara nilai historis dan inovasi digital menjadikan RS Agro Medika Nusantara Subang bukan sekadar rumah sakit, melainkan warisan sejarah yang terus hidup, tumbuh, dan menyehatkan Subang dari generasi ke generasi.

VinFast Bangun Pabrik di Subang, Siap Gebrak Pasar Mobil Listrik Indonesia

Pabrik VinFast Subang

SUBANG – Pabrikan mobil listrik asal Vietnam, VinFast, resmi tancap gas di Indonesia. Bukan di Jakarta, bukan di Surabaya, tapi di Subang, Jawa Barat — tanah yang kini siap jadi “rumah baru” bagi kendaraan masa depan berteknologi hijau.

CEO VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto, mengungkapkan bahwa pabrik di Subang akan menjadi prioritas utama. “Kita base-nya setir kanan. Jadi, nanti memang prioritas pertama untuk suplai lokal,” ujarnya di Jakarta, Jumat (31/10/2025).

Rencananya, uji coba fasilitas produksi akan dimulai pada Desember 2025, dan kegiatan produksi massal ditargetkan meluncur pada Maret 2026. Mobil perdana yang bakal keluar dari jalur perakitan Subang adalah VF3, kendaraan mungil nan gesit yang siap menyapa jalanan Indonesia.

Walau fokus awalnya adalah memenuhi pasar dalam negeri, VinFast tak menutup peluang ekspor. “Tidak menutup kemungkinan kalau itu nanti jadi basis ekspor untuk negara-negara lain yang setir kanan. Karena, kalau yang setir kirinya kan di Vietnam,” tutur Kariyanto.

Langkah ini menunjukkan strategi VinFast yang cermat — tidak hanya menjual mobil, tapi juga menjual gaya hidup ramah lingkungan dengan sentuhan teknologi masa depan.

Yang menarik, VinFast menawarkan skema sewa baterai untuk lini mobil listriknya: VF3, VF5, VF e34, VF6, dan VF7. Jadi, konsumen tidak perlu pusing soal biaya baterai yang mahal di awal.

Dengan pembayaran awal mulai Rp156 juta, pembeli sudah bisa membawa pulang mobil listrik, lalu cukup membayar langganan sewa baterai bulanan mulai Rp253 ribu.

Sebagai perbandingan, VF3 dibanderol Rp156 juta dengan sewa baterai Rp253 ribu per bulan, sementara VF6 varian Eco seharga Rp335 juta dan VF6 varian Plus Rp394 juta dengan sewa baterai Rp650 ribu per bulan.

Artinya, VinFast bukan cuma jual mobil — tapi juga ide baru tentang bagaimana kita memiliki kendaraan: ringan di awal, fleksibel di tengah, dan ramah lingkungan di akhir.

Subang pun kini bersiap menyambut era baru otomotif. Dari kota yang tenang, sebentar lagi akan terdengar deru halus mobil listrik yang siap menyalakan masa depan Indonesia.

Recent Posts