Beranda blog Halaman 43

Subang Berkilau di Jakarta: Kang Rey Bawa Pulang Penghargaan Inovasi TV One 2025

Jakarta malam itu berkilau bukan karena lampu studio, tapi karena semangat para kepala daerah yang “berpeluh, bukan mengeluh”.

Ya, Jumat (07/11/2025), Bupati Subang Reynaldy Putra Andita alias Kang Rey resmi menerima Penghargaan TV One Inovasi Membangun Negeri 2025 di Studio TV One, Jakarta Selatan.

Bukan sendirian, Kang Rey berdiri sejajar dengan 8 Bupati/Walikota lain—mulai dari Berau hingga Malang—serta 7 Gubernur top seperti dari Bali, DKI Jakarta, dan Jawa Tengah. Semua hadir karena satu alasan: mereka punya inovasi nyata yang dirasakan rakyat.

Menurut Direktur Marketing TV One, Maria Goretti Limi, penghargaan ini bukan hasil asal comot. Ada riset dan verifikasi mendalam bersama Bakrie University, memastikan inovasi para penerima benar-benar berdampak.

Suasana makin hangat saat Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya, melontarkan kalimat yang langsung menampar rasa malas:

“Mengeluh atau berpeluh. Yang ada hari ini adalah mereka yang memilih berpeluh dengan keringat dan gagasan serta mencari ruang inovasi dan kolaborasi.”

Sementara itu, Menteri UMKM RI, Maman Abdurrahman, menegaskan bahwa ajang seperti ini harus jadi vitamin ide untuk semua:

“Harapan besar event kredibel seperti ini menjadi apresiasi atas inovasi anak bangsa dan langkah motivasi.”

Nah, di panggung bergengsi itu, Kang Rey menerima penghargaan kategori Public Service, berkat tiga program andalannya: percepatan pembangunan infrastruktur, Saba Desa, dan Subangfest.

Tiga program itu lahir bukan dari ruang rapat ber-AC, tapi dari lapangan, dari teriakan warga, dan dari niat kuat membangun Subang yang “leucir” alias bersinar.

Begitu menjabat Februari 2025, Kang Rey langsung dihadapkan pada PR besar: 220 kilometer jalan rusak.
Namun bukannya mundur, ia malah menggandakan anggaran infrastruktur jalan dari 80 miliar menjadi 250 miliar rupiah.

“PR cukup besar banyak jalan dalam kondisi rusak. Biasanya dianggarkan 80 Milyar (untuk jalan), begitu dilantik saya tegas 250 Milyar untuk jalan,” ujarnya tegas.

Hasilnya? Sudah 80 kilometer jalan kabupaten diperbaiki, dan target Subang Leucir 2027 terus dikebut tanpa jeda.

Soal pengurangan transfer ke daerah, Kang Rey juga tak gentar.

“(Pengurangan) TKD tidak boleh mengurangi dana untuk infrastruktur agar Subang Leucir 2027 tercapai.”

Selain aspal dan beton, Kang Rey juga punya cara lain “menambal” jarak antara pemimpin dan rakyat: lewat program Saba Desa.

Setiap minggu, ia blusukan menelusuri pelosok Subang—245 desa jadi target langkah kakinya—untuk menyerap aspirasi langsung dari masyarakat.

“Saya ingin jemput bola menyerap aspirasi terutama jalan rusak karena Saya ingin memberikan apa yang dibutuhkan apalagi itu uang pajak yang harus kembali ke masyarakat. 245 desa harus sudah saya pijak,” tegasnya.

Tak berhenti di situ, Subangfest menjadi oase hiburan bagi warga.
Setiap bulan, acara ini menghadirkan senyum, tawa, dan rezeki berputar—sekitar 300 juta rupiah per edisi.

“Subangfest kami hitung ada 300 juta perputaran uang. Selain itu sekaligus meng-highlight talent lokal dan memberi hiburan gratis bagi masyarakat.”

Meski sorotan kamera dan tepuk tangan tertuju padanya, Kang Rey tetap merendah.

“Mudah-mudahan menjadi motivasi bagi saya bekerja lebih baik memberikan pelayanan masyarakat.”

Dan seperti pemimpin sejati, ia menutup pidatonya dengan hati penuh syukur:

“Penghargaan ini saya berikan kepada seluruh masyarakat Subang.”

Turut hadir dalam acara penuh makna ini: Wamen Koperasi, Wakil Direktur Utama TV One, Kepala Bagian Prokompim Setda Subang, Sekretaris Diskominfo Subang, serta para tamu undangan lainnya yang ikut berbangga melihat Subang makin bersinar.

Subang: Di Tengah Denyut Kabupaten, Antara Kota dan Kampung yang Menyatu

Kecamatan Subang Ibukota Kabupaten Subang

Subang bukan hanya nama kabupaten—ia juga adalah nama sebuah kecamatan yang menjadi pusat dari semuanya. Di sinilah roda pemerintahan berputar, suara pasar berpadu dengan azan dari masjid, dan jalanan yang selalu punya cerita baru setiap harinya.

Kecamatan Subang berdiri di wilayah peralihan antara dataran rendah dan dataran tinggi, pada ketinggian menengah yang menjadikannya seimbang antara panas kota dan sejuknya alam pedesaan di pinggiran.
Bayangkan sebuah kawasan yang di utara bersentuhan dengan Pagaden dan Cibogo, di selatan berpelukan dengan Jalancagak dan Ciater, di timur menyapa Cijambe, dan di barat kembali bertetangga dengan Pagaden dan Cibogo.
Seolah Subang menjadi simpul—titik temu antara semua arah dan semua wajah kehidupan.

Dengan luas 63,30 kilometer persegi, Kecamatan Subang bukan hanya pusat pemerintahan, tapi juga pusat keramaian dan kepadatan penduduk.
Data BPS mencatat ada 140.942 jiwa yang tinggal di wilayah ini, dengan kepadatan mencapai 2.228 jiwa per kilometer persegi—angka tertinggi di seluruh Kabupaten Subang.
Tak heran, kehidupan di sini bergerak cepat. Tapi di balik riuhnya lalu lintas dan padatnya permukiman, ada harmoni yang tetap terjaga: antara kerja keras, kekeluargaan, dan tradisi yang enggan hilang.

Subang memiliki 14 wilayah administratif, terdiri dari 6 kelurahan dan 8 desa.
Kelurahan seperti Karanganyar, Cigadung, Dangdeur, Soklat, Pasirkareumbi, dan Subang menjadi wajah urban kecamatan ini—dengan jalan-jalan yang hidup hingga malam dan deretan toko yang selalu sibuk.
Sementara delapan desa seperti Ciasem, Ciheuleut, Cidahu, Rancabango, Sukamelang, Sukarahayu, Mulyasari, dan Kasomalang Kulon menjaga sisi lain dari Subang: lebih hijau, lebih tenang, dan tetap hangat dalam kesederhanaan.

Ada 781 RT dan 233 RW di seluruh kecamatan ini—angka yang menandakan betapa rapatnya jalinan sosial masyarakatnya. Di setiap gang, selalu ada cerita kecil: anak-anak bermain sepeda, ibu-ibu bercengkerama di teras rumah, hingga bapak-bapak yang tak pernah absen nongkrong di warung kopi pagi-pagi.

Kehidupan di Kecamatan Subang adalah percampuran yang unik antara ritme kota dan napas desa.
Ia bukan sekadar ibukota kabupaten, melainkan miniatur kehidupan Subang itu sendiri—di mana modernitas dan tradisi berjalan beriringan, tanpa saling meniadakan.

Subang mengajarkan bahwa kemajuan tak harus kehilangan kehangatan, dan kepadatan tak harus menghapus keramahan.
Di sinilah pusat kehidupan Subang berdetak—penuh, padat, dan tetap bersahaja.

Jalancagak: Di Atas Awan Subang, Cerita yang Menyejukkan

Kecamatan Jalancagak Kabupaten Subang

Jalancagak—nama yang selalu terdengar sejuk bahkan sebelum kaki menginjak tanahnya.
Terletak di bagian selatan Kabupaten Subang, wilayah ini berdiri gagah di atas dataran tinggi, pada ketinggian rata-rata sekitar 517 meter di atas permukaan laut. Tak heran, udara di Jalancagak terasa lebih lembut, lebih ramah bagi siapa pun yang datang untuk mencari ketenangan.

Bayangkan, di utara Jalancagak bersentuhan dengan Cijambe, di selatan berpelukan dengan Ciater yang terkenal dengan pemandian air panasnya, di timur menyapa Kasomalang, dan di barat bersalaman akrab dengan Sagalaherang.
Batas-batasnya seperti lingkar pelukan alam—hangat dan menenangkan.

Kecamatan ini terdiri atas tujuh desa: Bunihayu, Curugrendeng, Jalancagak, Kumpay, Sarireja, Tambakan, dan Tambakmekar.
Jumlahnya memang tak sebanyak Pagaden atau Kalijati, tapi setiap desa di sini punya watak dan lanskap yang khas.
Sebagian besar wilayahnya berupa perbukitan dan pegunungan, dengan hamparan kebun teh, sayuran, dan kebun buah yang memanjakan mata.

Ketinggian di tiap desa pun tak jauh berbeda—rata-rata 500 hingga 520 meter di atas permukaan laut.
Desa Curugrendeng, Sarireja, dan Kumpay menjadi titik tertinggi dengan 520 meter dpl, seolah jadi atap kecil bagi Subang bagian selatan.
Sementara Tambakmekar yang berada di ketinggian 500 meter dpl menjadi lembah kehidupan, tempat aktivitas warga berdenyut dari pagi hingga petang.

Dari sisi kependudukan, Jalancagak tergolong padat untuk ukuran daerah pegunungan.
Kepadatan rata-ratanya mencapai 1.025 jiwa per kilometer persegi, dengan Desa Sarireja sebagai yang terpadat (1.434 jiwa/km²) dan Kumpay sebagai yang paling lengang (753 jiwa/km²).
Namun, di balik angka-angka itu, Jalancagak tetap terasa tenang—karena yang padat di sini bukan hanya penduduknya, tapi juga kebersamaan dan rasa saling mengenal antarwarga.

Jalancagak adalah kisah tentang kesejukan yang tak hanya berasal dari udara, tetapi juga dari sikap manusia yang menghuni lereng-lerengnya.
Ia bukan sekadar kecamatan di peta, melainkan sajak hijau di kaki pegunungan, tempat waktu berjalan sedikit lebih lambat agar orang bisa belajar mensyukuri hidup.

Pagaden: Di Antara Sawah, Sungai, dan Cerita yang Tak Pernah Habis

Pagaden Kecamatan di Kabupaten Subang

Pagaden, salah satu kecamatan di Kabupaten Subang, bukan sekadar nama yang sering kita dengar di rute perjalanan menuju kota—ia adalah denyut yang lembut dari jantung Subang bagian tengah.

Bayangkan peta kecil di mana Pagaden berdiri tegak di tengah persawahan, bersentuhan dengan Binong di utara, berpelukan dengan Subang dan Cibogo di selatan, menyapa Cipunagara di timur, dan bersalaman hangat dengan Pagaden Barat di sisi barat.
Ramah tetangga? Sudah tentu. Bahkan batas wilayahnya saja terasa seperti sapaan antar-sahabat lama.

Wilayah Pagaden terbentang seluas 49,35 kilometer persegi—tak seluas Kalijati memang, tapi cukup luas untuk menampung ribuan cerita, dari langkah petani di pagi hari hingga suara anak-anak yang berlarian selepas sekolah.

Pagaden punya 10 desa, 85 RW, dan 274 RT.
Bayangkan saja, 274 RT! Kalau semua ketua RT berkumpul untuk musyawarah, bisa jadi butuh lapangan bola sebagai ruang rapatnya.

Dan di antara sepuluh desa itu, Gembor berdiri sebagai yang terluas, membentang sejauh 9,67 km²—tempat di mana hamparan hijau seolah tak pernah habis.
Menyusul Jabong dengan 6,87 km², lalu Sukamulya, Sumbersari, Gambarsari, Neglasari, Gunungsari, Gunungsembung, dan Pagaden sendiri yang menjadi jantung administratif kecamatan.
Sementara Kamarung menjadi si kecil yang gesit, hanya 1,95 km², tapi penuh kehidupan—ibarat halaman kecil yang selalu ramai oleh canda warga.

Berdasarkan data BPS, Pagaden dihuni oleh 59.831 jiwa dengan kepadatan sekitar 1.346 jiwa per kilometer persegi.
Penduduknya padat, tapi suasananya tetap akrab—barangkali karena hampir setiap orang di Pagaden masih hafal nama tetangganya sendiri.

Namun Pagaden bukan hanya angka dan tabel statistik. Ia adalah kisah tentang keseimbangan:
antara luas dan padat, antara sawah dan jalan raya, antara tradisi dan perubahan.
Di sini, kehidupan berjalan dengan irama yang wajar—tak tergesa, tapi pasti.

Mungkin itulah yang membuat Pagaden selalu menarik: bukan karena besarnya wilayah, tapi karena hangatnya manusia yang menempatinya.

Kasus Guru Tampar Siswa di Subang Berakhir Damai, Orang Tua dan Sekolah Saling Memaafkan

Kasus guru tampar siswa Subang

Subang – Kisah panas antara orang tua remaja berinisial RZ (16) dan guru mata pelajaran IPS di SMPN 2 Jalancagak, Kabupaten Subang, akhirnya mendingin. Kedua pihak sepakat berdamai setelah sempat berselisih dan ramai diperbincangkan publik.

Ayah RZ, Deni Rukmana, mengakui dirinya sudah meminta maaf kepada pihak sekolah atas sikap emosional yang sempat terjadi, termasuk kenakalan sang anak yang melanggar aturan dengan membolos. Namun, ia berharap kejadian ini menjadi pelajaran bersama.

“Masalah ini sebenarnya sudah selesai. Saya sudah minta maaf ke sekolah dan ke gurunya juga. Tapi saya kecewa kenapa cara mendidik anak harus dengan kekerasan. Karena itu saya sempat unggah ke media sosial,” ujar Deni saat ditemui di rumahnya, Rabu (5/11/2025).

Meski sudah berakhir damai, peristiwa penamparan itu ternyata menyisakan luka psikologis bagi RZ. Sang ayah menuturkan bahwa anaknya kini trauma, lebih banyak berdiam diri di kamar, dan belum berani kembali ke sekolah.

“Semalam saya langsung bawa anak saya ke puskesmas untuk diperiksa. Telinganya masih berdengung sampai sekarang,” katanya.

Dari informasi yang diperoleh, insiden bermula pada Senin (3/11) ketika RZ dan tujuh temannya ketahuan melompati pagar sekolah untuk membolos pada Rabu (29/10) sebelumnya. Sebagai bentuk sanksi, mereka diminta berdiri sebagai efek jera. Namun, guru berinisial RS diduga menegur dengan nada keras hingga menampar beberapa siswa.

Pihak sekolah kemudian menyatakan penyesalan dan meminta maaf atas tindakan yang dinilai melampaui batas kewajaran dalam mendisiplinkan siswa.

Kasus ini sempat menyebar luas setelah unggahan Deni beredar di media sosial, memancing beragam komentar masyarakat. Kini, keduanya sepakat menutup lembaran dengan damai, berharap tak ada lagi kekerasan dalam dunia pendidikan.

Ketua DPRD Subang Dukung Penuh Perbup Pembatasan Jam Operasional Truk

Perbup 21 Tahun 2025 pembatasan truk Subang

Subang – Ketua DPRD Kabupaten Subang, Victor Wirabuana Abdurachman, S.H., menyatakan dukungan penuhnya terhadap penerapan Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 21 Tahun 2025 tentang Pembatasan Jam Operasional Truk. Hal tersebut ia sampaikan saat mendampingi Bupati Subang, Reynaldy Putra Andita Budi Raemi (Kang Rey), menerima audiensi dari Serikat Pekerja Aqua Grup (SPAG) di Ruang Rapat Bupati II, Rabu (05/11/2025).

Audiensi ini digelar menanggapi kekhawatiran SPAG terkait potensi dampak pembatasan truk terhadap operasional perusahaan dan nasib para pekerja.

Victor menegaskan bahwa kekayaan alam Subang harus memberi manfaat luas bagi masyarakat, pekerja, dan dunia usaha. Ia yakin keberadaan Perbup Nomor 21 Tahun 2025 akan memberikan dampak positif bagi seluruh pihak.

“Dengan adanya pemberlakuan Perbup itu, saya sepakat, mereka (masyarakat) merasa nyaman,” paparnya.

Ketua DPRD juga mengingatkan seluruh perusahaan ekspedisi untuk mematuhi aturan yang berlaku di daerah. Ia memastikan dukungannya kepada para pekerja agar tetap mendapatkan perlindungan yang layak.

“Saya meyakinkan bahwa dirinya akan bersama para pekerja untuk memperjuangkan kebaikan bersama,” tegas Victor.

Ia pun mengajak serikat pekerja Aqua Grup untuk bersikap kooperatif dalam mendukung penyesuaian operasional perusahaan.

“Tolong dari serikat pun bantu kami dari Pemda untuk menekan ke PT Aqua untuk segera merealisasikan [penyesuaian kendaraan],” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Subang, Kang Rey, memastikan bahwa tidak ada pekerja yang akan dirugikan atau terkena PHK akibat kebijakan tersebut.

Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi Pemda Subang dalam memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil berpihak pada pembangunan daerah tanpa mengorbankan kesejahteraan buruh.

Bupati Subang Pastikan Pekerja Ekspedisi Aqua Aman dari Ancaman PHK

Bupati Subang lindungi pekerja ekspedisi Aqua

Subang – Bupati Subang, H. Ruhimat (Kang Rey), menegaskan komitmennya untuk melindungi para pekerja ekspedisi di wilayahnya. Ia meminta seluruh perusahaan ekspedisi agar mematuhi peraturan yang berlaku dan memastikan bahwa pemerintah daerah akan selalu berpihak pada kebaikan bersama.

Ia juga menyoroti pentingnya penerapan Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 21 Tahun 2025, yang menurutnya akan membawa dampak positif bagi masyarakat, pekerja, dan perusahaan di Kabupaten Subang.

“Dengan adanya pemberlakuan Perbup itu, saya sepakat, mereka (masyarakat) merasa nyaman,” paparnya.

Dalam kesempatan yang sama, Asisten Daerah II Setda Subang, Viktor, mengajak serikat pekerja Aqua Grup untuk turut bersikap kooperatif.

“Tolong dari serikat pun bantu kami dari Pemda untuk menekan ke PT Aqua untuk segera merealisasikan,” jelasnya.

Menutup pertemuan, Kang Rey meyakinkan para pekerja bahwa tidak akan ada pihak yang dirugikan, meskipun nantinya terjadi pergantian perusahaan ekspedisi.

“Saya jamin bapak dan ibu yang bekerja di situ, maka akan tetap kerja,” tegasnya.

Ia juga menepis anggapan bahwa menurunnya tren PT Tirta Investama (Aqua) disebabkan oleh regulasi baru.

“Tren Aqua menurun, bukan karena regulasi, pihak Aqua pun mengakui, karena persaingannya semakin banyak,” tutupnya.

Pernyataan tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Umum PP SPAG, Zulkarnaen, yang menilai komitmen Bupati sebagai wujud kepedulian terhadap nasib buruh.

“Terimakasih pak Bupati, kami ingin memastikan, kami tidak terdampak dan kena dari PHK,” ungkapnya.

Agenda tersebut juga dihadiri oleh Wakil Ketua III DPRD Kabupaten Subang, Kepala Dinas Perhubungan, Kasatpol PP dan Damkar, Kepala DPMPTSP, serta perwakilan dari Bapenda Kabupaten Subang.

Atap Bocor dan Dinding Rapuh, Siswa SDN Linggarmanah Belajar di Teras Kelas

SDN Linggarmanah Subang rusak

Hujan deras kini tak hanya menguji payung, tapi juga keteguhan atap sekolah. Di SDN Linggarmanah, Kabupaten Subang, sejumlah siswa terpaksa belajar di teras kelas karena ruang belajar mereka sudah tak lagi layak digunakan.

Atap bocor, plafon rapuh, dan tembok yang nyaris runtuh membuat proses belajar harus pindah ke luar ruangan. Kepala SDN Linggarmanah, Resniati, mengatakan keputusan itu diambil demi keselamatan siswa.

“Atapnya sudah pada bocor, Pak. Kita kan nggak tahu kondisi plafonnya seperti apa, jadi kami memilih aman. KBM kami alihkan di luar kelas,” ujarnya kepada RRI Subang, Selasa (4/10/2025).

Sekolah yang berdiri sejak lama itu, kata Resniati, belum pernah mendapat perbaikan besar dari pemerintah. Satu-satunya perbaikan kecil terjadi empat tahun lalu, pada 2021, saat hanya bagian bocor yang ditambal seadanya.

“Alhamdulillah setiap kejadian ambruk itu selalu pas anak-anak sudah pulang. Termasuk yang jatuh di depan ruang kepala sekolah,” katanya lega.

Menurut Resniati, ruang kelas yang rusak berat meliputi kelas 1, 2, 3, serta ruang kepala sekolah. Tak hanya itu, toilet sekolah pun ikut rusak dan tak bisa digunakan dengan nyaman.

“Kasihan anak-anak harus belajar di luar, apalagi sekarang musim hujan. Mudah-mudahan ada perhatian dari pemda,” harapnya.

Sementara itu, Pengawas SD Kecamatan Subang, Zaenal Mulyadi, mengonfirmasi bahwa kondisi SDN Linggarmanah memang memprihatinkan, meski bukan satu-satunya.

“Ada sekolah lain yang kondisinya malah lebih parah, seperti SDN Panji. Itu jadi skala prioritas dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang. Mudah-mudahan tahun depan bisa segera direhab,” ujarnya.

Dukungan juga datang dari Camat Subang, Sunardi, yang turut meninjau langsung kondisi sekolah.

“Saya mendapat laporan dari Bu Sekel Dangdeur tentang kondisi ruang kelas di SDN Linggarmanah yang rusak berat. Setelah saya lihat langsung, memang benar para siswa belajar di teras depan,” tuturnya.

Sunardi menaksir kerusakan bangunan sudah mencapai lebih dari 60 persen.

“Kalau melihat kondisinya seperti ini, semoga bisa dipercepat dan menjadi prioritas,” tegasnya.

Kini, di bawah langit mendung Subang, anak-anak SDN Linggarmanah tetap bersemangat menulis dan membaca meski tanpa atap yang layak. Mereka belajar di teras, diiringi angin dan doa—semoga sekolah mereka segera kembali berdiri kokoh.

Sanatsu, Sabun Nanas Ajaib dari Siswa MTsN Subang yang Siap Harumkan Jawa Barat

Sanatsu sabun nanas MTsN 1 Subang

Satu lagi kabar harum—secara harfiah—datang dari Kabupaten Subang. Dari tangan kreatif tiga siswi MTsN 1 Subang, lahirlah Sanatsu, sabun ramah lingkungan berbahan dasar kulit nanas yang kini menembus tiga besar Kompetisi Inovasi Jawa Barat (KIJB) 2025.

Selasa (4/11/2025), aula MTsN 1 Subang terasa seperti laboratorium ide. Di sana digelar verifikasi dan validasi KIJB 2025, dihadiri langsung oleh Sekda Subang H. Asep Nuroni, S.Sos., M.Si., Kepala BP4D Iwan Syahrul Anwar, S.STP., Kepala Kemenag Subang Dr. H. Badruzaman, S.Ag., M.Pd., serta tim juri dari Pemprov Jawa Barat.

Dalam sambutannya, Dr. H. Badruzaman tak menyembunyikan rasa bangganya.

“Kami bersyukur bisa menjadi bagian dari KIJB 2025. Sanatsu adalah bukti bahwa siswa madrasah bisa berinovasi dengan memanfaatkan potensi lokal. Ini karya yang lahir dari Subang untuk Jawa Barat,” ujarnya.

Dari Kulit Nanas Jadi Sabun Manis

Tiga siswi hebat — Queeni Alimah Goni Zalzalali Wal Ikrom, Windi Rahma Ayu, dan Ajeng Naura Istiqomah — di bawah bimbingan Yeyet Rosmiati, melihat peluang dari tumpukan kulit nanas di pasar. Limbah yang biasa terbuang itu mereka sulap menjadi sabun cuci tangan alami tanpa alkohol.

Kulit nanas direbus, disaring, lalu diolah jadi sabun cair dan sabun kertas. Hasilnya? Produk yang lembut di kulit, wangi alami, dan bebas bahan kimia berbahaya.

“Kami ingin mengubah limbah jadi berkah. Subang dikenal sebagai kota nanas, jadi kami olah kulit nanasnya agar bisa berguna. Sanatsu sudah banyak dipakai di sekolah dan dipasarkan di koperasi dengan harga Rp2.000 hingga Rp16.000,” tutur Queeni sambil tersenyum bangga.

Sudah Punya HAKI, Siap Go Nasional

Menurut Iwan Syahrul Anwar dari BP4D Subang, Sanatsu bukan inovasi sembarangan.

“Dari enam inovasi yang kami ajukan ke KIJB, dua masuk tiga besar, dan Sanatsu salah satunya. Produk ini bahkan sudah didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) di Kemenkumham,” jelasnya.

Sanatsu juga mendapat pendampingan dari BRIN dan Politeknik Negeri Subang agar punya standar ilmiah yang kuat.

“Sanatsu bukan hanya sekadar sabun sekolah. Ini produk inovatif yang punya peluang dikembangkan ke pasar yang lebih luas,” tambah Iwan.

Pemda dan Pemprov Kompak Dukung

Dukungan juga datang dari Sekda Subang, H. Asep Nuroni, yang menegaskan pentingnya sinergi inovasi di lingkungan pendidikan.

“Inovasi seperti Sanatsu ini penting. Bahannya lokal, prosesnya edukatif, manfaatnya besar. Kami ingin karya anak Subang bisa terus berkembang dan dikenal luas,” tegasnya.

Sementara itu, Iin Raseptina dari Pemprov Jawa Barat tak kalah antusias.

“Untuk pertama kalinya, kategori sekolah hadir di KIJB, dan MTsN 1 Subang langsung menembus tiga besar. Ini luar biasa,” ujarnya kagum.

Dari Madrasah, Harum untuk Jawa Barat

Kepala MTsN 1 Subang, H. Jijib Mujiburohman, S.Ag., M.Pd., menyebut prestasi ini sebagai tonggak penting.

“Sanatsu adalah wujud nyata bahwa siswa madrasah juga bisa berinovasi dan berkontribusi bagi lingkungan. Kami berharap karya ini bisa menjadi inspirasi bagi sekolah lain,” ungkapnya.

Penutupan acara dilakukan dengan peninjauan langsung proses produksi Sanatsu oleh tim juri. Harapannya, sabun nanas ini tak hanya harum di Subang, tapi juga mewangi hingga ke seluruh Jawa Barat—dan siapa tahu, ke seluruh Indonesia.

Forum Arus Bawah Desak DPRD Subang Usut Setoran Aqua ke PDAM TRS

investigasi setoran Aqua PDAM TRS Subang

Subang – Forum Arus Bawah menggelar audiensi dengan Komisi II DPRD Kabupaten Subang pada Senin (3/11/2025). Pertemuan tersebut dihadiri perwakilan Perumda Tirta Rangga Subang (TRS), perusahaan air mineral Aqua, dan PJT II Cabang Subang.

Koordinator Forum Arus Bawah, Andi Lukman Hakim, menyampaikan beberapa tuntutan dalam pertemuan itu. Salah satunya meminta Bupati Subang sebagai pemegang saham BUMD Perumda TRS untuk segera mengambil langkah konkret menyikapi opini publik terkait kerja sama pengusahaan air mineral antara Perumda TRS dan Aqua yang telah berjalan sejak 1997.

“Selanjutnya, DPRD yang dalam hal ini Komisi 2 agar segera mengundang pihak perusahaan Aqua untuk klarifikasi atas pernyataan yang telah membuat kegaduhan sehingga perumda TRS menjadi bahan sorotan publik dan bahkan kami pun merasa aneh dalam manajemen kerjasama yang selama ini dilakukan. Ini kan harus diklirkan pernyataan dari pihak Aqua yang mengatakan ‘kami melakukan eksplorasi sumber mata air di lahan milik kami sendiri, bukan di areal milik aset Perumda TRS’, sedangkan pihak Aqua memberikan kompensasi kepada pihak perumda setiap bulannya, nah ini yang menjadi polemik publik dan ini harus segera diluruskan,” ujar Andi.

Forum Arus Bawah juga mendesak Komisi II DPRD Subang untuk melakukan investigasi terhadap kerja sama tersebut.

“Dan kami meminta komisi II melakukan investigasi ke lokasi pengusahaan air mineral Aqua untuk memastikan kegiatan operasionalnya di lapangan apakah sudah memenuhi standar peraturan pemerintah yang di perjanjian dengan pihak perumda TRS selama ini,” tegasnya.

Recent Posts