Beranda blog Halaman 42

Air Cibulakan Makin Jernih: Perumda Tirta Rangga Umumkan Kabar Baik dari Pegunungan Cijambe

kualitas air Cibulakan Perumda Tirta Rangga

Subang–Sumber mata air Cibulakan akhirnya bernapas lega setelah aktivitas Galian C dihentikan, dan airnya kini kembali menunjukkan sinyal perbaikan yang meyakinkan.

Direktur Utama Perumda Tirta Rangga Subang, Lukman Nurhakim, bersama tim teknis turun langsung ke lokasi untuk memastikan kabar baik ini bukan sekadar harapan manis.

Hasil pengukuran turbidity menunjukkan angka 9,16 NTU, sebuah lonjakan positif dibanding kondisi sebelumnya meski masih perlu dipoles hingga mencapai kisaran 1–5 NTU sebelum menuju aerator.
“Secara kasat mata air sudah tampak lebih jernih, dan hasil pengukuran juga menunjukkan penurunan kekeruhan,” jelas Lukman Nurhakim.

“Meski demikian, air tetap melalui proses pengolahan di instalasi kami hingga benar-benar layak distribusi,” tambahnya.

Tidak berhenti di sumber, Perumda juga aktif melakukan pemeliharaan jaringan agar distribusi air tidak terganggu oleh endapan membandel.

“Kami terus melakukan washout atau pengurasan jaringan di delapan titik agar endapan tidak mengganggu kualitas air ke pelanggan,” tegas Lukman.

“Bila masih ada kekeruhan di beberapa blok, masyarakat tinggal menghubungi saja agar kami bisa lakukan washout,” lanjutnya.

Mata air Cibulakan tak hanya jadi andalan Perumda, tetapi juga sumber kehidupan warga sekitar yang memanfaatkannya langsung untuk kebutuhan harian.

“Pipa-pipa milik warga yang mengambil air dari area mata air kami tetap kami persilakan untuk digunakan,” ujar Lukman.

“Masyarakat di sekitar Cijambe hingga Gunung Tua banyak yang mengelola sendiri air dari mata air ini, dan kami mengimbau agar bersama-sama menjaganya agar tetap lestari,” tambahnya.

Dengan area tangkapan lebih dari 4 hektare, Cibulakan memasok air bersih bagi lebih dari 10.000 pelanggan di tiga kecamatan: Cijambe, Subang, dan Cibogo.

Lukman menutup kunjungan itu dengan pesan sederhana namun dalam, “Kita rawat sumber air kita untuk nanti anak cucu, keturunan yang akan datang.”

Polres Subang Turun ke Jalan: Cek Jalur Nataru dengan Gaya Sigap tapi Santai

pengecekan jalur Polres Subang untuk Nataru

Menjelang libur Natal dan Tahun Baru, Polres Subang bergerak cepat seperti kru film laga yang sedang gladi resik

Kabag Ops Polres Subang, Kompol Asep Rahman, memimpin langsung rombongan kecil nan solid ini menuju dua lokasi strategis: jalur wisata dan jalur Pantura Subang.

Mereka menelusuri jalanan sambil memastikan tak ada sudut yang luput dari pantauan, layaknya tim detektif yang menolak ketinggalan detail sekecil apa pun.

“Kami melakukan pengecekan secara menyeluruh, mulai dari kondisi jalan, potensi titik kemacetan, hingga kesiapan personel dan sarana pendukung di lapangan,” ujar Kompol Asep.

Di jalur Pantura, tim menemukan beberapa lubang jalan yang tampak seperti jebakan kecil siap menguji kesabaran pengendara.

Polres Subang bergegas berkoordinasi dengan dinas terkait agar jalan bisa sehat kembali sebelum arus libur mencapai puncaknya.

Petugas juga meracik strategi pengaturan lalu lintas agar aliran kendaraan tetap mengalir mulus seperti sungai di musim hujan.

Penempatan personel di titik rawan pun dibahas serius agar wisatawan tidak menghitung waktu lebih lama di jalan daripada di destinasi liburannya.

“Tujuan utama kegiatan ini adalah menjamin keamanan dan kenyamanan pengguna jalan. Kami ingin masyarakat bisa menikmati liburan Natal dan Tahun Baru dengan aman, tertib, dan lancar,” tambah Kompol Asep.

Lewat pengecekan ini, Polres Subang menegaskan komitmennya untuk menghadirkan perjalanan akhir tahun yang lebih tenang dan minim drama di jalan raya.

Dahana Unjuk Gigi di Jepang: Bicara Soal ESG, Bukan Sekadar Janji

PT Dahana di Fukuoka

Ada aroma kopi pagi di Fukuoka, tapi yang membuat hangat bukan kafein, melainkan semangat para peserta 10th Asia Conference on Environment and Sustainable Development (ACESD 2025) dan 2nd Asia Conference on Environmental Economic and Policy (ACEEP 2025).

Di antara lautan akademisi dan praktisi dari seluruh dunia, bendera merah putih ikut berkibar lewat delegasi PT Dahana—perusahaan bahan peledak yang kini “meledak” dengan semangat keberlanjutan.

Acara bergengsi itu berlangsung di Shiiki Hall, Kyushu University (Ito Campus), Jepang, pada 8–10 November 2025.

Dahana tak sekadar datang untuk selfie di negeri sakura, tapi tampil mempresentasikan makalah ilmiah tentang inisiatif keberlanjutan mereka.

Delegasi dipimpin dua sosok kunci: Komisaris Wahyudi Hidayat dan Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan SDM, Mohamad Nur Sodiq.

Turut serta dalam tim: Dewi Kurniati, Danny Armeidian, dan Safira Aulia Rinanda. Sedangkan yang tampil di panggung ilmiah adalah Sudirjo Heru—nama yang kini mungkin pantas disebut “pahlawan PowerPoint” Dahana.

Mereka mempresentasikan makalah dengan Paper ID: CE173 berjudul “Building Sustainability Capacity: Linking Life Cycle Analysis with Community Empowerment in a Preliminary Initiative from Dahana, Subang – Indonesia”.

Presentasi itu berlangsung pada Minggu sore, 9 November 2025, sekitar pukul 17:15 waktu Fukuoka—tepat saat matahari mulai turun, tapi semangat mereka justru naik.

Makalah tersebut adalah karya kolaboratif antara Hary Irmawan, Dewi Permatasari, Sudirjo Heru, Aep Saepudin, Ismail Kurbani, Ivan Angga Maulana, Danny Armeidian, dan Safira Aulia Rinanda.

Karya ini tak main-main: sudah lolos proses final review yang ketat dari para reviewers dan Technical Program Committees ACESD.

Kehadiran kami di Fukuoka adalah untuk menegaskan bahwa tata kelola perusahaan yang berkelanjutan serta praktik ESG bukan sekadar kewajiban, melainkan telah menjadi satu kolaborasi keharmonisan yang menunjukkan keberlanjutan perusahaan. Ini adalah representasi kepedulian kami terhadap lingkungan dan masyarakat yang merupakan pemangku kepentingan utama atas keberadaan PT Dahana,” ujar Mohamad Nur Sodiq.

Ia menambahkan, partisipasi ini bukan hanya ajang tampil keren di forum global, tapi juga langkah strategis memperkuat implementasi ESG di masa depan.

Kami berharap, melalui forum ini, Dahana dapat menyerap pengetahuan global terkini serta menjalin jaringan kolaborasi internasional. Ini akan menjadi bekal berharga untuk terus berinovasi dalam program-program pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan yang lebih berdampak,” lanjutnya.

Konferensi ini disponsori oleh iNehc dan IJESD, dengan dukungan teknis dari Yokohama National University, National Institute for Environmental Studies, Nagasaki University, JICA, dan tentu saja Kyushu University sebagai tuan rumah.

Makalah-makalah yang tampil di sini bukan karangan iseng. Semua telah melalui tahapan seleksi super ketat—dari pengajuan awal Agustus 2025 hingga pengumuman akhir Oktober.

Para peninjau datang dari berbagai negara: Arab Saudi sampai Australia, Jepang hingga Portugal, termasuk Indonesia. Dunia seolah sepakat: masa depan harus dibangun dengan ilmu, kolaborasi, dan tanggung jawab.

Dan di antara semua itu, nama Dahana kini tercatat sebagai salah satu pelaku yang tak hanya membicarakan sustainability—tapi benar-benar mempraktikkannya, hingga ke panggung internasional.

Dahana Rayakan Hari Pahlawan dengan Gaya Berjiwa Sosial: Bantuan untuk Veteran Mengalir Hangat di Subang

PT Dahana Hari Pahlawan

Di bawah langit Subang yang teduh, bendera merah putih berkibar anggun di Driving Range PT Dahana, Senin pagi, 10 November 2025.

Tak hanya sekadar seremoni, upacara Hari Pahlawan kali ini berubah jadi ajang keharuan.

PT Dahana—perusahaan BUMN yang ahli urusan bahan peledak—menyulut “ledakan” rasa hormat dengan membagikan paket sembako dan uang tunai kepada para veteran dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kecamatan Cibogo.

Yang memimpin upacara bukan sembarang pejabat: Direktur Utama PT Dahana, Hary Irmawan, turun langsung jadi inspektur.

Dalam suaranya yang tenang tapi berisi, Hary menegaskan bahwa acara ini bukan formalitas. “Hari Pahlawan adalah momentum bagi kita untuk merefleksikan kembali nilai-nilai juang yang telah diwariskan. Bantuan ini mungkin tidak seberapa nilainya dibandingkan pengorbanan para veteran, namun ini adalah cara kami di Dahana untuk ‘Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan’ dengan memberi dampak nyata. Kami ingin memastikan para pahlawan kita merasa dihargai dan tidak dilupakan,” ujarnya.

Lalu, suasana menjadi semakin reflektif ketika Hary membacakan amanat Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf.

Ada tiga “ramuan heroik” dari para pahlawan yang wajib diwarisi: kesabaran, keikhlasan mengutamakan bangsa, dan pandangan jauh ke depan.

Kesabaran itu, kata amanat tersebut, bukan pasrah—melainkan keteguhan dalam menunggu waktu yang tepat dan menjaga persatuan di tengah perbedaan.

Setelah meraih kemerdekaan pun, para pahlawan tak berpesta. Mereka kembali ke rakyat, mengajar, membangun, dan berbakti—sebuah sikap yang kini langka tapi luar biasa.

Yang ketiga, mereka menanam perjuangan bukan untuk hari ini, tapi untuk masa depan. Darah dan air mata mereka adalah doa panjang yang tak padam, sebab menyerah berarti mengabaikan amanah kemanusiaan.

Menteri Sosial juga menekankan: perjuangan masa kini bukan lagi dengan bambu runcing, tapi dengan “ilmu, empati, dan pengabdian.”

Kalimat ini seolah menyalakan semangat baru di bawah tema “Pahlawanku Teladanku.”

Dan di tengah khidmatnya suasana, para veteran menahan haru.

Dadang Suherlan, perwakilan LVRI Kecamatan Cibogo, mengucapkan terima kasih dengan suara bergetar. “Kami sangat berterima kasih atas undangan upacara dan bantuan yang diberikan ini. Ini bukan hanya soal sembako atau uang tunai, tapi soal ingatan dan penghargaan. Kami mendoakan agar Dahana semakin maju, jaya, dan terus memberikan manfaat besar bagi bangsa dan negara,” tuturnya.

Upacara pun berakhir, tapi semangatnya tidak.

Ramah tamah di penghujung acara mempertemukan generasi pejuang dan penerus bangsa dalam suasana hangat.

PT Dahana menutup peringatan ini dengan satu pesan tak tertulis: menghargai jasa pahlawan bukan dengan diam, tapi dengan terus menyalakan semangat pengabdian.

Pemkab Subang Apresiasi Akun Medsos Tersigap Tangani Aduan Warga

penghargaan akun medsos tersigap Subang

SUBANG – Siapa sangka, respons cepat di dunia maya kini berbuah penghargaan nyata. Pemerintah Kabupaten Subang memberikan apresiasi kepada perangkat daerah dan kecamatan yang paling tanggap — dan juga yang paling lambat — dalam menindaklanjuti aduan masyarakat melalui kanal media sosial resmi Pemda.

Momen penghargaan ini diserahkan pada upacara Peringatan Hari Pahlawan 2025, Senin (10/11/2025), di halaman Kantor Bupati Subang.

Berdasarkan hasil evaluasi Oktober 2025, Dinas Sosial Kabupaten Subang keluar sebagai Perangkat Daerah Tersigap, sementara Dinas Pertanian harus menelan pil pahit dengan predikat Tidak Sigap.

Untuk tingkat kecamatan, Kecamatan Subang dinobatkan sebagai Tersigap, sedangkan Kecamatan Sukasari dinilai Tidak Sigap.

Pemberian pin “Tersigap” dan “Tidak Sigap” ini bukan sekadar simbol, tapi bagian dari komitmen Bupati Subang Kang Rey dan jajaran Pemda dalam menegakkan sistem komunikasi publik yang transparan, cepat, dan bertanggung jawab.

Setiap aduan masyarakat kini dapat dipantau secara real-time melalui media sosial resmi pemerintah daerah, lalu dievaluasi setiap bulan untuk memastikan tindak lanjut yang nyata.

Selama Oktober 2025, tercatat 392 aduan masyarakat masuk dari berbagai bidang pelayanan publik. Dari jumlah itu, 103 aduan telah diselesaikan, 236 masih diproses, dan 53 belum mendapat tindak lanjut — yang terakhir ini tentu jadi bahan evaluasi serius.

Pemkab Subang menegaskan, koordinasi lintas perangkat daerah akan terus diperkuat agar setiap laporan warga tak lagi menggantung tanpa kabar.

Melalui sistem penghargaan dan evaluasi rutin ini, Pemkab berharap semua perangkat daerah bisa berlomba menjadi lebih responsif, profesional, dan dekat dengan masyarakat.

Karena di era digital, bukan hanya cepat tangan yang dibutuhkan — tapi juga cepat tanggap dan cepat berpikir demi pelayanan publik yang makin cemerlang.

Kang Akur Tekankan Sinergi dan Keamanan dalam Program Makan Bergizi Gratis Subang

Program Makan Bergizi Gratis Subang

SUBANG – Jumat (7/11/2025) siang di Ruang Rapat Bupati II, suasananya tak biasa. Ada semangat kebersamaan, aroma dapur bergizi, dan gebrakan besar untuk masa depan anak-anak Subang.

Wakil Bupati Subang, H. Agus Masykur Rosyadi atau yang akrab disapa Kang Akur, memimpin langsung Rapat Koordinasi dan Silaturahmi antara Pemkab Subang, Kodim 0605/Subang, serta para mitra Satuan Pengolahan Pangan dan Gizi (SPPG).

Tujuannya satu: memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan aman, sehat, dan tepat sasaran di seluruh pelosok Subang.

Ketua Paguyuban Mitra SPPG Subang, Aceng Kudus, menyebut bahwa paguyuban ini dibentuk secara aklamasi sebagai wadah kebersamaan.

“Paguyuban ini dibentuk agar kita saling mengenal, menjaga silaturahmi, dan saling membantu ketika ada kendala di lapangan. Selain itu, tujuan utama kami adalah mendukung penuh program pemerintah, karena Program Makan Bergizi Gratis ini adalah program yang sangat mulia,” ujarnya.

Ia menambahkan, MBG membuka banyak peluang ekonomi, terutama bagi para ibu rumah tangga yang kini ikut berperan di dapur penyedia pangan bergizi.

Dukungan juga datang dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang melalui Kepala Bidang Sekolah Dasar.

“Program ini bukan hanya soal pemenuhan gizi, tapi juga penerapan perilaku makan sehat dan peningkatan kesejahteraan ekonomi petani, nelayan, dan pelaku UMKM. MBG diharapkan mampu memenuhi sepertiga kebutuhan gizi harian anak-anak, menurunkan angka malnutrisi, serta menekan prevalensi stunting,” jelasnya.

Sementara itu, Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, dr. Sugito, mengingatkan pentingnya aspek keamanan pangan.

“Yang paling utama dari program ini adalah keamanan pangan. Semua bahan makanan harus higienis, bebas dari pencemaran biologi, fisika, maupun kimia. Karena itu, setiap SPPG wajib memiliki Sertifikat Laik Higienis dan Sanitasi (SLHS),” tegasnya.

Kang Akur dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah berkolaborasi.

“Atas nama Pemerintah Daerah, saya berterima kasih kepada Dandim dan seluruh mitra yang berinisiatif mengadakan pertemuan ini. Ini pertama kalinya Pemkab Subang bersama mitra SPPG duduk bersama dalam semangat kolaborasi mendukung program prioritas Presiden,” ucapnya.

Ia menegaskan bahwa keamanan dan keberlanjutan program MBG harus dijaga dengan baik.

“Kelompok 3B ini harus menjadi prioritas karena merekalah calon generasi emas Indonesia di tahun 2045,” ujarnya, merujuk pada kelompok ibu hamil, menyusui, dan balita.

Hingga kini, tercatat 122 dapur SPPG aktif di Subang, sementara 33 dapur lainnya masih berproses dalam sertifikasi.

Kang Akur berharap seluruh pihak saling mendukung agar manfaat MBG menjangkau seluruh masyarakat.

“Program ini akan terus berjalan dan menjadi prioritas nasional. Bahkan pada tahun 2026, pemerintah pusat sudah menyiapkan anggaran sebesar Rp335 triliun untuk MBG,” ungkapnya.

Tak hanya soal gizi, MBG juga menjadi mesin penggerak ekonomi lokal.

Dengan rata-rata Rp900 juta hingga Rp1 miliar per dapur setiap bulan, perputaran uang di Subang diperkirakan mencapai Rp1,4 triliun per tahun.

“Ini artinya perekonomian harus berputar di Subang. Sayur, telur, dan bahan pangan lainnya harus dibeli dari petani dan pelaku usaha lokal. Ini kesempatan besar untuk menguatkan koperasi dan menekan inflasi daerah,” tegas Kang Akur.

Ia pun menutup arahannya dengan pesan yang hangat sekaligus tegas.

“Harapan kita semua, Subang bisa menjadi daerah dengan zero case, tidak ada kasus keracunan. Program ini adalah tanggung jawab bersama, karena di tangan Bapak Ibu semua, kita sedang menyiapkan generasi sehat dan tangguh untuk Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.

Rapat yang dihadiri juga oleh Dandim 0605/Subang, Asisten Daerah Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, serta unsur Forkopimda ini ditutup dengan diskusi hangat dan penuh semangat sinergi.

Karena di balik sepiring makan bergizi, ada cita-cita besar: membangun masa depan anak-anak Subang yang kuat, sehat, dan berdaya.

Polisi Subang Ciduk Dua Pengedar Sabu, Barang Bukti 29 Gram Siap Edar

pengedar sabu Subang ditangkap

SUBANG – Malam di Subang yang biasanya tenang mendadak heboh ketika tim Satuan Reserse Narkoba Polres Subang meringkus dua pria yang diduga jadi pemain utama dalam peredaran sabu.

Kedua tersangka berinisial YDA (41) dan DS (28), warga Desa Mulyasari, Kecamatan Pamanukan, Subang.

“Keduanya mengaku mendapatkan barang haram itu dari seseorang berinisial KDR yang saat ini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO),” ujar AKP Wanda Ervam Liton Dachi, Kepala Satuan Reserse Narkoba Polres Subang, di Subang, Selasa (11/11).

Dari pengakuan keduanya, sabu itu rencananya akan “beredar manis” di sejumlah wilayah sekitar Subang—sayangnya, rencana itu keburu kandas di tangan petugas.

Penangkapan berlangsung Minggu dini hari, sekitar pukul 00.30 WIB, di Jalan Gang Darmodihardjo, Kelurahan Soklat, Kecamatan Subang.

Saat itu, keduanya sedang melaju santai menggunakan mobil Toyota Calya hitam bernomor polisi Z 1087 LN—tak menyangka, perjalanan malam itu berakhir di balik jeruji.

Dari hasil penggeledahan, polisi menemukan 12 paket sabu siap edar seberat 29,11 gram, dua timbangan digital, plastik klip bening, lakban hitam, gunting, dan dua ponsel yang digunakan untuk transaksi.

“Kami akan terus mengembangkan kasus ini untuk mengungkap jaringan peredaran narkoba dan mencari pemasok utama yang masih buron,” tegas Wanda.

Kini, kedua tersangka bersama seluruh barang bukti sudah diamankan di Mapolres Subang untuk penyidikan lebih lanjut.

Atas perbuatannya, mereka dijerat Pasal 114 ayat (2) junto Pasal 112 ayat (2) UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup atau pidana mati.

Dari mobil Calya ke balik sel, langkah keduanya berhenti di ujung jalan—karena hukum, tak pernah tidur di Subang.

Mahasiswa UNISBA Sulap Sampah Jadi Kompos, Subang Tersenyum Hijau

program mahasiswa UNISBA pengolahan sampah Subang

SUBANG – Di Desa Kiarasari, Kecamatan Binong, ada aroma perubahan yang menggoda hidung: bukan bau sampah, tapi semangat hijau yang sedang tumbuh.

Program riset mahasiswa berdampak dari BEM Universitas Islam Bandung (UNISBA) menggandeng Universal Volunteer Indonesia (UVI) dan PKK Desa Kiarasari, dengan pendampingan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Subang.

Ketua Tim Program Mahasiswa Terdampak UNISBA, Dr. Ir. Muhammad Satori S.T., IPU, menjelaskan bahwa kehadiran mahasiswa UNISBA di sana bukan untuk liburan, tapi untuk mengoperasikan teknologi paten bata terawang—alat pengolah sampah organik menjadi kompos super.

Program ini merupakan hibah dari Kementerian Sainstek tahun 2025, dan telah melaju sejak awal Oktober.

Tahapannya seru: mulai dari sosialisasi, pembuatan tujuh unit bata terawang—lima di Sekretariat UVI, dua di belakang Kantor Desa Kiarasari—semuanya siap beraksi melumat sampah jadi manfaat.

“Alasannya UNISBA tertarik dengan permasalahan ini, diterapkan di Desa Kiarasari Kecamatan Compreng Kabupaten Subang, dimana di Desa ini, pada umumnya di Subang, sampah itu sudah menjadi problem. Tentunya juga terjadi di semua tempat, dan program ini bisa berjalan jika kami memiliki mitra. Kebetulan kami di sini memiliki mitra yaitu, UVI di Kecamatan Compreng Subang ini,” ujar Dr. Satori kepada RRI Subang, Selasa (11/11/2025).

Ia menuturkan, program ini lahir dari keresahan: sampah organik yang menumpuk akhirnya diolah menjadi pupuk organik, agar bisa kembali menyuburkan tanah, bukan sekadar menambah beban bumi.

“Harapannya sesuai yang dikerjakan mitra di sini, kinerja para petani yang dibina oleh UVI, kinerjanya juga ikut meningkat. Karena kompos yang dihasilkan itu, bisa mendukung program pertanian. Itu yang kita harapkan dari program ini, di satu sisi program ini, bisa menyelesaikan persoalan sampah organik, ya minimal bisa mengurangilah,” jelasnya penuh harap.

Tak berhenti di situ, pupuk hasil inovasi mahasiswa UNISBA ini diaplikasikan pada tanaman kacang sancha inchi—si kacang eksotis yang dikenal kaya gizi dan tengah naik daun di masyarakat.

Pendampingan mahasiswa dilakukan dengan gaya roadshow ala akademisi keliling, tiga hingga empat kali pertemuan, tanpa perlu menginap di lokasi.

“Jadi program ini sudah berlangsung sejak awal bulan Oktober kemarin. Kegiatan pendampingan akan berlangsung selama 3 bulan, dengan tiga hingga 4 kali pertemuan, artinya para mahasiswa tidak tinggal di sini, disesuaikan dengan jadual road show,” tandas Dr. Satori.

Dari sampah jadi kompos, dari kompos tumbuh kacang, dari kacang lahir harapan. Siapa sangka, inovasi bisa sesederhana bata terawang—dan secerdas mahasiswa yang mau turun tangan.

Jalan Raya Pagaden Rusak Parah, Warga Sebut Mirip “Kubangan Kerbau”

Kondisi Jalan Raya Pagaden Rusak Parah

Subang, 11 November 2025 — Kondisi Jalan Raya Pagaden, Kabupaten Subang, kian memprihatinkan. Jalan yang berstatus sebagai jalan provinsi itu kini rusak parah dan dikeluhkan oleh warga setempat.

Pantauan di lapangan menunjukkan sebagian besar permukaan jalan sudah mengelupas dan berlubang dalam, membuat ruas jalan itu tampak seperti “kubangan kerbau”, terutama saat musim hujan seperti sekarang.

“Jalan ini kondisinya rusak berat, tapi pemerintah seolah tutup mata dan tidak pernah memperbaikinya. Sekarang musim hujan, air menggenang di mana-mana. Kubangannya seperti kubangan kerbau,” ujar Yana, warga Pagaden Barat, kepada wartawan, Selasa (11/11/2025).

Keluhan serupa datang dari warga lainnya, Ade, yang menyebut jalan tersebut kerap tergenang banjir setiap kali hujan deras. Akibatnya, kendaraan sulit melintas dan kerap terjadi kecelakaan ringan.

“Kalau turun hujan, air bercampur lumpur sampai menutupi jalan. Banyak truk yang jeblos dan motor yang terperosok, bahkan sampai jatuh,” katanya.

Menanggapi keluhan warga, Bupati Subang Reynaldy menjelaskan bahwa ruas jalan tersebut merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, bukan pemerintah kabupaten.

“Jalan Raya Pagaden itu adalah jalan provinsi, jadi bukan kewenangan kami di kabupaten. Namun, In Sya Allah dalam waktu dekat ini pihak dinas provinsi akan segera melakukan perbaikan. Kami mohon warga bersabar,” ujar Reynaldy saat acara Coffee Morning bersama awak media di Desa Wisata Tambakmekar, Kecamatan Jalancagak, Senin (10/11) sore.

Perbaikan jalan tersebut diharapkan segera terealisasi agar aktivitas warga dan arus distribusi barang di kawasan Pagaden kembali lancar.

Subang Memanas: dr. Maxi Buka Suara, Paguyuban Sundawani Wirabuana Siap Jadi Tameng Moral

dr. Maxi Subang dan Paguyuban Sundawani Wirabuana

Subang tengah bergejolak. Isu dugaan penyalahgunaan kekuasaan di tubuh birokrasi kian bergulir panas setelah dr. Maxi, S.H., M.HKes, mantan Kepala Dinas Kesehatan Subang, secara terbuka menyingkap praktik-praktik yang disebutnya meresahkan.

Kini, suara dukungan berdatangan. Paguyuban Sundawani Wirabuana DPD Subang resmi menyatakan sikap: mereka siap berdiri di garis depan bersama dr. Maxi melawan apa yang mereka sebut sebagai “tiga serangkai kedzaliman” yang diduga menggerogoti tata kelola pemerintahan daerah.

Ketua Paguyuban, Yosep, menegaskan bahwa apa yang disampaikan dr. Maxi bukan sekadar keluhan pribadi, tetapi cerminan kerusakan sistemik dalam pemerintahan yang butuh pembenahan segera.

Menurut laporan yang beredar, dr. Maxi mengungkap tiga dugaan utama penyalahgunaan wewenang yang mengakar dari hulu ke hilir birokrasi Subang.

Pertama, intervensi dalam pemindahan bidan desa yang dilakukan secara sewenang-wenang oleh oknum penguasa tanpa mempertimbangkan prosedur dan kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat desa.

Kedua, dugaan permintaan “uang ketok palu” oleh oknum anggota DPRD Subang kepada sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD)—indikasi kuat adanya praktik suap dan korupsi dalam proses penganggaran daerah.

Dan ketiga, dugaan setoran wajib dari OPD kepada pihak tertentu, yang disebut-sebut menggerus integritas birokrasi dan menyelewengkan dana publik yang semestinya untuk pelayanan masyarakat.

Yosep menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam melihat situasi ini.

“Kami telah mempelajari dan mengikuti dengan seksama pengungkapan yang dilakukan oleh dr. Maxi. Ini bukan hanya soal perbedaan pendapat, tapi ini adalah perlawanan terhadap kedzaliman yang terstruktur,” ujarnya tegas.

Ia menambahkan,

“Mulai dari intervensi terhadap bidan desa yang menyangkut pelayanan rakyat, hingga dugaan pemerasan ‘uang ketok palu’ dan setoran OPD yang merusak anggaran. dr. Maxi telah menunjukkan keberanian luar biasa dan kami, Sundawani Wirabuana, siap menjadi tameng moralnya untuk melawan oknum-oknum yang menyalahgunakan kekuasaan demi kepentingan pribadi atau kelompok.”

Paguyuban Sundawani Wirabuana kini menyerukan audit menyeluruh dan penegakan hukum yang transparan terhadap seluruh dugaan tersebut. Mereka menilai ini adalah momentum penting bagi masyarakat sipil untuk menunjukkan ketegasan dalam menolak segala bentuk korupsi, intervensi ilegal, dan penyalahgunaan wewenang.

“Kami mengawal isu ini sampai tuntas,” tegas Yosep, menutup pernyataannya.

Suasana Subang kini seperti bara yang menunggu angin—dan publik menanti langkah nyata aparat penegak hukum untuk memastikan, siapa yang benar-benar berdiri di sisi kebenaran.

Recent Posts