Beranda Berita Subang Normalisasi Kali Cigede Mendesak Atasi Banjir Pagaden

Normalisasi Kali Cigede Mendesak Atasi Banjir Pagaden

Banjir Pagaden Subang

suarasubang.com — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Subang merespons cepat laporan masyarakat terkait banjir Pagaden Subang yang melanda wilayah Dusun Sukarandeg, Desa Gunungsari. Tim BPBD segera terjun ke lapangan guna meninjau lokasi terdampak akibat luapan air Kali Cigede. Peninjauan ini bertujuan untuk memetakan masalah yang diakibatkan oleh pendangkalan sungai di wilayah tersebut.

Komandan Regu BPBD Kabupaten Subang, Jaja, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk respons instan terhadap keluhan warga. Selain itu, petugas sedang melakukan asesmen mendalam sebagai bahan laporan bagi pimpinan. Hasil pendataan sementara menunjukkan bahwa terdapat 13 rumah warga yang selalu terendam setiap kali musim hujan tiba.

BACA JUGA:  Nobar Persib di Alun-alun Subang: Sambut Hattrick Juara

Dampak banjir ini juga meluas hingga merusak sektor ekonomi pertanian dan perikanan masyarakat setempat. Tercatat sekitar 30 hektare area pesawahan dan 7 hektare kolam ikan warga ikut terendam luapan air. Seluruh data pemetaan ini akan segera diserahkan untuk menentukan langkah penanganan teknis lebih lanjut oleh pemerintah daerah.

Warga Pagaden Desak Normalisasi Sungai

Seorang tokoh masyarakat, Warta, mengungkapkan bahwa bencana banjir di wilayah mereka merupakan siklus rutin yang terus berulang. Oleh karena itu, kondisi saat ini semakin diperparah oleh tumpukan air kiriman dari wilayah lain yang masuk ke pemukiman. Warga merasa sangat terbebani dengan situasi yang tidak kunjung mendapatkan solusi permanen di bagian hilir sungai.

BACA JUGA:  Langkah Strategis Jawa Barat Menuju Zero New Stunting: Komitmen Subang di Rapat Evaluasi

Mewakili keluh kesah warga, Warta mendesak Pemerintah Kabupaten Subang untuk segera melakukan tindakan normalisasi. Pengerukan Kali Cigede menjadi prioritas utama karena kondisi sungai saat ini sudah sangat dangkal. Akibatnya, sungai tidak lagi mampu menampung debit air yang tinggi saat intensitas hujan meningkat tajam di wilayah Subang.