Beranda blog Halaman 94

Air Mengalir, Syukur Menggelegar: Warga Sukamaju Gelar Tasyakuran Bareng Perumda Tirta Rangga

Perumda Tirta Rangga Subang sukses pulihkan distribusi air

Subang – Sukamaju akhirnya bisa tidur nyenyak—dan mandi dengan damai! Setelah sekian lama bergelut dengan air yang lebih sering “ngambek” daripada mengalir, warga Dusun Sukamaju, Desa Sindangsari, Kecamatan Kasomalang, Subang, kini bisa bernapas lega.

Pada Rabu (9/7/2025), warga menggelar syukuran manis sebagai bentuk terima kasih kepada Perumda Tirta Rangga Subang (TRS). Alasannya? Air bersih sudah kembali berjodoh dengan keran rumah mereka, mengalir tanpa drama.

Acara berlangsung sederhana namun hangat, dihadiri para tokoh masyarakat, pengurus RT/RW, perwakilan pelanggan, dan tentu saja para punggawa dari Perumda TRS. Di antara yang hadir ada Direktur Utama Lukman Nurhakim, Direktur Umum Ujang, Dewan Pengawas Suryana, serta para manajer cabang Jalancagak dan Cisalak.

Ceritanya, warga sempat dibuat resah karena air bersih tak kunjung lancar. Bayangkan, kebutuhan hidup sehari-hari seperti mandi, mencuci, hingga menyeduh kopi jadi urusan penuh tantangan.

Tapi, drama itu tak berlangsung lama. Begitu laporan warga masuk, TRS langsung sigap beraksi. Mereka menggelar operasi senyap—tapi bukan ala detektif. Mereka memperbaiki jaringan pipa, menyesuaikan teknis, dan mengatur debit air. Pelan tapi pasti, air mulai mengalir lancar seperti lagu dangdut yang tak pernah redup.

Kami berkomitmen untuk terus memberikan pelayanan terbaik, dan masukan dari masyarakat menjadi semangat kami untuk terus melakukan perbaikan,” ujar Direktur Utama TRS, Lukman Nurhakim, dengan penuh semangat.

Tasyakuran ini menjadi lebih dari sekadar makan-makan. Ia adalah simbol persahabatan antara masyarakat dan Perumda. Seperti sahabat sejati, satu pihak mendengar, yang lain bergerak.

Tokoh masyarakat, H. Aep, menyuarakan isi hati warga, “Terima kasih kepada Perumda Tirta Rangga Subang yang telah menyelesaikan masalah, sangat memprihatinkan, sangat ironis sekali tapi sekarang Alhamdulillah sudah standby kapanpun kita perlu bisa mengalir dengan normal.

Tak hanya warga yang senang, manajemen TRS pun merasa energi positif dari acara ini. “Tasyakuran ini sebagai bentuk berterimakasih warga kepada manajemen Perumda Tirta Rangga yang sudah bekerja keras memulihkan layanan air bersih sehingga mengalir 24 jam. Setelah sebelumnya hanya mengalir sekitar 8 jam,” lanjut Lukman Nurhakim. Ia pun menegaskan pentingnya semangat pelayanan publik yang harus siaga 24 jam.

Dengan guyubnya warga dan respons cepat TRS, acara syukuran ini menjadi gambaran ideal tentang bagaimana sinergi antara masyarakat dan layanan publik seharusnya terjalin. Semoga air terus mengalir, dan hubungan baik ini terus mengalir pula—tanpa sumbatan.

Waspada di Balik Pelukan: 3.800 Kasus HIV di Subang, Komunitas LSL Masuk Zona Risiko Tinggi

HIV di Subang

SUBANG — Jangan salah sangka dulu. Ini bukan cerita sinetron atau kisah cinta terlarang. Tapi kisah nyata dari Subang, yang diwarnai data mengejutkan. Kepala Dinas Kesehatan Subang, dr Maxi, melaporkan bahwa dari sekitar 6.000 anggota komunitas LSL—alias laki-laki suka laki-laki—sebanyak 94 orang dinyatakan positif HIV. Angka ini hanyalah pucuk dari gunung es karena total kasus HIV di Subang sudah menyentuh angka 3.800 hingga pertengahan 2025. Waduh, bukan angka yang bisa diajak bercanda di warung kopi!

Yang bikin hati miris, mayoritas dari 94 kasus positif ini masih muda belia, belum genap kepala tiga. Mereka kini tengah menjalani terapi ARV—bukan ARV as in Ayo Ramean Vaksin, tapi antiretroviral, senjata utama lawan HIV.

Nah, siapa sajakah pemain utama dalam daftar berisiko tinggi ini? Menurut dr Maxi, mereka adalah para pekerja seks komersial, komunitas LSL, transgender, dan pengguna jarum suntik. Ibarat segitiga Bermuda, empat kelompok ini jadi wilayah rawan untuk penularan HIV.

“Kelompok paling banyak terpapar adalah pekerja seks komersial, disusul komunitas LSL, transgender, dan pengguna narkoba suntik,” jelas dr Maxi dengan nada serius tapi tetap hangat seperti dokter keluarga di sinetron Ramadan.

Dari komunitas LSL yang tercatat 6.000 orang, sebanyak 1.098 di antaranya sudah masuk dalam data resmi Dinas Kesehatan. Ini bukan berarti sisanya aman, tapi bisa jadi mereka belum terjangkau program skrining atau belum “nongol” ke permukaan.

Untungnya, layanan pengobatan di Subang sudah tidak hanya ngendon di RSUD. Puskesmas-puskesmas kini sudah naik kelas! Di Pamanukan, contohnya, ada 500 pasien HIV yang menjalani terapi ARV. Di Jalancagak, jumlah pasiennya 98. Puskesmas zaman sekarang bukan cuma tempat timbang bayi, tapi juga garda depan perlawanan HIV!

Eh, jangan buru-buru panik kalau habis salaman, berenang bareng, atau antre toilet sama pasien HIV. dr Maxi menegaskan: penularan HIV tidak terjadi lewat kontak sosial biasa. Virus ini bukan hantu yang nempel lewat tatapan mata atau kursi yang sama. Jalurnya hanya tiga: hubungan seksual berisiko, dari ibu ke anak, dan berbagi jarum suntik. Kalau lewat nyindir di story WA, sih, itu penularan toxic, bukan HIV!

Sebagai jurus pamungkas, dr Maxi mengusulkan pendekatan ABCDE. Bukan cuma buat nilai rapor, tapi juga gaya hidup sehat bebas HIV:

  • A: Abstinence – tahan diri, jangan ‘main-main’ sebelum nikah
  • B: Be faithful – setia, jangan punya cabang
  • C: Condom – ya, kalau A dan B bolong
  • D: Don’t use drugs – jauhi narkoba, jangan coba-coba
  • E: Education – pahami risikonya, jangan anggap enteng

“Dengan edukasi yang benar, masyarakat diharapkan mampu membentengi diri dan keluarganya dari paparan HIV/AIDS,” tutup dr Maxi, seperti dokter yang bukan hanya menyembuhkan, tapi juga menjaga dari jauh.

Kalau hidup adalah perjalanan, maka jangan sampai salah naik kendaraan. Lebih baik kita tahu jalurnya sekarang, daripada tersesat dan menyesal belakangan.

Lima Jurus Sakti Dinkes Subang: Dari Puskesmas Adem Sampai Rumah Singgah Ber-AC!

Program Prioritas Dinas Kesehatan Subang

SUBANG – Bayangkan datang ke puskesmas dan disambut taman yang asri, ruang tunggu adem karena AC, ada WiFi gratis, dan—ini penting—semua toilet sudah duduk, bukan jongkok lagi. Kedengarannya seperti liburan tipis-tipis, ya? Tapi inilah gebrakan segar dari Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, yang membetot perhatian warga dengan lima program andalannya. Semua demi menyukseskan program “Ngabret”-nya Bupati dan “Jabar Istimewa”-nya Gubernur Jawa Barat.

Kepala Dinkes Subang, dr. Maxi, dengan semangat seperti pembawa acara kuis di televisi, menjelaskan bahwa puskesmas kini harus jadi tempat paling nyaman untuk urusan kesehatan.
“Untuk poin pertama, kita punya tiga program, yaitu perbaikan tampilan fisik puskesmas, sekarang sedang berjalan, ruang tunggu, ruang pelayanan harus representatif dan ber-AC, plus internet gratis, kemudian semua toilet dengan toilet duduk, dan harus bersih, selanjutnya tamannya harus asri,” ucapnya sambil membayangkan taman puskesmas seperti di film drama Korea.

Masuk ke poin kedua, dr. Maxi menolak keras adanya warga yang terabaikan. Ia ingin semua orang, dari ujung rambut sampai ujung Puskesmas, bisa merasakan layanan yang maksimal.

“Yang poin kedua, kita harus melengkapi alat-alat modern, standar puskesmas, apa saja?, yaitu USG, EKG, termasuk alat pengecek darah, dan berbagai peralatan modern lainnya, hingga terpenuhi 51 unit peralatan kesehatan, di seluruh Puskesmas, dan melengkapi kualitas sumber daya manusia, ada 30 orang dokter yang kita sekolahkan, kemudian sikap melayani yang sopan, ramah dan responsif,” bebernya.

Belum cukup sampai situ, Dinkes juga ingin menyambut warga Subang yang perlu dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung dengan cara yang elegan—yakni rumah singgah! Bukan rumah singgah biasa, tapi dengan anggaran Rp5 miliar yang sudah nangkring di APBD 2025.
“Untuk pengadaan rumah singgah di Bandung, prosesnya sedang berjalan, anggarannya sebesar Rp 5 miliar, sudah muncul di APBD Kabupaten Subang tahun 2025 ini,” terang Maxi.

Lanjut ke pembangunan rumah sakit di wilayah Pantura. Targetnya? Sudah berdiri megah sebelum tahun 2028. Lagi-lagi, ini bukan mimpi di siang bolong, melainkan rencana serius yang kini sudah masuk tahap konsultasi.
“Kita sedang berproses berkonsultasi dengan konsultannya, tadinya rencana Pak Bupati, yang menargetkan 2028 itu sudah kita bangun,” ungkapnya penuh optimisme.

Dan terakhir, ini dia bagian paling mengharukan—program Nyaah Ka Indung. Bayangkan seorang kepala dinas bukan hanya mengurusi laporan dan rapat, tapi juga mengurus lansia secara pribadi.
“Untuk program ini, kita Dinkes memiliki lima lansia yang menjadi kewajiban Dinkes dalam program nyaah ka indung. Sementara saya sendiri, secara pribadi mungkin lebih dari 10 lansia yang saya urus. Ada yang di Pagaden, Tambakdahan, bahkan hampir seluruh Subang kita urus,” tutup Kadinkes, dengan nada yang terdengar seperti pelukan hangat di tengah hujan.

Kalau semua berjalan sesuai rencana, warga Subang bukan cuma sehat, tapi juga bahagia—dan mungkin betah nongkrong di puskesmas!

#LaporKangRey: Bupati Subang Buka Jalur Curhat Warga via Medsos!

Lapor Kang Rey

SUBANG – Lupakan walk-in ke kantor kelurahan sambil bawa map tebal berisi keluhan tetangga yang buang sampah sembarangan! Kini, warga Subang cukup buka Instagram atau TikTok, ketik unek-unekmu, dan… voilá! Sambungan langsung ke Bupati!

Yap, Pemerintah Kabupaten Subang baru saja meluncurkan sebuah program kece bernama #LaporKangRey. Program ini bukan sekadar tagar keren, tapi jadi jembatan digital antara warga dan Bupati Subang, H. Reynaldi Putra, buat ngobrolin segala hal — dari pelayanan publik yang kurang sip, ide cemerlang buat desa, sampai pertanyaan eksistensial soal kenapa jalanan masih berlubang padahal musim kemarau.

Melalui akun resmi @reynaldyputraofficial di Instagram dan TikTok, warga tinggal kirim pesan lewat DM atau kolom komentar. Tapi jangan asal nyablak ya, tetap santun dan jelas. Berikut langkah-langkahnya — mudah kayak bikin status galau:

  1. Tulis aduanmu dengan bahasa yang sopan dan jelas
  2. Cantumkan alamat lengkap plus nomor telepon aktif (biar bisa ditindaklanjuti, bukan ditinggalin kayak mantan)
  3. Kirim lewat DM atau komentar
  4. Tambahkan tagar #LaporKangRey supaya masuk radar cepat

Yang bikin makin mantap, 31 OPD dan 30 kecamatan di Subang udah disiapkan untuk siap siaga ngebut balas laporan. Jadi ini bukan cuma janji manis doang lho.

Kata Kang Rey sendiri, “Pemerintah hadir dan siap mendengar. Media sosial bukan hanya tempat hiburan, tapi juga bisa jadi saluran perubahan.

Ciee, keren kan? Jadi kalau kamu warga Subang yang selama ini cuma ngedumel di grup WA keluarga, ini saatnya upgrade ke level influencer pembangunan daerah. Kirim laporan, bangun perubahan!

Karena di era digital, ngeluh aja udah bisa trending — apalagi kalau bisa bikin Subang makin cemerlang.

Proyek Misterius di Subang: Saluran Air Datang Tanpa Nama, Pekerja Tanpa Pelindung

proyek tanpa papan nama di Subang

SUBANG — Di Kampung Maja Lewo, Desa Margahayu, Kecamatan Pagaden Barat, Kabupaten Subang, sebuah proyek saluran air sedang dikerjakan. Tapi tunggu dulu… ada yang janggal. Proyeknya ada, pekerjanya juga ada, tapi papan informasinya? Nihil. Hilang entah ke mana. Seperti cinta bertepuk sebelah tangan, pekerjaan ini seolah hadir diam-diam, tanpa memperkenalkan diri.

Ketika awak media mencoba mengorek keterangan dari para pekerja, jawabannya justru bikin dahi mengernyit. “Kami cuma disuruh kerja, Pak,” ujar mereka, tanpa tahu-menahu siapa dalang di balik proyek ini. Mirip sinetron misteri, bukan?

Setelah dilakukan penelusuran, konon proyek ini berasal dari Dinas PUPR Kabupaten Subang. Namun, karena tak ada papan proyek, sumber dana dan besar anggaran pun lenyap bak ditelan kabut pagi. Padahal, aturan mainnya jelas kok: proyek pemerintah itu wajib transparan. Tak boleh main petak umpet, apalagi sama rakyat sendiri.

Dan di sinilah hukum berperan sebagai superhero. Berdasarkan Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) No. 14 Tahun 2008 serta Perpres No. 54 Tahun 2010 dan No. 70 Tahun 2012, setiap proyek yang dibiayai negara harus memasang papan nama proyek. Lengkap dengan nama kegiatan, lokasi, nomor kontrak, nilai anggaran, dan jangka waktu pelaksanaan. Jadi kalau papan nama proyek ini diumpetin, itu sudah menciderai hak publik untuk tahu.

Warga pun angkat suara, walau dengan nama disamarkan demi keamanan (maklum, jaman sekarang kadang nyinyir bisa bahaya). “Proyek tanpa papan nama itu indikasinya untuk membohongi masyarakat supaya anggaran nggak ketahuan,” ujar salah satu warga, Rabu (9/7), dengan nada tak kalah tegas dari jaksa di ruang sidang.

Lalu, masalah tak berhenti di papan nama saja. Saat wartawan mengintip langsung ke lokasi, mereka mendapati para pekerja asyik bekerja… tanpa perlengkapan keselamatan kerja. Tak ada helm, rompi, atau sepatu safety. Duh, ini kerja bangun saluran air atau syuting film aksi?

Keterangan resmi dari pihak pemborong dan Dinas PUPR Kabupaten Subang pun masih belum terdengar. Seperti sinyal Wi-Fi di kampung, kadang muncul, kadang hilang.

Beruntung, Kepala Desa Margahayu, H. Ma’in Permana, saat ditemui di kantornya Selasa (8/7), tak sungkan memberikan klarifikasi. “Proyek dari Dinas PUPR, Kang. Desa hanya menerima manfaatnya saja,” jelasnya.

Begitulah kisah proyek ‘gaib’ yang bikin warga dan wartawan geleng-geleng kepala. Semoga ke depannya, pembangunan tidak hanya membangun fisik, tapi juga membangun kepercayaan dan keterbukaan.

Frasa kunci utama:
Deskripsi meta:

Tag:

Subang Heboh! Polisi Cilik Tampil Kece di Monas, Bikin Presiden Berkaca-kaca

Polisi Cilik Tunas Bhayangkara tampil di Monas

SUBANG – Ada yang beda di SDN Kalapa Kembar, Selasa pagi itu. Bukan karena kantin buka lebih pagi, tapi karena ada tamu istimewa: Bupati Subang, Kang Rey — lengkap dengan setelan resmi dan senyum bangga. Bukan datang untuk sidak atau bagi-bagi PR, tapi buat ngasih selamat kepada barisan kecil berseragam besar: Polisi Cilik Tunas Bhayangkara dari Polda Jawa Barat.

Anak-anak ini bukan sekadar lucu-lucu doang. Mereka tampil kece badai di depan Presiden RI dan Kapolri saat Puncak Hari Bhayangkara ke-79 di Monas, 1 Juli lalu. Bukan main! Dari Monas ke Cigadung, dari nasional ke lokal, tepuk tangan buat mereka belum juga reda.

“Saya ucapkan terima kasih kepada adik-adik Polisi Cilik yang telah menampilkan yang terbaik dan membanggakan Subang di hadapan Presiden RI dan Kapolri,” ujar Kang Rey, yang kalau jadi cheerleader pasti udah juara juga.

Kang Rey, yang namanya makin harum di kalangan warga berkat kedekatannya dengan anak muda, juga menegaskan bahwa Pemkab Subang akan terus nge-backup Polisi Cilik. Ya, jangan sampai prestasi cuma jadi kenangan, tapi harus jadi awal kemenangan.

“Insyaallah ke depannya akan ada pembinaan yang lebih lanjut,” ucapnya mantap sambil memandang barisan cilik dengan mata berkaca… atau mungkin itu efek cahaya matahari?

Ternyata, yang bikin suasana makin haru adalah kehadiran Kakorlantas Polri, Irjen Pol Agus Suryo Nugroho. Beliau bukan cuma datang numpang selfie, tapi menyerahkan langsung piagam penghargaan kepada para jagoan kecil kita. Turut hadir pula pejabat-pejabat penting, termasuk para kepala sekolah—mungkin sedang berpikir, “Gimana ya bikin anak-anak sekolah saya sekeren itu?”

“Anak-anak ini sudah bisa menampilkan yang terbaik di depan Presiden Republik Indonesia,” kata Irjen Agus, dengan nada yang bikin bangga se-RT.

Dan bukan cuma itu. Ternyata Pak Presiden sempat berkaca-kaca waktu nonton aksi mereka. Iya, beneran. Bukan karena kena debu Monas, tapi karena tersentuh banget lihat semangat kebangsaan dari anak-anak yang bahkan belum bisa nyetir motor.

“Saya melihat Pak Presiden berkaca-kaca. Ini menunjukkan bahwa generasi muda kita sangat potensial,” tegas Irjen Agus, yang pastinya ikut merasa bangga seperti kita semua.

Jadi, siapa bilang anak kecil cuma bisa main lato-lato? Di Subang, mereka bisa bikin satu negara terharu. Salut, Polisi Cilik!

Kritik Pedas GPI Subang: “Gubernur Jawa Barat, Lagi Asyik Nganjang Lupa Prioritas?”

Kritik GPI Subang terhadap Dedi Mulyadi

SUBANG — Kalau politik adalah panggung sandiwara, maka kali ini Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi alias KDM, sedang disorot lampu sorot dengan nada tinggi dari arah panggung Subang. Bukan dari lawan politik atau influencer TikTok biasa, tapi dari Gerakan Pemuda Islam (GPI) Kabupaten Subang, yang baru-baru ini tampil lantang bak orator dalam konser perubahan.

Lewat unggahan video di akun TikTok mereka, @gpi.subang, Ketua Umum GPI Subang, Diny Khoerudin—yang akrab dipanggil Pidi, tidak segan menyentil sang gubernur dengan kritik tajam yang terasa seperti perasan jeruk nipis di atas luka anggaran. “Kami anggap Gubernur Jawa Barat tidak memahami skala prioritas. Buktinya, justru banyak mengadakan acara ‘nganjang ka warga’ yang memakan anggaran besar dan tidak efisien. Bahkan dalam kegiatan tersebut, warga miskin dipertontonkan di atas panggung,” ujar Pidi, Senin (7/7/2025).

Bayangkan, bukannya mengundang investor atau menambah lapangan kerja, menurut Pidi, yang terjadi justru semacam pertunjukan sedih: rakyat kecil jadi tontonan, bukan jadi perhatian utama.

Tak berhenti sampai di situ, GPI Subang juga menyoroti “tren rebranding” fasilitas publik ala KDM. Seperti RSUD Al-Ihsan yang mendadak jadi RS Welas Asih, dan gedung negara di Cirebon yang berubah nama jadi Bale Jaya Dewata. Sekilas memang terdengar syahdu, tapi ternyata menyisakan tumpukan pertanyaan administratif yang tidak kalah menyesakkan.

“Perubahan nama itu berdampak pada urusan administratif seperti kop surat, resep dokter, dan dokumen lainnya. Ini bukan hanya tidak efisien, tapi juga menghilangkan sisi historis. Jangan berlindung di balik alasan kearifan lokal jika justru mengabaikan efisiensi dan skala prioritas,” sindir Pidi, dengan nada yang bisa membuat printer kantor ikut berkedip panik.

GPI Subang pun memberi pesan khusus, bukan untuk KDM saja, tapi juga ditujukan kepada Bupati Subang agar tidak latah ikut-ikutan kebijakan yang, kata mereka, lebih mirip festival gimmick daripada solusi konkrit.

“Banyak kegiatan yang tidak penting justru diprioritaskan. Sementara berbagai persoalan mendasar malah disepelekan. Kami berharap Bupati Subang dapat mengambil sikap berbeda, fokus pada hal-hal yang benar-benar dibutuhkan rakyat,” ujar Pidi tegas, seolah memberi alarm sebelum Subang juga ikut-ikutan ‘ganti nama tapi lupa esensi.’

Menurut GPI, ini bukan asal cuap atau gaya-gayaan protes, tapi bentuk cinta terhadap keberjalanan pemerintahan yang sehat, akuntabel, dan berpihak pada yang kecil, bukan hanya yang viral.

MedSos OPD Subang: Dari Laporan Kaku Jadi Jembatan Rakyat

media sosial OPD Subang

SUBANG – Di era digital yang ramai bukan main, ternyata masih banyak OPD yang “berkarya dalam senyap”, alias kerja keras tapi tak ada jejaknya di dunia maya. Kepala BP4D Kabupaten Subang, Iwan Syahrul Anwar, akhirnya angkat bicara. Dalam rapat bersama para penanggung jawab media sosial se-Kabupaten Subang, Senin (7/7/2025), Iwan menegaskan: “Seringkali kita sudah bekerja keras, menyusun program, mengeksekusi kegiatan, dan menyelesaikan pertanggungjawaban internal. Namun, karena tidak ditampilkan di media sosial, masyarakat menganggap kita tidak bekerja.”

Aduh, Pak! Jadi jangan salahkan warganet kalau mikir OPD-nya ngilang. Padahal, semua gerak-gerik Pemkab Subang, dari bupati hingga desa, sudah manggung di media sosial masing-masing. Tapi, ya itu tadi, kalau tampilannya seadanya, netizen tetap nyinyir. Maka, medsos bukan cuma tempat pajang laporan, tapi panggung utama buat tampil keren, transparan, dan dekat sama rakyat.

Iwan pun menyuarakan misi medsos OPD sebagai jembatan komunikasi yang hidup dan hangat. Nggak cukup kirim laporan ke pusat dan BPK lewat LKBE dan LPJ saja. Medsos harus jadi ajang “tunjukkan kerja nyata, jangan cuma laporan data”. Dan jangan lupa, kolom komentar bukan tempat horor, tapi ladang interaksi. “Dibutuhkan sinergi dan kesiapan para PIC media sosial perangkat daerah untuk menjawab dengan cepat dan tepat,” kata Iwan.

Nah, agar tidak hanya jadi festival unggahan satu arah, perlu juga sentuhan manusiawi. Yang namanya komunikasi, harus bisa menjangkau semua orang, bahkan yang sinyalnya suka sembunyi atau yang buka Instagram pakai paket tengah malam.

Sejalan dengan itu, Verlyana (Veve) Hitipeuw, CEO & Chief Consultant Kiroyan Partners, turut mengamini pentingnya komunikasi inklusif. Dalam tulisannya di majalah PR INDONESIA Edisi 114, ia menegaskan bahwa komunikasi publik hari ini tak boleh lagi eksklusif dan sok tahu sendiri. “Komunikasi inklusif menjadi sebuah keniscayaan strategis untuk menyampaikan informasi secara tepat waktu, terbuka, mudah diakses, dan akurat,” tulis Veve, mantap.

Jadi, para admin medsos OPD, yuk kita upgrade diri. Jangan cuma jago posting banner ucapan. Mari jadi pemandu komunikasi yang gesit, asyik, dan kredibel. Karena di era digital ini, medsos adalah ruang tamu publik — kalau kosong dan kusam, siapa juga yang mau mampir?

DPRD Subang Bahas Uang, Jalan Rusak Jadi Bintang Utama!

DPRD Subang

SUBANG – Selasa pagi yang biasanya tenang, mendadak penuh ketegangan di ruang rapat DPRD Subang. Bukan karena ada duel antar fraksi, tapi karena hadirnya Wakil Bupati Subang, H. Agus Masykur Rosyadi, S.Si., M.M., yang membawa kabar penting: uang rakyat mau disesuaikan lagi!

Rapat paripurna kali ini bukan sembarang rapat. Dipimpin langsung oleh Ketua DPRD Subang dan diapit Wakil Ketua I, II, dan III, ditambah barisan lengkap 36 anggota dewan yang hadir dengan wajah serius nan penuh harap—semuanya menyimak satu topik krusial: perubahan KUA-PPAS. Bahasa gampangnya, gimana cara ngatur ulang duit daerah supaya nggak boncos tapi tetap berfaedah.

Acara dibuka dengan parade pandangan umum dari fraksi-fraksi. Masing-masing berpendapat, tentu dengan gaya khasnya: ada yang lantang, ada yang santun, ada juga yang diplomatis tapi nyentil.

Di tengah-tengah hiruk-pikuk pasal dan peraturan, sang Wakil Bupati menyampaikan sesuatu yang relatable banget: jalan rusak. Dengan nada yang setengah serius setengah miris, beliau bilang, “Kita rasakan ini masih banyak yang rusak maksudnya beberapa kegiatan-kegiatan yang di SKPD ini kita alihkan kita alihkan untuk menyelesaikan infrastruktur yang ada.”

Nah lho, siapa sih yang nggak pernah ‘berolahraga’ zig-zag di jalanan rusak Subang? Maka wajar jika kemudian perbaikan infrastruktur jadi prioritas utama dalam revisi KUA-PPAS. Harapannya, dengan penyesuaian anggaran yang cermat, program-program strategis bisa tancap gas dan manfaatnya benar-benar terasa oleh warga, bukan cuma berhenti di papan proyek.

Agenda yang penuh semangat ini juga dihadiri oleh Asisten Daerah III Setda Subang, para Kepala OPD, para camat, insan pers yang siap mengetik cepat, serta tamu undangan yang pastinya gak mau ketinggalan update.

Kalau anggaran sudah tepat sasaran dan jalanan mulus, siapa tahu nanti Subang bukan cuma terkenal karena nanasnya, tapi juga karena aspalnya yang kinclong dan bikin nyaman!

Almaz Fried Chicken Mendarat di Subang: Ayam Goreng Rasa Timur Tengah, Cita Rasa yang Bikin Lidah Kaget!

Almaz Fried Chicken Subang
Foto: www.kotasubang.com

SUBANG — Warga Subang, bersiaplah! Kota tercinta kedatangan jagoan kuliner baru yang siap bikin lidah bergoyang dan perut bahagia: Almaz Fried Chicken! Dengan tagline “The Taste of Middle East”, ayam goreng ini bukan sekadar ayam biasa—ini ayam yang pergi naik unta, pulang-pulang jadi nasi kebuli!

Gerai ke-122 Almaz resmi membuka sayapnya pada Selasa, 8 Juli 2025, di Jalan Otto Iskandardinata No.2, Subang. Acara grand opening-nya pun tak main-main, dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Subang, H. Agus Masykur Rosyadi. Wah, ini bukan ayam goreng sembarangan, ini ayam goreng yang sudah disahkan oleh pemerintah!

Salah satu mitra Almaz di Subang, H. Willy, datang tak sekadar membawa ayam, tapi juga harapan. Ia bilang, “Hadirnya Almaz di Subang bisa menambah warna dan pilihan kuliner bagi masyarakat Subang.” Tapi tunggu dulu, ini belum klimaksnya—H. Willy juga menambahkan bahwa sebagian penghasilan dari penjualan ayam ini akan disumbangkan kepada warga sekitar dan juga kepada saudara-saudara kita di Palestina. Nah, makan ayam sekaligus beramal? Siapa yang bisa menolak?

Menu andalannya? Siap-siap ketagihan. Ayam goreng dengan balutan bumbu khas Timur Tengah disajikan dengan nasi kebuli yang wangi menggoda. Kalau kamu tim burger, tenang, mereka punya burger series juga. Mulai dari beef burger sampai chicken burger dengan dua pilihan: original dan keju. Rasanya? Dijamin bikin lupa mantan!

Jangan lupakan minumannya! Ada deretan minuman khas yang siap menyejukkan tenggorokanmu setelah pesta rasa di mulutmu. Pokoknya, ini bukan tempat makan biasa. Ini tempat makan yang penuh cerita, rasa, dan makna.

Recent Posts