Beranda blog Halaman 41

Dahana Ajak Media Subang “Merajut Cerita, Menguatkan Relasi” Lewat Media Gathering

Media Gathering PT Dahana Subang

Subang – PT Dahana kembali menjalin keakraban dengan insan media melalui kegiatan Media Gathering bersama para jurnalis lokal Subang. Acara yang berlangsung di RM Saung Ambu, Subang, Jawa Barat, pada Selasa, 7 Oktober 2025, ini dihadiri oleh sejumlah awak media dari berbagai platform cetak, daring, dan elektronik.

Senior Manager Komunikasi Perusahaan dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Dahana, Cipta Ismaya Kusumah, menyambut hangat kehadiran para jurnalis. Ia menuturkan bahwa kegiatan media gathering merupakan agenda rutin yang digelar oleh divisinya untuk memperkuat hubungan baik dan mempererat silaturahmi dengan media yang selama ini menjadi mitra strategis perusahaan.

“Kami berterima kasih atas dukungan teman-teman media yang selalu setia memberitakan kegiatan dan kontribusi Dahana untuk masyarakat, khususnya di Kabupaten Subang. Melalui pertemuan ini, kami ingin semakin mempererat hubungan dan saling memahami peran masing-masing dalam membangun ekosistem informasi yang sehat,” ujar Cipta.

Kegiatan bertema “Merajut Cerita, Menguatkan Relasi” ini menggambarkan semangat kebersamaan dalam membangun kisah positif antara perusahaan dan media. Melalui saling berbagi cerita dan pengalaman, diharapkan hubungan antara PT Dahana dan media lokal dapat terus tumbuh kuat dan berkelanjutan.

Acara berlangsung dalam suasana santai dan penuh keakraban. Para jurnalis tampak aktif berdialog dan berdiskusi mengenai berbagai informasi serta kegiatan terbaru dari Dahana. Suasana kehangatan semakin terasa saat sesi tanya jawab, ramah tamah, dan permainan interaktif yang diselingi makan siang bersama.

Perwakilan media lokal Subang, Dally, menyampaikan apresiasi terhadap langkah Dahana yang konsisten menjaga keterbukaan informasi.

“Kami merasa dihargai dengan adanya kegiatan seperti ini. Semoga sinergi antara Dahana dan media lokal terus terjalin erat, tidak hanya dalam pemberitaan, tetapi juga dalam mendukung pembangunan dan kemajuan masyarakat Subang,” ujar Dally.

Melalui kegiatan ini, Dahana menunjukkan komitmennya untuk terus membangun hubungan harmonis dengan media sebagai mitra strategis dalam membangun citra industri pertahanan yang inovatif dan berdaya saing, sekaligus berkontribusi bagi kemajuan masyarakat sekitar.

Lestarikan Budaya Sunda, Dahana Gelar Lomba Tari Jaipong Kreasi untuk Pelajar Subang

Lomba Tari Jaipong Kreasi PT Dahana

Subang – Rangkaian Pekan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Dahana terus berlanjut dengan semangat budaya yang menggelora. Pada hari ketiga, Selasa, 7 Oktober 2025, perusahaan spesialis bahan peledak ini menggelar Lomba Tari Jaipong Kreasi tingkat SMP se-Kabupaten Subang di Bale Dahana. Suasana berlangsung meriah, diwarnai antusiasme puluhan pelajar yang tampil memukau dengan berbagai gaya Jaipong khas Sunda.

Ajang ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk menyalurkan bakat sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya daerah. Jaipong, yang merupakan warisan seni tradisional Sunda, disulap menjadi tarian yang segar dan penuh kreasi, mencerminkan semangat remaja Subang yang bangga dengan identitas budayanya.

Manajer TJSL PT Dahana, Ismail Kurbani, membuka acara dengan semangat tinggi. Ia menyampaikan apresiasinya terhadap para peserta yang menunjukkan kepedulian terhadap warisan budaya lokal.

“Kami sangat bangga melihat generasi muda yang tetap mencintai budaya tradisional, khususnya tari Jaipong. Melalui lomba ini, kami berharap semakin banyak anak muda yang menghargai dan menjaga kearifan lokal,” ujar Ismail.

Lebih lanjut, Ismail menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar hiburan, tetapi bagian dari komitmen Dahana untuk memperkuat nilai-nilai kebudayaan di wilayah Subang — tempat berdirinya salah satu fasilitas utama perusahaan bahan peledak nasional ini.

Sebagai anggota DEFEND ID dan BUMN yang bergerak di bidang bahan peledak serta layanan peledakan terintegrasi, PT Dahana berupaya untuk tidak hanya fokus pada bisnis, tetapi juga berkontribusi aktif terhadap pembangunan sosial, pendidikan, dan budaya masyarakat sekitar.

Melalui berbagai program TJSL — mulai dari lomba seni, edukasi lingkungan, hingga pengobatan gratis — Dahana terus menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan visi Serving the Nation Better, yakni melayani negeri dengan lebih baik.

Subang Guyub! 12 Ketua PKK Kecamatan Resmi Dilantik, Kang Akur: Dari Dapur yang Bersih Lahir Subang yang Tangguh

Pelantikan Ketua PKK Subang

Subang pagi itu semarak.
Deretan kebaya warna-warni menebar semangat di aula pelantikan yang penuh tawa dan tepuk tangan.

Sebanyak 12 Ketua TP PKK dan Tim Pembina Posyandu dari berbagai kecamatan resmi dikukuhkan, Senin (6/10/2025).
Acara yang dihadiri Wakil Bupati Subang, Agus Masykur Rosyadi—atau yang akrab disapa Kang Akur—menyatukan 250 peserta yang datang dengan wajah sumringah.

Terdiri dari 210 anggota TP PKK kecamatan, mulai dari ketua, sekretaris, hingga pokja, serta 40 pengurus kabupaten, suasana pelantikan terasa lebih seperti reuni besar keluarga.
Tapi tentu bukan sekadar temu kangen—ini tentang misi besar pemberdayaan keluarga Subang.

Tak hanya pelantikan, acara juga dirangkai dengan sosialisasi dua program penting: Konsumsi Pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) serta Keluarga Sehat Sadar Gizi (Kadarzi).
Dua istilah panjang yang intinya: makan jangan sembarangan, tapi juga jangan kelaparan informasi soal gizi.

Dalam sambutannya, Kang Akur menyampaikan apresiasi dengan gaya khasnya yang hangat dan bersemangat.
“Apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran TP PKK Kabupaten Subang, yang dikomandani Ibu Ega, yang telah menunjukkan dedikasi luar biasa, dalam menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat, mulai dari bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi keluarga, hingga ketahanan pangan,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa membangun keluarga sehat dan sejahtera bukan proyek semusim, tapi investasi jangka panjang daerah.
“Investasi jangka panjang itu adalah, investasi sumber daya manusia. Masalah kita bukan hanya soal infrastruktur, tapi bagaimana anak-anak kita bergizi, cerdas, dan sejahtera. Dan salah satu komandonya ada di keluarga,” ujarnya.

Kalimatnya menohok tapi hangat—seperti teh manis yang diseruput pagi-pagi.
Kang Akur juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah kecamatan, PKK, dan masyarakat, agar gizi keluarga tak hanya cukup, tapi juga kuat menahan guncangan zaman.

Ia menyebut pelantikan dan sosialisasi ini bukan sekadar seremoni, melainkan gerakan nyata menuju Subang yang sehat dan tangguh dari dapur ke dapur.
Bahkan, ia menyinggung isu penting tentang pengawasan keamanan MBG (Makanan Bergizi Gratis) di Jawa Barat.

“Karena itu saya titip, minggu lalu saya diundang mewakili Bapak Bupati untuk rapat bersama Gubernur,” ucapnya, dengan nada serius tapi tetap bersahabat.

Tak lupa, Wabup mengajak seluruh jajaran PKK agar tak hanya berkegiatan di atas kertas, tapi turun langsung ke masyarakat.
“Tidak ada salahnya para Ketua PKK di tiap kecamatan berkunjung, bersilaturahmi, mendekat ke setiap dapur di wilayah masing-masing. Dari dapur yang bersih, sehat, dan aman, lahir keluarga yang kuat dan Subang yang tangguh,” pesannya.

Sebuah pesan sederhana tapi mengena—bahwa kekuatan sebuah daerah, kadang memang dimulai dari aroma masakan di dapur yang bersih.

Sisingaan Subang: Dari Gotong Singa ke Singa Manuk, Ketika Tradisi Bertransformasi

Kesenian Sisingaan Subang

SUBANG – Kalau dulu arak-arakan warga Subang selalu diiringi dengan denting gamelan dan raungan terompet khas Sunda, kini pemandangannya mulai bergeser. Kesenian Sisingaan—ikon budaya yang dulu menjadi kebanggaan kabupaten ini—perlahan tergeser oleh “adik modernnya” bernama Singa Manuk.

Kesenian Sisingaan atau yang kerap disebut gotong singa biasanya hadir saat warga punya hajat, seperti khitanan atau syukuran besar. Diiringi musik gamelan yang menggelegar lembut, arak-arakan ini membawa patung singa yang dinaiki oleh anak dari tuan rumah. Sementara itu, warga yang ikut mengiringi berjoget riang dan sesekali memberikan saweran kepada pesinden.

“Biasanya akhir arakan ditutup dengan atraksi sulap atau pertunjukan seru lainnya,” kata salah satu seniman lokal. Dulu, Sisingaan bukan sekadar hiburan—ia simbol kebersamaan dan kebanggaan masyarakat Subang.

Namun, seiring waktu, selera generasi muda bergeser. Gamelan dan terompet dianggap “kurang greget”, kalah pamor dari dentuman musik modern. Para pengusaha Sisingaan pun putar otak—mereka menambahkan musik modern di belakang gamelan agar dua generasi bisa sama-sama bergoyang: yang tua ikut menikmati tradisinya, yang muda ikut menari dengan irama kekinian.

Transformasi tak berhenti di situ. Kini, yang digotong bukan lagi patung singa, melainkan burung—bahkan karakter dari film animasi! Masyarakat pun menamainya Singa Manuk, meskipun bentuknya sudah jauh dari “singa” aslinya. “Gerakannya juga beda, lebih santai. Kalau Sisingaan dulu lincah dan enerjik, Singa Manuk cukup bergoyang atau berputar ketika orang tua penunggang memberi saweran,” ujar warga setempat sambil tertawa.

Agar lebih meriah, pengusaha hiburan menambahkan badut-badut lucu dalam rombongan arak-arakan. Jadilah suasana yang lebih ramai, penuh warna, dan tentu—lebih Instagramable. Tak heran, masyarakat Subang bagian utara kini lebih memilih Singa Manuk untuk memeriahkan hajatan mereka.

Sayangnya, di balik keriuhan itu, Sisingaan asli Subang mulai kehilangan panggungnya. Kini, ia hanya tampil di acara kebudayaan atau dilestarikan di sekolah-sekolah sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Sebuah ironi: kesenian yang dulu hidup di jalanan, kini hanya bisa bernapas di ruang-ruang pendidikan.

Program Pemutihan Pajak Kendaraan Berakhir, Samsat Subang Siap “Razia” Penunggak Pajak!

Pemutihan pajak kendaraan Subang

SUBANG – Warga Subang, siap-siap ya! Masa santai dari “ampunan pajak” resmi berakhir. Program pemutihan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) yang selama ini jadi penyelamat bagi para penunggak, kini sudah ditutup rapat. Tak ada lagi pemutihan di tahun-tahun mendatang—artinya, semua wajib pajak harus kembali disiplin membayar kewajibannya.

Kepala Kantor P3DW Samsat Subang, Lovita Andriana Rosa, menjelaskan bahwa kebijakan ini sejalan dengan pengumuman resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda), Nomor 1085/KU.03.02/Bapenda. Program pemutihan PKB dan BBNKB berakhir pada 30 September 2025. Mulai Oktober ini, masyarakat diimbau untuk membayar pajak kendaraan bermotor lewat berbagai layanan—baik di kantor Samsat, gerai, maupun platform digital yang disediakan pemerintah.

“In syaa Allah, di pertengahan Oktober 2025 ini, kami akan melakukan penelusuran tunggakan pajak dan menegakkan aturan demi optimalisasi pendapatan daerah,” ujar Lovita kepada RRI Subang, Senin (6/10/2025).

Penelusuran tersebut akan berlangsung hingga akhir Desember 2025. Lovita pun mengimbau masyarakat yang masih menunggak untuk segera melunasi pajaknya sebelum petugas Samsat dan Kepolisian turun ke lapangan. “Kalau masih menunggak dan terjaring, harus bayar di tempat. Kalau belum punya uang, kami berikan surat peringatan agar segera melunasi sesuai ketentuan,” tegasnya.

Ia menambahkan, kesadaran wajib pajak memegang peran penting agar pendapatan daerah dari sektor pajak kendaraan bermotor bisa tetap stabil. “Mudah-mudahan dengan penelusuran ini, pendapatan pajak kendaraan bermotor bisa optimal dan memberi manfaat bagi pembangunan daerah,” tandasnya.

Jadi, sebelum petugas datang dengan senyum ramah tapi tegas, pastikan kendaraanmu sudah lunas pajaknya—biar jalan tenang, hati pun tenteram.

Kuwu dan Kaur Keuangan di Kecamatan Subang Terseret Kasus Korupsi Dana Desa, Rugikan Negara Rp182 Juta

Korupsi Dana Desa Subang

Suarasubang.com – Drama baru kembali muncul di jagat pemerintahan desa. Seorang Kuwu berinisial ME dan Kaur Keuangan berinisial DA di salah satu desa Kecamatan Subang, Kabupaten Kuningan, resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Kuningan, Senin (6/10/2025).

Penetapan keduanya dilakukan setelah Tim Penyidik Pidana Khusus Kejari Kuningan mengantongi bukti permulaan yang dinilai cukup, berlandaskan Pasal 184 KUHAP Ayat (1) jo. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor: 21/PUU-XII/2014.

Modusnya pun, bisa dibilang “klasik tapi tetap menyakitkan”—memotong hak rakyat. “Adapun modus yang dilakukan oleh kedua tersangka adalah dengan melakukan pemotongan Tunjangan Kinerja Perangkat Desa dan pemotongan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT DD) yang seharusnya diterima masyarakat,” ungkap Kepala Kejari Kuningan, Ikhwanul Ridwan Saragih, SH, melalui Kasi Intel, Brian Kukuh Mediarto, SH.

Akibat perbuatan itu, negara diperkirakan merugi sebesar Rp182.062.000. Uang yang seharusnya meringankan beban masyarakat, justru “tersangkut di jalan” akibat ulah dua oknum tersebut.

Para tersangka kini dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) jo. Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. Mereka juga disangkakan Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP, dan subsidair Pasal 3 undang-undang yang sama.

“Setelah ditetapkan sebagai tersangka, terhadap para tersangka dilakukan penahanan penyidik selama 20 hari ke depan di Lapas Kelas IIA Kuningan, Jawa Barat,” tambah Brian.

Kasus ini menjadi pengingat pahit bahwa godaan uang rakyat masih sering menggoda tangan-tangan yang seharusnya amanah.

Ratusan ASN Subang Belum Gajian, Ternyata Gara-Gara “Telat Klik”!

ASN Subang belum gajian

SUBANG – Senin, 6 Oktober 2025, bukan hari yang manis bagi ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Subang. Bukan karena lupa sarapan, tapi karena gaji dan tunjangan yang biasanya sudah mampir ke rekening, kali ini belum juga tampak bayangannya.

Kepala Bidang Perbendaharaan di Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Subang, Budhi Purnama, menjelaskan penyebabnya dengan nada yang tetap tenang meski situasinya bikin jantung ASN deg-degan. “Biasanya akhir bulan sudah di-input, namun sebanyak 10 kecamatan meng-input datanya sekitar tanggal 1 kemarin,” ujar Budhi.

Ya, bisa dibilang masalah ini bukan karena uangnya tidak ada, tapi karena jari-jemari bendahara di 10 kecamatan tadi agak “lelet” mengetik. Ibarat ujian daring—klik telat sedikit, nilainya pun ikut melayang.

Adapun kecamatan yang “bernasib sama” itu adalah Sagalaherang, Binong, Pamanukan, Compreng, Pusakanagara, Ciasem, Cikaum, Serangpanjang, Sukasari, dan Pusakajaya. “Totalnya sekitar Rp700 juta-an, kecuali Kecamatan Binong, Insya Allah besok, Selasa, 7 Oktober 2025, 9 kecamatan sudah bisa mencairkan gaji,” ucap Budhi penuh harap.

Nah, kalau ASN di Binong masih harus sedikit bersabar, alasannya bukan karena salah kirim data, tapi karena “ganti pemain.” “Ada perubahan bendahara,” jelas Budhi.

Jadi, pelajaran hari ini: bukan hanya murid yang harus disiplin mengumpulkan tugas tepat waktu. Bendahara pun harus gesit meng-input data, supaya gaji tak perlu ikut puasa panjang.

Polres Subang Rayakan HUT ke-80 TNI, Sinergi Semakin Kokoh di Bumi Jawara

HUT ke-80 TNI Subang

Subang – Dalam suasana penuh semangat kebersamaan, Polres Subang turut ambil bagian dalam Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang digelar di Makodim 0605/Subang, Minggu (5/10/2025). Upacara berlangsung khidmat, menggambarkan sinergi nyata antara TNI dan Polri dalam menjaga keutuhan serta keamanan bangsa.

Polres Subang diwakili langsung oleh Wakapolres Subang, KOMPOL Endar Supriyatna, S.Kom., S.I.K., yang hadir mewakili Kapolres Subang AKBP Dony Eko Wicaksono. Acara juga dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Subang.

Upacara dipimpin oleh Dandim 0605/Subang, Letkol Czi Asep Saepudin, S.E., dengan mengusung tema nasional “TNI Prima – TNI Rakyat – Indonesia Maju.” Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan penegasan komitmen TNI untuk terus menjaga kedaulatan bangsa dan mempererat kemanunggalan dengan rakyat—pondasi penting menuju Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.

Dalam amanat Panglima TNI yang dibacakan saat upacara, seluruh prajurit diingatkan agar senantiasa memperkokoh iman, menjaga soliditas, dan memperkuat kemanunggalan dengan rakyat. Tak kalah penting, prajurit juga diimbau bijak dalam bermedia sosial dan melaksanakan tugas dengan tulus—sebuah refleksi profesionalisme TNI di era digital.

Selepas upacara, suasana menjadi hangat dan akrab lewat ramah tamah dan panggung prajurit. Tak berhenti di situ, acara dilanjutkan dengan peletakan batu pertama serta penandatanganan prasasti pembangunan sebagai simbol sinergi dalam membangun negeri.

Sebagai bentuk penghormatan, Polres Subang menyerahkan kue dan tumpeng HUT TNI kepada jajaran TNI di Subang, termasuk Kodim 0605/Subang, Yonif 312/Kala Hitam, Subdenpom III/3-2, dan Lanud R. Suryadi Suryadarma. Gestur sederhana namun sarat makna ini mempertegas semangat soliditas dan persaudaraan antara dua institusi penjaga NKRI.

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan penuh keakraban. Melalui momentum ini, Polres Subang menyampaikan selamat ulang tahun ke-80 kepada seluruh prajurit TNI di mana pun bertugas—semoga TNI semakin tangguh, profesional, dan senantiasa menjadi kebanggaan rakyat Indonesia.

Produksi Gabah Subang Tembus 1 Juta Ton, Bukti Sinergi Petani dan Teknologi Modern

Produksi Gabah Subang 2025

Subang – Produksi gabah kering di Kabupaten Subang, Jawa Barat, melonjak signifikan pada 2025, menandai penguatan ketahanan pangan nasional di tengah upaya pemerintah mencapai swasembada beras. Berdasarkan data terbaru, produksi gabah kering Subang mencapai 1 juta ton, naik dari 900 ribu ton pada tahun sebelumnya.

Kenaikan ini ditopang oleh penerapan teknologi pertanian modern dan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan petani melalui program Komunitas 10 Ton yang diinisiasi Syngenta Indonesia. Keberhasilan tersebut dipamerkan dalam Festival Panen Raya Komunitas 10 Ton di Lapangan Stadion Perjuangan, Compreng, Subang, pada 4 Oktober 2025.

Acara bertema “Sinergi untuk Indonesia Maju: Memberdayakan Petani, Menguatkan Ekonomi, dan Menjaga Keberlanjutan Pertanian” ini dihadiri lebih dari 500 petani, pejabat pemerintah, anggota DPR, Bulog, serta perwakilan Kementerian PPN/Bappenas dan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat.

Tenaga Ahli Menteri PPN/Bappenas, Frans B.M. Dabukke, yang hadir mewakili Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, menegaskan pentingnya sinergi multipihak dalam memperkuat sektor pangan nasional. “Untuk mencapai swasembada pangan dan beras, harus ada sinergi dan kolaborasi yang baik antara kementerian/lembaga pemerintah, pihak swasta, hingga pelaku usaha,” ujar Frans dalam sambutannya, Minggu (5/10/2025).

Program Komunitas 10 Ton menjadi contoh kolaborasi efektif. Beranggotakan 20 petani dengan total lahan 1,5 hektar, komunitas ini berhasil mencapai produktivitas hingga 10 ton per hektar—dua kali lipat dari rata-rata nasional yang berkisar 5–6 ton per hektar.

Presiden Direktur Syngenta Indonesia, Eryanto, menyebut keberhasilan tersebut sebagai bukti nyata manfaat penerapan teknologi dalam peningkatan hasil panen. “Program Komunitas 10 Ton merupakan bukti nyata komitmen Syngenta dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui pemberdayaan petani dan penerapan teknologi pertanian modern,” ujarnya.

Peningkatan hasil di Subang sejalan dengan tren nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras Indonesia pada periode Januari–November 2025 naik 12,62% menjadi 33,19 juta ton, dibanding 29,47 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Lembaga internasional seperti USDA dan FAO juga memperkirakan produksi beras nasional tahun ini mencapai 34–35 juta ton.

Selain panen raya, kegiatan di Subang menampilkan demonstrasi teknologi drone untuk pertanian, dialog interaktif antarpetani, serta peluncuran buku panduan “Raih Hasil Optimal Budidaya Padi.” Buku ini memuat praktik terbaik dan pengetahuan teknis hasil pendampingan Syngenta kepada petani, dan akan dibagikan secara gratis kepada masyarakat.

Festival Panen Raya Subang menegaskan bahwa peningkatan produktivitas dan kolaborasi lintas sektor merupakan fondasi utama dalam menjaga kemandirian pangan nasional. Kabupaten Subang kini menjadi contoh nyata daerah yang berhasil memperkuat kapasitas produksi sekaligus menunjukkan arah transformasi pertanian menuju keberlanjutan.

Festival Panen Raya Subang: Kolaborasi Syngenta dan Pemkab Sukses Dongkrak Produksi Padi Dua Kali Lipat

Festival Panen Raya Subang

Subang – Kolaborasi antara Syngenta Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Subang sukses menggelar Festival Panen Raya di Lapangan Stadion Perjuangan, Compreng, Subang, Jawa Barat, Jumat (4/10). Mengusung tema “Sinergi untuk Indonesia Maju,” acara ini menegaskan keberhasilan Komunitas 10 Ton Subang dalam meningkatkan produktivitas padi hingga dua kali lipat dari rata-rata nasional.

Festival yang dihadiri perwakilan Kementerian PPN/Bappenas, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Bupati Subang, anggota DPR, Bulog, KTNA, dan lebih dari 500 petani ini menghadirkan berbagai kegiatan. Mulai dari demonstrasi panen, peragaan teknologi pertanian modern seperti drone, hingga dialog interaktif antara petani, pemerintah, dan pihak swasta.

Tenaga Ahli Menteri PPN/Bappenas, Frans B.M. Dabukke, menegaskan bahwa sinergi lintas sektor menjadi kunci swasembada pangan nasional. “Untuk mencapai swasembada pangan dan beras, harus ada sinergi dan kolaborasi yang baik antara kementerian/lembaga pemerintah, pihak swasta, hingga pelaku usaha,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (5/10).

Keberhasilan panen raya ini sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat produksi beras nasional periode Januari–November 2025 mencapai 33,19 juta ton, naik 12,62% dibanding tahun sebelumnya. Angka ini juga sesuai dengan proyeksi lembaga internasional seperti USDA dan FAO.

Komunitas 10 Ton Subang, yang beranggotakan 20 petani dengan total lahan 1,5 hektar, menjadi sorotan utama. Didampingi Syngenta, komunitas ini menerapkan praktik pertanian modern hingga mampu menghasilkan panen 10 ton per hektar—dua kali lipat dari rata-rata nasional 5–6 ton per hektar. Prestasi ini turut mendorong peningkatan produksi gabah kering Subang menjadi 1 juta ton pada 2025, naik dari 900 ribu ton di tahun sebelumnya.

Presiden Direktur Syngenta Indonesia, Eryanto, menegaskan komitmen perusahaan terhadap ketahanan pangan nasional. “Program Komunitas 10 Ton merupakan bukti nyata komitmen Syngenta dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui pemberdayaan petani dan penerapan teknologi pertanian modern,” jelasnya. Ia berharap inisiatif ini dapat menjadi model pertanian berkelanjutan yang bisa diterapkan di berbagai daerah di Indonesia.

Selain itu, Syngenta meluncurkan buku panduan “Raih Hasil Optimal Budidaya Padi” yang berisi pengalaman dan pengetahuan praktis dalam meningkatkan produktivitas petani. Buku ini dapat diakses secara gratis sebagai referensi lapangan bagi petani dan masyarakat umum.

Melalui demonstrasi penggunaan drone, Syngenta juga memperkenalkan pertanian presisi yang efisien dan ramah lingkungan. Festival Panen Raya ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan petani untuk mewujudkan swasembada beras dan ketahanan pangan nasional—sejalan dengan visi Syngenta Indonesia: Petani MAJU (Maximize profitability, Accelerate innovation, Joint effort in sustainability, United one team).

Recent Posts