suarasubang.com – Luas lahan yang terdampak Karhutla di Subang 2026 tercatat mencapai 255 hektare selama periode Juli hingga Agustus. Meskipun area yang terbakar cukup luas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memastikan penanganan di lapangan masih berjalan lancar.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Subang, Enda, menjelaskan bahwa petugas sanggup mengatasi situasi secara mandiri. Sejauh ini, bantuan dari pihak eksternal hanya berupa mesin pompa air dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk mengatasi kekeringan.
Sebaran Titik Api dan Kendala Lapangan
Berdasarkan data resmi, Karhutla di Subang 2026 melanda sepuluh kecamatan termasuk Pagaden, Cibogo, dan Kalijati. Namun, petugas menduga masih banyak kejadian kebakaran lahan yang tidak dilaporkan oleh warga sekitar.
Salah satu contohnya adalah kebakaran di pinggir Jalan Tol Cipali yang sering terabaikan meskipun sangat mengganggu pengendara. Oleh sebab itu, kesadaran masyarakat dalam melaporkan titik api sangat krusial agar pemadaman bisa dilakukan lebih dini.
Tantangan Pemadaman di TPA Panembong
Kebakaran di lahan bekas TPA Panembong menjadi titik yang paling sulit untuk dipadamkan hingga saat ini. Luasnya area serta material sampah yang mudah terbakar membuat tim gabungan harus bekerja ekstra keras setiap hari.
Kondisi cuaca panas dan angin kencang di lokasi memperburuk situasi pemadaman di lapangan. Selain itu, keterbatasan personel membuat tim harus terus melakukan pendinginan secara berkelanjutan agar api tidak muncul kembali.
Sinergi Antarinstansi dalam Penanganan
Lembaga BPBD tidak bekerja sendiri dalam menjinakkan api di berbagai wilayah terdampak. Penanganan Karhutla di Subang 2026 ini melibatkan kerja sama aktif dengan Satpoldam, Tagana, kepolisian, hingga unsur TNI.
Ketua Tagana Subang, Jajang Abdul Muhaimin, mengapresiasi sinergi yang terjalin erat antarinstansi tersebut. Sinergi yang kuat terbukti efektif dalam mempercepat proses pemadaman, terutama pada titik-titik krusial seperti TPA Panembong.






