Beranda Berita Subang Kemarau Ekstrem Paksa Petambak Blanakan “Gantung Karang”

Kemarau Ekstrem Paksa Petambak Blanakan “Gantung Karang”

Petambak Blanakan Subang
Oplus_16908288

suarasubang.com — Musim kemarau ekstrem yang melanda wilayah pesisir utara (Pantura) membawa dampak buruk bagi para petambak Blanakan Subang. Akibat minimnya pasokan air, tambak di Kecamatan Blanakan kini terpaksa berhenti beroperasi atau “gantung karang” hingga akhir tahun 2026.

Kekeringan parah ini mengakibatkan pasokan air tawar hilang sepenuhnya dari area budidaya. Selain itu, air pasang laut pun sudah tidak mampu lagi mengalir ke area tambak milik warga. Kondisi sulit tersebut memaksa Sutarno (54), seorang petambak asal Desa Muara, untuk meninggalkan lahan tambaknya yang kini mengering.

BACA JUGA:  H. Sys Santo Delvis Siap Perjuangkan Aspirasi Petani di DPRD Subang

Dampak Ekonomi dan Alih Profesi Sementara

Fenomena alam ini secara praktis telah memutus mata pencaharian utama masyarakat pesisir. Sutarno mengungkapkan bahwa dalam enam bulan terakhir, ia biasanya mampu mengantongi pendapatan sekitar Rp7 juta dari hasil panen udang dan bandeng. Namun, saat ini ia harus memutar otak agar kebutuhan dapur rumah tangganya tetap terpenuhi.

BACA JUGA:  Petani Ciasem Percepat Tanam Padi Hadapi El Nino

Demi menyambung hidup selama masa sulit, Sutarno beserta sejumlah rekan petambak lainnya memilih beralih profesi menjadi nelayan musiman. Langkah ini diambil sebagai satu-satunya cara untuk bertahan di tengah ketiadaan aktivitas di lahan tambak mereka.

Peninjauan dan Saran dari Dinas Perikanan

Menanggapi keluhan tersebut, Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Subang segera melakukan peninjauan langsung ke lapangan. Kepala Bidang Perikanan Air Payau, Udin Saepudin, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima laporan mengenai dampak kemarau ekstrem ini. Saat ini, tim pemerintah sedang memetakan kondisi para petambak untuk menentukan langkah penanganan.

BACA JUGA:  Bupati Subang Perkuat Ketahanan Pangan Lewat Program LP2B

Pemerintah mengakui bahwa produktivitas ikan dan udang memang mustahil dijalankan karena ekosistem air payau yang tidak mendukung. Oleh karena itu, Udin menyarankan agar para petambak mencari alternatif pendapatan sementara. Misalnya, mereka dapat mencoba mengolah produk hasil laut atau membuat usaha kerajinan agar tetap berdaya selama masa “gantung karang” berlangsung.