Beranda Berita Subang Meriahnya Tradisi Ngarak Budak Sunat di Lembur Pakuan Subang

Meriahnya Tradisi Ngarak Budak Sunat di Lembur Pakuan Subang

Tradisi Ngarak Budak Sunat

Tradisi Ngarak Budak Sunat mewarnai perayaan ulang tahun ke-55 Kang Dedi Mulyadi (KDM) di kawasan Lembur Pakuan, Kabupaten Subang. Ribuan pengunjung dari berbagai daerah berkumpul untuk menyaksikan festival budaya bertajuk “Nyuhun Buhun” tersebut pada Sabtu (11/4/2026). Oleh karena itu, kehadiran lautan manusia ini menjadi bukti nyata tingginya antusiasme masyarakat dalam menjaga kearifan lokal.

Iring-iringan Kesenian Sunda yang Memukau

Festival ini menampilkan iring-iringan kesenian tradisional dan kereta kencana yang sangat meriah. Selain itu, anak-anak yang akan dikhitan tampak bahagia saat diarak keliling kawasan oleh masyarakat setempat. Penggunaan subjudul seperti ini bertujuan untuk memudahkan pembaca dalam memindai informasi penting serta meningkatkan struktur konten.

BACA JUGA:  Senja Kelabu di Parunggirang: Kepulangan Darmita yang Terhadang Derasnya Sungai Ciasem

Masyarakat dari berbagai kalangan sangat menikmati suasana budaya Sunda yang kental di sepanjang jalur festival. Meskipun arus modernisasi semakin deras, acara ini membuktikan bahwa identitas budaya tetap memiliki tempat di hati warga. Kemudian, setiap paragraf dijaga agar tetap ringkas agar pembaca dapat memahami pesan utama dengan lebih nyaman dan cepat.

BACA JUGA:  Sinergi Investasi di Subang: PT Meiloon Serap 800 Tenaga Kerja

Nilai Kebersamaan dan Bakti Sosial

Perhelatan di Lembur Pakuan ini sebenarnya mengandung nilai-nilai kebersamaan yang sangat mendalam. Selain pesta rakyat, agenda ulang tahun ini juga mencakup pagelaran wayang golek yang menghadirkan dua dalang sekaligus. Puncaknya, panitia menyelenggarakan kegiatan sunatan massal sebagai bentuk aksi sosial bagi warga yang membutuhkan pada keesokan harinya.

BACA JUGA:  LKPJ Bupati Subang 2025: Capaian Kinerja dan Visi Pembangunan Maju

Kang Dedi Mulyadi menegaskan komitmennya untuk terus menjadikan tradisi sebagai sarana mempererat tali silaturahmi. Beliau percaya bahwa merawat budaya lokal adalah cara terbaik untuk merayakan kebahagiaan bersama rakyat. Sebagai hasilnya, penggunaan kalimat aktif dan kata transisi dalam tulisan ini memastikan alur narasi tetap logis serta mudah dipahami oleh pembaca maupun mesin pencari.