Beranda Berita Subang Tita Andriani: Berhenti Jadi Guru demi Atasi Darurat Sampah di Subang

Tita Andriani: Berhenti Jadi Guru demi Atasi Darurat Sampah di Subang

Tita Andriani

Tita Andriani memutuskan untuk melepaskan kariernya sebagai pendidik demi mendedikasikan diri pada kelestarian lingkungan. Perempuan kelahiran 1995 ini merasa terpanggil untuk menangani persoalan sampah yang semakin serius di Kabupaten Subang. Oleh karena itu, ia kini fokus mengelola bank sampah guna memberikan solusi nyata bagi masyarakat sekitar.

Perjalanan dari Guru Matematika Menjadi Aktivis

Sebelum mengambil langkah besar ini, Tita mengabdikan diri sebagai guru honorer matematika di sebuah SMK swasta di Purwadadi. Namun, nuraninya mulai terusik setiap kali melihat tumpukan sampah yang menggunung di kawasan Pasar Terminal. Pemandangan tersebut ia temui hampir setiap hari saat melakukan perjalanan rutin menuju Karawang.

BACA JUGA:  PT Dahana Luncurkan e-PIC di Vendor Day 2026, Dorong Transparansi Pengadaan

Rasa prihatin yang mendalam akhirnya mendorong Tita untuk membulatkan tekad berhenti mengajar. Pada akhir Januari 2025, ia resmi merintis Bank Sampah Karya Bakti Sejahtera di Kelurahan Sukamelang. Bersama sang suami, ia mulai mengedukasi warga agar lebih peduli dalam memilah dan mengelola limbah rumah tangga.

Kondisi Darurat Sampah di Kabupaten Subang

Inisiatif lokal ini muncul di tengah kondisi kebersihan Kabupaten Subang yang kini tergolong kritis. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup, produksi sampah harian di wilayah ini diperkirakan mencapai 900 ton. Sayangnya, kapasitas penanganan yang tersedia saat ini baru mampu menjangkau sekitar 250 ton per hari.

BACA JUGA:  Kodim 0605/Subang Berbagi Kebahagiaan dengan Anak Yatim Menjelang Lebaran

Kesenjangan tersebut terjadi karena minimnya armada pengangkut yang dimiliki oleh pemerintah daerah. Saat ini, Subang hanya memiliki 24 unit truk sampah, namun hanya 17 unit yang dinilai masih layak beroperasi. Selain masalah kendaraan, kendala lain muncul dari infrastruktur jalan menuju lokasi pembuangan akhir.

Tantangan Infrastruktur TPA Jalupang

Akses menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jalupang hingga kini masih dalam kondisi yang memprihatinkan. Pembangunan jalan yang memadai belum bisa dilakukan secara maksimal karena terbentur status kepemilikan lahan. Hal ini disebabkan sebagian lahan di kawasan tersebut masih berstatus milik PTPN.

BACA JUGA:  Sewa Truk Miliaran Rupiah, Tumpukan Sampah di Subang Tetap Tak Teratasi

Meskipun tantangan infrastruktur masih membayangi, kehadiran inisiatif seperti bank sampah memberikan harapan baru. Tita Andriani membuktikan bahwa aksi nyata dari tingkat rumah tangga dapat membantu menekan krisis lingkungan. Melalui edukasi yang konsisten, ia berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan bersama.