suarasubang.com – Kasus pendaki hilang Lembah Tengkorak akhirnya berakhir melegakan setelah tim penyelamat menemukan korban dalam kondisi hidup di Subang. Remaja berusia 15 tahun bernama Azhar Nursyekha Kamal tersebut sempat hilang misterius saat melakukan pendakian tunggal. Sebelum menghilang, ia melakukan perjalanan mandiri di kawasan wisata Desa Cipanjalu, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung. Tim SAR gabungan mengerahkan puluhan personel untuk menyisir seluruh area hutan selama dua hari berturut-turut.
Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian Permana, membenarkan informasi penemuan mengejutkan tersebut dalam keterangan resminya. Pihaknya menjelaskan bahwa lokasi penemuan berada sangat jauh dari titik awal hilangnya sang remaja. Seorang petani lokal bernama Hanli menjadi orang pertama yang menjumpai korban di area perkebunan terpencil. Setelah menerima laporan warga, tim penyelamat langsung bergerak cepat menuju lokasi untuk mengevakuasi korban ke posko utama.
Korban awalnya berangkat dari rumahnya di Kecamatan Cibiru pada Selasa pagi sekitar pukul 07.30 WIB. Tujuan utamanya ke kawasan Lembah Tengkorak sebenarnya hanya untuk melakukan survei jalur pendakian singkat. Berdasarkan catatan registrasi basecamp, korban memasuki pos pendakian seorang diri pada pukul 08.30 WIB tanpa rencana menginap. Sejumlah pendaki lain mengaku masih melihat keberadaan korban di sekitar jalur utama hingga siang hari.
Kronologi Lengkap dan Strategi Operasi Pencarian SAR
Namun, kejanggalan mulai muncul ketika rombongan pendaki lain sudah kembali ke basecamp pada sore hari. Hingga pukul 15.00 WIB, remaja tersebut tidak kunjung memunculkan batang hidungnya di pos penjagaan. Oleh karena itu, tim ranger lokal segera mengambil tindakan dengan menyisir jalur pendakian pada hari pertama. Sayangnya, upaya awal tersebut belum membuahkan hasil karena keterbatasan pandangan dan cuaca yang mulai gelap.
Melihat situasi darurat ini, otoritas terkait langsung menggelar operasi pencarian berskala besar pada keesokan harinya. Sebanyak 74 personel gabungan dari berbagai unsur SAR bersenjata lengkap menyisir beberapa sektor krusial. Mereka membagi tim ke wilayah Legok Jero, Kebon Kopi Lama, hingga kawasan Puncak Gunung Sangara. Selain penyisiran darat, tim SAR juga menerapkan metode pencarian tipe I untuk mengoptimalkan efisiensi waktu.
Pihak pencari bahkan menerjunkan satu unit UAV Drone Thermal guna memperkuat pemantauan dari udara. Teknologi ini berfungsi mendeteksi suhu tubuh manusia di tengah lebatnya vegetasi hutan belantara yang luas. Berkat kombinasi strategi darat dan udara ini, petugas berhasil melacak keberadaan korban dengan lebih terukur. Akhirnya, petani setempat menemukan korban dalam kondisi lemas namun selamat di wilayah Kecamatan Cisalak, Subang.
Evaluasi Penting Terkait Keselamatan Aktivitas Solo Hiking
Petugas medis langsung memberikan penanganan intensif begitu korban tiba di Posko SAR Gabungan untuk memulihkan kondisinya. Polisi mengonfirmasi bahwa saat ini korban masih mengalami trauma ringan akibat tersesat sendirian di dalam hutan. Meskipun demikian, kondisi fisik secara umum menunjukkan tanda-tanda yang stabil dan terus membaik secara signifikan. Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pencinta alam mengenai bahaya mendaki tanpa teman.
Belajar dari insiden mendebarkan ini, Ade Dian Permana mengimbau keras masyarakat untuk selalu mengutamakan keselamatan. Beliau mengingatkan para pendaki agar tidak meremehkan jalur pendakian sekecil apa pun di kawasan hutan. Persiapan logistik yang matang serta koordinasi dengan pengelola basecamp merupakan syarat mutlak yang wajib dipenuhi. Terakhir, pihak SAR melarang keras aktivitas pendakian seorang diri demi mencegah terulangnya kejadian serupa.








