Beranda Berita Subang Kreativitas Berkelanjutan: Olahan Daun Nanas di Subang Ciptakan Peluang Fesyen Ramah Lingkungan

Kreativitas Berkelanjutan: Olahan Daun Nanas di Subang Ciptakan Peluang Fesyen Ramah Lingkungan

olahan daun nanas di Subang 

Kreativitas olahan daun nanas di Subang kini mampu menciptakan peluang ekonomi baru yang sangat menjanjikan bagi masyarakat pedesaan. Selain itu, sekelompok warga berhasil mengolah limbah daun nanas pascapanen menjadi serat tekstil berkualitas tinggi untuk fesyen.

Inisiator pemuda Alan Sahroni memimpin gerakan pelestarian lingkungan ini melalui program kelompok usaha bersama bernama Pinlefi. Langkah pemberdayaan masyarakat ini juga mendapatkan dukungan penuh dari pihak Pertamina EP Subang Field sejak awal.

Oleh karena itu, gerakan inovatif ini berhasil mengurangi pencemaran udara akibat pembakaran daun nanas secara liar.

Mengatasi Polusi Udara Lewat Pengolahan Limbah Daun

Kabupaten Subang memegang posisi strategis sebagai salah satu kawasan penghasil buah nanas paling besar di Jawa Barat. Namun, setiap hektar lahan perkebunan nanas menghasilkan belasan ton limbah daun yang menumpuk setelah masa panen.

BACA JUGA:  Pertamina Tambah Pasokan LPG 3 Kg di Subang dan Majalengka

Sebelumnya, para petani selalu membakar tumpukan daun kering itu karena tidak memiliki alternatif pengolahan yang tepat. Asap tebal hasil pembakaran itu tentu mengganggu kesehatan pernapasan warga di sekitar permukiman penduduk tanpa henti.

Selanjutnya, kelompok Pinlefi mengubah daun nanas menjadi serat alam ramah lingkungan dengan nilai jual yang tinggi.

Modifikasi Mesin Dekortikator Demi Efisiensi Produksi

Pihak pengelola meningkatkan efisiensi kerja dengan merancang modifikasi mesin dekortikator khusus untuk mengekstraksi serat daun tanaman. Bahkan, mesin inovatif ini juga mampu mengolah gedebog pisang yang menumpuk tidak berguna di area persawahan.

BACA JUGA:  Kebakaran Kebun Bambu di Pagaden Barat: Damkar Subang Sigap Bertindak

Warga memintal hasil ekstraksi serat halus itu menjadi benang rajut berkualitas tinggi untuk pembuatan kain tenun. Kain ramah lingkungan ini kemudian menjadi bahan baku utama pembuatan pakaian ramah lingkungan serta aneka kerajinan tangan.

Dengan demikian, pemanfaatan bahan mentah alamiah ini mampu membuka lapangan kerja produktif baru bagi puluhan penenun lokal.

BACA JUGA:  Bunda PAUD Subang Dorong Wajib Belajar 1 Tahun Prasekolah

Program Pemberdayaan Warga dan Penghargaan Prestasi Nasional

Program sosial kemasyarakatan ini telah merangkul empat puluh empat warga dari berbagai kalangan usia secara aktif. Petani mendapatkan penghasilan tambahan, sementara kelompok perempuan bekerja sebagai operator mesin ekstraksi dan penenun benang.

Alan Sahroni menegaskan bahwa keberhasilan sejati program ini menitikberatkan kemandirian sosial ekonomi masyarakat kecil. Prestasi gemilang ini mengantarkan beliau meraih penghargaan bergengsi tingkat nasional dari PT Pertamina Hulu Energi.

Akhirnya, keberhasilan olahan daun nanas di Subang ini dapat menginspirasi wilayah lain untuk mengembangkan potensi lokal secara mandiri.