Beranda Teknologi Hadapi Resesi Global 2023, Industri Telekomunikasi Perlu Kolaborasi Ekosistem Digital

Hadapi Resesi Global 2023, Industri Telekomunikasi Perlu Kolaborasi Ekosistem Digital

IMG-20221130-WA0035_copy_800x450.jpg

review1st.com – Kondisi perekonomian global pada tahun depan diprediksi tidak baik-baik saja. Sejumlah pihak memprediksi akan ada resesi global 2023 yang membuat negara seperti RI harus tetap waspada dan berhati-hati, walau pertumbuhan ekonomi RI masih baik pada 2022.

Prediksi resesi global membuat sejumlah industri harus melakukan mitigasi. Untuk industri telekomunikasi, apa strategi yang harus dilakukan untuk menghadapi prediksi resesi 2023?

Founder IndoTelko Forum Doni Ismanto Darwin menjelaskan tantangan krisis ekonomi global masih akan ada di 2023 dipicu perang yang tak berkesudahan antara Rusia dan Ukraina, konflik geo-ekonomi para negara adikuasa, hingga pada persoalan supply and demand yang menimbulkan tekanan pada perekonomian dunia.

“Perekonomian Indonesia lebih dari 50% ditopang konsumsi rumah tangga, ini menjadikan sektor
telekomunikasi masih diuntungkan tahun depan karena konektivitas dan layanan digital sudah menjadi kebutuhan pokok selama pandemi hingga sekarang,” katanya.

Diprediksinya, melihat kinerja dari sektor telekomunikasi selama 9 bulan pertama 2022, pada
2023 sektor Halo-halo ini bisa tumbuh dikisaran 4% hingga 5%. “Pertumbuhan layanan data masih menjanjikan, sementara pemain berkurang karena konsolidasi, tentu harga ritel layanan akan lebih rasional untuk menjaga margin operator telekomunikasi,” katanya.

Menurutnya, hal yang menjadi tantangan bagi operator adalah kebutuhan belanja modal yang
tinggi karena harus investasi untuk jaringan terutama 5G.

“Apalagi tahun depan akan dibuka lelang frekuensi pasca Analog Switch Off (ASO), tentu ini butuh modal besar,” kata Doni dalam sambutannya membuka webinar HUT IndoTelko bertajuk “Strategi Industri Digital Indonesia Hadapi Resesi Global” pada Rabu (30/11/2022).

Ditambahkannya, pertumbuhan yang masih dirasakan sektor telekomunikasi akan berdampak positif ke industri pendukung seperti penyedia menara ataupun pemain aplikasi. “Penyedia menara bisa terjamin recurring revenue dan tetap ekspansi mengikuti network planning operator.

Pemain aplikasi tentu akan lebih inovatif jika konektifitas yang tersedia makin baik,” tandasnya.
Ia mengatakan, sektor telko saat ini lumayan menjanjikan, terutama sejak pandemi terjadi dua
tahun lalu. Sektor telekomunikasi jadi roh digitalisasi saat ini.

Digitalisasi jadi penopang setiap usaha untuk menopang perubahan beadaptasi di situasi pandemi.
Apalagi ada pembatasan ruang gerak saat pandemi yang dijawab dengan layanan digitalisasi seperti telekonference, telemedisin dan sebagainya.

Dua tahun selama pandemi jadi momentum sektor telko untuk bertumbuh saat sektor lain tertatih. “Tanpa ada layanan telko, tidak ada konektivitas sebagai kunci digitalisasi, digitalisasi ini di indoensia belum menumbuhkan kondisi yang melesat tapi masa pertumbuhan.

sehingga peluang besar di tengah 250 juta pengguna internet,” katanya. “Di tahun 2023 mendatang, kita akan lebih banyak bicara digitalisasi di Indonesia, tapi yang bagaimana agar Indonesia jadi pusat perhatian dunia dalam hal digitalisasi karena saat ini kita masih jadi pasar bukan pelaku utama digitalisasi,” ujarnya.

Ismail Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Kementerian Kominfo mengatakan, saat berbicara mengenai resesi ekonomi global, industri digital justru jadi solusi karena jadi tumpuan harapan sektor sektor yang lain.

Aktivitas ekonomi masyarakat juga saat ini sangat bergantung pada ekonomi digital karena ruang digital mampu berikan alternatif dan efektifitas efisiensi dalam berbagai macam aktivitas ekonomi dari produksi, marketing, pembiayaan hingga distribusi.

BACA JUGA:  G20 EMPOWER Fokus Dorong Pemberdayaan Perempuan pada Sektor Swasta dan Publik

Pertanyaannya, lanjut Ismail, pemerintah akan melakukan apa dalam sektor digital ini agar jadi
solusi kala perlambatan ekonomi global? Ia menjelaskan, Industri digital yang dulu sebagai nilai tambah industri telekomunikasi dalam ICT justru kini jadi pelaku utamanya.

Sehingga semua yang terlibat dalam ICt ini perlu melakukan perubahan pendekatan agar tadinya tumpuan industri ICT pada telco operators, sekarang
berpindah ke layer berikutnya yakni layer platform, aplikasi dan konten.

“Oleh sebab itu, semua pihak harus mengakomodasi perubahan bisnis model ini tidak terkecuali pemerintah. Pemerintah harus melakukan pendekatan baru agar menjamin suatu sustainability atau keberlangsungan industri digital di Tanah Air,” kata Ismail.

Langkah pemerintah yakni deregulasi regulasi penghambat usaha dengan hadirnya UU Cipta Kerja. UU ini memungkinkan terciptanya kolaborasi di sektor telko, seperti sharing infrastructure sampai dengan spectrum sharing.

Kemudian, UU Cipta Kerja juga berikan ruang pemerintah pusat dan daerah melakukan perubahan
posisi jadi fasilitator, yakni berikan kemudahan pelaku industri telko, misal untuk perizinan hingga tarif.

Terobosan lain, UU Cipta kerja juga lakukan analog switch off di dunia penyiaran, agar tersedianya spektrum frekuensi radio &00 Mhz untuk bantu operator seluler gelar infrastrukturnya lebih efisien.

Kemudian, pemerintah juga jadi investor dengan membangun infrastruktur yang diperlukan operator. Misal dengan membangun bacbone Palapa Ring hingga satelit HTS. Peran pemerintah selanjutnya yakni dorong masyarakat dengan literasi digital.

Serta pemerintah akan bangun data center nasional (PSN) untuk kebutuhan pemerintah agar pelayanan publik lebih baik dan aman. Antisipasi Industri Telko
Hendri Mulya Syam, Direktur Utama Telkomsel, mengatakan melandainya pandemi Covid-19 memberikan harapan untuk semua industri untuk bangkit tahun ini.

Namun terdapat tantangan dari sisi geopolitik, inflasi dan kenaikan suku bunga pada tahun depan. Hal-hal itu diprediksi akan berdampak pada proyeksi pertumbuhan GDP yang menurut Morgan Stanley berkisar 2,9 persen tahun depan. Sementara di Indonesia, memasuki 2023, terbukti resilien menghadapi resesi-resesi sebelumnya.

Dari sisi pertumbuhan makro Indonesia diprediksi alami pertumbuhan melambat tahun depan sebagai dampak penurunan daya beli masyarakat. Dari dampak-dampak tersebut sejak 2018-2020, sektor DB, kesehatan, pendidikan, internet dan teknologi masih bertumbuh.

Untuk itu, Telkomsel memastikan seluruh roadmap perusahaan untuk menghadapi tantangan tersebut dengan terus berinovasi menghadirkan layanan bisnis yang sesuai kebutuhan masyarakat.

“Hal pertama dengan memperkuat core business Telkomsel sebagai penyedia layanan konektivitas digital terdepan seperti hadirkan paket internet sesuai value yang dibutuhkan masyarakat,” kata Hendri. Telkomsel juga merilis sejumlah aplikasi sebagai solusi di masyarakat.

Seperti menghadirkan layanan edukasi Kuncie, yakni platform berbasis aplikasi untuk pengembangan keterampilan berbagai bidang. Kemudian layanan health tech. Serta kembangkan layanan digital sektor pangan TelkomselDFE untuk smartfarming.

“Telkomsel juga dukung digitalisasi UMKM dengan aplikasi penghubung dan terintegrasi. Dengan demikian Telkomsel bertransformasi jadi perusahaan digital terdepan yang memiliki portofolio komprehensif solusi digital,” pungkasnya.

Dian Siswarini, CEO dan President Director XL Axiata mengatakan, pihaknya yakin pertumbuhan XL Axiata tahun 2023 masih tetap positif seperti tahun sebelumnya. Karena di balik tantangan ekonomi 2023 ada peluang yang bisa dimanfaatkan untuk terus bertumbuh.

BACA JUGA:  Luncurkan Google Play Festival, ShopeePay Fasilitasi Kebutuhan Hiburan Masyarakat Saat Pandemi

“2023 perusahaan akan fokus ke 3 pilar utama. Yang ertama fokus pada penawaran convergent sesuai dengan vuisi perusahaan yang menyasar segmen keluarga dan SME,” kata Dian. Kemudian, XL Axiata juga akan terus mengembangkan infrastruktur jaringan demi mendukung kualitas layanan lebih baik lagi, salah satunya dengan mengembangkan infrastruktur di luar Jawa.

Lalu, soal kepuasan pelanggan dengan meningkatkan layanan digital dan personal sesuai yang dibutuhkan oleh pelanggan.

“Kami akan meningkatkan otomasi dan digitalisasi untuk efisiensi operasional, gunakan AI dan analitik sehingga solusi yang diberikan juga tepat sasaran sesuai yang konsumen butuhkan, serta mempersiapkan perusahaan untuk menghadapi biaya meningkat tahun depan dengan cara menekan biaya operasional seperti energy saving,” kata Dian.

“Kami juga akan mempertahankan posisi finansial perusahaan yang kuat dengan cara meningkatkan debt to ebitda ratio. Serta menjaga cashflow di posisi positif.”

Vikram Sinha, President Director and Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison, menyampaikan perusahaan berupaya mengembangkan layanan 5G di sejumlah kota untuk mendukung percepatan digitalisasi.

“Yang sangat penting adalah soal literasi digital agar masyarakat Indonesia terutama kaum muda menggunakan teknologi secara positif. Kemudian, soal UMKM lantaran sektor ini berkontribusi 60 persen bagi ekonomi Indonesia sehingga kita harus mendukungnya.

Salah satu inisiatif yakni marketplace Indosat untuk UMKM,” kata Vikram. Indosat juga punya ID camp, yang memeprsiapkan talent digital untuik berkiprah secara global. Serta mendorong kiprah perempuan dalam pembangunan ekonomi nasional.

“Mari berkolaborasi untuk mendorong digitalisasi di Indonesia, untuk menghubungkan Indonesia dan memberikan pengalaman terbaik bagi setiap warga Indonesia,” katanya.

Perlunya Kolaborasi Rudiantara Ketua Umum Indonesia Fintech Society mengatakan, industri telekomunikasi perlu melakukan kolaborasi dalam ekosistem ekonomi digital, di luar bisnis network (jaringan) dan device (perangkat).

Industri telko saat ini ada 230 juta pelanggan seluler, sektor keuangan yang pegang rekening ada 150 juta, jadi banyak orang pakai ponsel tapi gak punya akses keuangan. Aplikasi tumbuh luar biasa, digital economy paling tinggi di e-commerce, semua transaksinya pasti menggunakan uang.

Untuk itu fintech yaitu payment sistem dan lending yang pertumbuhannya jauh di atas industri telko.
Kisaran kasar, satu pelanggan saja bisa 20 kali lakukan transaksi telko entah chatting dan sebagainya. Sementara di perbankan rendah karena untuk transaksi e-commerce satu orang hanya 2-3 kali sehari.

Artinya ada 1,5 miliar data terkumpul di telko, yang bisa dimanfaatkan misal untuk profiling credit scoring di fintech. Ini bisa jadi peluang pertumbuhan baru bagi telko.

“Inilah peluang yang besar untuk tumbuhkan digital. Selama mindset bisnis enggak di network saja tetapi aplikasi, tanpa harus punya lisensi misal fintech karena regulasi sangat ketat, maka operator bisa kembangkan sektor digital dengan data-data tersebut,” kata Rudiantara dalam acara webiner HUT IndoTelko bertajuk Hadapi Resesi Global 2023.

Industri Telekomunikasi Perlu Kolaborasi dalam Ekosistem Digital pada Rabu (30 November 2022).
“Manfaat yang paling mesar yakni money data, kalau rata-rata 6-8 kali lakukan transaksi, 1,5 miliar data yang bisa dimanfaatkan, misal untuk profiling,” lanjutnya.

BACA JUGA:  Luar Biasa!! realme GT Neo3 Mampu Mengisi Daya hingga 50% dalam 5 Menit

Menurut dia, industri digital bukan industri yang dikembangkan pemerintah. “Saya yakin akan survive, pemerintah hanya fasilitasi saja jangan over regulated, justru harus jadi fasilitator,” kata Rudiantara. Analis bursa saham Reza Priyambada juga mengungkapkan hal senada dengan Rudiantara.

Dalam paparannya, pertumbuhan industri telko memang tidak sekencang industri digital. Kinerja dari
Telkom, Isat, Fren, XL tercatat sampai Q3 2022 pertumbuhannya single digit dari sisi pendapatan.

Kemudian, beberapa emiten alami penurunan pertumbuhan laba bersih, Sehingga disimpulkan
industri telko masih tumbuh tapi melambat. Perlu banyak inovasi dan ekspansi industri telko supaya kinerjanya lebih baik lagi sehingga value creation emiten telko jadi pilihan pelaku pasar.

“Sesuai perkembangan zaman adanya disrupsi, justru peluang masih ada,” kata Reza. Misal dengan memanfaatkan work from home, gaming industri, cloud, AI Data Analytucs hingga keamanan siber.

Hadapi ancaman badai PHK industri digital Heru Sutadi Direktur Eksekutif ICT Institute concern pada badai PHK yang dihadapi industri digital RI saat ini.
Menurut dia penurunan investasi startup dunia akan berdampak ke pengembangan bisnis digital di RI sehingga banyak startup didorong masuk IPO.

Untuk industri telko, bisnis digital ini menarik, sebaiknya PHK jangan terlalu besar karena
efeknya domino ke daya beli masyarakat. “Indonesia secara fundamental digitalnya kuat karena pengguna riil 30 juta, pengguna internet RI rata-rata habiskan 8 jam 3 menit sehingga pemirsa TV berkurang.

Masalah infrastruktur jaringan tetap penting untuk soking ekonomi digital RI. Seperti upaya Palapa Ring hingga BTS 4G di 8.000 desa,” katanya.

Rudiantara menggarisbawahi, adanya PHK startup yang melanda Indonesia. Menurut dia, PHK tak selamanya jelek sebab PHK industri garmen dan alas kaki lebih besar sampai 80.000 orang sementara di digital tidak sampai 10.000.

“PHK juga bisa membuat bisnis digital jauh lebih baik dan sehat karena yang dikejar keuntungan bukan lagi jumlah pengunduh,” lanjutnya. Nailul Huda Analis Indef mengatakan, pada 2023 Indonesia kemungkinan besar tidak akan masuk resesi namun masuk perlambatan ekonomi.

Bahkan, Indonesia bisa jadi episentrum ekonomi di
tengah perlambatan tahun depan. “Tahun 2021 investasi digital RI 144 triliun, banyak sekali perusahan startup digital dapat dana fantastis misal di pendidikan ruanggguru, dapat dana ya eskpansi besar.

2022 saat cost investment naik gara-gara cost of fund, investasi digotal RI hanya 53,58 Trilun per November 2022, turun 50 persen lebih. Kalau startup masih andalkan pendanaan maka cashflow terancam maka efisiensi dengan PHK,” lanjutnya.

Lantas, bagaimana RI bisa jadi episentrum ekonomi dunia? Menurut Nailul, percepatan pertumbuhan transaksi digital besar, seperti e-commmerce yang
nomor satu, sebagai penopang ekonomi digital RI.

untuk itu, penting untuk menjaga daya beli masyakarat terkait konsumsi digital. “Karena 50 persen ekonomi RI ditopang konsumsi oleh karena itu harus fokus jaga daya beli,” katanya.