Beranda blog Halaman 77

Lawan Rentenir dengan “Pembiayaan Home”! Subang Dapat Karpet Merah Perumahan dari Menteri PKP & Kang Dedi

Subang — Awas, rentenir minggir! Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait bersama Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi, kini hadir membawa angin segar ke Kabupaten Subang. Lewat program Pembiayaan Home, warga Subang diajak move on dari jeratan “bank emok” menuju pembiayaan rumah yang aman, cepat, dan terjangkau.

“Saya mengucapkan terima kasih atas dukungan Gubernur Jawa Barat atas kolaborasi pembiayaan mikro perumahan untuk masyarakat Jabar. Daripada mereka meminjam dana dari rentenir, lebih baik memanfaatkan fasilitas Pembiayaan Home untuk merenovasi rumah ataupun meningkatkan usaha kecil,” ujar Menteri Maruarar dalam acara hangat di Lembur Pakuan, kediaman resmi Kang Dedi.

Acara ini tak main-main. Sejumlah tokoh penting ikut hadir: Wakil Kepala Staf Kepresidenan M Qodari, Staf Ahli Kementerian Desa Sugito, Sekda Jabar Herman Suryatman, Kadis Perkim, Komisioner BP Tapera, serta Dirut PT Sarana Multigriya Finansial (SMF)—semuanya berkumpul demi satu tujuan: memberi akses pembiayaan rumah mikro yang manusiawi.

Inisiasi program ini hasil kerja tim solid: Kementerian PKP, Pemprov Jabar, PT SMF, BP Tapera, Permodalan Nasional Madani (PNM), dan Bank bjb. Misinya sederhana tapi berdampak besar: masyarakat bisa dapat dana untuk rumah dengan syarat ringan, bunga bersahabat, dan pencairan yang… hanya tiga hari. Cepatnya ngalahin pengiriman paket kilat!

Maruarar menegaskan bahwa kehadiran rentenir dan tengkulak adalah persoalan serius, bukan cuma masalah dompet tapi juga mental dan martabat. Dengan Pembiayaan Home, masyarakat bisa menghindari tekanan tak manusiawi dari pinjaman ilegal. “Lewat program ini, masyarakat tidak perlu lagi marah-marah menghadapi rentenir,” katanya sambil menekankan bahwa ini bukan sekadar janji manis.

Yang paling menyentuh, Menteri PKP berdialog langsung dengan para ibu rumah tangga penerima manfaat. Rata-rata mereka menerima pinjaman sebesar Rp 1 juta, bunga ringan, cair dalam hitungan hari, dan tidak perlu jual panci atau tabung gas buat modal usaha.

Sebagai simbol nyata, Maruarar juga menyerahkan langsung kunci rumah subsidi kepada 20 warga penerima KPR FLPP dari Bank bjb. Seremoni itu pun disambut penuh haru dan rasa syukur dari warga Subang.

Tak ketinggalan, Maruarar mengingatkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan program perumahan harus diberi “karpet merah”. “Ini kami realisasikan melalui program BPHTB dan PBG gratis. Di Jabar saja, ada jutaan rumah tidak layak huni (RTLH) yang harus segera dibenahi,” tegasnya.

Gubernur Kang Dedi Mulyadi ikut menambahkan bumbu semangat. Ia mengatakan meski Jabar menghadapi keterbatasan lahan dan lonjakan kebutuhan rumah, program Pembiayaan Home menjadi solusi praktis bagi warga yang sudah punya tanah atau RTLH. Rumah bisa direnovasi dengan cicilan ringan dan tanpa drama.

Dirut PT SMF, Ananta Wiyogo, juga menyoroti perubahan besar dalam sistem pembiayaan yang kini jauh lebih simpel. “Kita harus melawan rentenir. Sekarang masyarakat bisa dapat dana dalam tiga hari saja. Ini solusi nyata bagi mereka,” ujarnya.

Sementara itu, Sunar Basuki dari PNM menekankan bahwa Pembiayaan Home bukan sekadar pinjaman. “PNM bukan hanya tentang modal, tapi juga modal intelektual dan sosial,” katanya. Program ini dirancang untuk ibu-ibu pejuang ekonomi mikro—bukan hanya diberi dana, tapi juga pelatihan, pendampingan, dan bantuan legalitas usaha.

Per Juni 2025, PNM dan SMF telah menyalurkan dana senilai Rp 1,7 triliun secara nasional. Dan menariknya, Subang jadi salah satu daerah paling aktif dengan 141.000 nasabah pembiayaan mikro perumahan.

Satu hal pasti: dari Lembur Pakuan, semangat perumahan tanpa rentenir kini menyebar ke penjuru Jawa Barat. Dan Subang? Siap melaju di jalur cepat karpet merah pembangunan!

JSubang–Palembang Kolaborasi Ngadi-ngadi: Sinergi Beras Premium, Lawan Inflasi!

kerja sama pangan Subang Palembang

Subang — Ada yang “matang” di luar dandang! Pemerintah Kota Palembang dan Pemerintah Kabupaten Subang resmi meneken deal manis antar daerah: Kesepakatan Bersama dan Perjanjian Kerja Sama soal distribusi pangan, khususnya beras premium—bukan sembarang beras, tapi yang kalau dimasak bisa bikin nasi goreng auto naik kelas!

Penandatanganan yang berlangsung Rabu sore (23/7) di Kantor Bupati Subang ini bukanlah cinta lokasi yang tiba-tiba. Ini adalah kelanjutan dari pendekatan resmi sebelumnya yang sudah dimulai sejak 16 Mei 2025. Jadi bukan karena perjodohan instan.

Dokumen penting itu ditandatangani langsung oleh dua “pemain utama”: Wakil Wali Kota Palembang, Prima Salam, dan Wakil Bupati Subang, Agus Masykur Rosyadi. Aura serius tapi hangat terasa di ruangan, apalagi saat aroma ketahanan pangan dan anti-inflasi mulai menyeruak.

Tak hanya duo pemimpin daerah, acara juga dihadiri para pejabat penting dan perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan. Kepala perwakilan BI Sumsel pun menyatakan dukungan penuh. “Bank Indonesia siap terus mendukung upaya pengendalian inflasi dan penguatan ketahanan pangan di daerah,” ujarnya dengan nada seperti membumbui nasi dengan rempah kebijakan ekonomi.

Ia juga menegaskan bahwa inflasi di Palembang masih aman, stabil, dan on track—tidak seperti harga cabai yang suka meledak mendadak.

Prima Salam, Wakil Wali Kota Palembang, tak ingin kerja sama ini hanya sebatas penandatanganan simbolis. “Saya ingin kerja sama ini benar-benar menjadi langkah konkret. Sepulang dari sini, saya ingin melihat hasil nyata dari MoU ini dalam mendukung pengendalian inflasi di Kota Palembang,” katanya, serius tapi tetap diplomatis.

Lebih lanjut, beliau berharap kerja sama ini bukan cuma urusan beras, tapi juga menjadi pintu gerbang kerja sama lintas sektor, termasuk pengembangan SDM. Pokoknya, dari ladang padi ke ruang pelatihan!

Sementara itu, Wakil Bupati Subang, Agus Masykur Rosyadi, menyambut baik kepercayaan yang diberikan oleh Kota Palembang. “Kami siap membuka pembicaraan kerja sama lanjutan di berbagai sektor. Ini adalah titik awal hubungan baik antara Kabupaten Subang dan Kota Palembang,” ujarnya dengan senyum khas Subang: adem dan tulus.

Tak hanya MoU, acara juga diisi dengan High Level Meeting Pengendalian Inflasi Daerah dan sesi Capacity Building—semacam ngobrol serius soal teknis pengolahan dan distribusi beras di Kabupaten Subang.

Kolaborasi ini bukan sekadar basa-basi beras. Ini adalah strategi konkret yang bertujuan memperkuat ketahanan pangan, menjaga harga tetap waras, dan menggenjot pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan tahan banting.

Compreng Rayakan Ulang Tahun ke-38, Wabup Subang: Saatnya “Ngabret” Menuju UTAMA!

Milangkala ke-38 Compreng

Subang — Alun-alun Kecamatan Compreng berubah jadi panggung kemeriahan pada Rabu (22/7/2025), saat warga tumpah ruah merayakan Milangkala ke-38. Tapi ini bukan ulang tahun biasa. Ini pesta rakyat yang dibalut semangat gotong-royong, kekeluargaan, dan tentu saja… semangat Ngabret ala Subang!

Camat Compreng, Cecep Rahmat, membuka acara dengan penuh semangat. Ia menyampaikan rasa terima kasih setulus ulekan sambal, kepada Wakil Bupati Subang, Agus Masykur Rosyadi, yang menyempatkan hadir di tengah-tengah warga. “Semangat gotong-royong, kekeluargaan, dan kekompakan warga Compreng yang disertai dengan do’a, adalah modal penting untuk terus ‘Ngabret’ bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Subang,” ujarnya dengan nada penuh harap.

Tak hanya itu, Cecep juga menyuarakan tekad Kecamatan Compreng untuk terus bergerak maju. “Dengan Milangkala ke-38 ini, Kecamatan Compreng diharapkan, terus bergerak menuju wilayah yang Unggul, Tangguh, dan Makmur (UTAMA),” ujarnya, menyebut slogan andalan pembangunan wilayahnya.

Wakil Bupati pun tak tinggal diam. Dalam sambutannya yang penuh energi seperti kopi robusta dua sendok, beliau mengucapkan selamat ulang tahun bagi Kecamatan Compreng. “Selamat ulang tahun ke-38 untuk Kecamatan Compreng. Usia ke-38 merupakan usia yang matang penuh energi. Semoga makin maju dengan semangat Ngabret, bekerja dengan lebih cepat lagi,” tuturnya penuh optimisme.

Namun perayaan tak hanya soal tepuk tangan dan tumpeng. Wabup juga merespons aspirasi warga soal jalanan yang berlubang bagai permukaan bulan. Ia menegaskan bahwa Pemkab Subang tak tutup mata. “Perlu diketahui, jalan-jalan akan diperbaiki di Kabupaten Subang, terutama Compreng juga,” jelasnya, seperti menabur harapan di atas aspal.

Sambil meminta maaf atas ketidaknyamanan yang mungkin dirasakan warga, ia juga menjelaskan bahwa perbaikan infrastruktur bukan seperti masak mie instan—perlu perencanaan dan proses yang matang. “Pemkab Subang terus berkomitmen memperbaiki sarana prasarana umum, dan infrastruktur di seluruh wilayah, termasuk Compreng,” tegasnya.

Dan sebagai penutup yang manis seperti dodol Garut, Wabup kembali menyuarakan harapan besar untuk Kecamatan Compreng. “Selamat milangkala, In Syaa Allah, Compreng UTAMA (Unggul, Tangguh, Makmur) menuju Subang religius, adil, makmur dengan semangat pembangunan Ngabret,” pungkasnya.

Judul:Drama Gas Melayang: Dua Pria, Ribuan Tabung Kosong, dan Aksi “Kirim-Tapi-Hilang”

penggelapan tabung gas elpiji Subang

Subang — Ada yang hilang di langit-langit dapur warga, dan bukan… bukan wajan bolong atau sendok yang nyangkut di rak atas. Kali ini, hilangnya ribuan tabung gas elpiji 3 kilogram kosong bikin heboh! Lokasinya? Sebuah perusahaan bernama PT Samudra Sinergi Industri (SSI) di Kecamatan Pabuaran, Subang, Jawa Barat.

Kapolres Subang, AKBP Dony Eko Wicaksono, membenarkan bahwa insiden ini bukan sekadar drama harian emak-emak kehabisan gas saat masak mi instan. “Akibat penggelapan itu, PT SSI mengalami kerugian hingga mencapai Rp100 juta,” ujar beliau saat konferensi pers penuh kejutan di Mapolres Subang, Rabu lalu.

Dua pria dengan inisial AP (42) asal Bekasi dan AF (39) asal Brebes jadi bintang utama dalam kasus ini—tentu bukan karena aktingnya, tapi karena aksinya. Mereka diciduk di Kecamatan Wanasari, Brebes, saat diduga hendak melanjutkan “tour de penggelapan”.

Lebih lucunya, saat ditangkap, mereka sedang asyik mengangkut perabotan rumah tangga dari Daan Mogot, Jakarta Barat. Barang-barang ini juga diduga akan diboyong ke Surabaya dengan modus yang sama. Entah tabung gas, entah lemari bumbu, siapa yang tahu?

Dari tangan keduanya, polisi mengamankan beragam souvenir digital: surat jalan, CCTV, bukti transfer, chat WhatsApp yang (mungkin) lebih panjang dari status galau, flashdisk, buku tabungan, dan sejumlah dokumen lain. Lengkap, tinggal kurang playlist Spotify.

Ternyata, ini bukan kerja sendirian. Ada tiga orang lain yang sedang dalam pengejaran: satu bertugas menjual barang hasil kejahatan, satu penyedia armada, dan satu lagi pendamping sopir. Wah, tim ini komplit—cuma kurang manajer logistik.

Kronologi bermula akhir April 2025, saat kedua tersangka mempromosikan jasa angkutan barang lewat media sosial. Mereka berhasil menggaet orderan mengangkut tabung kosong dari Subang ke Cirebon. Tapi alih-alih sampai tujuan, tabung-tabung itu malah “terdampar” entah ke mana.

Kini, keduanya mendekam di rumah tahanan Mapolres Subang. Mereka dikenakan Pasal 372 dan 374 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun. Harapannya, tentu bukan cuma gas yang kembali, tapi juga kepercayaan.

Rayakan Ultah ke-59, Radio Benpas Dapat Kado Spesial dari Kang Rey

Ultah ke-59 Radio Benpas Subang

SUBANG – Suasana nostalgia membungkus udara hangat Studio Radio Benpas, Senin (21/7/2025). Di tengah perayaan ulang tahun Benpas ke-59, hadir tamu istimewa: Bupati Subang, Reynaldy Putra Andita Budi Raemi—atau yang akrab disapa Kang Rey. Tapi tenang, ini bukan kunjungan formal yang kaku. Talkshow ini seperti reunian akrab yang penuh cerita dan secangkir kenangan.

Dipandu Pranata Siaran Ahli Pertama, Farida Alqodariah, S.I.Kom, talkshow ini menjadi ajang bincang santai tapi bermakna. Kang Rey membuka hati dan memori masa kecilnya yang pernah ditemani suara khas Benpas.

“Benpas ini yang sempat mengisi masa kecil saya. Dulu saya sering mendengarkan, dan radio ini menjadi penyambung informasi antara pemerintah daerah dengan masyarakat,” kenangnya, sambil tersenyum.

Di era digital yang makin riuh, Kang Rey justru melihat Radio Benpas sebagai oase suara. Ia berharap radio ini tetap eksis, bukan sekadar corong pemerintah, tapi juga ruang aspirasi publik.

“Di tengah digitalisasi, saya berharap Benpas tetap berdiri kokoh sebagai radionya orang Subang. Media ini bisa menjadi nafas pemerintah daerah,” ucapnya.

Menurut Kang Rey, kekuatan media lokal seperti Benpas bukan main-main. Ia bahkan menyebutnya sebagai “senjata zaman now”.

“Hari ini, senjata seseorang bukan lagi pedang atau pistol. Senjata hari ini adalah media,” katanya mantap.

Bukan cuma bicara, Kang Rey juga membuktikan komitmennya dalam membangun komunikasi publik yang terbuka. Ia menegaskan, warga bisa langsung menyampaikan aduan—bahkan lewat DM Instagram pribadinya. Gaya bupati yang kekinian dan responsif, bukan basa-basi!

“Saya membuka ruang, masyarakat bisa komunikasi langsung dengan saya,” jelasnya.

Tak hanya memberi pujian, Kang Rey juga mendorong Radio Benpas agar terus berkembang. Ia mengajak Benpas untuk ikut serta dalam berbagai program Pemkab Subang seperti “Sabtu Bersama Kang Rey”, dan menjadi jembatan suara rakyat yang makin kokoh.

Sebagai penutup, Kang Rey memberikan kado simbolis: memotong tumpeng dan menyerahkannya langsung kepada Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika. Sebuah bentuk penghormatan kepada radio legendaris yang tetap berdiri tegak di tengah gempuran zaman.

“Subang ke depan harus ngabret! Bukan cuma slogannya, tapi semangatnya juga,” seru Kang Rey, menutup sesi talkshow dengan semangat menggelora.

Gaspol Lawan Stunting! RSUD Subang Gandeng 40 Puskesmas Demi Generasi Emas 2045

penanggulangan stunting RSUD Subang

SUBANG – Ada yang beda dari obrolan santai di Studio Radio Benpas Subang, Senin (21/7). Kali ini bukan soal dangdut koplo atau gosip artis lokal, melainkan soal masa depan bangsa: stunting! Dan RSUD Subang tampil sebagai superhero kesehatan yang siap menumpasnya—dengan bekal ilmu, kolaborasi, dan semangat tiada dua.

Lewat program talkshow LEKAT, dua narasumber dari RSUD Subang tampil penuh wibawa dan kepedulian. Ada dr. Riri Andriana, Sp.A., sang dokter spesialis anak yang paham betul seluk-beluk tumbuh kembang, dan Novi Achmad, S.S., M.AP., Ketua Dharma Wanita Persatuan RSUD Subang yang tak kalah energik.

Dalam bincang-bincang hangat tapi sarat makna, dr. Riri menyampaikan bahwa stunting bukan cuma urusan gizi, tapi soal masa depan bangsa. “Usia 30 tahun adalah usia emas seseorang untuk menjadi pemimpin yang matang. Maka, pembangunan kualitas anak harus dimulai sejak sekarang,” tegasnya.

Dan RSUD Subang tak cuma jago omong. Mereka sudah on the move lewat kerja sama solid bersama 40 puskesmas se-Kabupaten Subang. Misinya? Edukasi masyarakat dan deteksi dini stunting. Kalau ada gejala yang mencurigakan, langsung disikat—dengan intervensi gizi, bukan emosi.

Lima fokus utama jadi senjata mereka:

  1. Penurunan angka stunting
  2. Layanan inklusif untuk anak berkebutuhan khusus
  3. Pencegahan kekerasan terhadap anak
  4. Penurunan angka pernikahan dini
  5. Literasi dan kecerdasan digital sejak dini

Angka stunting di RSUD Subang kini sudah ditekan sampai 12 persen. Targetnya? Turun sampai 15 persen tahun depan. Tunggu, itu bukan typo—mereka memang ingin lebih turun dari sekarang!

“Gizi yang tidak tercukupi jadi penyebab utama stunting. Maka, edukasi adalah kunci,” ucap dr. Riri penuh semangat.

Sementara itu, Novi Achmad menyoroti bahwa isu stunting tak bisa ditangani secara medis semata. “Kesehatan anak bukan hanya urusan medis, tapi juga sosial dan kultural. Maka perlu pendekatan lintas sektor,” jelasnya.

Karena itu, kolaborasi lintas instansi, edukasi masif, dan pendekatan yang menyentuh hati masyarakat jadi strategi andalan mereka. Nggak cukup hanya kasih tahu soal isi piring sehat, tapi juga menyadarkan bahwa tumbuh kembang anak itu investasi masa depan—bukan pengeluaran.

Stunting, FYI, adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis, terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan. Bukan cuma bikin tubuh anak pendek, tapi juga bisa menghambat perkembangan otak dan melemahkan daya tahan tubuh.

Maka dari itu, baik pemerintah pusat maupun daerah terus gaspol dalam program percepatan penurunan stunting. Subang pun siap menyambut generasi Indonesia Emas 2045—yang bukan cuma tinggi badan, tapi juga tinggi wawasan dan daya saing.

Subang Darurat DBD: 601 Kasus, 6 Nyawa Melayang, 1 Balita Jadi Korban

kasus DBD Subang 2025

SUBANG – Cuaca galau antara hujan dan panas ternyata bukan hanya bikin cucian lama kering, tapi juga jadi panggung ideal bagi nyamuk Aedes aegypti untuk berpesta. Hasilnya? Kabupaten Subang dihantam lonjakan kasus demam berdarah dengue (DBD) yang bikin waswas.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, dr. Maxi, mengonfirmasi kabar tak mengenakkan ini. “Iya benar, kasus DBD di Subang terus meningkat. Selama Januari hingga pertengahan Juli 2025 tercatat ada 601 kasus suspek DBD,” ungkapnya, Selasa (21/7/2025).

Dan ini bukan sekadar angka di atas kertas. Mei dan Juni menjadi bulan paling mencekam dengan masing-masing 152 dan 147 kasus. Sementara hingga pertengahan Juli, sudah tercatat 54 kasus.

Empat kecamatan paling terdampak adalah Cipunagara, Tambakdahan, Pusakanagara, dan Patokbeusi. Dari wilayah ini saja, ada 471 kasus suspek DBD. Bisa dibilang, nyamuknya seperti tahu lokasi hotspot yang empuk.

Yang lebih menyayat, dari total 601 kasus, sudah ada 6 warga Subang yang meninggal dunia. “Keenam orang yang meninggal rata-usianya di bawah 40 tahun, bahkan satu di antaranya masih balita usia 2,5 tahun,” ujar dr. Maxi.

Penyebabnya? Lagi-lagi klasik tapi fatal: keterlambatan penanganan. Banyak pasien dibawa ke rumah sakit saat kondisinya sudah parah. Dan saat itu, penyesalan datangnya lebih cepat dari ambulans.

Untuk mengantisipasi agar nyawa tak melayang sia-sia, Dinas Kesehatan Subang kembali menggencarkan kampanye 3M—Menguras, Menutup, dan Mengubur. Tak cukup itu, fogging pun dilakukan secara rutin.

“Pihak Dinkes Subang hingga hari ini masih terus melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk untuk membasmi DBD agar kasusnya tidak terus meningkat,” tegasnya.

Warga diimbau untuk tak lengah. DBD bukan sekadar demam biasa—ini penyakit yang bisa jadi tragis kalau disepelekan. Kalau nyamuk bisa bicara, mungkin dia akan bilang, “Cuma butuh setetes air dan sedikit kelengahan, bro.”

Jadi, jangan kasih ruang! Warga harus kompak, rumah bersih, selokan lancar, dan air tergenang? Harus auto musnah!

Janji Seragam Gratis di Subang Masih “Ngendap”: Bupati Minta Bersabar, Ruang Kelas Masih Luka

seragam gratis Subang 2025

SUBANG – Bagi para pelajar SD dan SMP di Subang, tahun ajaran baru 2025 ini terasa seperti menunggu gebetan yang belum tentu datang. Seragam sekolah gratis yang dijanjikan saat kampanye Bupati Subang, Reynaldy Putra Andita Budi Raemi, ternyata belum bisa dibagikan.

Alasannya? Anggarannya belum turun lapangan. Seragam idaman itu baru akan dibelanjakan setelah perubahan APBD 2025 diketok palu.

“Saya sampaikan, pembagian seragam menunggu dari anggaran perubahan, dan tolong siapkan teknisnya,” kata Bupati Reynaldy saat rapat bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Subang, Senin (21/7/2025).

Janji ini bukan sekadar basa-basi. Seragam gratis ini masuk dalam program unggulan yang dulu dibawa saat kampanye Pemilihan Bupati Subang 2024. Targetnya: semua siswa SD hingga SMP dapat seragam nasional dan pramuka secara cuma-cuma.

Tapi sabar dulu, ya. Seragam olahraga dan batik khas sekolah belum termasuk. Mungkin itu masuk wishlist tahun depan.

Meski belum digelontorkan dananya, pendataan ukuran seragam siswa sudah dilakukan. Bupati berharap distribusinya bisa dimulai akhir Agustus atau awal September 2025. Total anggaran yang dibutuhkan? Antara Rp7 miliar hingga Rp15 miliar. Ini bukan sekadar proyek seragam, melainkan usaha nyata meringankan beban pendidikan masyarakat.

Namun, seragam bukan satu-satunya PR dunia pendidikan Subang. Ternyata, lebih dari 3.000 ruang kelas di kabupaten ini masuk kategori rusak. Miris, bukan?

Menurut Kadisdikbud Nunung, “Terdapat 2.713 ruang kelas SD dan 410 ruang kelas SMP yang masuk dalam kategori rusak.” Tahun ini, hanya 335 ruang yang bisa diperbaiki.

Biayanya? Siapkan tisu! Kebutuhan anggaran mencapai Rp51 miliar, dengan rincian Rp15 miliar dari APBD dan sisanya—Rp36 miliar—mengandalkan APBN.

Proyek perbaikan dijadwalkan mulai semester kedua 2025. Semoga saja tak molor seperti seragam tadi. Karena mau belajar sambil pakai seragam baru, tapi kalau atap kelasnya bocor, itu tetap bukan pengalaman yang menyenangkan.

Koperasi Makin Gagah! Subang Rayakan Hari Koperasi ke-78 dengan Meriah dan Berkah

Peringatan Hari Koperasi Subang ke-78

SUBANG – Ada yang spesial di halaman Kantor DKUPP Subang, Selasa pagi (22/7/2025). Bukan pasar kaget, apalagi konser dangdut—melainkan peringatan Hari Koperasi ke-78 yang disulap jadi ajang penuh semangat, senyuman, dan sedikit haru.

Dengan tema yang menggelitik rasa nasionalisme, “Koperasi Maju, Indonesia Adil Makmur”, acara ini jadi panggung istimewa bagi koperasi—si jagoan ekonomi rakyat yang terus bertumbuh meski kadang diguyur gerimis regulasi.

Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan, dan Perindustrian Subang, Bambang Suhendar, S.IP., tampil di podium seperti orator kawakan. Dengan data di tangan, ia menyebut jumlah koperasi di Subang telah mencapai 1.565 unit. Bukan angka sembarangan, karena di antaranya ada 450 koperasi yang dinyatakan aktif.

“Dari yang aktif itu, sekitar 50 menjalankan usaha sektor riil. Sisanya, lebih dari 400 bergerak di usaha simpan pinjam,” papar Bambang dengan gaya kalem tapi mantap. Wah, kalau koperasi bisa bicara, pasti mereka akan bilang, “Kami bukan hanya simpan pinjam doang, ya!”

Tapi tunggu dulu, acara ini nggak cuma soal angka dan pidato. Ada juga momen haru saat 50 anak yatim piatu menerima santunan. Sambil tersenyum malu-malu, mereka menerima bingkisan sebagai bentuk kepedulian sosial yang bukan basa-basi.

Tak lupa, penghargaan juga dibagikan kepada para koperasi jawara. Siapa saja mereka?

  • Koperasi Konsumen Primkoppol Resort Subang, dengan SHU terbesar tahun buku 2024.
  • Koperasi Konsumen Primer Kartika 0605 Subang, jago revitalisasi koperasi.
  • Kantor Cabang KSPPS Benteng Mikro Indonesia, yang aktif menebar manfaat ke masyarakat.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Subang, Kang Asep Nuroni, datang mewakili Bupati. Ia membacakan sambutan dari Menteri Koperasi dan UKM, Budi Arie Setiadi, yang mengangkat peran koperasi dalam mencapai cita-cita besar Presiden Prabowo: swasembada pangan dan pembangunan desa berbasis koperasi.

“Koperasi Indonesia terus menunjukkan geliat positif. Tahun lalu, tercatat ada 131.617 koperasi aktif dengan anggota hampir 30 juta orang. Artinya, satu dari sepuluh warga Indonesia adalah bagian dari koperasi. Mari jadikan koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat,” tegas Menkop dalam sambutan tertulisnya.

Acara ini makin semarak karena hadir pula Asisten Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan, pimpinan BJB Subang, Kepala UPTD PLUT, serta para pengurus koperasi se-Kabupaten Subang.

Kang Asep pun tak lupa menyisipkan pesan manis, “Mari kita jadikan koperasi bukan sekadar formalitas, tapi motor penggerak ekonomi rakyat yang nyata.”

Begitulah, Hari Koperasi ke-78 di Subang tidak hanya jadi seremoni, tapi selebrasi ekonomi berbasis gotong royong. Kalau koperasi bisa bersorak, mungkin mereka akan bilang, “Koperasi? Gaskeun!”

Kang Rey Sambut Koperasi Merah Putih: Ekonomi Desa Bangkit, Layanan Publik Dipermudah!

Koperasi Merah Putih Subang

SUBANG – Peluncuran nasional 80.000 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih resmi dimulai! Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI menggagas program raksasa ini melalui Zoom Meeting, dan Bupati Subang Reynaldy Putra Andita Budi Raemi alias Kang Rey pun turut serta dari Ruang Rapat Bupati 2, Senin (21/7/2025).

Dengan didampingi Sekda Subang H. Asep Nuroni, S.Sos., M.Si, serta jajaran perangkat daerah, Kang Rey menyatakan dukungannya atas gebrakan ekonomi berbasis komunitas lokal. “Koperasi adalah pilar penting dalam membangun ekonomi kerakyatan,” tegasnya.

Program Koperasi Merah Putih ini bukan sekadar simbol, tapi strategi konkret: membentuk koperasi di tiap desa dan kelurahan se-Indonesia. Di Subang sendiri, sudah terbentuk 253 koperasi yang mendapat pengesahan Kemenkumham hingga akhir Juni 2025. Kini koperasi-koperasi ini tengah bersiap menanti akses pembiayaan dari BNI, BRI, dan Mandiri. Tinggal menunggu lampu hijau dari pusat!

Tak hanya itu, Kang Rey juga menggelar agenda Briefing Staf Pemkab Subang sebelum peluncuran koperasi. Isu-isu strategis seperti pengembangan Sekolah Rakyat, ketenagakerjaan, dan pelayanan publik jadi topik utama.

Asisten Daerah II H. Hidayat menekankan pentingnya kolaborasi antara Pemkab, perguruan tinggi, dan Pemprov Jabar untuk memperkuat pelatihan vokasi berbasis kebutuhan industri. Sementara Inspektur Daerah Memet Hikmat menyampaikan pujian dari KPK RI atas Roadshow KPK di Subang yang dinilai sangat aktif dan berdampak.

Kabar gembira juga datang dari pelayanan publik. Mulai November 2025, perekaman dan pencetakan KTP bisa dilakukan di seluruh kecamatan. “Disdukcapil akan kami evaluasi, semua pelayanan dipindahkan agar lebih dekat ke masyarakat dan tanpa pungli,” ujar Kang Rey.

Terkait program seragam sekolah gratis, Kang Rey meminta agar teknisnya segera disiapkan meski masih menunggu anggaran perubahan. Tak lupa, beliau mengingatkan OPD yang masih “malu-malu menyerap anggaran” agar segera tancap gas demi kepentingan rakyat.

Hadir dalam kegiatan ini para Asisten Daerah, Staf Ahli, Kepala OPD, Kabag, dan Camat se-Kabupaten Subang—semua dengan satu tujuan: membangun Subang dari desa, dari akar, dengan langkah nyata.

Recent Posts