Beranda blog Halaman 70

Dapur SPPG Polres Subang Segera Rampung, Siap Sajikan 4000 Porsi Makan Bergizi Gratis Setiap Hari

Dapur SPPG Polres Subang

Subang – Polres Subang ambil bagian dalam seremoni ground breaking Dapur SPPG yang digelar Mabes Polri dan diikuti oleh seluruh jajaran Polres dan Polda se-Indonesia, Rabu (6/8/2025) sore. Acara berlangsung di Asrama Polres Subang, Jalan Sukamenak, dan menjadi tonggak awal berdirinya dapur yang kelak akan melayani ribuan warga penerima manfaat.

Kapolres Subang, AKBP Dony Eko Wicaksono, menyampaikan bahwa progres pembangunan Dapur SPPG Polres Subang telah mencapai 65 persen. “Progres pembangunan dapur SPPG Polres Subang ini, sudah kita laporkan ke BGN,” ujarnya.

Dapur SPPG Polres Subang ditargetkan mampu melayani 4000 orang penerima manfaat. “Dengan rincian, terdiri dari 3700 siswa, dan 300 orang merupakan ibu hamil dan ibu menyusui, termasuk anak,” terangnya.

Pembangunan dapur tersebut berdiri di atas lahan seluas 870 meter persegi dan diproyeksikan rampung pada akhir Agustus. Setelah selesai, tahap persiapan operasional akan dilakukan bersama BGN, Bhayangkari, serta mitra lainnya.

Dalam pelaksanaannya nanti, dapur ini akan melibatkan 46 relawan untuk memasak dan menyajikan Makan Bergizi Gratis (MBG) sebanyak 4000 porsi setiap harinya. “Untuk pengawasannya, ke 46 relawan ini, akan diawasi oleh seorang Kepala Dapur yang ditunjuk oleh Pusat, selanjutnya akunting, Kepala Bagian Operasional, dan juga ada ahli gizi,” jelas AKBP Dony.

Ia juga menyebutkan bahwa secara keseluruhan terdapat 134 dapur SPPG di Kabupaten Subang. Khusus di Kecamatan Subang Kota, terdapat 17 titik dapur SPPG, termasuk milik Polres Subang, Kodim 0605/Subang, dan dapur mandiri dari masyarakat yang telah berkoordinasi dengan BGN.

Kapolres berharap, pembangunan Dapur SPPG Polres Subang dapat menjadi bagian dari kesuksesan program nasional. “Pembangunan dapur sppg Polres Subang ini, sebagai upaya Polri, dalam mendukung program bapak Presiden Prabowo Subianto,” tutupnya.

Ledakan Misterius di Subang: Tim Gabungan Turun Tangan, Polisi Amankan Perimeter!

ledakan pipa gas Subang

Subang—Ada yang meletup keras di Kampung Cikaret, Desa Cidahu, Kecamatan Pagaden Barat. Bukan petasan, bukan juga popcorn gosong, tapi ledakan pipa gas milik Pertamina EP Regional 2 Zona 7 Field Subang. Dan… suasana pun mendadak panas, bukan karena api, tapi karena tim gabungan langsung bergerak cepat seperti dalam film aksi!

Kapolres Subang, AKBP Dony Eko Wicaksono, memimpin langsung investigasi di lokasi. Bersama tim dari Puslabfor Bareskrim Polri, Inafis Polda Jabar, hingga personel gabungan dari Polres Subang, mereka tak hanya datang ramai-ramai, tapi juga membawa segudang alat canggih. Lengkap bak pasukan Avengers versi hukum.

“Saat investigasi, petugas gabungan disiagakan untuk menjaga perimeter lokasi, memastikan tidak ada warga yang mendekat demi kelancaran penyelidikan,” ujar Kapolres Dony dengan nada serius tapi tetap santai. Intinya, warga dilarang ikut-ikutan live streaming dari TKP, demi keselamatan dan akurasi penyelidikan.

Fokus utama mereka? Titik pusat ledakan. Di sanalah teka-teki diledakkannya pipa gas mulai dirunut satu per satu. Mirip mencari jarum dalam jerami, tapi tentu saja jeraminya beraroma gas.

“Pukul 11.30 WIB, kami bersama jajaran turut meninjau langsung lokasi insiden saat proses olah tempat kejadian perkara tengah berlangsung,” sambung Kapolres. Wah, bukan hanya duduk di belakang meja, beliau juga ikut turun tangan langsung. Salut!

Investigasi ini jadi momen penting. Bukan hanya demi mengetahui biang kerok ledakan, tapi juga memastikan keamanan warga sekitar. Karena ya, lebih baik gas meledak karena ketahuan, daripada meledak tiba-tiba tanpa undangan.

Deskripsi meta:

Tag:

Polres Subang Bongkar Eksploitasi Anak di Kafe Remang-Remang Pantura

eksploitasi anak Subang

Subang – Pantura, kawasan yang semestinya jadi lintasan ekonomi, justru disusupi gelapnya praktik tak berperikemanusiaan. Kali ini, tiga kafe remang-remang di Kecamatan Patokbeusi, Kabupaten Subang, jadi sorotan tajam Polres Subang. Bukan karena karaoke-nya merdu, tapi karena di balik dentuman musik, ada jeritan sunyi dari anak-anak yang dieksploitasi.

Kapolres Subang, AKBP Dony Eko Wicaksono, mengungkap kasus eksploitasi anak di bawah umur yang mencuat lewat operasi gabungan Satgas TPPO Kabupaten Subang. Dari razia di tujuh lokasi, tiga warung remang-remang kedapatan mempekerjakan anak di bawah umur sebagai pemandu karaoke. Miris, tapi nyata.

“Diduga mempekerjakan perempuan berusia 15–17 tahun, yaitu WA (17) asal Karawang di warung Flamboyan, TOZ (17) asal Cianjur di warung Susan, dan NS asal Garut di warung Wulan Sari,” ujar Kapolres, membuka fakta yang tak mudah dicerna logika sehat.

Lebih mengenaskan lagi, ketiga korban ini bekerja dalam kondisi yang jauh dari aman. Tak ada perlindungan hukum, tak ada jaminan upah layak, dan sangat rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan. Seolah hidup mereka dijebak dalam ruang gelap bernama eksploitasi.

Para pemilik warung yang tega mempekerjakan mereka kini telah ditangkap. Mereka adalah DMS (39) asal Subang, SWA (33) asal Karawang, dan AK (37) asal Subang. Tak ada lagi karaoke, tak ada lagi senyum palsu di balik panggung—yang ada kini, jeruji dan proses hukum.

Mereka dijerat dengan pasal berlapis, mulai dari UU Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) hingga UU Perlindungan Anak. Ancaman hukumannya tidak main-main: maksimal 15 tahun penjara dan denda hingga Rp600 juta. Setimpal? Mungkin belum, jika dibandingkan dengan luka batin korban.

“Razia ini merupakan tindak lanjut dari laporan masyarakat. Kami mengajak warga untuk aktif melapor jika mengetahui praktik serupa. Pengawasan akan terus kami lakukan di titik-titik rawan,” tegas Kapolres, seraya menyampaikan bahwa kerja sama publik adalah benteng utama melawan kejahatan tersembunyi seperti ini.

Jadi, kalau Anda mendengar tawa riuh dari balik dinding kafe, pastikan itu tawa yang merdeka—bukan jeritan yang dipaksa bungkam oleh lampu temaram dan suara karaoke palsu.

Dandim Subang Dukung Pembentukan Satgas TPPO: Demi Lindungi Masa Depan Anak Bangsa

Satgas TPPO Subang

Subang – Komandan Kodim 0605/Subang, Letkol (Czi) Asep Saepudin, menyampaikan apresiasinya terhadap Polres Subang atas keberhasilan mengungkap kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Hal itu ia sampaikan saat menghadiri konferensi pers pengungkapan kasus di Mapolres Subang, Selasa (5/8/2025).

“Kami Kodim 0605/Subang mengapresiasi kinerja Polres Subang, yang berhasil mengungkap kasus TPPO, dan kami mendorong agar di Subang dibentuk Satgas TPPO,” tegas Letkol Asep.

Ia menilai pembentukan Satgas TPPO sangat penting untuk mencegah terulangnya kasus serupa di masa depan. Apalagi TPPO berkaitan langsung dengan keselamatan serta masa depan generasi muda.

“Karena kasus TPPO menyangkut hal dan masa depan anak, yang perlu kita selamatkan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Dandim Asep menegaskan bahwa Forkopimda di Kabupaten Subang senantiasa solid dan bersinergi dalam berbagai hal demi keamanan, kenyamanan, dan kemajuan daerah.

“Kami kompak selalu, dalam hal apa pun, demi suksesnya Kabupaten Subang di bawah kepemimpinan Pak Bupati Reynaldi,” tandasnya.

Buka Ujikom JPT Pratama, Bupati Subang Soroti Kinerja Berbasis Aduan dan Tegaskan “Zero Rupiah”

Uji kompetensi JPT Subang

Subang – Bupati Subang, Reynaldy Putra Andita Budi Raemi, S.IP., bersama Wakil Bupati H. Agus Masykur Rosyadi, secara resmi membuka pelaksanaan Tes Wawancara Uji Kompetensi Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama di lingkungan Pemkab Subang pada Senin, 4 Agustus 2025. Kegiatan berlangsung di Laska Hotel, Ciater, dan diikuti oleh para pejabat dari berbagai perangkat daerah.

Uji kompetensi ini dipimpin oleh Panitia Seleksi (Pansel) yang diketuai oleh Sekretaris Daerah H. Asep Nuroni, S.Sos., M.Si., dengan anggota dari kalangan profesional dan akademisi, yaitu Dr. Ir. Ferry Sofwan Arif, M.Si., H. Dadang Kurnianudin, S.IP., M.Si., Dr. Drs. Komir Bastaman, S.H., M.H., dan Prof. Dr. H. Karim, M.Si.

Dalam sambutannya, Kang Rey menegaskan bahwa uji kompetensi ini bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari strategi besar untuk memperkuat ASN dan menciptakan birokrasi yang berintegritas.

“Ujikom bukan semata urusan administrasi, tapi ikhtiar bagaimana saya punya tujuan besar: memperkuat ASN dan menciptakan birokrasi yang profesional dan benar-benar memiliki integritas. Semua harus berorientasi pada kualitas pelayanan publik,” tegasnya.

Kang Rey juga menjelaskan bahwa sistem pengaduan masyarakat kini menjadi indikator utama dalam menilai kinerja organisasi perangkat daerah (OPD). Setiap malam, aduan masyarakat yang masuk melalui media sosial akan dibagikannya ke grup eselon II untuk segera ditindaklanjuti.

“Setiap malam saya selalu membagikan aduan masyarakat ke grup eselon II. Mereka saya wajibkan untuk menindaklanjuti. Ke depan, kerangka kerja saya tidak muluk-muluk, cukup berbasis aduan masyarakat,” jelasnya.

Evaluasi kinerja OPD akan dilakukan secara berkala dengan sistem pemeringkatan. OPD dengan kinerja responsif akan dikategorikan sebagai “Ngabret”, sedangkan yang belum menunjukkan kecepatan akan menjadi perhatian khusus.

“Setiap bulan, saya umumkan mana OPD yang Ngabret dan mana yang belum Ngabret, agar menjadi motivasi. Saya ingin semangat Ngabret di Subang bukan hanya slogan, tapi benar-benar dihayati oleh seluruh ASN,” tegas Kang Rey.

Dalam konteks pelayanan publik, ia menekankan pentingnya digitalisasi sebagai upaya percepatan dan efisiensi birokrasi. Ia mengkritik pola lama yang masih mengandalkan surat menyurat manual.

“Digitalisasi ini mempercepat informasi dan pelayanan. Kalau kita masih mengandalkan surat-menyurat saja, terlalu lambat dan akan tertinggal,” ujarnya.

Kang Rey juga menjelaskan bahwa hasil ujikom akan menjadi dasar penting dalam proses rotasi, mutasi, dan promosi jabatan. Evaluasi kinerja akan dilakukan setiap enam bulan sekali, berbasis pada efektivitas respon terhadap pengaduan publik.

“Hasil ujikom ini akan menjadi bahan pertimbangan utama dalam proses mutasi, rotasi, dan promosi jabatan. Oleh karena itu, saya harap semua peserta mengikuti dengan kesungguhan,” katanya.

Ia menambahkan bahwa rotasi bukanlah akhir dari evaluasi. “Setiap enam bulan akan saya evaluasi lagi. Jadi rotasi atau promosi itu bukan final. Penilaian tetap berlanjut,” lanjutnya.

Menutup arahannya, Kang Rey menegaskan komitmen terhadap prinsip “zero rupiah” sebagai pondasi reformasi birokrasi yang bersih dan bebas suap.

“Zero rupiah! Saya tegaskan: jangan coba-coba mendekati saya dengan materi. Tunjukkan saja loyalitas, kapabilitas, dan kompetensi yang dimiliki,” katanya.

Ia menutup sambutan dengan menekankan pentingnya keterbukaan informasi dan integritas dalam kepemimpinan. Menurutnya, masyarakat berhak tahu bahwa pemerintahan saat ini serius membangun tanpa kompromi.

“Hari ini semua terbuka. Kita harus sama-sama menjaga integritas. Makanya saya buka semua informasi, agar masyarakat tahu bahwa saya dan Pak Wabup tidak main-main dan tidak mencari celah,” pungkasnya.

Bupati Subang Sidak Galian Ilegal: “Stop Main Serobot Tanah Orang!”

galian ilegal Subang

Subang – Pagi yang biasanya tenang di Kampung Cicondong, Desa Sukamulya, tiba-tiba diguncang, bukan oleh gempa, tapi oleh langkah tegas Bupati Subang Reynaldy Putra Andita Budi Raemi. Selasa (5/8/2025), Kang Rey—begitu beliau akrab disapa—mendadak nongol di lokasi galian tanah merah ilegal yang bikin warga mendidih amarahnya.

Sidak ini bukan sekadar jalan-jalan cari angin. Bupati datang bersama Kasatpol PP Kabupaten Subang dan Plt. Camat Pagaden. Begitu tiba, mereka langsung mendapati aktivitas penggalian skala besar yang dilakukan tanpa izin. Ilegal, liar, dan bikin geleng-geleng kepala!

“Material alam Subang tidak boleh dibawa keluar sembarangan. Yang terdampak justru masyarakat dan lingkungan kita sendiri. Seharusnya warga Subang yang mendapat manfaat, bukan malah dirugikan,” tegas Kang Rey, dengan nada yang bukan main-main.

Warga sekitar mengeluh, bukan hanya karena truk-truk pengangkut yang beroperasi seenaknya hingga malam, tapi juga karena lokasi galian yang nyaris bersentuhan langsung dengan pemukiman. Jalan desa pun berubah jadi arena off-road. Kalau hujan turun? Lubang bekas galian menjelma jadi kolam horor berisi bahaya.

Yang bikin tambah geram, muncul laporan soal intimidasi terhadap warga yang coba bersuara. “Saya minta aktivitas ini dihentikan sekarang juga. Kita tidak akan menoleransi praktik seperti ini,” ujar Kang Rey, sambil menegaskan bahwa siapapun yang bersikap bak preman akan berhadapan langsung dengan tindakan tegas.

Bupati mengingatkan, negara (dan pemerintah daerah) tak boleh kalah oleh oknum yang semena-mena. Pemerintah hadir untuk melindungi, bukan cuma mencatat dan mendengar. Kang Rey pun mengajak warga agar berani buka suara bila melihat hal serupa.

“Jangan takut melapor. Kalau ada yang mengintimidasi, laporkan langsung,” katanya mantap.

Sikap tegas ini menandai komitmen Pemerintah Kabupaten Subang dalam menertibkan wilayah dari aktivitas serampangan, menjaga alam tetap lestari, serta memastikan keadilan berpihak pada rakyat kecil—bukan pada alat berat.

Ledakan Subuh di Pertamina Subang: Api Padam, Dua Pekerja Terluka

ledakan Pertamina Subang

Subang – Warga Subang dikejutkan oleh kobaran api yang menyala di waktu subuh—bukan karena masakan gosong, tapi karena insiden serius di kawasan PT Pertamina EP Regional 2 Zona 7 Field Subang, Kecamatan Pagaden. Api yang sempat “unjuk gigi” akhirnya padam sebelum matahari naik tinggi.

“Kondisi terkini dari pagi sudah padam, itu kebocoran pipa gas. Padam antara jam 6 hingga setengah 7,” jelas Kapolres Subang, AKBP Dony Eko Wicaksono, dengan nada tenang namun tegas, seperti dikutip dari detikJabar, Selasa (5/2/2025).

Untungnya, ledakan ini terjadi di dalam kawasan perusahaan, bukan di tengah permukiman. Jadi warga bisa lanjut rebahan tanpa perlu lari panik. Namun, dua karyawan bernasib kurang beruntung: Asep Andan mengalami luka bakar 80%, sementara Andi Irawan terkena 9%. Keduanya sedang melakukan pengecekan saat ledakan terjadi.

“Korban itu lagi cek kebocoran, kejadian di kawasan, bukan di permukiman,” tegas Dony. Yah, memang kerja di tempat vital kadang menantang jiwa raga.

Setelah api jinak, pasukan Pertamina tak tinggal diam. Sterilisasi langsung digencarkan, dan kawasan luar dijaga ketat oleh petugas TNI dan Polri. “Petugas juga jaga di ring 4 di luar… petugas lain menjaga di ring 3, menghalangi bila ada yang mau masuk ke TKP,” tambah Dony, seperti menggambarkan sistem keamanan ala film blockbuster.

Pinto Budi Bowo Laksono, sang Manager Communication Relations & CID Pertamina EP, buka suara. Menurutnya, kejadian berlangsung pada pukul 04.30 WIB di Stasiun Pengumpul Subang, Desa Cidahu. Jadi bukan karena petasan tetangga atau mie instan gosong, ya.

“Pada pukul 06.41 WIB, api berhasil dipadamkan,” ungkap Pinto, yang tampak bangga dengan aksi sigap timnya. Tim Penanggulangan Keadaan Darurat langsung tancap gas—eh maksudnya, sigap—melakukan pemadaman dan mitigasi sesuai standar HSSE yang ketat.

Soal korban, Pinto memastikan: “Kedua korban mendapatkan penanganan pertama di RS Hamori Subang. Selanjutnya korban dirujuk ke rumah sakit di Jakarta untuk penanganan dan perawatan lebih lanjut.”

Saat ini, lokasi dikabarkan aman dan terkendali. Pertamina EP juga telah membentuk tim investigasi untuk mengungkap penyebab di balik ledakan yang bikin jantung deg-degan di awal pekan ini.

Jadi, untuk warga sekitar: tenang saja, ini bukan ulah alien atau makhluk astral. Semua terkendali. Tapi kalau mencium bau gas, tetap jangan iseng nyalain korek api, ya!

Apel Jam Pimpinan, Kapolres Subang Tekankan Disiplin, Ketahanan Pangan, dan Respons Cepat Insiden

apel jam pimpinan Polres Subang

Subang – Kapolres Subang, AKBP Dony Eko Wicaksono, S.H., S.I.K., M.H., Ph.D., memimpin Apel Jam Pimpinan di Lapangan Mako Polres Subang pada Senin (4/8/2025). Apel ini diikuti oleh 160 personel dan dimanfaatkan sebagai momen penguatan disiplin, arahan strategis, dan evaluasi kinerja.

Dalam arahannya, AKBP Dony menekankan pentingnya kedisiplinan, terutama dalam pelaporan kondisi anggota yang berhalangan tugas. Menurutnya, informasi kesehatan personel harus disampaikan secara tepat dan bertanggung jawab.

Ia juga menyoroti progres pembangunan Sentra Pengolahan Pangan Gizi (SPPG) yang telah mencapai 50 persen. Proyek ini, katanya, merupakan bentuk dukungan Polri terhadap program Presiden dalam pemenuhan gizi masyarakat.

“Ini bagian dari upaya mendukung program Presiden dalam penyediaan makanan bergizi bagi masyarakat,” jelasnya.

Kapolres meminta para kapolsek untuk aktif menggerakkan potensi wilayah, khususnya dalam pemanfaatan lahan tidur untuk mendukung ketahanan pangan melalui penanaman jagung. Ia juga mendorong Polri untuk terlibat dalam pengawasan dan pendampingan pembangunan Koperasi Merah Putih yang menjadi penguat ekonomi masyarakat.

Menutup arahannya, AKBP Dony memberi penekanan khusus pada urgensi pelaporan cepat atas setiap kejadian menonjol di lapangan.

“Tidak boleh ada keterlambatan, terutama oleh bhabinkamtibmas. Semua perkembangan harus segera dilaporkan agar dapat direspons cepat dan tepat,” tegasnya.

Apel berlangsung lancar dan penuh khidmat. Arahan dari Kapolres diharapkan menjadi pedoman kerja bagi seluruh personel dalam mewujudkan pelayanan publik yang profesional, sigap, dan responsif di Kabupaten Subang.

Bupati Subang Buka Tes Wawancara JPT Pratama: Dorong ASN Profesional, Responsif, dan Bebas Praktik Kotor

uji kompetensi JPT Pratama Subang

Subang – Bupati Subang Reynaldy Putra Andita Budi Raemi, S.IP., resmi membuka pelaksanaan Tes Wawancara Uji Kompetensi Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama di lingkungan Pemerintah Kabupaten Subang, Senin (4/8/2025). Kegiatan berlangsung di Laska Hotel, Ciater, dan turut dihadiri oleh Wakil Bupati H. Agus Masykur Rosyadi, S.Si., M.M., jajaran Panitia Seleksi (Pansel), serta para peserta ujian.

Uji kompetensi ini merupakan langkah strategis dalam penataan birokrasi yang profesional, adaptif, dan akuntabel. Sekretaris Daerah Subang, H. Asep Nuroni, S.Sos., M.Si., bertindak sebagai Ketua Pansel, bersama tokoh-tokoh profesional dan akademisi seperti Dr. Ir. Ferry Sofwan Arif, M.Si., H. Dadang Kurnianudin, S.IP., M.Si., Dr. Drs. Komir Bastaman, SH., MH., dan Prof. Dr. H. Karim, M.Si.

Dalam sambutannya, Kang Rey menegaskan bahwa uji kompetensi bukan sekadar rutinitas administratif. Ia menyebutnya sebagai bagian penting dari reformasi birokrasi demi meningkatkan mutu pelayanan publik.

“Ujikom ini adalah bagian dari ikhtiar besar saya untuk memperkuat ASN, menciptakan birokrasi yang profesional dan berintegritas. Semua ini harus bermuara pada peningkatan kualitas pelayanan publik,” ujarnya.

Ia juga memperkenalkan sistem baru penilaian kinerja OPD yang berbasis pada aduan masyarakat melalui media sosial. Aduan-aduan tersebut langsung ia bagikan setiap malam ke grup Eselon II untuk ditindaklanjuti.

“Sistem kerja saya sederhana: cukup berbasis aduan masyarakat, dan itu yang akan saya evaluasi setiap bulan,” paparnya.

Sebagai bentuk transparansi, Kang Rey menyiapkan sistem pemeringkatan kinerja OPD berdasarkan kecepatan dan ketepatan merespons aduan. Ia ingin menjadikan budaya kerja “Ngabret” bukan sekadar slogan.

“Saya akan umumkan setiap bulan mana OPD yang Ngabret dan mana yang belum. Semangat Ngabret harus menjadi budaya kerja, bukan sekadar jargon,” tegasnya.

Transformasi digital juga menjadi sorotan utama. Menurutnya, birokrasi tidak boleh terus bergantung pada sistem manual jika ingin melayani masyarakat secara cepat dan tepat.

“Kalau masih andalkan surat menyurat manual, kita akan terus tertinggal. Digitalisasi adalah kunci percepatan pelayanan,” katanya.

Ia pun berpesan kepada peserta untuk mengikuti ujikom dengan sungguh-sungguh karena hasilnya akan menjadi dasar dalam promosi, mutasi, dan rotasi jabatan. Evaluasi juga akan dilakukan secara berkala setiap enam bulan.

“Siapa pun yang mendapat promosi, jangan pernah merasa final,” tambahnya.

Di akhir sambutannya, Kang Rey menekankan komitmen tegas terhadap prinsip “zero rupiah” dalam proses birokrasi. Ia mengingatkan seluruh jajaran untuk menjunjung tinggi loyalitas, kapabilitas, dan integritas.

“Saya tidak main-main. Jangan coba-coba mendekati saya dengan pendekatan materi. Yang saya butuhkan adalah loyalitas, kapabilitas, dan integritas,” ucapnya lantang.

Ia menutup pidato dengan penegasan bahwa masa kepemimpinannya adalah era keterbukaan dan pemerintahan bersih. Tidak boleh ada ruang gelap dalam birokrasi Kabupaten Subang.

“Masyarakat harus tahu bahwa kami serius membangun Subang yang lebih baik,” pungkasnya.

Tes wawancara ini menjadi bagian penting dalam proses seleksi pejabat tinggi pratama, sekaligus tonggak pembaruan manajemen ASN yang profesional, akuntabel, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Bekali Talenta Baru, RSUD Subang Gelar Pembinaan Pegawai dengan Fokus Pelayanan Prima dan Keselamatan Pasien

pembinaan pegawai baru RSUD Subang

SUBANG — Tak hanya mengobati, tapi juga membentuk karakter pelayan publik! Inilah semangat yang diusung RSUD Subang saat menggelar kegiatan Pembinaan Pegawai Baru. Acara ini menjadi langkah awal strategis dalam membangun budaya kerja profesional, humanis, dan adaptif—khususnya bagi para tenaga kesehatan yang baru bergabung.

Program pembinaan ini dirancang bukan sekadar rutinitas seremonial, melainkan proses intensif dan komprehensif untuk membekali pegawai dengan kompetensi esensial sejak hari pertama.

Kami yakin bahwa pegawai baru yang dibekali dengan kompetensi sejak awal akan lebih siap untuk memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan layanan kesehatan yang optimal,” ujar dr. Ahmad Nasuhi, Direktur RSUD Subang.

Lima topik utama menjadi inti pembinaan ini—bukan hanya teori, tapi nilai dan keterampilan hidup dalam dunia medis:

🔹 Hospitality
Tak ada pelayanan yang baik tanpa hati yang ramah. Pegawai diajak menanamkan nilai keramahan, empati, dan ketulusan dalam melayani. Karena senyum tulus bisa lebih menenangkan daripada selembar hasil laboratorium.

🔹 Peningkatan Mutu & Keselamatan Pasien
Pasien tak hanya butuh obat, tapi juga jaminan keselamatan. Materi ini fokus pada standar layanan berkualitas dan minim risiko, sejalan dengan regulasi kesehatan terkini.

🔹 Pencegahan & Pengendalian Infeksi (PPI)
Steril itu bukan hanya soal kebersihan, tapi perisai tak terlihat yang menyelamatkan banyak nyawa. Edukasi ini vital agar rumah sakit tetap jadi tempat penyembuhan, bukan penularan.

🔹 Bantuan Hidup Dasar (BHD)
Saat nyawa ada di ujung napas, detik pertama sangat menentukan. Semua pegawai dibekali keterampilan BHD untuk menangani kegawatdaruratan dengan sigap dan tepat.

🔹 Alat Pemadam Api Ringan (APAR)
Karena bahaya bisa datang tanpa aba-aba, pengenalan APAR menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan siaga terhadap insiden kebakaran.

RSUD Subang menunjukkan bahwa membentuk tenaga medis unggul bukan hanya soal gelar, tapi juga karakter dan kesadaran tanggung jawab sosial. Melalui program ini, rumah sakit terus menegaskan komitmennya menghadirkan pelayanan hospital-based excellence: ramah, aman, cepat, dan berorientasi pada pasien.

Dengan modal ini, para pegawai baru bukan hanya siap bertugas, tapi juga siap menjadi wajah baru pelayanan kesehatan Subang yang humanis dan berkualitas.

Recent Posts