Beranda blog Halaman 49

Bupati Reynaldy Tegaskan Komitmen Wujudkan “Subang Leucir 2027” di Tengah Pemangkasan Dana

Subang Leucir 2027

Subang – Pemangkasan dana transfer dari pemerintah pusat tak menyurutkan langkah Bupati Subang Reynaldy Putra Andita untuk mewujudkan program ambisius “Subang Leucir 2027”. Meski kemampuan fiskal daerah tengah tertekan, ia menegaskan pembangunan infrastruktur, khususnya jalan, tetap berjalan sesuai target.

Insyaallah Subang Leucir 2027 tetap kita wujudkan. Walaupun ada pemangkasan dana dari pusat, kita berupaya sekeras mungkin agar jalan-jalan di Kabupaten Subang tetap bisa leucir di 2027,” ujar Kang Rey, sapaan akrabnya.

Pernyataan itu disampaikan saat peresmian ruas jalan Desa Blanakan–Langensari, Kecamatan Blanakan, pada Jumat (17/10/2025). Optimisme Kang Rey dibuktikan dengan alokasi anggaran Rp8,5 miliar untuk perbaikan jalan di Kecamatan Blanakan tahun ini.

Pembangunan yang saya lakukan menyeluruh. Ini buktinya, hari ini saya resmikan jalan sepanjang 200 meter. Di Blanakan saja saya anggarkan 8,5 miliar. Insyaallah kalau waktunya cukup, semua bisa selesai tahun ini,” tegasnya.

Untuk menjaga keseimbangan fiskal di tengah kebijakan pemotongan Transfer ke Daerah (TKD) lebih dari 50 persen pada 2026, Pemkab Subang menerapkan strategi efisiensi ketat. Langkah ini mencakup penghapusan total anggaran makan dan minum (mamin) serta pemangkasan biaya perjalanan dinas hingga 50 persen.

Saya harus memangkas banyak anggaran seperti makan-minum, SPPD, dan kegiatan seremonial. Bahkan mamin kita efisiensi 100 persen. Insyaallah, dana untuk jalan tidak akan banyak terganggu,” ungkap Reynaldy.

Selain itu, kegiatan yang dianggap tidak mendesak juga dihentikan untuk memastikan dana pembangunan infrastruktur tetap tersedia. Ia menegaskan, efisiensi bukan berarti menghentikan pembangunan, melainkan memfokuskan anggaran pada hal yang benar-benar berdampak bagi masyarakat.

Bupati Reynaldy juga mengungkapkan, Pemkab Subang tengah berupaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta melobi pemerintah pusat agar daerahnya mendapat perhatian dan keringanan dari dampak pemotongan dana.

Ia berharap, langkah efisiensi dan kolaborasi semua pihak dapat menjadi solusi agar visi Subang Leucir 2027 tetap terwujud. Program ini diharapkan menciptakan kabupaten yang lebih tertata, nyaman, dan maju bagi seluruh masyarakat.

Pemkab Subang Hapus Anggaran Makan-Minim Demi Efisiensi Keuangan

efisiensi anggaran Pemkab Subang

Pemerintah Kabupaten Subang di bawah kepemimpinan Bupati Reynaldy Putra Andita bersiap mengambil langkah ekstrem dalam pengelolaan keuangan daerah. Kebijakan ini diambil menyusul keputusan pemerintah pusat yang memangkas Transfer ke Daerah (TKD) lebih dari 50 persen pada tahun anggaran 2026, atau setara Rp361 miliar.

Untuk menjaga stabilitas fiskal, Bupati Reynaldy menempuh strategi efisiensi ketat, termasuk menghapus seluruh anggaran makan dan minum (mamin) di lingkungan Pemkab Subang. “Mulai tahun depan, mamin kita hilangkan benar-benar 100 persen. Urusan yang tidak penting juga kita hapus,” tegas Reynaldy.

Menurutnya, kebijakan ini merupakan langkah realistis agar kondisi keuangan daerah tetap sehat dan program prioritas, seperti perbaikan infrastruktur jalan serta peningkatan pelayanan publik, tidak terganggu.

Selain penghapusan mamin, Pemkab Subang juga memangkas biaya perjalanan dinas hingga 50 persen dan meniadakan kegiatan yang dinilai tidak mendesak. “Kita efisiensi, efisiensi, efisiensi. Semua kegiatan yang tidak berdampak langsung bagi masyarakat akan kita hentikan,” ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah daerah berupaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan mendorong optimalisasi kinerja Badan Pendapatan Daerah (Bapenda). Reynaldy juga telah melobi pemerintah pusat agar Subang mendapatkan perhatian khusus terkait dampak pemotongan dana tersebut. “Saya sudah melobi pemerintah pusat agar Subang mendapat perhatian khusus. Kita juga mendorong Bapenda untuk bekerja lebih optimal agar PAD bisa meningkat,” ungkapnya.

Langkah efisiensi ini diharapkan mampu menjaga ketahanan fiskal dan memastikan program pembangunan prioritas tetap berjalan, meski tekanan anggaran semakin berat di tahun 2026.

Subang Dorong Pemekaran Desa untuk Percepat Pelayanan Publik

pemekaran desa Subang

Pemerintah Kabupaten Subang, Jawa Barat, berencana mendorong pemekaran desa guna meningkatkan pelayanan publik dan mempercepat pembangunan wilayah. Langkah ini dianggap penting karena jumlah desa di Subang dinilai masih sedikit dibandingkan dengan kabupaten lain yang wilayahnya lebih kecil.

Wakil Bupati Subang, Agus Masykur Rosyadi, menjelaskan bahwa saat ini luas wilayah Kabupaten Subang mencapai 2.051,76 kilometer persegi dengan total 245 desa di 30 kecamatan. “Kami ingin ke depannya lebih banyak melakukan pemekaran desa,” ujarnya.

Agus mencontohkan, Kabupaten Majalengka yang memiliki luas sekitar 1.200 kilometer persegi justru memiliki 347 desa, jauh lebih banyak dibandingkan Subang. Kondisi ini menunjukkan bahwa Subang masih membutuhkan pemerataan jumlah desa agar pelayanan publik dapat menjangkau masyarakat secara optimal.

Pemekaran desa, lanjut Agus, dilakukan dengan cara memecah satu desa menjadi dua atau lebih. Tujuannya agar pelayanan, pemerintahan, dan pembangunan di tingkat lokal menjadi lebih efektif. Proses ini dimulai dari prakarsa masyarakat, kemudian melalui tahap usulan dan verifikasi, sebelum akhirnya disahkan menjadi peraturan daerah oleh bupati atau wali kota.

Dari sisi demografi, jumlah penduduk Subang pada pertengahan 2024 tercatat sekitar 1,6 juta jiwa, yang terdiri atas 817.798 laki-laki dan 818.435 perempuan. Dengan jumlah penduduk yang besar dan wilayah yang luas, pemekaran desa diharapkan mampu menjadi solusi strategis untuk mempercepat kemajuan daerah.

Paguyuban Dapur MBG Subang Perkuat Pembinaan Demi Cegah Keracunan Pangan

pembinaan dapur MBG Subang

Subang — Paguyuban Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Subang menegaskan komitmen menjaga kualitas serta keamanan pangan di seluruh dapur pelaksana program. Ketua Paguyuban, H. Aceng Kudus, menyampaikan bahwa pihaknya terus melakukan pembinaan berkelanjutan terhadap para pengelola dapur agar standar kebersihan dan tata olah pangan selalu terjaga.

“Terkait dengan masalah keracunan, insya Allah di Kabupaten Subang kita akan ada pembinaan-pembinaan. Sekarang juga kita sudah bekerja sama dengan Dinas Kesehatan, terutama dalam hal penjamah makanan,” ujar Aceng seperti dikutip tintahijau.com, belum lama ini.

Aceng menjelaskan bahwa setiap Satuan Pendidikan Pelaksana Gizi (SPPG) kini diwajibkan memiliki juru masak khusus yang memahami standar kebersihan dan tata olah makanan. Selain itu, pengaturan waktu dan jarak antara proses memasak dan pengiriman juga diterapkan secara ketat agar makanan tetap aman dan layak konsumsi saat tiba di sekolah.

“Kalau semua sudah ditentukan dengan SOP yang bagus, insya Allah tidak mungkin terjadi keracunan,” tegasnya.

Meski demikian, Aceng mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru mengaitkan setiap kasus anak sakit atau muntah dengan dugaan keracunan makanan dari program MBG.

“Kalau ada anak muntah, jangan langsung berpikir itu karena keracunan. Bisa saja karena daya tahan tubuhnya sedang menurun atau faktor lain. Jadi kita harus bijak melihat penyebabnya,” jelasnya.

Paguyuban Dapur MBG Subang sendiri dibentuk sebagai wadah komunikasi dan koordinasi antar mitra dapur pelaksana MBG. Ke depan, paguyuban ini akan rutin menggelar pelatihan dan pembinaan guna memastikan kualitas serta keamanan pangan bagi anak-anak penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, dr. Maxi, juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam penyajian makanan bergizi agar tidak menimbulkan kasus keracunan seperti di beberapa daerah lain di Indonesia.

Menurutnya, ada tiga hal utama yang harus diperhatikan oleh penyedia MBG. Pertama, pengawasan bahan baku. SPPG wajib memastikan kualitas bahan dan menolak jika tidak layak. Kedua, proses produksi harus higienis serta menggunakan air bersih. Bahan tambahan seperti penyedap, pengawet, atau pewarna pun harus digunakan secara bijak. Ketiga, makanan sebaiknya dikonsumsi maksimal empat jam setelah matang untuk menjaga kualitas dan keamanan.

“Kalau tiga hal ini dijaga, mulai dari bahan baku, proses produksi, sampai waktu konsumsi, Insyaallah kasus keracunan bisa dicegah di Subang,” pungkas dr. Maxi.

Curug Cina, Permata Tersembunyi di Sagalaherang yang Menyejukkan Jiwa

Curug Cina Subang

Kabupaten Subang, Jawa Barat, tak hanya terkenal dengan kebun tehnya yang hijau membentang, tetapi juga menyimpan keindahan alam yang masih jarang dijamah wisatawan. Salah satunya adalah Curug Cina, air terjun menawan yang tersembunyi di Desa Curug Agung, Kecamatan Sagalaherang.

Meski belum sepopuler curug-curug lain di Subang, keindahan Curug Cina mampu memikat siapa pun yang datang. Air terjun setinggi sekitar 20 meter ini termasuk tipe bertingkat, dengan aliran air yang mengalir lembut melalui celah tebing batu berwarna hitam pekat, menambah kesan eksotis dan alami.

Suasana di sekitar curug begitu asri dan menenangkan. Hijaunya pepohonan dan semak liar yang tumbuh subur menciptakan nuansa sejuk khas pegunungan Subang. Tak heran, tempat ini menjadi pelarian ideal bagi siapa pun yang ingin sejenak melepaskan diri dari hiruk-pikuk keseharian.

Debit air Curug Cina terbilang deras, terutama di musim penghujan. Di bawah air terjun, terdapat kolam alami dengan air jernih yang sering menjadi spot favorit pengunjung untuk berendam atau sekadar bermain air. Namun, wisatawan tetap disarankan berhati-hati karena bebatuan di sekitar curug cukup licin.

Akses menuju Curug Cina sangat mudah dijangkau, bahkan oleh kendaraan roda empat. Tiket masuknya pun ramah di kantong — hanya Rp10.000 per orang. Fasilitas yang tersedia cukup lengkap, mulai dari area parkir, toilet, hingga warung makan yang siap menyajikan hidangan hangat setelah puas bermain air.

Bagi pencinta wisata alam, Curug Cina adalah destinasi sempurna untuk menyegarkan tubuh dan pikiran. Duduk di tepi kolam sambil mendengarkan gemericik air dan hembusan angin pegunungan, pengunjung akan merasakan kedamaian yang sulit ditemukan di tempat lain.

Tiga Hari Usai Dilantik, dr. Dwinan Marchiawati Tinjau Puskesmas Rawalele

Kepala Dinas Kesehatan Subang

Subang — Baru tiga hari menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, dr. Dwinan Marchiawati, MARS, langsung turun ke lapangan. Pada Sabtu (18/10/2025), ia melakukan kunjungan kerja ke UPTD Puskesmas Rawalele di Kecamatan Dawuan, Subang.

Dalam kunjungan perdananya ini, dr. Dwinan menyatakan dukungannya terhadap program Gubernur Jawa Barat, H. Dedi Mulyadi, yang juga merupakan putra daerah Lembur Pakuan, serta program Bupati Subang, Reynaldi Putra, menuju Subang Ngabret.

Kunjungan tersebut juga menjadi ajang bagi dr. Dwinan untuk meninjau langsung kondisi Puskesmas Rawalele yang berlokasi di wilayah kediaman Gubernur Jawa Barat. Ia ingin memastikan pelayanan kesehatan di daerah tersebut berjalan optimal dan sesuai standar.

“Saya hanya bersilaturahmi dengan para petugas di Puskesmas Rawalele, dan kebetulan Puskesmas ini kan ada di lingkungan Lembur Pakuan wilayah kediaman Gubernur Jawa Barat. Maka dari itu kami pastikan pelayanan dan situasi di Puskesmas Rawalele ini baik,” jelas dr. Dwinan.

Dokter berusia 58 tahun ini dikenal sebagai sosok aktif dan memiliki kemampuan manajerial yang kuat. Kariernya di dunia kesehatan dimulai sejak tahun 2002 sebagai aparatur sipil negara di RSUD Subang, di mana ia pernah menjabat Kepala IGD dan kemudian naik menjadi Wakil Direktur Pelayanan pada tahun 2010.

“Alhamdulillah, saya diberikan kepercayaan oleh pimpinan kala itu,” ujar dr. Dwinan saat ditemui bewara.co.id, Sabtu (18/10/2025).

Sebelum menjabat Kepala Dinas Kesehatan, dr. Dwinan juga sempat memimpin Dinas Kominfo Kabupaten Subang selama lebih dari tiga tahun. Ia resmi dilantik sebagai Kadinkes pada Kamis (16/10/2025), menggantikan dr. Maxi yang kini menjabat sebagai Staf Ahli Bidang Pemberdayaan Masyarakat.

Lulusan Universitas Padjadjaran Bandung ini juga dikenal gemar berwisata dan memiliki gaya kepemimpinan yang tegas namun humanis. Dalam kunjungannya ke Puskesmas Rawalele, ia menegaskan pentingnya sikap ramah dalam pelayanan kesehatan.

“Intinya dalam melayani pasien harus dengan senyum. Walau kita sebagai pelayan masyarakat merasa jengkel, jangan sampai memberikan pelayanan yang tidak baik. Berilah pasien kenyamanan saat berobat ke Puskesmas,” tegasnya.

Selain melakukan peninjauan, dr. Dwinan juga berkomunikasi langsung dengan seluruh pegawai Puskesmas Rawalele, sembari mengingatkan mereka untuk selalu memberikan pelayanan terbaik dengan senyum dan ketulusan hati.

Jalan Blanakan–Langensari Akhirnya Mulus Setelah Hampir Satu Dekade Rusak

Subang Leucir 2027

Subang — Setelah hampir sepuluh tahun rusak, ruas jalan Desa Blanakan–Langensari sepanjang 200 meter di Dusun Karangjaya, Kecamatan Blanakan, kini resmi rampung diperbaiki. Peningkatan infrastruktur tersebut terealisasi di masa kepemimpinan Bupati Subang Reynaldi bersama Wakil Bupati Agus Masykur Rosyadi.

Dalam kunjungan peresmiannya pada Jumat (17/10/2025), Bupati Reynaldi menegaskan bahwa pembangunan jalan menjadi prioritas utama menuju visi Subang Leucir. Ia menargetkan seluruh jalan di Kecamatan Blanakan dapat mulus pada akhir tahun ini.

“Ini baru sebagian dari perbaikan yang kami lakukan, bulan ini giliran Langensari, dan mudah-mudahan akhir tahun semua ruas sudah leucir,” ujar Kang Rey di sela peresmian jalan.

Pemerintah Kabupaten Subang, kata Reynaldi, telah menyiapkan anggaran sebesar Rp8,5 miliar untuk memperbaiki jalan di wilayah Blanakan. Ia menepis anggapan bahwa pembangunan selama ini tidak merata, dengan menegaskan bahwa kunjungannya menjadi bukti nyata pemerataan pembangunan hingga ke wilayah pesisir.

“Pembangunan di Subang harus menyeluruh. Ini buktinya, hari ini saya resmikan jalan 200 meter di Blanakan dengan anggaran Rp8,5 miliar untuk wilayah ini,” tegasnya.

Kang Rey juga menegaskan bahwa tidak ada wilayah yang dianaktirikan, termasuk kawasan Pantura. Ia berkomitmen memperjuangkan pemerataan infrastruktur dan pelayanan publik di seluruh kecamatan.

“Jangan ada lagi yang berpikir Subang Pantura dilupakan, karena masyarakat Pantura adalah bagian dari Subang yang akan terus saya perjuangkan,” ujarnya.

Meski menghadapi tantangan berupa berkurangnya dana transfer dari pemerintah pusat, Reynaldi memastikan program pembangunan tetap berjalan. Ia menerapkan kebijakan efisiensi dengan memangkas kegiatan nonprioritas seperti perjalanan dinas dan konsumsi agar pembangunan infrastruktur tidak terganggu.

“In Syaa Allah, Subang Leucir 2027 tetap berjalan walau ada pemangkasan dana. Saya potong anggaran makan minum dan kegiatan seremonial agar dana jalan tidak terganggu,” pungkasnya.

Longsor Tutup Jalur Bandung–Sumedang–Subang, Akses Lalu Lintas Lumpuh Sembilan Jam

longsor Rancakalong

Sumedang — Jalur alternatif Bandung–Sumedang–Subang di kawasan Desa Sukasirnarasa, Kecamatan Rancakalong, tertutup material longsor berupa bebatuan besar pada Jumat (17/10/2025) malam sekitar pukul 23.00 WIB. Akibatnya, arus lalu lintas di jalur tersebut lumpuh total selama berjam-jam.

Longsor terjadi setelah tembok penahan tanah (TPT) setinggi enam meter dan panjang sekitar 30 meter ambruk hingga menutupi seluruh badan jalan. Peristiwa ini diduga dipicu oleh intensitas hujan tinggi serta konstruksi TPT yang tidak sesuai standar teknis.

Hingga Sabtu (18/10/2025) pagi, petugas gabungan dari BPBD Sumedang, TNI–Polri, dan Dinas PUPR masih berjibaku mengevakuasi material longsor. Alat berat dikerahkan untuk memindahkan bebatuan besar yang tidak bisa diangkat secara manual.

“Kami sudah memeriksa lokasi hingga lima kali dan memastikan tidak ada korban. Akses jalan langsung kami tutup untuk pembersihan malam hari, namun karena berisiko, pekerjaan dilanjutkan pagi ini,” ujar Danramil Rancakalong, Kapten Inf Rudhi Prasetijo.

Selama proses pembersihan, kendaraan roda empat tidak dapat melintas, sementara sepeda motor dialihkan melalui jalur alternatif desa.

“Sekarang tinggal sedikit lagi, kami dibantu petugas damkar membersihkan sisa lumpur di jalan. Setelah ini dua jalur bisa dibuka untuk semua kendaraan,” tambahnya.

Setelah tertutup lebih dari sembilan jam, jalur Bandung–Sumedang–Subang akhirnya kembali bisa dilalui usai petugas berhasil menyingkirkan seluruh material longsor dan membersihkan sisa lumpur dari badan jalan.

PWNU Jawa Barat Kecam Keras Tayangan Trans7 yang Dinilai Lecehkan Ulama dan Pesantren

PWNU Jabar kecam Trans7

Suarasubang.com — Tayangan program Xpose Uncensored di Trans7 yang dianggap menyinggung kehormatan ulama dan tradisi pesantren memicu kemarahan luas. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat menilai tayangan tersebut melampaui batas kepatutan dan mencederai perasaan umat Islam.

Ketua PWNU Jawa Barat, KH. Juhadi Muhammad, menegaskan bahwa tayangan itu telah menyakiti kalangan pesantren dan Nahdliyin di seluruh Indonesia. “PWNU Jawa Barat dengan tegas menilai bahwa tayangan tersebut telah melampaui batas kepatutan dan mencederai perasaan umat, khususnya kalangan pesantren dan Nahdliyin di seluruh Indonesia,” ujarnya, Selasa (14/10/2025).

Menurut KH. Juhadi, kasus ini bukan sekadar kekeliruan teknis, melainkan bentuk pelecehan terhadap simbol-simbol suci umat Islam. “Kiai bukan bahan olok-olokan, dan pesantren bukan panggung satir. Mereka adalah penjaga moral bangsa, benteng ilmu, dan cahaya peradaban,” tegasnya.

Ia menyoroti narasi dalam tayangan yang menggambarkan kiai hidup bermewah-mewahan sementara santri digambarkan “ngesot” dan “memberi amplop”. Narasi seperti itu, kata KH. Juhadi, bersifat menyesatkan, tendensius, dan berpotensi merusak citra pesantren di mata publik.

PWNU Jawa Barat menuntut Trans7 untuk segera menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui media yang sama serta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tim redaksi maupun pihak yang bertanggung jawab atas tayangan tersebut. “Jangan berlindung di balik hiburan jika yang ditampilkan justru melukai hati umat. Kami mendukung kebebasan pers, tetapi pers harus beretika, beradab, dan berpihak pada kebenaran,” pungkas KH. Juhadi, mengingatkan media agar menghormati lembaga keagamaan.

Kontroversi ini bermula dari potongan video yang mencatut nama KH. Anwar Manshur Lirboyo dengan narasi yang menyinggung martabat ulama sepuh tersebut. Dalam hitungan jam, video itu viral di media sosial. Tagar #BoikotTrans7 pun langsung menjadi trending di X (Twitter), Instagram, dan TikTok.

Menanggapi gelombang protes tersebut, Trans7 akhirnya mengeluarkan surat permohonan maaf tertulis kepada Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, yang ditujukan kepada KH. Adibussholeh pada 13 Oktober 2025. Dalam surat itu, Trans7 melalui Direktur Produksi dan Kepala Departemen Programming mengakui adanya “keteledoran dan kurang ketelitian” dalam proses produksi.

Pihak Trans7 juga berkomitmen menayangkan konten yang lebih positif dan edukatif tentang dunia pesantren di masa mendatang. Meski permintaan maaf telah diterima, sejumlah tokoh pesantren menilai perlu dilakukan evaluasi total terhadap tim produksi Xpose.

Ketua LBH Ansor Kediri, Bagus Wibowo, menegaskan pentingnya evaluasi internal agar kejadian serupa tidak terulang. Selain itu, komunitas santri juga mendorong Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk memperketat pengawasan terhadap tayangan bertema keagamaan di televisi nasional.

3 Jalur Alternatif Sumedang–Subang: Lebih Cepat, Lancar, dan Penuh Pemandangan Indah

jalur alternatif Sumedang Subang

Suarasubang.com — Tiga jalur alternatif penghubung Sumedang–Subang kini menjadi sorotan para pengendara, terutama mereka yang rutin melintasi jalur lintas kabupaten di wilayah Priangan Timur, Jawa Barat. Dua daerah ini memiliki peran penting sebagai penghubung antara Bandung Raya dan kawasan Pantura. Namun, kemacetan di titik padat seperti Cadas Pangeran dan Jalan Raya Tanjungsiang kerap membuat perjalanan terasa melelahkan.

Untuk kamu yang sering bepergian antarwilayah, baik untuk bekerja, berwisata, maupun distribusi logistik, mengenal tiga jalur alternatif ini bisa menjadi solusi cerdas agar perjalanan lebih cepat, hemat bahan bakar, dan tetap nyaman. Selain lancar, ketiganya juga menawarkan panorama alam pegunungan dan pedesaan khas Jawa Barat yang memesona.


1. Jalur Tanjungmedar – Cibogo – Subang Kota

Rute ini menjadi favorit bagi pengendara yang ingin menghindari padatnya lalu lintas di Cadas Pangeran dan Jalan Raya Tomo. Dari pusat Kota Sumedang, arahkan kendaraan menuju Kecamatan Tanjungmedar, lalu lanjut ke Cibogo hingga tiba di Subang Kota.

Meski memiliki tanjakan dan turunan tajam, kondisi aspalnya sudah baik dan diperbaiki di beberapa titik sejak awal 2024. Lalu lintasnya relatif lengang, cocok untuk kendaraan pribadi dan roda dua. Jalur ini juga dikenal dengan pemandangan alamnya yang memukau — hamparan sawah, kebun teh, dan bukit hijau siap menyapa sepanjang perjalanan.

Waktu tempuh rata-rata sekitar 1,5 hingga 2 jam, tergantung kondisi jalan. Walau sedikit lebih jauh dari jalur utama, perjalanan terasa lebih tenang dan menyenangkan tanpa macet panjang.

2. Jalur Conggeang – Darmaraja – Kasomalang

Rute ini ideal bagi pengendara dari arah selatan Sumedang yang ingin menuju Subang bagian tengah, seperti Jalancagak dan Kasomalang. Dari Kota Sumedang, ambil arah Conggeang, lanjut ke Darmaraja, lalu menuju Kasomalang hingga masuk ke wilayah Subang.

Dikenal sebagai “rute indah,” jalur ini melewati Waduk Jatigede dan kawasan perbukitan dengan panorama danau yang luas dan asri. Kondisi jalan tergolong baik, meski masih terdapat beberapa lubang kecil. Waktu tempuh rata-rata sekitar 2 jam 15 menit, bergantung pada cuaca — karena beberapa bagian rawan kabut di pagi dan sore hari.

Keunggulan rute ini bukan hanya efisiensi, tetapi juga pengalaman berkendara yang menenangkan. Banyak pengendara memilih jalur ini untuk menikmati udara segar dan suasana pedesaan yang alami.

3. Jalur Tol Cisumdawu – Exit Cimalaka – Subang Barat

Inilah pilihan tercepat dan paling modern. Sejak Tol Cisumdawu (Cileunyi–Sumedang–Dawuan) beroperasi penuh, perjalanan Sumedang–Subang bisa ditempuh lebih singkat dan nyaman. Dari Sumedang, masuk melalui Gerbang Tol Cimalaka, lalu arahkan ke Dawuan dan keluar di Exit Tol Subang Barat.

Rute ini langsung terhubung dengan kawasan industri Subang, Kalijati, dan jalur Pantura. Waktu tempuh hanya sekitar 1 jam — jauh lebih cepat dibandingkan jalur konvensional. Meski berbayar, efisiensi waktu dan kenyamanan sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

Tol Cisumdawu juga menyuguhkan pemandangan memukau. Jalan ini melintasi Terowongan Cileunyi–Sumedang, terowongan kembar terpanjang di Indonesia, dan melewati perbukitan hijau yang indah. Jika kamu menuju kawasan industri atau bisnis di Subang, jalur ini sangat direkomendasikan karena terkoneksi langsung dengan Tol Cipali (Cikopo–Palimanan).

Dengan kombinasi dua tol ini, perjalanan Bandung–Sumedang–Subang kini bisa ditempuh kurang dari dua jam.

Recent Posts