Beranda blog Halaman 23

Dishub Subang Gerak Cepat Perbaiki Lampu Jalan Padam di KH Agus Salim–Cigadung

perbaikan lampu jalan Subang

SUBANG — Malam kembali terang di ruas Jalan KH Agus Salim–Cigadung, setelah Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Subang turun tangan memperbaiki lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) yang sempat padam.

Semua bermula dari laporan warga yang disampaikan lewat kanal media sosial Bupati Subang dengan tagar #LaporKangRey.
Tak butuh waktu lama, laporan itu langsung ditindaklanjuti. Tim teknis Dishub Subang pun bergerak cepat ke lokasi untuk melakukan pengecekan dan memperbaiki jaringan PJU yang bermasalah.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Subang, Indri Tandia, menegaskan bahwa Dishub berkomitmen menjaga kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan.
“Perbaikan dan pemeliharaan PJU di Jalan KH Agus Salim telah selesai dilakukan. Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan keselamatan dan kenyamanan masyarakat di malam hari,” ujarnya.

Kini, jalan yang sebelumnya gelap gulita kembali bersinar terang, memberi rasa aman bagi pengendara maupun pejalan kaki.
Langkah cepat Dishub Subang ini menjadi bukti nyata bahwa laporan warga tidak hanya dibaca, tetapi benar-benar ditindak.

Respons tangkas ini juga diharapkan semakin memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan publik, khususnya dalam pemanfaatan kanal digital aduan Pemkab Subang.
Dari tagar hingga tindakan — pelayanan publik pun kini makin terang benderang, sama seperti lampu jalannya.

Semangat “Subang Ngabret” Membara di Jambore Pemuda 2025

Jambore Pemuda Subang 2025

Subang — Udara sejuk di Camping Area Cadika Subang mendadak terasa penuh semangat dan tawa muda.
Sebanyak 100 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan organisasi kepemudaan dari 30 kecamatan se-Kabupaten Subang berkumpul dalam Jambore Pemuda Tahun 2025, yang digelar pada 27–28 Oktober 2025.

Mengusung tema “Pemuda Bergerak, Subang Ngabret,” kegiatan ini menjadi ajang pembuktian bahwa semangat anak muda Subang bukan hanya berapi-api, tapi juga siap bergerak nyata.

Kepala Dinas Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Subang, Nenden Setiawati, berharap jambore ini menjadi momentum kebangkitan bagi pemuda Subang.
“Jambore ini menjadi sarana memperkuat kebersamaan, jiwa kepemimpinan, nilai sportivitas, dan cinta tanah air. Diharapkan pula menjadi momen kebangkitan pemuda Kabupaten Subang untuk bergerak maju,” ujar Nenden, Senin (27/10/2025).

Nenden menambahkan, selama dua hari kegiatan, para peserta akan mengikuti berbagai agenda pembinaan dan pengembangan diri.
Tujuannya jelas: agar pemuda Subang semakin tangguh, berkualitas, dan berperan aktif dalam pembangunan daerah.

“Melalui kegiatan ini, diharapkan terjalin tali persaudaraan dan kolaborasi di antara pemuda. Pemuda harus menjadi agen perubahan menuju Subang Ngabret,” tegasnya penuh semangat.

Sementara itu, Wakil Bupati Subang, Agus Masykur Rosyadi — atau akrab disapa Kang Akur — juga turut hadir memberi motivasi di hadapan para peserta.
“Saya bangga bisa berdiri di hadapan pemuda pilihan dari seluruh wilayah Kabupaten Subang. In syaa Allah mereka punya semangat perubahan dan mimpi besar untuk menjadi yang terbaik serta bermanfaat bagi masyarakat,” tutur Agus.

Namun Kang Akur mengingatkan, Jambore ini bukan sekadar acara perkemahan yang diisi api unggun dan nyanyian malam.
“Bukan sekadar kemah, tetapi bagaimana ada transfer pengetahuan, pengalaman, kepemimpinan, dan meningkatnya kolaborasi antar pemuda,” jelasnya.

Agus juga menegaskan pentingnya semangat Subang Ngabret dalam menghadapi transformasi daerah menuju kawasan industri.
“Pemuda di Kabupaten Subang harus semakin Ngabret. Sekitar 45 persen penduduk Subang adalah pemuda, dan ini menjadi modal besar dalam era industrialisasi dan digitalisasi,” katanya.

Pemerintah Daerah Kabupaten Subang, lanjutnya, berkomitmen menyelesaikan berbagai persoalan daerah dengan menggandeng kreativitas dan semangat generasi muda.
Pemuda, menurutnya, harus menjadi pembeda—bukan pengeluh, tapi penggerak perubahan.

“Indonesia Emas 2045 adalah milik para pemuda, dan dari Subang semangat itu harus terus menyala,” pungkas Kang Akur, disambut tepuk tangan para peserta yang malam itu benar-benar ngabret dalam semangat kebersamaan.

Isu Aqua di Subang Dinilai Alihkan Sorotan dari Kasus Dana Pemda

isu Aqua Subang dan dana Pemda

Subang — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tengah jadi perbincangan hangat.
Bukan hanya karena aksi inspeksi mendadaknya (sidak) ke pabrik Aqua di Subang yang viral, tapi karena langkah itu dinilai sebagian pihak sebagai upaya mengalihkan fokus publik dari isu lain yang lebih serius.

Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, menilai bahwa sorotan publik terhadap kasus dana pemerintah daerah yang mengendap di bank tampak meredup setelah video sidak Dedi Mulyadi menyebar di media sosial.
“Kasus dana mengendap di bank dan kas daerah terkesan tenggelam oleh isu Aqua di Subang,” kata Jamiluddin, dikutip dari RMOL, Jumat (24/10/2025).

Menurut Jamiluddin, isu yang diangkat terkait pabrik Aqua di Subang belum memiliki bukti kuat mengenai tudingan penggunaan sumber air dari sumur bor.
“Apakah kasus Aqua di Subang sengaja dilontarkan untuk menutupi isu menumpuknya dana milik Pemda di bank dan kas daerah?” ujarnya dengan nada mempertanyakan.

Ia menambahkan, munculnya isu Aqua seolah menjadi kabut yang menutupi pembahasan soal dana daerah mengendap—padahal keduanya sama pentingnya.
“Padahal persoalan dana daerah mengendap tak kalah pentingnya dengan kasus Aqua di Subang. Sebab, dana tersebut menyangkut pembangunan daerah,” pungkas Jamiluddin.

Publik pun kini dibuat bertanya-tanya: apakah ini sekadar kebetulan waktu, atau strategi komunikasi yang disengaja?
Yang jelas, dua isu besar sedang bersaing merebut panggung perhatian masyarakat Jawa Barat.

Judul:Jawa Barat Raih Predikat Belanja Terbaik, Setiap Rupiah Harus Berfaedah!

Pengelolaan Keuangan Jawa Barat

suarasubang.com — Kabar baik datang dari Tanah Pasundan.
Pemerintah Provinsi Jaw,,a Barat kembali unjuk gigi di panggung nasional setelah dinobatkan sebagai provinsi dengan belanja terbaik di Indonesia, versi Kementerian Dalam Negeri.

Tak hanya unggul dalam pendapatan, belanja daerah Jabar juga dinilai tinggi, produktif, dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Singkatnya, uang rakyat di Jawa Barat bukan sekadar “keluar,” tapi benar-benar “bekerja.”

Meski demikian, ada juga dana yang terlihat “nongkrong sementara” di kas daerah dalam bentuk giro.
Tapi tunggu dulu, itu bukan dana mengendap.
Menurut penjelasan pejabat Pemprov Jabar, uang tersebut merupakan mekanisme pembayaran proyek yang dilakukan bertahap, bukan sekaligus.

Bayangkan proyek pembangunan jalan senilai Rp1 triliun.
Pembayarannya dibagi tiga termin:
termin pertama 20–30 persen setelah pekerjaan awal rampung,
termin kedua dan ketiga menyusul sesuai progres di lapangan.

Strategi ini bukan tanpa alasan.
Tujuannya agar pekerjaan tetap terkendali, sesuai target fisik, dan terhindar dari potensi penyalahgunaan anggaran.
“Kalau uang diberikan langsung seluruhnya di awal, sementara pekerjaan belum berjalan, justru bisa menimbulkan masalah hukum bagi penyelenggara kegiatan,” jelasnya.

Selain giro, sebagian dana kas daerah juga disimpan dalam deposito on call, yakni deposito jangka pendek yang bisa dicairkan sewaktu-waktu.
Langkah ini membuat uang daerah tetap produktif karena bunganya menjadi pendapatan resmi daerah, bukan milik pribadi.

“Tidak ada uang daerah yang dinikmati secara pribadi. Semua pendapatan bunga disetorkan kembali ke kas daerah,” tegasnya lagi.

Menariknya, seluruh dana itu hanya ditempatkan di Bank Jabar Banten (BJB) sebagai bank kas daerah.
Dengan begitu, semua transaksi dilakukan transparan, terpantau, dan sesuai aturan.

Pemprov Jabar menegaskan, ukuran keberhasilan keuangan bukan seberapa cepat anggaran habis, tapi seberapa besar manfaatnya bagi rakyat.
“Kalau anggaran hanya dihabiskan untuk perjalanan dinas, seminar, atau belanja rutin tanpa memberi manfaat langsung bagi masyarakat, itu tidak efektif,” ujarnya lugas.

Maka dari itu, belanja daerah difokuskan untuk pembangunan infrastruktur dan layanan publik yang nyata terasa dampaknya.
Hingga saat ini, saldo kas daerah Jawa Barat tercatat sekitar Rp2,5 triliun.
Namun, angka ini akan terus menurun seiring pembayaran berbagai proyek hingga akhir tahun.

Targetnya jelas dan menantang:
pada 30 Desember nanti, saldo kas diupayakan turun di bawah Rp50 miliar, bahkan kalau bisa, nol rupiah.

“Semakin kecil saldo di akhir tahun berarti semakin optimal dana daerah dimanfaatkan untuk pembangunan masyarakat,” tutupnya dengan yakin.

Dengan pola belanja yang terukur, akuntabel, dan berpihak pada publik, Jawa Barat membuktikan satu hal penting — pengelolaan keuangan terbaik bukan yang tercepat menghabiskan anggaran, tapi yang paling banyak menebar manfaat.

Subang Siap Pesta Literasi! Festival Literasi Subang 2025 Segera Digelar

Festival Literasi Subang 2025

Subang — Siap-siap, Sobat Literasi! Kabupaten Subang akan berguncang dengan semangat membaca, menulis, dan berbagi inspirasi lewat Festival Literasi Subang 2025.

Acara akbar yang digagas Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kabupaten Subang ini mengusung tema: “Membangun Literasi Bersama Rakyat Demi Subang yang Unggul, Maju, dan Kompetitif.”

Festival ini terbuka untuk umum dan dijadwalkan berlangsung 11–13 November 2025 di Halaman Gedung Layanan Perpustakaan, Jalan Jenderal Achmad Yani, Kelurahan Pasirkareumbi, Kecamatan Subang.
Tiga hari yang dijamin penuh kejutan, edukasi, dan inspirasi!

Nama-nama besar akan hadir meramaikan panggung literasi.
Mulai dari Bupati Subang Reynaldy Putra Andita BR, S.IP, Bunda Literasi Subang Ny. Ega Anjani Reynaldy, S.IP, hingga Kepala Disarpus Subang Drs. Iwan Rudianto, M.Si.
Tak ketinggalan, bintang-bintang literasi nasional seperti Gol A Gong, Maman Suherman, Trias Tatanka, dan Ari Keling juga siap berbagi cerita dan motivasi.

Bukan sekadar festival, ini adalah pesta ide dan imajinasi!
Rangkaian acaranya pun variatif — mulai dari Pelantikan Bunda Literasi, Gelar Wicara dan Bedah Buku, Launching Buku dan SIPERKAPEN (Sistem Perpustakaan Kabupaten), hingga Lomba Mewarnai untuk anak-anak.
Masih kurang seru? Tenang, ada juga Pameran Buku Murah, produk TPBIS dan UMKM, plus hiburan Live Music yang bakal bikin suasana makin hidup.

Kepala Disarpus Subang, Drs. Iwan Rudianto, M.Si., menegaskan semangat di balik gelaran ini.
“Kami ingin literasi menjadi kebiasaan baru masyarakat Subang. Tidak hanya membaca buku, tapi juga membangun cara berpikir kritis dan kreatif,” ujarnya mantap.

Festival Literasi Subang 2025 bukan hanya agenda, tapi juga gerakan.
Gerakan untuk menyalakan kembali api keingintahuan, membangkitkan daya pikir, dan menjadikan membaca sebagai gaya hidup keren anak Subang.

Jadi, tandai tanggalnya dan kosongkan jadwalmu!
📅 11–13 November 2025
📍 Halaman Gedung Layanan Perpustakaan Subang

Karena literasi bukan sekadar membaca, tapi juga membuka jalan menuju Subang yang unggul dan berdaya saing!

Subang Gaspol Digital! Pengusaha Lokal Dibekali Jurus Sakti E-Purchasing Versi 6

E-Purchasing Versi 6 Subang

Subang — Dunia usaha di Kabupaten Subang kini sedang “naik level”.
Bukan karena diskon besar-besaran, tapi karena para pengusaha lokal sedang dibekali ilmu baru tentang sistem pengadaan digital paling anyar: E-Purchasing Katalog Elektronik Versi 6.

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Subang, Asep Nuroni, di Aula Oman Sahroni pada Kamis–Jumat, 23–24 Oktober 2025.
Tujuannya? Biar pengusaha Subang tidak gagap teknologi dan siap menari di panggung digital yang makin transparan dan efisien.

Sosialisasi ini difokuskan di hari pertama untuk para pengusaha, pelaku usaha konstruksi, serta penyedia barang dan jasa di lingkungan Kabupaten Subang.
Ibarat upgrade sistem operasi, mereka kini sedang diinstal ulang dengan semangat baru agar siap beradaptasi dengan tata kelola pengadaan yang serba cepat dan tanpa ribet.

Ketua Kadin Subang, Ir. H. Agus Prabanta, pun menyambut antusias langkah ini.
“Kadin menyambut baik langkah UKPBJ Subang yang telah menginisiasi kegiatan ini. Dunia usaha harus ikut beradaptasi dengan sistem pengadaan digital agar lebih profesional dan transparan. Kami siap bersinergi dan mendukung pelaku usaha lokal agar semakin mahir memanfaatkan sistem katalog elektronik ini,” ujarnya penuh semangat.

Sekda Subang, Asep Nuroni, menambahkan bumbu motivasi dalam paparannya.
“Katalog Elektronik Versi 6 adalah langkah besar menuju tata kelola pemerintahan yang lebih transparan, efisien, dan akuntabel, serta membuka ruang yang luas bagi pelaku usaha lokal untuk berpartisipasi,” katanya mantap.

Ia menjelaskan, versi terbaru katalog elektronik ini bukan hanya sekadar ganti tampilan, tapi juga memangkas birokrasi yang sering bikin pening.
Dengan sistem baru ini, transaksi antara pemerintah dan penyedia bisa dilakukan lebih mudah, cepat, dan pastinya lebih efisien.

Asep juga menegaskan bahwa penerapan sistem ini penting untuk mempercepat realisasi anggaran di triwulan keempat 2025.
Lebih dari itu, langkah ini menjadi bagian dari reformasi birokrasi Pemda Subang dalam upaya mengefisienkan anggaran sekaligus mengangkat derajat UMKM lokal agar tidak hanya jadi penonton dalam sistem pengadaan pemerintah.

Tak berhenti di situ, sesi teknis juga diisi oleh Dari Darohman, S.E., Analis dari Biro Pengadaan Barang dan Jasa Setda Provinsi Jawa Barat.
Beliau mengupas tuntas implementasi E-Purchasing sesuai Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2025, lengkap dengan gaya presentasi yang membuat kepala para peserta tak hanya mengangguk, tapi juga bersemangat mencatat.

Sosialisasi ini turut dihadiri oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dari seluruh perangkat daerah, kecamatan, hingga puskesmas se-Kabupaten Subang.
Singkatnya, seluruh Subang kini tengah bersiap melaju di jalur cepat digitalisasi pengadaan.
Kalau kata orang, “yang tidak ikut berubah, siap-siap ditinggal zaman.”

Dedi Mulyadi Sidak ke Pabrik AQUA Subang, Soroti Kelebihan Muatan dan Upah Sopir

sidak Dedi Mulyadi pabrik AQUA Subang

SUBANG – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pabrik air mineral PT Tirta Investama (AQUA) di Subang. Langkah ini dilakukan untuk memeriksa aktivitas kendaraan pengangkut air yang keluar masuk area pabrik.

Dalam unggahan di kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel, KDM menjelaskan bahwa sidak dilakukan setelah menerima laporan masyarakat mengenai kondisi jalan provinsi yang cepat rusak. Hasil pengecekan di lapangan menunjukkan adanya pelanggaran batas muatan. Truk pengangkut air yang seharusnya membawa maksimal 5 ton ternyata diisi hingga 13 ton.

Kelebihan beban ini, menurut KDM, diduga menjadi penyebab utama kerusakan jalan provinsi yang baru selesai dibangun.

Soroti Upah Sopir Pengangkut Air

Saat berdialog dengan salah satu sopir berusia lanjut, KDM menanyakan besaran upah yang diterima. Sopir tersebut mengaku mendapat bayaran Rp125.000 untuk kerja sehari semalam.

Mendengar hal itu, KDM menilai ada ketimpangan antara beratnya beban kerja dengan kesejahteraan para sopir.
“Sekali jalan bawa beban dua kali lipat dari ketentuan, tapi upahnya tetap kecil. Ini tidak adil,” ujar KDM dalam video di TikTok dedimulyadiofficial, dikutip Jumat (24/10/2025).

Selain berbicara dengan sopir, KDM juga menemui perwakilan pegawai pabrik AQUA. Ia menegaskan bahwa perusahaan wajib mematuhi aturan pemerintah, termasuk batas sumbu berat kendaraan yang diizinkan melintasi jalan provinsi.
“Saya minta transporternya tidak lagi memakai kendaraan bersumbu besar di jalur provinsi,” kata KDM.

KDM menambahkan, aturan ini penting untuk mencegah kecemburuan sosial. Sebelumnya, pemerintah telah menertibkan perusahaan tambang agar truk besar tidak melintasi jalur yang sama.
“Sekarang yang masih lewat hanya mobil PT AQUA, yang lain sudah tidak ada,” jelasnya.

Gunakan Fasilitas Publik Secara Bijak

KDM menegaskan dirinya tidak menuntut hal berlebihan dari perusahaan. Ia hanya mengingatkan agar fasilitas publik yang dibangun dengan uang rakyat digunakan secara bijak dan bertanggung jawab.
“Jalan yang saya bangun untuk kepentingan bersama. Jadi perusahaan harus menyesuaikan dengan ketentuan yang berlaku,” ujarnya.

Ia berharap, jalan provinsi yang baru dibangun dapat bertahan lama tanpa harus terus diperbaiki akibat pelanggaran batas muatan.
“Minimal selama lima tahun saya memimpin, tidak perlu ada perbaikan lagi,” tutup Dedi Mulyadi.

Badan Wakaf Assyifa Salurkan 555 Mushaf Al-Qur’an di Momen Hari Santri 2025

wakaf Al-Qur’an Hari Santri Subang

SUBANG – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2025, Badan Wakaf Assyifa menyalurkan 555 mushaf Al-Qur’an ke sekolah-sekolah, masjid, dan majelis taklim di Subang. Penyaluran dilakukan sepanjang bulan Oktober 2025, mencakup sejumlah lokasi seperti Masjid Baiturrahman, SIT El-Mutaqy, hingga majelis dan tempat pengajian di rumah-rumah warga.

Kepala Program Badan Wakaf Assyifa, Fatin Alifah Syahir, menjelaskan bahwa kegiatan ini tetap membawa semangat Hari Santri, meski tidak dilaksanakan tepat pada 22 Oktober.
“Program Wakaf Qur’an ini, memang tidak dilaksanakan tepat pada tanggal Hari Santri, namun tetap berada di bulan Oktober yang sarat dengan semangat kesantrian. Kami ingin menghadirkan makna Hari Santri dalam bentuk nyata, yaitu dengan menyalurkan mushaf Al-Qur’an kepada mereka, yang senantiasa berinteraksi dengan kalamullah para lansia, yang rutin mengaji di masjid, para pelajar yang belajar membaca Al-Qur’an di sekolah, serta anak-anak pengajian yang tumbuh dalam lingkungan masjid,” ungkap Fatin kepada wartawan di Subang, Jumat (24/10/2025).

Fatin menambahkan, setiap penerima wakaf adalah bagian dari generasi penjaga Al-Qur’an. Ia berharap, masyarakat juga ikut berperan dalam menjaga dan menyebarkan cahaya Al-Qur’an.
“Melalui program Wakaf Qur’an di Hari Santri, kami ingin menegaskan, bahwa semangat santri hidup di setiap jiwa yang mencintai Al-Qur’an. Mushaf yang tersalurkan bukan sekadar buku suci, tetapi cahaya yang menghidupkan hati, dan menggerakkan amal,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Fatin berharap mushaf wakaf ini membawa manfaat luas.
“Kami berharap, mushaf wakaf ini menjadi sumber semangat dan keberkahan, bagi setiap penerima juga para wakif. Bagi para lansia, semoga menjadi teman dzikir dan penguat iman di masa senja,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Badan Wakaf Assyifa, Ahmad Sahirul Alim, menegaskan bahwa Hari Santri bukan sekadar peringatan historis, tetapi momentum refleksi atas peran besar santri bagi bangsa.
“Bagi Badan Wakaf Assyifa, Hari Santri bukan sekadar peringatan historis, tetapi momentum refleksi dan apresiasi, atas peran besar para santri dalam menjaga kemurnian ajaran Islam, serta memperjuangkan kemerdekaan bangsa, melalui ilmu dan amal,” tutur Ahmad.

Menurutnya, penyaluran mushaf pada momen Hari Santri memiliki makna spiritual yang kuat.
“Momentum Hari Santri, dipilih karena memiliki keterkaitan spiritual dan simbolik, yang kuat dengan Al-Qur’an. Santri adalah penjaga ilmu dan pengamal Qur’an; sementara wakaf Qur’an adalah bentuk nyata dukungan, agar nilai-nilai Qur’an terus hidup dan tersebar di lingkungan pesantren dan masyarakat,” jelasnya.

Melalui program ini, Badan Wakaf Assyifa ingin menegaskan sinergi antara semangat keilmuan santri dan gerakan wakaf produktif. Keduanya menjadi kekuatan dalam membangun peradaban Islam yang berkemajuan.
“Setiap umat memiliki peran dalam menjaga dan menyebarkan cahaya Al-Qur’an. Melalui program Wakaf Qur’an, kami mengajak masyarakat untuk turut serta menyalurkan amal jariyah yang pahalanya terus mengalir, sekaligus mendukung pendidikan dan pembinaan keislaman para santri,” tegas Ahmad.

Ia menutup dengan harapan agar para santri semakin mencintai dan mendalami Al-Qur’an, baik dalam bacaan maupun pengamalan.
“Mushaf wakaf ini kami niatkan sebagai sarana untuk menumbuhkan semangat belajar, memperkuat hafalan, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam setiap aspek kehidupan. Kami juga berharap para santri dapat menjadi pelopor kebaikan, pembawa cahaya Qur’an, dan penerus perjuangan ulama, dalam membangun umat yang beradab dan berdaya,” pungkasnya.

Pakar ITB Jelaskan Soal Sumber Air Aqua di Subang: Bukan dari Mata Air Permukaan

sumber air Aqua Subang

Suarasubang.com – Video kunjungan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau Kang Dedi Mulyadi (KDM) ke pabrik Aqua di Subang sempat viral di media sosial. Dalam video itu, KDM terlihat mempertanyakan sumber air yang digunakan oleh industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) tersebut. Banyak warganet kemudian menafsirkan bahwa air pegunungan untuk AMDK diambil langsung dari mata air permukaan di kawasan pegunungan.

Menanggapi hal itu, pakar hidrogeologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Ir. Lambok M. Hutasoit, memberikan penjelasan ilmiah untuk meluruskan kesalahpahaman tersebut. Ia menegaskan bahwa istilah air pegunungan bukan berarti air yang diambil langsung dari mata air di permukaan.

“Sumber air pegunungan itu berada dalam sistem akuifer yang dihasilkan dari proses alami di pegunungan, yaitu hujan yang meresap ke dalam tanah, lalu mengalir ke sumber air dan diambil dari akuifer bawah tanah di pegunungan,” ungkap Lambok kepada wartawan, Kamis 23 Oktober 2025.

Menurut Lambok, industri besar seperti AMDK memilih sumber air dari pegunungan karena kualitasnya lebih terjamin. Tidak semua air tanah layak konsumsi, meski tampak jernih dan mengandung mineral.

“Salah satunya ada Kromium VI yang sangat beracun. Jadi, tidak sembarangan menggunakan air tanah untuk air minum. Harus dianalisis kimianya terlebih dahulu,” tegasnya.

Lambok juga menjelaskan bahwa kualitas air sangat dipengaruhi oleh jenis batuan tempat air tersebut tersimpan. Jenis batuan yang baik untuk sumber air adalah batu pasir, kapur, dan gamping. Sebaliknya, batu lumpur tidak ideal karena mudah tercemar.

“Batuan yang mengandung air bisa ditemukan di kedalaman dangkal maupun dalam. Tapi yang dangkal biasanya lebih rawan kontaminasi, baik dari toilet, selokan, maupun limbah lain,” jelasnya.

Dalam kunjungannya ke pabrik Aqua di Subang, KDM mengakui adanya perbedaan antara persepsinya dan kenyataan di lapangan.
“Saya sempat mengira bahwa Aqua memanfaatkan air dari mata air pegunungan. Namun kenyataannya berbeda. Artinya di dalam pikiran saya bahwa airnya adalah air mata air. Karena namanya air pegunungan kan? Tapi kenapa dibor,” ungkap KDM.

Penjelasan ini menjadi penting agar publik memahami bahwa proses pengambilan air untuk industri AMDK dilakukan secara ilmiah dan tidak merusak sumber daya air di permukaan.

Tim Polsub Raih Hibah Riset, Ciptakan Mesin Pulper Kopi Pintar Berbasis IoT

Polsub mesin pulper kopi pintar IoT

Subang – Inovasi membanggakan kembali hadir dari dunia kampus vokasi. Tim dari Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Subang (Polsub) berhasil meraih Hibah Program Hilirisasi Riset–Pengujian Model dan Prototipe Tahun 2025 dari Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Dalam program tersebut, tim Polsub mengembangkan prototype Mesin Pulper Kopi Pintar berbasis IoT dan Sensor Warna, sebuah terobosan yang diharapkan mampu mengubah wajah industri pascapanen kopi di Indonesia.

Mesin pulper kopi berfungsi mengupas kulit buah kopi dari bijinya. Jika sebelumnya proses ini dilakukan manual dan memakan waktu lama, kini inovasi dari Polsub menawarkan solusi otomatis, efisien, ramah lingkungan, dan meningkatkan produktivitas petani.

Ketua tim sekaligus Ketua Jurusan Teknik Mesin Polsub, Susilawati, menjelaskan bahwa mesin ini mampu bekerja dengan kapasitas hingga 360 kilogram per jam dan digerakkan oleh motor listrik bebas emisi.
Kami ingin menghadirkan teknologi tepat guna yang tidak hanya efisien, tapi juga berkelanjutan dan mudah dioperasikan oleh petani. Mesin ini tidak hanya mengupas kulit kopi dengan cepat, tetapi juga menjaga kualitas biji agar tetap utuh dan seragam,” ujarnya, Kamis (23/10/2025).

Lebih lanjut, Susilawati menambahkan, sistem berbasis IoT dan sensor warna memungkinkan mesin menyeleksi buah kopi berdasarkan tingkat kematangan.
Sensor akan mendeteksi warna merah pada kopi, sehingga hanya buah matang yang dikupas. Hal ini memastikan hasil akhir yang lebih berkualitas,” jelasnya.

Anggota tim lainnya, Masri Bin Ardin, menyoroti manfaat sosial dari inovasi ini.
Dengan teknologi ini, proses pengupasan menjadi lebih cepat dan efisien. Petani bisa fokus ke hal lain seperti perawatan tanaman atau pemasaran produk. Dampaknya sangat positif bagi ekonomi lokal,” tuturnya.

Sementara itu, Dino Dwi Aryanto menekankan potensi komersial dari hasil riset tersebut.
Mesin ini punya nilai jual tinggi. Selain bisa dikembangkan untuk produksi massal, juga bisa menjadi peluang kerja sama dengan Dinas Pertanian, koperasi, hingga program CSR perusahaan. Kami berharap teknologi ini menjadi produk unggulan daerah Subang,” paparnya.

Inovasi ini bukan hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga mendorong transformasi digital pertanian. Dengan sistem otomasi dan sensor canggih, proses pascapanen menjadi lebih presisi, hemat energi, dan ramah lingkungan. Biaya operasional pun lebih rendah karena penggunaan tenaga manusia berkurang.

Selain manfaat praktis, proyek ini turut mendukung hilirisasi riset dan pemberdayaan UMKM kopi. Hasil riset terapan dari kampus vokasi ini membuktikan bahwa inovasi akademik dapat memberi dampak langsung bagi masyarakat.

Harapan kami, mesin pulper kopi pintar ini bisa menjadi langkah awal menuju modernisasi pertanian kopi di Indonesia. Kami ingin petani lokal mampu bersaing di pasar global dengan produk berkualitas tinggi dan proses yang efisien,” pungkas Susilawati.

Dengan semangat kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat, inovasi dari Polsub ini menjadi contoh nyata bahwa teknologi dan riset dapat berpadu memperkuat sektor pertanian nasional. Di tengah meningkatnya permintaan kopi dunia, langkah kecil dari kampus vokasi ini bisa menjadi awal besar bagi masa depan industri kopi Indonesia.

Recent Posts