Beranda blog Halaman 21

Judul:Subang Fest Vol. 6: Malam Penuh Nostalgia, Dangdut Lawas, dan Janji Kolaborasi Spektakuler

Subang Fest 2025

Subang – Sabtu malam di Subang berubah jadi panggung nostalgia.
Subang Fest Vol. 6 mengguncang Alun-alun dengan tema yang bikin senyum-senyum sendiri: “80’s Outfit.”

Berlokasi di Amphiteater Tugu Benteng Pancasila, suasana terasa seperti mesin waktu yang membawa semua orang kembali ke masa kejayaan musik dangdut jadul Indonesia.
OM Lorenza tampil menggoda panggung, sementara suara khas Novia Rozma—penyanyi kebanggaan Subang—menjadi magnet yang membuat penonton enggan pulang.

Bupati Subang, Reynaldi Putra Andita, hadir bukan sekadar menonton, tapi juga menyalakan semangat di balik gelaran akbar ini.
“Tujuan utama kami mengadakan Subang Fest adalah, agar Kabupaten Subang semakin dikenal luas, dan masyarakat di luar daerah semakin mengetahui potensi yang dimiliki Subang,” ujarnya mantap.

Reynaldi menambahkan bahwa event semacam ini bukan hanya soal musik dan hiburan, tapi juga urusan ekonomi kreatif yang nyata dampaknya.
Dalam gelaran Subang Creative Week 2025 lalu, perputaran uang di area Alun-alun mencapai hampir Rp260 juta—itu baru di sekitar lokasi acara!

“Itu belum termasuk pelaku usaha di luar area Alun-alun. Artinya, kegiatan seperti ini, benar-benar memberi dampak nyata bagi ekonomi lokal,” tambahnya sambil tersenyum puas.

Suasana makin hangat saat sang bupati menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang turut menyukseskan acara ini—dari Subang Creative Hub, Subang Economy Creative, para sponsor, BUMN, BUMD, hingga masyarakat yang selalu hadir dengan energi positif.
“Terima kasih kepada seluruh stakeholder, dan panitia penyelenggara yang selalu menjaga semangat kolaborasi, sehingga Subang Fest bisa terus bergulir setiap bulannya,” tutur Reynaldi.

Namun, malam itu bukan hanya tentang nostalgia, tapi juga bocoran masa depan.
“Bulan November nanti, Subang Fest akan semakin gebyar, karena akan berkolaborasi dengan RANS Entertainment, dalam rangka ulang tahun RANS ke-10. Akan ada banyak bintang tamu spesial yang hadir di Subang,” katanya, disambut sorak gemuruh penonton.

Ribuan warga tumpah ruah, mengenakan busana ala 80-an, menari, bersorak, dan ikut bernyanyi dalam malam yang penuh warna.
Bupati Reynaldy dan Ketua TP PKK Kabupaten Subang, Ega Anjani, tampak larut menikmati pesta rakyat yang kini menjadi ikon kebanggaan warga Subang setiap bulannya.

Subang Fest Vol. 6 bukan sekadar konser, tapi cermin dari semangat Subang yang terus “Ngabret” menuju kabupaten kreatif, hidup, terbuka, dan kolaboratif.
Subang memang tahu cara bersenang-senang—dengan gaya, dengan makna, dan tentu saja dengan dangdut yang menggoda nostalgia.

VinFast VF3 Siap Meluncur dari Subang: Mobil Listrik Mungil yang Punya Nyali Besar

VinFast VF3

Subang – VinnFast tampaknya benar-benar jatuh cinta pada Indonesia.
Bagaimana tidak, pabrikan mobil listrik asal Vietnam ini resmi memastikan bahwa pabrik barunya di Subang, Jawa Barat, akan mulai berdetak penuh pada Maret 2026.

Namun sebelum mesin-mesin itu bekerja dengan ritme pabrik yang sesungguhnya, Desember 2025 nanti mereka akan melakukan “pemanasan” alias tahap uji coba produksi.
Ibarat konser besar, ini adalah sesi sound check sebelum pertunjukan dimulai.

CEO VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto, yang baru saja meresmikan diler baru di Bekasi, menegaskan langsung rencana tersebut.
“Perakitan mulai percobaan Desember, produksi massal Maret 2026, dan dimulai dari VF3 dulu,” ujarnya penuh semangat.

Ya, VinFast tampaknya tahu betul bahwa orang Indonesia suka hal-hal mungil yang gesit tapi punya tenaga besar.
Maka dipilihlah si kecil lincah VF3 sebagai pionir perakitan lokal.

Mobil mungil ini bukan sekadar imut-imut beroda empat.
Ia dirancang khusus untuk menghadapi jalanan perkotaan Indonesia yang padat, rumit, kadang sabar, kadang bikin naik darah.

Dengan sistem perakitan lokal alias CKD (Completely Knocked Down), VinFast berharap harga VF3 bisa lebih bersahabat dengan dompet masyarakat.
Dan siapa tahu, bisa menyaingi magnet motor matic yang selama ini jadi idola urban.

VF3 punya tubuh ringkas tapi penuh gaya: panjang 3.190 mm, lebar 1.679 mm, tinggi 1.652 mm, dan wheelbase 2.075 mm.
Pas untuk selap-selip di kemacetan tanpa harus mengeluh soal parkiran yang sempit.

Tenaganya disuplai dari baterai LFP berkapasitas 18,64 kWh.
Dalam sekali isi penuh, mobil ini diklaim mampu menempuh jarak hingga 215 kilometer — cukup jauh untuk pulang-pergi kantor selama seminggu tanpa panik cari colokan listrik.

Desainnya? Futuristik, tentu saja.
Wajah depannya menampilkan grill minimalis dan lampu LED tajam seperti mata robot yang baru bangun tidur.
Sementara bagian belakangnya memamerkan lekukan elegan yang aerodinamis, seolah sedang berbisik, “aku kecil, tapi modern.”

Masuk ke dalam, suasananya terasa simpel namun pintar.
Sebuah layar sentuh 10 inci di tengah dasbor menjadi pusat komando — tempat di mana teknologi dan gaya bertemu dalam satu sentuhan lembut.

Dengan langkah strategis ini, VinFast bukan hanya membangun pabrik.
Mereka sedang membangun kepercayaan diri, bahwa mobil listrik terjangkau bisa lahir dari tanah Indonesia dengan kualitas yang pantas dibanggakan.

Kalau semua berjalan sesuai rencana, Maret 2026 bisa jadi momen bersejarah — ketika VinFast VF3 melaju dari Subang, membawa mimpi hijau dengan baterai penuh dan semangat tanpa habis.

Jalan Compreng–Pusakajaya Akhirnya Leucir, Warga Subang Girang Bukan Kepalang!

Jalan Compreng Pusakajaya Subang

SUBANG – Setelah sekian lama menunggu, masyarakat di perbatasan Kecamatan Compreng dan Kecamatan Pusakajaya akhirnya bisa bernapas lega. Ruas jalan sepanjang 700 meter di Desa Rangdu, Kecamatan Pusakajaya, kini leucir alias mulus seperti baru disetrika!

Jalan yang selama ini menjadi “jalan perjuangan” itu diresmikan langsung oleh Bupati Subang, Reynaldy Putra Andita, pada Jumat (31/10/2025), bertepatan dengan rangkaian kegiatan Saba Desa Kecamatan Pusakajaya.

Pembangunan jalan senilai Rp1,8 miliar ini bukan hanya mempercantik wilayah, tapi juga mempermudah distribusi hasil pertanian dan menghubungkan dua kecamatan penting di Subang bagian timur. Lebih dari itu, jalur ini menjadi pintu batas alami antara Kabupaten Subang dan Kabupaten Indramayu.

Kepala Desa Rangdu, Dunengsih, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. “Alhamdulillah, jalan ini akhirnya leucir. Kami sangat bersyukur karena ruas ini sangat penting bagi masyarakat,” ujarnya dengan wajah sumringah.

Ia pun berharap agar perbaikan jalan kabupaten di wilayah perbatasan terus berlanjut supaya wajah Kabupaten Subang makin menawan di mata siapa pun yang melintas.

Sementara itu, Bupati Reynaldy Putra Andita dalam sambutannya menegaskan bahwa pembangunan ini merupakan bagian dari program besar Subang Leucir 2027, sebuah gerakan menjadikan seluruh infrastruktur Subang mulus, tertata, dan produktif.

“Mudah-mudahan jalan ieu tiasa jadi keberkahan masyarakat di Pusakajaya,” ucap Bupati penuh harap.

Tak berhenti di situ, Bupati juga menegaskan komitmen Pemda Subang yang tahun ini telah menyiapkan lebih dari Rp4,8 miliar khusus untuk peningkatan infrastruktur jalan di wilayah Kecamatan Pusakajaya.

“Sanes ieu hungkul, kapayuna dibeneran dugi ka Dulem. Diberesan tahun ieu tos disiapkeun Rp4,8 miliar kanggo Pusakajaya,” katanya, disambut tepuk tangan warga yang hadir.

Peresmian berlangsung meriah dengan kehadiran Forkopimcam Pusakajaya, Asisten Daerah, Kepala OPD, Kepala Desa Rangdu, serta ratusan masyarakat yang ikut menyaksikan momen bersejarah ini.

Kini, jalan yang dulunya penuh lubang dan genangan sudah menjelma jadi jalur penghubung yang mulus dan membanggakan. Satu lagi bukti bahwa Subang memang sedang bersolek menuju “Subang Leucir 2027” — dari pinggiran, untuk kemajuan bersama.

RS Agro Medika Nusantara Subang: Dari Klinik Perkebunan ke Rumah Sakit Modern Bersejarah

RS Agro Medika Nusantara Subang

SUBANG – Kalau bangunan bisa bicara, mungkin RS Agro Medika Nusantara (RS AMN) Subang akan jadi saksi hidup paling cerewet di Jawa Barat. Berdiri sejak 1914, rumah sakit ini dulunya cuma klinik kecil milik perusahaan perkebunan Belanda Pamanoekan and Tjiasem Landen (P&T Landen) — tempat para pekerja kebun berobat setelah bergulat dengan tebu dan karet.

Setelah nasionalisasi perusahaan Belanda pada 1956, pengelolaannya pindah ke Perusahaan Perkebunan Negara (PPN). Lalu pada 1965, namanya berubah menjadi RS PPN Dwikora IV, sebelum akhirnya bertransformasi bersama induk perusahaannya hingga berada di bawah bendera PT Perkebunan Nusantara VIII (PTPN VIII).

Kini, bangunan bersejarah di Jalan Otto Iskandardinata, jantung Kota Subang itu, kembali melangkah ke babak baru dengan nama RS Agro Medika Nusantara Subang, di bawah pengelolaan PTPN I, bagian dari Holding Perkebunan Nusantara, PTPN III (Persero).

Nama boleh berganti, tapi masyarakat Subang tetap setia menyebutnya “RS PTPN VIII”. Ya, nama lama memang susah move on — apalagi kalau sudah melekat di hati warga.

Transformasi ini bukan sekadar ganti papan nama. Ia menjadi simbol modernisasi layanan kesehatan sekaligus langkah strategis menuju visi besar: menjadi rumah sakit terbaik di Kabupaten Subang tahun 2027.

Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas, menyebut perubahan ini sebagai bagian dari strategi besar untuk mengoptimalkan aset perusahaan di luar komoditas utama.

“Saya apresiasi langkah Rumah Sakit Agro Medika Nusantara Subang yang sebelumnya bernama RS PTPN VIII dengan bertransformasi untuk menjadi profit centre baru. Ini selaras dan menjadi mandatori dari pemegang saham kepada PTPN I sebagai Supporting Co untuk mengelola aneka bisnis dengan memanfaatkan aset yang ada,” ujar Teddy di pekan kedua Oktober 2025 lalu.

Menurutnya, PTPN I kini menaungi sejumlah rumah sakit dan klinik besar yang melayani masyarakat umum. Ke depan, bisnis kesehatan akan menjadi lini strategis baru yang bukan hanya menguntungkan, tapi juga berkontribusi nyata bagi pelayanan publik.

“PTPN I memiliki aneka bisnis dengan potensi besar di masa depan. Rumah sakit menjadi salah satu sektor yang akan kami dorong sebagai sumber pertumbuhan baru, sekaligus bentuk kontribusi nyata BUMN dalam meningkatkan layanan kesehatan masyarakat,” ucap Teddy.

Sementara itu, Direktur RS AMN Subang, dr. Mugia Nugraha, memastikan transformasi ini bukan hanya soal tampilan, tapi juga peningkatan mutu layanan dan digitalisasi sistem.

“Kami memastikan seluruh SDM kami kompeten dan memiliki peralatan lengkap untuk melayani pasien. Kami juga melakukan adaptasi terhadap digitalisasi, seperti sistem pendaftaran online, layanan telemedicine, dan integrasi dengan aplikasi JKN Mobile,” jelasnya.

Kini, RS AMN Subang memiliki kapasitas memadai dan fasilitas lengkap, dari IGD 24 jam, Laboratorium, Farmasi, ICU, hingga layanan penunjang seperti Radiologi, Fisioterapi, Rehabilitasi Medik, Perawatan Luka, Hemodialisa, serta medical check-up on site dan konsultasi gizi.

Transformasi menuju layanan rumah sakit modern ini menjadi bukti nyata bahwa Holding Perkebunan Nusantara tak hanya piawai di ladang, tapi juga peduli pada kesehatan masyarakat.

Sinergi antara nilai historis dan inovasi digital menjadikan RS Agro Medika Nusantara Subang bukan sekadar rumah sakit, melainkan warisan sejarah yang terus hidup, tumbuh, dan menyehatkan Subang dari generasi ke generasi.

VinFast Bangun Pabrik di Subang, Siap Gebrak Pasar Mobil Listrik Indonesia

Pabrik VinFast Subang

SUBANG – Pabrikan mobil listrik asal Vietnam, VinFast, resmi tancap gas di Indonesia. Bukan di Jakarta, bukan di Surabaya, tapi di Subang, Jawa Barat — tanah yang kini siap jadi “rumah baru” bagi kendaraan masa depan berteknologi hijau.

CEO VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto, mengungkapkan bahwa pabrik di Subang akan menjadi prioritas utama. “Kita base-nya setir kanan. Jadi, nanti memang prioritas pertama untuk suplai lokal,” ujarnya di Jakarta, Jumat (31/10/2025).

Rencananya, uji coba fasilitas produksi akan dimulai pada Desember 2025, dan kegiatan produksi massal ditargetkan meluncur pada Maret 2026. Mobil perdana yang bakal keluar dari jalur perakitan Subang adalah VF3, kendaraan mungil nan gesit yang siap menyapa jalanan Indonesia.

Walau fokus awalnya adalah memenuhi pasar dalam negeri, VinFast tak menutup peluang ekspor. “Tidak menutup kemungkinan kalau itu nanti jadi basis ekspor untuk negara-negara lain yang setir kanan. Karena, kalau yang setir kirinya kan di Vietnam,” tutur Kariyanto.

Langkah ini menunjukkan strategi VinFast yang cermat — tidak hanya menjual mobil, tapi juga menjual gaya hidup ramah lingkungan dengan sentuhan teknologi masa depan.

Yang menarik, VinFast menawarkan skema sewa baterai untuk lini mobil listriknya: VF3, VF5, VF e34, VF6, dan VF7. Jadi, konsumen tidak perlu pusing soal biaya baterai yang mahal di awal.

Dengan pembayaran awal mulai Rp156 juta, pembeli sudah bisa membawa pulang mobil listrik, lalu cukup membayar langganan sewa baterai bulanan mulai Rp253 ribu.

Sebagai perbandingan, VF3 dibanderol Rp156 juta dengan sewa baterai Rp253 ribu per bulan, sementara VF6 varian Eco seharga Rp335 juta dan VF6 varian Plus Rp394 juta dengan sewa baterai Rp650 ribu per bulan.

Artinya, VinFast bukan cuma jual mobil — tapi juga ide baru tentang bagaimana kita memiliki kendaraan: ringan di awal, fleksibel di tengah, dan ramah lingkungan di akhir.

Subang pun kini bersiap menyambut era baru otomotif. Dari kota yang tenang, sebentar lagi akan terdengar deru halus mobil listrik yang siap menyalakan masa depan Indonesia.

Subang Raih Penghargaan PB MKJP, Bukti KB Bukan Sekadar “Kartu Biru”

Penghargaan PB MKJP Subang

SUBANG – Kabar bahagia berhembus dari Kota Nanas! Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Subang resmi menggondol predikat Terbaik Kedua untuk kategori PB (Peserta Baru) MKJP target 1501–3500 akseptor.

Jangan buru-buru bingung, PB MKJP KB ini bukan singkatan nama band baru ya! PB berarti Peserta Baru, dan MKJP adalah Metode Kontrasepsi Jangka Panjang — bukan “Manajemen Keuangan Jangka Pendek”.

Program KB sendiri merupakan jurus andalan pemerintah di bawah komando BKKBN untuk mengatur jumlah, jarak, dan usia ideal melahirkan anak. Tujuannya sederhana tapi mulia: keluarga lebih terencana, lebih sehat, dan tentu saja lebih bahagia.

Nah, MKJP ini adalah bintang utama di dunia kontrasepsi — efektif, tahan lama, dan nggak perlu diingat setiap hari seperti minum vitamin. Sekali pasang, bisa “aman” bertahun-tahun!

Contohnya? Ada IUD alias AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim), implan atau susuk KB, hingga metode “operasi mantap” seperti MOW untuk wanita dan MOP untuk pria. Istilahnya, kontrasepsi jangka panjang ini benar-benar long lasting relationship.

PB MKJP KB berarti program peningkatan peserta baru yang memilih MKJP. Artinya, semakin banyak pasangan usia subur (PUS) yang berani melangkah ke arah keluarga berencana jangka panjang.

Kepala DP2KBP3A Subang, Dr. Drs. H. Yayat Sudrajat, MM., M.Si., menjelaskan bahwa program PB MKJP KB bertujuan mendorong pasangan suami istri untuk memilih alat kontrasepsi jangka panjang karena metode ini paling efektif untuk mengendalikan angka kelahiran, menjarangkan kehamilan, dan menciptakan keluarga yang lebih sejahtera.

“Alhamdulillah kita bersyukur, kita ucapkan terimakasih kepada rekan-rekan yang telah membantu menyukseskan kegiatan ini, terimakasih kepada seluruh bidang yang selalu support di setiap kegiatan dan tak lupa terimakasih juga kepada tim lapangan yang selalu aktif dan semangat di setiap kegiatannya,” ujarnya.

Jadi, kalau ada yang bilang program KB itu soal menunda-nunda rezeki, coba pikir ulang. Karena bagi Subang, ini bukan sekadar soal “berapa anak yang cukup”, tapi tentang bagaimana setiap keluarga bisa tumbuh sehat, bahagia, dan tentu saja… penuh rencana!

Dedi Mulyadi Bongkar Kejanggalan: Aqua Bayar Rp600 Juta ke PDAM Subang Tiap Bulan, Tapi Airnya Sudah Tak Dipakai!

Aqua PDAM Subang Rp600 juta

Subang – Ada aroma aneh yang tercium dari balik keran air Subang.
Bukan karena kualitas airnya, tapi karena uang kompensasi yang terus mengalir — meski sumber airnya sudah berhenti mengalir ke Aqua.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengungkapkan bahwa perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) Aqua masih membayar kompensasi sebesar Rp600 juta per bulan kepada PDAM Kabupaten Subang.
Padahal, Aqua sudah tidak lagi menggunakan sumber air milik PDAM Subang.

“Waktu awal itu perusahaan itu ngambil airnya bareng dengan PDAM dengan satu SIPA,” ujar Dedi saat ditemui di Gedung DPRD Jawa Barat, Kota Bandung, Jumat (31/10/2025).

Kisahnya berawal dari kerja sama antara Aqua dan PDAM Subang sejak tahun 1994.
Kala itu, mereka berbagi sumber air resmi dengan satu izin pengambilan air (SIPA).
Namun kini, meski kerja sama masih berjalan di atas kertas, praktiknya sudah tak sejalan dengan isi perjanjian.

Dedi Mulyadi pun mencium ada “bau kejanggalan” di balik aliran dana tersebut.
Menurutnya, pembayaran kompensasi tanpa dasar hukum yang jelas sama saja dengan menyiram uang ke tanah kering.

“PDAM seharusnya tidak hanya menjadi penerima kompensasi bulanan, tetapi juga harus terlibat dalam struktur usaha Aqua. Dengan begitu, PDAM bisa memperoleh manfaat jangka panjang dari kerja sama tersebut. Itu nggak pintar PDAM-nya, lebih memilih mendapatkan uang setiap bulan,” tegas Dedi.

Ia juga menegaskan, kompensasi itu sah hanya jika Aqua masih memanfaatkan aset air milik PDAM Subang.
Jika tidak, pembayaran sebesar Rp600 hingga Rp700 juta per bulan itu bisa dikategorikan ilegal.

“Saya nanti hari Senin saya nemuin BPK dan menyampaikan surat permohonan audit,” ujarnya dengan nada serius.

Langkah audit ini, kata Dedi, bukan sekadar mencari siapa salah siapa benar, tetapi juga menjadi momentum menata ulang pengelolaan sumber air di Jawa Barat.
Tujuannya jelas: agar rakyat tidak sampai mandi pakai air sawah lagi, seperti sindirannya yang sempat viral.

“Saya ingin identifikasi sumber air, baik yang digunakan oleh swasta maupun pemerintah. Karena orientasinya, negara wajib menyediakan air bersih bagi warga,” pungkasnya.

Air mungkin tak berwarna dan tak berbau — tapi di Subang, ternyata bisa juga beraroma misteri finansial.

Warga Sukarandeg Patungan Cor Jalan Rusak, Bukti Gotong Royong Masih Hidup!

Warga Sukarandeg perbaiki jalan rusak

Jalan rusak bukan hal baru, tapi di Dusun Sukarandeg, Desa Gunungsari, Kecamatan Pagaden, Kabupaten Subang, warga memilih tak menunggu keajaiban datang.
Mereka gotong royong — bukan sekadar tenaga, tapi juga dompet!

Ya, Rabu (30/10/2025) warga Sukarandeg turun tangan memperbaiki Jalan Kabupaten Gardu–Sukarandeg dengan uang hasil sumbangan mereka sendiri.
Aspal boleh berlubang, tapi semangat warganya mulus tanpa cela.

Salah seorang warga yang enggan disebut namanya mengaku, ide “open donasi” muncul dari rasa jengkel yang berubah jadi gerakan nyata.
“Kami membuka open donasi untuk perbaiki jalan rusak ini. Adanya open donasi itu warga Dusun Sukarandeg memberikan sumbangan sejumlah uangnya, ini menunjukkan antusiasme masyarakat yang peduli dengan jalan rusak tersebut,” ujarnya.

Dari hasil urunan itu, terkumpul sekitar Rp4 juta — bukan jumlah fantastis, tapi cukup membuat satu mobil cor beton datang menyelamatkan jalan berlubang.
Dan kabar baiknya, pak lurah pun ikut turun tangan dengan tambahan tiga kubik cor beton. Mantap, kan?

Menurut warga, sebenarnya sudah ada wacana dari pemerintah kabupaten untuk memperbaiki jalan itu.
Tapi, menunggu tanpa kepastian rasanya seperti nunggu hujan di musim kemarau. Maka, warga pun memilih aksi nyata.

“Karena warga Dusun Sukarandeg tidak sabar menunggu pemkab untuk perbaiki maka dari itu warga mendonasikan uang untuk perbaiki jalan rusak ini,” pungkasnya.

Begitulah, dari jalan rusak lahir kisah tentang solidaritas dan semangat gotong royong yang masih hidup di Sukarandeg.
Mereka tidak hanya menambal lubang di jalan, tapi juga menambal lubang kepercayaan — bahwa perubahan bisa dimulai dari rakyat sendiri.

Subang Fest Vol.6: Bajidoran Guncang Alun-Alun, Warga Subang Tumpah Ruah!

Subang Fest, bajidoran, Giler Kameumeut, hiburan rakyat, Subang Creative Hub

subang – Ribuan warga Subang malam itu seperti ditarik magnet hiburan.
Mereka datang berbondong-bondong, tumpah ruah memenuhi Amphitheater Tugu Benteng Pancasila di Alun-Alun Subang, Jumat (31/10/2025) malam.

Semua mata tertuju pada panggung megah tempat bajidoran bareng Giler Kameumeut mengguncang suasana.
Getar kendang dan sorak penonton berpadu menjadi orkestra malam rakyat yang luar biasa meriah.

Gelaran ini bukan sembarang hajatan.
Subang Fest Vol.6 adalah buah tangan Bupati Subang bersama Subang Creative Hub (SCH) dan Disparpora Subang, yang sukses menjelma jadi ikon hiburan bulanan paling ditunggu warga.

Gratis, meriah, dan penuh tawa — tiga kata yang cukup menggambarkan pesta rakyat Subang kali ini.

Tak hanya bajidoran, malam pertama juga diramaikan penampilan band lokal Candu Kustik yang membuat suasana makin hangat dan akrab.
Di sisi lain, puluhan stan UMKM dan corporate bazar menambah semarak, seolah seluruh kota berpesta dalam satu halaman besar.

Belum puas? Tenang, besok masih ada hari kedua!
Panitia sudah menyiapkan konsep fashion show ala tahun 80-an lengkap dengan guest star kejutan yang siap menggoyang nostalgia.

Putra (28), warga Subang yang hadir langsung, tak kuasa menyembunyikan kekagumannya.
“Adanya Subang Fest ini keren banget. Ada hiburan gratis setiap bulannya di pusat kota Subang. Mudah-mudahan acara ini terus berlanjut ya. Dan banyak lagi acara-acara super keren yang disuguhkan nantinya,” ungkap Putra.

Senada dengan itu, Nia (40) warga Cisalak pun mengaku terpukau.
“Pokoknya luar biasa. Keren banget Subang Fest setiap bulannya selalu ada kejutan. Acara ini jadi ditunggu-tunggu loh,” pungkasnya.

Malam itu, langit Subang bukan hanya diterangi lampu panggung — tapi juga semangat dan senyum warga yang larut dalam euforia.
Subang Fest Vol.6 pun bukan sekadar pesta, tapi bukti bahwa kreativitas dan kebersamaan bisa membuat satu kota berdansa.

Kadinkes Subang Pantau Sunatan Massal: 70 Anak Bahagia, Dokter Tersenyum, Tangisan Jadi Irama

sunatan massal Subang

Suasana ceria tapi tegang terasa di Aula Desa Bojong Tengah, Kecamatan Pusakajaya, Jumat (31/10/2025).
Bukan acara musik atau lomba mewarnai, tapi sunatan massal yang diikuti 70 anak se-Kecamatan Pusakajaya.

Di tengah hiruk-pikuk tangisan kecil yang kadang muncul bersamaan, hadir sosok tenang penuh senyum—dr. Dwinan Maschiawati, MARS, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, yang akrab disapa Mamih Dwinan.

Ia datang dalam rangkaian kegiatan Saba Desa, sekaligus memantau langsung jalannya sunatan massal yang digelar oleh tenaga kesehatan dari berbagai puskesmas di Subang.

Sunatan massal ini dilakukan oleh para nakes dari berbagai Puskesmas di Kabupaten Subang,” ujar Mamih Dwinan dengan nada bangga.

Tak hanya meninjau, Mamih juga menjadikan momen ini sebagai ajang silaturahmi dengan para Kepala UPTD Puskesmas se-Kabupaten Subang.

Alhamdulillah, beberapa Kepala Puskesmas hadir dan ikut serta membantu petugas untuk melaksanakan sunatan massal ini,” ungkapnya.

Pantauan bewara.co.id, panitia juga menyiapkan baju koko bagi peserta sunatan—hadiah simbolis yang membuat para bocah tampak gagah meski langkahnya masih sedikit kaku.

Sebelum menghadiri acara ini, Mamih Dwinan sempat melakukan sidak ke dua puskesmas, yakni UPTD Puskesmas Sembung dan UPTD Puskesmas Pagaden, memastikan layanan kesehatan masyarakat tetap prima meski cuaca Subang sedang tak menentu.

Kegiatan ini bukan sekadar seremoni, tapi wujud nyata pelayanan kesehatan yang hadir sampai ke desa. Karena di Subang, bahkan momen “tegang tapi bahagia” seperti sunatan pun jadi bagian dari cinta pemerintah untuk rakyatnya.

Recent Posts