Beranda blog Halaman 102

100 Hari Reynaldy–Agus: Subang Bergerak, Rakyat Merasakan

100 hari kerja Bupati Subang Reynaldy dan Agus
F

Subang Menyalakan Mesin Perubahan

Seratus hari sudah sejak Reynaldy Putra Andita dan Agus Masykur Rosyadi resmi memimpin Subang. Alih-alih sibuk dengan selebrasi politik, keduanya memilih langsung turun ke akar rumput.

Bersama program andalan Saba Desa, keduanya telah menyambangi 42 dari 253 desa, bukan untuk berpidato, tapi untuk mendengar. Ini bukan sekadar kunjungan, tapi strategi: memimpin lewat telinga, bukan hanya lisan.

“100 hari bukan tujuan, tapi fondasi. Kami memulainya dari bawah, dari desa, dari rakyat,” ujar Reynaldy, menegaskan semangat perubahan.

Saba Desa: Pemimpin Turun, Rakyat Bicara

Kehadiran fisik pemimpin di tengah masyarakat menjadi pesan kuat: pemerintah hadir, bukan sekadar dalam spanduk, tapi di jalanan desa.

Setiap kunjungan membuka ruang dialog langsung tentang infrastruktur rusak, layanan yang lambat, hingga kebutuhan dasar yang belum terjawab. Di sinilah Saba Desa berfungsi sebagai jembatan antara mimpi rakyat dan kebijakan daerah.

“Kami tidak ingin masyarakat hanya jadi objek. Mereka harus jadi subjek pembangunan,” kata Agus, menegaskan pendekatan partisipatif.

Birokrasi Bersih Dimulai dari Dalam

Gebrakan lain terlihat dalam reformasi birokrasi. Tak hanya slogan, sebanyak 500 ASN dievaluasi. Hasilnya, 10 di antaranya direkomendasikan diberhentikan karena pelanggaran disiplin.

Langkah ini mengejutkan, sekaligus menjadi pernyataan: Subang tak memberi ruang bagi pelayanan setengah hati.

“Kami ingin birokrasi yang melayani, bukan yang minta dilayani,” kata Reynaldy, lugas.

Rp250 Miliar untuk Menyambung Harapan

Infrastruktur juga jadi prioritas. Anggaran sebesar Rp250 miliar digelontorkan untuk memperbaiki jalan utama, dengan target rampung pada 2027.

Kondisi jalan di 42 desa telah ditinjau langsung sebagai dasar perencanaan. Jalan bukan sekadar jalur transportasi, tapi urat nadi ekonomi, pendidikan, dan pemerataan pembangunan.

“Jalan adalah penghubung harapan,” tegas Agus.

Mengangkat yang Sering Terlupakan

Sebuah langkah kecil dengan makna besar terjadi saat Hari Jadi ke-77 Subang. Pemerintah menaikkan honor petugas kebersihan—para pahlawan kota yang selama ini sunyi.

Langkah ini bukan hanya soal nominal, tapi pengakuan terhadap peran vital mereka. Subang menunjukkan keberpihakan kepada yang kerap terabaikan.

Dari Janji ke Aksi: 16 Target Mulai Jalan

Dari 30 janji politik, 16 mulai direalisasikan. Dari sektor pendidikan, kesehatan, hingga infrastruktur, semuanya dijalankan dengan indikator yang jelas dan pelaporan terbuka.

Reynaldy tak ingin janji hanya jadi catatan kampanye. “Kami ingin rakyat tahu ke mana uang mereka digunakan,” ujarnya.

Cepat Tanggap di Era Digital

Pemerintah Subang kini menjadikan kanal digital sebagai sarana komunikasi dua arah. Setiap keluhan di media sosial diproses cepat, memperlihatkan bahwa respons pemerintah bukan lagi formalitas, tapi budaya baru.

Transparansi juga diperkuat. Anggaran daerah dibuka ke publik lewat laman resmi dan forum warga, menjadikan partisipasi sebagai standar baru.

Mempersiapkan SDM Lokal untuk Masa Depan

Visi jangka menengah diarahkan pada peningkatan SDM. Subang tak ingin warganya jadi penonton dalam derasnya arus investasi industri.

Pemerintah menyiapkan pelatihan, pendidikan vokasi, dan kolaborasi dengan industri agar warga lokal tampil sebagai pelaku utama.

“Kami ingin rakyat Subang punya posisi strategis di tanahnya sendiri,” ujar Agus.

Langkah Kecil, Arah Besar

100 hari ini hanyalah awal. Tapi dari arah kebijakan, tampak jelas bahwa Subang bergerak menjauh dari politik simbolik menuju kerja konkret.

Pemimpin hadir, mendengar, dan bekerja. Citra bukan prioritas. Aksi adalah identitas.

“Kami belum selesai. Tapi kami tidak akan berhenti. Kami akan terus Ngabret,” tutup Reynaldy.

Subang Siap Genjot Produksi Susu dan Daging, Sekda: Potensinya Sangat Besar!

Program Percepatan Produksi Susu dan Daging Nasional di Subang
Foto: subang.go.id

Subang – Kabupaten Subang kembali mencuri perhatian dengan semangatnya dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Sekretaris Daerah Subang, H. Asep Nuroni, S.Sos., M.Si., hadir langsung dalam Sosialisasi Program Percepatan Peningkatan Produksi Susu dan Daging Nasional (P2SDN) yang digelar di Balai Veteriner Subang, Senin, 2 Juni 2025.

Program ini merupakan implementasi dari salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto, Asta Cita, yang diwujudkan lewat kegiatan Makan Bergizi Gratis (MBG). Tujuannya jelas—meningkatkan produksi nasional susu dan daging sebagai fondasi gizi masyarakat.

Dalam sambutannya, Kang Asep—sapaan akrab Sekda Subang—mengapresiasi langkah Kementerian Pertanian, khususnya Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Ia menilai program ini adalah bentuk nyata perhatian pusat terhadap penguatan sektor pertanian dan peternakan di daerah.

Menurut Kang Asep, Subang memiliki potensi besar dalam bidang peternakan. Dukungan dari pemerintah pusat diharapkan mampu memaksimalkan potensi tersebut demi pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan.

“Kami siap mendukung penuh program ini melalui kebijakan daerah, pembinaan peternak, serta kerja sama lintas sektor,” ujarnya mantap.

Ia juga berharap kegiatan sosialisasi ini mampu membuka cakrawala para pemangku kepentingan, akademisi, hingga masyarakat luas mengenai arah kebijakan nasional di sektor pangan.

Kang Asep optimis, program P2SDN tak hanya berdampak pada peningkatan produksi, tetapi juga membawa manfaat besar bagi kesejahteraan masyarakat dan ketahanan pangan nasional.

Acara ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh penting dari pusat dan daerah. Hadir di antaranya Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan RI, Sesditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Aster Kasad TNI AD, Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Mabes Polri, Deputi IV BIN, serta jajaran pimpinan daerah seperti Dandim 0605 Subang, Kapolres Subang, Kadis Peternakan Keswan Subang, Camat Subang, dan para lurah dari Parung serta Dangdeur.

Mahasiswa ITB Ubah Limbah Desa Jadi Pupuk dan Eco-Enzyme Bernilai

pengelolaan limbah organik desa
Foto: itb.ac.id

Subang – Dua himpunan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) menggandeng tangan untuk aksi nyata. HIMABIO “Nymphaea” dan HIMAMIKRO “Archaea” menjejakkan langkah ke Desa Cupunagara, Kabupaten Subang, membawa ilmu dan semangat perubahan.

Mereka tak datang hanya untuk melihat. Dipimpin oleh M. Luqman Dzaky, mahasiswa Biologi angkatan 2021, sembilan mahasiswa menjalankan pengabdian masyarakat yang menyasar langsung persoalan mendesak: limbah organik yang tak terkelola.

Desa Cupunagara belum memiliki sistem pembuangan sampah yang layak. Sisa makanan, sayuran, dan buah kerap dibuang sembarangan atau dibakar, menimbulkan risiko pencemaran lingkungan dan kesehatan.

Melalui pendekatan berbasis sains Biologi dan Mikrobiologi, tim mahasiswa menawarkan solusi ramah lingkungan. Lewat lokakarya dan penyuluhan, mereka mengajak warga mengelola limbah organik menjadi pupuk cair dan eco-enzyme yang bermanfaat bagi pertanian.

Pelatihan dilakukan secara langsung dan interaktif. Warga diajak membuat pupuk cair dari rebung, gula merah, air kelapa, dan EM4. Mereka juga mempelajari cara fermentasi limbah buah dan sayur untuk menghasilkan eco-enzyme.

Sasaran kegiatan mencakup petani, ibu rumah tangga, tokoh masyarakat, kader lingkungan, hingga kelompok tani lokal. Semangat warga sangat terasa, terutama saat praktik membuat pupuk dan cairan ramah lingkungan itu.

“Antusiasme warga luar biasa sejak hari pertama kami datang,” ujar Luqman. “Mereka menerima kami dengan hangat dan terbuka. Ini pengalaman yang sangat berkesan.”

Program ini menjadi bagian dari visi jangka panjang HIMABIO ITB dalam membangun desa binaan melalui pendekatan community development. Tak berhenti di pelatihan, pengolahan limbah terus berjalan bersama warga.

Pupuk cair hasil olahan kini mulai digunakan di lahan pertanian. Implementasi pertamanya dilakukan pada Minggu, 11 Mei 2025. Sebuah langkah kecil yang berpotensi menumbuhkan perubahan besar.

Selain mendukung pertanian ramah lingkungan, program ini membuka peluang ekonomi baru. Produk olahan limbah organik berpotensi dikembangkan menjadi usaha mikro, memperkuat perekonomian desa.

“Ini bukan hanya solusi sesaat. Kami berharap program ini terus berkelanjutan dan bermanfaat untuk lebih banyak pihak ke depan,” tutup Luqman penuh harap.

Tag:

Jam Malam Pelajar Diberlakukan di Jabar: Subang Bergerak, Demi Generasi Panca Waluya

jam malam pelajar Jawa Barat
Foto : RRI/Ruslan Effendi)

Subang – Mulai Minggu malam, 1 Juni 2025, udara Subang terasa berbeda. Bukan hanya karena malam yang lebih lengang, tapi juga karena langkah tegas Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam menjaga kedisiplinan dan keamanan pelajar: jam malam resmi diberlakukan.

Langkah ini tak datang tanpa dukungan. Patroli gabungan langsung digelar, dipimpin oleh Kapolsek Subang AKP Endang Suganda. Turut serta dalam giat ini adalah TNI dari Koramil 0501/Subang, Polsek Subang, Satpol PP Kecamatan Subang, serta UPTD Pendidikan.

AKP Endang menegaskan, seluruh unsur Porkopimcam Subang sigap menindaklanjuti Surat Edaran Gubernur Jawa Barat. Tujuan utamanya jelas: menciptakan lingkungan yang aman, kondusif, dan mendukung tumbuh kembang pelajar secara optimal.

Jam malam ini tidak main-main. Berlaku bagi semua siswa dari jenjang SD hingga SMA/SMK se-Jawa Barat, sesuai Surat Edaran Gubernur Jabar NOMOR: 51/PA.03/DISDUK. Aturan ini merupakan bagian dari misi besar membentuk Generasi Panca Waluya, yakni generasi sehat, cerdas, berakhlak, produktif, dan berdaya saing.

Batas waktunya dimulai pukul 21.00 WIB hingga 04.00 WIB. Di luar jam itu, para pelajar diharapkan tetap berada di rumah, kecuali jika ada keperluan mendesak yang mendapat izin dari orang tua.

Kapolsek berharap, dengan diberlakukannya jam malam, siswa lebih fokus pada kegiatan belajar dan pengembangan diri. Selain itu, ini juga menjadi langkah preventif agar mereka tak terjerumus dalam aktivitas yang berisiko.

Dengan semangat bersama, Kapolsek Subang mengajak seluruh pelajar di wilayah hukum Polsek Subang untuk mematuhi aturan ini demi masa depan yang lebih cerah dan aman.

Subang Siap Jadi Pilar Ketahanan Pangan Nasional Lewat Program Susu dan Daging

Ketahanan pangan Subang
Foto: www.tintahijau.com

Subang – Pemerintah Kabupaten Subang menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Fokus mereka tertuju pada percepatan produksi susu dan daging lewat Program P2SDN, yang kini menjadi fondasi utama Program Makan Bergizi Gratis (MBG), prioritas Presiden Prabowo Subianto.

Sekretaris Daerah Kabupaten Subang, H. Asep Nuroni, menyampaikan hal ini saat menghadiri sosialisasi P2SDN bersama Kementerian Pertanian di Balai Veteriner Subang. Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa Subang punya modal besar untuk mendukung program strategis ini.

“Program ini bukan sekadar soal pangan, tapi tentang masa depan. Kita bicara soal generasi yang sehat dan cerdas karena gizi yang merata,” ujar Kang Asep penuh keyakinan.

Subang memang tidak datang dengan tangan kosong. Wilayah ini memiliki lahan luas, sumber daya manusia peternak yang memadai, dan infrastruktur pendukung yang siap dimanfaatkan. Potensi ini jadi alasan kuat mengapa Subang siap turun langsung dalam implementasi program.

Menurut Kang Asep, kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah akan menjadi kunci kesuksesan. Jika berjalan mulus, produksi susu dan daging akan meningkat signifikan dan menopang pasokan MBG secara berkelanjutan.

Lebih dari sekadar peningkatan produksi, P2SDN juga dipandang sebagai strategi jangka panjang untuk menciptakan kemandirian pangan. Tujuannya jelas: memastikan anak-anak Indonesia, terutama usia sekolah, tumbuh sehat dan kuat secara merata.

Pemkab Subang siap menyinergikan P2SDN dengan kebijakan lokal. Mulai dari penyusunan regulasi, dukungan untuk peternak, hingga integrasi dengan dunia akademik dan komunitas, semua langkah diarahkan untuk menyukseskan program ini di lapangan.

“Kami ingin dampaknya terasa langsung. Produksi meningkat, pendapatan peternak naik, kesejahteraan warga pun ikut terdongkrak,” tambahnya.

Sosialisasi ini menjadi momen penting. Semua pihak—pemerintah pusat, TNI, Polri, BIN, hingga Forkopimda—hadir untuk menyamakan langkah dan visi besar dalam membangun kedaulatan pangan dari daerah.

Dengan semangat gotong royong dan potensi besar yang dimiliki, Kabupaten Subang siap tampil sebagai tulang punggung ketahanan pangan nasional. Sebuah langkah nyata menuju masa depan yang lebih sehat dan sejahtera bagi generasi penerus bangsa.

Kang Rey Serukan Semangat Pancasila: Rumah Besar Keberagaman Indonesia

Subang – Udara pagi di Halaman Kantor Bupati Subang mengiringi khidmatnya Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila, Senin 2 Juni 2025. Dalam balutan semangat merah putih, Bupati Subang Reynaldy Putra Andita tampil memimpin jalannya upacara sembari membacakan pidato resmi dari Kepala BPIP Republik Indonesia.

Bupati muda yang akrab disapa Kang Rey ini membawa pesan kuat: Pancasila bukan sekadar teks tua dalam buku sejarah. Ia adalah jiwa bangsa, denyut nadi Indonesia dalam menapaki jalan pembangunan, dari Sabang sampai Merauke, dari desa hingga kota.

“Pancasila adalah rumah besar keberagaman Indonesia,” seru Kang Rey dengan penuh semangat. Dari sila pertama sampai kelima, Pancasila mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk berpecah, tapi kekuatan untuk bersatu.

Tak berhenti di seruan semangat, Kang Rey juga menyentuh akar persoalan bangsa hari ini. Ia menekankan pentingnya menjadikan Pancasila sebagai fondasi dalam pendidikan, ekonomi, birokrasi, hingga ruang digital yang kini menjadi panggung besar kehidupan masyarakat.

“Indonesia harus maju, bukan hanya secara teknologi, tapi juga secara moral,” tegasnya, menandai pentingnya karakter dan nilai dalam setiap langkah kemajuan.

Dalam kesempatan itu, ia menaruh perhatian besar pada pendidikan ideologis sejak dini. Juga pada pelayanan publik yang adil, ekonomi yang memberdayakan rakyat, serta budaya digital yang menjunjung etika dan toleransi.

Menutup pidatonya, Kang Rey mengajak warga Subang menjadikan Pancasila sebagai inspirasi sehari-hari. “Mari kita hayati Pancasila dalam setiap karya, dalam setiap langkah berbangsa dan bernegara,” ucapnya dengan harap.

Upacara ini juga dihadiri jajaran penting Kabupaten Subang. Mulai dari Wakil Bupati, Ketua DPRD, Forkopimda, Sekda, para staf ahli, camat, hingga tokoh masyarakat dari berbagai latar belakang. Semua bersatu dalam semangat yang sama: menjaga Pancasila tetap hidup di tengah zaman yang terus bergerak.

Jam Malam Pelajar di Purwakarta dan Subang: Disiplin atau Batasan Kreativitas?

jam malam pelajar Purwakarta dan Subang
Foto: www.pikiran-rakyat.com

Jam Malam Resmi Berlaku, Petugas Turun ke Jalan
Mulai 1 Juni 2025, pelajar di Kabupaten Purwakarta dan Subang tak lagi bebas berkeliaran di malam hari. Pemerintah daerah menetapkan jam malam bagi siswa SD hingga SMA, berlaku mulai pukul 21.00 hingga 04.00 dini hari.

Di Purwakarta, razia malam pertama dipimpin langsung oleh Bupati Saepul Bahri Binzein. Razia ini menindaklanjuti Surat Edaran Gubernur Jawa Barat Nomor 51/PA.03/DISDIK tentang Generasi Panca Waluya Jawa Barat Istimewa.

Razia Tak Main-Main, Orang Tua Langsung Ditegur
Petugas gabungan menyisir berbagai lokasi, termasuk Taman Balarea dan jalan-jalan kecil. Anak-anak yang kedapatan melanggar langsung dicatat, sementara orang tua mereka mendapat teguran lisan dari bupati.

“Anak-anak ini akan kita bina. Orang tuanya akan kami beri surat peringatan,” tegas Binzein. Ia tak ingin wilayahnya dilanda “tsunami moral” akibat kurangnya pengawasan terhadap anak-anak.

Pengecualian Khusus dan Perluasan Razia
Jam malam tak berlaku pada hari libur sekolah, asalkan pelajar ditemani orang tua. Mereka yang terlibat dalam kegiatan keagamaan atau sosial resmi pun diperbolehkan keluar malam dengan surat izin orang tua.

Tak hanya pusat kota, wilayah pinggiran dan tempat hiburan seperti kafe juga jadi target razia. Pemerintah ingin memastikan tak ada celah bagi pelajar untuk lolos dari pengawasan.

Gubernur Turun Langsung di Subang
Di Kabupaten Subang, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memimpin langsung razia bersama Bupati Reynaldy Putra Andita Budi Raemi. Kepala Dinas Pendidikan setempat menyebut kebijakan ini penting demi mencegah pelajar terjerumus pada pergaulan bebas.

Sebagai pelengkap aturan, waktu masuk sekolah pun dimajukan menjadi pukul 06.00. Dengan begitu, pelajar diharapkan tidur lebih awal dan tak lagi berkegiatan larut malam.

Kritik dari Mahasiswa: Kreativitas Bisa Terbatas
Namun, tak semua pihak sepakat. PMII Cabang Purwakarta menilai kebijakan ini justru merugikan pelajar. Menurut mereka, pembatasan malam hari dapat menghambat kreativitas dan kebebasan berekspresi.

“Jam malam ini tidak menjawab kebutuhan pelajar. Justru akan membatasi ruang mereka untuk berkembang,” kata Ketua PMII Purwakarta, Ali Akbar, dalam pernyataannya.

Kongres Askab Subang 2025: Langkah Nyata Menuju Sepak Bola Berprestasi

Kongres Tahunan Askab PSSI Subang 2025
Foto: www.mediapatriot.co.id

Subang – Kongres Tahunan Askab PSSI Subang 2025 resmi digelar di Aula H. Oman Sachroni, Pemda Subang, pada Sabtu (31/5/2025). Agenda tahunan ini menjadi panggung penting bagi insan sepak bola Subang untuk melakukan evaluasi dan perencanaan program kerja ke depan.

Ketua Askab PSSI Subang, Hendra Purnawan, menekankan bahwa kongres ini bukan sekadar rutinitas, tetapi kewajiban strategis untuk memperkuat fondasi organisasi. Dengan mengusung tagline “Membangun Sepak Bola Rakyat Menuju Sepak Bola Prestasi”, kongres ini diharapkan mampu menjadi pemantik semangat pembinaan sepak bola sejak akar rumput.

Sekretaris Jenderal Asprov PSSI Jawa Barat, Muhammad Fahri Hasan, turut hadir dan memberikan dukungannya. Ia menegaskan bahwa Asprov siap menjadi fasilitator serta mediator dalam mendorong kemajuan sepak bola di Jawa Barat. Soliditas dan kekompakan di tubuh Askab Subang, menurutnya, adalah kunci utama untuk melesat lebih tinggi.

Wakil Bupati Subang sekaligus Dewan Pembina Askab, H. Agus Masykur Rosyadi atau Kang Akur, menyampaikan pentingnya kongres ini sebagai ruang evaluasi yang sehat. Menurutnya, pencapaian masa lalu harus menjadi standar minimum dalam menyusun langkah prestasi ke depan. Askab tidak boleh berjalan mundur.

Kang Akur juga menyoroti perubahan paradigma. Sepak bola bukan lagi sekadar hobi, tapi telah menjadi jalan hidup dan sumber kesejahteraan. Melalui pembinaan yang serius, Kabupaten Subang diyakini mampu mencetak atlet yang tak hanya berbakat, tapi juga siap bersaing di tingkat provinsi hingga nasional.

Komitmen Askab PSSI Subang dalam mencetak prestasi dibuktikan lewat berbagai turnamen pembinaan seperti Piala Soeratin dan Liga Pelajar. Turnamen ini menjadi wadah strategis dalam membentuk karakter dan kemampuan anak-anak yang bermimpi menjadi pemain profesional.

Menutup sambutannya, Kang Akur berharap Kongres Askab Subang 2025 bisa melahirkan kebijakan yang lebih matang dan terarah. Terutama dalam menghadapi ajang besar seperti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Barat. Targetnya jelas—minimal tembus final.

Subang Dukung Penuh Program Nasional Susu dan Daging, Kang Asep: Potensi Peternakan Harus Dioptimalkan!

Program P2SDN Subang
Foto: fokuspriangan.id

Subang Siap Berlari Kencang di Jalur Peternakan

Balai Veteriner Subang mendadak jadi titik awal lompatan besar sektor peternakan nasional. Pada Senin, 2 Juni 2025, hadir para tokoh penting dan pemangku kebijakan dalam kegiatan Sosialisasi Program Percepatan Peningkatan Produksi Susu dan Daging Nasional (P2SDN).

Program ini bukan sekadar agenda tahunan. Ia merupakan bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang terwujud nyata lewat gerakan Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dukungan Subang untuk Ketahanan Pangan

Kehadiran Sekretaris Daerah Subang, H. Asep Nuroni, yang akrab disapa Kang Asep, menegaskan komitmen kuat Pemkab Subang. Ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada Kementerian Pertanian dan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan atas langkah strategis ini.

Menurutnya, pelaksanaan P2SDN di Kabupaten Subang bukan hanya mendongkrak sektor peternakan, tapi juga menggerakkan roda ekonomi lokal.

Potensi Besar yang Siap Diolah

“Kabupaten Subang punya modal besar di bidang peternakan. Dengan sinergi bersama Kementerian Pertanian, potensi ini akan lebih maksimal,” ucap Kang Asep dengan penuh keyakinan.

Pemkab Subang tak ingin program ini hanya berakhir sebagai seremoni. Dukungan akan mengalir lewat kebijakan, pembinaan peternak, dan kolaborasi lintas sektor.

Sinergi Nasional Demi Kemandirian Gizi

Kang Asep menegaskan pentingnya pemahaman semua pihak terkait arah kebijakan nasional. Baik stakeholder, akademisi, maupun masyarakat luas, diharapkan mampu menyatu dalam semangat meningkatkan produksi susu dan daging.

Tujuannya jelas: menciptakan ketahanan pangan nasional yang tangguh dan merata.

Hadirkan Banyak Tokoh, Tunjukkan Seriusnya Program

Acara ini turut dihadiri sejumlah pejabat tinggi. Di antaranya Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Sesditjen, Aster Kasad TNI AD, serta perwakilan dari Mabes Polri dan BIN. Unsur daerah pun tak ketinggalan—termasuk Dandim, Kapolres, hingga para lurah setempat.

Kolaborasi lintas sektor ini menegaskan: P2SDN bukan sekadar program, tapi langkah strategis menuju masa depan pangan yang lebih mandiri.

Tegas! 10 ASN Subang Terancam Dipecat, Bupati Kang Rey Siap Reformasi Total

ASN Subang dipecat karena indisipliner
Foto: jabar.tribunnews.com

Subang – Reformasi birokrasi di Kabupaten Subang mulai digerakkan dengan langkah tegas. Sebanyak 10 Aparatur Sipil Negara (ASN) terancam dipecat karena tidak disiplin menjalankan tugas. Bupati Subang, Reynaldy Putra Andita, yang akrab disapa Kang Rey, menyampaikan hal ini langsung saat briefing staf di Aula Oman Syahroni, Senin (2/6/2025).

Kang Rey menyebut keresahannya berawal dari masih maraknya sikap indisipliner di kalangan ASN. Ia menekankan bahwa sebagai pemimpin, dirinya akan berdosa bila membiarkan hal itu terus terjadi tanpa tindakan nyata.

“Kalau saya diam, artinya saya ikut andil dalam ketidakbaikan itu,” ucapnya. Ia menyoroti ASN yang tidak bekerja, tapi tetap menerima gaji, bahkan ada yang diam-diam memiliki pekerjaan lain. Bagi Kang Rey, itu adalah bentuk korupsi paling nyata.

Reformasi ini, kata Kang Rey, bukan sekadar wacana. Ia telah mendapat restu dari Gubernur Jawa Barat dan Kementerian Dalam Negeri untuk bertindak tegas. Bahkan jika pelaku indisipliner adalah saudaranya sendiri, ia tak akan ragu mencabut status ASN-nya.

Dalam briefing tersebut, seluruh Kepala OPD dan Camat dikumpulkan bersama sekretarisnya. Tujuannya, menciptakan penilaian objektif. Menurut Kang Rey, ASN yang rajin tapi kurang mahir teknologi pun harus dinilai adil, begitu pula yang hanya mengisi absen tanpa bekerja.

Tekad Kang Rey makin terlihat saat ia mengungkapkan bahwa 10 ASN telah disidang dan segera diberhentikan karena melanggar aturan disiplin ASN dari BKN dan Kemendagri. Mereka terbukti tidak masuk kerja selama 28 hari dalam setahun atau bolos 10 hari berturut-turut.

Tak hanya soal sanksi, Kang Rey juga menyiapkan sistem penghargaan. Tunjangan dari ASN yang lalai akan dialihkan kepada ASN yang menunjukkan kinerja unggul, termasuk yang rela lembur demi pelayanan publik.

Ia ingin ASN di Subang bergerak cepat dalam merespons keluhan masyarakat, terutama yang disampaikan melalui media sosial. “Saya ingin setiap rupiah gaji ASN menghasilkan pelayanan yang dirasakan langsung oleh warga,” tegasnya.

Recent Posts