Beranda blog Halaman 100

Jembatan Jesse Park: Si Tua yang Dilupakan, Padahal Penuh Cerita!

Jembatan Jesse Park Subang
Foto: tintahijau.com

SUBANG – Di tengah riuh rendah Subang yang semakin ramai dengan beton dan bangunan menjulang, berdirilah sosok tua yang masih setia: Jembatan Jesse Park. Usianya? Sudah lebih dari delapan dekade! Tapi jangan salah, jembatan ini bukan sekadar tumpukan beton tua—dia saksi hidup yang diam-diam mencatat perjalanan kota dari masa ke masa.

Jembatan ini menghubungkan Jl. Wangsa Gofarana dengan Jl. Jendral A. Yani—dua jalur yang jadi urat nadi pergerakan warga Subang. Setiap hari, motor dan pejalan kaki melintasinya tanpa sadar mereka sedang berjalan di atas lembaran sejarah. Iya, sejarah—bukan sekadar cor-coran!

Kembali ke masa kolonial, Jesse Park adalah taman kota yang teduh dan asri, tempat warga Subang nongkrong santai sembari menatap air sungai Cipanggilingan yang mengalir tenang. Nah, jembatan ini dulunya adalah bagian dari kawasan taman itu. Kini taman tinggal kenangan, tapi jembatannya? Masih tegar berdiri, walau kondisinya bikin miris.

Salah satu elemen paling ikonik dari Jembatan Jesse Park adalah dua tiang lampu besi kuno. Masih kokoh berdiri, menantang zaman—seperti duo veteran yang enggan pensiun. Tiang-tiang ini dipercaya asli dari era awal pembangunan. Bukan cuma jadi penerang, tapi penjaga memori kota.

Sayangnya, kondisi di sekitar jembatan sekarang lebih mirip lokasi syuting film horor ketimbang destinasi sejarah. Jalan berlubang, genangan air setia hadir tiap hujan, dan semak belukar tumbuh bak hutan mini. Kalau jembatan ini bisa ngomong, mungkin dia sudah teriak, “Tolong aku, dong!”

Namun, harapan belum padam. Beberapa warga, terutama dari komunitas Paguyuban Sadulur Enhar, mulai bergerak. Mereka rajin bersih-bersih, mengecat ulang, dan mengajak warga peduli. “Jembatan Jesse Park bukan sekadar penghubung jalan, tapi penghubung antara masa lalu dan masa depan. Kalau kita biarkan rusak, berarti kita biarkan sejarah kita hilang,” ujar Pramono, salah satu warga dengan semangat membara.

Warga juga berharap pemerintah turun tangan, bukan hanya mengelus-elus rencana, tapi benar-benar memperbaiki jalan, merawat taman kota, dan menata aliran Kali Cipanggilingan agar kembali cantik dipandang mata.

Bayangkan jika kawasan Jesse Park ini disulap jadi destinasi wisata sejarah. Anak-anak bisa belajar sejarah, orang tua bisa nostalgia, dan Instagramers bisa… ya, foto-foto pastinya. Lengkapi dengan papan informasi, lampu yang proper, dan tempat duduk nyaman—boom! Jadilah taman sejarah kebanggaan Subang.

Toh, merawat Jembatan Jesse Park bukan cuma urusan infrastruktur. Ini soal merawat identitas. Soal menunjukkan bahwa Subang tak melupakan akarnya. Jangan biarkan jembatan berusia 80 tahun lebih ini pelan-pelan dilupakan. Jangan biarkan sejarah dibungkam semak liar dan jalan berlubang.

Sudah saatnya Subang menyapa kembali warisannya yang diam tapi berbicara banyak. Karena, hei… siapa lagi yang akan peduli kalau bukan kita?

Berita ini bersumber dari tintahijau.com dengan judul asli “Jembatan Jesse Park Subang, Saksi Bisu Sejarah Kota Subang Era Belanda yang Butuh Perhatian Serius”

“Tepuk Tangan Setengah Hati” untuk Kang Ray: Gerindra Komentari 100 Hari Pemerintahan Subang

Kritik 100 hari kerja Bupati Subang
Foto: Kritik 100 hari kerja Bupati Subang

SUBANG – Dalam sebuah unggahan yang lebih mirip stand-up comedy politik ketimbang siaran pers biasa, akun resmi Partai Gerindra Subang sukses bikin publik melongo dan mikir—sambil senyum kecut. Mereka mengulas 100 hari kerja duet Bupati Reynaldi Putra dan Wakilnya Agus Masykur… dengan gaya yang, yah, cukup “nggigit tapi manis.”

Dalam video yang tayang di Instagram pada Sabtu (7/6/2025), Gerindra menyajikan narasi penuh ironi. “Tepuk tangan setengah hati,” katanya, untuk Kang Ray—sapaan akrab Bupati Reynaldi—yang katanya rajin turun ke lapangan, wara-wiri ke 253 desa dan kelurahan, tanpa protokoler rempong.

“Langsung dengerin aspirasi warga tanpa perantara, rajin live TikTok, hadir terus. Dua kali seminggu katanya, biar makin dekat sama rakyat. ASN yang malas kerja? Bye! Langsung ditundak,” begitu narasi kocak namun nyentil dalam video tersebut. Jalan mulai dibenerin, kios mulai ditata, warga diajak ngobrol lewat program Nganjang Ka Warga. Sekilas, Kang Ray ini seperti superhero lokal yang baru naik daun.

Namun, pujian ini tak lama kemudian berubah jadi “tamparan halus”—yang bikin meringis. Narasi dilanjutkan, “Masih ada PR nih Pak Bupati, jangan buru-buru senang dulu. Soalnya kepuasan kinerja bupati itu harusnya sejalan sama kerja OPD-nya kan?”

Nah, inilah bagian serunya. Gerindra menyebut beberapa zona merah di balik euforia 100 hari Kang Ray:

  • Pelayanan publik? Belum merata, terutama di puskesmas dan kecamatan.
  • Program pelatihan Disnakertrans yang sempat viral? Masih belum ngegas juga.
  • Anggaran Dinas PU? Katanya besar, tapi penyerapannya masih malu-malu.
  • Pengangguran? Tetap tinggi, walau pabrik-pabrik udah mulai kepanasan.
  • Dana BOS? “Bikin geleng-geleng kepala,” kata narasi, sambil menyeruput kopi mungkin.

Dan puncaknya, Rumah Sakit Ciereng. Lagi-lagi soal “pelayanan dan pelayanan lagi.” Keluhan warga masih berseliweran di komentar, warung kopi, bahkan di selasar rumah sakit.

Di akhir video, Gerindra menyampaikan pesan pamungkas: “Kang Ray udah on the track, tapi mesin di bawahnya juga harus ikut. Nggak bisa Subang 3 sendirian.” Sebuah sindiran manis untuk para OPD yang tampaknya masih pemanasan… atau malah belum nyalain mesin?

Sampai artikel ini ditulis, belum ada respons resmi dari pihak Pemkab Subang. Tapi satu hal jelas: meskipun semangat Kang Ray diapresiasi, rakyat masih menanti kinerja timnya yang lebih ‘ngegas’ dan nggak cuma jadi penonton di tribun birokrasi.

Berita ini telah dimuat berdasarkan sumber dari tintahijau.com dengan judul asli “Gerindra Sentil 100 Hari Kerja Bupati Subang: ‘Kang Ray On Track, Tapi Mesin di Bawah Masih Lemot’ – Defri Ardiansyah, Sabtu 7 Juni 2025.”

Radio Benpas 98,2 FM: Dari Siaran Perjuangan Jadi Bintang Digital Subang

Radio Benpas Subang
Foto: tintahijau.com

Subang – Selamat datang di frekuensi nostalgia dan inovasi, tempat di mana suara masa lalu bertemu dengan ritme masa kini—ya, inilah Radio Benpas 98,2 FM Subang, radio yang tak hanya menua dengan anggun, tapi juga menari di atas gelombang digital!

Sudah sejak 21 Juli 1966, Radio Benpas jadi teman akrab warga Subang. Awalnya sih bukan seperti sekarang—radio ini dulunya bernama Radio Amatir Kodim 0605 Subang. Tapi jangan salah, meski berstatus “amatir”, semangatnya sudah seperti penyiar veteran!

Nama “Benpas” sendiri bukan sembarang singkatan. Benteng Pancasila, begitu asal usulnya, lahir di masa rawan pasca G30S/PKI. Bayangkan saja, radio ini jadi corong TNI dan pemerintah untuk mengobarkan semangat nasionalisme dan menanamkan nilai-nilai Pancasila. Jadi, sebelum viral itu jadi tujuan, mereka sudah sibuk menyebarkan ideologi negara.

Tapi Benpas bukan tipe radio yang stuck di masa lalu. Ia berkembang seperti anak muda yang update, tapi tetap sayang orang tua. Kini, Radio Benpas tampil kekinian lewat siaran streaming, aplikasi mobile, media sosial, hingga YouTube. Jadi buat yang alergi sama radio jadul, tenang… Benpas sudah masuk zaman digital, kok!

Setiap hari, gelombang udara Benpas penuh warna. Dari berita lokal yang panasnya bisa menyaingi gosip komplek, hingga talkshow edukatif yang bikin otak berisi tapi tetap asik. Ada juga program “Nyunda Heula” yang menyuguhkan kearifan lokal khas Sunda—karena Subang tanpa bahasa Sunda tuh ibarat nasi tanpa sambal, hambar!

Tak hanya itu, Benpas juga siarkan kegiatan bupati, rapat DPRD, dan info pelayanan publik. Masyarakat yang belum akrab dengan sinyal internet tetap bisa update info kekinian lewat siaran ini. Jadi, siapa bilang radio kalah sama WiFi?

Yang bikin makin keren, Radio Benpas bukan cuma jago cuap-cuap. Mereka juga aktif di dunia nyata! Mulai dari cek kesehatan gratis, pelatihan penyiaran, lomba podcast, hingga workshop literasi media. Istilahnya, dari udara ke daratan, mereka tetap on fire!

Berkantor di Jl. Letjen S. Parman No.5, Subang, Radio Benpas kini tak cuma sekadar pemancar suara, tapi simbol Subang itu sendiri. Di tengah keramaian konten medsos, Benpas hadir seperti wedang jahe di malam hujan—menghangatkan, menyehatkan, dan bikin tenang.

Mau tahu lebih lanjut atau sekadar nyimak suara khas penyiar Benpas? Langsung saja mampir ke aplikasi Benpas 98.2 FM di Play Store, atau follow mereka di Instagram @radiobenpassubang. Siapa tahu, kamu ketagihan dengerin dan malah jadi penyiar dadakan!

Berita ini dimuat berdasarkan sumber dari Tintahijau.com berjudul “Radio Benpas 98,2 FM Subang, Dari Suara Perjuangan ke Media Informasi Modern”.
Redaksi, Sabtu, 7 Juni 2025

Tonggoh Brutal Cagak Ekspres: Saat Atlet Sepeda Subang Menyusuri Jalan Leucir nan Menantang!

Tonggoh Brutal Cagak Ekspres Subang
Foto: lampusatu.com

SUBANG – Sabtu pagi yang biasanya tenang di Subang, tiba-tiba berubah jadi lintasan penuh semangat dan adrenalin. Bukan karena lomba balap kerbau, bukan juga karena kirab budaya. Tapi karena ajang “Tonggoh Brutal Cagak Ekspres”, latihan gabungan (latgab) dari Cabang Olahraga Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) Kabupaten Subang yang berkolaborasi dengan komunitas balap sepeda setempat.

Event yang digelar tanggal 7 Juni 2025 ini sukses membuat puluhan pesepeda, dari yang junior sampai senior, berkeringat manis sambil memerah pedal sepanjang 15 kilometer. Dimulai dari Jalan Raya Alun-alun Subang dan berakhir heroik di depan Kantor Kecamatan Jalancagak. Sebuah rute yang bukan hanya panjang, tapi juga punya tanjakan manja dan turunan curam yang bikin betis cenat-cenut.

Dan yang bikin suasana makin nyess di hati, jalanan tempat para atlet ini beraksi katanya “leucir” alias mulus licin tanpa jebakan lubang! “Hatur nuhun pisan kepada Pak Gubernur Dedi Mulyadi (KDM) dan Pak Bupati Subang (Kang Rey). Jalannya bagus dan leucir. Tapi ada juga yang retak-retak, mohon disegerakan tambalnya,” ujar Pupun Purnama, Ketua ISSI Subang dengan nada syahdu namun sarat makna.

Peserta tak hanya gowes santai, mereka berpacu dengan waktu, menantang diri dan jalur yang kadang ramah kadang jahat. Trek lurus, naik, turun, berbelok tajam – ibarat jalan cinta yang penuh rintangan, tapi tetap ditempuh dengan semangat juang.

Tak hanya sekadar latihan, menurut Pupun, ajang ini akan menjadi agenda rutin. Bukan cuma buat menjaga silaturahmi, tapi juga jadi arena pencarian bibit unggul atlet balap sepeda Subang untuk Porprov 2026. “Mental juara itu harus dilatih sejak dari pedal pertama,” katanya sambil membetulkan helm dengan gaya khas atlet sepeda sejati.

Dan siapa juaranya? Nah ini dia, dalam kelas men U-19 (Junior), sang juara adalah Issa Abdulahns, disusul Arif Nugraha. Di kelas Open U-19 (semua jenis sepeda), podium pertama dihuni oleh Denis Darmawan, kedua Uzhtomz, dan tempat ketiga Septian Mugi.

Sebuah gelaran yang bukan hanya bikin Subang tambah semarak, tapi juga jadi bukti bahwa semangat bersepeda dan semangat berprestasi bisa menyatu indah di jalur leucir Jalancagak.

Berita ini telah dimuat berdasarkan sumber dari lampusatu.com dengan judul asli “Jalannya ‘Leucir’ Dilintasi Peserta Balap Tonggoh Brutal Cagak Ekspres, ISSI Subang Apresiasi KDM dan Kang Rey” pada 7 Juni 2025.

DAHANA Tebar Sapi dan Domba, Warga Subang Kebagian “THR Daging” Jelang Iduladha

PT DAHANA salurkan hewan kurban

Subang — Ada aroma semangat berbagi yang menguar dari Desa Sadawarna, Subang! Jelang Hari Raya Iduladha 1446 Hijriah, PT DAHANA kembali menyalurkan hewan kurban untuk warga sekitar. Kali ini, 3 ekor sapi dan 22 ekor domba dilepas ke masyarakat. Bukan buat dijadikan peliharaan, tentu saja, tapi buat dinikmati jadi gulai, sate, dan semur khas Iduladha!

Acara penyerahan digelar pada Kamis, 5 Juni 2025, di area Nursery PT DAHANA, dan dihadiri oleh jajaran perusahaan serta para pemangku kepentingan dari Kecamatan Cibogo. Tampak hadir Manajer Komunikasi Perusahaan PT DAHANA, Yulia Hikmah, dan Ketua Majelis Kemakmuran Masjid (MKM) DAHANA, Ismail Kurbani.

Dalam sambutannya, Ismail menekankan bahwa kegiatan ini bukan hanya rutinitas tahunan, tapi juga bentuk rasa syukur dan kepedulian sosial dari keluarga besar DAHANA.

“Sebagai panitia Iduladha 1446 H Masjid DAHANA, kami mengucapkan terima kasih kepada perusahaan dan karyawan yang telah mempercayakan penyaluran hewan kurbannya kepada kami. Semoga ibadah ini diterima oleh Allah SWT dan membawa keberkahan bagi semua, baik yang memberi maupun yang menerima,” ujar Ismail dengan penuh haru.

Tak sampai di situ, PT DAHANA pun memastikan distribusi hewan kurban berlangsung tertib. Tiga ekor sapi dan 22 domba tersebut akan dibagikan kepada masyarakat Desa Sadawarna dan sekitarnya. Lokasi penyembelihannya? Di sekitar Masjid DAHANA, tentu saja. Jadi jangan heran kalau hari itu suasana penuh semangat, tak kalah meriah dari pasar tumpah.

Yulia Hikmah turut menyampaikan bahwa kurban ini merupakan bagian dari komitmen tanggung jawab sosial perusahaan.

“Penyerahan hewan kurban ini adalah bentuk kepedulian kami kepada masyarakat yang selama ini telah mendukung keberlangsungan operasional perusahaan di Subang. Semoga membawa manfaat, mempererat tali silaturahmi, dan menjadi berkah bagi kita semua,” tutur Yulia.

Apresiasi pun datang dari berbagai penjuru. Kepala Desa Sadawarna, Nining Ratnaningsih, mewakili unsur Muspika Cibogo dan masyarakat, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada PT DAHANA atas konsistensi berbagi kepada warga setiap tahunnya. Ia juga berharap perusahaan terus berkembang dan sukses.

Tak ketinggalan, Letkol Sus. Aan Suhendar, Kepala Pembinaan Mental (Kabintal) Lanud Suryadarma, memberikan dukungan penuh.

“Semoga bantuan hewan kurban dari DAHANA dapat membawa keberkahan bagi masyarakat dalam menyambut Hari Raya Iduladha 1446 H,” pungkas Letkol Aan.

Jadi, kalau tahun ini warga Desa Sadawarna tersenyum lebih lebar, bisa jadi bukan karena diskon di pasar, tapi karena berkah dari PT DAHANA yang konsisten menebar manfaat. Semoga berkah kurban ini menyebar seperti aroma sate di pagi Iduladha!

Berita ini telah dimuat berdasarkan informasi dari KOTASUBANG.com, 6 Juni 2025.

Dendam di Malam Takbiran: Usai Didorong ke Sungai, Pria Ini Balas dengan Tiga Tikaman

Penusukan Subang malam takbiran
Foto: cirebon.tribunnews.com

SUBANG – Malam Takbiran seharusnya penuh takbir dan ketupat, tapi di Kelurahan Pasirkareumbi, Kecamatan Subang, justru berubah jadi malam yang takbir-takbir berdarah. Bayangkan, tiga sahabat yang tadinya satu meja—dan satu botol—berubah jadi cerita kriminal yang menggemparkan warga, Kamis malam (5/6/2025).

Korban bernama Heri Sudarsono, alias Bebek—bukan karena suka berenang di kali, tapi memang begitu panggilannya—harus terkapar usai ditusuk tiga kali oleh Cecep Mulyana (39), rekannya sendiri. Lokasi kejadian? Rumah si Bebek sendiri, tepat pukul 23.30 WIB. Iya, bukan jam sahur, tapi jam tikam!

Menurut Kapolres Subang, AKP Bagus Panuntun, semuanya bermula saat mereka—bersama satu teman lain bernama Mulyana alias Iteung—melangsungkan pesta miras jam 21.30 WIB. Saat itu, entah karena isi botol atau isi hati yang penuh dendam, terjadi cekcok. Bebek mendorong Cecep ke sungai Curug Lima. Dorrr! Splash!

Meski sempat bubar jalan setelah dilerai, Cecep rupanya belum bisa move on dari insiden nyemplung itu. Sekitar pukul 23.15 WIB, ia jalan kaki dengan niat balas dendam. Pisau? Oh tenang, bukan bawa dari rumah. Ia malah meminjam sebilah pisau dari perempuan misterius yang sedang potong sayur di pinggir jalan. Ngenes tapi niat!

Setibanya di rumah Bebek, Cecep disambut anak korban. Dengan gaya ala detektif, dia tanya, “Ayah kamu di mana?” Setelah tahu sang ayah sedang tidur pulas, Cecep langsung masuk, tanpa basa-basi. Tik! Tik! Tik! Tiga tusukan ke bagian perut langsung melayang.

Yang lebih dramatis? Semua disaksikan langsung oleh anak korban. Bayangkan trauma yang harus dibawa anak itu hanya karena satu malam takbiran yang salah arah.

Setelah aksinya, Cecep tidak kabur ke hutan atau bersembunyi di gunung. Ia malah langsung menuju rumah temannya, Gober (bukan dari kartun, ini asli), dan minta diantar ke Polres Subang. Sekitar pukul 23.50 WIB, ia menyerahkan diri, lengkap dengan pisau yang masih beraroma dendam.

Hingga berita ini diturunkan, Bebek masih dirawat intensif di RSUD Ciereng Subang. Rencananya, ia akan dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas lebih lengkap, kemungkinan besar ke RSHS Bandung.

Barang bukti? Lengkap! Mulai dari pisau berdarah, pakaian korban, pakaian pelaku, dan tentu saja—saksi hidup—anak korban. Polisi juga sudah melakukan olah TKP dan menyelidiki lebih lanjut soal motifnya. Meski tampak jelas: dendam ditambah miras, hasilnya bukan damai, tapi drama kriminal berdarah.

Berita ini telah tayang di TribunCirebon.com dengan judul Imbas Pesta Miras, Seorang Pria Tusuk Teman Sendiri, Pelaku Serahkan Diri ke Polres Subang, https://cirebon.tribunnews.com/2025/06/07/imbas-pesta-miras-seorang-pria-tusuk-teman-sendiri-pelaku-serahkan-diri-ke-polres-subang

Polres Subang Tebar Daging, Warga Sumringah: Kurban 20 Ekor Bikin Hati Lega!

Polres Subang bagikan hewan kurban
Foto: tintahijau.com

SUBANG – Di tengah semangat Idul Adha yang harum aroma sate dan tongseng, Polres Subang tak mau ketinggalan aksi mulia. Bukan cuma razia dan patroli, kali ini polisi turun tangan untuk… menyembelih hewan kurban! Ya, 10 sapi dan 10 domba sukses dikorbankan demi mempererat tali silaturahmi dan menebar keberkahan.

Acara penyembelihan digelar Jumat pagi, 6 Juni 2025, di Lapangan Voli Mapolres Subang. Wakapolres, KOMPOL Endar Supriyatna, dengan jaket dinas dan semangat membara, memimpin langsung prosesi penyerahan hewan kurban. Tidak ada peluit, tapi ada banyak senyum!

Para Pejabat Utama, perwira gagah, Kapolsek seantero Subang, hingga seluruh personel ikut memadati lokasi. Momen ini bukan hanya tentang daging, tapi tentang kasih sayang yang dibungkus plastik bening dan diikat tali rafia. Kalau biasanya warga deg-degan lihat polisi, kali ini mereka deg-degan nunggu giliran terima daging!

Dalam sambutannya, KOMPOL Endar mengajak semua untuk tak hanya berkurban daging, tapi juga ego. “Semangat berkurban adalah semangat untuk saling berbagi dan peduli,” ujarnya. Mantap, Pak Kompol! Nggak cuma tugas jaga malam, tapi juga jaga rasa sosial.

Daging kurban langsung didistribusikan ke masyarakat sekitar Mapolres. Nggak perlu pakai sirine, cukup pakai hati dan senyuman. Harapannya? Tentu saja agar jalinan antara Polri dan rakyat makin erat, seperti rendang yang nempel sama nasi hangat.

Kegiatan berlangsung tertib dan penuh khidmat. Meski tak ada upacara formal, suasana tetap sakral. Ini bukan sekadar potong sapi, tapi potong jarak antara institusi dan masyarakat.

Berita ini telah dimuat berdasarkan sumber dari TINTAHIJAU.com dengan judul asli Polres Subang Bagikan 20 Hewan Kurban di Momen Idul Adha 1446 H.

Idul Adha di Subang: Sapi Kurban, Sambutan Ngabret, dan Semangat Gotong Royong!

Bupati Subang Idul Adha 1446
Foto: mediajabar.com

Subang – Subang pagi itu hangat, bukan karena cuaca saja, tapi karena semangat Idul Adha yang membuncah di Masjid Al-Musabaqoh, Jumat (6/6). Bupati Subang H. Reynaldy Putra Andita alias Kang Rey, didampingi Wakil Bupati H. Agus Masykur Rosyadi, tampak khusyuk menjalankan Shalat Idul Adha bersama Forkopimda, pimpinan OPD, dan tokoh-tokoh penting Kabupaten Subang.

Dan tidak hanya datang membawa senyum, Kang Rey juga datang bawa “oleh-oleh”: seekor sapi kurban yang diserahkan secara simbolis kepada DKM Masjid. Sapi ini bukan sembarang sapi, tapi wujud cinta dan kepedulian dari Pemerintah Kabupaten Subang kepada masyarakat. Wah, sapi aja bisa jadi simbol persatuan!

Usai Shalat, Kang Rey buka suara. Dengan gaya khasnya yang santai tapi penuh makna, beliau mengucapkan selamat Idul Adha kepada seluruh warga Subang. “Ini hari yang penuh hikmah, bro dan sis! Hari besar umat Islam yang mengajarkan kita keikhlasan, ketakwaan, dan tentu saja—kepedulian sosial,” ujar Kang Rey, dengan semangat ala orator milenial.

Tema yang diusung pun tak kalah keren: Ngawangun Bareng Masyarakat dengan Berbagi Kebahagiaan dan Kepedulian. Menurut Kang Rey, pembangunan Subang bukan panggung solo karier. Harus duet, trio, bahkan orkestra bareng seluruh masyarakat. “Pembangunan enggak bisa sendirian. Harus bareng-bareng, guys!” katanya, bikin hadirin senyum-senyum.

Dalam waktu 100 hari saja, Kang Rey sudah tancap gas! Jalanan diperbaiki, program “Ngabret Nyaah ka Indung” untuk lansia digalakkan. Semua itu demi Subang yang lebih humanis, bukan hanya asphalt-based society. “Dengan semangat Ngabret, kita bisa! Subang maju, rakyat bahagia, dan jangan lupa—religius juga,” tambahnya, seperti host acara motivasi Ramadan.

Tapi tunggu dulu, ceramahnya belum selesai. Kang Rey menambahkan bahwa Idul Adha ini bukan hanya soal daging dan sate. Ini momentum perkuat ukhuwah, bangun moral, dan tanam karakter. “Bangun jalan penting, tapi bangun akhlak? Wajib!” ucapnya mantap.

Menjelang akhir, beliau menyelipkan doa yang menyentuh hati. “Semoga 1.169 jamaah haji asal Subang diberi predikat haji mabrur dan mabruroh. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin,” tutupnya sambil tersenyum.

Oh ya, untuk yang penasaran siapa imamnya, beliau adalah Saeful Malik, S.Ag. Khutbahnya disampaikan oleh Dr. H. Badruzaman, S.Ag., M.Pd yang menyampaikan kisah inspiratif Nabi Ibrahim AS—sosok legendaris yang rela mengorbankan segalanya demi ketaatan.

Berita ini dimuat berdasarkan sumber dari mediajabar.com dengan judul Bupati Subang Laksanakan Shalat Idul Adha, Tegaskan Pembangunan Subang Tidak Hanya Infrastruktur.

Qurban Asyifa Peduli: Dari Subang Melanglang Buana ke Palestina dan Madagaskar!

Qurban Asyifa Peduli 2025
Foto: tintahijau.com

Subang – Siapa sangka, dari kandang domba di Subang, hewan qurban bisa sampai ke tanah Madagaskar? Eits, bukan sulap bukan sihir, tapi itulah aksi nyata dari Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah lewat program Assyifa Peduli. Menyambut Hari Raya Iduladha 1446 H, mereka bikin gebrakan yang bikin bulu kuduk merinding… karena haru dan kagum, tentu saja.

Jumat, 6 Juni 2025, jadi hari yang penuh aroma takbir dan… rumput segar. Sebanyak 437 ekor domba dan 46 sapi siap dikurbankan. Tapi tunggu dulu, ini bukan qurban biasa. Ini Qurban Berdampak! Tema kerennya bukan sekadar gimmick, tapi benar-benar menembus batas lokal hingga lintas benua.

Ustadz Ikhsan Nuryamin, sang Kepala Program Assyifa Peduli, tampil bak komentator bola saat menjelaskan, “Alhamdulillah, antusias masyarakat Subang dan para donatur luar biasa. Lebih dari 400 domba, puluhan sapi… semua berkat kepercayaan umat.” Waduh, kalau qurban bisa dapat penghargaan, ini pasti masuk nominasi Best Global Outreach!

Hewan-hewan qurban ini tak cuma disembelih di lingkungan pesantren. Mereka juga dikirim ke daerah-daerah pelosok macam Nusa Tenggara Timur, bahkan melipir jauh ke Palestina, Suriah, dan Madagaskar. Wah, ini qurban atau misi diplomasi daging ya?

Bukan cuma jumlah hewan yang bikin geleng-geleng kepala, tapi juga dana yang berhasil dihimpun. Totalnya? Rp 2,36 miliar! Dengan 940 orang pekurban, termasuk 437 penqurban domba dan 235 sapi. Ini bukan sekadar angka, tapi bukti bahwa semangat berbagi sedang mekar-mekarnya.

Belum cukup sampai situ, Assyifa Peduli juga menyisipkan program Sedekah Daging dan Sedekah Dzulhijjah—karena berbagi itu tak harus menunggu kaya, cukup menunggu Iduladha dan niat yang kaya.

Para santri, relawan, dan komunitas lokal turut ambil peran. Bukan sekadar memotong dan membagikan, mereka belajar tentang empati, kerja sama, dan tentunya, cara pegang golok yang benar. Semua jadi bagian dari pendidikan sosial yang menyentuh hati.

“Terima kasih kepada semua pekurban dan masyarakat yang sudah ikut andil. Semoga jadi amal jariyah yang terus mengalir,” ujar Ustadz Ikhsan dengan senyum penuh doa.

Berita ini telah dimuat berdasarkan sumber dari tintahijau.com, berjudul: Distribusi Hewan Kurban Asyifa Peduli Jangkau Warga Subang Hingga Palestina dan Madagaskar, Jumat, 6 Juni 2025.

Subang Ngabret Beraksi! TPS 3R, Sampah Plastik, dan Komitmen yang Tak Sekadar Basa-Basi

Sampah plastik Subang
Foto: metrobuana.co.id

Subang – Pagi yang biasa berubah jadi luar biasa di Halaman Kantor Bupati Subang, Kamis (5/6). Langit mungkin belum terlalu biru, tapi semangat para pejabat sudah menggebu! Kang Rey, sapaan akrab Bupati Subang Reynaldy Putra Andita, didampingi Wakil Bupati Agus Masykur Rosyadi alias Kang Akur, tampil sebagai Pembina Apel Bersama. Tapi bukan apel biasa, ini apel yang penuh aksi!

Hari itu, Subang resmi memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025. Temanya bukan kaleng-kaleng: “Hentikan Polusi Plastik.” Dan benar saja, setelah apel, bukan bubar, malah langsung gas aksi bersih-bersih! Tapi sebelum sapu dan kantong plastik keluar, ada yang tak kalah penting: tanda tangan—bukan di absen, tapi di kesepakatan keren.

Kesepakatan ini ditandatangani antara Pemkab Subang, Pusat Koperasi Pengelola Sampah Jawa Barat, dan PT Comestura Bentara Nusantara. Tujuannya? Mengubah sampah jadi berkah. Teknologi pengolahan di sumbernya, cuy! Gak cuma itu, ada juga kolaborasi dengan Universitas Mandiri Subang untuk menanamkan cinta lingkungan di sekolah-sekolah. Hebat!

Nah, sambil berdiri di atas podium, Kang Rey buka-bukaan soal fakta yang bikin dahi berkerut: setiap hari Subang memproduksi 600 ton sampah! Tapi yang bisa ditangani cuma separuhnya. Waduh! “Ini realitas yang kita hadapi,” ucap beliau dengan nada serius tapi tetap optimis.

Solusinya? TPS 3R alias Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle akan dibangun di 10 titik! Kang Rey punya misi: tahun depan, sampah beres di tiap kecamatan. Bukan janji palsu, tapi tekad yang digarap serius.

Menurut Kang Rey, persoalan sampah bukan cuma urusan pemerintah. Masyarakat harus ikut main peran! “Jalan bagus gak cukup, kalau pikiran kita masih jorok!” katanya sambil menyelipkan guyonan yang bikin senyum miris.

Bukti nyata? Honor petugas kebersihan yang sudah lama tak naik, akhirnya dinaikkan! Ini bukan cuma perkara gaji, tapi penghormatan bagi pejuang kebersihan yang sering tak terlihat.

Dan… aksi pun dimulai! Kang Rey dan Kang Akur turun langsung memimpin pasukan sapu lidi. Rute mereka bukan jalan santai biasa: dari Alun-Alun Subang, lewat Perempatan Atelir, menyusuri Wisma Karya, menyapa Masjid Agung, hingga berhenti di Lampu Satu. Satu kata: totalitas!

Diharapkan, ini bukan aksi satu hari. Tapi pemantik ledakan cinta lingkungan yang menyebar dari Kang Rey hingga warga paling pelosok. Karena Subang tidak hanya Ngabret dalam pembangunan, tapi juga Ngabret dalam menjaga bumi yang satu ini!

Recent Posts