suarasubang.com — Kopi asli Subang kini semakin dikenal dunia berkat kualitasnya yang sangat luar biasa. Meskipun rutin menembus pasar internasional, penyerapan produk ini di pasar domestik ternyata masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Subang menggelar Kabizza Fest 2026 untuk mengenalkan kopi lokal kepada masyarakat luas di Alun-alun Pagaden pekan lalu.
Kualitas Ekspor yang Diakui Dunia
Wakil Bupati Subang, Agus Masykur Rosyadi, menyatakan rasa bangganya terhadap komoditas unggulan ini pada Minggu (2/8/2026). Kopi asli Subang telah berhasil diekspor secara rutin ke wilayah Timur Tengah hingga Amerika Serikat. Hal tersebut membuktikan bahwa kualitas kopi dari tanah Subang sudah diakui oleh pasar global secara luas. Dengan demikian, beliau mengajak masyarakat untuk lebih bangga menikmati produk hasil bumi sendiri tanpa harus mencari dari daerah lain.
Ruang Kolaborasi dan Inovasi Pemuda
Kabizza Fest 2026 bukan sekadar pameran biasa, melainkan wadah strategis bagi kreativitas generasi muda Subang. Selain melihat pameran UMKM, para pengunjung juga dapat menyaksikan keahlian para barista lokal dalam meracik kopi. Pemerintah berkomitmen untuk terus membuka ruang kolaborasi bagi anak muda yang memiliki ide dan semangat tinggi. Namun, hambatan seperti akses permodalan tetap menjadi fokus utama pemerintah agar potensi ini berkembang menjadi kekuatan ekonomi nyata.
Hilirisasi dan Pemerataan di Wilayah Utara
Penyelenggaraan acara di Kecamatan Pagaden bertujuan untuk memeratakan pengembangan industri kopi ke wilayah utara Subang. Selama ini, pusat produksi dan promosi memang lebih banyak terfokus di kawasan selatan yang merupakan sentra perkebunan. Kepala Disparpora Subang, Nenden Setiawati, optimistis bahwa strategi hilirisasi ini akan memperkuat jati diri ekonomi daerah. Beliau juga mengundang para pengusaha kedai kopi dari 30 kecamatan agar menjadikan kopi lokal sebagai pilihan menu utama mereka.
Produktivitas Tinggi dengan Teknik Budidaya Modern
Saat ini, catatan ekspor biji kopi asal Kabupaten Subang telah mencapai lebih dari 1.000 ton dalam setahun. Untuk menjaga stabilitas pasokan tersebut, para petani di Kecamatan Cisalak terus meningkatkan produktivitas melalui metode sistem budidaya pagar kopi. Teknik penanaman rapat menyerupai pagar ini terbukti mampu mengoptimalkan hasil panen di lahan terbatas. Akhirnya, sinergi antara teknologi tani dan promosi kreatif diharapkan mampu membawa kopi asli Subang berjaya di rumah sendiri.








