Beranda Berita Subang Kisah Sukses Budidaya Jangkrik: Santri Subang Biayai Kuliah Sendiri

Kisah Sukses Budidaya Jangkrik: Santri Subang Biayai Kuliah Sendiri

budidaya jangkrik

Pondok Pesantren Al-Ikhlas Raudhatul Ullum di Subang kini menjadi sorotan berkat keberhasilannya mencetak wirausahawan muda. Salah satu sosok yang paling inspiratif adalah Suzamrin Sahadin Ardian (22), seorang santri asal Maluku yang sukses menjalankan budidaya jangkrik. Pemuda ini membuktikan bahwa dedikasi tinggi dapat menghasilkan kemandirian ekonomi meski di tengah kesibukan menuntut ilmu agama.

Suzamrin memulai usahanya pada awal tahun 2025 dengan modal yang sangat terbatas. Awalnya, ia hanya mencoba mengelola 3 boks jangkrik sebagai tahap percobaan. Namun, berkat ketekunannya, usaha tersebut kini berkembang pesat hingga mencapai 60 boks produksi.

BACA JUGA:  Resmi! Pabrik BYD Subang Mulai Produksi Kuartal I 2026

Keuntungan Ekonomi Budidaya Jangkrik

Masa panen komoditas ini tergolong sangat singkat, yakni hanya membutuhkan waktu sekitar 30 hingga 37 hari saja. Selain itu, perawatannya relatif mudah dan tidak memerlukan lahan yang luas untuk beroperasi. Suzamrin menjual hasil panennya kepada pengepul dengan harga berkisar antara Rp27.000 hingga Rp30.000 per kilogram.

Dari setiap boks berukuran 3×1 meter, ia mampu menghasilkan rata-rata 35 kilogram jangkrik siap jual. Pendapatan kotor dari seluruh boks miliknya kini mencapai Rp15 juta per bulan. Setelah dipotong biaya operasional, Suzamrin mengantongi keuntungan bersih sekitar Rp7,5 juta atau 50 persen dari total omzet.

BACA JUGA:  Pererat Sinergi Warga, Jumat Curhat Polsek Sagalaherang Digelar di Dayeuhkolot

Keberhasilan ini memiliki dampak yang sangat besar bagi kehidupan pribadinya. Sebagai seorang yatim piatu, Suzamrin kini mampu membiayai kuliahnya di Universitas Stekom Semarang tanpa bergantung pada orang lain. Ia juga berharap usahanya ini dapat memotivasi generasi muda di Subang untuk mulai berwirausaha karena pangsa pasarnya yang masih sangat luas.

Mencetak Santripreneur di Lingkungan Pesantren

Pimpinan pesantren, KH Atep Abdul Gofar, memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif para santrinya. Beliau menerapkan konsep Santripreneur untuk membekali lulusan dengan keterampilan ekonomi berbasis nilai syariah. Melalui program ini, para santri mendapatkan praktik langsung mulai dari bidang pertanian, peternakan ayam, hingga budidaya jangkrik.

BACA JUGA:  Harapan Baru Pasangan Lansia di Subang, Dua Bulan Hidup di Tenda Usai Rumah Ambruk

Pihak pesantren berharap program ini dapat melahirkan lulusan yang tangguh secara ekonomi. Selain menguasai ilmu agama, mereka diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat setelah lulus nanti. Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan spiritual, tetapi juga penggerak ekonomi umat yang nyata.