Beranda Berita Subang Atasi Krisis Sampah Subang: Ateng Sutisna Desak Reformasi Pengelolaan Total

Atasi Krisis Sampah Subang: Ateng Sutisna Desak Reformasi Pengelolaan Total

pengelolaan sampah di Subang

Anggota Komisi XII DPR RI, Ateng Sutisna, menyoroti tajam pengelolaan sampah di Subang. Beliau mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) segera mengambil langkah konkret untuk membenahi sistem yang ada. Menurut Ateng, tumpukan sampah saat ini bukan sekadar merusak pemandangan, melainkan mengancam kesehatan warga dan ekologi. Oleh karena itu, evaluasi total terhadap tata kelola persampahan sangat mendesak untuk dilakukan.

Fokus Pengurangan Sampah dari Hulu

Politisi Fraksi PKS ini mengingatkan bahwa sistem kumpul-angkut-buang sudah tidak relevan lagi. Kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang terbatas menuntut adanya strategi baru yang lebih efektif. Ateng mendorong agar fokus pengelolaan sampah di Subang dimulai dari tingkat rumah tangga dan desa.

BACA JUGA:  Kuliner Subang Kota: 5 Destinasi Rasa Paling Hits dan Autentik

Penyelesaian masalah harus terintegrasi dengan pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dini. Selain itu, Pemkab perlu memperbanyak fasilitas pemulihan material (Material Recovery Facility) di berbagai titik. Warga dan koperasi lokal juga harus dilibatkan untuk menghidupkan kembali bank sampah agar tercipta ekonomi sirkular yang menguntungkan.

Reformasi Anggaran dan Edukasi Masyarakat

Ateng menyadari bahwa keterbatasan APBD sering menjadi hambatan dalam penanganan masalah lingkungan. Namun, beliau menegaskan bahwa anggaran yang minim tidak boleh menjadi alasan untuk membiarkan kelalaian pengelolaan. Isu sampah harus menjadi prioritas utama dalam perencanaan anggaran daerah agar penanganan lebih maksimal.

BACA JUGA:  Raffi Ahmad Kepincut Ekraf Subang, Janji Orbitkan Produk Lokal ke Kancah Nasional

Selain dukungan fasilitas fisik, komitmen kebijakan yang kuat sangat diperlukan untuk perubahan ini. Pemkab didorong aktif mencari pendanaan alternatif melalui hibah maupun kemitraan swasta. Selanjutnya, edukasi kepada masyarakat mengenai pola hidup bersih harus terus digalakkan secara masif agar kesadaran kolektif terbentuk.

Jika reformasi menyeluruh tidak segera dimulai, dampak buruknya akan membebani generasi mendatang. Oleh karena itu, sekarang adalah saat yang tepat bagi Subang untuk berbenah demi lingkungan yang lebih sehat dan asri.

BACA JUGA:  Status Tanggap Darurat Banjir Subang Resmi Dicabut, Fokus Beralih ke Pemulihan