Persoalan tumpukan sampah di Subang kawasan perkotaan masih menjadi keluhan serius bagi warga. Padahal, pemerintah daerah telah menggelontorkan dana hingga miliaran rupiah untuk menyewa armada pengangkut yang lebih besar.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Subang tercatat mengalokasikan anggaran sekitar Rp1,6 hingga Rp1,8 miliar pada tahun 2025 dan 2026. Dana jumbo ini ditujukan untuk menyewa armada pengangkut dari pihak ketiga melalui sistem e-katalog.
Kabid Pengelolaan Sampah DLH Subang, Irwan, mengklaim skema penyewaan ini sebenarnya jauh lebih efisien. Pihaknya melakukan pembayaran berdasarkan volume muatan atau “ritasi”, bukan menggunakan sistem kontrak harian.
“Secara kalkulasi, kalau sewa itu sudah satu paket. Tidak perlu pusing memikirkan biaya supir, BBM, dan pemeliharaan,” ungkap Irwan menjelaskan keuntungan sistem tersebut.
Satu unit truk tronton sewaan diketahui mampu menampung kapasitas hingga 24 kubik sampah. Daya angkut raksasa tersebut setara dengan gabungan empat unit truk kecil milik DLH.
Terkendala Jalan Rusak Menuju TPA Jalupang
Namun, klaim efisiensi di atas kertas ternyata berbanding terbalik dengan kondisi nyata di lapangan. Tumpukan sampah masih sering terlihat menumpuk dan merusak pemandangan di berbagai sudut Kota Subang.
Menanggapi sorotan warga, pihak DLH berdalih bahwa keterlambatan pengangkutan bukan disebabkan oleh kurangnya jumlah armada. Hancurnya akses jalan menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jalupang dituding sebagai biang keladi utamanya.
Kerusakan infrastruktur jalan yang sudah dibiarkan sejak tahun 2021 ini menjadi kendala krusial. Truk-truk besar tersebut sering kali terjebak dan sulit melintas, terutama saat musim penghujan tiba.
“Akses jalan bisa dilihat sendiri, hancur. Apalagi kalau hujan, sudah repot. Terjadi penumpukan karena armada sering tertahan di jalan dan tidak bisa langsung pulang setelah mengirim sampah,” kata Irwan.
Pada akhirnya, anggaran miliaran rupiah yang telah dikeluarkan terkesan tidak memberikan dampak maksimal akibat buruknya infrastruktur. Di sisi lain, warga Subang terpaksa harus terus bersabar menghadapi aroma tak sedap dari sampah yang terlambat diangkut di lingkungan mereka.







