Beranda Berita Subang Program CSR Pendampingan Petani Subang: Dorong Swasembada Beras Organik

Program CSR Pendampingan Petani Subang: Dorong Swasembada Beras Organik

Program CSR Pendampingan Petani Subang

Program CSR Pendampingan Petani Subang yang diinisiasi oleh Aqua kini membuahkan hasil yang sangat menggembirakan bagi ketahanan pangan. Melalui inisiatif ini, para petani di Kampung Cikaret, Desa Pasanggrahan, berhasil mengurangi penggunaan pupuk kimia secara drastis. Selain itu, peningkatan produktivitas lahan ini turut memperkuat upaya swasembada beras di wilayah Jawa Barat.

Penghematan Biaya Produksi dan Peningkatan Hasil Panen

Sholeh, seorang petani lokal, membagikan pengalaman suksesnya dalam mengikuti program pendampingan ini. Ia sebelumnya harus menggunakan tujuh kuintal pupuk urea untuk setiap musim tanam. Namun, pemakaian urea tersebut kini berhasil ditekan hingga menjadi hanya empat kuintal saja berkat penerapan pupuk organik. Langkah ini sangat efektif membantu mengurangi beban biaya produksi yang selama ini memberatkan ekonomi para petani.

BACA JUGA:  Direktur Utama PT Dahana Hary Irmawan Raih Penghargaan The Best CEO 2025

Edukasi dan Kemandirian melalui Pupuk Cair Organik

Perusahaan berkolaborasi dengan mitra Human Initiative untuk membekali petani dengan pengetahuan teknis yang memadai. Kelompok tani mendapatkan pelatihan khusus mengenai pembuatan pupuk cair organik serta bimbingan intensif melalui sekolah lapang. Selanjutnya, Aqua mendistribusikan alat pres pupuk guna mendukung kemandirian operasional Kelompok Tani Organik Mandiri. Fasilitas tersebut memungkinkan petani memproduksi kebutuhan pupuk secara mandiri dengan kapasitas mencapai 800 liter per musim.

BACA JUGA:  Kang Rey Pimpin Rapat Taktis Penanganan Banjir Pantura di Pamanukan

Strategi Semi-Organik yang Berkelanjutan

Penerapan sistem secara bertahap merupakan kunci utama di balik keberhasilan program transisi lahan pertanian ini. Para petani menerapkan sistem semi-organik dengan proporsi penggunaan pupuk sebesar 50 persen terlebih dahulu agar mudah beradaptasi. Meskipun hasil produksi sempat menurun pada awal masa transisi, produktivitas justru meningkat secara signifikan setelah beberapa musim tanam. Oleh karena itu, pendekatan ini terbukti sangat membantu petani beralih ke metode yang lebih sehat tanpa risiko penurunan hasil yang drastis.

BACA JUGA:  Kasus Melahirkan di Toilet Pabrik dan Alarm Keras Perlindungan Buruh Hamil

Dampak Nyata bagi Produksi Gabah Nasional

Capaian positif tersebut tercermin dalam total produksi gabah di Subang tahun 2025 yang menembus angka satu juta ton. Keberhasilan ini tidak terlepas dari penerapan Integrated Farming System Aqua Berkelanjutan yang sangat terintegrasi. Program tersebut menyediakan akses air bersih untuk lahan seluas empat hektar sekaligus memberikan pendampingan teknis pertanian organik secara rutin. Akhirnya, praktik bisnis yang lestari ini terbukti mampu menjaga ekosistem sumber air sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal di Subang.