Pergi ke Ciater mandi air panas,
Pulangnya lewat Jalan Cagak.
Delapan nyawa tewas karena miras,
Oplosan maut bikin tergeletak.
suarasubang.com – Pantun di atas bukan sekadar rima penghibur, melainkan satire pahit bagi realitas yang sedang dihadapi Kabupaten Subang hari ini.
Belum kering air mata keluarga korban, tanah kuburan delapan warga kita masih basah, namun pertanyaan klasik itu kembali mencuat: Siapa yang sebenarnya paling berdosa?
Apakah ini murni “salah sendiri” karena kebodohan korban yang menenggak racun? Atau ada andil “salah aparat” yang gagal memberantas peredaran barang haram tersebut?
Narasi “Salah Sendiri”: Jalan Pintas Menutup Mata
Mudah bagi kita untuk menuding jari ke arah jasad yang kaku di kamar jenazah RSUD Ciereng. “Salah sendiri, siapa suruh minum?” atau “Itu akibat tidak sayang nyawa.”
Secara logika, argumen ini benar. Tidak ada yang menodongkan pistol memaksa para korban di Atelir untuk mencampur miras merk “Gembling” dengan serbuk energi. Itu adalah pilihan sadar.
Mereka memilih sensasi sesaat dengan mempertaruhkan nyawa. Dalam konteks moral dan agama, jelas mereka telah mengambil jalan yang salah.
Namun, berhenti pada kesimpulan “salah korban” adalah bentuk kemalasan berpikir. Jika kita hanya menyalahkan korban, kita membiarkan akar masalahnya tetap tumbuh subur, menunggu waktu untuk memanen nyawa berikutnya.
Narasi “Salah Aparat”: Dimana Fungsi Pengawasan?
Mari kita bicara jujur. Miras oplosan bukan barang gaib yang bisa muncul dan menghilang sesuka hati. Ia ada suplainya, ada peraciknya, ada penjualnya, dan ada jalur distribusinya.
Fakta bahwa “Gembling”—istilah lokal untuk miras oplosan—bisa didapatkan dengan mudah di warung-warung atau titik tertentu di Subang adalah tamparan keras bagi aparat penegak hukum dan pemerintah daerah.
Tragedi 8 nyawa ini membuktikan satu hal: Fungsi pencegahan dan pengawasan lemah.
Razia yang dilakukan setelah ada korban jiwa adalah tindakan “pemadam kebakaran”. Ia memadamkan api, tapi tidak mencegah kebakaran.
Polisi dan Satpol PP seharusnya bisa mencium aroma busuk peredaran ini jauh sebelum ia dituang ke gelas-gelas warga.
Jika barang mematikan ini bisa dibeli, apalagi (mungkin saja) semudah membeli kacang goreng, maka negara (dalam hal ini aparat) telah gagal melindungi warganya dari zat berbahaya.
Lingkaran Setan Supply dan Demand
Masalah miras oplosan di Subang adalah pertemuan mematikan antara edukasi yang rendah (sisi masyarakat) dan penegakan hukum yang (mungkin saja) setengah hati (sisi aparat).
Masyarakat kelas bawah mencari hiburan murah karena miras legal harganya selangit akibat pajak tinggi. Celah ini dimanfaatkan oleh mafia oplosan untuk menjual “racun berkedok minuman”.
Aparat tahu celah ini, namun seringkali aksi nyata baru terlihat masif ketika berita kematian sudah viral di media.
Berhenti Saling Tuding, Mulai Bertindak
Menyalahkan korban yang sudah meninggal tidak akan menghidupkan mereka kembali. Menyalahkan aparat sepenuhnya juga naif karena polisi tidak bisa menjaga setiap mulut warga 24 jam.
Namun, tanggung jawab terbesar tetap ada pada pemegang kekuasaan. Aparat harus “mengeringkan” sumbernya. Tutup pabrik oplosannya, penjarakan pengedarnya tanpa ampun, bukan sekadar menyita botol di warung kecil.
Bagi masyarakat Subang, tragedi Atelir ini harus jadi titik balik. Tubuhmu bukan laboratorium kimia. Jangan mati konyol demi gaya-gayaan.
Jadi, salah siapa? Salah kita semua yang membiarkan “budaya” memaklumi miras oplosan ini tetap ada di sekitar kita.








