Beranda Berita Subang Menyelisik Sejarah Singa Manuk, Warisan Budaya Unik dari Anggasari Subang

Menyelisik Sejarah Singa Manuk, Warisan Budaya Unik dari Anggasari Subang

kesenian Singa Manuk

Kabupaten Subang memiliki beragam kekayaan tradisi yang memukau. Salah satu warisan budaya yang paling unik adalah kesenian Singa Manuk. Seni pertunjukan tradisional ini tumbuh subur di wilayah Desa Anggasari.

Kesenian ini menampilkan perpaduan visual yang sangat khas. Wujud singa yang gagah digabungkan dengan wujud burung atau manuk. Masyarakat setempat menjadikan tradisi ini sebagai bagian penting dari identitas mereka.

Inspirasi dari Tradisi Sisingaan

Kehadiran Singa Manuk sangat erat dengan kondisi sosial budaya warga Anggasari. Muhammad Luthfi Abdul Aziz dan Didin Saripudin mencatat hal ini dalam jurnal penelitian mereka. Seni pertunjukan tersebut lahir sebagai bentuk ekspresi kolektif saat merayakan momen penting.

BACA JUGA:  Sepekan Dikepung Banjir, 51 Desa di Subang Lumpuh, 13 Ribu KK Terdampak

Awal kemunculannya sangat dipengaruhi oleh kesenian Sisingaan yang sudah lebih dulu populer. Tradisi lama ini biasanya menampilkan replika singa yang ditandu oleh empat orang dewasa. Setelah itu, seorang anak akan menaiki singa tersebut untuk diarak keliling kampung.

Berakar dari kebiasaan tersebut, warga Desa Anggasari mulai berkreasi. Mereka menciptakan bentuk kesenian baru yang memadukan karakter singa dan burung. Inovasi ini bertujuan memenuhi kebutuhan hiburan rakyat bagi semua kalangan.

Makna Filosofis dan Gotong Royong

Pertunjukan ini ternyata menawarkan lebih dari sekadar tontonan visual. Penggabungan sosok singa dan burung mengandung filosofi yang sangat mendalam. Simbol ini merepresentasikan kekuatan, perlindungan, sekaligus harapan akan masa depan yang lebih baik.

BACA JUGA:  Bupati Subang Terjun ke Pantura, Pastikan Logistik dan Kesehatan Korban Banjir Terjamin

Selain itu, gerakan dan irama pengiringnya juga memiliki makna khusus. Dinamika kehidupan masyarakat desa tercermin jelas dalam setiap ketukan nadanya.

Nilai-nilai sosial seperti persatuan dan semangat gotong royong juga sangat menonjol. Hal ini terbukti dari banyaknya warga yang selalu terlibat bersama-sama. Mereka bergotong royong setiap kali pertunjukan seni ini digelar di desa.

Fungsi Edukasi dan Promosi Desa

Saat ini, kesenian Singa Manuk sangat lekat dengan berbagai perayaan lokal. Warga rutin menampilkannya pada acara khitanan, syukuran, hingga pesta panen raya atau hajat bumi.

BACA JUGA:  Bantu Korban Banjir, Kapolres dan Forkopimda Subang Salurkan 1.000 Paket Sembako di Pamanukan

Seiring berjalannya waktu, tradisi ini terus mengalami transformasi yang positif. Kemampuan adaptasi masyarakat Anggasari patut diacungi jempol karena tidak pernah meninggalkan akar budayanya. Secara visual, bentuk replika hewan ini terus disempurnakan agar tampil semakin menarik.

Fungsinya kini sudah meluas melampaui sarana hiburan atau pelengkap upacara adat semata. Pemerintah desa dan warga memanfaatkannya sebagai media edukasi budaya. Bahkan, pertunjukan ini menjadi sarana promosi pariwisata yang efektif bagi Desa Anggasari.