Beranda Berita Subang Mengenal Kalijati: Titik Nol Perubahan Takdir Nusantara di Jantung Subang

Mengenal Kalijati: Titik Nol Perubahan Takdir Nusantara di Jantung Subang

suarasubang.com – Bagi banyak pelintas Tol Cipali, Kalijati mungkin hanyalah sebuah nama gerbang tol di Kilometer 98. Sebuah titik keluar bagi mereka yang hendak menuju pusat kota Subang atau berwisata ke arah Ciater.

Namun, jika Anda menepikan kendaraan dan meluangkan waktu untuk menyelami kecamatan ini, Anda akan menemukan bahwa Kalijati bukan sekadar wilayah transit.

Kalijati adalah tanah yang menyimpan “memori bangsa”. Di sinilah takdir Nusantara pernah berubah arah secara drastis, dan di sinilah sayap-sayap garuda pelindung langit ibu pertiwi pertama kali dilatih untuk terbang.

Berikut adalah narasi tentang fakta unik dan sejarah besar yang menjadikan Kalijati permata tersembunyi di Kabupaten Subang.

Saksi Bisu Runtuhnya 350 Tahun Kolonialisme

Fakta paling monumental dari Kalijati adalah peranannya sebagai “Titik Nol” perubahan kekuasaan di Indonesia. Di sebuah rumah tua bergaya kolonial yang kini dikenal sebagai Rumah Sejarah Kalijati, sebuah peristiwa besar terjadi pada 8 Maret 1942.

BACA JUGA:  Aksi "Surat Cinta" Berujung Bui, Oknum LSM di Subang Terjaring OTT Usai Peras Kades

Di ruangan itulah, Letnan Jenderal Ter Poorten (Panglima Angkatan Perang Hindia Belanda) menyerah tanpa syarat kepada Jenderal Hitoshi Imamura (Jepang).

Peristiwa yang dikenal sebagai “Perjanjian Kalijati” ini menandai berakhirnya 350 tahun kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia dan dimulainya masa pendudukan Jepang.

Mengunjungi Kalijati tanpa menengok rumah ini ibarat pergi ke Mekkah tanpa melihat Ka’bah. Aura masa lalu masih terasa kental, seolah meja dan kursi di sana masih berbisik tentang ketegangan diplomasi militer puluhan tahun silam yang mengubah nasib jutaan rakyat Indonesia.

Rahim Kelahiran TNI Angkatan Udara

Jika Anda sering mendengar suara gemuruh helikopter membelah langit Subang, itu adalah “napas” Kalijati. Kecamatan ini adalah rumah bagi Pangkalan Udara (Lanud) Suryadarma.

BACA JUGA:  Kopi Subang Mendunia! 96 Ton Robusta Resmi Diekspor ke Aljazair

Ini bukan pangkalan biasa. Lanud Kalijati (nama lamanya) adalah pangkalan udara tertua di Indonesia. Di sinilah sekolah penerbang pertama didirikan oleh pemerintah kolonial, dan kemudian diambil alih oleh putra-putra bangsa untuk membangun kekuatan udara Indonesia pasca-kemerdekaan.

Bisa dibilang, Kalijati adalah “kawah candradimuka” bagi para penerbang helikopter TNI AU. Keberadaan Wing Udara 7 menjadikan kecamatan ini memiliki atmosfer militer yang kental, disiplin, namun tetap membaur hangat dengan masyarakat sipil.

Transformasi Menjadi Kota Industri Strategis

Lepas dari bayang-bayang sejarah, Kalijati hari ini sedang bersolek menjadi raksasa ekonomi baru. Keberadaan Gerbang Tol Kalijati (Cipali) telah mengubah wajah kecamatan ini dari agraris menjadi industrialis.

Akses logistik yang terbuka lebar membuat banyak investor menanamkan modalnya. Pabrik-pabrik garmen dan manufaktur bermunculan, menyerap ribuan tenaga kerja lokal.

Kalijati kini menjadi penyeimbang ekonomi Subang; jika wilayah selatan (Jalancagak/Ciater) adalah pusat wisata, maka wilayah tengah seperti Kalijati adalah mesin penggerak ekonominya.

BACA JUGA:  Mengaku Staf Khusus Gubernur, Pria Ini Tipu Warga Subang Rp 250 Juta

Harmoni Alam yang Unik

Secara geografis, Kalijati memiliki topografi yang menarik. Ia tidak sedingin Ciater, tapi tidak sepanas Pamanukan di pesisir utara. Udaranya pas

Konturnya yang relatif datar namun dikelilingi perkebunan tebu dan karet milik PTPN memberikan pemandangan hijau yang menyejukkan mata di sela-sela kesibukan industri.

Kecamatan dengan Karakter Kuat

Kalijati adalah bukti bahwa sebuah kecamatan bisa memiliki identitas yang berlapis. Ia adalah penjaga ingatan lewat museum sejarahnya, ia adalah ksatria langit lewat pangkalan udaranya, dan ia adalah penggerak masa depan lewat kawasan industrinya.

Jadi, jika kelak Anda melintasi Subang, ingatlah bahwa di balik nama “Kalijati”, tersimpan kisah tentang keberanian, perubahan zaman, dan deru baling-baling yang tak pernah lelah menjaga angkasa Nusantara.