Beranda Berita Subang Mengapa Lembur Pakuan Bakal Jadi Titik Aksi LSM Pemuda & Mahasiswa Subang

Mengapa Lembur Pakuan Bakal Jadi Titik Aksi LSM Pemuda & Mahasiswa Subang

suarasubang.com – Kawasan Lembur Pakuan, Subang, yang biasanya tenang, diprediksi akan memanas pada Kamis, 19 Februari 2026 mendatang. Bukan tanpa sebab, seruan aksi telah didengungkan.

Sekelompok massa yang tergabung dalam LSM Pemuda dan Mahasiswa memastikan akan turun ke jalan, membawa serta kekecewaan yang mereka anggap sudah tak bisa lagi dibendung.

Rencana unjuk rasa ini bukanlah aksi spontanitas belaka. Ia adalah muara dari serangkaian dialog yang tersumbat. Seperti dikutip dari kapol.id, Andri, Ketua Bidang Hukum LSM Pemuda dan Mahasiswa, mengungkapkan bahwa langkah turun ke jalan ini diambil setelah pintu komunikasi dirasa tertutup rapat.

BACA JUGA:  Banjir Subang Meluas, 3.500 Rumah Terendam hingga Warga Terpaksa Huni Kolong Flyover

Pada Selasa (10/2/2026), dengan nada tegas, Andri menceritakan bagaimana pihaknya selama ini mencoba menyampaikan kritik secara prosedural kepada dua instansi vital di Jawa Barat: Dinas Bina Marga dan Dinas Pendidikan. Namun, upaya itu ibarat berteriak di ruang hampa—tak ada respons, tak ada tanggapan resmi.

Benang Kusut Infrastruktur dan Pendidikan

Ada dua “dosa besar” yang menjadi bahan bakar utama aksi 19 Februari nanti. Pertama, soal jalanan yang kita pijak. Sorotan tajam diarahkan kepada Kepala Dinas Bina Marga Jawa Barat.

BACA JUGA:  Bupati Subang Terjun ke Pantura, Pastikan Logistik dan Kesehatan Korban Banjir Terjamin

Andri merujuk. buruknya umur layanan jalan pada sejumlah proyek infrastruktur. Jalan yang seharusnya bertahan lama, justru cepat rusak, menimbulkan pertanyaan besar tentang kualitas pengerjaan dan pengawasan di balik proyek-proyek tersebut.

Kedua, isu yang lebih sensitif menerpa tubuh Dinas Pendidikan Jawa Barat. Beredar kabar tak sedap tentang adanya pihak tertentu yang diduga “mengatur” proyek-proyek di lingkungan dinas tersebut.

Menagih Jawab di Lembur Pakuan

Mengapa Lembur Pakuan? Pemilihan lokasi ini tentu memiliki simbolisme tersendiri bagi para pengunjuk rasa untuk menyuarakan aspirasi mereka langsung ke jantung perhatian publik dan pemangku kebijakan.

BACA JUGA:  Dinkes Pastikan Subang Nol Kasus 'Flu Power', Warga Diminta Tetap Waspada

“Kami menilai Kepala Dinas Bina Marga dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat abai. Mereka menutup mata terhadap kritik publik,” ujar Andri, menekankan alasan di balik mobilisasi massa nanti.

Kini, hitung mundur telah dimulai. Tanggal 19 Februari 2026 bukan sekadar tanggal di kalender, melainkan momen pembuktian apakah suara kritik dari pemuda dan mahasiswa ini akhirnya akan didengar, atau kembali menguap di udara.

Satu hal yang pasti: mereka menolak untuk diam.