Beranda Berita Subang Kemenkop UMKM dan Pemkab Subang Kerjasama Budidayakan Tanaman Porang

Kemenkop UMKM dan Pemkab Subang Kerjasama Budidayakan Tanaman Porang

c69f82947dd5dbd8f84cae741075d400.jpg

KBRN, Subang: Kementerian Koperasi dan UMKM, bekerjasama dengan Pemkab Subang, kembangkan tanaman Porang seluas 200 hektar di lahan Senta Pangan Bukit Nyomot Serangpanjang Kabupaten Subang.

Asisten Deputi Pengembangan Rantai Pasok Usaha Mikro Kementerian Koperasi dan UMKM Sutarno menyatakan, tanaman porang meniliki prosfek yang sangat cerah, karena bisa menjadi bahan pokok utama makanan, pengganti beras dan gandum. 

“Prospeknya cukup menjanjikan, karena porang bisa di olah menjadi makanan apapun, aeperti halnya beras dan gandung, kedepan porang bisa menjadi pengganti padi dan gandum. Apalagi lahan sawah sudah banyak yang beralih fungsi, menjadi pabrik, dan perumahan. Budidaya porang sendiri mudah, seperti halnya umbi-umbian, dan aman dari residu pestisida,” ujar Sutarno kepada RRI di sela-sela Bimbingan Usaha Mikro pada Komoditas Porang di Hotel Lotus Subang, Kamis (9/8/2021).

BACA JUGA:  Selamat 6 Tahun MEDIAJABAR.COM, Tetap Konsisten Berikan Informasi Berimbang

Sementara kata Sutarno, Jepang saat ini sudah mengolahnya menjadi bahan utama makanan, sebagai pengganti beras dan gandum. 

“Harganya pun cukup lumayan mahal, jika kita dapat produksi porang, nanti bisa di eksport ke Jepang, atau kita olah sendiri,” ungkapnya.

Maka dari itu lanjut Sutarno, Kementerian Koperasi dan UMKM, akan memberikan bantuan sebuah alat pengering porang bertenaga surya, untuk para petani porang di Subang. 

BACA JUGA:  Habib Bahar bin Smith Dijatuhi Vonis 6 Bulan Penjara

“Nanti kan bisa dimanfaatkan oleh para petani porang, untuk mengeringkan porang, selama inikan para petani kita mengeringkan hasil panennya itu hanya memanfaatkan panas matahari, yang hasilnya kurang memuaskan,” tegas Sutarno.

Ia juga meminta kepada Pemkab Subang, kedepan para petani porang ini nasibnya jangan sampai seperti para petani pada umumnya, menjadi korban monopoli tengkulak.

BACA JUGA:  Komite Ekonomi Kreatif Bareng Subang Creative Hub Kembali Gelar Kelas Kolaboratif

“Tengkulak inilah yang merusak para petani kita, dikala panen kurang harga mahal, namun di saat panen raya harganya murah, bahkan tidak laku,” pungkasnya.