suarasubang.com — Ratusan hektar tanaman padi di Desa Rancadaka, Kecamatan Pusakanagara, Subang, kini berada dalam kondisi kritis akibat krisis air yang parah. Fenomena panas terik di pertengahan tahun 2026 ini menyebabkan pasokan air irigasi dari Tarum Timur terhenti total. Akibatnya, tanaman padi yang masih berusia muda mulai layu dan terancam mati perlahan karena kekurangan cairan.
Tanah di hamparan sawah yang biasanya subur kini mulai membelah dan membentuk retakan dalam. Daun padi yang seharusnya berwarna hijau segar kini memudar menjadi kuning kecokelatan. Situasi ini menjadi momok menakutkan bagi para petani yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian di wilayah tersebut.
Harapan Panen yang Memudar
Salah seorang petani setempat, Doglong, mengungkapkan kecemasannya terhadap potensi gagal panen atau puso. Beliau menjelaskan bahwa fase pertumbuhan padi muda sangat memerlukan genangan air yang stabil agar tidak tumbuh kerdil. “Jika kondisi ini terus berlanjut, kemungkinan besar kami tidak akan bisa panen secara maksimal,” keluh Doglong saat memantau sawahnya.
Menurut prediksinya, hasil panen di wilayah Blok Kopak Kidul dan sekitarnya mungkin hanya akan mencapai 40 persen saja. Selain itu, upaya penyelamatan tanaman melalui sumur pantek justru menguras dompet para petani. Hal ini dikarenakan biaya operasional mesin pompa yang sangat mahal di tengah sulitnya mencari titik air.
Sulitnya Akses Air Bawah Tanah
Wilayah Rancadaka memang terkenal memiliki titik air bawah tanah yang sangat sulit untuk ditembus oleh mesin pompa biasa. Petani harus mengeluarkan tenaga dan uang ekstra demi menyedot sisa-sisa air yang tersisa di dalam tanah. Namun, biaya tambahan tersebut seringkali tidak sebanding dengan hasil air yang didapatkan karena debitnya yang kecil.
Hingga saat ini, para petani hanya bisa pasrah sambil terus mengupayakan sisa harapan yang ada di lahan mereka. Mereka sangat mendambakan adanya normalisasi saluran irigasi atau bantuan teknologi pengairan yang lebih efektif. Tanpa adanya bantuan nyata, ancaman kerugian ekonomi besar di sektor pertanian Subang sudah berada di depan mata.








