suarasubang.com – Upaya mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan di bawah komando Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terus menuai dukungan positif dari berbagai kalangan. Dekan Fakultas Hukum Universitas Andalas, Ferdi, secara terbuka mengapresiasi kinerja nyata Kementerian Pertanian dalam acara Dialog Swasembada Pangan di Surabaya. Ia menegaskan bahwa indikator keberhasilan paling valid bukanlah sekadar angka di atas kertas, melainkan realita faktual yang dirasakan langsung oleh masyarakat di lapangan.
Fakta Lapangan Sebagai Indikator Keberhasilan
Ferdi menilai bahwa perdebatan mengenai data pangan merupakan hal yang lumrah dalam kajian akademis. Namun, kondisi ketahanan pangan nasional saat ini terbukti aman karena masyarakat tidak mengalami kelangkaan beras selama momentum besar keagamaan. Selain itu, dinamika harga di berbagai wilayah masih dianggap sebagai fluktuasi pasar yang wajar dan bukan disebabkan oleh kelangkaan pasokan.
Angka Impor Indonesia Jauh di Bawah Batas FAO
Merujuk pada standar organisasi pangan dunia (FAO), posisi keamanan pangan Indonesia saat ini dikategorikan sangat aman. Standar internasional tersebut memperbolehkan sebuah negara melakukan impor hingga batas maksimal 10 persen dari total kebutuhan nasional. Kenyataannya, angka impor Indonesia saat ini hanya berada pada kisaran 5 persen, yang berarti Indonesia masih memiliki surplus produksi yang signifikan.
Hilirisasi Komoditas Lokal dan Penindakan Mafia Pangan
Komitmen Menteri Pertanian juga terlihat nyata melalui dorongan hilirisasi komoditas lokal seperti gambir di Sumatera Barat. Ferdi menekankan bahwa perhatian terhadap pengolahan bahan baku lokal merupakan langkah nyata untuk menyejahterakan petani di daerah. Oleh karena itu, ia mengajak media massa untuk lebih berimbang dalam memberitakan keberhasilan sektor pertanian serta tindakan tegas pemerintah terhadap mafia pangan.








