Beranda Berita Subang Mahkota Emas di Kaki Tangkuban Parahu: Hikayat Nanas Jalancagak

Mahkota Emas di Kaki Tangkuban Parahu: Hikayat Nanas Jalancagak

“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Di mana tanah menyubur, di situ ‘emas’ bertabur.”

suarasubang.com – Jika Anda melintasi jalur tengah Jawa Barat, tepat di sebuah persimpangan sibuk yang membelah arah antara Bandung, Sumedang, dan Purwakarta, pandangan Anda pasti akan tersedot oleh sebuah monumen unik.

Di sana, bukan patung pahlawan menghunus pedang yang berdiri gagah, melainkan sebuah buah raksasa berwarna kuning keemasan dengan mahkota hijau yang menjulang.

Itulah Tugu Nanas Jalancagak. Namun, tugu itu bukan sekadar pemanis jalan raya. Ia adalah “titik nol” dari sebuah cerita panjang tentang tanah vulkanik, perjuangan petani, dan manisnya anugerah alam.

Jejak Kolonial di Tanah Legenda

Alkisah, jauh sebelum tugu itu berdiri, tanah di wilayah Subang Selatan—khususnya Jalancagak, Ciater, dan sekitarnya—sudah dikenal memiliki “magis” tersendiri.

Debu vulkanik dari letusan purba Gunung Tangkuban Parahu telah menyelimuti kawasan ini selama berabad-abad, menciptakan lapisan tanah subur yang siap menumbuhkan apa saja.

BACA JUGA:  Respons Cepat JFK: Kawal Kasus Warga Toraja yang Diduga Menjadi Korban Pembunuhan di Subang

Konon, nanas bukanlah tanaman asli nusantara. Buah ini dibawa berkelana melintasi samudra oleh bangsa Spanyol dan Portugis dari Amerika Selatan, hingga akhirnya bibitnya sampai ke tangan pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Di era 1900-an, ketika perkebunan teh dan kina mulai dibuka di dataran tinggi Subang, nanas mulai ditanam sebagai tanaman sela atau tanaman pagar di kebun-kebun warga.

Siapa sangka, “tanaman pagar” itu justru jatuh cinta pada tanah Jalancagak. Udara sejuk dan tanah gembur membuat nanas tumbuh dengan kualitas yang tak biasa.

Kelahiran Sang Primadona: Si Madu

Nanas yang tumbuh di Jalancagak bukanlah nanas sembarangan. Jika nanas di tempat lain identik dengan rasa asam dan efek gatal di lidah, nanas di tanah ini berevolusi menjadi sesuatu yang istimewa.

BACA JUGA:  Maut di Balik "Gembling": Subang Kembali Berduka, 8 Nyawa Melayang Sia-sia

Para petani terkejut menemukan varian buah yang dagingnya empuk, airnya melimpah, dan rasanya manis legit tanpa jejak rasa gatal sedikit pun. Varian inilah yang kemudian melegenda dengan nama Nanas Simadu.

Kabar tentang “emas kuning” dari Subang ini menyebar cepat. Jalancagak, yang posisinya strategis sebagai jalur lintasan utama, perlahan berubah wajah. Dari sekadar wilayah pertanian, ia menjelma menjadi pasar raksasa.

Kios-kios bambu berjejer di pinggir jalan, menggantungkan buah-buah nanas sebagai display yang menggoda para pelancong.

Mengapa Jalancagak?

Mengapa harus Jalancagak yang menjadi ikonnya? Karena di sinilah “panggung” utamanya. Jalancagak adalah etalase sekaligus pintu gerbang. Seluruh hasil panen dari bukit-bukit di sekitarnya—seperti Kumpay, Tambakmekar, hingga Bunihayu—bermuara di persimpangan ini.

Ekonomi warga berdenyut kencang berkat nanas. Anak-anak bisa bersekolah, rumah-rumah bisa dibangun, dan dapur-dapur tetap mengepul, semuanya berkat “si mahkota duri” ini.

BACA JUGA:  Tinjau Koperasi di Subang, Wakapanglima TNI: Jangan Saingi Pedagang Kecil

Sebagai bentuk penghormatan dan penegasan identitas, dibangunlah Tugu Nanas raksasa tepat di tengah persimpangan (pertigaan) Jalancagak. Tugu itu adalah proklamasi bisu kepada dunia: “Inilah kami, tanah di mana nanas terasa semanis madu.”

Warisan yang Terus Manis

Hari ini, Tugu Nanas di Jalancagak bukan lagi sekadar penunjuk arah bagi mereka yang tersesat. Ia adalah monumen rasa syukur.

Setiap kali Anda menepikan kendaraan untuk membeli sekilo dua kilo nanas di pinggir jalan Jalancagak, ingatlah bahwa Anda sedang tidak sekadar membeli buah. Anda sedang mencicipi sepotong sejarah manis yang lahir dari perkimpoian antara tanah vulkanik Tangkuban Parahu dan ketelatenan tangan petani Subang.

Nanas telah memberi Jalancagak sebuah nama, dan Jalancagak telah memberi nanas sebuah rumah yang abadi