Beranda Berita Subang Jejak ‘Gade’ di Tanah Subang: Sebuah Hikayat Asal Usul Pagaden

Jejak ‘Gade’ di Tanah Subang: Sebuah Hikayat Asal Usul Pagaden

“Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.”

suarasubang.com – Pepatah lama ini mengingatkan kita bahwa setiap nama yang melekat pada sebuah tempat tidak pernah lahir dari ruang hampa.

Di balik deretan huruf yang membentuk kata “Pagaden”, tersimpan lapisan sejarah, memori kolonial, dan denyut nadi ekonomi masyarakat Subang yang telah berdetak sejak ratusan tahun silam.

Pagaden hari ini dikenal sebagai kecamatan yang sibuk. Pasar yang tak pernah tidur, sawah yang membentang luas, hingga deru kereta api di Stasiun Pagaden Baru adalah pemandangan sehari-hari.

Namun, jika kita memutar waktu ke masa lalu, kita akan menemukan sebuah cerita tentang transaksi, kepercayaan, dan sebuah “rumah gadai.”

Era Pamanukan en Tjiasem Landen

Alkisah, pada masa kolonial Hindia Belanda, wilayah Subang merupakan bagian dari kawasan perkebunan raksasa yang dikenal sebagai Pamanukan en Tjiasem Landen.

BACA JUGA:  Kelurahan Dangdeur Temukan 3 Meter Jalan Provinsi Terlewat Diaspal Pasca-Aduan TikTok

Tanah ini subur, kaya akan hasil bumi, dan menjadi salah satu lumbung ekonomi bagi pemerintah kolonial.

Di tengah kesibukan aktivitas perkebunan dan perdagangan tersebut, muncullah kebutuhan akan perputaran uang dan jaminan. Konon, di wilayah yang kini menjadi pusat kecamatan, berdiri sebuah bangunan tua yang memiliki fungsi vital bagi masyarakat dan penguasa kala itu.

Dari “Nggade” Menjadi Pagaden

Menurut tutur lisan para sesepuh dan catatan sejarah lokal, nama Pagaden sangat erat kaitannya dengan kata “Gade” atau “Gadai”.

Dikisahkan bahwa di lokasi tersebut terdapat sebuah kantor atau pos yang berfungsi sebagai rumah gadai (Pegadaian). Masyarakat pribumi yang membutuhkan uang untuk modal tani atau kebutuhan hidup, serta para pedagang yang melintas, sering kali menjaminkan barang berharga mereka di tempat ini.

BACA JUGA:  Soroti Wajah Kota, DPRD Subang dan GPI Bahas Penertiban Bangunan Liar

Frasa “Arek ka Gade” (Mau ke tempat gadai) atau “Ti Gade” (Dari tempat gadai) menjadi sangat lazim diucapkan oleh masyarakat Sunda setempat.

Seiring berjalannya waktu, kebiasaan lidah masyarakat dalam menyebut tempat tersebut mengalami evolusi fonetik. Tempat yang menjadi pusat aktivitas pergadaian ini perlahan berubah penyebutannya dari “Pa-gade-an” menjadi Pagaden.

Akhiran -an dalam bahasa Sunda sering kali menunjukkan tempat, dan pelafalan yang cepat meleburkannya menjadi nama yang kita kenal sekarang.

Sang Jalur Besi dan Identitas Kota Transit

Identitas Pagaden sebagai pusat ekonomi semakin kukuh ketika jalur kereta api dibangun. Keberadaan Stasiun Pagaden (yang kini dikenal dengan Pagaden Baru) menjadikan wilayah ini bukan sekadar kampung “gadai”, melainkan gerbang utama bagi mobilitas warga Subang.

BACA JUGA:  Maut di Balik "Gembling": Subang Kembali Berduka, 8 Nyawa Melayang Sia-sia

Pagaden tumbuh menjadi kota transit. Ia menjadi titik temu antara budaya agraris (pertanian) dan budaya dagang. Nama yang bermula dari aktivitas ekonomi sederhana di masa kolonial itu kini telah bertransformasi menjadi identitas sebuah wilayah yang mandiri dan strategis di Jawa Barat.

Merawat Ingatan

Kini, Pagaden bukan lagi sekadar tempat untuk menggadaikan barang. Ia adalah rumah bagi ribuan jiwa, pusat pendidikan, dan nadi perekonomian Subang.

Namun, setiap kali kita melintas dan melihat plang nama “Pagaden”, kita diajak untuk mengingat: bahwa tanah ini pernah menjadi saksi bisu perjuangan ekonomi nenek moyang kita di masa lalu.

Seperti pepatah di awal kisah, nama Pagaden telah ditinggalkan sebagai warisan sejarah yang tak boleh dilupakan.