Bencana banjir yang melanda wilayah Pantura, Kabupaten Subang, Jawa Barat, kian memburuk hingga Senin (26/1/2026). Tercatat sedikitnya 3.500 rumah yang tersebar di enam kecamatan kini terendam air dengan ketinggian bervariasi hingga mencapai 1,5 meter.
Kondisi darurat ini memaksa ratusan warga untuk meninggalkan tempat tinggal mereka demi keselamatan. Pemandangan memilukan terlihat di Flyover Pamanukan, di mana kolong jembatan layang tersebut kini disesaki oleh pengungsi yang mendirikan tenda darurat seadanya bersama barang-barang yang berhasil diselamatkan.
Selain di kolong jembatan, titik pengungsian juga tersebar di sejumlah fasilitas umum yang aman dari jamahan air, seperti Masjid Besar Desa Mulyasari. Warga di sana berhimpitan menggelar tikar dan menumpuk pakaian, menanti banjir surut di tengah cuaca yang masih mendung tak menentu.
Bupati Subang, Reynaldy Putra Andita, yang meninjau langsung lokasi bencana menyatakan keprihatinannya atas siklus banjir tahunan ini. Ia mendesak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk segera melakukan normalisasi sungai-sungai di Pantura yang mengalami pendangkalan parah akibat sedimentasi dan sampah.
“Banjir di Pantura telah meluas hingga ke 6 kecamatan. Saat ini tercatat 3.500 rumah terendam akibat banjir yang terus meluas. Kami mendesak BBWS segera turun tangan,” tegas Reynaldy di sela-sela peninjauan.
Penyebab utama banjir kali ini disinyalir akibat curah hujan ekstrem yang mengguyur sejak akhir pekan lalu. Hal tersebut memicu meluapnya tiga sungai besar sekaligus, yakni Sungai Cipunagara, Sungai Ciasem, dan Sungai Kalensema, yang tak mampu lagi menampung debit air kiriman.
Pemerintah daerah kini memfokuskan penanganan pada evakuasi kelompok rentan dan distribusi logistik pangan. Dapur umum darurat mulai didirikan untuk menjamin kebutuhan makan ribuan pengungsi yang tersebar di Kecamatan Pamanukan, Ciasem, Blanakan, Sukasari, Tambakdahan, dan Pusakanagara.








