Beranda Berita Subang Pilu Rani di Subang: Berjuang Lawan Thalasemia, Orang Tua Kesulitan Bayar Kontrakan

Pilu Rani di Subang: Berjuang Lawan Thalasemia, Orang Tua Kesulitan Bayar Kontrakan

Bocah Subang penderita Thalasemia

Subang – Tawa ceria masa kecil seolah meredup dari wajah Rani (10), siswi kelas IV SD asal Kampung Rawabadak, Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Subang. Di usianya yang masih belia, ia harus bergelut dengan penyakit Thalasemia yang menggerogoti tubuhnya. Penderitaan Rani kian berat lantaran orang tuanya terhimpit masalah ekonomi pelik.

Ibunda Rani, Mirna, menuturkan bahwa putrinya baru saja menjalani prosedur medis intensif. Kondisi fisik Rani perlahan membaik meski wajah pucat masih belum sepenuhnya hilang.

“Alhamdulillah setelah dilakukan transfusi darah sebanyak 4 kantong, kadar hemoglobinnya naik jadi 10,2 g/dL. Rani kembali terlihat sehat walaupun sampai hari ini masih terlihat sedikit pucat,” ujar Mirna.

BACA JUGA:  Lebih Dekat dan Cepat, Warga Subang Apresiasi Pelayanan Adminduk di Kantor Kecamatan

Namun, beban di pundak Mirna dan suaminya terasa sangat berat. Sebagai buruh serabutan tanpa penghasilan tetap, biaya hidup sehari-hari saja sering kali tak terpenuhi, apalagi untuk biaya pengobatan jangka panjang.

“Jangan kan buat bikin BPJS, buat makan dan bayar kontrakan saja kita masih sulit, kadang uang seribu pun tidak punya,” ungkap Mirna dengan nada getir.

Ia menambahkan, ketidakpastian pendapatan membuat posisi mereka serba sulit.

“Saya dan suami tak punya pekerjaan tetap, hanya buruh serabutan, sehingga kadang tak punya uang seribu perakpun,” imbuhnya.

Harapan sempat muncul lewat bantuan relawan yang mengurus BPJS Kesehatan kategori Penerima Bantuan Iuran (PBI). Sayangnya, prosedur birokrasi mengharuskan mereka menunggu masa aktif yang cukup lama, sementara penyakit Rani bisa kambuh sewaktu-waktu.

BACA JUGA:  Kejar Target Investasi, Akses Simpang Susun Tol KM 115+500 Subang Dipercepat

“Namun prosesnya harus menunggu 6 bulan dari Dinas Sosial. Sehingga bila Rani kambuh dan kekurangan darah lagi, saya sangat panik harus gimana. Apalagi saya nggak punya uang,” keluh Mirna.

Kondisi memprihatinkan ini mendapat perhatian dari Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Subang sekaligus perwakilan pemerintah, dr. Maxi. Ia menyempatkan diri meninjau langsung kondisi Rani pasca-perawatan.

“Kami perwakilan pemerintah meninjau langsung kondisi Rani, tadi terlihat badannya masih sedikit pucat. Karena baru keluar dari rumah sakit usai menjalani perawatan dan transfusi darah. HB-nya juga sudah meningkat,” jelas dr. Maxi.

BACA JUGA:  Kemensos Gerak Cepat, Pastikan Logistik Ribuan Korban Banjir Subang Terjamin

Dokter Maxi mengakui bahwa penanganan Thalasemia Mayor membutuhkan biaya fantastis yang mustahil ditanggung keluarga prasejahtera tanpa bantuan. Estimasi biaya pengobatan bisa mencapai Rp 400 juta per tahun.

“Biayanya sangat mahal, untuk transfusi darah rutin,” tegasnya.

Menutup kunjungannya, dr. Maxi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bahu-membahu meringankan beban keluarga Rani. Dukungan moral dan materiil sangat dibutuhkan agar bocah tersebut bisa terus bertahan.

“Saya berharap dan mengajak semua pihak untuk ikut peduli dan memberikan bantuan untuk Rani dan keluarganya agar semakin semangat terus berobat sehingga Rani cepat sembuh,” pungkas dr. Maxi.